Kumpulan Cerita Favorit

Category Archives: Setengah Baya

Namaku Jono. Aku anak kedua. Ayahku, Muji 46th kerja mempunyai usaha mebel yang sudah cukup terkenal di Surabaya. Ibuku, Sri 42h juga mempunyai sebuah toko di Pusat Grosir terkenal di Surabaya. Aku adalah anak tunngal di keluargaku.

Saat ini aku akan memasuki masa kuliah. Karena aku baru lulus SMU, dan setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, aku diterima di salah satu universitas negri di Jogja. Karena aku harus tinggal di Jogja, Ibuku menyuruhku untuk tinggal di rumah Bude Surti. Kakak Ibu, umurnya cuman selisih setahun dengan Ibu. Ibu tidak memperbolehkan aku untuk kos supaya aku ada yang mengawasi.

Beberapa minggu pertama terasa berat bagiku. Karena mungkin aku gak terbiasa hidup jauh dari orang tuaku. Di rumah bude Surti cuman ada anak semata wayangnya, ipung yang masih duduk di abngku SMP. Sedangkan suaminya pergi ke luar pulau. Karena bekerja sebagai kontraktor jalan, dan mendapat proyek di Banjarmasin. Dan terakhir pulang saat lebaran tahun lalu. Bude ku dulunya adalah seorang sinden. Dulu, kata beliau tiap hari hampir pasti ada tanggapan. Tapi sekarang dia mengurangi intensitasnya supaya bisa fokus mengawasi sekolah ipung. Anak semata wayangnya.

Hingga pada suatu hari ada suatu kejadian yang membuatku mulai merasa kerasan tinggal di Jogja. Saat itu aku baru pulang kuliah. Jam menunjukan jam 4. Di rumah ternyata tidak ada orang. Mungkin bibiku ada tanggapan pikirku. Karena kecapekan aku tidur tiduran di ruang tengah. Tak berselang lama Budeku datang. Dia memakai kebaya khas sinden. Aq lihat sekilas sih badannya masih montok. Gak gembrot kayak ibu2 lainnya. Bahkan menurutku, ibuku kalah montok dengan Bude Surti.

“Lo kamu dah pulang to le”, kata Budeku
“Iya bude. Abis kuliah siang.. Bude habis tanggapan yah ?”, Jawabku
“Iyah dari desa sebelah. Lo kamu sakit ta le. Ya wes mandi biar seger. Tapi bude dulu ya yang mandi. Keringetan dari tadi.” Kata Bude

Bude ngeloyor masuk ke kamarnya. Tak berselang lama Bude keluar dari kamar. Yang bikin aku kaget adalah. Dia waktu itu memakai handuk yang hanya menutupi sebagian dada sampai hanya sebagian pahanya. Jelas terlihat sebagian tetek Budek yang gede. Yang seakan mo meloncat keluar. Tapi kulihat juga tali Bhnya. Bhnya sepertinya tidak dia lepas. Selain memperhatikan tetek yang gede itu, aku sepintas mencuri lihat ke bokong nya yang juga sangat montok pikirku. Hmmmm… pelahan adikku mulai berontak dan bikin celana sempit.

Bude mondar mandir seakan ada yang dia cari. Dan dia berhenti di pojokan deket aku tiduran tadi. Ternyata dia mo mengambil BH ama celana dalam yang kering habis dicuci di kerangjang cucian. Karena tempat cucian keringnya berupa keranjang dan ditaruh di lantai, dia mengambil dengan cari membungkuk membelakangiku. Entah gak sadar atao gimana, saat dia menungging, bokongnya yang super semok itu jelas terpampang. Dan aku melihatnya dengan jelas. Tentu juga celana dalamnya yang seolah gak muat membungkus bokong itu. Uhhhhhhh… bikin kontolku mulai bangun nih.

Terus kuperhatian saat dia nungging, terlihat di tengah-tengahnya seperti daging yang menyembul. Agak tembem. Dan terlihat samar2 warna hitam dibalik sempak Bude. Sssssssshhhh.. ini pasti memek Budeku yang ditumbuhi jembut. Aq jadi penasaran pengen melihat betapa tembemnya memek bude ama lebatnya jembut Bude. Makin lama kontolku makin keras ajah ni. Tak seberapa lama Bude selesai memiulih celana dalam dan BH untuk ganti. Waaaaaahhh… rejeki yang kecepetan pikirku. Dan Dia akhirnya masuk ke kamar mandi.
Baru masuk kamar mandi, ada suara “serrrrrrrrr…serrrrrr” keras sekali. Wah ini pasti Bude lagi kencing. Aku semakin penasaran nih ama memek Bude. Nyemprotnya sampek segitu keras. Aku berfantasi yang lebih liar, mungkin karena aku seringnonton film bokep di laptop.

Beberapa menit kemudian, Bude keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai daster. Dan dia menyuruhku untuk mandi. Aku pun bergegas mandi.

Setelah masuk ke kamar mandi, aku mendapat rejeki lagi. Di kaitan baju dalam kamar mandi terpampang dua benda yang bikin kontolku berdiri secara perlahan. Kulihat BH ama celana dalam Bude. BHnya gede. Celana dalam berenda itu kulihat ada bekas kuning dibagian depannya. Wah ini bekas kencing Bude pikirku. Akhirnya aku gak kuat, karena dari tadi kontolku udah mengeras saat aku melihat dan memegang megang Celana dalam dan BH Bude. Akhirnya aku selesaikan dengan mengocok sendiri. KU kocok kocok makin lama makin cepat. Dan.. crrrooooott…crooootttt…. menyemburlah sprema ku. Uhhhhh legaaa… tapi aku masih penasaran ama isi sebenarnya dari BH dan celana dalam Bude.

Hari makin hari makin malam. Setelah makan malam, aku, Bude dan Ipung lagi lesehan di depan TV. Malam ini Bude memakai daster dengan belahan paha yang agak tinggi. Duduknya bersimpuh. Khas seperti sinden. Dia disibukkan dengan menjahit baju. Sedangkan aku dan ipung tiduran di depannya menghadap TV. Iseng iseng aku mencuri pandang ke arah Bude. Sepintas aku liat dia duduk pahanya agak membuka. Wah walaupun agak gelap dan samar aku bisa lihat mulusnya paha Budeku. Ini yang membuat aq berpikiran jorok dan membuat tegang kontolku.

Hari makin malam, ipung yang ngantuk pindah ke kamarnya. Sambil menonton TV Bude sama aku ngobrol.-ngobrol.
Bude : “Gimana kuliahnya kamu Jon ?”
Aku : “Baik Bude. Seru temen-temenku”
Bude : “Dah punya cewek belum kamu le ?”
Aku : “Belum Bude masih pilih-pilih… hehehe”
Bude : “lo yang kemarin.. sapa tu namanya ? Wulan ? Itu bukan pacarmu to”
Aku : “Oh itu. Belom Bude. Aku masih kurang Sreg. Dianya itu yang ngebet ma aku”
Bude : “oooo.. tapi kapanhari Bude intip kamu lagi ciuman tu pas dia dateng kesini”
Mendengar itu aku kaget dan malu. Wah ternyata diam-diam Bude mengawasiku kalo lagi indehoy. Aku hanya senyum-senyum.

Bude : “Gpp le, namanya juga anak muda. Bude dulu juga gitu. Selain ciuman kalo lagi berduaan sepi kamu ngapain lagi hayooo?”
Bude menggodaku sambil senyum-senyum
Aku pun dibuat salah tingkah olehnya. “Ngapain ? Gak ngapa-ngapain kok Bude” jawabku sedikit gugup.
Bude : “Hmmm ngakunya gak ngapa-ngapaiiiin. Padahal bude pernah ngintip km lo. Kalian saling remas barang masing-masing. Hhihih ”
Aku kaget lagi. Ternyata bude tau kalo aku sering grepe-grepe.
Bude : “Gak usah malu gitu le. Kalopun kamu keterusan, yang penting kamu bisa mnegerti betul tentang sex”
aku terperangah. Jarang-jarang bude ngomong seperti ini.
Aku : “eee.eee.. maksutnya Bude?”
Bude : “Yaaa.. seandainya kamu gak kuat dan terpaksa itu otong kamu kepingin muntah. Yaa seenggaknya kamu pake kondom gitu le”

bude ngomong begitu sambil menunjuk kearah celanaku. Dia gak tau kalo isinya dah tegang hasil mengintip paha yang keliatan karena duduknya agak membuka.
Aku : “ee. I.. I.. iya Bude.”
Bude : “gimana rasanya teteknya si wulan itu le ? Enak ?”
Aku : “eee… lumayan kenyal Bude.”
jawabku dengan agak meringis. Dan akupun semakin berani karena arah pembicaraan udah memanas.
Aku : “Kalo Bude gimana. Pakde kan jarang pulang. Kalo pengen begituan gimana donk Bude ? ”
Aku sedikit takut akan pertanyaanku. Tapi ternyata dia merespon pertanyaanku tanpa marah.
Bude : “hmmm.. mau tau ajah kamu jon”
Bude : “Iya kalo kamu jon, gak kuat nahan paling-paling dikocok sendiri. Anak muda kan gitu biasanya”
Bude : “Oh iya le.. ntar kalo jahitnya selesai, kamu pijit Bude ya. Pegel semua abis ada tanggapan 2 tempat tadi.”
Aku : “iya bude”

Wah rejeki apalagi nih pikirku. Bisa mijitin badan Bude yang montok. Tak berselang Bude selesai menjahit. Dan dia mengambil minyak urut di kamarnya.

Bude : “Mijitnya di sini aja yah le. Sambil liat TV”
Bude dengan entengnya membuka dasternya dengan hanya menyisakan BH dan celana dalam berenda warna putih. Aku shock, terdiam. Tetek bude serasa mau loncat dari Bhnya.

Bude : “lo le.. kok diem saja. Kayak yang gak pernah lihat ginian. Bukannya wes biasa ama wulan. Hehe”
Bude pun langsung tengkurap di tikar dan menyerahkan minyak urut ke aku
Aku : “Beda bude”
Bude : “Beda apanya to le. Palingan tetek wulan lebih kenceng dari punya Bude.”
Sambil melumuri minyak dan mulai mengurut punggung Bude aku melanjutkan ngobrol.
Aku : “Hmm… punya Bude lebih montok. Lebih seger kayaknya. Hehehe. Lagian mana tau aku kalo punya wulan lebih kenceng. La wong aku gak pernah megang punya Bude. Hehehe”
Bude : “Husss ngawur”

Karena Bude masih memakai BH, aku kesulitan untuk mengurut punggungnya.
Aku : “Bude behanya dicopot ajah ya, aku gak leluasa ngurut punggungnya. Ada tali behanya”
Bude : “ya wes le, buka aja”
aku buka tali pengait behanya. Dan Bude agak mengangkat badannya dan melemparkan beha yang gede itu ke samping. Sekilas aku dapat melihat gedenya tetek Bude dari samping. Aku kembali fokus mengurut punggung Bude. Sekali-sekali aku elus punggungnya.
“hmm..mmmm”, Bude sepertinya keenakan dengan pijatanku.
Sesekali aku memijat bagian samping punggungnya. Dan tak sengaja aku menyenggol teteknya. Bude keenakan sepertinya. Tangannya yang sedari tadi nempel di tubuhnya sekarang direnggangkan. Hmm.. kulihat di ketiaknya terdapapat bulu yang lumayan lebat. Mirip seperti artis Eva Arnas jaman dulu. Wah ini membuat aku semakin horny aja.

Bude : “kok kamu ngurutnya di punggung aja to le. Turun donk biar rata pegelnya ilang”
Aku : “Turun kemana bude ?”
pura-pura aku tanya.
Bude : “ya ke bokong trus ke paha bude”
Aku : “oh.. I.. iya bude’
aku pun ganti mngurut bokong bude. Sesekali bokong semok ini aku remas-remas.
“sssstttt… hmmm.. enak le pijatanmu”
Bude keenakan spertinya. Matanya mulai merem merasakan nikmat. Abis aku pijat sama meremas-remas aku mulai turun ke pahanya. Aku mencoba untuk hanya mengelus-elus pahanya. Dari bawah jalan ke atas sampai bokongnya. Aku coba tanganku aku selipkan di selangkangannya. Hmmm.. terasa itu memek bude dibalik cd nya. Terasa tembem kayak kue apem.

Praktis pijatanku ini membuat bude keenakan. Erangan halusnya makin sering terdengar.
“shhhh.. hhhhh.. hmmmmm”
Sakit enaknya, dia sampai sedikit membuka kakinya. Wah memek tembemnya makin keliatan nih. Samar2 kulihat jembutnya di balik celana dalamnya. Bahkan beberapa jembut keluar dari celana dalamnya. Pemandangan jelas membuat aku semakin horny. Kontolku sepertinya mo berontak keluar. Aku semakin meningkatkan intesitas mengurutku di daerah ini.
Bude : “hmm… enak le. Makanya si wulan seneng banget kalo km remas2 le”
Aku : “Hehehe… bude tak liat-liat badanya masih sekel. Masih bagus Bude. Montok lagi. Padahal bude gak pernah olahraga”
Bude : “Bude minum jamu donk. Jamu sehat wanita”
Aku : “wah enak donk jadi pakde. Bude minum jamu mulu siii”
Bude : “Ntar kalo kamu udah kawin kamu bisa merasakan enaknya”
Pikirku mulai ngalor-ngidul. “Ah sekarang ajah aku ngentot ama Bude. Merasakan enaknya kayak pakde” batinku
Mungkin karena sudah birahi, terlihat celana dalam Bude agak basah.
“Ini mijetnya udah Bude ? Mana lagi ni yang mo dipijit ?” Aku terpaksa ngomong begitu karena tanganku pun dah berasa capek.
“Lo yang depan belom le”
Whaaaat… wah ini mah rejeki nomplok. Kapan lagi aku bisa menikmati tetek Bude. Tanpa babibu Bude langsung membalikkan badan. Woooooo…. tetek Bude yang selama in icuman bisa aku bayangkan sekarang ada di depan mata. Mimpi apaan nih aku semalem.
“Lo ayo le jangan diem ajah. Tetek Bude pegel ini. Ayo cepet dipijet.”
Aku pun menurut ama Bude. Kuurut itu tetek Bude. Terlihat tetek bude pentilnya dah mulai item. Tapi gede. Awalnya sih tidak ada reaksi saat aku memijat sambil meremas tetek Bude. Tapi lama kelamaan Bude menikmatinya.
“wenaaaak joooo.n….”
Mata Bude sambil tertutup menikmati pijatanku ini. Kusenggol pentilnya yang item. Sesekali aku pilin itu pentilnya. Shhh.. begitu erangnya.Dan entah ada dorongan dari mana, aku mencoba mendekat. Aku coba menjilat itu pentil. “slllrrrrppp…” sesekali aku kecup… aku sedot sedot… Tanganku satunya meremas tetek satunya lagi…
“ssssh… aahhhhhhhhh” erang Bude
Slrrrrrpp… cupppp…ceppppp… slrrpppp.. “Hmmm tetek Bude kenyal banget. Punya wulan kalah ni Bude”
“Terussss jooon… enaaaak… duh badan Bude geli semua ini” Bude meracau.
Bibirku sekarang mencoba menggapai Bibir Bude. Kucium. Lidahku masuk ke bibirnya. Aku sedot sedot. Sampai air liurnya masuk ke mulutku. Ciumanku mulai berjalan dari bibir Bude turun melewati leher dan ke tetek lagi. Ku kenyot kenyot itu tetek. Tanganku satunya berjalan ke arah selangkangan Bude. Sempaknya yang basah aku gosok gosok. Pinggul Bude karena keenakan bergoyang goyang menikmati. Aku masukkan tangganku ke dalam celana dalam. Terasa itu lebatnya memek Bude. Aku cari cari akhirnya ketemu itu lubang memeknya.

“shhh achhhh… ashhh achhhhh….”
Mendengar erangan Bude aku coba masukkan jariku ke memek Bude. Aku coba gosok klentitnya. Dan aku coba kosok itu memek.
“sshhhh.. enak leee. Terus leeee… ya itu disitu le… wenak leeee”
goyangan pantat Bude ke atas ke bawah. Aku coba buka itu celana dalam Bude. Bude membantunya dengan membukanya sendiri.

Kenyotanku pada teteknya aku hentikan. Aku sekarang dapat melihat betapa rimbunya memek Bude. Bude mekangkang. Wajahku mencoba mendekat. Kuciumi itu jembut2nya. Kusibak jembutnya. Setelah memek tembemnya keliatann Aku jilat bagian luarnya. Lidahku memainkan jilatan di klitorisnya. Kumasukkan lidahku ke lubang memek Bude.
“ahhhhh… ahhh.. argghhhh.. wenak… wenak… arhhhhh… awww… enak leeee…”
untuk menghentikan erangan Bude aku copot semua baju dan celanaku. Aku coba mengambil gaya 69. Wajahku di memeknya Bude, dan wajah Bude pas di kontiku.

Tanpa Ku komando, Bude dengan rakusnya mengenyot kontolku. Dia jilat dan disedot dengat enaknya.
“Kontolmu enak jooon, cepp ceppp..slrrrrppppp”…
Aku juga melanjutkan menjilkat memek Bude. Tak Lama setelah lidahku merongrong memek Bude, sepertia dia mendapatkan orgasme pertamanya.
“shhhhh.. jooooooon bude mau keluarrrr… ahhh ahhhhh”
Dengan diikuti gerakan bokongnya keatas… dan kepalaku dia jepit sekuat kuatnya…
“ahhhh… ahhhhh…argghhhhh…”

Setelah itu Bude melanjutkan mengulum kontolku. Karena aku berasa akan keluar aku cabut kontolku dari mulut Bude. Badanku berbalik. Sekarang posisiku diatas Bude. Kontolku skr ada di depan memek Bude. Aku gosok gosokan kontolku ini di luar memek Bude.
“ahhhhhh… jooon… masukin kontolmu joooon… tempik Bude dah pengin di entot jooo… masukiiin”
stelah bude terasa tersiksa begini aku coba pelan pelan masukin ini rudal ke memek Bude. Awalnya agak susah, pelan pelan aku dorong dan sekarang …. blesssss…
“arghhhhhh…. genjot jooon”
Aku genjot pelan pelan memek Bude.
“awwwww… arghhhhh.. shhhhhhh… wenak…kontolmu joooon…. manteeep leee”
Aku mainkan irama kontolku. Cepat… terus melambat.. cepat lagi… melambat lagi…
“ayo.. jon… genjot lebih cepet tempik Budemu ini… ahhhh… ahhhhh”
aku genjot semakin cepat…
“Bude.. aku mo keluar bude… ahhhhh… shhhh”
“sama jooonnnn…. Bude juga dah gak kuat.. mo keluar lagi le. Keluarin di dalem ajah le…”
Tak seberapa lama terasa memek Bude melumuri kontolku dengan cairan orgasmenya… memeknya berkedut… sepertinya kontolku di hisapnya…
“”awhhhhhhh.. awhhhhhhhh… enaaaak joooo…. n”
dan aku pun udah gak uat lagi menahan… crott..croottt.croott..
“Wenak Budee… ahhhh. Ahhhhhh… arhhh”

Akhirnya kami pun lemas. Aku terbaring diatas tubuh Bude…
Bude : “Kamu nakal lee… tapi enak tadi kontolmu.. dah lama aku gak ngentot ama pak demu le…”
Aku : “Iya bude.. Tempik Bude juga enak… punyaku terasa disedot… Minum jamunya yang sering yah Bude”
Bude : “Hussss kamu.. tapi ini rahasia yo leee. Jangan sampek orang lain tau’
Aku : “Beres Bude.. asal aku nanti dikasih tempik Bude yang enak ini”
Budeku tersenyum dan akhirnya kami biasa melakukannya bila kami pengen…

TAMAT


Seperti yang kujanjikan, beberapa teman kantorku akhirnya menjadi langganan pijatan Bu Mumun setelah aku mempromosikannya. Rupanya pijatannya benar-benar disukai para pria. Termasuk Pak Marmo, atasanku.

Bahkan ada dua temanku yang menanyakan kemungkinan untuk tidak sekadar mendapat layanan memijat dari Bu Mumun tetapi lebih dari itu. “Kayaknya bisa nggak To kalau Bu Mumun diajak begituan. Aku suka lho wanita tipe seperti dia. Sudah tua tapi tubuhnya masih bagus dan terawat,” kata Rizal, teman sekantorku suatu hari setelah hari sebelumnya dipijat Bu Mumun di rumahnya.

Rizal juga cerita, saat dipijat ia sempat menggerayang ke balik daster yang dipakai Bu Mumun. Tetapi ternyata, kata Rizal, Bu Mumun di samping memakai celana panjang ketat sebatas lutut juga memakai celana dalam rangkap. “Entah rangkap berapa celana dalam yang dipakainya. Aku sampai nggak bisa merasakan empuknya memek dia,” ungkap Rizal menambahkan.

Mendengar ceritanya aku jadi ingin ketawa sekaligus bangga. Sebab ide memakai pakaian seperti itu saat memijat memang atas saranku. Karena kuyakin para pria pasti tertarik untuk iseng dan coba-coba. Tetapi agar Rizal menjadi penasaran dan tetap menjadi langganan pijat, kukatakan padanya kalau aku tidak tahu bisa tidaknya Bu Mumun memberi layanan seks selain memijat.

“Selama ini sih aku hanya tahu ia tukang pijat yang baik dan pijatannya enak. Kalau sampai ke masalah itu saya tidak tahu. Mungkin kalau pendekatannya pas bisa saja ia mau melayani. Apalagi kan udah cukup lama ia ditinggal suaminya,” ujarku.

Pria lain yang juga terang-terangan menyatakan ketertarikannya pada Bu Mumun adalah atasanku. Bahkan setelah aku sering mengantar Bu Mumun untuk memijat, karena Pak Marmo lebih senang pijat di rumahnya, ia menjadi semakin dekat denganku. Aku juga dipercaya memegang sebuah proyek dengan nilai cukup besar, sesuatu yang belum pernah dipercayakan padaku.

Menurut Pak Marmo, pijatan Bu Mumun bukan hanya enak tetapi juga mampu menggairahkan kejantanannya. “Jangan cerita ke siapa-siapa ya. Saya dengan ibu sudah lama tidak jalan lho. Nggak tahu kenapa. Tetapi melihat pemijat tetanggamu itu dan mendapat pijatannya, sepertinya mulai agak bangkit. Suaminya sampai sekarang belum pulang?” kata Pak Marmo ketika aku menghadapnya di ruang kerja.

Pak Marmo mengundangku karena nanti malam jadwalnya dia dipijat Bu Mumun. Tetapi menurut dia, istrinya juga ada rencana belanja ke supermarket dan menemui salah satu koleganya pedagang permata. Selain mengantar Bu Mumun ke rumahnya, aku diminta bantuan menyopir mobil untuk mengantar istrinya.

Sebagai seorang bawahan terlebih karena kebaikannya mempercayakan sebuah proyek berdana besar kepadaku, kusampaikan kesediaanku. Namun sebelum aku keluar dari ruangannya ia kembali mencegah dan berbisik. “Eh Ton, kira-kira bisa nggak tukang pijat itu memberi layanan lebih? Kamu bisa bantu atur?”

Aku paham kemana arah pembicaraan atasanku itu. Maka seperti yang kusampaikan kepada dua temanku yang menjadi langganan pijat Bu Mumun, kukatakan bahwa selama ini yang kutahu ia hanya berprofesi sebagai pemijat dan soal yang lain-lain belum tahu. Hanya kepada Pak Marmo kukatakan akan mencoba melakukan pendekatan ke Bu Mumun.

Setelah keluar dari ruang kerja atasanku, aku menemui Bu Mumun. Sambil berpura-pura cemburu kuceritakan soal ketertarikan atasanku kepadanya. Tetapi juga kuceritakan tentang kebaikan Pak Marmo termasuk kepercayaannya memberikan proyek besar di bawah penangananku.

Bu Mumun cerita, setiap dipijat Pak Marmo memang berusaha merayunya. Juga berusaha menggerayang ke balik pakaian seperti temanku yang lain. “Tetapi kelihatannya punya Pak Marmo sudah sulit bangkit kok,” ujar Bu Mumun.

“Oh jadi cerita Pak Marmo soal kemampuan seksnya yang sudah berkurang itu bener?” Kataku pura-pura kaget.

“Jadi enaknya sikapnya gimana Pak Anto. Dia kan atasan bapak dan juga baik sama bapak,” ujarnya lagi.

Akhirnya dengan seolah-olah sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk kuputuskan, kukatakan padanya bahwa karena kondisi kemampuan seks atasanku tidak normal maka sebaiknya Bu Mumun membantunya. Saat memijat, sebaiknya tidak memakai celana dalam rangkap tiga dan juga tidak memakai celana panjang di balik daster yang dipakai.

“Maksud saya agar Pak Marmo terangsang karena dia suka sama ibu. Memang resikonya Pak Marmo jadi leluasa menjahili ibu sih. Tetapi niatnya kan untuk membantu menyembuhkan dia. Gimana menurut ibu?”

“Kalau itu yang terbaik menurut Pak Anto saya sih nurut saja. Tetapi Pak Anto jangan cemburu ya,”

Bu Mumun langsung kupeluk. Kukatakan padanya bahwa sebenarnya aku sangat cemburu dan tidak suka tubuh Bu Mumun diraba dan dipegang-pegang orang lain. Tetapi demi menolong atasanku itu dan demi membalas kebaikannya aku akan berusaha untuk tidak cemburu. “Asal yang ini jangan diberikan semua ke Pak Marmo ya bu. Saya suka banget dengan yang ini,” ujarku sambil meraba memek Bu Mumun setelah menyingkap dasternya.

Tadinya aku berniat melepaskan hasratku untuk menyetubuhi tubuh montok tetanggaku itu. Tetapi setelah saling memagut dan hendak saling melepaskan baju, kudengar anak-anak Bu Mumun pulang dari sekolah. Hingga kuurungkan niatku dan langsung kebur menyelinap lewat pintu belakang.

Seperti yang kujanjikan, sekitar pukul 17.00 kujemput Bu Mumun dan kuantar ke rumah Pak Marmo. Bu Mumun memakai seragam baju terusan warna putih seperti yang biasa dipakai suster rumah sakit. Itu memang baju seragamnya saat memijat. Tetapi dari bentuk cetakan celana dalam yang membayang di pantatnya yang besar, kuyakin ia tidak pakai celana panjang dan celana dalam rangkap seperti biasanya. Rupanya ia benar-benar memenuhi janjinya untuk melayani Pak Marmo dengan lebih baik seperti yang kusarankan.

Kulihat Pak Marmo sedang menyiram bunga di halaman rumahnya saat aku datang. “Eh To, silahkan masuk. Tuh istriku udah uring-uringan karena sudah dandan dan siap berangkat,” ujarnya mempersilahkan.

Benar Bu Marmo sudah berdandan rapi dan siap pergi. Bahkan ia langsung menyerahkan kunci kontak mobil kepadaku. “Wah ibu takut Nak Anto telat datang. Soalnya selain belanja ibu kan harus ke rumah Bu Ramli, jadi takut kemalaman,” kata Bu Marmo.

Bu Marmo menyapa Bu Mumun ramah dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu rumahnya. Ia meminta Bu Mumun menunggu karena suaminya belum mandi. Bahkan kepada Bu Mumun juga berpesan untuk istirahat di kamar tamu rumahnya kalau selesai memijat nanti ia belum pulang. “Santai saja Mbak Mumun nggak usah sungkan-sungkan. Kalau mungkin nanti saya juga ikut dipijat,” ujar Bu Marmo yang langsung mengahmpiriku yang sudah siap dengan mobil Kijang keluaran terbaru milik keluarga itu.

Usia Bu Marmo mungkin sebaya dengan Bu Mumun. Atau boleh jadi lebih tua satu atau dua tahun. Namun dengan pakaian stelan jas tanpa kancing yang dipadu dengan kaos warna krem di bagian dalam serta celana panjang ketat warna hitam senada, wanita itu tampak berwibawa.

Bau harum yang lembut dari wangi farfumnya membaui hidungku saat ia masuk ke dalam mobil. Ia menyebut nama sebuah suoermarket ternama hingga aku langsung menjalankan mobil perlahan. Untung aku yang biasanya hanya memakai T shirt, tadi memutuskan memakai baju lengan panjang meski untuk celana tetap memilih jins. Hingga tidak terlalu canggung mengantar istri atasanku.

Ukuran dan bentuk tubuh Bu Marmo nyaris sama dengan Bu Mumun, tinggi besar. Kakinya panjang dan kekar. Hanya perutnya relatif lebih rata, mungkin karena rajin senam dan olahraga hingga tubuhnya tampak lebih liat.

Awalnya pembicaraan lebih bersifat formal. Tentang bagaimana sikap kepemimpinan suaminya di kantor dan bagaimana penilaianku sebagai bawahan. Namun lama kelamaan perbincangan menjadi lebih cair setelah topiknya menyangkut keluarga. “Sebentar lagi cucu saya dua lho Nak Anto. Sebab Menik kemarin telepon katanya sudah hamil,” kata ibu beranak tiga itu.

“Kalau ngomongnya sama orang yang tidak tahu keluarga ibu nggak akan percaya kalau ibu sudah punya cucu,”

“Lho kok?”

“Soalnya dari penampilan ibu, orang pasti mengira usianya belum 40 tahun. Soalnya ibu terlihat masih muda dan energik,” kataku memuji.

“Ah bisa saja Nak Anto. Pujiannya disimpan saja deh untuk istri Nak Anto. Pasti istrinya cantik ya karena Nak Anto kan pandai merayu,”

Lewat kaca spion, wanita yang sehari-hari menjadi kepala sekolah di sebuah SD itu kulihat tak mampu menyembunyikan perasaan bangganya atas pujian yang kuberikan. Seulas senyum manis terlihat menghias wajahnya, wajah yang masih menyimpan sisa-sisa kecantikan di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.

Melihat Bu Marmo aku jadi ingat Bu Mumun. Wanita itu pasti lagi sibuk memijat tubuh atasanku. Atau boleh jadi sambil memijat ia jadi terangsang karena tangan Pak Marmo yang menggerayang ke paha dan selangkangan atau di memeknya yang kini hanya dibalut satu buah celana dalam.

Membayangkan semua itu aku kembali melirik Bu Marmo yang ada di sebelahku. Perbedaan Bu Mumun dengan Bu Marmo mungkin hanya pada warna kulitnya. Kulit Bu Mumun lebih terang dan Bu Marmo agak gelap. Kalau teteknya, aku berani bertaruh payudara istri atasanku ini juga cukup besar ukurannya. Meski tertutup jas hitam dan kaos krem yang dipakainya, tonjolan yang dibentuknya tak bisa disembunyikan.

Di luar itu, yang pasti Bu Marmo lebih wangi dan boleh jadi tubuhnya lebih terawat. Sebab ia memiliki kemampuan keuangan yang memadai untuk merawat tubuh dan membeli parfum mahal. Tetapi begitulah hidup, rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri.

“Sudah berapa lama ya Pak Marmo tidak menyentuh wanita berwajah manis ini? Ah aku juga mau kalau diberi kesempatan,” ujarku membathin sambil melirik bentuk kakinya yang panjang dan tampak indah dibalut celana hitam ketat.

Gara-gara terus-menerus melirik Bu Marmo, mobil yang kubawa nyaris menabrak becak. Untung Bu Marmo mengingatkan hingga aku bisa sigap menghindar. “Makanya jangan meleng! Kenapa sih, sepertinya Nak Anto ngelihatin ibu terus deh,”

“Ee.. ee.. anu.. eee ibu cantik banget sih,” jawabku sekenanya.

“Hush… orang sudah nenek-nenek dibilang cantik,”

Tanpa terasa mobil akhirnya memasuki pelataran parkir supermarket yang dituju. Tadinya aku berniat menunggu di tempat parkir sementara istri atasanku itu berbelanja. Tetapi Bu Marmo memintaku menemani masuk ke supermarket. Bahkan ia menggamit lenganku sambil berjalan di sisiku layaknya seorang istri pada suami.

Sebagai anak buah dari suaminya, sebenarnya aku agak canggung. Tetapi karena Bu Marmo terkesan sangat santai, aku pun akhirnya bisa bersikap wajar. Bahkan setelah berkali-kali tanpa disengaja lenganku menekan buah dada Bu Marmo yang kelewat merapat saat berjalan, aku mulai nekad mengisenginya. Sambil berjalan, siku lengan kiriku sengaja kutekan ke teteknya hingga kurasakan kelembutan buah dadanya.

Entah tidak tahu ulah isengku atau tahu tetapi pura-pura tidak tahu, Bu Marmo bukannya menghindar dari siku lenganku yang ‘nakal’. Sambil terus melangkah di sisiku untuk melihat-lihat barang-barang di supermarket posisi tubuhnya malah kian merapat. Akibatnya tonjolan buah dadanya kurasakan ikut menekan lenganku. Aku juga mulai bisa memperkirakan seberapa besar tetek istri atasanku itu.

Sebenarnya aku kurang begitu suka mengaantar istri berbelanja. Sebab biasanya, istriku suka berlama-lama khususnya ketika berada counter pakaian. Begitu pun Bu Marmo, hampir setiap baju dan gaun wanita yang menarik hatinya selalu didekati dan beberapa diantaranya dicobanya di kamar pas.

Namun aku yang biasanya jenuh dan menjadi bersungut-sungut, kali ini malah menikmatinya. Sebab sambil menunggu wanita itu memilih baju-baju yang hendak dibelinya, aku jadi punya banyak kesempatan untuk melihat bentuk tubuh istri atasanku itu. Saat kuamati dari belakang, wanita yang usianya sudah kepala lima itu ternyata masih lumayan seksi.

Dalam balutan celana ketat yang dipakainya, pinggul dan pantat Bu Marmo benar-benar aduhai. Apalagi celana dalam yang dipakainya jadi tercetak sempurna karena ketatnya celana warna hitam yang dikenakan. Aku terus melirik dan mencari kesempatan untuk menatapnya saat Bu Marmo membungkuk atau memilih-milih pakaian yang menjadikan posisi pantatnya menonjol.

Saat hendak mencoba baju yang diminatinya di kamar pas, Bu Marmo menitipkan tasnya padaku sambil meminta berada tak jauh dari lokasi kamar pas. Lagi-lagi goyangan pinggul dan pantat besarnya menggoda mataku saat ia melangkah. Pikiranku jadi menerawang membayangkan Bu Mumun. Ada perasaan cemburu karena kuyakin Pak Marmo lagi berusaha merayu atau malah sudah berhasil menaklukkan Bu Mumun dan tengah menikmati kemontokkan tubuh wanita itu. Ah andai Bu Marmo bisa kurayu atau membutuhkan layanan seksku, ujarku membathin.

Aku merasakan adanya peluang untuk itu ketika kudengar Bu Marmo memanggilku dari kamar pas. Dengan tergesa aku menuju ke kamar pas yang letaknya agak terpencil dan tertutup oleh display aneka pakaian di supermarket tersebut. Namun di lokasi itu, istri atasanku tak kunjung keluar dan menyampaikan maksudnya memanggilku hingga aku nekad melongokkan kepala dengan menyibak tirai kamar pas.

Ternyata, di kamar pas Bu Marmo dalam keadaan setengah telanjang. Karena setelah mencoba baju dan celana yang hendak dibelinya ia belum memakai pakaiannya lagi. Hanya BH dan celana dalam krem yang menutup tubuhnya. Maka yang semula hanya bisa kubayangkan kini benar-benar terpampang di hadapanku.

Wanita yang usianya tidak muda lagi itu, benar-benar masih menggoda hasratku. Teteknya nampak agak kendur, tetapi besar dan bentuknya masih bagus. Pahanya mulus tanpa cela. Hanya meskipun perutnya tidak membuncit seperti perut Bu Mumun, namun terlihat bergelombang dan ada beberapa kerutan. Maklum karena faktor usia. Sedangkan gundukkan di selangkangannya benar-benar membuatku terpana, besar dan membukit. Bisa kubayangkan montoknya memek Bu Marmo dari apa yang tampak oleh cetakan pada celana dalam yang membungkusnya.

Dan anehnya kendati tahu akan kehadiranku, ia tak merasa jengah atau mencoba menutupi ketelanjangannya. Bahkan meskipun mataku terbelalak dan terang-terangan menjilati ketelanjangannya. “Ih kayak yang nggak pernah lihat perempuan telanjang saja. Nak tolong ke sales untuk bajunya ganti nomor yang lebih besar sedikit. Yang ini kekecilan,” ujarnya tetap santai.

Saat kembali seusai menukar baju pada sales, Bu Marmo memang telah memakai kembali celana panjang warna hitamnya. Tetapi di bagian atas tetap terbuka. Bahkan tanpa menyuruhku pergi, ia segera memakai pakaian yang kusodorkan untuk dicobanya dihadapanku. “Menurut Nak Anto, ibu pantes nggak pakai pakaian model seperti ini,” ujarnya meminta komentarku.

“Ee.. ee bagus. Seksi banget,”

“Hus dimintai pendapat kok seksi.. seksi. Seksi apaan sih,”

“Ee maksud saya dengan pakaian itu ibu terlihat makin cantik dan seksi,” kataku yang tidak berkedip menikmati kemewahan buah dadanya.

Entah karena pujianku atau menganggap baju itu memang sesuai seleranya, Bu Marmo akhirnya memutuskan membelinya di samping beberapa stel pakain lainnya. Hanya ketika aku menemani di counter pakaian dalam dan ia memilih-milih BH nomor 36B, sambil berbisik kuingatkan bahwa nomor itu terlalu kekecilan dipakai olehnya.

“Ih sok tahu,” ujarnya lirih.

“Kan tadi sudah dikasih lihat sama ibu,”

Bu Marmo mencubit pinggangku. Tetapi tidak sakit karena cubitan mesra dan gemas. Kalau bukan ditempat keramaian, rasanya aku sudah cukup punya keberanian untuk memeluk atau mencium istri atasanku itu. Karenanya setelah membayar semua yang dibelinya, saat keluar dari supermarket lengannya kugamit untuk meyakinkannya bahwa aku pun tertarik padanya.

Seperti tujuannya semula, setelah dari supermarket Bu Marmo berniat ke rumah temannya untuk urusan pembelian perhiasan. Tetapi menurutnya ia agak lapar dan ingin menu ikan bakar. Maka seperti yang dimintanya, mobil pun meluncur ke kawasan pantai di mana terdapat rumah makan yang berbentuk saung-saung terpisah dan tersebar dan khusus menjual aneka menu seafood.

Setelah memesan beberapa menu dan minuman, kami menuju ke salah satu saung paling terpencil dan tertutup rimbun pepohonan. Tadinya Bu Marmo memprotes karena menurutnya tempatnya terlalu gelap dan terpencil. Tetapi saat tanganku melingkar ke pinggangnya dan kukatankan bahwa lebih gelap lebih asyik, protesnya yang boleh jadi cuma pura-pura segera berhenti dan hanya sebuah cubitan darinya sebagai jawabannya.

Dari pinggangnya tangaku meliar turun merayap di pantatnya. Dari luar celana ketat yang dipakainya, pantat besarnya kuraba. Bokongnya yang lebar masih lumayan padat, hanya agak sedikit turun. Dengan gemas kuusap-usap dan kuremas pantat Bu Marmo. Lagi-lagi ia tidak menolak dan bahkan kian merapatkan tubuhnya. Maka setelah di dalam saung, ia langsung kupeluk dan kulumat bibirnya.

Sejenak ia tidak bereaksi. Hanya diam membiarkan lidahku bermain di rongga mulutnya. Namun setelah tanganku merayap di selangkangannya dan menelusup masuk ke dalamnya melalui risleting celananya yang telah kuturunkan, pagutanku di mulutnya mulai mendapatkan perlawanan. Bibir dan lidah Bu Marmo ikut aktif melumat dan memainkan lidahnya.

Memek istri atasanku itu tak cuma tebal, tapi juga lebar dan membusung. Itu kurasakan saat telapak tanganku mengusap dari luar celana dalam yang dipakainya. Tetapi nampaknya tak berambut. Permukannya terasa agak kasar karena munculnya rambut-rambut yang baru tumbuh. Sepertinya ia baru mencukur bulu-bulu jembutnya itu.

Namun saat aku hendak lebih memelorotkan celana panjangnya agar leluasa meraba dan mengusap memeknya Bu Marmo mencegah. “Jangan Nak Anto, nanti ada orang. Kan pelayan belum ke sini buat nganterin pesanan makanan kita,” sergahya.

“Ii… ii.. iya Bu,”

Benar juga, ujarku membathin. Aku terpaksa menahan diri untuk tidak meneruskan niatku memelorotkan celana panjang yang dipakai Bu Marmo. Hanya usapan dan rabaanku di busungan memeknya tak kuhentikan. Bahkan sesekali aku meremasnya dengan gemas karena keinginan untuk memasukkan jariku ke lubang nikmatnya tak kesampaian.

Diobok-obok di bagian tubuhnya yang paling peka, kendati masih di luar celana dalamnya, Bu Marmo mendesah. Pelukannya semakin ketat dan lumatannya di bibirku makin menjadi. Rupanya wanita yang usianya sudah di atas kepala lima itu mulai terbangkitkan hasratnya.

Aku dan Bu Marmo baru melepaskan pelukan dan segera berbenah setelah dari jauh kulihat dua pelayan wanita membawa nampan berisi makanan dan minuman yang kami pesan. Selembar uang pecahan Rp 20 ribu kusisipkan di nampan salah satu pelayan perempuan setelah mereka selesai menghidangkan yang kami pesan. “Terima kasih dan selamat menikmati,” kata keduanya sambil melemparkan senyum dan beranjak meninggalkan saung yang kami tempati.

Tetapi bukannya makanan yang terhidang yang kuserbu setelah kedua pelayan meninggalkan saung. Dari arah belakang kudekati dan kupeluk Bu Marmo yang di tikar saung yang menyajikan makanan secera lesehan itu. “Tidak makan dulu Nak Anto?” ujar Bu Marmo.

Tetapi aku tak peduli pada apa yang dikatakan istri atasanku itu. Hasrtaku lebih besar untuk segera menikmati kehangatan tubuhnya ketimbang makanan yang tersaji. Hingga setelah membenamkan wajahku ke keharuman rambutnya, tanganku langsung meliar, Meremasi teteknya dari luar t shirt warna krem yang dipakai dibalik jaketnya yang tak terkancing.

Seperti tetek Bu Mumun, susu Bu Marmo juga sudah agak kendur. Tapi dari segi ukuran, nampaknya tak jauh beda. Besar dan empuk, entah bentuk putingnya. Sambil kuciumi tengkuk dan lehernya, tanganku merayap ke balik t shirt yang dipakainya. Kembali aku meremas teteknya dan kali ini langsung dari BH yang membungkusnya. Kelembutan buah dada Bu Marmo baru benar-benar dapat kurasakan setelah aku berhasil merogoh dan mengelurkannya dari BH.

Bu Marmo mulai menggelinjang dan mendesah saat aku meremas-remas teteknya perlahan dan memainkan puting-putingnya. Ia menyandarkan tubuh ke dadaku seakan memasrahkan tubuhnya padaku. “Sshhh….aaahhh….. sshhh….aahhh… ibu sudah lama tidak begini Nak Anto,” ujarnya mendesah.

“Lho kan ada Pak Marmo,” kataku menyelidik.

“Dia jarang mau diajak dan sudah sulit bangun itunya,”

Meski sudah mendengar langsung dari Pak Marmo aku agak kaget karena ternyata cerita atasanku itu benar adanya. Pantesan Bu Marmo merasa tidak ada masalah meninggalkan suaminya dipijat wanita lain berdua di rumahnya.

Ternyata wanita yang ada dalam pelukanku ini sudah lama tidak dijamah suaminya. Membayangkan itu aku makin terangsang. Jas hitam yang dipakai Bu Marmo kulepas dari tubuhnya. Namun saat hendak kulepas kaos krem yang dikenakan dibalik jaket, wanita istri atasanku itu mencegah. “Takut nanti ada yang ke sini Nak Anto,” ujarnya.

Meski aku telah membujuknya bahwa tak mungkin ada pelayan yang datang kecuali tombol bel yang ada ditekan untuk memanggil, Bu Marmo tetap menolak. Menurutnya ia tetap merasa was-was karena berada di ruang terbuka. “Kalau celana dalam ibu saja yang dibuka nggak apa-apa,” katanya akhirnya.

Agak kecewa sebenarnya karena aku ingin melihat tubuh istri atasanku dalam keadaa bugil. Tetapi membuka celana berarti memberiku kesempatan melihat memeknya. Bagian yang paling ingin kulihat pada tubuh Bu Marmo karena saat di kamar pas supermarket, bagian membusung di selangkangannya itu masih tertutup celana dalam.

Tanpa membuang kesempatan, segera kubaringkan Bu Marmo di lantai saung yang beralaskan tikar itu. Kubuka kancing celana hitam yang dipakai dan kutarik risletingnya. Kini kembali kulihat gundukan memeknya yang masih dibungkus celana dalam krem. Aku menyempatkan membelai memek istri atasanku itu dari luar celana dalamnya sebelum menarik dan memelorotkan celana panjangnya. Benar-benar tebal, besar dan masih cukup liat.

Aku makin terpana setelah memelorotkan celana dalamnya dan membuat tubuh bagian bawah Bu Marmo benar-benar bugil. Memeknya benar-benar nyempluk, membusung dan tanpa rambut. Kalau dibiarkan tumbuh mungkin jembut di memek Bu Mumun masih kalah lebat. Namun Bu Marmo rupanya lebih senang mencukurnya, hingga nampak gundul dan polos.

Memek tembemnya itu terasa hangat saat aku menyentuh dan membelainya. Tetapi sekaligus terasa kasar karena bulu-bulu jembutnya mulai tumbuh. Aku yang menjadi makin terangsang dan tak sabar untuk melihat itilnya, segera membuka posisi kaki Bu Marmo yang masih merapat.

Ah lubang memeknya ternyata sudah lebar, menganga diantara bibir kemaluannya yang tebal dan berkerut-kerut. Bibir kemaluannya coklat kehitaman. Tetapi itilnya yang mencuat menonjol di bagian atas celah memeknya nampak kemerahan. Aku tak lagi bisa menahan diri. Langsung kukecup memeknya dengan mulutku. Memek Bu Marmo ternyata sangat terawat dan tidak berbau. Ia mendesah dan makin melebarkan kangkangan pahanya saat lidahku mulai menyapu seputar bibir luar vaginanya.

Lidahku terus menjelajah, melata dan merayap seolah hendak melumasi seluruh permukaan tepian labia mayoranya. Bahkan dengan gemas sesekali bibir vaginanya yang telah menggelambir kucerucupi. Membuat Bu Marmo mendesis mengangkat pantat menahan nikmat. “Aakkhhh… sshhh… shhh… aahhh…. ookkhhh…. ssshhhh,” rintih wanita itu mengikuti setiap sapuan lidah dan cerucupan mulutku di memeknya.

Sambil mendesis dan mendesah, kulihat Bu Marmo meremasi sendiri susunya dari luar kaos warna krem yang dipakainya. Rupanya ia sangat menikmati sentuhan awal oral seks yang kuberikan. Aku yang memang berniat memberi kesan mendalam pada persetubuhan pertama dengan istri atasanku itu, segera meningkatkan serangan. Dengan dua tanganku bibir memeknya kusibak hingga terlihat lubang bagian dalam kemaluannya. Lubang yang sudah cukup lebar dan terlihat basah.

Ke celah lubang nikmat itulah lidahku kujulurkan. Terasa asin saat ujung lidahku mulai memasuki lorong kenikmatannya dan menyentuh cairan yang keluar membasah. Aku tak peduli. Ujung lidahku terus terulur masuk menjelajah ke kedalaman yang bisa dijangkau. Bahkan di kedalaman yang makin pekat oleh cairan memeknya, lidahku meliar. Melata dan menyodok-nyodok. Akibatnya Bu Marmo tak hanya merintih dan mendesah tapi mulai mengerang.

“Aahhkkkhhh…. aaahhh…. oookkkhhhh… enak banget Nak Anto. Oookkh.. terus.. Nak, aaakkkhhhhh,” erangnya kian menjadi.

Bahkan ketika lidahku menjilat itilnya, tubuh istri atasanku itu mengejang. Ia mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya. Seolah menjemput lidahku agar lebih dalam menggesek dan mendesak ke kelentitnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menempatkan kedua tanganku untuk menangkup dan menyangga pantatnya. Dan sambil terus menjilati itilnya kubenamkan wajahku di permukaan memeknya sambil menekan dan meremas-remas pantatnya.

Kenikmatan tak tertahan yang dirasakan Bu Marmo akibat jilatan-jilatan di kelentitnya membuat gairah wanita itu makin memuncak. Kakinya mengelonjot dan menyepak-nyepak sambil erangannya makin menjadi. Bahkan kepalaku dijambaknya. “Ahh.. ahhh.. ooohh ….aaaauuuhhhhh…. enak.. sshhh…. sshhh…. aahhh enak banget. Ibu nggak tahan Nak Anto, aaahhh…. aahhhh,” sesekali tangannya berusaha menjauhkan kepalaku dari memeknya.

Tetapi aku tak peduli. Jilatan lidahku di itilnya bukannya kuhentikan tetapi makin kutingkatkan. Bahkan dengan gemas, bagian paling peka di kemaluannya itu kucerucupi dan kuhisap-hisap. Akibatnya ia tak mampu bertahan lebih lama. Pertahanannya jebol. Kedua pahanya yang kekar menjepit kencang kepalaku dan menekan hebat hingga wajahku benar-benar membenam di memeknya.

Berbarengan dengan itu ia memekik dan mengerang kencang namun tertahan. Cairan kental yang terasa hangat juga kurasakan menyemprot mulutku uang masih menghisap itilnya. Saat itulah aku tahu Bu Marmo baru saja mencapai puncak kenikmatannya. Rupanya, upayaku untuk membuatnya orgasme tanpa mencoblos memeknya dengan kontolku berhasil.

Setelah beberapa lama, nafas Bu Marmo yang sempat memburu berangsur pulih seiring dengan mengendurnya jepitan paha wanita itu di kepalaku. Hanya ia tetap terbaring. Mungkin tenaganya terkuras setelah puncak kenikmatan yang didapatnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menyeka dan membersihkan mulutku memakai serbet makan yang tersedia bersama sejumlah menu makanan yang belum sempat kami sentuh.

Aku baru saja menenggak habis segelas teh manis hangat yang sudah diingin saat Bu Marmo menggeliat dan terbangun. Kulihat ia tersenyum padaku. Senyum yang sangat manis. Mungkin sebagai ungkapan terima kasih atas yang baru kuberikan dan sudah lama tidak diperoleh lagi dari suaminya. “Nak Anto sudah lapar? Kalau lapar makan dulu deh,” ujarnya.

“Saya sudah kenyang kok Bu,” jawabku.

“Kenyang apa, wong baru minum teh saja kok,”

“Bukan kenyang karena makanan. Tetapi karena menjilati memek ibu yang mantep banget,” candaku sambil menatapi busungan memeknya.

“Ih dasar. Ibu bener-bener nggak tahan lho Nak Anto. Soalnya sudah lama banget nggak dapat yang seperti tadi,” ujarnya tersipu.

Rupanya ia juga baru sadar bahwa bagian bawah tubuhnya masih telanjang. Celana dalam warna krem miliknya yang teronggok segera diambil dan Bu Marmo berniat untuk memakainya. Namun aku langsung mencegah. Kurebut dari tangannya dan kulempar agak jauh darinya. “Jangan ditutup dulu dong Bu. Saya masih belum puas lihat punya ibu,” kataku sambil mengusap memeknya.

“Nak Anto tidak pengin makan dulu?”

“Nanti saja ah. Perut saya sih belum lapar. Tapi kalau yang ini sudah lapar sejak tadi,” ujarku sambil menurunkan risleting celanaku dan mengeluarkan isinya dari celana dalam yang kupelorotkan.

Kontolku keras dan tegak mengacung sempurna. Urat-uratnya terlihat menonjol melingkari sekujur batangnya yang hitam dan berukuran lumayan besar. Bu Marmo tampak terpana melihatnya. “Punya saya hitam dan jelek ya Bu,” kataku memancing.

“Bukan.. bukan karena itu. Tapi ukurannya.. kok gede banget,”

“Masa? Tapi ibu suka sama yang gede kan?” Kataku sambil merubah posisi menggeserkan bagian bawah tubuhku mendekat ke istri atasanku. Aku berharap ia tak hanya menatap senjataku tapi mau mengelusnya atau bahkan mengulumnya. Sementara tanganku tetap merabai dan mengusap-usap memeknya yang tebal.

Bu Marmo ternyata cepat tanggap dan mengerti apa yang kuinginkan. Batang zakarku digenggamnya. Tetapi ia hanya mengelus dan seperti mengamati. Mungkin ia tengah membandingkan senjata milikku dengan kepunyaan suaminya. “Beda dengan milik bapak ya bu. Punya saya memang sudah hitam dari sananya kok,” candaku lagi.

“Ih.. bukan begitu. Punya Nak Anto ukurannya nggilani. Kayaknya marem banget,” ujarnya tersenyum. Wajahnya tampak dipenuhi nafsu.

Akhirnya, Bu Marmo benar-benar melakukan seperti yang kuharapkan. Setelah mengecu-ngecup topi baja kontolku, ia mulai memasukkan ke dalam mulutnya. Awalnya cuma sebagian yang dikulumnya. Selanjutnya, seluruh batang zakarku seperti hendak ditelannya. Mulutnya terlihat penuh karena berusaha memasukkan seluruh bagian tonggak daging milikku yang lumayan besar dan panjang.

Wanita istri atasanku itu ternyata cukup pandai dalam urusan kulum-mengulum. Setelah seluruh bagian batang kontolku masuk ke mulut, ia menghisap sambil menarik perlahan kepalanya. Begitu ia melakukannya berulang-ulang. Aku mendesah oleh kenikmatan yang diberikan. “Oookkhhh… sshhh…. oookkkhhhhh…. enak banget… aakkkkhhhh…. terusss…. aaakkkkkhhhhhh,” desisku.

Sambil terus melumati batang kontolku, tangan Bu Marmo juga menggerayang dan memainkan biji-biji pelir milikku. Kalau bukan di rumah makan mungkin aku sudah mengerang dan melolong oleh sensasi dan kenikmatan yang diberikan. Sebisaku aku berusaha menahan agar tidak sampai rintihanku terdengar orang lain.

Untuk melampiaskannya, aku mulai ambil bagian dalam permainan pemanasan yang dilakukannya. Aku harus bisa mengimbangi permainan Bu Marmo. Kedua pahanya kembali kukangkangkan dan wajahku kembali kubenamkan di selangkangannya. Bu Marmo sebenarnya belum sempat mencuci memeknya setelah lendir kenikmatannya keluar saat orgasme sebelumnya. Tetapi aku tak peduli. Memek wanita yang sudah dipanggil nenek itu kucerucupi.

Bahkan jilatan lidahku tidak hanya menyapu bagian dalam lubang memek dan kelentitnya. Tetapi juga melata di sepanjang alur liang nikmatnya yang menganga namun juga ke tepian lubang duburnya. Saat aku menjilat-jilat tepian lubang anusnya Bu Marmo menggerinjal dan memekik tertahan. Mungkin kaget karena tak menyangka lidahku bakal menjangkau bagian yang oleh sementara orang dianggap kotor.

Tetapi itu hanya sesaat. Setelah itu ia kembali melumati dan menghisapi batang kontolku sambil mendesah-desah nikmat. Karenanya aku makin fokus dan makin sering kurahkan jilatan lidahku ke lubang duburnya sambil sesekali meremasi bongkahan pantat besarnya.

Pertahananku nyaris jebol saat mulut Bu Marmo mulai mencerucupi biji pelir kontolku. Untung Bu Marmo mengambil insiatif menyudahi permainan pemanasan itu. Ia memintaku segera memasukkan rudalku ke liang sanggamanya. “Ahhh… sudah dulu ya. Sudah nggak kuat pengin merasakan batang Nak Anto yang gede ini nih,” kata Bu Marmo seraya melepaskan batang kontolu dari genggamannya.

“Ii.. iiya bu, saya juga sudah pengin banget merasakan memek ibu,”

Aku mengambil ancang-ancang di antara paha Bu Marmo yang mengangkang lebar. Lubang bagian dalam kemaluannya yang menganga terlihat kemerahan . Sepertinya lubang nikmat Bu Marmo telah menunggu untuk disogok. Memang sudah lama tidak ditengok karena kemaluan suaminya yang mulai loyo. Kepala penisku yang membonggol sengaja kuusap-usapkan di bibir luar memeknya yang sudah amburadul bentuknya. Bahkan ada sebentuk daging mirip jengger ayam yang menjulur keluar. Entah apa namanya karena aku baru melihatnya.

Bu Marmo mendesah saat ujung penisku menyentuh bibir kemaluannya. Meski nafsuku kian membuncah melihat memek tembemnya yang menggairahkan, aku berusaha menahan diri. Bahkan ujung topi baja rudalku hanya kumainkan untuk menggesek dan mendorong gelambir daging mirip jengger ayam di memek Bu Marmo. Sedikit menekannya masuk dan menariknya kembali.

Akibatnya Bu Marmo merintih dan memintaku untuk segera menuntaskan permainan. “Ayo Nak Anto… jangan siksa ibu. Masukkan kontolmu.. ssshhh… aahh… sshh ahhh ayo nak,”

Blleeessseeekkk… akhirnya batang kontolku kutekan dan benar-benar masuk ke lubang memeknya. Karena sudah lumayan longgar dan banyaknya pelicin yang membasah di lubang memeknya, batang kontolku tidak mengalami hambatan berarti saat memasukinya. Bagian dalam lubang Memek Bu Marmo terasa hangat dan sangat becek.

Setelah batang zakarku benar-benar membenam di kehangatan liang sanggamanya, kurebahkan tubuhku untuk menindih tubuh montoknya. Bibir istri atasanku yang merekah perlahan kukecup dan akhirnya kulumat. Saat itulah sambil terus mengulum dan melumati bibirnya, mulai kuayun pinggulku dan menjadikan batang kontolku keluar masuk di lubang memeknya.

Bu Marmo juga mulai mengimbanginya. Tak kalah hot, lidahku yang menyapu rongga bagian dalam mulutnya sesekali dihisap-hisapnya. Bahkan ia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku baru mulai merasakan kelebihan yang dimiliki Bu Marmo. Bukan cuma tubuhnya yang matang akibat usia senja namun masih menggairahkan. Tetapi kerja otot bagian dalam memeknya juga lebih terasa. Berdenyut dan seperti memerah batang kontolku.

Kini giliran aku yang dibuatnya mengerang. Nampaknya istri atasanku telah benar-benar matang dalam hal urusan ranjang. Untuk melampiaskannya, kuremas gemas teteknya yang besar dari luar kaos yang dipakainya. Bahkan karena kurang puas, kaosnya kusingkap dan sepasang payudaranya kurogoh dan kutarik keluar dari kutangnya. Pentil-pentil teteknya yang berwarna coklat kehitaman kupelintir dan kumain-mainkan dengan jariku.

Blep… blep…. blep… begitu suara yang kudengar setiap kali ayunan pinggulku menyentuh selangkangan Bu Marmo. Di samping bunyi kecipak karena lendir yang kian membanjir di liang sanggamanya. “Sshhh… ssshh …aahh …. aahh terus nak.. aahh enak banget. Kontolmu enak bangat Nak Anto,”

“Memek ibu juga enak. Empotannya mantep banget,”

Bu Marmo tersenyum. Wajahnya kian memerah. Kembali kulumat bibirnya sambil tak lepas tanganku menggerayangi buah dadanya. Saat itu kurasakan tangan Bu Marmo mencengkeram pantatku dan mulai menekan-nekannya. Dan kursakan tempo goyangan pinggulnya makin cepat. Rupanya ia mulai mendekat ke puncak gairahnya.

Aku yang juga mulai kehilangan daya tahan segera mengimbanginya. Berkali kontolku kutikamkan ke lubang memeknya dengan tekanan yang lebih kencang dan lebih bertenaga. Bu Marmo memekik dan mengerang. “Aaauuww… aaakhhh ,,,, aakkkhhh enak banget… aaakhhh…. terus… sayang …. aaaakhhh … ya…. aaakhhh memek ibu enak bangat disogok begini… aaaaakkkkhhhh …. sshhhh… sshhh… aaahhhhh,” rintihan dan suara Bu marmo makin tak terkontrol.

Aku jadi makin terpacu. Bukan cuma mulutnya yang kucium. Tapi ujung hidungnya yang bangir dan dahinya juga kucerucupi dengan mulutku. Bahkan lidahku menjelajah ke lehernya dan terus melata. Lubang telinga Bu Marmo juga tak luput dari jilatan lidahku setelah menyibak rambutnya.

Tubuh Bu Marmo kian mengejang. Kedua kakinya yang kekar dan panjang membelit pinggangku dan menekannya. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku. Rupanya ia hampir sampai di garis batas kenikmatannya. Aku yang juga sudah mendekati puncak gairah makin meningkatkan tikaman- tikaman bertenaga pada lubang sanggamanya.

Akhirnya gairah Bu Marmo benar-benar tertuntaskan. Cairan yang menyembur di lubang memeknya dan cengkereman kuku-kukunya di punggungku menjadi pertanda kalau ia sudah mendapatkan orgasmenya. Tetapi aku terus mengayun. Kocokan batang kontolku di lubang memeknya yang makin banjir tak kuhentikan. Bahkan makin kutingkatkan karena kenikmatan yang kian tak tertahan.

Puncaknya, Bu Marmo kembali mencengkeram pantatku. Kali ini dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan agar pinggulku tidak dapat bergerak dan kontolku tetap membenam di lubang memeknya. Saat itulah, otot-otot bagian dalam vaginanya terasa mencengkeram bagitu hebat dan bergelombang. Serasa memerah dengan kuatnya. Aku merintih dan melolong panjang. Pertahanku menjadi jebol dan maniku menyemprot sangat banyak gua kenikmatan istri atasanku. Bersama peluh membanjir, tubuhku ambruk di atas tubuh montok Bu Marmo dengan nafas memburu.

“Nanti ikan bakar dan kepiting saos tomatnya minta dibungkus saja Nak Anto. Sayang kalau tidak dimakan. Tapi jangan lupa piring-piringnya dibuat kotor dengan masi dan lauk yang lain, hingga sepertinya kita sudah benar-benar makan,” kata Bu Marmo setelah merapikan kembali baju yang dipakainya.

Kami meninggalkan rumah makan saung di pinggir pantai setelah membayar di kasir dan meninggalkan lembaran dua puluh ribu rupiah sebagai tip kepada petugas yang membereskan serta membungkuskan makanan yang memang tidak kami makan. Dari spion, wajah Bu Marmo kulihat sangat cerah. Pasti karena kenikmatan yang baru direguknya serta nafsunya yang lama tertahan telah tersalurkan.

“Apa lihat-lihat. Wanita sudah tua kok masih diajak ngentot,” kata Bu Marmo yang memergoki ulah mencuri-curi pandang ke arahnya lewat spion. Tetapi perkataannya itu bukan karena marah.

“Usia boleh saja sudah kepala lima. Tetapi wajah ibu masih cantik dan tubuh ibu masih sangat merangsang. Mau deh tiap malam dikelonin ibu,” ujarku menggoda.

“Bener tuh,”

“Sungguh Bu. Saya bisa ketagihan deh oleh empotan memek ibu yang dahsyat tadi,’

“Ibu juga suka sama batang Nak Anto. Besar dan panjang. Kalau mau kapan-kapan kita bisa mengulang. Kalau ada kesempatan nanti saya SMS,” ujar Bu Marmo.

Aku sangat senang karena sudah mendapat peluang untuk terus bisa menyetubuhinya. Tangan Bu Marmo kuraih dan kugenggam. Bahkan sempat meremas susunya sambil mengendalikan kemudi. Hanya Bu Marmo mengingatkan bahwa ulahku bisa menyebabkan kecelakaan hingga aku kembali berkosentrasi pada setir mobil yang kukendarai. Ah, memek wanita tua ternyata masih sangat nikmat.

Sampai di rumah Pak Marmo sudah tidur di kamarnya. Sedang Bu Mumun, terlihat berbincang dengan Yu Sarti, pembantu di rumah itu. Setelah berbincang sebentar, aku dan Bu Mumun pamit pulang. Hanya sebelumnya Bu Marmo memberikan bungkusan lauk yang belum sempat kami makan sewaktu di rumah makan. “Buat oleh-olah anak di rumah Bu,” kata Bu Marmo.

Di jalan, saat membonceng sepeda motor dan kutanya tentang ulah Pak Marmo, Bu Mumun cerita bahwa atasanku itu benar-benar genit. Selama dipijat, kata Bu Mumun, ia terus merayu dan berusaha menggerayangi. “Tapi tidak saya ladeni lho Pak Anto,” ujar Bu Mumun meyakinkanku.

“Pasti Pak Marmo maksa untuk bisa megang memek ibu kan? Soalnya dia kemarin bilang pengin banget lihat punya ibu,”

“Iya sih tapi hanya pegang. Dan karena terus maksa akhirnya ibu kocok,” ungkap Bu Mumun jujur.

Aku tertawa dalam hati. Sementara suaminya hanya bisa meraba memek wanita lain dan dipuaskan dengan dikocok, istrinya malah sampai orgasme dua kali disogok penis laki-laki lain. Bahkan istrinya berjanji untuk mengontak agar bisa mengulang kenikmatan yang telah kami lakukan.

Sampai di rumah anak-anak Bu Mumun sudah tidur. Dan mungkin karena terangsang gara-gara memeknya digerayangi Pak Marmo, Bu Mumun memaksaku untuk singgah di rumahnya. Untuk menolak rasanya kurang enak. Karena biasanya aku yang sering memintanya untuk melayaniku.

Rupanya nafsu Bu Mumun sudah benar-benar tinggi. Di kamarnya, saat ia mulai mengulum batang kontolku dan tanganku menggerayang ke selangkangannya, memeknya sudah basah. Bahkan saat tangaku mulai mencolok-colok lubang nikmatnya, Bu Mumun kelabakan. Memintaku untuk segera menuntaskan hasratnya.

Tetapi aku berusaha bertahan. “Punya saya belum terlalu keras Bu. Nanti kurang enak. Kalau ibu menjilatnya di sini, pesti cepat kerasnya,” kataku sambil mengangkat dan memperlihatkan lubang anusku,” kataku.

Sebenarnya, kontolku kurang keras karena sebelumnya telah dipakai melayani Bu Marmo di rumah makan. Namun keinginan untuk dijilati di bagian anus, mendapat tanggapan serius Bu Mumun. Ia langsung berjongkok di tepi ranjang dan berada selangkanganku. Dan tanpa ragu atau merasa jijik, langsung menjulurkan lidahnya untuk menyapu biji pelirku dan diteruskan dengan menjilat-jilat lubang duburku. Rasanya geli-geli nikmat dan membuat tubuhku merinding.

Akibatnya aku dibuat kelojotan. Dibuai kenikmatan yang diberikan Bu Mumun. Terlebih ketika ia mulai mencucuk-cucukkan lidahnya ke lubang duburku. “Aaakkhhhhh… aakkhh.. enak banget …. oookkh enak banget. Saya suka suka banget ngewe sama ibu. Oookkkh … nikmat,”

Dirangsang sebegitu rupa kontolku makin mengeras. Tetapi Bu Mumun terus saja menjilati dan mencerucupi anusku. Ia melakukannya sambil meremasi dan mengocok-ngocok kontolku yang makin terpacak. Takut keburu muncar sebelum dipakai menyogok lubang memeknya, aku meminta Bu Mumun menghentikan aksinya.

Tubuh montoknya langsung kutarik dan kutelentangkan di ranjang. Dalam posisi mengangkang, aku langsung menungganginya. Bleesss… kontolku langsung membelesak di lubang nikmatnya yang basah. Ia agak tersentak. Mungkin karena aku menggenjotnya secara tiba-tiba. Namun ia tidak mengeluh dan malah mendesah nikmat.

“Ah… sshh… aahh.. enak banget. Marem banget kontolnya Pak Anto,”

Dan lenguhannya makin menjadi ketika aku mulai memompanya. Aku mencolok-colok dan memaju-mundurkan pinggangku dengan tempo cepat. Tubuh Bu Mumun terguncang-guncang dan susunya yang besar bergoyang-goyang. Gemes dan merangsang banget melihatnya. Aku jadi tergerak untuk meraba dan meremas-remasnya sambil menikmati kehangatan lubang nikmatnya.

Aku sudah beberapa kali menyetubuhi Bu Mumun. Tetapi sepertinya tidak pernah bosan. Memek Bu Mumun meskipun sudah lumayan longgar tapi tetapi terasa kesat dan liat. Terlebih bila ia sudah memain-mainkan otot-otot bagian dalam lubang vaginanya. Erangan dan desahannya juga selalu mengipasi nafsuku.

Cukup lama kami saling memacu. Sampai akhirnya Bu Mumun mengisyaratkan bahwa ia hampir memperoleh orgasmenya. Maka kocokan dan sogokan kontolku di lubang kemaluannya kian kutingkatkan. Berdenyut-denyut batang kontolku dibuatnya saat Bu Mumun mulai mengimbangi dengan empotannya. Akhirnya Bu Mumun memperoleh apa yang didambanya dan aku pun sama. Spermaku menyemprot dan membasahi liang vaginanya. Tubuhku ambruk di kemontokan tubuh wanita yang basah oleh keringat.

TAMAT


Sebut saja namaku Setio, usiaku 32 tahun, sudah empat tahun perkawinanku tapi seorang anak belum kami dapatkan. Karena cintaku pada istriku, tidak ada niat untukku berselingkuh, tapi sejak perkenalanku dengan wanita itu, aku tergoda untuk selingkuh. Perkenalanku dengan wanita itu berawal 2 tahun yang lalu, saat kakak istriku mau menikah, kami mengunjungi rumah calon mempelai wanita untuk melamar, aku melihat seorang wanita berumur kira-kira 40 tahunan yang kutahu dia adalah istri dari pamannya calon pengantin wanita, dan kutahu kemudian namanya Bi Sumi, karena kami sama-sama panitia perkawinan iparku.

Awalnya kuanggap biasa perkenalan ini, tetapi pada waktu hari perkawinan iparku, aku terpana melihat kecantikan Bi Sumi yang memakai baju kebaya bordiran, sehingga lekuk tubuh dan bentuk payudaranya terbayang ditutupi kemben (pakaian kain Jawa) hitam yang membuatku ingin sekali melirik kemana perginya Bi Sumi dan membayangkannya di saat Bi Sumi telanjang.
Setelah acara pernikahan itu selesai, otomatis kami jarang sekali bertemu, karena Bi Sumi harus menemani suaminya yang tugas di Surabaya. Hampir satu tahun lamanya aku ingin melupakan dirinya, tetapi ketika iparku memiliki anak, aku bertemu lagi dengan Bi Sumi pada waktu menengok bayi. Saat itu Bi Sumi mengenakan baju dan jeans ketat, sehingga lekuk tubuhnya membayangi lagi pikiranku yang terbawa hingga kutidur.
Sebulan kemudian, ketika acara syukuran bayi iparku, Bi Sumi datang dengan suaminya dan ibunya Bi Sumi yang duduk di kursi roda akibat sakit stroke yang katanya sudah 4 tahun diderita. Dan dari iparku, kuketahui Bi Sumi sekarang satu bulan di Jakarta untuk menjaga ibunya dan satu minggu menemani suaminya di Surabaya.
Seminggu setelah itu, temanku datang ke rumah untuk menawarkan bisnis “MLM” berbasis food suplement yang dapat membuat beberapa penyakit sembuh. Langsung pikiranku tertuju kepada ibunya Bi Sumi. Setelah dapat nomor telpon Bi Sumi dari iparku, aku langsung menghubunginya. Setelah obrolan kami, Bi Sumi setuju untuk mencobanya terlebih dahulu. Keesokan harinya, ketika aku mengantar obat itu, aku berharap bisa ketemu Bi Sumi, tapi karena ibunya sedang anval, otomatis aku hanya bertemu pembantunya.
Satu minggu kemudian, tiba-tiba HP-ku berdering, sebenarnya aku malas menerimanya karena nomor yang tertera tidak kukenal, tapi dengan agak malas kuterima juga telpon itu yang rupanya dari Bi Sumi.
“Dik.. Setio, ya..? Disini Bi Sumi.”
“Eh.. iya Bi Sumi.. apa khabar..?”
“Wah.., Dik.. Bi Sumi senang loh kayaknya obat yang adik kirim buat ibu bagus sekali, ibu sekarang sudah nggak pakai kursi roda lagi.. kalau begitu Bi Sumi pesan lagi yach..? Kapan bisa kirim..?”
“Selamet deh Bi Sumi.. eng.. kalau begitu besok siang deh.. Bi Sumi.. saya kirim ke rumah..!”
“Ya.. sudah.. sampai besok yach..!”

Keesokannya, pukul 11:00 aku ke rumah Bi Sumi. Ketika sampai, aku disuruh menunggu oleh pembantunya di ruangan yang sepertinya ruang perpustakaan. Tidak lama kemudian Bi Sumi muncul dari pintu yang lain dari tempat kumasuk ruangan itu. Saat itu Bi Sumi mengenakan baju model jubah mandi yang panjang dengan tali di pinggangnya, dan mempersilakan aku duduk di sofa yang dia pun ikut duduk, sehingga kami berhadapan. Ketika dia duduk, satu kakinya disilangkan ke kaki yang lain, sehingga betisnya yang bunting padi dan putih bersih terlihat olehku, membuat pikiran kotorku kepada Bi Sumi muncul lagi.
Kami mengobrol panjang lebar, Bi Sumi menanyakan hal tentang perkawinanku yang sudah 4 tahun tetapi belum dikaruniai keturunan, sedangkan dia menceritakan bahwa sebenarnya Bi Sumi menikah disaat suaminya telah mempunyai anak yang sekarang sudah kuliah. Setelah hampir satu jam kami mengobrol, Bi Sumi mengatakan padaku bahwa ia senang kalau ibunya sudah agak membaik.
“Oh.. ya berapa nih harga obatnya..?”
“Ah.. sudah Bi Sumi, nggak usah, gratis kok, tujuan saya khan yang penting Ibu bisa baik.”
“Ah.. nggak lah Dik, Bi Sumi ambil dulu yach uangnya di kamar.”
Bi Sumi berdiri dan masuk ke pintu tempat tadi dia datang, tapi pintu itu dibiarkannya terbuka, sehingga kulihat kalau kamar di sebelah ruang kududuk adalah kamar tidur Bi Sumi. Dari dalam dia teriak ke arahku menanyakan harganya sambil memanggilku.
“Dik.. Setio, berapa sih harganya..? Kamu sini deh..!”
Dengan agak ragu karena perasaanku tidak enak masuk kamar orang lain, kuhampiri juga Bi Sumi.
Begitu sampai di pintu, aku seperti melihat suatu mukjizat, dan tiba-tiba perasaanku terhadap Bi Sumi yang pernah ada dalam pikiranku muncul. Bi Sumi berdiri di samping tempat tidurnya dengan jubah yang dipakainya telah tergeletak di bawah kakinya. Aku melihat tanpa berkedip tubuh Bi Sumi yang sedang berdiri telanjang dada dan pangkal pahanya tertutup celana dalam berwarna pink memperlihatkan sekumpulan bulu hitam di tengah-tengahnya.
“Dik, kalau kamu nggak mau dibayar sama uang, sama nafsu Bi Sumi aja yach..? Kamu mau khan..?”
“E.. e.. eng.. bb.. boleh deh Bi..!”

Tiba-tiba kali ini aku bisa melihat Bi Sumi yang setengah bugil dan memohon kepadaku untuk melayani nafsunya, kuhampiri dia sambil menutup pintu. Bentuk tubuh Bi Sumi sungguh indah di mataku, kulitnya putih bersih, payudara yang berukuran 36B berdiri dengan tegaknya seakan menantangku, lekukan paha dan kaki jenjangnya yang indah dan betisnya yang bunting padi, persis bentuk tubuhnya penyanyi Jennifer Lopez. Aku seakan tidak bisa menelan ludahku karena Bi Sumi sekarang tepat berdiri di depanku.
“Dik.. Setio, layani Bi Sumi yach..! Soalnya sudah dua bulan Bibi tidak dijamah Om..”
“Iya.. Bi, ta.. tapi.. kalau anak-anak Bibi datang gimana..?”
“Anak-anak kalau pulang jam 5:00 sore, lagi itu kan anak-anaknya Om.”
“Ok.. deh Bi, Bibi tau nggak, kalau hal ini sudah saya impikan sejak pernikahan Desi, soalnya Bibi seksi banget sih waktu itu.”
“Sekarang.. sudah nggak seksi dong..?”
“Oh.. masih.. apa lagi sekarang, Bibi kelihatan lebih seksi.”

Bibir tipisnya mencium bibirku dengan hangat, sesekali lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun membalasnya dengan lidahku. Tangan lembutnya mulai melepaskan dasi dan bajuku hingga kami sudah telanjang bagian atasnya. Dada bidangku mulai diciumi dengan nafsunya, sementara lehernya dan pundaknya kuciumi. Wangi tubuhnya membuat nafsuku juga meningkat, sehingga batangku mulai mengeras mendesak celana dalamku. Tangannya mengelus celanaku di bagian batangku yang sudah mengeras, sedangkan aku mulai memainkan mulutku di payudaranya yang terbungkus kulit putih bersih, putingnya yang putih kemerahan sudah jadi bulan-bulanan lidah dan gigiku, kugigit dan kusedot, sehingga Bi Sumi mengelinjang dan makin keras tangannya mencengkram batangku.
Celana panjangku mulai dibuka dengan tangan kirinya, lalu celana dalamku ditarik turun sehingga batangku sudah dipegang tangan halusnya dan mulai mengocok batangku.
“Dik.. batangmu besar sekali yach..? Kalau punya Om paling setengahnya aja, berapa sih besarnya..?”
“Kalau panjangnya 20 cm, kalau diameternya 4 cm.”
“Wah.. gede banget yach.. pasti Bibi puas deh.., boleh Bibi isap nggak..”
Aku hanya mengangguk, Bi Sumi langsung jongkok di hadapanku, batangku dipegangnya lalu dimainkan lidahnya pada kepala batangku, membuatku agak gelisah keenakan. Batangku yang besar berusaha dimasukkan ke dalam mulut mungilnya, tetapi tidak bisa, akhirnya kepala batangku digigit mulut mungilnya.
Kira-kira 15 menit, dia berdiri setelah kelelahan mengulum batangku, lalu dia merebahkan dirinya di sisi tempat tidur. Kali ini aku yang jongkok tepat di sisi kedua kakinya, tangan kananku melepaskan celana dalam pinknya, saat itu juga aroma wangi langsung bertebaran di ruangan yang rupanya aroma itu adalah aroma dari vagina Bi Sumi yang bentuknya sangat indah ditutupi bulu-bulu halus di sekitar liang vaginanya.
“Ah.. Bi Sumi Mon.. vagina Bibi harum sekali, boleh saya jilatin..?”
“Ah.. jangan Dik.. kamu nggak jijik, soalnya si Om nggak pernah menjilatinya.”
“Wah.. payah si Om.. vagina itu paling enak kalau dijilatin, mau yach.. Bibi.. enak.. kok..!”
“Iya deh.. kalau kamu nggak jijik.”

Paha putihnya sudah kuusap lembut dengan tangan kiriku, sementara jari tengah tangan kananku mulai menjamah liang vaginanya.
Kulihat Bi Sumi melirik ke arahku sambil berkata, “Dik.. jilatnya yang enak yah..!”
Aku hanya mengangguk sambil mulai kutempelkan lidahku pada liang vaginanya yang rupanya selain wangi rasanya pun agak manis, membuatku semakin bernafsu untuk menjilatinya, sementara kulirik Bi Sumi sedang merasakan geli-geli keenakan.
“Ah.. ah.. ssh.. argh.. iya.. yach.. Dik.. enak deh rasanya.. wah kalau gini.. besok-besok mainnya sama Dik Setio aja deh.. sama Om.. ntar-ntar deh.. abis.. enak.. banget.. sih.. Dik Setio mau khan..? Ah.. argh..!”
Aku tidak menjawab karena lidahku sudah menemukan biji klitoris yang rasanya lebih manis lagi dari liangnya, sehingga makin cepat kujilati. Rasa manisnya seakan-akan tidak pernah hilang. Bi Sumi semakin menggelinjang tidak karuan, sementara tangannya menekan kepalaku yang seakan dia tidak mau kalau kulepaskan lidahku dari biji klitorisnya. Hampir 30 menit klitoris manis itu kujilati ketika tiba-tiba tubuh Bi Sumi mengejang-ngejang, dan dari klitoris itu mengalir deras cairan putih bersih, kental dan rasanya lebih manis dari biji klitoris, sehingga dengan cepat kutangkap dengan lidahku, lalu kutelan cairan itu sampai habis. Bi Sumi pun mendesah dan langsung tubuhnya lemas.
“Argh.. argh.. agh.. ssh.. sshh.. eegh.. eegh.. Dik.. Setio.. enak.. buangget.. deh.. kamu.. pintar.. membuat.. Bibi.. keluar.. yang belum pernah Bibi.. keluarin dengan cara begini.. kamu.. hebat deh, agh.. agh..!”
Kuubah posisi Bi Sumi, kali ini kakinya terjuntai ke bawah, lalu kuposisikan batangku tepat di liang kemaluannya yang masih agak basah. Dengan jariku, kurenggangkan liang vaginanya, lalu dengan sedikit hentakan, batang kejantananku kudorong masuk, tapi agaknya vagina itu masih agak sempit, mungkin karena batangku yang besar. Kucoba lagi hingga 5 kali tapi belum bisa masuk.
“Bi.. Vagina Bibi.. sempit.. yach.. padahal saya sudah tekan berkali-kali..”
“Iya.. dik.. mungkin karena belum pernah melahirkan.. yach.. tapi tekan.. aja terus.. biar batang adik.. masuk.. nggak apa-apa kok.. kalau sampai vagina saya robek..”

Kucoba lagi batangku kutekan ke dalam vagina Bi Sumi. Akhirnya setelah 15 kali, Bi Sumi menjerit keenakan, masuklah batang kejantananku yang super besar itu merobek liang kewanitaannya.
“Ooowww.. argh.. argh.. gila.. hegk.. hegk.. gede.. banget.. sich.. Dik batangmu rasanya nembus ke perut Bibi nich.. tapi.. enak.. banget dech.. trus.. Dik.. trus.. tekannya.. argh.. argh..!” desahnya tidak menentu.
Kulihat Bi Sumi berceracau sambil dengan perutnya berusaha menahan batangku yang masuk lubang kenikmatannya. Kutekan keluar masuk batangku pada vaginanya berkali-kali, tangannya memegang perutku berusaha menahan tekanan batangku pada vaginanya. Tanganku mulai meremas-remas payudaranya, kupelintir putingnya dengan jariku.
Hampir satu jam Bi Sumi melawan permainanku. Tiba-tiba tubuh Bi Sumi menggelinjang dengan hebatnya, kakinya disepak-sepak seperti pemain bola dan keluarlah cairan dari vaginanya yang membasahi batangku yang masih terjepit di liang senggamanya. Cairan itu terus mengalir, sehingga meluber keluar membuat pahaku dan pahanya basah, tetapi aku belum merasakan apa-apa. Yang kukagetkan adalah ketika kulirik cairan yang mambasahi paha kami ada tetesan darahnya, aku berpikir bahwa selama ini Bi Sumi pasti masih perawan walau sudah berkali-kali main dengan suaminya.

Kulihat tubuh Bi Sumi langsung tergolek loyo, “Argh.. arghh.. ssh.. aawww.. oohh.. Dik Setio.. kamu.. e.. emang.. hebat..! Batangmu.. yahud. Aku benar-benar puas.. aku.. sudah.. keluar. Besok.. besok.. aku hanya.. mau.. memekku.. dihujam.. punyamu.. saja. Ah.. arghh.. ah.. ah.. ah.. ah..!”
Badan Bi Sumi langsung kuputar hingga kali ini dia tengkurap, pantatnya yang dibungkus kulitnya yang putih bersih dengan bentuk yang padat dan sexy, membuat nafsuku bertambah besar. Kuangkat sedikit pantatnya supaya agak menungging dan terlihatlah vagina yang tersembunyi di balik badannya. Aku agak menunduk sedikit, sehingga memudahkan lidahku memainkan liang kemaluannya untuk menjilati sisa-sisa cairan yang baru saja dikeluarkan oleh Bi Sumi. Cairan itu sangat manis rasanya sehingga langsung kuhisap habis.

Setelah cairan itu habis, kutempelkan lagi batang keperkasaanku pada liang senggamanya. Karena tadi Bi Sumi sudah orgasme, jadi liang kemaluannya sedikit lebih lebar dan memudahkanku dalam menekan batang kejantananku untuk masuk ke lubangnya Bi Sumi.
“Jleb.. bless.. jleb.. bless.. ah.. ah.. sedapnya.. memek.. Bi Sumi.. deh.. ah..!”
Aku memasukkan batang kejantananku ke liang Bi Sumi dengan berceracau, karena liang senggama Bi Sumi sangat sedap sekali rasanya. Sementara kulihat Bi Sumi tidak bersuara apa-apa, karena dia sudah tertidur lemas. Batang kejantananku keluar masuk liangnya dengan lembut, sehingga aku pun menikmatinya. Hal itu berlangsung satu jam lamanya. Tiba-tiba Bi Sumi terbangun dan dia mengatakan bahwa dia mau mencapai orgasme yang kedua kalinya, dan meneteslah cairan kental lagi dari liang kewanitaan Bi Sumi yang membasahi batang kemaluanku.
“Agh.. agh.. aawww.. arghh.. sshh.. Dik.. Se.. Setio ka.. kamu memang.. he.. hebat..! Bibi sampai dua.. kali.. keluar.., tapi.. kamu.. masih tegar.. argh.. sshh..!”
“Ah.. Bi.. saya juga sudah.. mau keluar.. saya.. mau.. keluarin.. di luar.. Bi Sumi.. agh..!”
“Jangan.. Dik Setio.. keluarin.. aja.. di dalam.. memek.. Bibi.. Bibi.. mau.. coba.. air.. mani.. Dik.. Setio. Siapa tahu nanti.. Bibi bisa.. hamil.. Keluar di dalam.. yach.. Dik..!”
Bi Sumi merengek meminta untuk air maniku harus dikeluarkan di dalam vaginanya, sebenarnya aku agak bingung atas permintaannya, tetapi setelah kupikir, aku dan Bi Sumi menginginkan seorang keturunan. Akhirnya kulepas cairan maniku ke liang senggamanya dengan sedikit pengharapan.
“Crot.. crot.. serr.. serr.. agh.. aghr.. agh.. Bi.. Bi Sumi.. memek Bibi memang.. luar biasa.. argh.. argh..!”
“Ahh.. ahh.. Dik.. air mani.. kamu.. hangat.. sekali.. ahh.. Bibi.. jadi segar.. rasanya..!”
Cairanku dengan derasnya membasahi lubang kemaluan Bi Sumi, sehingga agak meluber dan rupanya Bi Sumi menyukai air maniku yang hangat. Akhirnya kami pun ambruk dan langsung tertidur berpelukan.

Aku terbangun dari tidurku ketika batangku sedang dihisap dan dijilat Bi Sumi untuk mengeringkan sisa air maniku, jam pun sudah menunjukkan waktu 4:30. Aku berpikir bahwa hampir 3 jam aku dan Bi Sumi berburu nafsu birahi.
“Dik Setio, terima kasih yach..! Bi Sumi puass deh sama permainan seks kamu.. Kamu lebih hebat dari suami saya. Kapan kita bisa main lagi..? Bibi udah pingin main lagi deh..”
“Iya Bi, besok pun juga boleh. Habis saya juga puas. Bibi bisa mewujudkan mimpi saya selama ini, yaitu menikmati tubuh Bi Sumi dan Bibi luar biasa melayani saya hampir tiga jam. Wahh, Bi Sumi memang luar biasaa..”
“Iya.., kamu pun hebat, Dik Setio. Saya suka sekali ketika batangmu menghujam memek saya. Terlebih air mani kamu, hanggatt.. sekali. Besok kita bisa main lagi khan..?”
“Iya.. sayangku. Sekarang kita bersih-bersih, nanti anak dan suamimu datang..!”
Kukecup bibir Bi Sumi yang setelah itu kami membersihkan badan kami bersamaan. Di kamar mandi, Bi Sumi sekali lagi kusodok liang senggamanya sewaktu bershower ria.
Setelah itu, hampir setiap hari aku bertemu Bi Sumi untuk memburu nafsu birahi lagi. Hingga sekarang sudah berlangsung 3 bulan lebih lamanya, dan yang agak menyejukkan hati kami berdua bahwa sejak sebulan lalu, Bi Sumi dinyatakan hamil.

TAMAT


Kejadian ini berlangsung beberapa bulan yang lalu ketika anakku melangsungkan pesta pernikahannya di kota kecil Pr di Jawa Timur yaitu di tempat calon mertuanya bernama Pak Har (60 Thn) dan Bu Har (46 thn) yang masih menjadi kepala Desa. Aku dan istriku sebetulnya tidak setuju kalau anakku yang baru saja lulus dari salah satu universitas di Jawa Tengah harus segera kawin dengan pacarnya yang sama2 baru lulus.

Rencanaku biar anakku dapat kerja yang mapan dahulu sebelum kawin, tetapi Pak Har dan Istrinya terus mendesak agar mereka berdua cepat cepat di kawinkan agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan dan Bu Har sudah ingin menimang cucu, katanya. Tetapi karena anakku setuju dengan permintaan keluarga yang perempuan, ya sebagai orang tua tidak bisa berbuat lain selain merestuinya.

Tiga hari sebelum hari pernikahannya, aku dan istriku sudah berada di kota Pr. dan disambut dirumahnya dengan hangat oleh calon besanku Pak Har dan bu Har serta keluarganya. Aku dan istriku benar2 dibuat surprise dan tidak terbayangkan sebelumnya, orang2 yang ada di rumah itu begitu hormat kepada keluarga Pak Har dan yang lebih mengherankan lagi, rumahnya begitu besar dikelilingi tanaman buah2an dan ada pendoponya yang luas serta di salah satu sisinya ada seperangkat gamelan jawa. Bagaimana tidak heran, jabatan Pak Har hanyalah kepala desa yang tidak menerima gaji, tetapi hanya menerima tanah bengkok selama dia menjabat.

Yang membuatku lebih terpesona adalah Bu Har calon besanku perempuan, walaupun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi dengan tubuh yang semampai tidak terlalu tinggi serta kain kebaya yang dipakainya serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih dan kuperhatikan Bu Har terlihat sangat anggun, apalagi sisa2 kecantikan diwaktu mudanya masih terlihat, sehingga membuatku terpesona dan tidak ingin melepas memandangnya dan kadang2 aku harus mencuri curi pandang, agar istriku tidak mengetahuinya apabila aku memandangnya soalnya kalau sampai ketahuan, bisa2 terjadi perang besar.

Bu Har bukannya tidak tahu kalau sering kupandangi dengan penuh kekaguman dan ketika beberapa kali bertemu pandang, kuperhatikan dia selalu tersenyum sehingga terlihat giginya yang putih dan rata.

Hari pertama kedatanganku di kota ini, setelah makan siang bersama calon besanku, Bu Har lalu disuruh suaminya menghantarkan aku dan istriku untuk beristirahat di rumah sebelah… “Buuuu….. sana antar calon besan kita untuk istirahat di tempat yang sudah kita siapkan”, kata Pak Har dan sesampainya di rumah sebelah yang masih satu halaman dengan rumah induk, tenyata rumahnya pun cukup besar dan kamar yang disediakan untukku dan istriku pun sangat besar walaupun tidak ada kamar mandi didalamnya.

Setelah menunjukkan tempat2 yang dianggap perlu termasuk kamar mandi yang agak jauh dibelakang, lalu bu Har pamit untuk kerumah sebelah. “Terima kasih… mbaaak… atas semuanya, kataku sambil menjabat tangannya dan jabatan itu tidak kulepas dengan segera dan Bu Har pun tetap tidak menarik tangannya dan kembali kulihat senyumannya yang manis, sambil tiba2 menarik tangannya setelah mungkin merasa tangannya kujabat terlalu lama dan terus meninggalkanku kembali ke rumah sebelah.

Sore harinya ketika aku dan istriku sedang duduk di teras, kulihat Pak Har dan istrinya muncul dari belakang lalu duduk ngobrol menemani kami berdua dan tidak lama kemudian datang dua wanita dengan membawa pisang goreng serta teh panas. Setelah ngobrol kesana kemari membicarakan acara untuk pernikahan, Bu Har segera pamit kebelakang entah untuk apa, sehingga obrolan dilanjutkan oleh kami bertiga saja.

Karena tadi aku terlalu banyak minum air, terasa aku ingin buang air kecil dan setelah permisi kepada pak Har untuk kebelakang sebentar lalu aku beranjak kebelakang menuju kamar mandi yang tadi ditunjukkan oleh bu Har, karena sudah begitu kebelet untuk kencing lalu sambil menurunkan resleting celanaku serta mengeluarkan meriamku, kudorong pintu kamar mandi dengan bahuku dan terus masuk kamar mandi, tetapi alangkah kagetnya ketika didalam kamar mandi itu kulihat bu Har sedang berada di kamar mandi serta telanjang bulat seraya menggosok gosok badan dengan tangannya.

Kulihat bu Har pun begitu terkejut ketika mengetahui ada orang masuk kekamar mandi dan secara reflek bu Har berteriak kecil….. “maaaaaaas,” sambil berusaha menutupi badannya dengan kedua tangannya.

Setelah pintu kamar mandi kudorong tertutup, kudekati dia sambil kupegang kedua bahunya serta kukatakan dengan suara sedikit berbisik karena takut ada yang mendengar…. “mbaaaak…… maaa’aaaaaf….. saya tidak tahu kalau… embak lagi mandi……” “Sudah… laaaah,” sahut bu Har juga sedikit berbisik…. sana… keluar…… nanti ada yang lihat….. lagian mau apa siiiih… maaaas…?” “Saya… kebelet kencing… mbaaaak…,” sahutku dan disambutnya dengan kata2….. “cepaaat….. kencingnya….. dan cepat keluar…..”

Tanpa komentar lagi aku keluarkan meriamku yang setengah berdiri karena melihat tetek dan vagina bu Har yang ditumbuhi bulu jembut yang hitam lebat dan aku terus kencing dengan posisi menyamping dan sambil kulirik, kulihat mata mbak Har sepertinya sedang tertuju kearah meriamku.

Setelah selesai menyelesaikan kencingku dan kumasukkan meriamku kembali kedalam celana, sambil beranjak keluar pintu kamar mandi kusempatkan tangan kananku mencolek teteknya yang tertutup setengah oleh tangannya sambil kuucapkan….. “mbaaaak….. maaaa’aaaaf….. yaaaaa…” dan bu Har secara reflek menampar tanganku seraya berkata setengah berbisik …… “kurang…. ajaaaar….. awas…. nanti.”

Aku segera kembali ke depan dan kulihat istriku dan Pak Har masih ada sambil ngobrol dan aku kembali duduk seolah olah tidak terjadi apa apa, tetapi istriku tiba2 nyeletuk… “Paaak….. buang air kecil saja…. bajunya sampai basah semua……,” aku tidak menanggapi kata2 istriku itu dan kucoba menenangkan diri sambil kuambil minumanku di gelas.

Setelah beberapa saat kami meneruskan obrolan, Bu Har datang dari arah belakang dan sekarang sudah tidak memakai setelan kebaya lagi tetapi memakai rok terusan, walaupun begitu tetap saja membuatku terpesona apalagi bentuk kakinya yang kecil dam putih mulus, setelah dekat dengan kami bertiga serta duduk disalah satu kursi yang kosong, lalu berkata …. “buuu… paaaaaak…..,” seraya menengokku dan Istriku bergantian…. “silahkan mandi dulu biar terasa segar sebelum kita makan…..” dan setelah itu bu Har menggeser kursi nya sedikit membelakangiku. Tidak berlama lama, aku langsung ke kamar mengambil pakaian ganti dan langsung pergi ke kamar mandi.

Sengaja kamar mandinya tidak kukunci dengan harapan siapa tahu bu Har pun berbuat yang sama seperti tadi, tapi… kupikir mana mungkin… jadi segera saja kubuang jauh jauh pikiran itu dan sambil mandi kubayangkan tubuhnya bu Har yang walau sudah berumur dan teteknya yang terlihat sedikit karena tertutup tangannya tidak begitu besar kira2 36D serta sudah agak turun dan vaginanya yang tertutup tangan satunya juga mempunyai bulu jembutnya yang lebat tetapi menurutku masih cukup mempersonaku, sehingga meriamku menjadi bangun dan menjadi lebih tegang ketika batangnya kugosok gosok dengan sabun.

Sampai mandiku selesai, ternyata harapanku tinggal harapan saja….. dasar pikiran bejat. Ketika kembali ke depan ternyata kedua calon besanku serta istriku masih asyik ngobrol dan sambil duduk kembali aku langsung nyuruh Istriku untuk gantian mandi.

Malam harinya sewaktu makan ber empat diruang makan, entah kebetulan atau karena Istriku dan Pak Har telah duduk berhadapan terlebih dahulu, sehingga mau tak mau aku dan bu Har jadi duduk berhadapan. Ketika sedang enak2nya makan, tiba2 kakiku tersentuh kakinya bu Har dan anggapanku mungkin tidak sengaja sewaktu menggeser kakinya, apalagi ketika kulihat wajahnya bu Har tetap biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu dan meneruskan makannya dengan agak menunduk.

Untuk membuktikannya, sambil melepas sendal yang kupakai dan kulirik dimana posisi kaki bu Har di kolong meja, lalu pelan pelan kuletakkan kakiku diatas kakinya yang memakai sendal jepit sambil kupandang wajahnya. Kulihat bu Har tidak bereaksi dan tetap saja meneruskan makannya serta kakinya yang kuinjak itu didiamkannya saja, dan pelan pelan injakanku itu kuberi tenaga sedikit dan terasa bu Har secara perlahan lahan menarik kakinya.

Aku diamkan saja kakiku ditempatnya seolah olah aku menginjaknya secara tidak sengaja, tetapi beberapa saat kemudian terasa kakiku di injak oleh kakinya yang sudah tidak memakai sendalnya lagi, jadi aku mengambil kesimpulan kalau tendangan kaki bu Har tadi itu pasti disengajanya.

Aku diamkan saja injakkan kakinya dan tidak lama kemudian telapak kakinya di geser2kan di atas kakiku dan tentu saja hal ini tidak kubiarkan, jadi sambil tetap meneruskan makan kaki kami terus bermain dikolong meja makan dan lama2 jadi bosan juga.

Lalu kutarik kaki kananku yang diijaknya menjauh dari kaki bu Har dan sambil mengambil gorengan tahu yang agak jauh dari jangkauanku, kugeser kursiku maju kedepan merapat di meja makan dan pelan pelan kuangkat kaki kananku agar tidak ada kecurigaan dari istriku dan Pak Har serta kuselonjorkan kedepan, maksudku untuk kuletakkan dikursi diantara kedua paha bu Har, eh…… tidak tahunya terantuk salah satu dengkul bu Har dan kulihat bu Har agak terkejut sehingga garpu yang dipegangnya terjatuh diatas piringnya dan semua mata tertuju kearah bu Har dan Pak Har berkomentar…. “buuuuu…. makannya jangan buru buru…. bikin malu calon besan sajaaaaa…..,” dan kesempatan ini kugunakan untuk menggeser kakiku dan kuletakkan di ujung kursinya sehingga telapak kakiku terasa hangat terjepit diantara kedua pahanya dan secara perlahan lahan kuelus elus salah satu pahanya dengan telapak kakiku dan bu Har kulihat memandangku sejenak dengan matanya sedikit melotot dan kembali meneruskan makannya.

Aku mencoba menjulurkan kakiku lebih dalam lagi agar dapat mencapai pangkal paha bu Har, tetapi tetap saja kakiku tidak dapat mencapainya, karena kursi yang diduduki bu Har agak renggang dari meja makan dan aku mencari akal bagaimana kakiku bisa menyentuh vagina bu Har.

Ketika aku sedang memutar otakku, eh tidak tahunya bu Har menggeser tempat duduknya maju kedepan mendekati meja makan ketika akan mengambil buah2an setelah makannya selesai dan kesempatan ini tidak kusia siakan, dengan hanya mengulurkan kakiku sedikit tersentuhlah pangkal pahanya yang terasa sangat halus dan membuat bu Har agak terkejut sedikit tetapi setelah itu diam saja.

Lalu kugesek gesekkan jari kakiku ke vaginanya yang terasa tertutup dengan celana dalamnya dan sesekali kuperhatikan mata bu Har tertutup agak lama yang mungkin sedang menikmati enaknya gesekan jari kakiku di vaginanya, tapi untung istriku dan Pak Har tidak memperhatikannya karena sedang sibuk dengan buah2an yang dimakannya. Gesekan kakiku terus kulanjutkan sambil ngobrol berempat setelah buah2an yang kami makan habis.

Ketika Pak Har sedang bertanya sesuatu kepadaku, tanpa sadar sebelum pertanyaannya kujawab, aku berseru…. “aduuuh…..,” sehingga istriku dan kedua calon besanku melihat kearahku dan istriku langsung bertanya… “kenapa….paaah…?” untuk tidak menimbulkan kecurigaan langsung saja kujawab….. “kekenyangan….. dan perutku agak sakit tergencet ikat pinggang…,” kataku sekenanya sambil kulonggarkan ikat pinggangku…. “habis… makanan calon besan kita terlalu enak sih…..” tambahku sedikit memuji, padahal aku berseru aduh tadi itu karena kaget ketika kakiku tiba2 dicubit oleh tangan bu Har yang tanpa setahuku di taruh nya kebawah meja.

Aku cepat2 menarik kakiku dan menurunkannya ketika Pak Har tiba2 bangkit dari duduknya dan mengajakku dan istriku kembali ke teras rumahnya.

Esok harinya, aku dan istriku merencanakan pergi kekota Mlg. yang jaraknya hanya kira2 2 jam perjalanan dengan mobil untuk menjemput anakku yang nomer 2 dan yang sedang kuliah disana agar bisa mengikuti acara pernikahan kakaknya, tetapi entah karena makanku terlalu banyak atau karena tadi malam ngobrolnya sampai larut malam dan hawa kota kecil Pr. yang agak dingin, perutku terasa sakit atau seperti masuk angin sehingga beberapa kali aku harus ke belakang. Sehingga pagi harinya aku minta istriku saja yang menjemput anakku dengan sopir.

Setelah istriku berangkat, tidak lama kemudian Pak Har dan istrinya muncul dikamarku serta menanyakan kondisiku. “Paaak…. kata ibu lagi sakit perut yaaaa… ma’af…. mungkin ada makanan yang tidak cocok dengan perut bapak….. yaaa,” kata Pak Har dengan penuh rasa khawatir sedang istrinya hanya diam saja disampingnya.

“Oooh…. bukan sakit peruuut… kok… paaak,” sahutku sambil kutinggikan bantalku sehingga posisi tidurku setengah duduk…. “cuma.. masuk angin sedikit…. kayaknya…. sebentar lagi juga sembuh,” sahutku seraya kupandangi keduanya bergantian. “Apa bapak biasa minum obat tolak angin…. biar saya ambilkan..yaaa…,” kata bu Har. “Aaahhh… nggak usah lah buu…., tadi sudah dipijitin sedikit oleh istri saya….. biasanya sih dikerokin…. tetapi karena takut ke Mlg nya kesiangan….. jadi kerokannya nggak jadi…,” sahutku. “Lho… paaaak… kalau biasa kerokan… biar istri saya saja yang ngerokin… dia itu ahlinya… saya kalau masuk angin… paling cepat dikerokin lalu dipijitnya… langsung sembuh,” sahut Pak Har… “iyaaa.. buuu… tolong dikerokin saja dan setelah itu baru minum obat tolak angin…. soalnya kalau dibiarkan bisa kasep nanti…. apalagi besok adalah acara resmi perkawinannya… ayooo.. sana buuuu… ambil alat kerokannya,” tambah Pak Har dan segera saja bu Har pergi meninggalkan kamarku.

Tidak lama kemudian bu Har mencul kembali dan dikedua tangannya telah membawa alat kerokan dan segelas air minum serta obat tolak angin dan sambil meletakkan barang bawaannya di meja, bu Har mengatakan.. “paaakk…. lebih baik kaosnya dibuka saja…,” katanya dan pak Har yang masih menemaniku di kamar terus menimpalinya…. “betuuul.. paaaak…., ooooh… iyaaa.. buuuu,” kata Pak Har pada istrinya….. “saya tinggal dulu ya sebentar ke kantor KUA untuk menyelesaikan administrasi nya buat besok dan mungkin ke beberapa teman yang undangannya belum kita berikan.

” “Jangan.. lama2 lho.. paaaak…. masih banyak yang belum beres.. lhoo..,” sahut bu Har sambil keluar pintu kamarku menghantar suaminya pergi. Tidak lama kemudian bu Har muncul kembali sambil menutup pintu kamar…. “lhoooo… maaas… kok kaosnya belum dibukaaaa…..?” katanya ketika melihatku masih tiduran dan belum membuka kaosku, “…… isiiiiiin ….. mbaaaak,” sahutku sambil duduk dipinggir tempat tidur.

“Wong wis podo tuwek e kok….. pake isin segala…. wis to… bukaen kaose….,” kata bu Har dengan logat jawa timurnya. Tanpa disuruh kedua kalinya, segera kubuka kaos yang kupakai dan terus duduk membelakanginya sambil menunggu kedatangannya dari menutup pintu kamar.

Sesampainya dia dibelakangku dan duduk menghadap punggungku tiba2 saja bu Har mencubit pinggangku kuat2 sambil berkata… “maaaas….. kowe wih tuo… kok kurang ajar… tenan… siiiih…..,” karena cubitannya yang agak kuat dan tanpa kuketahui menjadikanku kaget dan berteriak….. “aduuuuh……” sambil kuputar badanku sehingga kami sudah duduk berhadapan dan kuambil barang2 kecil ditangannya serta kutaruh diatas kasur serta kupegang kedua bahunya seraya kukatakan….. “mbaaaaaak…… kowe sing marai aku dadi kurang ajar…. lha.. wong kowe….. sing membuatku jadi kesengsem…..” dan kemudian kupeluk rapat rapat sehingga terasa tetek nya yang tidak besar itu mengganjal didadaku serta kucium bibirnya dan bu Har pun memelukku serta mengusap usapkan kedua tangannya di punggungku yang sudah telanjang.

Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan terasa di sedot sedotnya dengan keras dan nafas kami berduapun sudah semakin terdengar keras.

Sambil kuangkat badannya sedikit agar bagian roknya yang diduduki terbebas, lalu kuangkat rok terusannya keatas dan kususupkan tangan kananku kedalam serta kupegang teteknya dari luar Bhnya dan terasa sekali teteknya begitu empuk dan diantara ciuman kudengar bu Har berkata….

“ssssshhhh….. maaaaas…… ojo… nakaaaaal….. too…” sambil tangan kanannya menggerayangi penisku dari luar celana yang kupakai dan langsung saja kulepas ciumanku dan kuangkat roknya keatas dan kupelas melalui kepalanya dan yang kudengar dari mulutnya hanyalah suara sedikit manja…

“maaaaaas ….. ojo.. nakaaaaal… toooooo,” tetapi tanpa ada penolakan sama sekali, malahan membantuku melepas roknya dengan mengangkat kedua tangannya keatas dan setelah roknya terlepas, kulihat badan bu Mar yang begitu mulus mengenakan Bh hitam yang tipis tanpa ada busa yang mengganjalnya dan Cd.nya juga berwarna hitam. Tanpa basa basi, langsung saja bu Har kurangkul dan kurobah posisinya serta kuterlentangkan diatas tempat tidur dan bu Har hanya protes

“…maaaaas…… apa apaan…. siiiiih….. katanya mau di kerokin…. kok jadi beginiiiii……” dan sambil mencari kaitan Bh dibelakang tubuhnya, kujawab saja “sekenanya…. mbaaaak….. aku sudah sembuh…. masuh anginnya… sudah hilang sendiri…..”

Setelah kaitan Bhnya terlepas, langsung saja bh nya kubuka dan kujilat teteknya serta kusedot sedot puting susunya yang hitam dan besar dan kurasakan bu Har mencoba memasukkan tangan kanannya kedalam celanaku mencari cari penisku tetapi karena celanaku agak sempit sehingga bu Har kesulitan memasukkan tangannya dan langsung saja dia berkata..

“maaaaas…… buka en celanamu…… aku yoo.. kepingin.. nyekel duwek mu” dan tanpa melepas puting teteknya yang masih kusedot, kulepas celana dan celana dalamku sekaligus, sehingga ku sekarang sudah telanjang bulat dan penisku yang setengah berdiri itu langsung saja dipegangnya dan segera saja dia berkomentar… “maaaas….. kok masih…. lembek……?”

“Coba saja di isap…… pasti sebentar saja… sudah tegang….. mau…?” tanyaku sambil kupandangi wajahnya dan kulihat bu Har hanya mengangguk sedikit tanpa jawaban. Segera saja kulepas isapan mulutku di teteknya dan bangun serta duduk didekat kepalanya sambil sedikit kumiringkan badannya kearahku dan dengan tidak sabaran langsung saja batang penisku yang masih setengah berdiri dipegangnya dan kepalanya di jilat jilatnya sebentar dan langsung dimasukkan kedalam mulutnya.

Sambil memutar badannya setengah tengkurap, bu Har segera saja memaju mundurkan kepalanya sehingga penisku keluar masuk terasa enak sekali sehingga tanpa terasa aku jadi mendesah “..aaaaaah……. ooooh… mbaaaak…. teruuuus…. ooooh….. enaaaaknyaa… mbaaak.. oooohh” sambil kuusap usap rambut dikepalanya dan sesekali kujambak dan baru sebentar saja bu Har menghisap penisku, terasa penisku sudah tegang sekali.

Tiba2 saja penisku dikeluarkan dari mulutnya dan langsung saja kukatakan… “mbaaaak…. isap… lagiiiiii… dooong,” tetapi kudengar bu Har berkata….. “maaaas….. tolong… punyaaa… saya… jugaa.”

Aku langsung mengerti apa yang dimaui bu Har dan langsung saja aku merubah posisi dan kujatuhkan diriku tiduran kedekat kaki bu Har dan kutarik celana dalamnya turun serta kulepas dari badannya.

Tiba2 saja bu Har bergerak dan berganti posisi tidur diatas badanku sehingga vaginanya tepat berada di mulutku dan tercium bau vagina yang sangat khas, maka tanpa bersusah payah kusibak bulu jembutnya yang menutupi bibir vaginanya dan setelah itu kubuka bibir vaginanya dengan kedua jari tanganku dan kujulurkan lidahku menusuk kedalam vaginanya yang sudah basah oleh cairannya dan terasa asin.

Ketika ujung lidahku menyodok lubang vaginanya, langsung saja bu Har menekan pantatnya ke wajahku sehingga terasa sulit bernafas dan terasa penisku sedang di kocok2nya dengan jari tangannya.

Ketika lidahku menjelajahi seluruh bagian vaginanya dan bibir vaginanya tetap kupegangi, bu Har lalu menaik turunkan pantatnya dengan cepat dan mungkin karena merasa keenakan dijilatin vaginanya, terdengar desahannya yang agak keras….

“oooooh… maaaaas…. oooohh…. aaaaaahh….. teruuuus….. uuuuuhh…. maaaas… aduuuuh…. enaaaak…. maaaas… oooh…..” dan sesekali itilnya yang sedikit menonjol itu dan sudah mulai mengeras, kuhisap hisap dengan mulutku sehingga desahan demi desahan keluar dari mulutnya…. “ooooooh…. ituuuu.. maaaaas…. enaaaaaak….. uuuuuh…… ooooh … maaaaaas” dan tiba2 saja pegangan dipenisku dilepaskannya dan bu Har menjatuhkan dirinya dari atas tubuhku dan tidur terlentang sambil memanggilku…

“maaaas….. maaaaas… siniiiii…. saya sudah… nggak tahaaaaan…. ayooo….. sini… maaaas.” Aku segera saja bangun dan membalik badanku serta kunaiki tubuh bu Har dan dia ketika tubuhku sudah berada di atasnya, dia membuka kakinya lebar lebar dan kutempatkan kakiku diantara kedua kakinya. Dengan nafas terengah engah dan mencoba memegang penisku dia berkata….

“maaaaas….. cepat.. doooong….. masukin….. saya sudah.. nggaaak tahaaaaan….” “Tunggu…. sayaaaang……, biar aku saja yang masukin sendiri….,” kataku sambil kupindahkan keatas, tangannya yang tadi mencoba memegang penisku tetapi rupanya bu Har sudah tidak sabaran lalu kembali dia berkata….

“maaaaas….. ayooooo… doooong… cepetaaaan….. dimasukiiiiiin… punyamu ituuuuuu…..” dan dengan hati2 kupegang penisku dan kugesek gesekkan di belahan bibir vaginanya beberapa kali dan kemudian kutekan kedalam serta…… bleeeeeeeeees….. terasa dengan mudahnya penisku masuk kedalam lubang veginanya dan seperti terkaget kudengar bu Har berteriak kecil bersamaan dengan penisku masuk kelobangnya….. “aduuuuuuh…… maaaaaas,” sambil mendekapku erat2.

“Sakit……. sayaaaang…..,” tanyaku dan bu Har kulihat hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan ketika dia menciumi disekitar telingaku kudengar dia malah berbisik…… “enaaak…..maaaas….”

Kuciumi wajahnya dan sesekali ku hisak bibirnya sambil kumulai menggerakkan pantatku naik turun pelan2, tetapi tiba2 saja punggungku dicengkeramnya agak keras seraya berkata… “maaaaas…… coba diamkan dulu pantatmu ituuu…..” dan aku nggak mengerti apa maunya tetapi tanpa banyak pertanyaan kuturuti saja permintaannya.

Eeehhh….. nggak tahu nya, bu Har sedang mempermainkan otot otot vaginanya, sehingga pelan2 terasa penisku seperti di pijat pijat serta tersedot sedot dan jepitan serta sedotannya semakin lama semakin kencang sehingga penisku terasa begitu enak dan tanpa terasa aku menjadi terlena keenakan……

“oooooohh… sssssshh….. mbaaaaak……. enaknyaaaaaa….. oooooh…. aaaakkrrrrsssss…. oooooh….. teruuuuus… mbaaaaaak… aduuuuuh… enaaaaak” dan aku sudah tidak dapat tinggal diam saja, langsung pantatku naik turun sehingga penisku keluar masuk lobang veginanya serta terdengar bunyi…

crreeeettt…… crrreeeet….. creeeeett…. secara beraturan sesuai dengan gerakan penisku keluar masuh vaginanya yang sudah sangat basah dan becek. “Maaaas…… cabut dulu punyamu itu….. biar aku lap dulu…. punyaku sebentar….,” kata bu Har setelah mungkin mendengar bunyi itu,

“biar… aja…. mbaaaaak….. enak begini… kooook,” sahutku sambil meneruskan gerakan penisku naik turun semakin cepat dan bu Har kurasa tidak memperhatikan jawabanku karena sewaktu aku menjawab pertanyaannya, kudengar dia sudah mengeluarkan desahannya…..

“oooooooh…… ssssssshhh…… aaaaaaaakkkkkk….. aduuuuuh… maaaaas…. teruuuuuskaaaan….. teruuuus… maaaaas…. oooooh…..,”

sambil mempercepat goyangan pinggulnya serta kedua tangannya yang dipunggungku selalu menekan nekan disertai sesekali menyempitkan lobang vaginanya sehingga terasa penisku terjepit jepit dan

“ooooh….. mbaaaaak….. ssssssshhhh….. ooooohhh…. enaaaaak.. mbaaaaak….. akuuuu… wis.. kate… metuuuu… mbaaaak….,”

desahanku yang sudah tidak kuat lagi menahan keluarnya airmaniku…..

“Maaaaas….. ayoooooo…. maaaas… aduuuuuh….. oooooh…… akuuu… jugaaa…… ayooooo… sekaraaaaaaang……. aaaaaaaakkkkrrrrrr.. ooooooooh…… maaaaaaaaaas”

dan kulepas air maniku semuanya kedalam vaginanya sambil kutekan penisku kuat2 dan bu Har pun mendekapku dengan sekuat tenaganya.

Aku terkapar diatas badan bu Har dengan nafas ngos ngosan demikian juga kudengar bunyi nafasnya yang sangat cepat seraya menciumi wajahku. Setelah nafas kami mulai mereda, lalu kukatakan…

“mbaaaaak…. wis yooooo….. tak cabut..” dan sebelum aku menhabiskan perkataanku, dicengkeramnya punggungku dengan kedua tangannya seraya mengatakan……

“jangaaan… duluuu.. maaaaas…… aku masih ingin…. punyamu ngganjel didalam……” dan setelah diam sebentar lalu katanya lagi….

“maaaas…… aku sudah lama… nggak begini…… bapak sudah nggak mau lagi….. padahal aku masih kepingin….”

Para pembaca sekalian, itulah kisahku dan setelah kami masih sesekali melakukannya yaitu ketika bu Har datang ke Jakarta dengan alasan kangen dengan anak perempuannya yang kawin dengan anakku. Biasanya bu Har menelponku dikantor apabila akan datang ke Jakarta dan kujemput dia di Gambir dan langsung pergi ke salah satu Hotel, sebelum dia menuju rumah anaknya.. eh… anakku juga.


Aku mahasiswa di kota dingin B dan mempunyai pacar yg bernama Ani. Setelah selesai SMA Ani melanjutkan studi di Singapura, sementara saya tetap di kota B., sekolah teknik. Tapi aku selalu bertandang ke rumah Ani, walau tidak pernah ketemu ketemu. Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi Ani, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal. Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan memegang beberapa perusahaannya yang memang sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih menjadi wakil rakyat.
Harapanku mengawini Ani tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung, justru bu Ida (ibunya Ani yang sering menemuiku. karena Ani ada kesibukan di Singapura, sehubungan dengan keikutsertaannya dalam sekolah presenter di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur Ani masih kalah dengan ibunya. Bu Ida lebih cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan tenang pembawaannya. Sementara Ani agak sawo matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Ani seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan dan penuh perhatian, baik juga.

Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya ada bu Ida dan seorang pembantu. sementara Ani sekolah di Singapura, paling-paling 3 bulan sekali pulang. Akhirnya saya di suruh bu Ida untuk membantu sebagai karyawan tidak tetap mengelola perusahaannya.
Untungnya saya memiliki kemampuan di bidang komputer
dan manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA. Setelah
mengetahui manajemen perusahaan bu Ida lalu saya
menawari program akuntansi dan keuangan dengan
komputer, dan bu Ida setuju bahkan senang.
Merencanakan kalkulasi biaya proyek yang ditangani
perusahaannya, dsb. Saya menyukai pekerjaan ini. Yang
jelas bisa menambah uang saku saya, bisa untuk
membantu kuliah, yang saat itu baru semester dua. Bu
Ida memberi honor lebih dari cukup menurut ukuran saya.
Pegawai bu Ida ada tiga cewek di kantor, tambah saya,
belum termasuk di lapangan. Saya sering bekerja setelah
kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang
pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek yang
harus dAnirjakan. Part time begitu. Bagi saya ini hanya
kerja sambilan tapi bisa menambah pengalaman.

Karena hubungan kerja antara majikan dan pegawai,
hubungan saya dengan bu Ida semakin akrab. Semula sih
biasa saja, lambat-laun seperti sahabat, curhat, dan
sebagainya. Aku sering dinasehati, bahkan saking
akrabnya, bercanda, saya sering pegang tangannya,
mencium tangan, tentu saja tanpa diketahui rekan kerja
yang lain. Dan rupanya dia senang. Tapi aku tetap
menjaga kesopanan. Pengalaman ini yang mendebarkan
jantungku, betapapun dan siapapun bu Ida, dia mampu
menggetarkan dadaku. Walaupun sudah cukup umur
wanita ini tetap jelita. Saya kira siapapun orangnya pasti
mengatakan orang ini cantik bahkan cantik sekali. Dasar
pandai merawat tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin
fitnees, di rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang
fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap
dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA dulu,
tapi karena saya pacar Ani, hal itu saya
kesampingkan. Data-data pribadi bu Ida saya tahu betul
karena sering mengerjakan biodata berkaitan dengan
proyek-proyeknya. Tingginya 161 cm, usianya saat kisah
ini terjadi 37 tahun, lima bulan dan berat badannya 52 kg.
Cukup ideal.
Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan
proyek dan paginya harus didaftarkan untuk diikutkan
tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum selesai, tapi aku
agak terhibur bu Ida mau menemaniku, sambil mengecek
pekerjaanku. Dia cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia
malah sering bercanda. Bahkan seperti seorang istri melayani
suaminya kalau minumanku habis dia tidak segan-segan yang
menuang kembali, aku malah menjadi kikuk.
Dia tak enggan pegang tanganku, mencubit,
namun aku tak berani membalas. Apalagi bila
sedang mencubit dadaku aku sama sekali tidak akan
membalas. Dan yang cukup surprise tanpa ragu memijit mijit
bahuku dari belakang.
“Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya.
Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga, dipijit
janda cantik. Apalagi yang kurasakan dadanya, pasti
teteknya menyenggol kepalaku bagian belakang, saya
rasakan nyaman juga. Lama-lama pipiku sengaja saya
pepetkan dengan tangannya yang mulus, dia diam saja.
Dia membalas membelai-belai daguku, yang tanpa rambut
itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir pukul 23.00 baru
selesai semua pekerjaan, saya membersihkan kantor dan
masih dibantu bu Ida. Wah wanita ini betul-betul seorang
pekerja keras, gumanku dalam hati.

Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan kopi, jadi
kembali minum.
“Kamu sudah punya pacar Min?”
“Belum Bu”, jawabku
“Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana yang tak
mau dengan cowok ganteng”, katanya
“Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk
bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan penerangan
yang agak redup. Entah siapa yang mendahului, kami
berdua saling berpegangan tangan saling meremas
lembut. Yang jelas semula saya sengaja menyenggol
tangannya…

Mungkin karena terbawa suasana malam yang dingin dan
suasana ruangan yang syahdu, dan terdengar suara mobil
melintas di jalan raya serta sayup-sayup suara binatang
malam, saya dan bu Ida hanyut terbawa oleh suasana
romantis. Bu Ida yang malam itu memakai gaun warna
hitam dan sedikit motif bunga ungu. Sangat kontras
dengan warna kulitnya yang putih bersih. Wanita
pengusaha ini makin mendekatkan tubuhnya ke arahku.
Dalam kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat
kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin
memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti gemuruh
ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi bergemetaran,
dan tak mampu berbuat banyak, walau tanganku tetap
memegang tangannya.

“Dingin ya Min..?!”, katanya sendu.
Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap lengan
kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.
“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.
Terasa dingin, sementara tangannya juga merangkul
pinggangku. Bau wewanginan semerbak di sekitar, aku
duduk, menambah suasana romantis
“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana Bu?”,
kataku gemetar.
“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”,
bisiknya.
Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup kening
wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia menengadahkan
wajahnya. Tanpa diajari atau diperintah oleh siapapun,
kukecup bibir indahnya. Dia menyambut dengan
senyuman, kami saling berciuman bibir saling melumat
bibir, lidah kami bertemu berburu mencari kenikmatan di
setiap sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing masing.
Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu
Ida, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku dan
bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi semakin
terangsang dalam permainan yang indah ini.

Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia tersenyum
manis bahkan amat manis, dibanding waktu-waktu
sebelumnya. Kami berangkulan kembali, seolah-olah dua
sejoli yang sedang mabuk asmara sedang bermesraan,
padahal antara majikan dan pegawainya. Dia mulai
mencumi leherku dan menggigit lembut semantara
tanganku mulai meraba-raba tubuhnya, pertama
pantatnya, kemudian menjalar ke pinggulnya.
“Sejak kamu kesini pacaran dengan Ani dulu, saya sudah berpikir:
“Ganteng banget ini anak!””, katanya setengah berbisik.
“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun saya
senang mendapat sanjungan.
“Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.
Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin
menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian juga
dada bu Ida. Diapun nampak bergetaran dan suaranya
agak parau.

Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik tangan bu
Ida yang supaya ikut berdiri. Dalam posisi ini dia saya
dekap dengan hangatnya. Hasrat kelakianku menjadi
bertambah bangkit dan terasa seakan membelah celana
yang saya pakai. Lalu saya bimbing dia ke kamarnya,
bagai kerbau dicocok hidungnya bu Ida menurut saja.
Kami berbaring bersama di spring bed, kembali kami
bergumul saling berciuman dan becumbu.
“Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku lirih.
Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian dia beranjak menuju lemari dan mengambil
pakaian sambil menyodorkan kepada saya.
“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian tidur.
Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudian
memakai kimononya.

Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku tertidur.
Baru sekitar setengah jam saya terbangun lagi. Dalam
kondisi begini, jelas aku susah tidur. Udara terasa dingin,
saya mendekapnya makin kencang. Dia menyusupkan
kaki kanannya di selangkangan saya. Penisku makin
bergerak-gerak, sementara cumbuan berlangsung,
penisku semakin menjadi-jadi kencangnya, yang
sesungguhnya sejak tadi di sofa.

Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana? Apakah saya
lanjutkan atau diam saja? Lama aku berfikir untuk
mengatakan tidak! Tapi tidak bisa ditutupi bahwa hasrat,
nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjaklonjak
dalam dadaku bercampur aduk sampai kepada
ubun-ubunku. Walaupun aku diamkan beberapa saat,
tetap saja kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang
saya sadar, wanita yang ada didekapanku adalah
majikanku, mamanya Ani, tapi sebagai pria
normal dan dewasa aku juga merasakan kenikmatan bibir
dan rasa perasaan bu Ida sebagai wanita yang sintal,
cantik dan mengagumkan. Sedikitnya aku sudah
merasakan kehangatannya tubuhnya dan perasaannya,
meski pengalaman ini baru pertama kali kualami.

Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti ini aku
semakin bergemetaran, antara mengelak dan hasrat yang
menggebu-gebu. Aku perhatikan wajahnya di bawah sorot
lampu bed, sengaja saya lihat lama dari dekat, wajahnya
memancarkan penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki
dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup di balik
gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan, saya tidak
tahu apakah dia tidur atau pura-pura tidur. Aku cium
lembut bibirnya, dan dia menyambutnya. Berarti dia tidak
tidur. Ku singkap gaun tidurnya kemudian kulepas, dia
memakai beha warna putih dan cedenya juga putih. Aku
menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh bu Ida,
putih dan indah banget. Ku raba-raba tubuhnya, dia
mengeliat geli dan membuka matanya yang sayu. Jari-jari
lentiknya menyusup ke balik baju tidur yang kupakai dan
menarik talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku
terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.
“Kamu ganteng banget, Min, tinggi badanmu berapa, ya?”,
bisiknya. Saya tersenyum senang.
“Makasih. Ada 171. Bu Ida juga cantik sekali”, mendengar
jawabanku, dia hanya tersenyum.

Aku berusaha membuka behanya dengan membuka
kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan
cedenya sehingga aku semakin takjub melihat keindahan
alam yang tiada tara ini. Hal ini menjadikan dadaku
semakin bergetar. Betapa tidak?! Aku berhadapan
langsung dengan wanita tanpa busana yang bertubuh
indah, yang selama ini hanya kulihat lewat gambargambar
orang asing saja. Kini langsung mengamati dari
dekat sekali bahkan bisa meraba-raba. Wanita yang
selama ini saya lihat berkulit putih bersih hanya pada
bagian wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang
tampak seluruhnya tiada yang tersisa. Menakjubkan!
Darahku semakin mendidih, melihat pemandangan nan
indah itu. Di saat saya masih bengong, pelan-pelan aku
melorot cedeku, saya dan bu Ida sama-sama tak
berpakaian. Penisku benar-benar maksimal kencangnya.
Kami berdua berdekapan, saling meraba dan membelai.
Kaki kami berdua saling menyilang yang berpangkal di
selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang ikut
membelai paha indah bu Ida. Sementara itu ia membelaibelai
lembut penisku dengan tangan halusnya, yang
membawa efek nikmat luar biasa.
Tanganku membela-belai pahanya kemudian kucium
mulai dari lutut merambat pelan ke pangkal pahanya. Ia
mendesah lembut. Dadaku makin bergetaran karena kami
saling mencumbu, aku meraba selakangannya, ada
rerumputan di sana, tidak terlalu lebat jadi enak
dipandang. Dia mengerang lembut, ketika jemariku
menyentuh bibir vaginanya. Mulutku menciumi
payudaranya dengan lembut dan mengedot puntingnya
yang berwarna coklat kemerah-merahan, lalu
membenamkan wajahku di antara kedua susunya.
Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya.
Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut indahnya.
Aku semakin bernafsu walau tetap gemetaran. Tanganku
mulai aktif memainkan selakangannya, yang ternyata
basah itu. Saya penasaran, lalu kubuka kedua pahanya,
kemudian kusingkap rerumputan di sekitar
kewanitaannya. Bagian-bagian warna pink itu aku belaibelai
dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan,
menyenangkan sekali. Bu Ida mengerang lembut sambil
menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu jariku
kumasukkan keterowongan pink tersebut dan menari-nari
di dalamnya. Dia semakin bergelincangan. Kelanjutannya
ia menarikku.
“Ayo Min” aku tak tahan”, katanya berbisik
Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian yang
menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.

Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil bertumpu
pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia tidak berat
menompang tubuhku. Sementara itu senjataku terjepit
dengan kedua pahanya. Dalam posisi begini saja enaknya
sudah bukan main, getaran jantungku makin tidak
teratur. Sambil menciumi bibirnya, dan lehernya,
tanganku meremas-remas lembut susunya. Penisku
menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas (perut),
kemudian turun berulang-ulang Tak lama kemudian
kakinya direnggangkan, lalu pinggul kami berdua
beringsut, untuk mengambil posisi tepat antara senjataku
dengan lubang kewanitaannya. Beberapa kali kami
beringsut, tapi belum juga sampai kepada sasarannya.
Penisku belum juga masuk ke vaginanya
“Alot juga”, bisikku. Bu Ida yang masih di bawahku
tersenyum.
“Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang
penisku dan menuntun memasukkan ke arah
kewanitaannya.
“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya. Akupun
menuruti saja, menekan pinggulku…
“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa
hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk itulah, rasa
nikmatnya amat sangat. Seolah aku baru memasuki dunia
lain, dunia yang sama sekali baru bagiku. Aku memang
pernah melihat film orang beginian, tetapi untuk
melakukan sendiri baru kali ini. Ternyata rasanya enak,
nyaman, mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam
usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan
kenikmatan tubuh wanita.
Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-turun,
naik-turun, kadang cepat kadang lambat, sambil
memandang ekspresi wajah bu Ida yang merem-melek,
mulutnya sedikit terbuka, sambil keluar suara tak
disengaja desah-mendesah. Merasakan kenikmatannya
sendiri.
“Ah… uh… eh… hem””
Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut
dengan menekan pula ke atas, supaya penisku masuk
menekan sampai ke dasar vaginanya. Getaran-getaran
perasaan menyatu dengan leguhan dan rasa kenikmatan
berjalan merangkak sampai berlari-lari kecil berkejarkejaran.
Di tengah peristiwa itu bu Ida berbisik
“Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu cepat
capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti iramanya”, ketika
saya mulai menggenjot dengan semangatnya.
“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.

Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala kadarnya
mengikuti gerakan pinggulnya yang hanya sesekali
dilakukan. Ternyata model ini lebih nyaman dan mudah
dinikmati. Sesekali kedua kakinya diangkat dan sampai
ditaruh di atas bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar,
bahkan kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku
terjepit ketat dan semakin seret. Gerak apapun yang kami
lakukan berdua membawa efek kenikmatan tersendiri.
Setelah lebih dari sepuluh menit , aku menikmati
tubuhnya dari atas, dia membuat suatu gerakan dan aku
tahu maksudnya, dia minta di atas.

Aku tidur terlentang, kemudian bu Ida mengambil posisi
tengkurap di atasku sambil menyatukan alat vital kami
berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia memasukkan
penisku rasanya ketat sekali menghujam sampai dalam.
Sampai beberapa saat bu Ida menggerakkan pinggulnya,
payudaranya bergelantungan nampak indah sekali,
kadang menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat
bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang.
Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung kudot.
Gerakan wanita berambut sebahu ini makin mempesona
di atas tubuhku. Kadang seperti orang berenang, atau
menari yang berpusat pada gerakan pinggulnya yang
aduhai. Bayang-bayang gerakan itu nampak indah di
cermin sebelah ranjang. Tubuh putih nan indah
perempuan setengah baya menaiki tubuh pemuda agak
coklat kekuning-kuningan. Benar-benar lintas generasi!

Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit, kian
lama kian kencang dan cepat, gerakannya. Nafasnya kian
tidak teratur, sedikit liar. Kayak mengejar setoran saja.
Tanganku mempererat rangulanku pada pantat dan
pinggulnya, sementara mulutku sesekali mengulum
punting susunya. Rasanya enak sekali. Setelah kerja
keras majikanku itu mendesah sejadi-jadinya”
“Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Min..”, rupanya ia orgasme.

Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku,
nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah merasakan
keenakan yang mencapai klimaknya. Nafasnya berkejarkejaran,
gerakannya lambat laun berangsur melemah,
akhirnya diam. Ia menjadi lemas di atasku, sambil
mengatur nafasnya kembali. Aku mengusap-usap
punggung mulusnya. Sesekali ia menggerak-gerakkan
pinggulnya pelan, pelan sekali, merasakan sisa-sisa
puncak kenikmatannya. Beberapa menit dia masih
menindih saya.

Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang kembali, siap
untuk saya tembak lagi. Kini giliran saya menindihnya,
dan mulai mengerjakan kegiatan seperti tadi. Gerakan ku
pelan juga, dia merangkul aku. Naik turun, keluar masuk.
Saat masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia bisa
menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh aku
menikmati seluruhnya tubuh bu Ida. Ruaar biasa! Tiba-
tiba suatu dorongan tenaga yang kuat sampai diujung
senjataku, aliran darah, energi dan perasaan terpusat di
sana, yang menimbulkan kekuatan dahsyat tiada tara.
Energi itu menekan-nekan dan memenuhi lorong-lorong
rasa dan perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran.
Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek
gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh indah,
yang mengimbangi dengan gerakan gemulai mempesona.
Akhirnya tenaga yang menghentak-hentak itu keluar
membawa kenikmatan luar biasa”, suara tak disengaja
keluar dari mulut dua insan yang sedang dilanda
kenikmatan. Air maniku terasa keluar tanpa kendali,
menyemprot memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ida.
“Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-sahutan.
Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun makin
merapatkan tubuhnya terutama pada bagian bawah
perutnya, kuat sekali. Menyatu semuanya,
“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.
“Aku juga Min”, suaranya agak lemah.
“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar lagi?!”,
tanyaku agak heran.
“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas.

Kami berdua berkeringat, walau udara di luar dingin.
Rasanya cukup menguras tenaga, bagai habis naik
gunung saja, lempar lembing atau habis dari perjalanan
jauh, tapi saya masih bisa merasakan sisa-sisa
kenikmatan bersama. Selang beberapa menit, setelah
kenikmatan berangsur berkurang, dan terasa lembek,
saya mencabut senjataku dan berbaring terlentang di
sisinya sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya
menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya. Perempuan
punya bentuk tubuh indah itupun terlihat puas, seakan
terlepas dari dahaganya, yang terlihat dari guratan
senyumnya. Saya lihat selakangannya, ada ceceran air
maniku putih kental meleleh di bibir vaginanya bahkan
ada yang di pahanya. Pengalaman malam itu sangat
menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku menaiki bu
Ida, aku lupa. Yang jelas kami beradu nafsu hampir
sepanjang malam dan kurang tidur.

Keesokan harinya
Busa-busa sabun memenuhi bathtub, aku dan bu Ida
mandi bersama, kami saling menyabun dan menggosok,
seluruh sisi-sisi tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian
yang paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia
menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut. Saya
senang sekali dan sudah barang tentu membawa efek
nikmat.
“Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus, kayak
tugu Monas, besar lagi. Ukuran jumbo lagi?!”, katanya
sambil menimang-nimang tititku.
“Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami tersenyum
bersama.

Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti sedang
nyapu halaman depan, kalau aku keluar rumah tidak
mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru pukul setengah
enam. Tetapi senjata ini belum juga turun, tiba-tiba
hasrat lelakiku kembali bangkit kencang sekali. Kembali
meletup-letup, jantung berdetak makin kencang. Lagi-lagi
aku mendekati janda yang sudah berpakaian itu, dan
kupeluk, kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku
lebih tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur
tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi. Lalu ku
lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan kuplorotkan
cedenya. Kami berdua kembali berbugil ria dan menuju
tempat tidur. Kedua insan lelaki perempuan ini saling
bercumbu, mengulangi kenikmatan semalam.

Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang indah
paduan antara pinggul depan, pangkal paha, dan
rerumputan sedikit di tengah menutup samara-samar
huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya. Aku buka
dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi, mulai dari lutut,
kemudian merambat ke paha mulusnya. Sementara
tangannya mengurut-urut lembut penisku. Tubuhku mulai
bergetaran, lalu aku membuka selakangannya,
menyibakkan rerumputan di sana. Aku ingin melihat
secara jelas barang miliknya. Jariku menyentuh benda
yang berwarna pink itu, mulai bagian atas membelaibelainya
dengan lembut, sesekali mencubit dan membelai
kembali. Bu Ida bergelincangan, tangannya makin erat
memegang tititku. Kemudian jariku mulai masuk ke
lorong, kemudian menari-nari di sana, seperti malam tadi.
Tapi bibir, dan terowongan yang didominasi warna pink ini
lebih jelas, bagai bunga mawar yang merekah. Beberapa
saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi paham
dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ida, yang
menghebohkan semalam.

Gelora nafsu makin menggema dan menjalar seantero
tubuh kami, saling mencium dan mencumbu, kian
memanas dan berlari kejar-kejaran. Seperti ombak laut
mendesir-desir menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat
mengekang dari kami berdua. Apalagi ketika puncak
kenikmatan mulai nampak dan mendekat ketat. Sebuah
kejutan, tanpa aku duga sebelumnya penisku yang sejak
tadi di urut-urut kemudian dikulum dengan lembutnya.
Pertama dijilati kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga
mulutnya. Rasanya saya diajak melayang ke angkasa
tinggi sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi
berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang,
sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang
bertumpu pada kedua tangan saya. Saya mulai
memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan bu Ida
yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-bagiannya secara
seksama itu. Benda ini memang rasanya tiada tara, ketika
kumasukkan, tidak hanya saya yang merasakan enaknya
penetrasi, tetapi juga bu Ida merasakan kenikmatan yang
luar biasa, terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan
lembut dari mulutnya.
“Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke arah
selakangannya, sambil menekankan pula pinggulnya ke
arah tititku. Kami berdua mengulangi mengarungi
samodra birahi yang menakjubkan, pagi itu.

Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar pukul
setengah delapan, saat Darti mencuci di belakang. Dalam
perjalanan pulang aku termenung, Betapa kejadian
semalam dapat berlangsung begitu cepat, tanpa liku-liku,
tanpa terpikirkan sebelumnya. Sebuah wisata seks yang
tak terduga sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih,
prosesnya mulus, semulus paha bu Ida. Singkat, cepat
dan mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan
yang menghebohkan. Betapa aku bisa merasakan
kehangatan tubuh bu Ida secara utuh, orang yang selama
ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona wajah bu Ida
yang memerah jambu, kepasrahannya dalam
ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan seorang
wanita yang mebutuhkan belaian dan kehangatan seorang
pria.

Akhirnya aku menjadi ayah angkat pacarku walaupun umurnya berbeda tetapi pengabdiannya sebagai seorang istri sangat membahagiakanku


Kisahku kali ini terjadi beberapa bulan lalu di hari Sabtu pagi. Ketika itu aku yang sedang sendirian di rumah dan tidak ada kegiatan, memulai hari dengan memanjakan diri di sofa ruang keluarga untuk melihat acara TV. Setelah aku pindah-pindah channel TV ternyata nggak ada acara yang menarik. Akhirnya aku putuskan untuk tidur-tiduran saja di kamar tidur.

Rumah ini terasa sangat sepi pada saat-saat seperti ini. Maklum saja, biasanya rumahku selalu ramai oleh orangtua serta adik-adikku. Sebagai seorang wanita di usia 29 tahun, tentu aku selalu berusaha untuk merawat tubuh, baik di salon maupun di rumah. Teman-temanku sering memuji wajahku yang awet muda dan tubuhku yang mungil tapi proporsional.

Namun yang sering membuatku risih adalah tatapan anak-anak SMU, yang seringkali menggoda aku. Mungkin mereka mengira aku masih seusia mereka. Apalagi saat aku memakai pakaian bebas. Rumahku terletak di daerah Cibubur yang menurutku lumayan dingin. Halaman rumahku memang tidak luas, namun di luar rumah banyak ditumbuhi pepohanan rindang. Kamar tidurku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman luar.

Setelah merebahkan badanku beberapa lama, ternyata mata ini tidak mau terpejam. Akhirnya aku SMS-an dengan pacarku. Baru beberapa kali SMS, terdengar suara berisik dari halaman depan rumahku. Aku bangkit dan melihat keluar. Kulihat dua anak berusia berseragam SMP sedang berusaha untuk memetik buah di depan rumahku. Tentu saja aku sebagai pemilik rumah tidak senang perilaku anak-anak tersebut. Bergegas aku keluar dari kamar.

Seraya berkacak pinggang aku berteriak pada mereka “Dik, jangan dipetik dulu nanti kalau sudah masak pasti Kakak kasih deh…!”

Tentu saja mereka berdua kaget dan ketakutan karena tidak menyangka kalau ada orang yang melihat perbuatan mereka. Kedua anak itu menundukkan wajahnya karena menyesal. Aku yang tadi hendak marah akhirnya merasa iba.

“Nggak apa-apa kok Dik, Kakak hanya minta buahnya jangan dipetik dulu. Kan masih belum matang benar… Nanti kalau adik-adik sakit perut gimana coba?” aku mencoba menghibur.

Sedikit mereka berani mengangkat wajah. Dari penampilan mereka kelihatan bahwa mereka anak kurang mampu. Melihat wajah mereka mereka yang tertunduk dan menyesal akhirnya aku mengajak mereka ke dalam rumah, untuk ikut menonton TV denganku di ruang keluarga. Aku tanya kenapa pada jam-jam belajar mereka kok ada di luar sekolah. Ternyata mereka bolos dari sekolah karena sedang bosan belajar. Setelah mendapat penjelasan mereka, aku menasehati keduanya supaya jangan membolos dari sekolah lagi. Mereka hanya menganggukan kepala saja.

Kemudian aku tinggal mereka sebentar mereka ke dapur untuk mengambilkan minuman. Lumayan juga pikirku, aku jadi ada teman untuk ngobrol. Dari obrolanku dengan mereka, ternyata usia keduanya masih 13 tahun, dan mereka baru saja masuk SMP. Walaupun baru mulai masuk SMP, ternyata mereka sudah sering bolos dari sekolah. Aku menanyakan nama mereka, yang berkulit hitam dan berambut keriting bernama Gani. Sedangkan yang berkulit sawo matang dan berambut cepak bernama Edo. Keduanya memiliki badan yang kecil dan kurus. Mungkin tinggi badan mereka hanya 140 cm saja.

Ketika ngobrol aku tahu mata-mata mereka sering mencuri pandang ke bagian dadaku. Aku baru sadar bahwa di dalam kaos warna krem-ku, aku tidak memakai Bra, sehingga puting coklatku terlihat jelas. Aku berpikir, biar masih kecil, namanya laki-laki itu sama saja. Semula aku tidak suka dengan perilaku mereka namun akhirnya ada perasaan lain sehingga aku biarkan mata mereka menikmati keindahan putingku dari luar. Aku menjadi menikmati tingkah laku mereka kepada diriku.

Bahkan aku mempunyai pikiran yang lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja meregangkan tanganku ke belakang sehingga putingku pasti terlihat semakin jelas. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin salah tingkah.

“Hayoo..!! Pada ngeliatin apa!?” Aku pura-pura mengagetkan mereka.

Tentu saja ini sangat membuat mereka menjadi semakin salah tingkah.

“Ng.. gak.. kok.. Kak Tita…” Gani membela diri.

“I.. Itu acara TV bagus Kak Tita” Edo menambahkan.

“Nggak apa-apa kok. Kakak tahu kalian sedang melihat ke dada Kakak kan?Ayo ngaku aja deh…” aku mencoba mendesak mereka.

“Eeee.. A-Anu Kak Tita…” Edo nampak akan mengatakan sesuatu.

Namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya, aku kembali menimpali “Ibu kalian kan juga punya, dulu kalian kan sering nyusu dari Ibu kalian”

“I.. Iya Kak Tita” Gani menjawab.

“Tapi sekarang kami kan sudah nggak nyusu lagi. Lagipula kamu juga udah lupa gimana rasanya nyusu…” Edo nampaknya sudah mampu menguasai keadaannya.

“Terus maksud kamu bagaimana Do?” Aku menanyakan.

“Kami pengen deh liat teteknya Kak Tita” kata Gani semakin berani.

Kata-kata tersebut membuat aku berpikiran lebih gila lagi. Gairahku yang semakin meninggi sudah mengalahkan norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan kendali bahwa yang ada di depanku adalah anak-anak polos yang masih bersih pikirannya. Aku kemudian menatap wajah mereka semakin serius.

“Gani, Edo kalian mungkin sekarang sudah nggak nyusu lagi karena kalian sudah besar. Tapi kalian boleh kok…” aku berkata.

Tentu saja kata-kataku ini membuat mereka penasaran.

“Boleh ngapain Kak Tita?” sergah Gani tidak sabar.

“Boleh nyusu sama Kakak, kalian mau nggak..?” tanyaku walau sebenarnya aku sangat tau jawaban mereka.

“Ee.. ma.. u…!!” jawab Edo.

“Mau banget dong Kak…!!” sahut Doni setuju dengan temannya.

Jawaban mereka membuat aku semakin bergairah dan terangsang. Aku berpikiran hari ini aku akan mendapatkan sensasi dari anak-anak ini. Aku memang sudah pernah merasakan kenikmatan juga dari dua anak jalanan, yang aku sudah ceritakan sebelumnya. Karena itu, aku ingin kembali merasakan sensasi seperti itu. Aku mendekati mereka, kemudian dengan agak tergesa aku melepaskan kaos bagian atasku sehingga kini bagian atas tubuhku sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Mata mereka melotot memandangi payudaraku. Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.

“Ayo dimulai dong Adik-adik. Kok malah bengong sih?” aku menyadarkan mereka.

Kemudian tangan-tangan mereka mulai menggerayangi payudaraku. Aku menjadi geli melihat tingkah mereka.

“Jangan rebutan dong! Aaaaah.. Gani yang ki.. ri… Edo yang kanan…” perintahku.

Birahiku semakin meninggi, sementara Gani sudah mulai mendekatkan bibirnya ke putingku, Edo masih membelai sambil dipilin-pilin putingku. Lalu Edo mulai mengisap-isap putingku juga. Betapa seakan perasaanku melayang ke awan, apalagi ketika mereka berdua mengisap secara bersamaan nafasku menjadi tersengal. Tanganku membelai kadang agak sedikit menjambak sambil menekan kepala mereka agar lebih dalam lagi menikmati payudaraku.

Mereka semakin menikmati mainan mereka aku semakin terhanyut, aku ingin lebih dari hanya ini. Aku semakin lupa.

Ketika baru nikmat-nikmatnya tiba-tiba Edo melepaskan isapannya sambil berkata “Kak Tita kok nggak keluar air susunya?”

Aku kaget harus menjawab apa akhirnya kau menjawab sekenanya “Kakak kan belum nikah, terus belum punya anak. Jadi belum keluar air susunya…”

“Oh gitu ya Kak…?” Edo langsung mengerti.

Gani tidak menggubris, dia semakin lahap menikmati buah dadaku. Akhirnya aku ingin lebih dari sekedar itu.

“Gani… Edo.. Ber.. henti dulu…” aku meminta.

“Ada apa Kak Tita?” Gani bertanya.

“Kita ke kamar saja yuk! Di sini posisinya nggak enak” jawabku.

Kemudian aku berdiri menuju ke kamarku. Tentu saja mata mereka menatap tubuhku yang hanya ditutupi oleh celana pendek ketatku.

“Ayo ikut Kakak…” aku mengajak.

Seperti kerbau dicocok hidungnya mereka mengikuti diriku. Sampai di dalam kamar aku duduk di sisi ranjang.

“Gan.. Edo.. lepas saja seragam kalian…” pintaku.

“Tapi Kak Tita…” Edo masih agak ragu.

“Sudahlah turuti saja…” aku menyahut.

Dengan malu-malu mereka mulai melepas baju dan celana seragam mereka. Tampaklah penis dari anak-anak itu sudah tampak tegang. Rambut kemaluan mereka tampak belum tumbuh sama sekali, sedang batang kemaluannya masih agak kecil. Namun melihat pemandangan ini libidoku semakin naik tinggi.

“Kak Tita curang!” Edo berkata.

“Curang bagaimana?” aku bertanya.

“Kak Tita nggak melepas celananya!?” Edo menjawab.

Gila anak ini, cepat sekali dewasanya. Aku tersenyum, kemudian bangkit dari dudukku. Celana pendek berikut celana dalamku aku lepaskan. Sekarang kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Tatapan mereka tertuju pada benda yang ada dibawah pusarku. Vaginaku yang masih rapat dan tanpa ditumbuhi bulu menarik perhatian mereka. Aku duduk kembali di ranjang lalu menaikkan kakiku dan mengangkangkannya. Vaginaku terbuka lebar dan tentu saja terlihat isi-isinya. Mereka mendekat dan melihat vaginaku dengan wajah penasaran.

“Ini namanya vagina, lain dengan punya kalian…” aku menerangkan ke mereka layaknya seorang guru biologi.

“Kalian lahir dari sini…” aku melanjutkan.

Tangan mereka mulai mengelus-elus bibir kemaluanku. Sentuhan ini nikmat sekali. Jari Gani masuk ke lobang vaginaku dan bermain-main di dalamnya. Cairan-cairan tampak semakin membanjiri liang vaginaku. Sementara jari Edo kelihatannya lebih tertarik dengan kemulusan pahaku. Tangan Edo semakin berani untuk mengelus-elus pahaku. Aku biarkan kenikmatan ini berlangsung.

“Aaa.. duh… Eee.. nak.. sekali! Nik.. mat… Terr.. us…” aku merintih.

Anak-anak ini agak lama memainkan vagina beserta pahaku. Sungguh mereka memberiku kenikmatan yang hebat. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berkata-kata hanya rintihan dan nafas yang tersengal-sengal.
Akhirnya aku mendorong mereka aku bangkit dan menghampiri mereka yang berdiri di tepi ranjang.

Aku berjongkok dihadapan mereka sambil kedua tanganku memegang diiringi dengan remasan-remasan kecil pada penis mereka. Aku mendekatkan wajahku pada penis Gani, kemudian aku kulum dan jilati kepala penis muda ini. Tampak kedua lutut Gani tergetar. Aku masukkan seluruh batang penis itu kedalam mulutku dan aku membuat gerakan maju mundur. Tangan Gani mencengkeram erat kepalaku. Sementara tanganku yang satu mengocok-kocok kontol Edo.

“Kak Titaaa.. Akuuu.. ma.. u.. ken.. cing…” Gani merintih.

Tampaknya anak ini akan orgasme, tentu aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi karena aku masih ingin permainan ini berlanjut. Kemudian aku beralih pada penis Edo. Tampak penis ini agak lebih besar dari kepunyaan Doni. Aku mulai jilati dari pangkal sampai pada ujungnya, lidahku menari di kepala penis Edo. Aku tusuk-tusuk kecil lobang kencing Edo kemudian aku masukkan seluruh batang penis Edo. Jambakan rambut Edo kencang sekali ketika aku semakin mempercepat kulumanku.

“Kaaakkk.. a.. ku.. ju.. ga.. mo.. ken.. cing.. nih…” Edo merintih.

Aku hentikan kulumanku pada penis mereka, kemudian aku bangkit dan naik ke atas ranjang lalu aku kangkangkan kakiku lebar-lebar sehingga vaginaku terbuka lebar.

“Siapa duluan yang mau tititnya dimasukkan ke sini?” aku berkata sambil tanganku menunjuk ke lubang vaginaku yang sudah nampak basah kuyup.

Mereka berpandangan, tampaknya membuat persetujuan. Dan akhirnya Gani duluan yang akan menusukku. Gani naik ke atas ranjang dan mengangkangiku tampak penis yang tegang mengkilat siap menusuk lubang vagina wanita yang pantas menjadi kakaknya. Aku tuntun penis Gani masuk ke lubang kenikmatanku. Aku membiarkan pria muda ini melepas keperjakaannya oleh vaginaku. Dan ‘bless’, batang penis Gani amblas ke dalam vaginaku.

“Aaaah Gan…” aku mendesis.

“Masukkan.. Le.. bih.. da.. lam lagi.. dan genjot..” aku memberi perintah.

“Iyaaaa.. Kak Tita!! Eee.. naak.. bangeeeettt…” Gani berkata.

Aku hanya bisa mendesah sambil menggigit bibir bagian bawahku. Tampaknya Gani cepat memahami perkataanku dia memompa wanita yang lebih dewasa yang ada dibawahnya dengan seksama. Genjotannya semakin lama semakin cepat. Edo yang menunggu giliran hanya tertegun dengan permainan kami. Genjotan Gani kian cepat aku imbangi dengan goyanganku. Dan tampaknya hal ini membuat Gani tidak kuat lagi menahan sperma yang akan keluar.

Dan akhirnya “Akuuu.. mau.. ken.. cing.. la.. gi! Udah gak.. ta.. han.. la.. gi..” Gani setengah berteriak.

Kakiku aku lipat menahan pantat Gani. Dia merangkul erat tubuhku dan ‘creet.. creet…’ cairan hangat membanjiri liang kewanitaanku. Gani terkulai lemas diatas tubuhku, butiran-butiran keringat keluar dari sekujur tubuhnya.

“Enaaaak bangeettt Kak….” Gani berkata penuh kepuasan.

“Iya… tapi sekarang gantian Edo dong…” aku berkata.

Gani mencabut penisnya yang sudah agak mengempis dan terkapar lemas disampingku.

“Edo sekarang giliranmu yah…” aku berkata kepada Edo .

“Kamu tusuk Kakak dari belakang ya…” aku memberi arahan kepadanya.

Kemudian aku mengambil posisi menungging sehingga vaginaku pada posisi yang menantang. Edo naik ke atas ranjang dan bersiap menusuk dari belakang. Dan penis anak yang kedua memasuki lobang kenikmatanku yang seharusnya belum boleh dia rasakan seiring dengan melayangnya keperjakaan dia.

Tampaknya Edo sudah agak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar dari dia melihat permainan Gani. Edo menggerakkan maju mundur pantatnya. Aku sambut dengan goyangan erotisku. Semakin lama gerakan Edo tidak teratur semakin cepat dan tampaknya puncak kenikmatan akan segera diraih oleh anak ini.

“Enaaaaaaaaaaak Kak…” Edo berteriak nikmat.

Dan akhirnya dengan memeluk erat tubuhku dari belakang sambil meremas susuku Edo mengeluarkan spermanya. Lubang vaginaku terasa hangat setelah diisi sperma kedua anak ini. Edo juga terkapar disampingku. Dua anak ini terkapar lemas setelah memasuki dunia kenikmatan.

Walaupun aku belum sempat orgasme, namun sensasi yang aku dapatkan cukup membuat aku puas. Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian untuk membuatkan sirup dingin, agar tenaga mereka pulih. Setelah berpakaian dan selesai minum mereka minta ijin untuk pulang.

“Gani, Edo kalian boleh pulang tapi jangan cerita kepada siapa-siapa tentang semua ini, kalian boleh minta lagi kapan saja asal waktu dan tempat memungkinkan…” aku berkata kemudian mencium bibir kedua anak itu.

“Iya Kak…!” sahut mereka hampir bersamaan.

Setelah mereka berdua pergi, satu sisi diriku bertanya-tanya, mengapa aku bisa bertindak seperti ini. Namun sisi lain diriku merasa puas karena berhasil menggoda dua orang anak yang masih polos. Aku juga sangat menikmati menggunakan tubuhku untuk merangsang dan menguasai kedua anak tersebut. Aku juga senang bisa membuat keduanya lepas kendali dan jatuh dalam pelukan birahi. Namun sampai saat ini, aku tidak pernah melihat keberadaan mereka lagi. Tapi aku juga tidak akan pernah lupa dengan mereka. Karena kedua anak itu dapat memberikan kepuasan dan sensasi yang berbeda.

TAMAT


Kerjasama Hendro dan Erwin semakin berkembang, cabang-cabang perusahaan di kota “ kota besarpun mulai dibuka, sehingga Hendropun semakin sibuk dengan perjalanan bisnisnya kesetiap cabang-cabang perusahaannya, dan itu membuat Hendro semakin jarang dirumah. Dalam satu minggu Hendro hanya 1-2 hari berada dirumahnya yaitu hari Sabtu atau Minggu, hari Seninnya Hendro sudah mulai keluar kota kembali.
Seiring dengan berkembangnya usaha Hendro, keadaan ekonomi Hendropun berubah, mereka sekarang tinggal di kawasan elite di bilangan Jakarta Selatan, rumah mereka dilengkapi dengan kolam renang dalam ruangan, penghuni rumahpun mulai bertambah, mereka sekarang mempunyai 4 orang pembantu, 3 perempuan dan 1 laki-laki, yang perempuan bertugas membersihkan rumah, mencuci, memasak dan sebagainya, sementara yang laki-laki bertugas merawat dan membersihkan taman dan kolam renang.

Tuti, Narti dan Ani adalah nama pembantu wanita mereka, Tuti berusia 20 tahun, Narti dan Ani berusia 19 tahun, sementara itu Pono pembantu lelakinya berusia 18 tahun. Mereka semua berasal dari satu daerah, Hendro yang membawa mereka datang ke Jakarta. Tuti dan Narti keduanya berstatus janda, mereka berdua gagal dalam membina biduk rumah tangga, sementara Ani dan Pono masih berstatus lajang. Mereka berempat sudah sekitar 6 bulan tinggal bersama keluarga Hendro.
Dirumah Hendro masih ada 2 orang supir, Bambang dan Yono keduanya sudah berkeluarga, Bambang berusia 26 tahun sementara Yono berusia 25 tahun, Bambang adalah supir Hendro sementara Yono selalu mengantar Dewi kemanapun nyonyanya pergi. Mereka sudah 8 bulan bekerja dengan Hendro.
Keempat pembantu dan kedua supir ini merasa kerasan bekerja di keluarga Hendro, keluarga Hendro tidak memandang rendah mereka, tingkah keluarga Hendropun tidak sombong terhadap mereka semua, apalagi Yono yang selalu mengantar Dewi, dia sangat kerasan bekerja di keluarga Hendro, selain cantik dan sexy nyonyanya ini selalu memberikan uang makan untuknya jika sedang mengantar ke Mall, ditambah Yono dapat menikmati pemandangan indah terutama saat Dewi mengenakan rok mini atau sedang membungkukkan badan, belahan dada Dewi yang putih dan padat serta pahanya yang putih mulus selalu membuat Yono menelan air liurnya pada saat ia melihat pemandangan itu.
Hari ini Yono kembali disuguhi pemandangan yang membangkitkan gairah lelakinya, nyonyanya ini mengenakan rok pendek berwarna putih dan baju putih tanpa lengan dengan belahan rendah didada, celana dalam dan behanya yang berwarna hitam terbayang dengan jelas, belahan dada nyonyanya ini yang putih dan mulus terlihat dengan jelas, Yono berkali-kali menelan air liurnya melihat pemandangan ini dari kaca spion mobilnya.
kemana kita, Bu? tanya Yono
ke ***** Yon, kata Dewi.
baik, Bu sahut Yono.

Selama perjalanan Yono mencuri-curi pandang tubuh nyonyanya ini dari balik kaca spionnya, selama itu juga berkali-kali Yono meneguk air liurnya, dalam hatinya berkata alangkah beruntungnya punya istri cantik, mulus dan sexy seperti nyonyanya ini, setiap malam pasti minta jatah terus. Kalau ia bandingkan dengan istrinya dirumah, jauh sekali perbedaannya bagaikan langit dengan bumi, tampang Yono sendiri tidak jelek tidak juga tampan, postur tubuhnya tidak tinggi juga tidak pendek, tidak besar juga tidak kecil, semuanya serba sedang.
Sesampainya di Supermarket yang disebutkan oleh nyonyanya tadi, Yono mengarahkan mobilnya kearah pintu masuk, kemudian Dewipun turun sambil berkata,
Yon, kamu cari parkir, terus nanti kamu susul saya kedalam,
Baik, Bu jawab Yono
Setelah memarkir mobilnya, Yono menyusul kedalam dan menemui Dewi yang sudah menunggu kedatangannya, kemudian Dewi mengambil keranjang dorong dan menyuruh Yono untuk mengambilnya juga. Kira-kira 3-4 jam mereka baru selesai berbelanja.
Kemana lagi kita, Bu? tanya Yono setelah selesai memasukkan kantung belanja yang terakhir.
Hhmmm, pulang dulu, Yon. Sahut Dewi.
Dalam perjalanan pulang, Yono kembali mencuri-curi pandang dari kaca spionnya, Dewi tidak menyadari tingkah supirnya itu, karena seperti biasanya Dewi sibuk dengan majalahnya. Tanpa Dewi sadari posisi duduknya saat ini agak sedikit terbuka dan rok mini yang ia kenakan agak sedikit naik keatas, membuat Yono yang sedang mencuri pandang semakin panas dingin dibuatnya, Yono melihat CD hitam Dewi dan paha mulus Dewi dari balik kaca spionnya, kemaluannya mulai menegang seiring dengan lamunan joroknya membayangkan kemaluan Dewi, Yono gelisah sendiri melihat semua ini, berkali-kali ia meneguk air liurnya.
Yon, turunin semua belanjaannya, taruh di dapur dan beritahu Ani atau Narti, kata Dewi sesampainya dirumah dan Dewi pun langsung turun menuju kedalam rumahnya.
Baik, Bu jawab Yono.
Setelah Dewi turun, Yonopun memarkir mobilnya di Garasi dan mulai menurunkan semua belanjaan dan membawanya ke dapur.
Ti, nich beresin belanjaan ibu, Yono memberitahu Narti yang sedang ada di dapur sambil menaruh belanjaan.
Iyah, jawab Narti sambil langsung membereskan belanjaan itu.
Tak lama kemudian Yonopun selesai membawa seluruh belanjaan itu kedapur sementara Narti sibuk dengan membereskan belanjaan itu.
Ti, bagi kopi dong, kata Yono setelah selesai menaruh kantung belanjaan yang terakhir.
Bikin sendiri, aku masih sibuk beres-beres, jawab Narti.
Saat Yono sedang membuat kopi, kembali dia disuguhi pemandangan yang membuat gairah lelakinya kembali bangkit, dia melihat Dewi yang sedang menuju kekolam renang mengenakan bikini putih, tubuh Dewi yang putih mulus dan kedua bongkahan payudaranya yang indah, selama ini Yono belum pernah melihat majikannya ini mengenakan bikini, batang kemaluannya mulai menegang, nafasnya mulai memburu, kedua bola mata Yono hampir tidak berkedip mengikuti langkah Dewi yang menuju kolam renang.

Lokasi kolam renang memang tidak jauh dari dapur, dan kolam renang itu terletak didalam ruangan dengan keseluruhan atapnya menggunakan kaca, sehingga cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa di area kolam renang tersebut.
Sambil menikmati kopi yang dibuatnya, Yono tanpa bergeming dari tempatnya dan kedua bola matanya masih tetap memandangi tubuh Dewi yang mulus dan sexy, tanpa sadar Yonopun mulai mengelus-elus batang kemaluannya dari balik celananya, dalam pikirannya ia membayangkan meremas-remas kedua payudara Dewi, sambil menjilati kedua putingnya, batang kemaluannya semakin mengeras, sebetulnya Yono adalah lelaki yang setia, tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk selingkuh atau membayangkan tubuh wanita lain selain tubuh istrinya, tetapi semenjak ia bekerja di keluarga Hendro dan setiap hari ia melihat pemandangan yang menakjubkan, semenjak itu pula pikiran Yono mulai menyimpang, ia mulai sering mengkhayal tentang menyetubuhi Dewi begitu pula saat ia sedang berhubungan dengan istrinya, ia membayangkan sedang menyetubuhi majikannya itu, Yono sendiri bingung kenapa akhir-akhir ini pikirannya selalu ketubuh Dewi, seperti sekarang ini pemandangan didepan matanya benar-benar membuat ia lupa diri, pikirannya menerawang membayangkan tubuh Dewi, lekuk tubuh Dewi yang aduhai, kedua payudara Dewi yang montok, semakin ia membayangkan tubuh Dewi semakin cepat ia mengelus-elus batang kemaluannya, Yono lupa bahwa saat ini ia sedang berada didapur.

Hayo, sedang ngapain, bisik Narti di telinga Yono.
Eeehhh.ngaakkklagii ngapa-ngapain, jawab Yono terkejut.
Kok, ngelamunehh..minum kopi kok ngelamun, lanjut Narti.
Eeeh..ini kopinya masih panasjadi..nunggu dingin, jawab Yono lagi.
Nunggu kopinya dingin atau lagi ™ kembali Narti mendesak Yono, sambil matanya melirik kearah kolam renang, ngintip nyonyanya, yach,
Tiddaaakkenaak..aja..aku lagi nunggu kopinya dingin nich, jawab Yono terbata-bata, batinnya kaget saat Narti dapat menebak apa yang sedang ia lakukan.
Hah..jawabnya tidak, tapi matanya kearah kolam renang,lanjut Narti penasaran.
Gak mungkin, aku ini sedang mikirin istriku, makanya aku ngelamun,Yono mengelak atas tuduhan Narti.
Hhmmmlaki-laki dimana saja sama,sahut Narti sambil kembali membereskan belanjaan yang tadi ia tinggalkan.

Yono menghela nafas saat Narti kembali mulai sibuk membereskan belanjaan, kemudian iapun dengan cepat-cepat keluar dari dapur, tapi pikirannya masih terbayang lekuk tubuh Dewi yang begitu indah sedangkan batang kemaluannya masih tegang, Yonopun segera menuju ke toilet, didalam toilet ia segera membuka celana panjangnya dan CDnya, CDnya sudah mulai basah dengan cairan beningnya, batang kemaluannya berdiri dengan gagah perkasa, sambil mulai mengocok batang kemaluannya dengan mata terpejam dan pikirannya yang mulai membayangkan tubuh Dewi yang indah dan sexy yang hanya berbalutkan bikini, Yono membayangkan ia mulai menjilati kedua payudara Dewi, sambil tangannya mengocok batang kemaluannya yang semakin mengeras, lenguhan dan desahan mulai keluar dari mulut Yono, belum pernah Yono melakukan self service seperti yang ia lakukan sekarang ini, tak lama berselang Yono merasakan desakan kuat di batang kemaluannya, batang kemaluannya mulai mengejut-ngejut, air maninya mulai menyemprot keluar dari batang kemaluannya, membasahi tembok toilet, Yonopun melenguh menikmati kocokan tangannya, matanya terpejam menikmati ejakulasi semunya, nafasnya yang memburu mulai mereda, seiring dengan tetes terakhir air maninya. Kemudian Yonopun mulai mencuci batang kemaluannya serta menyiram air maninya yang berlepotan di tembok toilet, setelah selesai menuntaskan hajat semunya Yonopun keluar dari toilet meneruskan minum kopinya, ada penyesalan dalam hatinya melakukan perbuatan tersebut, tapi apa daya hasrat birahinya sedang memuncak akibat melihat tubuh Dewi tadi dan tidak mungkin ia pulang kerumahnya untuk melakukan hubungan sex dengan istrinya. Yono merasa agak sedikit lemas setelah melakukan self service tersebut, sambil duduk di garasi Yonopun menikmati kopinya yang dari tadi belum sempat diminumnya, pikirannya masih memikirkan hal yang baru saja terjadi, ia tidak menyadari saat Narti mendekatinya.
Ehhhni orang dari tadi kerjaannya ngelamun melulu,kata Narti.
Ehhhhsiaappaa..yang ngelamun,jawab Yono kaget.
Udah jelas ngelamun, masih gak ngaku juga,kata Narti.
Tuh, dipanggil nyonya, cepetan ˜tar nyonya marah, baru tahu rasa,lanjut Narti.

Tergopoh-gopoh Yono masuk kedalam untuk menemui nyonya majikannya, tapi baru tiga langkah ia berhenti dan balik bertanya ke Narti.
Nyonya ada dimana? tanyanya ke Narti.
Ehh..nih orang betul-betul ngelindur, nyonya masih dikolam renang, cepetan entar ngomel, baru tahu rasa,jawab Narti
˜Ohh cerewet, nanyakan gak apa-apa, daripada kaga tahu mau kemana, sahut Yono.

Dengan segera Yono menghampiri nyonyanya yang sedang berada di kolam renang, setibanya di kolam renang ia melihat tubuh nyonyanya terbaring di kursi malas yang ada dipinggiran kolam renang, kedua matanya tertutup sementara tubuhnya yang hanya berbalutkan bikini terpampang dengan jelas di mata Yono, kembali Yono menelan ludah melihat pemandangan tersebut dari jarak yang sangat dekat, Yono memperhatikan kedua bukit payudaranya betul-betul sempurna, kedua puting susunya yang berwarna merah muda terbayang dengan jelas, turun kebawah ia melihat belahan vaginanya tercetak dengan jelas, ini akibat Dewi mengenakan bikini yang agak tipis apalagi bikini itu dalam keadaan basah, sehingga bayangan kedua puting susu serta belahan vaginanya tercetak dari balik bikininya tersebut, melihat semua itu batang kemaluan Yono kembali menegang dengan cepat, batang kemaluannya seolah mendesak ingin keluar dari balik celananya, celananya menggelembung menahan desakan kontolnya yang semakin membesar dan mengeras. Sesaat setelah puas menikmati pemandangan itu dengan suara agak sedikit serak Yono berkata kepada nyonyanya itu.
Buu..ibu..memanggil saya, kata Yono dengan suara sedikit serak dan agak terbata-bata.
Mendengar suara Yono, Dewi membuka matanya, saat ia membuka matanya yang terlihat olehnya adalah tonjolan diselangkang Yono, ia melihat celana Yono seolah membusung kedepan dan Dewi dapat memastikan bahwa batang kemaluan Yono sedang bangun.
Ohh..Yon, kamu jangan pulang dulu, nanti sore saya ada perlu keluar, jawab Dewi sambil matanya tetap terpaku kearah selangkangan Yono, batinnya bergumam sudah lama aku tidak menikmati kemaluanku disodok oleh batang kemaluan lelaki, tetapi kalau sekarang terlalu beresiko kalau dilakukan dirumah.
Baik, Bu, ada lagi, jawab Yono, sambil matanya tetap tidak mau lepas dari tubuh Dewi.
Cukup itu saja, kata Narti sambil kembali memejamkan matanya.
Dengan sedikit agak berat hati, Yono terpaksa meninggalkan tubuh Dewi, meninggalkan pemandangan yang sangat indah, yang tidak pernah terbayangkan oleh dirinya bahwa ia akan mendapat pemandangan tersebut, rasanya barusan Yono ingin segera menerkam tubuh Dewi, melucuti bikini Dewi dan memasukkan kontolnya kedalam lubang vagina Dewi dan menggenjotnya, meremas kedua payudaranya dan menjilati kedua putingnya yang berwarna merah muda. Tetapi akal sehatnya masih dapat mengalahkan nafsu birahinya sehingga Yono tidak melakukan hal tersebut, dengan langkah berat Yono kembali kegarasi, ia menuju kemobilnya dan merebahkan tubuhnya dikursi pengemudi, dengan memejamkan matanya Yono kemudian membayangkan pemandangan barusan, sampai akhirnya tanpa terasa iapun tertidur.

Dengan gemas Yono mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, mulutnya mulai bergantian menjilati kedua puting payudara Dewi yang berwarna merah mudah, dengan rakus Yono menjilati dan menghisap-hisap kedua puting tersebut bergantian. Sedang asyik-asyiknya Yono menjilati dan menghisap-hisap serta meremas-remas kedua payudara Dewi, Yono dikagetkan oleh suara yang memanggil-manggilnya.

Yon, Yon, ehhh..nich orang tidurnya seperti orang mati ajah, Narti berteriak-teriak membangunkan Yono.
Bangun..Yonbangun Yon.,kembali Narti berteriak membangunkan Yono.

Hhmmmhhhmmm.aduuuhhh, Yono kaget terbangun dari tidurnya, batinnya menjerit kurang ajar hanya mimpi rupanya padahal sedang seru-serunya menghisap dan meremas toket nyonyanya.

Adaaa apa..sich, orang lagi tidur kok diganggu,gumam Yono dengan nada kecewa karena mimpi indahnya diganggu.

Ehhh..marah..tuch..kata nyonya suruh siapin mobil soalnya nyonya mau pergi,sahut Narti ketus.

Apaa.sekarang jam berapa,Tanya Yono.

Jam 5, tidur melulu sich kerjaannya,Narti bersungut-sungut marah.

Ehhh..maafyach,sambung Yono sambil beranjak dari tidurannya lalu cepat-cepat ia ketoilet untuk membasuh mukanya.

Setelah membasuh mukanya, Yono kemudian melanjutkan membuang hajat kecilnya, agak sedikit susah karena kontolnya sedang tegang, ia melihat CDnya basah dan ujung kepala kontolnya masih meneteskan cairan beningnya, setelah hajat kecilnya tuntas ia salurkan, ia kembali kemobil dan mulai menyalakan mobilnya, tak lama berselang Dewi muncul dengan mengenakan rok hitam mini sedikit longgar, dengan belahan dada yang rendah dan bagian punggung yang terbuka, karena roknya model diikat ditengkuknya, sehingga bagian punggung dan pundaknya jadi terbuka, bagian dadanya terlihat membusung kalau lebih diperhatikan jelas-jelas Dewi tidak mengenakan BH itu terlihat dari kedua putingnya yang agak membayang diroknya, serta tidak ada tali BH dipundak ataupun dipunggung yang kelihatan.

Kemana kita, Bu, tanya Yono sambil kembali menelan ludah saat melihat ke Dewi yang agak sedikit membungkuk saat naik mobil, sehingga Yono dapat melihat dengan jelas payudara Dewi yang bergelantungan dengan indahnya.

Kita ke Mall ****, jawab Dewi.

Baik, Bu, sambil mengiyakan Yono mulai meluncurkan mobil ketempat tujuan.

Dalam perjalanan Yono kembali mencuri-curi pandang kearah Dewi lewat kaca spionnya, sementara Dewi sedang asyik membaca majalah, Yono sangat berharap ia dapat melihat kedua bukit kembar Dewi seperti yang ia lihat saat Dewi menaiki mobil, tetapi harapan hanyalah tinggal harapan, sampai di tempat tujuan Yono tidak beruntung dapat melihat kedua bukit kembar Dewi.

Yon, kamu tunggu saya,kata Dewi.

Baik, Bu, nanti kalau sudah selesai ibu panggil saya saja,jawab Yono.

Hhmmmm,Dewi mengiakan.

Yon, Ini buat makan,kata Dewi sambil memberikan uang 100ribu.

Ohh..makasih Bu,jawab Yono sambil menerima uang pemberian Dewi.

Kemudian Dewipun turun dari mobil dan masuk kedalam mall, sementara Yono mencari parkir, setelah memarkirkan mobilnya Yonopun keluar mencari makan. Selesai makan Yono kembali kemobilnya menunggu panggilan nyonyanya sambil kembali membayangkan tubuh Dewi yang aduhai terutama bagian payudaranya yang sudah secara sekilas ia melihatnya. Yono memang lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan para sopir yang menggosipkan majikannya, ia lebih senang menyendiri sambil membayangkan lekuk tubuh Dewi serta kedua bongkahan payudaranya yang indah menggelantung dibagian dadanya.

Sambil mengelus-elus batang kemaluannya yang kembali mulai menegang, maklum usianya masih usia yang tegangan tinggi, jadi hanya cukup dengan membayangkan saja batang kemaluannya langsung berdiri dengan tegak, pemandangan tadi kembali menari dipelupuk matanya, kedua bukit kembar Dewi begitu indahnya menggelayut seolah menanti untuk dijamah dan diremas, ia membayangkan seandainya ia dapat kesempatan untuk menikmati kedua payudaranya itu, dalam hatinya ia hanya menghela nafas, kesempatan itu mungkin tidak akan pernah terkabulkan.

Tapi Yono cukup puas dengan melihat dan membayangkan saja, karena ia masih segan dengan keluarga Hendro terutama dengan nyonyanya yang cantik dan sexy itu, nyonyanya itu menurut penilaian Yono selain cantik dan sexy juga sangat pengertian dan tidak pernah marah, tidak cerewet, menyuruhpun selalu dengan sopan, tidak pernah memandang rendah, tanpa terasa 4 jam sudah ia lewati sambil membayangkan tubuh dan kedua bukit kembar nyonyanya itu. Tiba-tiba HPnya berdering, dengan cepat Yono segera mengangkat HPnya setelah melihat yang memanggil adalah nyonyanya.

Iya, Bu, sahut Yono.

Yon, kamu ke pintu utama, saya menunggu disitu, jawab Dewi.

Baik, Bu, jawab Yono sambil langsung menstart mobilnya dan mengarahkan kepintu
utama.

Setibanya dipintu utama ia melihat Dewi sudah menunggu disana, dan ia melihat Dewi membawa banyak kantung belanjaan, Yono segera menepikan mobilnya dan segera turun untuk membantu Dewi memasukkan kantung belanjaan tersebut kedalam mobil, dengan cekatan kantung belanjaan yang banyak itu hanya dalam sekejap sudah masuk kedalam mobilnya, ditutupnya pintu belakang mobil tersebut dan ia segera duduk dibelakang kemudi, kemudian Yono mengarahkan mobilnya keluar area mall tersebut.

Yon, kita ke hotel x,kata Dewi.

Baik, Bu,jawab Yono, dalam hatinya bertanya-tanya, ini adalah luar biasa, nyonyanya mau pergi kehotel, yang setahu dia hotel ini adalah hotel short time, parkir mobilnya saja langsung dibawah kamar. Yono memang bingung dibuatnya, ada janji sama siapa nyonyanya ini.

Dewi sebetulnya sudah merencanakan semua ini dari rumah, ia yang sudah cukup lama
tidak mendapat sentuhan lelaki dan merasakan sodokan-sodokan di lubang vaginanya, semenjak ia melihat tonjolan diselangkangan Yono, gairah birahinya kembali membara, lubang vaginanya mulai merasa gatal ingin segera merasakan sodokan batang kemaluan lelaki dilubang vaginanya. Dengan pertimbangan yang matang akhirnya Dewi memutuskan untuk menikmati batang kemaluan Yono, kalau seandainya Yono setelah melakukan hubungan dengan dia mulai bertingkah macam-macam, Dewi akan segera memecatnya dan menggantinya dengan supir yang baru, tapi kalau Yono tidak bertingkah macam-macam, ia akan terus memperkerjakan Yono sambil sekali-sekali dapat merasakan sodokan-sodokan kontolnya.

Reception hotel tersebut berada diluar sehingga memudahkan orang untuk check-in tanpa perlu turun atau keluar dari mobil, setelah Dewi membayar sewa kamarnya, Dewi menyuruh Yono langsung kekamar yang diberikan oleh receptionist hotel, mobilpun meluncur kekamar hotel tersebut, dengan mengikuti petunjuk dari petugas hotel yang hampir setiap belokan ada, akhirnya mereka sampai di kamar tersebut. Yonopun memarkir mobilnya digarasi kamar tersebut, setelah petugas hotel menutup pintu garasi, Dewi segera turun dari mobil.

Ayo, Yon, kamu ikut saya,kata Dewi

Baaaikk, Bu,jawab Yono bingung.

Ada apa yach, kok nyonyanya menyuruh saya untuk ikut turun,batin Yono bertanya-tanya, tapi karena yang menyuruhnya adalah majikannya, Yonopun mengikuti Dewi, sambil terus bertanya-tanya dan menebak-nebak kenapa majikannya mengajak ia untuk turun dan mengikuti kekamar tersebut.

Duduk, Yon, kamu mau minum apa?Dewi berkata setibanya mereka didalam kamar.

Eh, apa saja Bu, jawab Yono masih dalam keadaan bingung.

Kemudian Dewi memesan minuman lewat telepon, tak lama berselang minuman tersebut datang, Dewi segera membayar minuman tersebut, dan menyerahkan salah satu minuman tersebut ke Yono.

Yon, saya minta kamu untuk menjaga rahasia ini, jangan sekali-sekali kamu cerita hal
ini kepada siapapun, seandainya saya mendengar kamu membocorkan rahasia ini, saya akan memecat kamu, tapi kalau kamu bisa menjaga rahasia ini, saya akan membuat kamu senang, kamu mengertikan,Dewi berkata dengan sedikit mengancam.

Baaikk..Bu, saya janji tidak membocorkan rahasia ibu kepada siapapun,jawab Yono

Bagus, saya akan memegang janjimu itu,kata Dewi

Ayo minum,kata Dewi.

Yono hampir tersedak saat meminum minumannya, ia sangat kaget dengan aksi Dewi didepan matanya, ia melihat kedua tangan Dewi dengan lemah gemulai menarik ikatan roknya yang berada ditengkuknya, dengan terlepasnya ikatan dibelakang tengkuk Dewi kedua tali rok tersebut segera meluncur turun dan membuat kedua payudara Dewi tidak tertutup apapun, Yono melihat kedua bukit kembar Dewi dengan mata terbelalak, dengan perlahan dan pasti kontolnya mulai berdiri, tak terbayangkan oleh Yono akhirnya ia dapat melihat dengan jelas kedua bukit kembar Dewi yang putih mulus, perasaannya berkecamuk antara bingung dan tidak percaya, rasanya ia seperti sedang bermimpi, Yono tidak menyangka hal ini akan terjadi.

Didepan mata Yono sekarang Dewi hanya mengenakan CD saja, bentuk tubuh Dewi yang sexy dan kulit yang putih mulus membuat Yono menelan air liurnya berkali-kali,
mulutnya terbuka lebar, matanya melotot melihat itu semua. Dalam hatinya ia merasa beruntung sekali dapat menikmati pemandangan ini, kalau hal seperti ini yang harus dijaga kerahasiaannya sudah pasti ia akan menjaga rahasia ini sampai mati.

Dewi yang masih mengenakan CDnya mulai menghampiri Yono yang masih terkesima, diambilnya gelas ditangan Yono dan menaruhnya dimeja, kemudian Dewi menarik tangan Yono untuk berdiri dan menuju kearah tempat tidur, didorongnya tubuh Yono sehingga terlentang diatas tempat tidur, tanpa basa-basi lagi Dewi mulai melucuti celana Yono beserta CDnya, barang pusaka Yono yang sudah tegang terpampang didepan matanya saat Dewi menarik CD Yono, Dewi mulai mengelus-elus batang kemaluan tersebut, bau khas dari batang kemaluan lelaki tercium oleh Dewi membuat dewi semakin bergairah, dengan tangan masih mengelus-elus batang kemaluan tersebut, lidah Dewi mulai bermain dengan lincah menjilati kepala kontolnya, sambil sekali-sekali batang kemaluan tersebut dia kulum-kulum, Yono mendesah kenikmatan, batinnya berkata mimpi apa aku semalam, sehingga kontolku diselomoti dan dijilati oleh nyonyanya yang cantik dan sexy.

Ooohhhooohhhssshhhhaahhhh,Yono mendesah kenikmatan, matanya merem melek akibat selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya.

Yono betul-betul beruntung, bukan saja ia dapat menikmati pemandangan tubuh nyonyanya yang sexy dan mulus secara nyata, tapi ia dapat merasakan bibir nyonyanya yang lembut sedang mengulum-ngulum kontolnya, selama ini ia hanya dapat membayangkan tubuh nyonyanya saja, saat menunggu, saat bermimpi ataupun saat bermain dengan istrinya, tidak pernah bermimpi ia akan merasakan kuluman bibir nyonyanya ini.

Yono hanya dapat terbaring pasrah menikmati kuluman mulut Dewi dikontolnya, Yono hanya dapat mengangkat pantatnya saat kontolnya itu berada dalam kuluman mulut Dewi, Yono belum berani melakukan hal yang lebih dari itu, tangannyapun belum berani menyentuh rambut dan kepala Dewi, yang dapat ia lakukan hanya meremas sprei tempat tidur saja, dan mulutnyapun hanya mengeluarkan desahan-desahan saja serta lenguhan-lenguhan nikmat.

Yono memang sudah dari tadi sore menahan hasrat nafsunya saat membayangkan tubuh Dewi, dan kontolnya sudah dari tadi ingin merasakan lubang vagina dan gairah birahinya sudah memuncak dari tadi, sehingga saat Dewi mulai mengulum-ngulum serta menjilati dan mengocok kontolnya, Yonopun tidak bertahan lama dengan serangan Dewi tersebut, puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh, pendakian bukit kenikmatannya hampir sampai, dengan tubuh yang mengejang dan dengan pantat terangkat seolah menyambut mulut Dewi untuk lebih dalam lagi mengulum kontolnya.
Aaaaahhhhh.Buuuaaaakkuu tidak taahannlaaagiaakuuukheeeluuarrrooohhh ssshhhaaaahhh,Yono melenguh menikmati puncak kenikmatannya.
Cccrrreeetttt..ccreeeettt.cccrreeeetttccreeeett tt. kontolnya menyemprotkan air maninya kewajah Dewi, Dewi merasakan hangatnya sperma Yono membasahi wajahnya, batang kemaluan Yono mulai Dewi usap-usapkan kewajahnya yang sudah berlepotan air mani Yono, sehingga seluruh wajahnya penuh dengan sperma Yono, seiring dengan semprotan terakhir dari kontolnya Yono, Dewi kembali memasukkan batang kemaluan tersebut kedalam mulutnya dan menghisapnya, sehingga membuat Yono mengejang merasakan nikmat yang sangat luar biasa saat kontolnya menyemprotkan tetes terakhir air maninya tersebut, belum pernah selama ini Yono merasakan nikmat yang sangat hanya dengan kuluman mulut saja, entah karena dia memang selalu membayangkan Dewi atau karena hebatnya permainan mulut Dewi.

Batang kemaluan Yono sudah tidak tegang lagi, Dewipun beranjak dari selangkangan Yono, ia mulai membuka celana dalamnya, sehingga tubuhnya yang indah sekarang menjadi polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh sexynya, Dewipun mulai berjongkok diwajah Yono, kedua tangannya berpegangan diranjang bagian atas, Yono langsung mengerti apa yang dikehendaki oleh nyonyanya ini, Yonopun mulai menjilati itil Dewi, aroma kemaluan Dewi sungguh berbeda dengan aroma kemaluan istrinya, dengan penuh nafsu Yono menjilati, menciumi dan menghisap itil Dewi, terdengar suara decakan keluar dari mulut Yono saat mulutnya menghisap dan menjilati bibir kemaluan dan itil Dewi. Dewipun dibuat melenguh keenakan, Yonopun sudah mulai berani untuk menjamah kedua bongkah pantat Dewi dan mulai meremas-remasnya. Dewipun mulai menikmati jilatan dan hisapan Yono dikemaluannya, Dewipun mengimbangi permainan lidah dan mulut Yono dengan memaju-mundurkan pantatnya sehingga kelentitnya lebih bergesekan dengan lidah dan mulut Yono, Yono merasakan pantat Dewi kadang-kadang mengejut-ngejut saat mulutnya menghisap itilnya Dewi.

Lenguhan dan desahanpun mulai terdengar keluar dari mulut Dewi, sementara suara decakan Yono semakin bertambah sering terdengar, ssslrrrrppppsssllrrppppssslrrrppp tidak puas dengan hanya menjilat dan menghisap saja Yono mulai dengan aksi jari tangannya yang mulai menerobos lubang kenikmatan Dewi, pertama-tama hanya jari tengahnya saja yang mengocok vagina Dewi, lama-lama jari manisnya ia masukkan juga kedalam lubang vagina Dewi, membuat Dewi bertambah kelojotan menikmati sensasi jari-jari tangan Yono dan mulut Yono. Jari tangan Yono semakin aktif keluar masuk dilubang vagina Dewi, biarpun Yono hanya seorang supir tapi soal oral seks Yono betul-betul ahli, ditambah dengan permainan jari tangannya yang seperti pemain film BF, betul-betul membuat Dewi bergelinjang menikmati permainan oral seks dan jemari Yono divagina dan kelentitnya.

Hhmmmhhhaaaahhh.teruuusssooohhhteruuusssYooo nnnkamu heeebaat. Aaahhhkocok memekkkuuu.hisaapp itilkkuuuooohhh yaahhh., Dewi melenguh keenakan menikmati permainan jari Yono dan hisapan-hisapan Yono di kelentitnya.

Yono semakin bertambah semangat mendengar erangan-erangan nikmat dewi, permainan mulut dan jari tangannya semakin bertambah menggila, membuat Dewi semakin menggelinjang keenakan, Dewi belum pernah merasakan nikmat seperti ini saat seseorang melakukan oral seks kepadanya, Dewipun merasa kagum kepada Yono yang dapat memberikan kenikmatan hanya dengan oral seks.

Uugghhhaaaaahhhh.ooohh..nikmmaatttaaakuu tidak tahan lagiaaahhh terus Yooon, akuu mauu keluar,Dewi menjerit kenikmatan saat dirinya mencapai puncak kenikmatannya.

Sssrrrrrssrrrrssrrrrlubang kemaluan Dewi menyemprotkan cairan kenikmatannya, Yono yang merasakan memek Dewi semakin basah semakin bertambah cepat mengocok jari tangannya dilubang vagina Dewi dan mulutnya semakin bertambah kuat menghisap itil Dewi, sehingga membuat Dewi semakin blingsatan menikmati sensasi puncak kenikmatannya, tubuhnya mengejang pantatnya mengejan-ejan, pegangan tangannya semakin mencengkram kuat.

Aaaggghhheeeddaaannnikmat sekaliOoouughhhhYoonn, kamu betul betuull hebattttt.ssshhh.aaaaahhh, Dewi mengerang.

Dengan nafas yang masih terengah-engah Dewi merebahkan tubuhnya disamping Yono, ia melihat batang kemaluan Yono sudah berdiri dengan gagahnya, Dewi terkesima melihat hal itu, hatinya membatin cepat juga pulihnya padahal belum terlalu lama dia barusan menyemprotkan spermanya, Yono sendiri bingung merasakan kontolnya sudah ngaceng lagi, biasanya sehabis berhubungan dengan istrinya kontolnya sudah tidak mau bangkit lagi, sementara saat ini kontolnya itu sudah berdiri dengan gagahnya siap untuk mengaduk-aduk lubang kenikmatan Dewi, tapi Yono tidak mau lancang terhadap nyonyanya ini, sebelum Dewi memintanya untuk menyodokkan kontolnya kememek Dewi, Yono hanya diam pasrah saja, hanya matanya yang berani melirik ketubuh Dewi, Yonopun tidak mau membuang kesempatan untuk menikmati pemandangan itu, karena dalam pikirannya kapan lagi aku dapat memandangi tubuh telanjang nyonyanya ini.

Dewi termasuk wanita yang selalu haus akan seks, dirinya selalu haus akan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki, apalagi sekarang ini Dewi sudah lama tidak merasakan batang kemaluan lelaki menyodok memeknya, tidak ada yang mengira bahwasanya Dewi adalah wanita yang haus akan seks, dari wajahnya tidak Nampak bahwasanya Dewi adalah wanita yang binal, Yono sendiri heran akan tingkah nyonyanya yang mengajaknya bermain seks di hotel, ia juga tidak menyangka sama sekali nyonyanya sangat agresif, dari pernampilannya tidak nampak bahwa Dewi akan melakukan hal tersebut, tapi Yono tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut, buatnya yang penting ia dapat menikmati tubuh nyonyanya, walaupun baru hanya dapat menjilati memeknya saja.

Selang beberapa saat, Dewi mulai beranjak menaiki tubuh Yono yang masih terlentang, diraihnya batang kemaluan Yono, diusap-usapkannya kepala kemaluan itu ke vaginanya, Dewi merasakan kontolnya Yono sangat keras sekali, kelentitnya terasa geli oleh sentuhan kepala kemaluan Yono, Dewi mendengus kegelian, Yono sendiri merasakan kegelian saat kepala kontolnya tersentuh dengan bibir vagina Dewi, beberapa kali Dewi mengusap-usapkan kepala kemaluan tersebut kebibir vaginanya, membuat Dewi menggelinjang sendiri, lubang vaginanya mulai terasa gatal kembali ingin segera digaruk oleh kontolnya Yono, Yono juga tidak tahan dengan rasa geli yang ia rasakan pada ujung kepala kontolnya, ingin rasanya ia memasukkan cepat-cepat kontolnya ke memek Dewi, tapi agar tidak dibilang lancang Yono hanya dapat diam pasrah, mengikuti irama permainan nyonyanya ini.

Satu tangan memegangi batang kemaluan Yono, sambil terus mengoles-oleskan kebibir vagina dan kelentitnya, satu tangan lagi mulai menguakkan bibir vaginanya, Yono hanya dapat melihat tingkah polah nyonyanya ini, dan ia juga melihat bibir vagina Dewi mulai terkuak, lubang kenikmatannya mulai terpampang dihadapan matanya, Yono hanya dapat menelan ludah melihat itu semua, ia hanya bisa diam mengikuti irama permainan Dewi, tapi hatinya resah ia ingin sekali merasakan kontolnya dijepit oleh lubang kenikmatan Dewi, ingin rasanya ia mengaduk-aduk lubang tersebut dengan kontolnya yang sudah sangat tegang itu.

Pucuk dicinta ulam tiba, penantian yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, dengan perlahan-lahan Dewi mulai mengarahkan kepala kemaluan Yono kelubang vaginanya, diselipkan kepala kemaluan itu dibibir vaginannya, dengan perlahan-lahan Dewi mulai menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Yono dengan perlahan tapi pasti mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Dewi.

Sleeeeppp..bleessssblessss..blesssss perlahan tapi pasti batang kemaluan Yono tertelan oleh lubang vagina Dewi sehingga tidak terlihat lagi, Yono melihat kontolnya masuk perlahan-lahan di memek Dewi, Yono melihat sekarang jembutnya dan jembut Dewi bertemu saat kontolnya tertelan seluruhnya oleh memek Dewi.

Dewi merasakan batang kemaluan Yono memenuhi rongga vaginanya, dan ia juga merasakan kelentitnya bersentuhan dengan jembut Yono, dengan memejamkan mata Dewi mulai memutar pantatnya dengan perlahan, Dewi merasakan lubang memeknya seperti diaduk-aduk oleh kemaluan Yono, sementara Yono sendiri merasakan kontolnya seperti dipilin-pilin oleh dinding vagina Dewi, lenguhan dan desahan mereka mulai terdengar bersahutan, Dewi juga merasakan sensasi yang sangat luarbiasa saat kelentitnya bergesekan dengan jembut Yono, tangannya segera meraih kedua tangan Yono, ditariknya tangan Yono kearah dadanya, kedua telapak tangan Yono didaratkannya dikedua bukit kembarnya, dan mulai digerakkannya, seolah ia menyuruh Yono untuk meremas kedua payudaranya, Yono yang memang dari awal ingin sekali meremas tetek Dewi tanpa membuang waktu segera meremas-remas kedua bukit kembar tersebut, remasan-remasan lembutnya penuh nafsu birahi, matanya menatap kedua bukit kembar itu yang berada dalam cengkramannya, tapi kedua bukit kembar tersebut cukup lumayan besar sehingga kedua telapak tangannya tidak dapat menutupi kedua bukit kembar tersebut.

OooohhhsshhhaaahYon, kontolmu, enaaakssshhhaaaahhh, desah Dewi sambil terus memutar pantatnya.

Desahan, erangan dan lenguhan Dewi semakin sering terdengar, pantatnya bergantian aksinya antara berputar dan maju mundur, kadang-kadang pantat Dewi berputar memilin-milin batang kemaluan Yono, kadang-kadang gerakannya maju mundur, saat pantatnya bergerak maju mundur Dewi merasakan kelentitnya bertambah gatal karena bergesekan dengan jembut Yono, belum lagi remasan-remasan tangan Yono yang penuh nafsu dikedua bukit kembarnya, semua itu menambah sensasi persetubuhan mereka.

Yono hanya dapat mengerang-ngerang keenakan merasakan kontolnya berada dalam jepitan memek Dewi, kadang-kadang ia merasa kontolnya sedang dipilin-pilin oleh dinding vagina Dewi, kadang-kadang ia merasakan kontolnya keluar masuk di vagina Dewi, remasan tangannya semakin menggila di payudara Dewi, sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, kedua puting susu Dewi semakin mengeras dan mencuat kedepan.

Hhhmmmmaaaaaggghhssshhhooohhh,erang Yono menikmati persetubuhan ini.

Dewi semakin menggila memaju mundurkan pantatnya, dengan tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya kebelakang, seolah-olah ia ingin kontolnya Yono semakin dalam menerobos kedalam lubang vaginanya.

OoouuggghhhYon, aakuukeeeluuaaarrr.sssshhhhaaaaaggghhhooohhh, Dewi mengerang merasakan letupan birahinya yang menerobos keluar dari lubang vaginanya.

Sssrrrrsssr.ssrrrr..cairan kenikmatan Dewi menyemprot membasahi batang kemaluan Yono.

Akkkuu..jugaa.mau keluuaar..Buooouugghhh,Yono pun mengerang, kontolnya menyemprotkan lahar kenikmatannya kedalam lubang vagina Dewi.

Crrreeettt.,creeettttcreettt..sperma Yono membasahi lubang vagina Dewi, Dewi merasakan hangat didinding lubang vaginanya saat sperma Yono menyemprot, dan ia juga merasakan batang kemaluan Yono berkedut-kedut, sementara itu Yono merasakan kontolnya seperti diremas-remas oleh dinding vagina Dewi.

Dewipun ambruk, tubuhnya tertelungkup diatas tubuh Yono, ia merasakan batang kemaluan Yono masih berdenyut-denyut, Yono yang terbaring pasrah dengan tubuh Dewi yang tertelungkup diatasnya masih merasakan detik-detik kenikmatannya, Yono merasakan kontolnya masih berdenyut-denyut meneteskan tetes-tetes spermanya dan ia juga masih dapat merasakan denyutan dinding vagina Dewi.

Perlahan-lahan batang kemaluan Yono mulai menciut dan terlepas dari jepitan vagina Dewi, sementara nafas mereka berdua masih tersengal-sengal, Dewi merasakan saat kontolnya Yono mulai terlepas dari jepitan vaginanya itu dan ia juga merasakan sperma Yono mulai mengalir keluar dari lubang vaginanya.

Tak lama kemudian Dewi beranjak bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh, setelah Dewi selesai membersihkan tubuhnya, Yonopun beranjak untuk membersihkan kontolnya, Yono melihat kontolnya berkilat akibat basah oleh cairan kenikmatan Dewi, saat keluar dari kamar mandi Yono melihat Dewi sudah mengenakan roknya kembali, dengan segera ia juga mengenakan pakaiannya.

Ingat, Yon, kamu jangan membocorkan rahasia ini, kata Dewi.

Baik, Bu, jawab Yono sambil mengenakan pakaiannya.

Setelah selesai mereka berdua kembali kemobil dan meluncur pulang, jam menunjukkan pukul 12 malam, saat mereka tiba dirumah, Dewipun masuk kedalam rumah sambil kembali mengingatkan Yono untuk bias menjaga rahasia, Yonopun mengiyakan, selesai memarkir mobil digarasi, Yonopun beranjak pulang dengan senyum bahagia tersungging dimulutnya, dalam perjalanan pulang ia membayangkan kejadian yang baru saja dia alami. Hatinya bergumam hari ini adalah hari keberuntunganku, hari ini aku dapat menikmati tubuh nyonyaku yang sexy dan indah tersebut secara nyata tanpa perlu membayangkan. Mudah-mudahan nyonyanya masih mau meminta ia untuk menyetubuhinya, sehingga ia dapat merasakan kembali keindahan tubuh nyonyanya terutama memek nyonyanya yang enak luarbiasa.

TAMAT


Hari ini Hendro kembali menjejakkan kakinya di Jakarta, dari airport ia langsung menuju kekantornya, dalam perjalanan menuju kekantornya ia menelepon istrinya memberitahukan bahwa ia sudah berada diJakarta dan sedang dalam perjalanan menuju kekantornya, ia menjelaskan kepada istrinya bahwa kepulangannya memang mendadak karena ada pertemuan dengan kliennya diJakarta. Dewipun hanya mengiyakan saja tanpa memberikan komentar apapun, batinnya berkata ada di Jakarta ataupun tidak ada di Jakarta tidak ada pengaruhnya untuk dia, karena selama ini Hendro tidak pernah memberikan nafkah bathin untuknya, ia selalu mendapatkan nafkah bathin dari orang lain, jadi kalau Hendro di Jakarta malah membuat sulit Dewi untuk melakukan aktivitas seksnya.

Rencana Dewi hari ini untuk menikmati batang kemaluan Yono lagi menjadi batal karena telpon suaminya tadi, sementara ia merasakan lubang vaginanya sudah gatal ingin digaruk oleh kontolnya Yono, tapi apa daya suaminya ada di Jakarta, Dewi takut saat dia melakukan persetubuhan dengan Yono dan saat itu juga suaminya menelpon atau suaminya pulang lebih awal, bisa kacau nanti semuanya, akhirnya Dewi membatalkan rencananya untuk pergi keluar pada hari ini, hatinya berkata biarlah akan kutunggu sampai suaminya pergi keluar kota lagi, baru kupuaskan dahaga bathinku ini.

Siangnya Dewi betul-betul gelisah, dia betul-betul ingin sekali merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki, karena menahan desakan hasrat birahinya, kedua pipi Dewi memerah, Dewi saat itu sedang duduk santai di ruang keluarga menonton TV tanpa sadar tangannya mulai mengusap-usap bibir vaginanya dari balik CDnya, saat itu Dewi mengenakan baju model baby doll, roknya sedikit terangkat sehingga CD putihnya terlihat dan pahanya yang putih mulus pun terlihat dengan jelas, Dewi yang sedang asyik masyuk tidak menyadari hal itu, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah batang kemaluan lelaki yang tegang dan besar.

Usapan tangannya di kelentitnya membuat vaginanya mulai basah, Dewi mulai mendesah perlahan, menikmati belaian lembut tangannya di kelentit dan dibibir vaginanya, tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH silih berganti diremas-remas oleh tangan kirinya, ia membayangkan Yono sedang meremas-remas kedua payudaranya silih berganti dan ia juga membayangkan saat itu Yono juga sedang menjilati kelentit dan vaginanya, vaginanya semakin basah, hasrat birahinya semakin memuncak.

Ruangan keluarga itu letaknya cukup berjauhan dengan dapur dan ruang makan, jika sedang berada didapur atau diruang makan kegiatan apapun yang terjadi diruang keluarga tidak akan terlihat dari dapur atau ruang makan, begitu pula sebaliknya, dan para pembantunya bila sudah selesai bebenah diruangan keluarga atau diruangan lainnya, mereka akan berkumpul diruangan mereka, karena Hendro telah menyediakan ruangan untuk menonton TV bila pekerjaan mereka sudah selesai, ruangan mereka terletak dekat dengan kamar mereka yaitu dekat dengan garasi mobil, jadi kegiatan Dewi saat ini tidak ada satu orang pun yang melihatnya.

Gejolak birahi Dewi semakin meningkat, desahannya semakin sering terdengar, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH sudah tidak tertutup apa-apa lagi, kedua putingnya sudah mengeras dan mencuat keluar, CDnya sudah melorot sampai paha, dan terlihat jari tengah tangan kanannya sudah berada dalam jepitan vaginanya, dan terlihat jari tengahnya sedang keluar masuk di lubang vaginanya, terlihat pantatnya naik-turun dari kursinya seiring dengan keluar masuk jari tengahnya.

Dewi yang sedang berusaha keras untuk mencapai puncak birahinya tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang menyaksikan aksinya, kedua bola mata yang menyaksikan tingkah Dewi itu terbelalak, jantungnya berdegup kencang nafasnya memburu, pemandangan yang disaksikan oleh pemilik kedua bola mata itu, yang dalam mimpinyapun tidak pernah terbayangkan olehnya, kedua payudara Dewi yang setengah terbuka dan kelihatan kedua putingnya dan sedang diremas-remas bergantian oleh tangan kirinya, kemudian dibawah ia melihat belahan bibir vagina Dewi yang kadang terlihat dan kadang tidak terlihat karena jari tengah tangan kanan Dewi sedang keluar masuk dilubang vaginanya itu, semua itu membuat si empunya mata tersebut berkali-kali menelan ludah, seumur hidupnya belum pernah ia menyaksikan pemandangan indah seperti ini.

Si empunya mata merasakan kontolnya mulai mengeras melihat semua itu, hampir tanpa berkedip kedua matanya tertuju ketubuh Dewi, nafasnya semakin memburu melihat ulah Dewi, tubuh Dewi terlihat olehnya meregang-regang, kontolnya semakin mengeras, terlihat celana pendeknya menggelembung oleh desakan kontolnya yang seolah ingin keluar dari sekapan celana pendeknya, pada saat kepala Dewi mendongak kebelakang, kedua matanya yang setengah terpejam menangkap sesosok tubuh siempunya mata tadi, Dewi sungguh kaget sekali karena ada orang yang sedang menyaksikan ulah liarnya tersebut, aksi liar kedua tangannya berhenti seketika.

Ehhh, Ponoaddaaaaaapaaasedaang apa kamuuu, Dewi berkata dengan terengah-engah, kaget dan jengkel karena puncak birahinya tidak terlampiaskan.

Eeehhhaaanuuuu..aaanuuubu, Pono kaget mendengar teguran Dewi, karena saat itu dirinya sedang asyik melihat aksi nyonyanya tersebut.

Biarpun kaget tapi kedua mata Pono tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Dewi yang masih agak terbuka, hal ini tidak Dewi sadari karena ia kaget dengan kehadiran Pono diruangan tersebut, yang hanya Dewi ingat lakukan saat ia berdiri dari kursinya tadi adalah CDnya yang ia benahi, sehingga saat ia berdiri berhadapan dengan Pono kedua payudaranya yang putih mulus itu masih terpampang dengan jelas dihadapan Pono.

Anu..anu apa,Dewi berkata kepada Pono dengan jengkel, karena malu dan karena gejolak birahinya tidak terlampiaskan.

Eeehhhini..ini..,Bu. Sayaamau minta uang untuk beli bahan pembersih kolam, yang kita punya sudah habis, Pono menjawab agak tergagap-gagap, dengan kedua matanya tetap tertuju kearah payudara Dewi yang seolah-olah menantang ingin diremas.

Pon, apa yang kamu lihat tadi, jangan sampai ada orang lain yang tahu, kalau sampai ada yang tahu, kamu saya pecat, ancam Dewi, dan saat itu kedua mata Dewi melirik kearah selangkangan Pono, dan ia melihat tonjolan di celana pendek Pono, Dewi tahu bahwa kontolnya Pono sudah pasti sedang berdiri dengan gagahnya di balik celana pendeknya itu.

Hati Dewi mulai ragu antara ingin menikmati sodokan batang kemaluan lelaki dengan takut akan suaminya pulang lebih awal, ia melirik jam dinding yang ada diruangan tersebut, pukul 1.30 siang, hatinya membatin suaminya tidak mungkin pulang cepat, ia bisa melakukan quickie sex dengan Pono untuk meraih puncak kenikmatannya yang terganggu. Akhirnya nafsu birahinya mengalahkan akal sehatnya, Dewipun mengambil keputusan untuk merasakan batang kemaluan Pono mengaduk-aduk lubang vaginanya.

IyyaaaBu..saya sumpah tidak akan cerita ke orang lain,Jawab Pono ketakutan.
Pono betul-betul merasa ketakutan dan merasa bersalah dengan kelakuannya yang melihat tubuh Dewi yang setengah telanjang, tapi kedua matanya tidak pernah beranjak dari payudara Dewi yang menggantung dengan indahnya, payudara Dewi yang putih mulus dihiasi oleh kedua putingnya yang merah muda dan sudah menyembul keluar dan mengeras itu.

Setelah menimbang-nimbang dengan segala kemungkinannya, Dewipun mengambil keputusan untuk melakukan quickie sex dengan Pono, lalu iapun memerintahkan Pono untuk duduk di sofa.

Duduk, kamu, perintah Dewi.

Pono menuruti perintah Dewi untuk duduk, iapun duduk di sofa yang ditunjuk oleh Dewi, dengan hati penuh kebingungan dan dengan tatapan mata yang tidak pernah terlepas dari payudara Dewi.

Ingat kamu jangan cerita kepada siapapun, cukup hanya kita berdua yang tahu masalah ini, hhhmmm .., ancam Dewi kembali sambil berjalan menghampiri yang sudah duduk di sofa, tanpa membuang waktu Dewipun mulai menurunkan celana pendek Pono sampai ke lutut.

Batang kemaluan Pono yang sudah tegang terangguk-angguk saat celana pendeknya terlepas, ternyata Pono pada saat itu tidak mengenakan CD, Dewi kaget karena ia tidak menyangka bahwa Pono tidak mengenakan CD, kontolnya yang sudah sangat tegang sekali teracung-acung dihadapannya.

Ingat, Pon, apapun yang terjadi kamu jangan cerita kepada siapapun,kembali Dewi berkata.

Iyaah..busaaayyyaaa.jaanji,jawab Pono gagap, karena ia kaget akan aksi nyonyanya ini yang membuka celana pendeknya, ia sendiri bingung, dalam hatinya berkata apa yang dikehendaki oleh nyonyanya ini, karena belum pernah selama ini ada perempuan yang melihat kontolnya apalagi dalam keadaan tegang, Ponopun merasa malu karena nyonyanya sudah melihat kontolnya yang tegang itu.

Tangan kanan Dewi segera meraih batang kemaluan Pono, iapun segera mengangkang diatas pangkuan Pono, sementara tangan kirinya meraih CDnya dan menarik salah satu pinggiran CDnya kesamping, sehingga belahan bibir vaginannya terlihat dengan jelas oleh Pono, Pono yang belum pernah melakukan hubungan badanpun dibuat bingung oleh aksi Dewi, dan saat Dewi mulai mengoles-oleskan kepala kontolnya kebibir vaginanya, Pono merasakan geli yang aneh saat kepala kontolnya bersentuhan dengan bibir vagina Dewi, kontolnya berdenyut-denyut, tanpa membuang waktu Dewi segera menyelipkan batang kemaluan tersebut di bibir vaginanya dan ia mulai menekan pantatnya kebawah dengan perlahan dan batang kemaluan Pono perlahan-lahan menyeruak masuk di lubang vagina Dewi.

Ssleeeepppp..bleeessss.bleeesss..bleesss dengan perlahan-lahan kontolnya Pono mulai melesak masuk di lubang memek Dewi dan akhirnya terbenam seluruhnya, Pono merasakan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah ia alami selama ini, rasa geli yang aneh menyelimuti dirinya, saat kontolnya terjepit dalam lubang memek Dewi, Pono merasakan kontolnya seperti ada yang meremas-remas.

Ooouuuggghhhh.., Dewi melenguh saat lubang memeknya diterobos oleh kontolnya Pono.

Eeeeggghhhh.., Ponopun mengerang merasakan jepitan lubang vagina Dewi di kontolnya.

Dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kepala sofa, Dewi perlahan-lahan mulai bergerak, menaik turunkan pantatnya, kedua payudaranyapun terguncang naik turun seiring dengan naik turun pantatnya, Pono yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa melotot melihat kedua payudara Dewi yang terombang-ambing dihadapan matanya.

AaagghhheenaaakkkPon, kaamuuujangan melongo..saaaajjaaooogghhh hisap kedduaaatetekku remaaassss.remaaasss,Dewi mendesah keenakan.

Pono yang mendengar perintah Dewi mulai melakukannya, kedua tangannya mulai meraih payudara Dewi yang sedang terombang-ambing itu, lalu ia meremas kedua payudara tersebut, karena belum pernah ia melakukan hal tersebut, Dewi merasakan remasan tangan Pono di kedua payudaranya agak kasar, tapi sensasi yang ditimbulkan oleh remasan kasar tangan Pono membuat Dewi merasakan hal baru, gairah birahinya yang sempat tertunda tadi mulai meningkat lagi, mulut Ponopun mulai bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi, hisapan-hisapan mulut Ponopun tidak beraturan, Pono betul-betul menghisap tetek Dewi seperti ia menyedot minuman, akibatnya Dewi kembali merasakan sensasi yang berbeda daripada biasanya, hisapan-hisapan kuat Pono pada kedua teteknya membuat ia menggelinjang, Dewipun merasakan geli yang aneh dikedua payudaranya tersebut.

Pono yang belum pernah melakukan seks ini, merasakan kenikmatan yang luar biasa, kenikmatan yang belum pernah ia alami selama ini, mulutnya mendesah-desah ditengah kesibukkannya menghisap-hisap payudara Dewi, matanya merem melek menikmati jepitan lubang vagina Dewi pada kontolnya, Pono merasakan kontolnya bergesekan dengan lubang vagina Dewi, ia merasakan geli yang luar biasa, kontolnya semakin berdenyut dengan kuat dan semakin menegang, Dewi merasakan kontolnya Pono yang semakin mengeras, Dewi merasakan kontolnya Pono begitu tegang dan keras, dinding lubang vaginanya merasakan kekerasan kontolnya Pono tersebut, cairan birahinya semakin banyak bercampur dengan cairan birahinya Pono, akibatnya suara berdecak dari pertemuan dua kemaluan merekapun terdengar, menambah semangat Dewi untuk menaik-turunkan pantatnya, Dewi sudah lupa akan kemungkinan suaminya pulang cepat, yang ada sekarang ini Dewi betul menikmati sodokan-sodokan batang kemaluan Pono di memeknya.

Tak lama berselang Pono melenguh keras, kontolnya berdenyut dengan keras, kontolnya mulai menembakkan air maninya,
Crreeeettt.creeettt.creeett. air mani Pono berhamburan keluar membasahi lubang vagina Dewi.

Ouuuuggghhh.hhhmmmmmhhh.sssllrrpppppssslrrrppp p.hhhmmm.., Pono melenguh merasakan letupan-letupan lahar kenikmatannya yang sedang mengalir dari kontolnya membasahi memek Dewi sambil mulutnya tetap menghisap-hisap tetek Dewi.

Dewi merasakan letupan-letupan air mani Pono di dinding vaginanya, ia tahu Pono sudah meraih puncak kenikmatannya, Dewipun semakin gencar menaik turunkan pantatnya, ia merasa takut akan tidak berhasil meraih puncak kenikmatannya, karena kontolnya Pono sudah menyemburkan lahar kenikmatan, ia merasa takut bahwa sebentar lagi batang kemaluan Pono akan melemas setelah menyemburkan cairan kenikmatan itu.

Oouuugghhaaagghhh.ssshhhh..aaagghhhsssshhhhaa aaghhhh.. , Dewi mendesah keenakan merasakan lesakan batang kemaluan Pono divaginanya dan merasakan hangat di dinding vaginanya akibat semburan air mani Pono.

Pono merasa lemas saat kontolnya menyemburkan tetes terakhir cairan kenikmatannya dilubang vagina Dewi, tapi mulut Pono masih tetap menghisap-hisap payudara Dewi, kontolnya masih berdenyut-denyut, Dewi yang merasakan batang kemaluan Pono tidak menyemburkan cairan kenikmatannya lagi, merasa kaget karena kontolnya Pono tidak mengalami perubahan, Dewi merasakan kontolnya Pono masih keras dan tegang, biasanya batang kemaluan lelaki perlahan-lahan akan menciut setelah melepaskan cairan kenikmatannya, tapi tidak untuk kontolnya Pono, kontolnya Pono sudah berhenti mengeluarkan cairan kenikmatan tapi Dewi masih merasakan keras dan tegang.

Pono yang berhasil meraih puncak kenikmatannya, dalam sekejap sudah kembali pulih, perlahan-lahan gairah birahinya kembali bangkit, dengan semangat 45 hisapan
dan remasan di payudara Dewi semakin gencar, ia hanya merasakan sedikit ngilu di kepala kontolnya, tapi lama-lama rasa ngilu itu hilang berganti dengan rasa nikmat, Pono memang belum berpengalaman dalam hal bersetubuh, tapi stamina tubuhnya terutama kontolnya, betul-betul membuat takjub Dewi.

Dewipun semakin gencar menaik-turunkan pantatnya, dari lubang vaginanya perlahan-lahan keluar cairan putih yang bercampur dengan cairan bening, cairan itu
keluar seiring dengan keluar masuknya batang kemaluan Pono di lubang vaginanya, lenguhan-lenguhan nikmat semakin sering terdengar dari mulut Dewi, sementara dari mulut Pono hanya terdengar dengusan-dengusan keenakan karena mulutnya masih sibuk dengan kedua payudara Dewi.

Kedua manusia berlainan jenis ini sudah lupa dengan keadaan sekitarnya, yang mereka tahu hanyalah nikmatnya persetubuhan mereka ini, Dewipun sudah tidak perduli akan kemungkinan suaminya pulang lebih cepat, yang ia perdulikan hanyalah meraih puncak kenikmatannya, yang ia perdulikan hanyalah kontolnya Pono yang sedang keluar masuk dalam lubang vaginanya.
Kedua sosok tubuh mereka sudah basah dengan keringat, nafas keduanya pun terdengar memburu, kedua mata mereka merem-melek menikmati persetubuhan mereka ini, mereka berdua sudah lupa akan status mereka.

Oouughhh, Poonnn.kontolmu betul-betul enaaak.kkoontollmukeras sekali oougghh shhhh.aaahhsssshh.. aaaahhh..,Dewi mengerang keenakan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan Pono dilubang vaginanya, Dewi merasakan batang kemaluan Pono tegang dan keras seperti kayu saja layaknya.

Hhmmmssllrrppp.hhhmmmmssllrpppp.,Pono bergumam keenakan sambil mulutnya tetap sibuk menghisap tetek Dewi.

Remasan tangan Pono di payudara Dewipun tidak pernah berhenti, tangannya meremas-remas kedua payudara Dewi dengan agak kasar, Dewipun menggelinjang akibat hisapan-hisapan kuat mulut Pono dan remasan-remasan kasar di payudaranya, sensasi yang agak sedikit kasar ini belum pernah dialami oleh Dewi, kedua puting payudaranya semakin mencuat keluar dan keras, Dewi semakin mengerang keenakan dibuatnya.

Oouugghhhaaaaaagghhh hiisaaappPooon, hissaaapppkuaaatt..kuatt yachhhaaaghhssshhsssoougghh., Dewi mengerang-ngerang merasakan kerasnya hisapan mulut Pono.

Kaaammuuupernah melaakukaan ini..Pooonn.Tanya Dewi tanpa menghentikan genjotan pantatnya.

BeeelummsssrrrlpppBu,ssslrrpp,jawab Pono sambil asyik menghisap tetek Dewi.

Tubuh Dewipun berganti posisi dari setengah berjongkok sekarang posisinya duduk diatas pangkuan Pono, sementara gerakkannya yang naik turun sekarang berganti dengan gerakkan maju mudur, kedua tangannyapun tidak berada di sandaran kepala sofa tetapi sekarang kedua tangannya sedang meremas-remas kepala Pono yang sedang asyik bermain di kedua payudaranya, tali baju Dewi pun sudah terlepas dari kedua pundak Dewi, akibatnya kedua payudaranya sudah tidak terhalang oleh apapun, sehingga kedua tangan Ponopun bebas meremas-remas kedua payudara tersebut.

Pono memang baru pertama kali ini melakukan hubungan seks, tapi karena usia Pono yang masih sangat muda sehingga kontolnya yang tadi sudah mengeluarkan sperma masih berdiri dengan gagahnya dan siap untuk bertempur kembali, yang kurang dari Pono hanya pengalaman saja, tapi untuk Dewi itu sudah cukup yang penting kontolnya Pono keras dan tegang dan bisa mengobrak-abrik lubang vaginanya yang haus akan batang kemaluan lelaki.

Hhhhmmmssslrrpppsssslrrppphhmmm.,Pono masih asyik dengan aksi hisapannya dipayudara Dewi, yang satu ia hisap yang satunya ia remas, kedua payudara
Dewi bergantian dihisap dan diremas.

OuuughhaaaaghhhhssshheenaaakkPooneennaaakk.. nikmaattt sekali terus hisaaaappreeemaaass.yaachhhjangan berhentiiiiouughhh..aaaagghh .kontooolllmuuu.eenaaakkkkeeraaassss.,D ewi merintih-rintih menikmati semua ini.

Gerakan maju mundur tubuh Dewi semakin cepat, Dewi merasakan kelentitnya geli-geli enak bergesekan dengan jembut Pono, remasan tangannya dikepala Pono semakin menjadi akibat hisapan dan remasan Pono dikedua payudaranya, kepala Dewi bergoyang kekanan dan kekiri, mulutnya merintih-rintih keenakan, matanya merem melek menikmati sensasi persetubuhan ini.

Tak lama berselang gerakan tubuh Dewi mulai tidak beraturan, tubuhnya mulai mengejut-ngejut, nampaknya puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh, tiba-tiba Dewi menekan pantatnya kebelakang seolah-olah ia ingin kontolnya Pono masuk dengan biji pelernya di lubang vaginanya, dan sssrrrrrsrrrrrrrr..ssssrrr memeknya menyemburkan cairan kenikmatannya, cairan hangat itu menyiram batang kemaluan Pono, Pono merasakan kontolnya menjadi hangat oleh siraman cairan kenikmatan Dewi, Pono juga merasakan dinding vagina Dewi seolah meremas-remas kontolnya.

OOuuuggggghhh.aakuuu.keluuuarrrPooonnn, aaaakuuuaaagghh..enaakkk nikkmaaat.aaagghhh.,erang Dewi menikmati puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh.

Tubuh Dewi mengejang, gerakannya terhenti, tangannya meremas kepala Pono dengan kuat, nafasnya tersengal-sengal, saat vaginanya meneteskan tetes terakhir dari cairan kenikmatannya, Dewipun melenguh panjang, dinding vaginanya masih berkedut-kedut, yang dirasakan oleh Pono seolah-olah meremas-remas kontolnya.
Dengan nafas yang masih memburu, Dewipun ambruk diatas pangkuan Pono, Pono hanya bisa diam, dia tidak tahu apa yang harus diperbuat, perlahan-lahan Dewi membuka matanya lalu berkata,

Kamu suudah keluar, Pon, Tanya Dewi.

Belum, Bu,jawab Pono polos.

Hhhmmmm kamu termasuk ayam pejantan juga, Dewi berkata dengan genit.

Dengan perlahan-lahan Dewi mulai menggerakkan tubuhnya lagi, pantatnya ia maju mundurkan, sehingga batang kemaluan Pono mulai kembali keluar masuk memek Dewi. Sebetulnya Dewi sudah merasa puas dengan pencapaian puncak kenikmatannya ini, tapi karena dia tahu bahwa Pono belum berpengalaman, akhirnya ia mengambil keputusan untuk memuaskan kontolnya Pono sampai mengeluarkan cairan kenikmatannya lagi.

Pono merasakan kembali kontolnya keluar masuk vagina Dewi, Dewi bergerak dengan cepat, ia ingin cepat-cepat menuntaskan permainan ini, karena hasrat birahinya sudah terpenuhi dia mulai sedikit khawatir akan kedatangan suaminya, tubuhnya maju mundur dengan cepat, kontolnya Ponopun akibatnya keluar masuk dengan sangat cepat,

Blleeesssss.sssrrrttt.bleeeessssssrttttttblees sss.sssrtttt. Dewi memaju mundurkan pantatnya dengan cepat, batang kemaluan Ponopun keluar masuk di lubang vagina Dewi seiring dengan gerakan maju mundur, dengan gerakan Dewi yang cepat ini membuat Pono agak kesulitan menghisap payudara Dewi, sehingga yang bisa ia lakukan hanya meremas-remas payudara tersebut, dan suara erangan Ponopun mulai terdengar jelas.

Aaaaghhh.ssshhhhooougghh.sssshhh enaaakkBueenaaakkk, Ponopun mengerang kenikmatan, merasakan jepitan memek Dewi di kontolnya.

EhhmmmenaakPonaaayookeluaaariinnceppaat,De wipun mendesah.

Tubuh Dewi menghentak-hentak dengan cepat, goyangan pantatnya semakin bertambah cepat, batang kemaluan Pono semakin mengeras jadinya, Dewi merasakan batang kemaluan Pono seperti batang kayu yang dimasukkan kedalam memeknya, seluruh dinding vaginanya merasakan kerasnya batang kemaluan Pono tersebut, gairah birahinyapun menanjak dengan cepat merasakan kerasnya batang kemaluan Pono.

OuughhPoon..Koontooollmmmu..keeraasssssseekaal liiisssshhhaaaggh nikmaaat betuulllaaarrggghhh.aaakkuuuingin teruuusssmerasakannyaaaa oooohhhhh..,Dewi merintih-rintih keenakan.

Aaahhhiiyaaaahh.mmmmmm.eeennaakkk.ooohhhpuny aa.ibuuu..juga enaaaak.,Pono mengerang nikmat.

Dewi sibuk dengan goyangan dan maju mundur pantatnya sementara Pono sibuk dengan kedua belah tangannya yang meremas-remas kuat payudara Dewi. Nafas mereka berduapun terdengar memburu, puncak pendakian kenikmatan mereka sudah mulai diambang pintu.

Gerakan Dewipun semakin menggila dan liar, rintihan-rintihannya semakin terdengar, erangan Ponopun semakin sering terdengar, suara rintihan dan erangan mereka terdengar bergantian, diselingi dengan suara decakan akibat beradunya kedua kemaluan mereka, lubang vagina Dewi semakin banjir, batang kemaluan Ponopun semakin leluasa keluar masuk dilubang vagina Dewi, tanpa hentinya Dewi melenguh-lenguh keenakan.

Tubuh Dewipun mulai bergerak tidak beraturan, tubuh Pono mulai terlihat mengejang, otot-otot ditangannya terlihat, puncak pendakian kenikmatan mereka akhirnya berhasil mereka rengkuh, dengan sekali hentak Dewi menekan dalam-dalam pantatnya.

Ccrreeeeetttt.sssssrrrrrrr.ccreeettttsssrrrrr. creeeetttttssssrrrrrr.. kemaluan mereka berdua secara bersamaan menyemprotkan lahar kenikmatan mereka.

Ooouugghhhakuuu..keluaarrr..lagiiiiaaaagghhhen aaakkknikmaattt. kamuuu betulbetullllperkaaassaaa.Pooon,erang Dewi menikmati puncak pendakian kenikmatannya yang kedua kalinya.

Hhhhhmmmaaaaahh..ssshhaaakuuujugaa.keluaarrr Buuu,Ponopun melenguh keenakan.

Tubuh Dewipun ambruk kembali dipangkuan Pono, nafas keduanya terdengar memburu, perlahan-lahan batang kemaluan Pono mulai mengecil dan terlepas dari jepitan memek Dewi, seiring terlepasnya batang kemaluan Pono dari lubang vagina Dewi kemudian mengalir cairan putih bercampur dengan cairan bening dan jatuh ke paha Pono.

Setelah nafas mereka kembali normal, Dewi mengingatkan kembali ke Pono untuk tidak menceritakan kejadian barusan kepada siapapun dan ia juga mengingatkan Pono untuk kapanpun jika ia sedang ingin melakukan hubungan badan, Pono harus siap, Dewi juga menambahkan agar Pono bertingkah seperti biasanya saja, Pono hanya mengiakan kehendak nyonyanya tersebut, Pono berpikir alangkah bodohnya ia bila menceritakan hal tersebut keorang lain yang bisa berakibat ia tidak dapat menikmati tubuh mulus nyonyanya lagi dan tidak bisa merasakan surga dunia.

Ponopun beranjak setelah mengenakan celananya menuju kekamarnya, sementara Dewipun merapikan pakaian dan CDnya beranjak kekamarnya, Dewipun membersihkan badannya di kamar mandi, setelah selesai mandi Dewi mengambil daster satu tali yang mini, dalamannya ia hanya mengenakan CD saja tanpa BH, dan Dewipun beranjak keluar kamarnya menuju ke ruangan keluarga dan menonton TV sambil menunggu kedatangan suaminya.

TAMAT


Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Dewi baru saja beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamar tidurnya, setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, iapun keluar dari kamar tidurnya menuju kedapur untuk membuat sarapan.
Setibanya di dapur Dewi melihat Doni anak tirinya sedang membuat kopi, saat itu Doni hanya memakai celana boxer saja, Dewipun menyapa Doni sesaat ia berada disamping Doni.

Kamu tidak sekolah, Don?? Dewi bertanya.

Eh, mami, mami lupa yach!!, kan kemarin hari terakhir aku ujian, jadi hari ini libur sampai pengumuman hasil ujian, jawab Doni.

baru bangun mih??, Doni balik bertanya, mau kubuatkan kopi

Heeh, boleh tuch, jawab Dewi.

Dewi memperhatikan tubuh anak tirinya ini, Doni mempunyai tubuh yang sangat atletis, dadanya bidang dan berotot, Dewi tahu Doni sering sekali berolahraga, tingginya sekitar 180 cm, berbeda dengan ayahnya yang pendek, dari samping Dewi mengagumi tubuh anak tirinya ini, saat pandangan mata Dewi jatuh di boxer Doni, ia melihat tonjolan di celana boxer Doni, melihat itu Dewi menelan ludahnya, dan ia tahu bahwa Doni saat ini tidak mengenakan celana dalamnya dan kontolnya sedang tegang-tegangnya, dari balik celana boxernya Dewi tahu juga bahwa Doni mempunyai kontol yang besar dan panjang.

Mih, nich kopinya, Doni berkata.

Eehh..iyach, makasih, Don! sahut Dewi.

Doni tidak mengetahui bahwa dari tadi mamihnya memandangi tonjolan di celananya dengan penuh nafsu.

Papih, kapan pulang, mih?? Doni bertanya

Masih lama, Dewi menjawab.

Ooohh, aku kekamar dulu yach, mih! lanjut Doni, mo chatting dulu ama temenku

Heeh, Dewi mengiyakan.

Seperginya Doni, Dewi merasakan lubang senggamanya berdenyut-denyut, ingin merasakan kembali sodokan-sodokan kontol-kontol yang besar, sambil menikmati kopinya, tangan kanannya mulai mengelus-elus vaginanya, sementara pikirannya membayangkan pemandangan tadi, membayangkan seandainya kontol Doni dielus-eluskan di itilnya dan dibibir memeknya. Batinnya menjerit memanggil nama Doni sambil merasakan sentuhan tangannya di memek dan itilnya, lubang senggamanya mulai basah karena gelora birahinya yang mulai bangkit, Dewi sendiri merasa heran sendiri kenapa sekarang ini birahinya cepat sekali terangsang, sekarang ini Dewi merasa selalu kehausan ingin dipuaskan, libido seksnya semakin meninggi dibandingkan dengan sebelum ia pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya.

Semakin lama elusan tangannya semakin cepat, gairahnya semakin memuncak, lubang senggamanya semakin gatal ingin digaruk kontol besar, gairah birahinya ingin cepat dipuaskan, batinnya berkecamuk antara ingin dientot oleh Doni merasakan kontol Doni mengaduk-aduk lubang senggamanya dengan ketakutan seandainya Doni tidak mau lalu melaporkan hal itu ke papihnya atas kelakuan dia.

Tapi nampaknya nafsu birahinya yang menang, akhirnya Dewi melangkah menuju kamar anak tirinya, sesampainya didepan pintu kamar Doni, dengan perlahan-lahan Dewi membuka pintu kamar Doni, Dewi terkejut melihat pemandangan di depan matanya, Dewi melihat Doni sedang telanjang dan duduk diatas karpet membelakangi pintu, sementara kedua telinga Doni tertutup oleh earphone dan dilayar komputer Dewi melihat adegan seks, rupanya Doni sedang menonton film BF, dan Dewi juga melihat Doni sedang mengelus-elus kontolnya yang sudah ngaceng, melihat ini semua membuat birahi Dewi semakin memuncak, Dewipun melangkah masuk kekamar Doni lalu menutup pintunya, didekatinya Doni dari arah belakang, Doni yang sedang asyik tidak mengetahui bahwa Mamihnya sedang menyaksikan perbuatannya itu.

Setelah menanggalkan dasternya, Dewi kemudian mendekati Doni, dipeluknya tubuh Doni, diciuminya tengkuk dan telinga Doni, kedua payudaranya ia tempelkan dipunggung Doni, sambil berbisik,

Doonn,.. sini mamih bantuin, Dewi mendesah lirih sambil tangan kanannya meraih kontol Doni lalu mengelus-elusnya.

EehhMih, oouughhssshhhhaachhh Doni terperanjat kaget akan perbuatan Dewi, tapi ia menikmati sentuhan tangan Dewi yang halus di kontolnya, kagetnya hilang berganti dengan kenikmatan.

Aksi Dewi semakin bertambah, dari tengkuk dan telinga ciumannya menjalar kedepan kedada Doni, dijilatinya kedua puting Doni bergantian, sementara tangannya semakin gencar mengelus-elus kontol Doni, membuat Doni semakin mengerang keenakan, lenguhan-lenguhan kenikmatan keluar dari mulut Doni, Dewi lalu mendorong tubuh Doni sehingga telentang diatas karpet, ciuman dan jilatan Dewi semakin menggila dari dada turun keperut, dari perut turun ke selangkangan Doni, Doni semakin menggelinjang mendapatkan serangan Dewi, tubuh Doni melenting menikmati jilatan Dewi ditubuhnya.

Aaghhhh.Miiihh, eenaaakkkkk.Aaaaaggghh Doni mengerang keenakan ketika kontolnya dijilati dan dikulum-kulum oleh Dewi.

Sllrrppp.sssllrrpppp.. Dewi asyik menjilati dan mengulum-ngulum kontol Doni.

Miihhh, aakkuu gak taahhaannouughh..aakkuu..mau keluaar nich..ooughh Doni merintih.

Mendengar Doni mau keluar Dewi semakin cepat mengulum-ngulum kontol Doni, tak lama kemudian,

Creetttcreeettt..cccreeetttkontol Doni menyemburkan lahar kenikmatannya didalam mulut Dewi.

Ougghh.. Dewi tersedak akibat tembakan sperma dari kontol Doni

Gleekkk..ssllrppp.gleekkk..sslrrppp terdengar Dewi menelan sperma Doni sambil menghisap-hisap kontol Doni, membuat Doni semakin merem-melek, kontolnya mengedut-ngedut semakin kencang.

Sesaat kemudian kontol Doni berhenti mengedut-ngedut, Dewipun puas mendapatkan sperma perjaka, dan Dewi kaget melihat bahwa kontol Doni tetap keras meskipun barusan telah mengeluarkan sperma, Dewi tidak merasakan kontol Doni yang sedang dalam genggamannya akan mengecil.

kamu puas, Don Dewi bertanya lirih.

Iyach, Mih, Doni menjawab

kamu masih pengen khan, kembali Dewi bertanya

heeh Doni mendesah

Kemudian Dewi berjongkok diatas tubuh Doni, kontol Doni ia arahkan kelubang memeknya yang sudah basah dari tadi. Dioles-oleskannya kepala kontol Doni di itilnya, Dewi merasakan geli-geli nikmat saat itilnya tersentuh oleh kepala kontol Doni, sementara Doni sendiri menggelinjang kegelian saat kepala kontolnya menyentuh itil mamihnya, belum pernah Doni merasakan sensasi seperti ini, biasanya kontolnya itu ia kocok sendiri kalau lagi tegang karena nonton BF, jadi Doni belum pernah merasakan kontolnya itu bersentuhan dengan itil apalagi sampai merasakan dijepit memek.

Setelah puas mengoles-ngoleskan kontol Doni, Dewi mulai menyelipkan kepala kontol Doni dibelahan memeknya, Dewi melenguh saat kepala kontol Doni mulai terjepit dilubang senggamanya, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh kepala kontol Doni, perlahan-lahan Dewi mulai menurunkan pantatnya,

SleeppBleeessss.

Uuugghhh. Dewi melenguh saat kontol Doni mulai menerobos masuk dalam lubang senggamanya,

Doni sayang, kontolmu besar sekali, sesak memekku dibuatnya, lanjut Dewi sambil mulai menekan pantatnya lagi.

Bleeesss..

aaagghhh.Mih, sempit sekali memekmu, Doni mengerang merasakan kontolnya yang terjepit erat oleh memek Dewi.

bukan memekku yang sempit sayang, tapi kontolmu yang besar, ooohhhhh, enak sekali kontolmu ini, Dewi mengerang manja, sambil menekan lagi pantatnya kebawah perlahan-lahan,

Bleesss.bleessss..

Dan,
Uuuugghhhh., Dewi menjerit lirih, saat kepala kontol Doni menyentuh dinding rahimnya,
Sensasi nikmat yang Dewi rasakan kali ini berbeda dengan sensasi nikmat yang pernah ia dapatkan sebelumnya, lubang senggamanya betul-betul penuh sesak oleh jejalan kontol Doni, ini membuat dinding vaginanya berkedut-kedut sendiri, sementara Doni merasakan batang kontolnya seperti dipijat-pijat oleh dinding vagina Dewi, yang membuat ia merem melek.

Kemudian Dewi mulai mengangkat turunkan pantatnya perlahan-lahan, tangannya bertumpu di dada Doni, Dewi merasakan batang kontol Doni menggesek dengan erat dinding vaginanya, memeknya yang sudah basah tidak terlalu berpengaruh karena besarnya kontol Doni, gesekan-gesekan didinding vaginanya sangat terasa ketat sekali, Donipun merasakan yang sama, apalagi persetubuhan ini adalah kali pertama buat Doni, Doni merasakan perbedaan yang sangat besar antara gesekan tangan dia dibandingkan dengan gesekan memek mamih tirinya ini.

Keduanya mulai melenguh, mendesah dan merintih menikmati persetubuhan ini, gerakan naik turun Dewi semakin lancar seiring semakin membasahnya lubang kenikmatannya, cairan-cairan kenikmatan dari kedua kemaluan mereka semakin banyak, sehingga memudahkan pergeseran kelamin mereka.

Keirngat mulai mengalir dari kedua tubuh mereka, goyangan Dewi yang semakin cepat membuat kedua bukit payudaranya bergoyang naik turun, pemandangan ini membuat Doni semakin bernafsu, Donipun bangkit dari posisi telentangnya, dipeluknya tubuh Dewi, mulutnya bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi, membuat puting susu Dewi semakin mengeras, perbuatan Doni merubah gaya naik turun Dewi menjadi maju mundur, kuluman dan hisapan Doni di kedua payudaranya membuat Dewi semakin bernafsu, lenguhan-lenguhan kenikmatannya semakin terdengar.

Dengan posisi duduk seperti ini itil Dewi lebih sering bersentuhan dengan batang kontol Doni, sehingga menambah sensasi kenikmatan Dewi semakin menjadi, gerakan maju mundur Dewi bertambah cepat, mengimbangi kuluman dan hisapan Doni dikedua payudaranya. Kedua tangan Doni yang tadinya hanya memeluk Dewi, mulai beraksi juga, Doni mulai meremas-remas kedua bongkah pantat Dewi, sambil meremas-remas Donipun membantu menekan pantat Dewi bertepatan dengan gerakan maju Dewi, sehingga membuat kontolnya masuk lebih dalam kedalam memek Dewi, aksi Doni ini membuat Dewi mengerang karena sodokan kontol Doni didinding rahimnya semakin terasa.

Aaagghhhssshhhh.ooouucchhhhterussss..Doon , yaachhh..hisaaappp..teeetekku,erang Dewi.

Hhmmmmsssllrrppphhmmmhhmm..ssssllrppp, Doni mengiyakan permintaan mamihnya.

Yaaacchh teeekaaannpaantatkuuooucchhhaaaagghhh, lagi-lagi Dewi mengerang saat Doni menekan pantatnya membantu gerakan majunya.

Tak lama kemudian,

Miiihhhh, hhmmmhhsssllrpp.aaakkkuu..ssslrpp.mauu..keluaar r..laaagiiii.., Doni melenguh, sambil mulutnya tetap menghisap-hisap tetek Dewi.

Taaahhaansebeentaarrr..ssaaayaang.kita saamaaankeeluarnya, jawab Dewi.

Slllllrrrpppp.aaaaacchhaaaaakkkuuu tiddak..ssslrpppppp Doni melenguh lagi dan,

Creeetttt..creeetttt.cccreeeetttt..

kontol Doni menembakkan spermanya dalam lubang senggama Dewi,

Aaagghhhhh.miiihhhaaaku kelluaaarmeemek mamihhh enaaakk sekaliiiaaaagghhh.., Doni mengerang keenakan saat kontolnya memuntahkan sperma dilubang kemaluan Dewi.

Dewi merasakan semburan hangat didinding rahimnya, dan Dewi juga merasakan kontol Doni berdenyut-denyut, merasakan ini semua Dewi semakin mempercepat gerakannya, iapun mendorong tubuh Doni sehingga telentang lagi, dipeluknya tubuh Doni, bibirnya memagut bibir Doni yang, pantatnya digerakkan naik turun dengan cepat, nampaknya Dewi tidak mau kehilangan kesempatan untuk merengkuh kenikmatannya.

Hmmmhhh.sslllrpp.hhmmmhhssllrppp., rintihan nikmat keluar dari kedua mulut Dewi dan Doni yang sedang berpagutan.

Tak lama kemudian, gerakan Dewi semakin tidak beraturan dan bertambah cepat, lalu dengan sekali hentakkan Dewi menekan pantatnya dalam-dalam,

Aaaggghhh.Dooonnnmamiihhh keluaaar jugaaaa..ooohhhh..eenak kontol besaaarmu ini, Dewi melenguh.

Ssssrrrr.sssssrrrrr..sssssrrrr lubang senggama Dewi menyemburkan lahar kenikmatan yang menyirami batang kontol Doni.

Doni merasakan pijatan-pijatan kuat dibatang kontolnya, saat lubang vagina Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.

Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Dewi menciumi Doni dengan mesra, keduanya berpagutan dengan mesra, beberapa saat kemudian setelah gairah nafsu mereka mereda, Dewi mengangkat pantatnya, kontol Doni yang mulai mengecilpun terlepas dari jepitan memeknya, Nampak kontol Doni mengkilat oleh sperma dan cairan kenikmatan dari memeknya, Dewipun merebahkan tubuhnya disamping Doni.

Makasih yach, sayang, kamu telah memberikan Mamih kepuasan, Dewi berkata sambil mengecup pipi Doni.

Aku juga, Mih, kata Doni sambil memeluk Dewi dan memberikan kecupan ringan dibibir Dewi.

Keduanya kemudian berpelukan sambil memejamkan mata mereka, di bibir mereka tersungging senyum kepuasan.

TAMAT


Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut dengan ibunya masing-masing, selain itu Dewi menikah dengan seorang Duda, sementara kedua temannya menikah dengan suami orang, dan suami mereka sekarang telah menceraikan istri-istri tuanya. Nita dan Hani hampir mempunyai sifat yang sama yaitu tipe wanita yang tidak mau sengsara, yang mereka pedulikan hanyalah harta kekayaan dari suami-suami mereka, mereka menikah juga tidak didasari dengan cinta.

Sudah dari dulu Nita dan Hani selalu mengajak Dewi untuk pergi bersama, mencari batang-batang kemaluan yang besar dan panjang untuk memuaskan birahi mereka dan Dewi selalu menolak ajakan itu. Tapi itu dulu, semenjak Dewi sudah beberapa kali merasakan kenikmatan atas sodokan-sodokan dari batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, Dewi selalu merindukan batang-batang kemaluan lelaki yang besar dan panjang.

Topik pembicaraan mereka siang ini tidak jauh berbeda dari dulu, yaitu tidak jauh dari selangkangan lelaki, hanya sekarang Dewi juga ikut aktif, dulu Dewi hanya sekedar pendengar setia sambil tersenyum simpul, kalau sekarang Dewi aktif bercerita tentang pengalaman-pengalaman seksnya, membuat kedua temannya ini melongo mendengar cerita Dewi itu.

Tak satupun kejadian yang telah dialami oleh Dewi yang disembunyikan termasuk ketika Dewi menikmati permainan seks dengan Doni-anak tirinya dan juga ketika bersetubuh dengan ketiga teman Doni, Nita dan Hani hanya dapat menelan ludah mendengar cerita Dewi itu, birahi mereka mulai bangkit mendengar cerita Dewi, apalagi ketika Dewi menceritakan melakukan seks dengan tiga lelaki sekaligus, yang belum pernah mereka alami selama ini.

Tak terasa waktu berlalu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 12 siang, perut mereka mulai meronta minta diisi, Dewi berinisiatip hendak menyediakan makanan untuk kedua temannya ini, Nita dan Hani mengikuti langkah Dewi kedapur, obrolan kembali berlanjut sambil sibuk menyiapkan makanan.

Tak lama kemudian makan siangpun tersaji, obrolanpun mereka lanjutkan di meja makan sambil menikmati makan siang mereka, penasaran dengan cerita Dewi, Hani dan Nita mengusulkan ke Dewi agar mereka bisa untuk ikut menikmati batang-batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, mereka berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk membuat hal itu terjadi, sedang asyiknya mereka menyusun rencana, mereka mendengar suara kunci yang terbuka dari arah pintu depan, Dewi tahu bahwa yang pulang itu adalah Doni anak tirinya, dan tebakan Dewi betul adanya, selang tak lama wajah Doni terlihat oleh mereka, Donipun memanggutkan kepala dan tersenyum kepada Hani dan Nita, lalu ia menghampiri Dewi.

Mih, sabtu ini kan aku Ulang Tahun, boleh tidak aku undang teman-temanku kesini untuk merayakannya, tanya Doni sesampainya dihadapan Dewi.

Oh, iyah, hampir Mamih lupa, berapa orang, terus apa saja yang harus Mamih sediakan, Dewi bertanya balik ke Doni.

Ah, gak banyak kok Mih, paling sepuluh orang termasuk aku sebelas jadinya, kayanya gak usah repot-repot dech, beli makanan jadi aja Mih, jawab Doni.

Yach klo cuman sebanyak itu sich, Mamih siapin sendiri aja, gak usah beli, paling kita beli kue ulang tahunnya dan minumannya saja, balas Dewi.

Ah kebetulan Sabtu ini, suamiku gak ada, dia pergi keluar kota, jadi aku bantuin kamu aja, Wi, sahut Nita.

Iyah, aku juga bantuin kamu dech, Wi, mumpung lakiku juga belon pulang, Hani ikut nimbrung juga.

Oh, iyach, Don, kenalin ini teman Mamih, ini tante Nita dan yang itu tante Hani, kata Dewi.

Serius kalian mo bantuin, yach klo gitu sich, aku seneng-seneng aja ada yang bantuin, lanjut Dewi.

Doni, kata Doni menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Hani dan Nita.

Waduh, makasih banyak, Mih, dan tante makasih juga yach udah mau bantuin mamih, Doni berkata kepada mereka.

Doni, kekamar yach, mo istirahat, lanjut Doni dan Donipun beranjak meninggalkan mereka.

Sepeninggal Doni, mereka bertiga tersenyum genit, dan mereka mulai merencanakan acara tersebut, dalam benak mereka berharap mudah-mudahan yang diundang Doni adalah teman laki-lakinya semua, kalau yang datang semuanya adalah lelaki maka pesta yang akan mereka adakan itu pasti akan lebih meriah, dan mereka merencanakan akan membuat pesta ulang tahun itu menjadi pesta seks, tapi kemudian Dewi tersadar bahwa kemungkinan besar rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena suaminya sedang berada di Jakarta, kembali ketiganya memutar otak untuk dapat melaksanakan niat mereka itu.

Sorenya Nita dan Hani berpamitan sambil membawa PR kerumah masing-masing tentang bagaimana caranya membuat pesta itu terjadi sesuai dengan harapan mereka dan menyingkirkan suami Dewi untuk sementara waktu, mereka bertiga berjanji untuk saling memberi kabar jika salah satu dari mereka telah menemukan akal untuk hal tersebut.

Sampai 2 hari menjelang hari H, mereka bertiga belum menemukan jalan untuk menyingkirkan suaminya Dewi, tapi nampaknya dewi seks berpihak pada mereka bertiga, nampaknya dewi seks memberikan jalan kepada mereka untuk melakukan acara pesta seks yang sudah mereka rencanakan itu, karena saat suaminya pulang kerumah ia memberitahu Dewi bahwa besok dirinya harus berangkat dengan pak Erwin untuk meninjau lokasi proyek mereka. Mendengar berita ini Dewi bersorak girang dalam hatinya, tak sabar ia ingin segera memberitahukan kabar ini kepada kedua temannya.

Keesokan harinya sepeninggal suaminya, Dewi menghubungi kedua temannya dan memberitahukan berita gembira ini, kedua temannya yang mendengar berita ini bersorak kegirangan dan mereka berjanji untuk datang kerumah Dewi hari ini dan mereka merencanakan akan bermalam dirumah Dewi sampai hari Minggu.

Siangnya setelah Hani dan Nita tiba dirumah Dewi, mereka bertiga pergi berbelanja untuk keperluan acara besok, selesai belanja mereka langsung pulang, setibanya dirumah mereka melihat Doni sedang nonton TV.

Don, Mamih ada yang lupa nich, kata Dewi.

Apa yang mamih lupa? Doni bertanya.

Kamu undang teman-temanmu itu jam berapa? tanya Dewi.

Oh, jam 12 siang, soalnya biar pas waktunya dengan waktu makan siang,jawab Doni.

Terus, berapa orang laki-laki dan berapa orang perempuan,Dewi kembali bertanya.

Oh, klo itu sich, yang Doni suruh dating semuanya teman laki-laki Doni,Doni menjawab kembali.

Memangnya kamu tidak punya teman perempuan, makanya tidak ada teman perempuanmu yang diundang?, kembali Dewi bertanya

Ada sich, Mih. Cuman gak asyik aja klo ada teman perempuanku, gak rame, gak heboh,jawab Doni.

Eh, Mamih juga perempuan, berarti kehadiran mamih tidak diinginkan juga dong? canda Dewi.

Yach, itu sich lain mih,jawab Doni.

Och, yach mih, aku mau pergi dulu kerumah temanku, pulangku pasti malam, gak usah mamih tungguin yach, lanjut Doni, yang segera beranjak setelah di iyakan oleh Dewi.

Sepeninggal Doni, mereka bertiga sibuk didapur menyiapkan bahan-bahan untuk besok, sambil asyik merencanakan tindakan apa yang harus mereka lakukan besok, karena sibuk dan asyik dengan rencana-rencana mereka.

Jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore saat mereka mendengar suara bel pintu, Dewi beranjak kedepan untuk melihat siapa yang datang bertamu, saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah Parmin.

Ada apa pak Parmin? tanya Dewi.

Ini Bu, saya mau mengembalikan pinjaman saya yang kemarin,jawab Parmin.

Oh, memang pak Parmin sudah ada uangnya, tanya Dewi lagi, sambil berpikir untuk mengundang Parmin agar datang nanti malam dan mengajak Sugito, Dewi berpikir pasti teman2nya ingin merasakan sodokan-sodokan satpam ini.

Sudah Bu, sudah soalnya hari ini saya dapat rejeki, jawab Parmin.

Oh ya sudah, ngomong-ngomong Pak Parmin nanti malam tugas tidak,tanya Dewi.

Memang kenapa Bu?Parmin balik bertanya.

Klo tidak tugas bagaimana klo pak Parmin nanti malam datang yach sekitar jam 8an gitu, sambil ajak pak Gito,jawab Dewi genit.

Oh bisa, bisa Bu, nanti malam saya akan datang sama pak Gito, hanya kita berdua aja Bu,Parmin mengiyakan sambil bertanya.

Memang ada siapa lagi,tanya Dewi

Klo yang tidak tugas nanti malam sich ada 2 orang lagi, Nanang dan Udin,jawab Parmin.

Yach, udah sekalian mereka juga suruh datang,sahut Dewi cepat.

Klo gitu saya permisi dulu Bu, saya mau kasih tahu mereka,pamit Parmin.

Dewi bergegas masuk sepeninggal Parmin, lalu ia ceritakan hal tersebut kepada teman-temannya, Hani dan Nita menyambut gembira hal tersebut, lalu mereka cepat-cepat membenahi dapur dan menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk pesta kecil mereka nanti malam, selesai itu mereka betiga membersihkan diri mereka dan bersiap-siap untuk menyambut tamu-tamu yang akan memberikan mereka kepuasan.

Jam berdentang 7 kali saat bel pintu dirumah Dewi berbunyi, Dewi bergegas menuju kepintu depan, pintu dibuka Dewi melihat 4 sosok lelaki dihadapannya, Dewi tersenyum melihat yang siapa yang datang ini, lalu ia mempersilahkan ke 4nya untuk masuk dan langsung diajaknya keruangan keluarga dimana Hani dan Nita sedang menunggu kehadiran mereka juga.

Dewi memperkenalkan mereka kepada Hani dan Nita, yang disambut dengan genit oleh Hani dan Nita, merekapun terlibat pembicaraan sambil menikmati makanan dan minuman, sambil diselingi dengan rabaan dan remasan-remasan genit ketiga wanita ini kepada para lelaki, ke 4 lelaki ini tidak pernah membayangkan dalam hidupnya mereka akan mengalami hal ini, 3 wanita yang jelas-jelas lebih cantik dan seksi daripada istri mereka dirumah bertingkah laku genit kepada mereka, dan tangan mereka meraba-raba serta meremas-remas batang kemaluan mereka dari balik celana yang mereka pakai, aksi ke 3 wanita ini telah membuat birahi mereka mendidih.

Gito yang sedang menikmati remasan dan rabaan tangan Hani, mulai melakukan aksi balik, tangannya mulai meremas-remas payudara Hani, mulutnya mulai melumat bibir Hani, aksi balas Gito membuat Hani mendesah, Parmin melakukan hal yang sama kepada Nita, mulutnya melumat bibir Nita dengan penuh nafsu, kedua tangannya beraksi melucuti pakaian atas Nita yang dilanjut dengan membuka Branya, terlihat kedua payudara Nita yang masih mengkal menggantung dengan indahnya, kedua putingnya yang berwarna merah muda sedikit mencuat, dengan tidak sabar Parmin memnyerbu kedua payudara itu, remasan-remasan penuh nafsu dilakukannya kebukit kembar Nita diselingi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya.

Nanang dan Udin yang sedang menikmati tangan lembut Dewi, menyaksikan kedua temannya sudah beraksi dan saat mereka melihat Parmin melucuti pakaian dan bra Nita, kemudian terpampang dengan jelas dikedua mata mereka bukit kembar Nita, mereka menjadi penasaran ingin segera melihat bukitm kembar Dewi. Keduanya bekerja sama melucuti pakaian Dewi termasuk dengan bra dan celana dalam Dewi, akhirnya Dewi dibuat telanjang bulat oleh mereka, setelah selesai dengan melucuti pakaian Dewi, mereka melepaskan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dengan keadaan telanjang bulat mereka mulai menyerbu Dewi, Nanang menerkam bagian atas Dewi dengan penuh nafsu, dia melumat bibir Dewi yang disambut dengan penuh nafsu oleh Dewi, sementara tangan Nanang beraksi dikedua payudara Dewi, remasan-remasan tangan Nanang dan pilinan-pilinan dikedua putingnya membuat Dewi mendesah apalagi Udin juga mulai beraksi dibagian bawah tubuhnya, Udin dengan penuh nafsu menjilati vagina Dewi dan menghisap-hisap kelentit Dewi.

Gito menghentikan serangannya, ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Hani sehingga tubuh mulus dan putih Hani terpampang dengan jelas dikedua mata Gito, Hani juga membalas dengan melucuti semau pakaian Gito, saat celana dalam Gito terlepas, Hani melihat batang kemaluan Gito yang sudah berdirti tegak dengan gagahnya, dibandingkan dengan kepunyaan suaminya memang sangat berbeda, Gito kemudian merebahkan tubuhnya diatas karpet, Hani dengan posisi merangkak mulai menyerbu batang kemaluan Gito, dikulum-kulum dan dijilatinya barang pusaka Gito itu dengan penuh nafsu, sambil menikmati selomotan dan jilatan Hani dikontolnya, tangan Gito tidak tinggal diam, kedua tangannya mulai menyerang payudara dan vagina Hani, tangan kirinya asyik meremas-remas payudara Hani bergantian sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, tangan kanannya dengan lembut menggesek-gesek vagina dan kelentit Hani, kadang-kadang jari tengahnya menerobos kedalam lubang vagina Hani lalu dikocok-kocokkan keluar masuk dilubang vagina Dewi.

Parminpun tidak mau kalah oleh teman-temannya, ia segera melucuti pakaian Nita dan pakaiannya sendiri, setelah tubuh Nita tidak tertutupi oleh sehelai kainpun begitu pula dengan tubuhnya yang sudah polos, Parmin segera merangkak keatas tubuh Nita, ia mulai menjilati vagina dan kelentit Nita, Nita juga mulai membalas aksi Parmin dengan penuh nafsu batang kemaluan Parmin diselomoti dan dijilatinya, Parmin melenguh menikmati sedotan-sedotan mulut Nita dibatang kemaluannya, iapun mengimbanginya dengan melesakkan kedua jarinya kedalam lubang vagina Nita, dan mengocok-ngocokannya keluar masuk lubang vagina Nita, dari mulut Nita yang sedang penuh oleh jejalan batang kemaluan Parmin terdengar erangan dan lenguhan, Nita betul-betul menikmati sensasi permainan mulut dan tangan Parmin divaginanya.

Saat itu Dewi dengan penuh nafsu sedang menikmati batang kemaluan Nanang, mulutnya mengulum-ngulum kontol Nanang, tangan kirinya mengelus-ngelus biji pelernya, sementara tangan kanannya meremas-remas rambut Udin yang masih asyik bermain dengan vaginanya, kadang-kadang terlihat pantat Dewi terangkat menyambut hisapan mulut Udin serta sodokan jari tangan Udin divaginanya, lenguhan dan erangan terdengar keluar dari mulut Dewi, Nanang merasakan kenikmatan yang tiada duanya, ia betul-betul menikmati selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya, tangan kirinya memegang kepala Dewi, kadang-kadang mendorong kepala Dewi akibatnya kontolnya hampir masuk semuanya didalam mulut Dewi dan membuat Dewi tersedak, sementara tangan kanannya meremas-remas kedua payudara Dewi bergantian kiri dan kanan, dan ditingkahi dengan memilin-milin kedua putingnya.

Kemaluan Hani semakin basah mendapatkan serangan Gito yang bertubi-tubi, Hani sudah tidak sabar lagi ingin merasakan sodokan-sodokan kontol Gito dilubang senggamanya, dengan segera Hani merangkak diatas tubuh Gito dan mulai mengarahkan kontol Gito yang sudah semakin tegang itu kelubang senggamanya, dioles-oleskannya kepala kontol Gito dengan kelentitnya, kemudian Hani menyelipkan kepala kontol Gito di lubang vaginanya, sleepp.dengan perlahan-lahan Hani mulai menurunkan pantatnya, batang kemaluan Gito mulai menerobos lubang senggama Hani, bleessssedikit-demi sedikit kontol Gito mulai menyeruak masuk, bleeessHani menurunkan pantatnya lagi, Hani merasakan memeknya agak sedikit sakit akibat kontol Gito yang lebih besar daripada kepunyaan suaminya, bleess.kembali Hani menurunkan pantatnya, Gito merasakan memek Hani begitu erat menjepit batang kemaluannya, dan bleessssdengan sekali hentakan kuat Hani menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Gito melesak lebih dalam lagi dirongga vagina Hani, Gito merasakan ujung kepala kontoknya bersentuhan dengan dinding rahim Hani begitu pula Hani merasakan dinding rahimya tersentuh agak kuat oleh kepala kontol Gito, keduanya melenguh.Uuuughhhh

Hani mendiamkan sebentar gerakannya, ia merebahkan tubuhnya ketubuh Gito sementara mulutnya mulai menciumi mulut Gito, dibalas oleh Gito dengan penuh nafsu, Gito meneroboskan lidahnya kedalam mulut Hani mencari lidah Hani, lidah mereka bertautan dirongga mulut Hani, tangan Gito mengelus-ngelus punggung Hani dan kedua bongkah pantat Hani, kadang-kadang tangannya meremas-remas kedua bongkah pantat Hani, tingkah mereka tidak luput dari pandangan Parmin yang sedang asyik menjilati kemaluan Nita, karena posisi mereka tepat berhadapan dengan kepala Parmin, Parmin melihat jelas sekali tahap demi tahap saat kontol Gito menerobos masuk kedalam lubang vagina Hani, lalu saat ia melihat tangan Gito meremas-remas pantat Hani, Parmin melihat lubang pantat Hani, ia ingat pengalamannya sewaktu mengentot lubang pantat Dewi, dan sekarang ia juga ingin memerawani lubang pantat Hani, Parmin segera menghentikan aksinya, ia beranjak dari posisinya kemudian Parmin berlutut dibelakang Hani, dibasahinya batang kemaluannya dengan air ludahnya, lalu ia selipkan kepala kontolnya dilubang pantat Hani, ssleepp kepala kontol Parmin mulai terselip dilubang pantat Hani, Hani menjerit merasakan sakit saat lubang pantatnya mulai diterobos oleh kepala kontol Parmin, Hanipun meronta agar kepala kontol Parmin terlepas dari lubang pantatnya tapi percuma karena Gito yang melihat Parmin mendekati Hani dari belakang sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Parmin, kedua tangannya memeluk erat Hani sehingga Hani tidak dapat bergerak.

Saakit.aaargghh.cabut kontolmu dari lubang pantatkuOoogghh,jerit Hani.

ssssttt..tenang Bu, sekarang sakit tapi lama-lama pasti ibu akan keenakan, kata Parmin sambil mulai melesakkan batang kemaluannya dilubang pantat Hani perlahan-lahan, bleeesssbleesssblessssbleessss.

Sakkiiittt.Ugghhh.sakiitt..sudah aku tidak kuatsakit sekali..jeritan Hani terdengar kembali saat batang kemaluan Parmin semakin masuk kedalam lubang pantatnya.

Uughhtenang Bu, nanti pasti juga ibu ketagihan,kata Parmin lalu dengan sekali hentakan ia dorong batang kemaluannya, bbleesssss..seluruh batang kemaluannya tertelan di lubang pantat Hani, Uuughhh,gilasempit sekali nich lubang pantatnya, Bu, belom pernah dientot lubang pantatnya yach,Parmin mengerang sambil bertanya.

Hani tidak dapat menjawab karena menahan sakit yang luar biasa, Gito merasa kasihan melihat Hani, dengan lembut ia menciumi Hani, dengan berpegangan pada pinggang Hani, Parmin mulai menggerakkan tubuh Hani kedepan dan kebelakang perlahan-lahan, sehingga membuat batang kemaluannya keluar masuk dengan sendirinya dilubang pantat Hani, tapi bukan batang kemaluannya saja yang secara otomatis keluar masuk, kontol Gitopun dengan sendirinya keluar masuk dilubang vagina Hani.

Lama-lama isak tangis Hani berganti menjadi erangan dan desahan, rasa sakit perlahan-lahan berganti menjadi rasa nikmat yang luar biasa, dari yang tadinya hanya diam saja sekarang Hani mulai membantu gerakan Parmin yang memaju-mundurkan tubuhnya, kedua payudaranya yang bergelantungan didepan wajah Gito bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang maju mundur, dengan penuh nafsu Gito menjilati dan mengulum-ngulum kedua payudara Hani bergantian kiri-kanan, dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan kuat dikedua putingnya, menambah sensasi kenikmatan Hani.

Ooohhh..enak sekaliaaaghhterushisap tetekkuyachtekan lebih dalam,Hani mengerang-ngerang kenikmatan, tubuhnya ia mundurkan lebih kuat membuat kedua kontol Gito dan Parmin melesak lebih dalam.

Enak betul memek ibu, gak kalah enak ama punya bu Dewi, aaghh kontolku seperti diremas-remas, Gito mengerang merasakan keenakan saat dinding vagina Dewi mencengkram erat batang kemaluannya dan berdenyut-denyut.

Iyach lubang pantatnya sama-sama masih perawan sama seperti punya bu Dewi, enak kurasakontolku juga kaya diremas-remas nich,erang Parmin bersamaan dengan erangan Gito, Parmin merasakan ketatnya lubang pantat Hani menjepit kontolnya, juga dinding lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.

*****

Saat Parmin mulai melesakkan kontolnya kelubang pantat Hani, Nita yang ditinggal begitu saja segera menghampiri Nanang, didorongnya tubuh Nanang hingga bersandar di sofa, lalu ia berdiri mengangkangi kepala Nanang yang tergolek diatas sandaran sofa, kaki kanannya ia angkat keatas dan dipijakkannya diatas sandaran sofa, kedua tangannya menguakkan lubang vaginanya, terpampang di mata Nanang pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat selama ini, kelentit Nita terlihat oleh Nanang dengan jelas sementara vagina Nita yang berwarna merah muda terlihat jelas oleh Nanang, tanpa membuang waktu lagi dan Nanang tahu bahwa Nita ingin vagina dan kelentinya dijilati dan dihisap, Nanang mulai menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati vagina Nita sambil ditingkahi dengan hisapan-hisapan dikelentitnya, tangan Nanang mulai beraksi juga, kedua jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Nita, tangan kirinya mulai mengelus-ngelus lubang pantat Nita, Nita melenguh menerima serangan ini, pantatnya ia maju mundurkan perlahan-lahan, Nanang menekan bagian dalam vagina Nita tepat dibelakang kelentitnya saat ia menghisap-hisap kelentitnya, kadang-kadang kedua jarinya mengocok vagina Nita.

Oohhhterushisap itilku..yang kuaataaaghhenakterustekanyach..kocok lagiochh enak sekali,Nita mengerang merasakan sensasi kenikmatan permainan tangan dan mulut Nanang.

Hhhmmssslllrrpppmemek ibu wangi dan cairannya ini gurihssslrrpppp,gumam Nanang sambil asyik menghisap-hisap kelentit Nita dan menelan cairan-cairan pelicin yang keluar dair vagina Nita.

Kocokan-kocokan tangannya semakin dipercepat keluar masuk dalam lubang vagina Nita yang semakin basah oleh cairan pelicinnya, kadang-kadang ia tekan bagian belakang kelentitnya saat ia menghisap kuat-kuat kelentitnya, tubuh Nita gemetar dibuatnya, lenguhannya semakin sering terdengar, matanya merem-melek menikmati permainan Nanang, kedua tangan Nita mulai meremasi kedua payudaranya sendiri.

*****

Dewi sendiri yang ditinggalkan oleh Nanang juga mulai meremasi kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menikmati permainan Udin dilubang vaginanya, tubuhnya kadang-kadang melenting menikmati serangan Udin, kedua kakinya yang menopang saat tubuhnya melenting terlihat gemetar, Dewi merasakan nikmat yang luar biasa dengan permainan Udin, kedua jari tangan Udin keluar masuk dengan cepat, kadang-kadang Udin memutar-mutar jari tangannya yang sedang berada didalam vagina Dewi kekiri-kekanan, atau kadang-kadang Udin menekan keatas-kebawah kedua jari tangan saat kedua jari tangannya berada didalam vagina Dewi, sementara hisapan dan jilatannya dikelentit Dewi tidak berhenti saat Udin melakukan aksi tangannya itu, Dewi dibuat merem melek oleh Udin, lenguhan dan desahannya sering terdengar, bersahutan dengan suara Nita dan Hani yang sama-sama sedang menikmati serangan-serangan dilubang senggama mereka.

Oohhterus Din, enak betul..hisap terus kelentitkuOoohhyachkocok memekku yach,lenguh Dewi.

Hhhhmmmssllrppp..memek ibu..enak..wangi,Udin bergumam, sambil mulutnya tetap menghisap kelentit Dewi.

Aksi Udin semakin menggila, jempol kirinya ia masukkan kedalam lubang pantat Dewi dan saat jempolnya sudah masuk semuanya didalam lubang pantat Dewi, ia gerakkan jempolnya keatas-kebawah, aksinya ini menambah sensasi kenikmatan buat Dewi, tangan kanan Dewi menekan belakang kepala Udin, pantatnya terangkat, kaki dan tubuhnya terlihat gemetar merasakan kenikmatan permainan Udin.

Oooohh..Din, terus..terusenakyach,terdengar Dewi mengerang lagi.

*****

Sementara Hani yang sedang dikeroyok berdua mulai mendekati titik kenikmatannya, puncak kenikmatannya sudah diambang pintu, erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya mengejang-ngejang, keringatnya sudah membanjir menjadi satu dengan keringat Gito dan Parmin.

Ooohhhterusssodok memekku dengan kontol kalian, lebih kuat dan lebih dalam, yachoohh kalian betul-betul enak, aku tidak kuat lagi, Ooohhaku mau keluar tekan lebih dalam.aarrghh yachbegitu..teruss..lebih cepat lebih dalamaaagghh..aku keluar, Hani mengerang keenakan, tubuhnya mengejang-ngejang dan gemetar, saat meraih puncak kenikmatannyassssrrrrrr.sssrrrrrr..lubang vaginanya menyemprotkan lahar kenikmatannya menyirami kontol Gito yang berada didalam lubang vaginanya.

Hani memeluk Gito erat, tubuhnya meregang menikmati peraihan puncak kenikmatannya, matanya terbeliak keatas sehingga hanya bola putihnya saja yang terlihat, mulutnya ternganga sementara kepalanya mendongak keatas.

*****

Saat Hani sedang meregang menyambut puncak kenikmatannya, Nita juga hendak meraih puncak kenikmatannya, tubuhnya mulai agak limbung, kedua kakinya gemetar, tangan kanannya meraih belakang kepala Nanang, tangan kirinya memegang erat sandaran kepala sofa, tubuhnya mengejang, pantatnya menekan kebawah lalu mengejut-ngejut, ssssrrrr..sssrrrsssrrrcairan kenikmatannya menyembur keluar menyiram mulut dan muka Nanang, merasakan itu Nanang semakin kuat menghisap kelentit Nita, sementara jari tangannya ia dorong lebih dalam dan digerakkan keatas-kebawah, bagian depan dan belakang jari tangannya bergantian bersentuhan dengan dinding vagina Nita.

Oouuhhaku keluar.ooohenakhisap kuat-kuat itilku.yaaachhh,Nita mengerang, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan cairan kenikmatan, matanya terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang berhasil ia capai, kepalanya terdongak kebelakang.

*****

Saat kedua temannya sedang meregang keenakan, Dewi juga merasakan hal yang sama, tubuhnya saat itu juga sedang meregang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh, pantatnya semakin terangkat keatas, kedua kakinya gemetaran, kedua tangannya menjambak rambut Udin, sementara tubuhnya melenting ditopang oleh kepala dan kedua kakinya, mulutnya melenguh kuat saat vaginanya mulai menyemburkan lahar kenikmatannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vaginanya, ssrrrrr..ssssrrrr.ssssrrrrrr.

Din, aaku keluaarooohhhenak.sekali..hisap yang kuat Din, yach aaarggg,Dewi melenguh menyambut puncak kenikmatannya.

Dari wajah ketiga wanita itu terlihat senyum kepuasan, pipi mereka merona merah, nafas mereka terdengar memburu, tubuh mereka masih gemetar, terlihat pantat mereka masih mengejut-ngejut lemah seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vagina mereka yang mulai mereda.

Keempat lelaki itu mendiamkan sejenak aksi mereka, mereka merasakan kedutan-kedutan dilubang vagina mereka yang perlahan mulai mereda. Mereka berempat saling bertukar pandangan dan dimulut mereka tersungging senyuman, mereka berempat berpikir bahwa ini baru awal dari permainan seks selanjutnya dan mereka akan merasakan satu demi satu tubuh para wanita ini.

Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya.

Oooohhhh.,Hani melenguh.

Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari dirongga mulut Hani, saling bertautan, Gito mulai menaikkan ritme sodokan-sodokan kontolnya di lubang vagina Hani.

Sementara itu Parmin beranjak kearah Nita, yang saat itu sedang menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Parmin lalu menyuruh Nanang untuk mulai mengentot Nita sambil duduk dengan posisi WOT, Parmin membantu Nanang dengan menggendong tubuh Nita dan mengangkangkannya diatas tubuh Nanang, sementara Nanang mengarahkan kepala kontolnya kelubang vagina Nita, diselipkannya kepala kontolnya divagina Nita, ssleepppkepala kontolnya terjepit oleh lubang vagina Nita, Nita melenguh saat merasakan kepala kontol Nanang mulai menerobos lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan Parmin mulai menurunkan pantat Nita, bbleesss.bleessssbbleesss.kontol Nanang perlahan-lahan menerobos masuk kedalam lubang memek Nita, dan bbbleeesss..dengan sekali hentak Parmin menekan pantat Nita kebawah, kontol Nanangpun terbenam seluruhnya didalam lubang nikmat Nita, Nita melenguh keras saat Parmin menghentakkan pantatnya itu.

Uughhh.kontolmu besar dan panjangkurasa ujung kepala kontolmu menyentuh dinding rahimkuAaaarrgghh,lenguh Nita.

Parmin lalu mendorong punggung Nita, sehingga tubuh Nita tengkurap diatas tubuh Nanang, lalu ia mulai menyelipkan kontolnya kedalam lubang pantat Nita, Nita menjerit saat merasakan kepala kontol Parmin mulai menyeruak lubang pantatnya, Nita merasakan sakit dilubang pantatnya, tapi ia tidak bisa meronta karena saat itu Nanang sedang memeluknya dengan erat, dengan terpaksa Nita hanya dapat menerima perlakuan Parmin di lubang pantatnya, sambil menahan sakit ia menggigit pundak Nanang, Nanang mendiamkan gigitan Nita karena saat itu ia sedang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, kontolnya sedang terjepit dengan erat oleh memek Nita, ditambah dengan aksi Parmin yang sedang meneroboskan kontolnya dilubang pantat Nita sehingga membuat lubang vagina Nita semakin sempit dirasakan oleh Nanang.

Terus, Min, dorong terus, gila memeknya jadi tambah sempit, berkedut-kedut terus lagi, kontol gw kaya dipijat-pijat,teriak Nanang yang sedang keenakan merasakan jepitan memek Nita.

Heeh, ini pantatnya juga sempit, masih perawan, heheheempot ayam juga, tenang Bu, nanti juga enak, tanya aja ama bu Hani tuch, ya nggak bu Han,kata Parmin terkekeh-kekeh.

HeehbeetulNit, tar juga enak..Ooohhh terus Git, sodok lebih dalam lagi, iyaaahh,jawab Hani membetulkan sambil menikmati sodokan-sodokan kontol Gito.

Tuch, apa saya bilang Bu,Parmin berkata lagi, sambil terus menekankan kontolnya lagi, bbleess .blleessbbleeesssperlahan tapi pasti kontol Parmin mulai menyeruak masuk lebih dalam dilubang pantat Nita.

Hhhmmm.hhhmmmm,Nita hanya bisa bergumam merasakan kesakitan saat kontol Parmin menerobos makin dalam dilubang pantatnya.

Dan.Bbbleeesss.dengan sekali sentakan kuat Parmin mendorong kontolnya, Nita menjerit akibat sentakan Parmin itu,

Arrgghhhh.sakiiittt.ccabut..kontolmu ituUughhh,jerit Nita.

Parmin yang sedang menikmati jepitan erat lubang pantat Nita di batang kemaluannya itu tidak mau mendengarkan permintaan Nita, tapi dengan kedua tangannya memegangi pinggang Nita Parmin mulai dengan perlahan-lahan memaju mundurkan tubuh Nita, sehingga kontolnya dan kontol Nanang mulai keluar masuk dengan sendirinya dilubang-lubang Nita.

Min , uenak tenan, nichngentot cara begini, betul-betul mantabkayanya memeknya tambah sempit aja..oooohh, sedappnikmat.,kata Nanang saat ia mulai merasakan kontolnya keluar masuk memek Nita dengan seretnya.

Sssrtttt.bbleess..sssrtttt.bbleess.sssrrrtt.b bblleesssssrrttt..bbleeess.. kedua kontol mereka keluar masuk perlahan-lahan di kedua lubang Nita.

Lama kelamaan rasa sakit yang dirasakan oleh Nita berangsur menghilang berganti dengan rasa nikmat, Nita sekarang mulai bisa merasakan enaknya pergeseran kedua kontol itu didalam lubang memek dan pantatnya, ia merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh kontol-kontol besar Parmin dan Nanang, sensasi nikmat yang ia rasakan sekarang belum ia alami sebelumnya.

Sementara itu Udin mulai memposisikan tubuh Dewi untuk menungging, Dewi menuruti kemauan Udin yang ingin kontol* dia dari belakang, pantatnya ia angkat sementara dada dan wajahnya menempel keatas karpet, dengan tidak sabar lagi Udin mulai menyelipkan kepala kontolnya dilubang memek Dewi, setelah dirasakan kepala kontolnya tepat dilubang senggama Dewi, dengan sekali sentakan kuat Udin mendorong maju kontolnya menerobos vagina Dewi.
BleeessssssBatang kemaluan Udin menyeruak masuk kedalam vagina Dewi.

Aaaggghhhpelaann..Din, robek punyaku nantikontolmu besar sekali..,jerit Dewi saat lubang vaginanya diterobos dengan kuat oleh kontol Udin.

heeh..tenang bu, gak akan robek, tapi yang ada nanti merem-melek sama batangku ini,jawab Udin.

Udin merasakan jepitan kuat dibatang kontolnya, dan ia merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut, seolah-olah meremas-remas batang kontolnya, Udin merasakan nikmatnya memek Dewi itu, yang belum pernah dirasakan olehnya tatkala ia menyetubuhi istrinya yang sudah punya 3 anak.

Tak lama berselang Udin mulai memaju-mundurkan kontolnya didalam lubang vagina Dewi sssrttt.blessssrrrtttblessssssrttttbleess.

Oohhenak Din, terustekan yang dalam..yachyang kuat..oohhenak kontolmu Din,desah Dewi, yang merasakan nikmatnya sodokan kontol Udin divaginanya.

Teruss.oohhlebih cepat..yachhhhmmm..aaghhhnikmat,kembali Dewi mendesah.

Uughhhyach..tekan yang kuataaahhhenaknikmatkontolmu,rintih Hani yang sedang menikmati enjotan Gito.

Terus..Git, lebih cepatoohhhpuaskan akuyachhaaaghhhnikmat sekali,kembali Hani merintih keenakan.

Uugghhhhmmmmsslllrrpppmemek ibu sempit sekalihhmmmsslrrrppp,gumam Gito sambil mulutnya asyik menghisap-hisap payudara Hani bergantian kiri & kanan.

Sementara itu Nita juga sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, dari mulutnya tidak hentinya terdengar erangan-erangan keenakan,

Ooohhhenak..sekaliterus enjot kontol kalianyang dalam tekannyayaahhh..begitulebih cepatnaahhnikmat sekaliterusterus,erang Nita keenakan dienjot oleh Nanang dan Parmin.

Kedua payudara Nita juga tidak luput dari aksi Nanang, remasan-remasan tangan Nanang dikedua payudara Nita dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan serta jilatan-jilatan pada kedua putingnya membuat Nita semakin mengerang kenikmatan.

OoohhhNang, hisapterushisaptetekkuyachyang kuat..oohh..geli enak..,Nita mengerang lagi.

hhhmmm ssslrrppp hhmmm ssslllrpppmemek ibu juga enak sekali sempit ssllrrppp hhhmmm,desah Nanang.

Ooohhenakooohhnikmat,Parmin merintih keenakan, sambil terus menggenjot kontolnya keluar masuk dalam lubang pantat Nita.

Rintihan, erangan, dan desahan terdengar tanpa henti dari mulut mereka, keringat mereka sudah membanjiri tubuh mereka dan bercampur aduk, bunyi suara ceplakan saat tubuh mereka beradu menambah ramai suasana persetubuhan mereka.

Cairan pelicin semakin banyak keluar dari kemaluan mereka, mempermudah keluar masuk batang kemaluan para lelaki didalam lubang-lubang para wanita, gerakan keluar masuk batang kemaluan para lelaki semakin bertambah cepat, akibatnya membuat para wanita semakin mengerang keenakan.

Mendapat sodokan-sodokan yang bertubi-tubi dari batang kemaluan para lelaki itu membuat para wanita itu mulai goyah, tubuh mereka mulai mengejang dan mengejut-ngejut, puncak kenikmatan para wanita sudah diambang pintu, sementara para lelaki mengalami hal yang sama, puncak kenikmatan mereka hampir mereka rengkuh juga, gerakan para lelaki itu sudah mulai tidak beraturan.

Ooohhaaku tidak tahan lagi aku mau keluar..aahhh..nikmatenak,Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan, puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya akan mereka raih.

Oooohhhaku keluarOohhtekan yang dalaammm.yang kuaat,™kembali Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan dan, sssrrrr.ssrrr.sssrr.sssrrr.vagina mereka menyemburkan lahar kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan lelaki yang sedang berada dalam lubang mereka.

Uughhhhhmmmaku keluar jugaa.aaagghhenaaakk..uughh,Ke empat lelaki itu mengerang secara bersamaan dan menekan dalam-dalam kontol mereka kedalam lubang para wanita itu, dan cccrreeeett.creeetttccreeett.ccreeett.kontol mereka memuntahkan lahar kenikmatan didalam lubang para wanita itu hampir berbarengan dengan semburan lahar kenikmatan dari vagina para wanita itu.

Tubuh mereka semua terlihat mengejut-ngejut seirama dengan muntahnya lahar kenikmatan mereka, nafas mereka terdengar memburu, pancaran puas terbias di wajah mereka. Selang tak lama setelah tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan masing-masing, mereka semua akhirnya tergolek kelelahan diatas karpet.

Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani dan Nita kembali keruang keluarga sementara Dewi menuju ke dapur untuk membuat minuman, Hani dan Nita menyuruh para lelaki itu untuk membersihkan batang kemaluan mereka sebelum mereka memulai ronde selanjutnya, dengan gesit para lelaki itu menuju kekamar mandi bersamaan.

Di dapur Dewi yang sedang membuat minuman tidak menyadari, bahwa saat itu anaknya Doni sudah berada di garasi bersama dengan 3 temannya, mereka memasukkan mobil kedalam garasi saat Dewi sedang berada didalam kamar mandi, sementara para lelaki tidak mendengar suara mobil datang karena suara musik di ruangan keluarga agak lumayan keras sehingga menutupi suara mobil Doni. Nampaknya Doni merencanakan sesuatu dengan ketiga temannya, karena kepulangan Doni lebih awal dari yang ia bilang ke Dewi. Doni mengetahui bahwa Dewi pernah melakukan seks dengan ketiga temannya yang saat sekarang ini bersama dia, dan dia mendengar cerita mereka saat mereka menyetubuhi Dewi, Doni tertarik untuk melakukan ramai-ramai bersama temannya sebelum pesta ulang tahunnya besok dimulai.

Tapi Doni tidak mengetahui bahwa saat itu Dewi baru saja selesai pesta seks, ketika Doni membuka pintu garasi yang menghubungkan dengan dapur, Doni terkejut dengan pemandang yang ada dihadapannya, ia melihat tubuh Dewi yang tidak mengenakan sehelai kainpun sedang menyiapkan minuman, Doni tidak mau banyak berpikir kenapa Dewi bertelanjang bulat dan suara musik terdengar mengalun dari ruangan keluarga, yang saat ini ada dalam pikiran Doni dan ketiga temannya yang menyaksikan pemandangan itu adalah ˜Pucuk Dicinta Ulam Tiba™, keinginan mereka bakalan terwujudkan malam ini yaitu menyetubuhi Dewi beramai-ramai.

Ehhhapa-apaan ini, siapa?,Dewi berkata setengah terkejut saat Doni memeluknya dari belakang.

SstttMih, Ini Doni..,jawab Doni, sambil melanjutkan dengan menciumi tengkuk Dewi dan kedua tangannya meremas-remas kedua bukit kembar Dewi.

OoohhDon, kukira siapa, oooohhh.jangan disini, kita didalam saja,Dewi mendesah mendapat serangan Doni, dan ia melepaskan tangan Doni dari kedua bukit kembarnya, Dewipun membalikkan badannya berhadapan dengan Doni.

Dewi tambah terkejut saat tubuhnya berhadapan dengan Doni, karena bukan hanya Doni yang datang tapi ada ketiga temannya Doni yang pernah melakukan seks dengan dia, dengan sedikit salah tingkah Dewi mencoba menutupi kedua payudaranya dan selangkangannya, tapi hal itu dicegah oleh Doni, kedua tangan Dewi dipegang oleh Doni sambil Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, mendengar itu muka Dewi menjadi merah, tapi otaknya berpikir dengan cepat, pesta malam ini akan menjadi tambah seru karena kedatangan tenaga baru dan muda, dengan cepat diajaknya ke 4 anak muda ini kedalam sambil tidak lupa untuk menyuruh mereka membawa minuman yang sudah dibuatnya tadi.

Doni dan ketiga temannya terperanjat saat sampai diruangan keluarga begitu pula dengan Gito cs, yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira hanyalah Nita & Hani, jalan pikiran mereka hampir sama dengan Dewi, yaitu kedatangan tenaga baru yang masih muda.

Hani dan Nita langsung menyambut keempat anak muda itu, dengan gesit mereka melucuti baju mereka satu persatu sehingga keempatnya sekarang sama-sama telanjang bulat, Nita dan Hani berdecak kagum melihat keempat batang kemaluan mereka yang sudah berdiri tegak dan ukurannya hampir sama, tapi yang jelas kepunyaan keempat anak muda ini lebih besar dan panjang daripada kepunyaan Gito cs, dengan bernafsu Hani dan Nita mulai menyerbu keempat batang kemaluan itu, Hani memegang 2 batang begitu juga dengan Nita, lalu mereka mulai menyelomoti kontol-kontol tersebut, yang satu diselomoti dan dikulum-kulum yang satunya dikocok-kocok dan diremas-remas lembut oleh tangan Hani dan Nita.

Gito cs asyik menonton ˜live show™ yang dilakukan oleh Hani dan Nita serta keempat anak muda itu, sementara itu Dewi berpikir tentang mengundang sisa teman-teman Doni untuk datang malam ini, ia mempunyai rencana untuk membuat pesta ulang tahun Doni dirayakan tepat jam 12 malam, lalu ia membisikkan sesuatu ketelinga Doni, dijawab oleh Doni dengan anggukan, kemudian Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, Dewi mengangguk dan langsung mengambil HP Doni, Dewi beranjak meninggalkan ruangan menuju ke dapur, di dapur terlihat Dewi sibuk berbicara di HP Doni.

Anto dan Dedi yang saat itu sedang menikmati permainan tangan dan mulut Hani mengimbangi permainan Hani dengan meremas-remas payudara Hani dan memilin-milin puting susunya Hani, Hani menikmati remasan-remasan tangan mereka di kedua payudaranya serta pilinan-pilinan di kedua putingnya, membuat ia semakin bernafsu mengulum-ngulum kedua batang kemaluan Anto dan Dedi, kedua batang kemaluan Anto dan Dedi bergantian dikulum-kulum oleh Hani, saat Hani mengulum dan menyelomoti serta menjilati kontol Anto tangannya sibuk meremas dan mengocok-ngocok kontol Dedi, begitu juga sebaliknya saat mulut Hani sibuk dengan kontol Dedi tangannya sibuk mempermainkan kontol Anto, Anto dan Dedi betul-betul menikmati permainan Hani, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras, nafsu Anto dan Dedi tidak dapat dibendung lagi dengan bersamaan mereka mengangkat tubuh Hani untuk berdiri, lalu kedua anak muda ini mulai menyerang Hani, Anto diatas dan Dedi dibawah, Anto dengan bernafsu mulai menciumi, menjilati, menghisap-hisap kedua payudara Hani bergantian antara kiri dan kanan, sementara Dedi berjongkok sibuk menjilati kelentit Hani dan menghisap-hisapnya, serangan mereka membuat Hani mendesah keenakan, tubuhnya gemetar menahan laju nikmat yang sangat luar biasa.

Ooohhhisap tetekkuooohh itilku juga hisap yang kuat.aaahhhenak,desah Hani.

remas-remas tetekkuyaahh..terusoohh..hisappremasooohh,Han i mendesah lagi.

Ooohhhhisap itilkuyaahh..enakk..terus..kocok memekku dengan jari..yah hhmmm..aaahh.. teruspuaskan akuhhhmm..aahhh,lagi-lagi Hani mendesah-desah keenakan.

Kemaluan Hani semakin basah akibat perlakuan kedua anak muda itu, cairan pelicinnya semakin banyak keluar, membasahi jari-jari Dedi yang sedang keluar masuk di lubang memek Hani, gerakan jari tangan Dedi semakin cepat keluar masuk dilubang memek Hani, tubuh Hani meliuk-liuk menahan arus nikmat yang luar biasa, pantatnya terlihat mengejut-ngejut saat Dedi menghisap kelentitnya serta mengocok lubang vaginanya, desahan-desahan nikmat keluar tanpa henti dari mulut Hani, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.

Anto dan Dedi merasakan batang kemaluannya semaklin mengeras saja mendengar desahan Hani, mereka kemudian menghentikan aksinya, kemudian mereka menyuruh Hani merangkak, Anto lalu berlutut tepat dihadapan Hani dan segera menyodorkan kontolnya kemulut Hani yang langsung disambut oleh Hani dengan penuh nafsu, sambil tangannya memegangi kepala Hani, Anto menekankan dan menarik kepala Hani sehingga kontolnya keluar masuk mulut Hani, bibir Hani menjepit kuat batang kemaluan Anto, kadang-kadang karena terlalu menekan kebawah kepala kontolnya menyentuh anak tekak Hani, sehingga membuat Hani tersedak, sementara Anto mulai beraksi di mulut Hani, Dedi berjongkok dibelakang Hani dan mengarahkan kepala kontolnya kearah lubang vagina Hani, ssleeepppdiselipkannya kepala kontolnya tepat dilubang memek Hani.

Dedi mulai mendorong masuk kontolnya perlahan-lahan kedalam lubang memek Hani, bleess.. bleesss.bleesss sedikit demi sedikit batang kemaluannya mulai terbenam didalam lubang senggama Hani, Dedi merasakan memek Hani sangat menjepit erat kontolnya, Hani sendiri merasakan memeknya menjadi penuh sesak oleh kontol Dedi, Dedi mendiamkan sebentar kontolnya yang baru masuk setengahnya, ia merasakan memek Hani seperti meremas-remas kontolnya, nampaknya otot dinding vagina Hani sedang bekerja hendak menyesuaikan dengan ukuran batang kemaluan Dedi.

Terus jangan berhentitekan lebih dalam lagi kontolmu..Ooohhh..enak sekali kontolmu hhhmmmm..ssllrppp.oouughhhh, Hani merintih sambil melahap kontol Antol lagi.

Mendengar itu Dedi lalu mendorong lagi kontolnya untuk masuk lebih dalam bleesss.blesss.blesssperlahan-lahan batang kemaluan Dedi akhirnya masuk semua kedalam lubang senggama Hani.

Uugghhhgila To, memeknya sempit sekali, kayanya jarang dipake nih ama lakinya.,Dedi berkata kepada Anto.

Tar giliran, gw masih asyik dengan sepongannyagila ..ahli banget dia nyepong kontol nich, Anto menjawab.

Tangan Anto kemudian beralih meremas-remas payudara Hani yang mulai bergoyang kedepan dan kebelakang seirama dengan sodokan-sodokan Dedi yang mulai mengeluar masukkan kontolnya dilubang memek Hani.

Hani dibuat merem melek oleh mereka berdua, desahan dan rintihan keenakan semakin sering keluar dari mulutnya yang sibuk menyepong kontol Anto, tubuhnya gemetar menahan arus kenikmatan yang menerjang dengan kuat, Hani merasakan lubang vaginanya berdenyut semakin cepat secepat sodokan-sodokan kontol Dedi, tubuhnya mulai bergetar hebat, paha dan pantatnya mulai mengejut-ngejut, menyambut datangnya puncak kenikmatannya, tak lama berselang Hani melenguh panjang, vaginanya berdenyut-denyut menyemburkan lahar kenikmatannya.

Sssssrrr..ssssrrrrr.sssssrrrrr.sssrrr.vagina Hani menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami batang kemaluan Dedi.

Ooooohhh..aaakku..keluaareenak..sekaliaaahhh. ssshhh..ooohhhhmmm..aahh, lenguh Hani.

Tubuh Hani bergetar dengan hebat, terlihat pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan keluarnya cairan kenikmatannya, kepalanya mendongak matanya terpejam, tangannya mencengkram paha Anto dengan kuat.

Saat Hani sedang sibuk mengulum-ngulum kontol Dedi dan Anto, Nita juga melakukan hal yang sama terhadap batang kemaluan Roni dan Doni, kontol Roni dan Doni bergiliran keluar masuk di mulut Nita, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras.

Tak lama berselang Doni berjongkok dibelakang Nita yang sedang asyik mengulum-ngulum kontol Roni, dipeluknya Nita dari belakang, kedua tangan Doni meraih dan mulai meremas kedua payudara Nita yang ranum, kadang-kadang diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya, sementara batang kemaluannya ia selipkan kebawah dan digesek-gesekkannya kebibir vagina Nita yang mulai membasah oleh cairan pelicinnya, tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh Doni, ia juga mulai menciumi dan menjilati tengkuk dan punggung Nita, Nita mendesah lirih mendapat serangan dari Doni ini, nafsu birahinya semakin memuncak meminta untuk dituntaskan, selomotannya dikontol Roni semakin bertambah cepat diselingi dengan hisapan-hisapan kuat sehingga membuat Roni mengerang keenakan diperlakukan seperti itu oleh Nita.

Doni yang merasakan vagina Nita yang sudah semakin basah, kemudian ia merebahkan dirinya lalu perlahan-lahan ia menggeserkan tubuhnya kebawah tubuh Nita yang sedang berjongkok, Nita yang merasakan gesekan paha Doni di kedua kakinya mengarahkan tangannya untuk menggapai kontol Doni, setelah posisi kontol Doni tepat dibawah lubang vaginanya, Nita mulai mengoles-oleskan kepala kontol Doni di kelentitnya, lalu Nita mulai menyelipkan kepala kontol Doni dilubang memeknya, ssleeeppp..kepala kontol Doni mulai terjepit oleh vagina Nita, sambil tidak melepaskan permainan mulutnya di kontol Roni, Nita mulai menurunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan kontol Doni mulai menerobos masuk kedalam lubang senggamanya, kedutan batang kemaluan Doni dapat dirasakan oleh dinding lubang vaginanya, matanya terbeliak saat kontol Doni mulai menyeruak masuk dilubang vaginanya, mulutnya menggumam tidak jelas karena tersumpal oleh kontol Roni.

Doni merasakan memek Nita betul-betul sempit, batang kemaluannya terjepit dengan erat oleh dinding vagina Nita, Doni merasakan hangatnya lubang senggama Nita dan ia juga merasakan dinding vagina Nita berdenyut-denyut seolah-olah sedang meremas-remas kontolnya.

Blleeess..bleeeesss.bleesssskontol Doni sedikit demi sedikit mulai tertelan didalam lubang senggama Nita, sambil menikmati eratnya jepitan memek Nita, Doni mengelus-elus punggung dan pantat Nita, sambil mulutnya mengeluarkan suara lenguhan saat merasakan kontolnya yang semakin lama semakin dalam menerobos memek Nita, bleesssbleesssakhirnya kontol Doni terbenam seluruhnya didalam rongga memek Nita, setelah mendiamkan sesaat Nita mulai menaik turunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan batang kemaluan Doni yang besar sedang menggeser-geser dinding vaginanya dengan ketat sekali, rasanya berbeda dengan yang ia rasakan saat dientot oleh suaminya ataupun Nanang, Doni tidak dapat melihat mimik muka Nita yang sedang keenakan itu, karena posisi Nita yang membelakanginya, Roni yang melihat raut wajah Nita yang sedang merasakan keenakan itumenjadi bertambah nafsu, sambil tangan kirinya memegangi bagian belakang kepala Nita, tangan kanannya mulai beraksi meremas-remas payudara Nita dan memilin-milin putingnya, Nita semakin keenakan dibuatnya.

Lenguhan dan desahan Nita sering terdengar, hampir bersahutan dengan lenguhan dan desahan Hani yang saat itu juga sedang menikmati sodokan Dedi dan Anto, kedua wanita itu betul-betul menikmati persetubuhan mereka ini.

Ooougghhhhhmmmpppsssllrpppeeenakhhmmpp..slrrp pkontol kalianbesarhhmm ..ssllrppp,desah Nita sambil tetap mengulum-ngulum kontol Roni.

Doni membantu gerakan naik turun Nita dengan memegangi pinggang Nita, lalu mendorong naik dan menarik turun tubuh Nita, semakin lama semakin cepat gerakan tangan Doni, dan kedua bukit kembar Nita terombang-ambing naik turun, menambah gemas ingin meremas bagi yang melihatnya.

Shhhooohhhhmmppsllrpppsssshhooohhhheenakte russooohh..hhmmm..sllrpp.. makin cepat..oohhsshhh..aahhhhhhmmmppp..sslrrpp,Nita merintih keenakan.

Remas .oohh.hhmm..tetekkussllrrpphhmm..ssshhaahhhy ang kuatpilin..sslrrpp sshh..aaahhputingnya..oohhyah..gitu..ssllrrppoo ohh..enaknikmat,Nita merintih lagi.

Roni meremas-remas kedua payudara Nita bergantian kiri dan kanan sambil diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya yang semakin mencuat, selang tak lama Roni kemudian berlutut dan mulai menciumi bibir Nita dengan bernafsu, lidahnya menjulur masuk kedalam rongga mulut Nita mencari lidah Nita, kedua lidah mereka mulai menari bersama didalam rongga mulut Nita, saling bertautan, saling bersentuhan, nafas mereka berdua semakin memburu penuh nafsu, tangan Roni perlahan-lahan merayap turun kebawah mengarah keselangkangan Nita, yang dituju oleh Roni adalah kelentit Nita, jari tangannya mulai menyentuh kelentit Nita, dengan lembut kelentit Nita mulai digesek-geseknya, kemudian kelentit Nita dijepit oleh kedua jari tangannya, setelah kelentit Nita terjepit oleh kedua ttangannya, Roni mulai menggerakkan jari-jari tangannya dengan lembut, kelentit Nita semakin menyembul keluar akibat perlakuan jari tangan Roni, terlihat tubuh Nita bergetar hebat menikmati sensasi permainan tangan Roni dipadu dengan sodokan-sodokan kontol Doni, pantatnya kadang-kadang mengejut-ngejut, erangan dan desahannya semakin sering terdengar dari mulutnya, apalagi mulut Roni mulai menghisap-hisap kedua puting susunya kiri dan kanan bergantian, matanya merem melek menikmati terpaan gelombang birahinya yang semakin membesar.

Oooohhh.ssshhhaaahhooohhhsshhh..aahhhenakte rus.enaknikmatsshh.. ahhhyang kuat ssshhaaahhh..yang dalamooohh,Nita melenguh keenakan.

hisap tetekkuooohh..ssshenakkyang kuathhhmmmsshhaahhh,kembali Nita melenguh.

Selang tak lama, seiring dengan menekan pantatnya kebawah sekali Nitapun memeluk tubuh Roni dengan erat, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut, kakinya yang tadi sedang dalam posisi jongkok sekarang bersimpuh tidak kuat menahan serangan gelombang birahinya yang telah mencapai titik klimaksnya, terlihat kedua kakinya bergetar dengan hebat, dan ssssrrrrrrsssssrrrssssssrrrr.. lahar kenikmatannya menyembur dengan kuat membasahi kontol Doni, pelukannya ditubuh Roni semakin erat, dari mulutnya keluar lenguhan panjang, matanya terpejam.

Oooogghhhh..aku keluarenak sekaliooohhhaahhh..ssshhh..aaahhh,lenguh Nita.

Doni merasakan dinding vagina Nita berdenyut kencang seirama dengan semburan-semburan lahar kenikmatannya yang memyirami kontolnya, Roni yang merasakan pelukan Nita ditubuhnya semakin erat, semakin mempercepat gerakan-gerakan jari tangannya di kelentit Nita.

Ooohh..nikmat sekali ooohhenak sekali ooohhaku betul-betul puasooohh,Nita mendesah menikmati puncak klimaksnya yang baru saja ia raih.

Setelah pelukan Nita ditubuhnya mulai mengendur Roni mulai menciumi bibir Nita dengan lembut, mereka berpagutan dengan lembut, tangan Ronipun beralih kepunggung Nita dan mengusap-usap lembut punggung Nita, sementara Doni menimpali dengan meremas-remas kedua bongkah pantat Nita dengan lembut.

Sementara itu saat Nita berhasil merengkuh puncak kenikmatannya, Hanipun berhasil mencapai puncak klimaksnya, jerit kenikmatan mereka terdengar hampir bersamaan, dan ini adalah yang untuk ketiga kalinya mereka berhasil meraih puncak kenikmatan mereka, hal yang belum pernah mereka alami selama ini, untuk satu kali saja mereka berhasil meraih puncak kepuasannya hampir tidak pernah mereka alami, apalagi sampai tiga kali seperti sekarang ini.

Keempat anak muda ini memberikan kesempatan kepada Hani dan Nita untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka raih, hanya Roni dan Anto saja yang menciumi bibir Hani dan Nita dengan lembut, untuk sekedar menambah sensasi kenikmatan yang baru saja Hani dan Nita raih.

Nafas Hani dan Nita mulai terdengar normal kembali, vagina mereka sudah berhenti berkedut, lahar kenikmatan merekapun sudah berhenti menyembur. Mereka berenam terlihat mulai merubah posisi mereka, nampaknya mereka akan memulai babak baru persetubuhan mereka.

Tanpa melakukan oral seks lagi, mereka langsung melakukan babak persetubuhan itu, Anto dan Roni segera merebahkan tubuh mereka diatas karpet, Hani dan Nita menaiki tubuh mereka dan meraih batang-batang kemaluan mereka, kemudian menyelipkan batang-batang kemaluan tersebut dilubang vagina mereka, sssleeeppp.ssleeppp kontol Anto terjepit vagina Hani dan kontol Roni terjepit vagina Nita, dengan waktu hampir bersamaan Hani dan Nita mulai menurunkan pantat mereka, bbleeess..bleeesss.bbleessss. perlahan-lahan kontol Anto dan Roni mulai menerobos masuk sedikit demi sedikit dilubang senggama Hani dan Nita, akhirnya batang kemaluan Anto dan Roni tidak terlihat lagi, seluruh batang kemaluan mereka tertelan didalam gelapnya lubang senggama Hani dan Nita.

Dedi dan Doni yang sedang berjongkok dibelakang Hani dan Nita melihat semua proses penerobosan batang kemaluan Anto dan Roni, mulai bergerak setelah melihat kedua kontol teman mereka itu tenggelam dilubang kehangatan Hani dan Nita, mereka berbarengan mengarahkan pedang wasiat mereka kelubang pantat Hani dan Nita, diselipkan kepala kemaluan mereka dilubang pantat Hani dan Nita, sslleeeppp.ssleeeeppp Hani dan Nita terpekik saat kepala kontol mereka mulai menerobos lubang pantat itu, karena kepala kontol yang barusan menerobos masuk itu lebih besar dari kepunyaan Parmin, rasa perih mereka alami lagi tapi tidak seperih saat pertama kali lubang mereka diterobos oleh Parmin, bblleeeess.bbleeesss. bleesss bleeess Dedi dan Doni hampir berbarengan mendorong masuk batang-batang mereka kedalam lubang pantat Hani dan Nita.

Tiba-tiba tangan Doni dan Dedi yang sedang memegangi pinggang Nita dan Hani, menarik kuat-kuat pinggang Hani dan Nita, akibatnya batang-batang kemaluan mereka terbenam seluruhnya didalam lubang pantat Nita dan Hani.

Aiiiiooougghh..pelan,Hani dan Nita menjerit bersamaan.

Sssrrrttttbbleeess.sssrttttbleesss.. kontol keempat anak muda itu mulai keluar masuk didalam lubang-lubang Hani dan Nita seirama dengan gerakan tangan Doni dan Dedi yang mendorong dan menarik tubuh kedua wanita itu.

Tubuh Hani dan Nita bergerak maju mundur, kedua payudara merekapun bergoyang maju mundur, Anto dan Roni yang melihat ini mulai mengangkat kepala mereka, kedua tangan mereka mulai memegangi payudara yang sedang berguncang itu, sambil meremas-remas payudara itu mereka mulai menjilati puting-puting payudara tersebut dan kadang-kadang dihisap-hisap puting-puting tersebut. Suara decakan dan hisapan terdengar dari mulut Anto dan Roni, bersahutan dengan suara rintihan keenakan Hani dan Nita, menambah suasana menjadi ramai, nafsu birahi Gito cs yang menyaksikan aksi mereka dari tadi semakin bertambah, batang-batang kemaluan mereka berempat sudah menegang lagi, secara bersamaan mereka berempat beranjak menghampiri mereka berenam yang sedang asyik masyuk bersenggama.

Parmin dan Gito berlutut disamping kiri dan kanan Nita, sementara Nanang dan Udin berlutut disamping kiri dan kanan Hani, batang-batang kemaluan mereka yang tegak berdiri disodorkan kepada kedua wanita itu, Hani dan Nita segera meraih batang-batang kemaluan itu, secara bergiliran Hani dan Nita mulai meng-oral batang-batang kemaluan tersebut, saat sedang meng-oral batang kemaluan yang satu yang satunya mereka kocok-kocok dengan tangan mereka, Gito cs dibuat melenguh-lenguh menikmati permainan mulut dan tangan kedua wanita itu.

*****

Dewi terlihat sedang duduk diruangan tamu, ia sudah tidak sibuk lagi dengan teleponnya, nampaknya ia sedang menunggu kedatangan orang.

Saat Hani dan Nita sedang sibuk melayani nafsu birahi kedelapan lelaki itu, sebuah mobil masuk kepekarangan rumah Dewi, Dewi yang melihat sinar lampu mobil tersebut segera beranjak kepintu rumahnya lalu ia membuka pintu rumahnya, Dewi hanya menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, karena saat itu Dewi tidak mengenakan sehelai benangpun, Dewi melihat 7 anak muda turun dari mobil tersebut, senyum simpul tersungging di wajahnya, tenaga baru sudah datang batinnya berkata.

Yang datang memang teman-temannya Doni yang tadi Dewi teleponin, ke 7 anak muda itu terperanjat saat mereka melangkah masuk kedalam rumah, mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, mereka melihat tubuh Dewi yang tidak tertutupi oleh sehelai benangpun. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka akan menyaksikan mamihnya Doni telanjat bulat, apalagi mereka tidak menyangka mamihnya Doni masih muda dan sexy, mereka memang untuk pertama kalinya datang bertandang kerumah Doni, berbeda dengan Roni, Dedi dan Anto yang sering bermain kerumah Doni, pendulum mereka mulai bergerak naik, darah muda mereka berdesir melihat kedua payudara Dewi yang ranum, turun kebawah mereka melihat gundukan semak hitam diselangkangan Dewi, wajah Dewi yang cantik, tubuh yang sexy dan senyum simpul yang tersungging membuat gairah birahi ke 7 anak muda itu bergelora, saat ke 7 anak muda itu sedang terpesona oleh tubuh Dewi, sebuah mobil kembali masuk kedalam pekarangan rumah, dari mobil itu turun 2 wanita sexy dan cantik, usia mereka seumuran dengan Dewi dan kedua teman Dewi yang saat ini sedang menikmati persetubuhan.

Kedua wanita itupun melangkahkan kakinya kearah pintu depan, saat kaki mereka melangkah kedalam rumah merekapun sama terperanjatnya dengan ke 7 anak muda tadi, Ke 7 anak muda itu tidak menyadari kehadiran 2 wanita ini, mereka masih terperangah melihat pemandangan didepan mata mereka.

Kedua wanita itu adalah teman Dewi bernama Siska dan Rina, umur mereka memang hampir seumuran dengan Dewi, mereka sama cantiknya dengan Dewi ataupun Hani dan Nita, mereka berdua juga mempunyai tubuh yang sama-sama sexy seperti tubuh Dewi, Hani dan Nita, yang membedakan mereka adalah keduanya tidak mempunyai suami, mereka berdua adalah wanita simpanan entah pejabat entah orang kaya.

Persamaan yang paling nyata dari kelima wanita ini adalah mereka membutuhkan kontol-kontol perkasa yang dapat memuaskan libido seks mereka yang tidak pernah mereka dapatkan dari pasangan mereka masing-masing.

Ke 9 orang ini masih terkejut dengan apa yang dilihat oleh mereka saat ini, tapi Dewi yang menjadi pusat perhatian ini nampaknya tidak memperdulikan kekagetan mereka, setelah mengunci pintu rumahnya, Dewi mengajak mereka semua keruangan keluarga dimana saat itu Hani dan Nita sedang dikeroyok.

Mata ke 9 orang yang baru datang ini semakin terbelalak melihat pemandangan diruangan keluarga, batang-batang kemaluan ke 7 anak muda yang baru datang itu semakin mengeras, celana mereka semakin menggembung, Dewi yang dari tadi selalu memperhatikan celana ke 7 anak muda itu menjadi tersenyum, sementara Siska dan Rina juga mulai terangsang melihat pemandangan itu dan mendengar suara desahan dan lenguhan Hani dan Nita yang sedang keenakan menerima sodokan-sodokan kontol.

Gito dan Nanang yang saat itu batang kemaluannya tidak sedang dipermainkan oleh Hani dan Nita beranjak menghampiri mereka yang baru datang, keduanya menghampiri Siska dan Rina, dengan penuh nafsu melihat barang baru mereka mulai menggerayangi tubuh kedua wanita itu, hanya dalam waktu sekejap saja kedua wanita itu dibuat telanjang bulat oleh Gito dan Nanang, sementara itu ke 7 anak muda yang baru datang mulai membuka baju mereka dengan tergesa-gesa, terlihat batang-batang kemaluan mereka telah berdiri dengan tegaknya saat tubuh mereka sudah tidak mengenakan sehelai kainpun, ukuran batang-batang kemaluan itu bervariasi, ada yang seukuran Doni cs, ada juga yang seukuran Gito cs dan ada juga yang lebih kecil dan pendek dari ukuran Doni cs dan Gito cs, Dewi yang memang sudah sangat bernafsu menghampiri para pemuda itu, kemudian ia berjongkok dan mulai mengulum-ngulum salah satu kontol itu, sementara kedua tangannya meraih kontol-kontol yang lainnya, keempat anak muda yang batang-batang kemaluannya lolos dari serbuan Dewi mulai beralih kearah Siska dan Rina yang sedang diserang oleh Gito dan Nanang, merekapun mulai membantu Gito dan Nanang menyerang Siska dan Rina.

Doni yang sedang asyik menikmati persetubuhannya matanya melirik kearah Dewi, ia melihat Dewi sedang asyik bermain dengan 3 batang kemaluan kepunyaan temannya, saat itu Doni melihat mamihnya sedang menyepong kontol Hadi, sementara kontol Edwin dan Hendra berada dalam genggaman tangan mamihnya, disebelah grup mamihnya Doni melihat Dadang dan Acep sedang sibuk menggerayangi Siska bersama Gito dan disebelahnya lagi Doni melihat Nanang yang asyik mencumbu Rina sedang dibantu oleh kedua temannya Feri dan Hilman.

Ruangan keluarga itu bertambah riuh oleh suara-suara desahan dan lenguhan-lenguhan dipadu dengan suara berkecipak kontol-kontol yang sedang keluar masuk lubang-lubang Hani dan Nita. Pesta ulang tahun Doni menjadi pesta seks yang luar biasa, ke 20 orang diruangan itu asyik dengan kegiatan masing-masing, tanpa memperdulikan hal-hal yang lain, yang mereka perdulikan adalah terlampiaskan nafsu birahi mereka yang menggelora.

*****

Saat Hani dan Nita yang semakin menikmati ketiga batang kemaluan yang sedang memenuhi semua lubang mereka, Dewi yang sedang asyik menyepong Hadi juga mulai menikmati serangan-serangan Edwin dan Hendra, Edwin mulai menyerbu kedua payudara Dewi, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua payudara Dewi dan juga mulai menghisap-hisap kedua putingnya bergantian kiri dan kanan, sementara Hendra mulai menyerbu vagina Dewi, Hendra mulai menyelusupkan kepalanya kebawah Dewi yang saat itu berjongkok, mulutnya mulai menciumi dan menjilati kelentit Dewi, sementara kedua tangannya menopang paha Dewi, Dewi mulai mendesah-desah dengan mulut yang sedang penuh oleh kontol Hadi.

Hhhhhmmm ssshhh.aaaahhhhhhmmmpppsslllrrppooohh..sshhh.. aaahhsslrrpp sshhh..aaahhhhhhmmmmppssslrrrppp,Dewi mendesah-desah sambil mulutnya tetap menyepong kontol Hadi.

Mendapat serangan di payudara dan di vaginanya membuat nafsu birahi Dewi semakin menggelora, hasrat ingin disodok-sodok oleh kontol-kontol perkasa semakin memuncak, jilatan dan hisapan-hisapannya di kontol Hadi semakin menggila, kedua pipinya terlihat mengempot saat Dewi menghisap kontol Hadi dengan kuat, aksi Dewi membuat Hadi mengerang keenakan, kedua tangan Hadi memegangi kepala Dewi, saat Dewi menghisap-hisap kuat kontolnya, Hadi menekan maju kepala Dewi, kontol Hadi hampir seluruhnya tertelan oleh mulut Dewi, kepala kontolnya menyentuh anak tekak Dewi, membuat Dewi tersedak, Dewi sedikit menarik kepalanya kebelakang tapi hal itu tidak dapat dilakukannya karena tangan Hadi memegang kepalanya dengan kuat, Hadi yang sedang keenakan malah semakin menekan kepala Dewi dan mendorongkan kontolnya semakin dalam didalam mulut Dewi, membuat Dewi semakin tersedak merasakan jejalan kontol Hadi didalam mulutnya, kepala kontol Hadi sudah melewati anak tekaknya, dan menyentuh tenggorokannya, Dewi gelagapan dan agak sedikit susah bernafas dibuatnya, melihat itu Hadi mulai menarik kontolnya keluar dari mulut Dewi, Dewi menjadi lega dan bisa bernafas lagi, tapi baru saja Dewi mulai dapat bernafas lega, Hadi mulai mendorong masuk lagi kontolnya dalam-dalam kedalam rongga mulutnya, dan kali ini kontol Hadi masuk seluruhnya, itu terlihat dari hidung yang menempel di selangkangan Hadi, akibatnya kembali Dewi tersedak dan nafasnya megap-megap lagi, begitu seterusnya Hadi memaju mundurkan kontolnya dimulut Dewi.

Hadi yang memang dari pertama datang sudah sangat terangsang tidak dapat lagi menahan puncak birahinya, kontolnya yang sedang keluar masuk mulut Dewi mulai berdenyut dengan kuat, tubuhnya mulai bergetar hebat, kedua kakinya gemetaran menahan hasrat birahinya yang hampir keluar, tak lama berselang tubuhnya menggigil hebat saat kontolnya ia tekan dalam-dalam kedalam mulut Dewi, dan creeettt.creeetttccreeett.creettt. kontolnya menyemburkan cairan spermanya didalam mulut Dewi, Dewi kelabakan dibuatnya, sperma Hadi langsung tertelan olehnya karena kontol Hadi yang terbenam dalam-dalam didalam mulutnya, Dewi merasakan semburan kuat menghantam dinding tenggorokannya, Dewi tersedak dan terbatuk-batuk dibuatnya, sementara Hadi yang sedang meraih puncak kenikmatannya itu mengerang keenakan, pantatnya mengejut-ngejut seiring dengan kontolnya yang sedang mengejut-ngejut memuntahkan lahar kenikmatannya.

UuhuukkUuhhuukkk.uuhuukkkggleekk.uuhuukkkuuh uukkgglleeekkk.uhuukk.., Dewi terbatuk-batuk dan menelan sperma Hadi yang langsung masuk ditenggorokannya.

Uuughhuuhuukkgila..kamuhampir gak bisa bernafas akuuuhukkuugghh..,Dewi menggerutu.

Ooohhh.sshhhhaaaggghh.uuuhuukkhhmmppssshhhu uhuukkooohhh…ssshhh..,masih dengan terbatuk-batuk terdengar Dewi mendesah keenakan lagi merasakan nikmat saat kelentitnya dihisap-hisap oleh Hendra dan permainan Edwin dipayudaranya.

Ooouughhsshhhaaahhssudah..aku ingin merasakan kontol kalian dimemekku.ssshhh aaagghhoooouughhentot akuaaagghhhhhmmpppaayoocepatakusudah gak tahan lagi pengen dientot, Dewi merintih-rintih memohon kepada Hendra dan Edwin untuk segera mengentotnya.

Dewi segera melepaskan diri dari Hendra yang sedang asyik menghisap-hisap kelentitnya, iapun lalu memundurkan pantatnya kebelakang, sementara tangannya meraih kontol Hendra, lalu kontol Hendra yang sudah dalam genggamannya mulai dioles-oleskannya kebibir vagina dan kelentitnya, Dewi sendiri merasakan geli saat kepala kontolnya Hendra menyentuh bibir vaginanya dan terutama menyentuh kelentitnya, mulutnya mendesah-desah, dan sssleeeepppp kepala kontol Hendra ia selipkan dilubang vaginanya, dan tanpa membuang waktu lagi Dewi mulai menekan pantatnya kebawah, bbllleeesss.bleesssbleeessdan dengan sekali hentakan kuat ia menekan pantatnya kebawah bbleeesss.kontol Hendra akhirnya terbenam seluruhnya didalam rongga senggamanya

Uugghh.ssshh.aagghhh.., Dewi dan Hendra mengerang bersamaan saat kepala kontol Hendra menerobos masuk dengan kuat dalam lubang kemaluan Dewi.

Sambil mendiamkan sebentar kontol Hendra dalam jepitan vaginanya, Dewi memeluk Hendra dan menciumi bibir Hendra dengan penuh nafsu, tapi sebelum ia mencumbu Hendra ia menyuruh Edwin untuk memasukkan kontolnya dilubang pantatnya.

Edwin dengan segera melakukan permintaan Dewi, diselipkannya kontolnya dilubang pantat Dewi, Dewi merintih saat kepala kontol Edwin mulai menerobos lubang pantatnya, Hendra merasakan memek Dewi semakin menjepit erat kontolnya saat kontol Edwin mulai menyeruak masuk dilubang pantat Dewi, Edwin merasakan lubang pantat Dewi menjepit kuat batang kemaluannya, bbleess.bblleessbbleess.Edwin mendorong masuk perlahan-lahan kontolnya didalam lubang pantat Dewi, Edwin merasakan eratnya dinding lubang pantat mencengkram batang kemaluannya.

Uuughhsempit sekali nich lubang pantat Tante,Edwin mengerang.

Heehmemeknya juga jadi tambah sempit.,Hendra pun mengerang.

Dan.Bleessss..kontol Edwin terbenam seluruhnya didalam lubang pantat Dewi, Edwin dan Hendra merasakan batang kontol mereka seperti sedang diremas-remas oleh dinding vagina dan lubang pantat Dewi, Dewi merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh jejalan kontol-kontol Edwin dan Hendra, kembali Dewi merasakan enaknya disetubuhi oleh 2 kontol, sensasi nikmat seperti ini yang dinanti-nantikan oleh Dewi.

Aagghhhkontol kalianooouuhhhhentot aku cepatooohhhssshhhaaahhpuaskan aku.oooughhsshhhaaahhh,Dewi mengerang keenakan, dengan tidak sabar ia mulai menggerakkan pantatnya maju mundur perlahan-lahan.

Ssssrrrrtttbleesssssrrtttbleessssssrttttbleee ss, kontol Hendra dan Edwin mulai keluar masuk dilubang Dewi, gerakan maju mundur Dewi belum terlalu lancar karena kedua lubangnya menjadi tambah sempit akibat kedua kontol besar yang menyumpal penuh memek dan lubang pantatnya.

Erangan dan rintihannya tidak berhenti keluar dari mulut Dewi, matanya merem melek menikmati keluar masuk kontol-kontol itu, Edwin dan Hendra sendiri merasakan kenikmatan yang luar biasa, kontol mereka terjepit dengan erat oleh lubang-lubang Dewi, pergesekan batang kemaluan mereka dengan dinding lubang Dewi sangat terasa sekali di kulit batang kemaluan mereka, merekapun melenguh dan mendesah keenakan.

Ooougghhssshhhmemekmu, tante. Sempit betul, enaak..ssshhh..aaahh,desah Hendra.

Uuuggghhaaahhhooohhlubang yang ini juga sempit sekali.nikmat..aaahhh,desah Edwin.

Edwin dan Hendra mulai mengimbangi gerakan Dewi yang sedang maju mundur, saat Dewi memajukan tubuhnya mereka menarik mundur batang kemaluan mereka, dan mendorong maju kontol mereka saat Dewi memundurkan tubuhnya, sungguh kerja sama yang sangat kompak, mereka seperti berlomba untuk mencapai titik akhir dari persetubuhan ini.

*****

Sisca cukup kelabakan mendapat serangan dari 3 lelaki itu, nafsu birahinya semakin memuncak, rangsangan-rangsangan yang diterima oleh tubuhnya akibat permainan oral ketiga lelaki itu mendera Siska seperti gelombang tanpa henti menerpa kapal. Dadang memagut bibir Siska dengan penuh nafsu, dan pada saat yang bersamaan Acep menghisap-hisap kedua putingnya bergantian kiri dan kanan, sementara kedua tangan Acep sibuk meremas-remas kedua payudaranya, ditambah dengan serangan Gito divagina dan kelentitnya, akibatnya desahan-desahanpun mengalir dari mulutnya yang sedang sibuk meladeni cumbuan Dadang dan permainan lidah Dadang yang menari didalam rongga mulutnya.

Ssshhhhhhmpppssshhhhhhmpppaahhh, Siska mendesah, suaranya bersahutan dengan desahan Dewi yang saat itu sedang asyik menikmati kontol Hadi.

Dicumbu oleh 3 lelaki sekaligus adalah pengalaman pertama bagi Siska, mulutnya mendesah dan merintih tiada hentinya, tubuhnya bergetar dengan hebatnya, menahan gelombang birahi yang menerjangnya dengan kuat, kakinya mengejang-ngejang saat kelentitnya dihisap-hisap oleh Gito, kenikmatan yang saat ini ia peroleh betul-betul luar biasa dirasakan oleh Siska, jauh berbeda dengan saat ia melakukan dengan pria yang menyimpannya sebagai gendak, saat dengan pria itu Siska tidak pernah mengalami hal seperti ini, yang ada adalah ia hanyalah sebagai pemuas nafsu pria itu.

Ssshhhooohhhaaku..tidak kuatentot..akuoohh..sshhaku ingin kontol kalianoohhh .sshhhaaahhhentot memekku..c.epataaku ingin merasakan kontol kalianssshhh..aaah .ssss,Siska merintih memohon kepada ketiga lelaki itu untuk segera menyetubuhinya.

Mendengar rintihan memohon Siska, ketiga lelaki itu menuruti kemauan Siska, mereka mendudukan Siska disofa, setelah duduk dipinggiran sofa tubuh Siska didorong kebelakang oleh Dadang, kemudian Dadang dengan berlutut disofa mengasongkan kontolnya untuk dikulum-kulum oleh Siska, sementara Acep tetap menyerbu payudara Siska, Gito sendiri mulai mengarahkan kontolnya kelubang senggama Siska.

Ssleeeepppkepala kontol Gito mulai terjepit dilubang senggama Siska, Siska mengerang disela-sela kontol Dadang yang saat itu sedang dalam kuluman mulutnya.

Uugghh.pelan..kontolmu besar .robek memekkuaaagghhtekan pelan-pelan ssshhhhhmmmpppssslllrrrppp,erang Siska.

Dadang merem melek oleh permainan mulut Siska yang luar biasa, pipi Siska terlihat kempot saat ia menghisap-hisap kontol Dadang, tangan kiri berpegangan disandaran kepala sofa itu sementara tangan kanannya memegangi belakang kepala Siska, membantu memaju mundurkan kepala Siska, saat ia menekan kepala Siska kedepan Dadangpun memajukan pantatnya akibatnya kontolnya melesak lebih dalam dirongga mulut Siska, kepala kontolnya menyentuh anak tekak Siska dan dinding tenggorokan Siska, akibatnya

Uugghh..uhuukkuuhuukkaaahhh..sssshhooghhh, Siska tersedak akibat sodokan kontol Dadang dimulutnya, suara tersedaknya bersamaan dengan Dewi yang saat itu sedang tersedak juga akibat kontol Hadi.

Dadang nampaknya tidak peduli dengan Siska yang tersedak itu, dalam pikirannya hanya satu yaitu tuntas mencapai puncak kenikmatannya, kontolnya dikeluar masukkan didalam mulut Siska, Siska sendiri menjadi gelagapan dibuatnya, bibirnya dikatupkan erat-erat sehingga batang kemaluan Dadang tidak terlalu menerobos terlalu dalam dirongga mulutnya, Dadang yang merasakan bibir Siska menempel kuat dibatang kemaluannya malah menjadi keenakan geseran-geseran dibatang kemaluannya malah lebih terasa, apalagi Siska menambahi dengan memainkan lidahnya dibatang dan kepala kontolnya, Dadang semakin mempercepat gerakan maju mundurnya, kontolnya berdenyut kencang, puncak kenikmatannya hampir ia rengkuh, Siska yang merasakan kontol Dadang mulai berdenyut menambahi aksinya dengan mulai mengelus-ngelus biji peler Dadang, akibatnya tak lama berselang Dadang mendengus keras,

Uugghhh..aaahhhaakku..keluargila..sepongan Tante, gak ada duanyauuughh..oohh enak..sekali,Tannteeesambut pejuhkuuuu,Dadang mengerang keenakan, menikmati terengkuhnya puncak birahinya, kontolnya menyemburkan sperma didalam mulut Siska.

Dadang menekan dalam-dalam kontolnya dimulut Siska, kontolnya mengejut-ngejut saat menyemburkan spermanya, Ccreeeetttcccreeetttccreetttccreeettt. Siska merasakan cairan hangat menyembur di tenggorokannya, Siskapun tambah gelagapan dibuatnya, Siskapun tersedak karena jejalan kontol Dadang dan sperma Dadang di tenggorokkannya, tapi ia tidak dapat melakukan apa-apa selain dengan terpaksa menelan semua sperma yang keluar dari kontol Dadang,

Uuhhuukk..uuhuuukkggleeekkhhmmpp.aaagghhhglle ekkuuhuukkuuhuukk, Siska tersedak dan terpaksa menelan sperma Dadang.

Dan saat Siska sedang tersedak itu Dewi juga mengalami hal yang serupa, Dewi tersedak akibat sperma dan kontol Hadi, muka Siska dan Dewi bersemu merah, akibat kesulitannya mereka untuk bernafas, tapi ada sensasi aneh yang mereka rasakan saat itu.

Nanang memagut bibir ranum Rina dengan penuh nafsu lidahnya menjulur masuk didalam rongga mulut Rina, menari-nari dengan lincahnya, dibalas oleh Rina juga dengan birahi yang tinggi, mereka berpagutan dengan liar seolah takut tidak ada hari esok untuk menikmati sensasi seks, lidah mereka bertautan.

Desahan dan lenguhan Rina mulai terdengar, ini semua akibat permainan Hilman ditoketnya, Hilman dengan asyiknya meremas-remas kedua payudara Rina dengan penuh nafsu, mulutnya menyedot-nyedot kedua payudara itu bergantian kiri dan kanan, kedua putingnyapun tidak luput dari sedotan dan gigitan lembut Hilman.

Ooohhssshhhhhhmmpppsssshh..hhmmppaaahhhooohh hmmmppsshh,Rina mendesah manja.

Feri yang melihat semua temannya sudah mulai sibuk dengan aksi mereka, iapun tidak mau ketinggalan, Feripun berjongkok diantara selangkangan Rina, kaki kanan Rina ia angkat dan ditaruh diatas sofa, sehingga vagina Rina terlihat dengan jelas dimatanya, belahan bibir vagina Rina terlihat dengan jelas didepan matanya, bulu-bulu hitam yang menghiasi selangkangan Rina tertata rapih membentuk segitiga hitam tepat diatas bibir vagina Rina, dengan penuh nafsu bibir vagina tersebut ia kuakkan sehingga kelentitnya yang masih tersembunyi mulai nampak sedikit, tanpa menunggu waktu lagi Feri mulai menyeruput kelentit Rina kuat-kuat seperti orang yang sedang menyeruput kopi, akibatnya Rina melenguh panjang menerima hisapan kuat itu.

Oooogghhhssshhhhhmmmppaaahhhoooohhheenakk.. terusooohh..ssshhmm.. hhmmppp,Rina melenguh sambil mulutnya membalas pagutan Nanang.

Seperti Siska yang sedang kelabakan diserang tiga lelaki sekaligus, Rina juga mengalami hal yang serupa, pengalaman yang belum pernah ia alami selama ini, pengalaman yang hanya ada dalam bayangannya saja saat ia melayani lelaki yang memelihara ia.

Feri semakin lincah memainkan lidah dan mulutnya di kelentit Rina, tangan Rina meremas-remas rambut Feri dan kadang-kadang menekan kepala Feri saat Feri sedang menghisap-hisap kelentitnya, tidak hanya mulut saja yang aktif tetapi tangan Feripun mulai beraksi, kedua jari tangan kanannya mulai ia selipkan masuk kedalam memek Rina, kemudian dikocok-kocoknya jari tangannya itu, memek Rina yang sudah basah semakin basah dibuatnya, tangan kiri Feripun ikut beraksi jari tengahnya mulai dimasukkan dalam lubang pantat Rina, jari tangan kirinya itu mulai mengocok-ngocok lubang pantat Rina seirama dengan gerakan jari tangan kanannya yang mengocok-ngocok memek Rina.

Hhhhmmmmpp..ssshh..aaahhhhmmppteruskocok..meme kku..oooghh..hhhmmmpp..shhhh aaah.ooogghhterusshhmmmpp, Rina merintih disela-sela pagutan Nanang, matanya terpejam menikmati sensasi permainan oral ketiga lelaki ini.

Permainan oral yang diterimanya kali ini adalah permainan oral yang pertama kalinya ia alami, sebelumnya belum pernah ia mendapatkan permainan oral seperti ini, terutama permainan Feri dikedua lubang bagian bawahnya. Gelombang birahinya menerpa sekujur tubuhnya tanpa henti, darahnya menggelegak mengalir dengan cepat, rintihannya tiada henti keluar dari mulutnya yang sedang berpagutan dengan Nanang, bersahutan dengan rintihan keempat temannya yang juga sedang menikmati serangan para lelaki itu.

Dari pertama Rina melangkahkan kaki keruangan ini, ia sudah sangat terangsang dengan pemandangan yang ia dapati, libido seksnya menuntut untuk dipuasi, memeknya basah dan gatal ingin merasakan sodokan-sodokan kontol.

Tubuh Rina terlihat bergetar hebat, kedua kakinya meregang-regang, pantatnya terlihat mengejut-ngejut mengikuti irama hisapan Feri dikelentitnya dan seolah menyambut sodokan-sodokan jari-jari tangan Feri di kedua lubangnya.

Oooogghhhmmppp..ssshh..aaahhkocok..terusooohhh …hhmmppsshhaahhh…nikmat enak hhmmpppaaahhhpuaskan..aku, Rina merintih-rintih menikmati permainan Feri di bawah.

Shh..aaahhgeli terus..jilati..akuaaahh..yach hisap tetekkuoougghgilaaaahhnikmat sekali.aawww..geli, Rina mendesah menikmati jilatan Nanang dileher dan telinganya serta menikmati hisapan Hilman dikedua payudaranya.

Kenikmatan yang dirasakan oleh Rina sungguh luarbiasa dan belum pernah ia alami selama ini, batinnya berkata ini baru dengan mulut dan jari mereka saja sudah nikmat begini apalagi kalau dengan kontol-kontol mereka yang berukuran lebih panjang dan besar dari lelaki yang memeliharanya, desahan dan rintihannya terus terdengar, berbarengan dengan suara tersedaknya Siska dan Dewi, sungguh kontras didengar suara mereka bertiga, tak lama berselang Rina melenguh panjang, kakinya bergetar hebat kedua tangannya meremas-remas rambut Feri dan menekan kepala Feri seolah Rina ingin Feri untuk menelan kelentit dan memeknya, pantatnya mengejut-ngejut, gelombang birahi yang menerpanya tidak dapat ia bendung lagi, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, kepalanya terdongak kebelakang dengan mata terpejam menikmati detik-detik pencapaian puncak kenikmatannya, sssrrrrr..ssrrr .sssssrrrrsssrrrr.sssssrrr.vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami tangan Feri dan mulut Feri yang disambut dengan hisapan-hisapan kuat.

Oooooohh.aaaku..keluaraaaaagghhsshhhaahhhooh h..nikmat..sekali.eenaakkk ooogghh..sshhaahhaaakku puas.ssekalli, Rina melenguh panjang. Menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh.

Nanang menciumi pipi, leher dan telinga Rina dengan lembut, hal yang sama dilakukan oleh Hilman yang menciumi kedua tetek Rina juga dengan lembut dan Feri yang beraksi dibawah melakukan jilatan-jilatan di bibir vagina dan kelentit Rina serta jari-jari tangannya masih tetap keluar masuk di lubang vagina dan pantat Rina tetapi dengan perlahan-lahan, semuanya aksi mereka itu semakin menambah sensasi nikmat Rina, disaat yang bersamaan lenguhan Rina disahuti oleh erangan Hadi dan Dadang yang sama-sama meraih puncak kenikmatannya, mereka bertiga hampir bersamaan menaklukkan puncak kenikmatan mereka.

*****
Doni, Roni dan Parmin yang sedang menggarap Nita, dan juga Dedi, Anto serta Udin yang asyik mengerjai Hani, semakin bersemangat mengeluar masukkan batang kemaluan mereka di ketiga lubang Nita dan Hani, apalagi Doni sambil asyik mengembat lubang pantat Nita ia melihat pemandangan ketiga grup yang baru saja bergabung dan sedang memulai acara mereka, Dedi juga menikmati pemandangan itu, mereka berdua seolah menonton film BF tapi yang ini adalah siaran langsung, gerakan tangan mereka semakin bertambah semangat, tubuh Nita dan Hani semakin cepat maju mundur, akibatnya batang-batang kemaluan mereka semakin cepat keluar masuk di lubang senggama Hani dan Nita.

Hani dan Nita semakin mendesah dan merintih-rintih, kemaluan mereka semakin basah oleh sodokan-sodokan batang-batang perkasa itu, keringat mereka semakin banyak mengalir keluar bercampur baur dengan keringat para lelaki itu, sodokan-sodokan yang kuat dan dalam disertai hisapan-hisapan penuh nafsu dikedua payudara mereka membuat bertambahnya sensasi nikmat mereka, suara desahan dan rintihan mereka bersahutan dengan suara dari kelompok Dewi, suasana ruangan itu semakin ramai dengan suara desahan dan rintihan yang saling bersahutan dan bercampur aduk dengan suara kecipak kemaluan mereka yang beradu dan suara kecipak tubuh mereka yang sudah berkeringat itu beradu.

Mereka berdelapan seolah sedang berlomba dengan grup Dewi untuk mencapai titik akhir dari persetubuhan mereka, terlihat batang-batang kemaluan mereka mengkilat terkena sinar lampu karena telah dibasahi oleh cairan pelicin mereka.

Gerakan masuk keluar batang-batang kemaluan mereka sungguh teratur dan sangat kompak, dan juga menimbulkan suara yang merangsang bagi yang mendengar.

*****
Dewi yang menyaksikan Doni cs yang begitu gencarnya mengerjai Nita dan Hani, juga ikut terangsang, Dewi semakin bersemangat memaju mundurkan pantatnya, batang-batang kemaluan Hendra dan Edwin bergerak keluar masuk dengan cepat seirama dengan gerakan maju mundur pantat Dewi.

Sementara Siska yang sedang dientot memeknya oleh kontol Gito juga semakin bernafsu melihat pemandangan grup Doni itu, kedua kakinya ia lingkarkan kepinggang Gito, saat Gito mendorong maju kontolnya Siska juga menekankan kakiknya sehingga batang kemaluan Gito melesak lebih dalam sehingga ujung kepala kontolnya menyentuh dinding rahim Siska.

Sementara Acep menghampiri Dewi yang sedang dientot oleh Hendra dan Edwin, iapun berdiri disamping Dewi dan menyodorkan kontolnya kemulut Dewi yang segera disambut oleh Dewi, tangan Acep sendiri mulai beraksi meremas-remas payudara Dewi yang sedang berguncang.

Rina yang saat itu baru saja tuntas mencapai puncak kenikmatannya mulai terangsang kembali, dan ia memohon kepada Feri cs untuk segera mengentot lubang memeknya, kemudian Feri berdiri dan menggendong Rina, dipeganginya pantat Rina, sambil jarinya membuka lubang memek Rina dan diarahkan kebatang kemaluannya, sleepppkepala kontolnya terjepit lubang vagina Rina, dan bllleeessss.dengan sekali hentakan kuat Feri menurunkan pantat Rina sehingga batang kemaluannya menerobos dengan kuat dan akhirnya terbenam seluruhnya didalam lubang vagina Rina, Rina mengerang saat merasakan sodokan kuat batang kemaluan Feri di memeknya.

Uuuughhh..kontolmu besar sekalioooohh robek memekku.tapi enaakkaahhh, Rina mengerang.

Nanang kemudian beralih kebelakang Rina dan mulai mengarahkan kontolnya kelubang pantat Rina, sleeepppkepala kontolnya mulai menerobos masuk dilubang pantat Rina, dan bbleeessss.dengan sekali sentakan kuat Nanang mendorong keatas kontolnya, batang kemaluannya hanya dapat masuk sedikit saja karena sempitnya lubang pantat Rina dan Rina sendiri menjerit dibuatnya,

Aaieeesaakiitttaaagghh..pelaannoooohhhpantatk u sakit sekali,jerit Rina kesakitan.

Uuugghhsempit sekali.,Nanang mendengus, sambil mendorong lagi batang kemaluannya,

Bleesss.. kontolnya masuk sedikit, bleess lagi hanya sedikit saja yang dapat masuk, bleesss.. Nanang menekan lagi, bleess. Perlahan batang kemaluannya sudah masuk setengahnya. Dan Nanang mencoba lagi dengan sekali sentakan kuat ia menekan keatas sementara tangannya yang memegangi pinggang Rina menekan tubuh Rina kebawah, Bleesssss kontol Nanang tenggelam didalam lubang pantat Rina begitupula dengan kontol Feri yang semakin terbenam kedalam memek Rina.

Uuughhhhhssshhhaahhsakiiitt.tapii..enakkoooh hentot..aku..puaskan lagi aku.., Rina merintih keenakan dan kesakitan, kedua tangannya memeluk leher Feri.

Feri dan Nanang kemudian bekerja sama menahan beban tubuh Rina dengan kedua tangan mereka dan mulai menaik turunkan tubuh Rina, terlihat batang kemaluan Nanang dan Feri keluar masuk dikedua lubang Rina seperti piston mesin yang sedang bergerak.

*****

Gito dengan penuh semangat memompa batang kemaluannya didalam vagina Siska, ia berpacu dengan gelombang birahi yang menerpanya, Siska dibuatnya merintih-rintih keenakan akibat gocekan-gocekan kontolnya, kemaluannya bergerak keluar masuk diiringi alunan suara kecipak beradunya kemaluan mereka, dengusan Gito bersahutan dengan erangan Siska.

Setiap mendorong batang kemaluannya Gito menekan kuat-kuat sehingga ujung kepala kontolnya mengenai dinding rahim Siska, Siska dibuat semakin keenakan akibatnya, ditambah dengan gesekan bulu-bulu kemaluan Gito yang menggelitik kelentitnya setiap Gito menekan dalam-dalam batang kemaluannya itu.

Uugghh..memekmu enak sekalii, bu. Jepitannya erat sekali dibatang kontolkuooohh.. nikmat betul ngentot ibu ini..,dengus Gito sambil terus menggenjot Siska.

Ssshh..aahsssh..aaahhhenak..terustekan yang dalam..aahh..sshhyang kuat terus. Entot aku..puaskkann..akueeenaakniikmatnyaa..aaahh..ss hhh..,rintih Siska keenakan.

Sodokan Gito semakin lama semakin dalam dan kuat, gerakan tubuhnya mulai tidak beraturan, dengusan penuh nafsu Gito semakin terdengar, dan plop Gito mencabut keluar batangnya dari dalam cengkraman memek Siska, Siska merasa hampa saat Gito mencabut batang kemaluannya, dengan gerakan cepat Gito beranjak kehadapan wajah Siska dan mengasongkan kontolnya sambil mengocoknya, dan creeetttccreetttccreeetttccreeettkontol Gito menyemburkan sperma diwajah Siska, tubuh Gito meregang merasakan puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh,

Ooohh..aku keluar.ooohsambut pejuhku, Bu. Ooohh hisap kontolku iniooohh,Gito mendengus saat merasakan terjangan pejuhnya yang keluar dari batang kemaluannya itu.

Hhhmmmppssslrrrpppsssslrrphhmmmppaaahhhkamu curang aaku..belum puas kamu keluar duluanaaahhhssslrpphhmmpp.., Siska mendesah agak kecewa karena Gito muncrat duluan, sementara nafsu birahinya belum terlampiaskan.

Hilman yang saat itu tidak kebagian menggarap tubuh Rina, melihat Gito yang sedang meregang menikmati puncak birahinya, kemudian mendekati Siska dan mulai mengarahkan batang kemaluannya ke vagina Siska, ssleepppkepala kontolnya ia selipkan dilubang memek Siska yang sangat basah, dan bleesssss..dengan hentakan kuat Himan mendorong masuk batang kemaluannya kedalam lobang senggama Siska, kontolnya dengan mudah menerobos masuk memek Siska, Siska kaget dengan sodokan langsung Hilman tapi Siska menyukainya karena kali ia nafsu birahinya pasti dapat terpuaskan.

Sambil mengulum-ngulum kontol Gito yang mulai menyusut dan menghisap-hisap sisa sperma di kontol Gito, Siska mulai merasakan kontol Hilman keluar masuk dimemeknya. Kenikmatannya yang tadi sempat terhenti karena Gito meraih puncak kenikmatannya mulai dirasakannya lagi, sodokan-sodokan Hilman didalam lubang kemaluannya diimbanginya dengan putaran pantatnya, saat Hilman mendorong maju kontolnya Siska memutar naik pantatnya dan saat Hilman menarik kontolnya Siska memutar turun pantatnya, akibatnya Hilman merasakan kontolnya seperti dipilin-pilin oleh memek Siska. Dengusan Hilman dan rintihan Siska mulai ikut meramaikan suasana ruangan itu.

Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju mundur menerpa wajah Roni, Roni menyambut dengan mulutnya dan menghisap-hisap payudara Nita bergantian.

Hhhmmmpp.sssllrrppphmmmpppssslrrpppsssshhhhh mmppp..aaaahh..sslrrpp aahh hhmmpp..ssslrrppssshhh.hhmmmpppsslrrppp,deng usan Nita terdengar disela-sela kesibukannya menyepong batang kemaluan Parmin.

Uughhhnikmat terus emot kon*olkuaaahhuuggghh.aahhh..,Parmin melenguh menikmati sepongan Nita.

Hhhhmmpp.ssslrrppphhmmssslrppooohhh..ssslrrpp. .hhmmppaaahhhhhhmmpp,Roni menggumam sambil terus menghisap-hisap tetek Nita.

Ooohh..tante.enak betul ngentot tanteaaahh nikmat.ooohh,Doni mengerang keenakan sambil terus mempercepat gerakannya.

Ooohhterusentotakuuuoohhsshhhhhmmmppp.aaah henakknikmat. ooohhh .yang dalamyang kuathhmmppp sslrppp.terus puaskan aku.ooohh..hhmmppp..ssllrpp sshhh..aahhhhmmpp..sslrrpp,desahan Nita terus terdengar disela-sela kesibukannya menyepong kon**l Parmin.

Selang tak lama tubuh mereka berempat bergetar dengan hebat, tubuh mereka meregang, puncak kenikmatan yang dinanti-nantikan oleh mereka akhirnya datang juga, tubuh mereka kelojotan, gerakan tubuh mereka semakin tidak beraturan, hampir secara bersamaan mereka mengerang, kemaluan merekapun hampir berbarengan memuntahkan lahar kenikmatan mereka.

Ccreeeettt..c.creeetttccreeett..ssrrrsssrrr..ccr eeettt..creettt..creett..ssrrr..ssrrr ketiga lubang Nita dipenuhi oleh pejuh yang menyembur keluar dari batang-batang kemaluan Doni, Roni dan Parmin, Roni merasakan hangatnya lahar kenikmatan Nita menyirami batang kemaluannya, Roni merasakan denyutan kuat dinding vagina Nita seolah meremas-remas batang kemaluannya, lubang pantat Nitapun ikut mengempot kuat saat Nita mencapai klimaksnya itu, Doni merasakan batang kemaluannya seolah dipijat-pijat oleh lubang pantat Nita, sementara Parmin menikmati sedotan kuat dibatang kemaluannya karena saat Nita sedang merengkuh puncak kenikmatannya itu Nita menyedot kuat-kuat batang kemaluan Parmin.

Uuggghhh.gillaa..sedotannyaaaaku aaahhhnikmat sekali,Parmin mendengus saat merasakan batang kemaluannya yang saat itu sedang memuntahkan cairan sperma disedot kuat-kuat oleh Nita, air pejuhnya langsung masuk dan ditelan oleh Nita.

Akku keluar..ooohhnikmat betul.enak..Tante..enakooohhpantatmuini oohh,Doni mengerang keenakan merasakan empotan lubang pantat Nita.

Akku juga..oohbatang kontolku seperti diremas-remasaahh..oohh..,Roni melenguh matanya merem melek menikmati pijatan-pijatan dinding vagina Nita di batang kemaluannya.

Hhhmmppglleekk..ssllrrpppgleeekkssllrrpppaaah hnikmatsslrrpp..gleekkoohh. aku keluarpuas akussslrrpp..gleekkkssslrrppp..gleekk..aahhkont ol-kontol kalian betul betul hebat..ooohhnikmat sekali,Nita merintih keenakan ditengah kesibukannya menghisap pejuh Parmin.

Suara erangan dan rintihan mereka berempat hampir bersamaan dengan erangan Gito yang baru saja mencapai puncak kenikmatannya juga, saat Gito terkapar kelelahan dan sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dicapainya, keempat orang ini juga sama-sama menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh.

*****
Uuughhaaahhhssshhh..hhhmmppssslrpphhhmmppp..s sslrrpp..aahh..sshh..oouuhh. hhmmppp..sslrrppp..hhhmmpp..sslllrppp..aaahhhenak terus entot aku..buat aku puas. Oohh hhmmpp..sslrpppsshhh,Hani merintih-rintih keenakan sambil mulutnya sibuk mengulum-ngulum batang kemaluan Udin.

Uugghhkalian betul-betul jantanoohh..ini yang aku butuhkan selama inissshhh..aahhh hmmmppp..ssslrpppaaahhhmmmppslllrpppnikmatnya enak sekalliiihmmpp..sllrpppp aaaahhssshhh.hmmpppslrrrppp, tak hentinya Hani merintih-rintih keenakan menikmati genjotan batang-batang kemaluan Dedi dan Anto.

Dedi dan Anto bekerja sama dengan baik saat mereka mengeluar masukkan batang kemaluan mereka, saat mereka mendorong maju batang mereka, merekapun menekannya dalam-dalam, sehingga dinding rahim Hani tersentuh oleh ujung kepala kontol Anto.

Sementara itu Udin yang sedang menikmati permainan mulut Hanipun merem melek menikmati sedotan-sedotan kuat Hani, pipi Hani menjadi kempot saat ia menyedot kuat-kuat itu, tubuh Udin menggigil keenakan dibuatnya.

Uughh..gila sedotannya.enak..aahhhterus sedot Bu, terusbuat aku muncratooohh. Aaahhh.nikmat betul ., Udin mengerang keenakan.

Lubang pantatnya sempit banget bihooohhh.enak betulooohh.Tantteeeenak..betul.. ngentot anusmu . Aaahhhsedaapp,Dedi mengerang juga.

Tanteeememekmu..aaahhhhmpppsslrppptetekmumas ih mengkaloouughhsslrpp. Sempit bener memekmu,Antopun ikut mengerang merasakan jepitan yang ketat dibatang kemaluannya.

Ooohhh.hhmmmpppslrrppp..gleekkssslllrppp..sssh hhaaaghhhoouughhkon***-***tol kalian juga enaaaaakk.besaaarrpuaskan akuooohhhhmmppsllrppp.entot aku.yang kuat hhmpppssslrrrpppssshhh..aaahhhtekan yang dalam.ooohh..hmmmppsslrrppp enak,Hani semakin merintih-rintih.

Tambah cepat sodokan kaliaanooughhhmmpp..sslrpphmmpppslrrpppsshhaa ahhh aku tidak tahan lagiooohhsssshhhaaahhhhhmmmpppaaku mau kelluaarooohhh.yang cepatoooghhyang dalam.uuughhsshhhaaahhentot..terus.. aakkuuoooghhenaakkhhmpppsslrrrppssshhsslrppp sssshh.., rintihan Hani semakin menjadi-jadi.

Dedi dan Anto menambah cepat gerakan keluar masuk batang-batang kemaluan mereka sesuai dengan permintaan Hani, dan mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hani, puncak kenikmatan mereka sudah diambang pintu, Udinpun merasakan hal yang sama, dengan penuh nafsu Udin mulai mencecar mulut Hani dengan cepat, kedua tangannya memegangi kepala Hani, Hani dibuat gelagapan oleh jejalan batang kemaluan Udin dimulutnya, batang kemaluan Udin semakin dalam masuk dimulutnya, setiap Udin mendorong maju batang kemaluannya anak tekak dan tenggorokan Hani tersentuh oleh batang kemaluan Udin.

Dan hampir bersamaan lahar kenikmatan mereka menyembur dengan kuat, creeeettt.creeettt ssrrrrrccreettt..ccreettcrettt..sssrrr.sssrrrc creeettt..ccrreeettt

Oooohhhaaaku keluaarr,pekik mereka berempat kompak, hampir bersamaan dengan pekikan Gito dan Doni cs, yang sama-sama berhasil merengkuh puncak kenikmatan mereka.

Anto, Dedi dan Udin menekan dalam-dalam batang kemaluan mereka di lubang-lubang senggama Hani, tubuh mereka meregang dan mengejut-ngejut seirama dengan berdenyutnya batang kemaluan mereka saat menyemprotkan lahar kenikmatannya, Hani menggelepar menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia raih, pantatnya mengejut-ngejut, vaginanya berdenyut-denyut kuat sambil memuntahkan lahar kenikmatannya dan membasahi lubang memek dan batang kemaluan Anto.

Uuuugghhh..uuhuukkgleeek.uuughhh..uuhuukkgleee kkhhmmpppsslrrpppggleekk ssslrppphhmmmpppaaahhoooohhh., Hani tersedak saat kemaluan Udin menyemprotkan air pejuhnya, pejuh Udin langsung masuk tenggorokan, Hani menelan pejuh Udin yang menerobos ditenggorokannya.

Akhirnya mereka berempat juga terkapar kecapaian menyusul Gito dan Doni cs yang baru saja terkapar juga, wajah puas terukir diwajah mereka.

*****
Vagina Siska yang semakin basah mempermudah keluar masuk batang kemaluan Hilman, Hilman dengan bertubi-tubi menyodokkan penisnya dimemek Siska, Siska mendesah-desah keenakan, Siska melenguh tubuhnya melenting matanya terbelalak saat ujung kepala penis Hilman menyentuh dinding rahimnya.

Ouugghhsshhh..aaahhssshhhaahhh..hhmm..aaahh..s sshhenak..terusyang dalam..yang kuatooohhpuaskan akuyang cepataah..sshhaaahh.,rintihan Siska keluar terus menerus dari mulutnya saat menerima sodokan-sodokan penis Hilman.

Memekmu juga enaaakTanteuuugghhh..aaahh.nikmatnya ngentot Tanteaaaghhh, Hilman mengerang sambil terus mengeluar masukkan batang kemaluannya.

Rintihan Siska yang terus menerus disahuti oleh rintihan Rina yang sedang dipompa oleh Feri dan Nanang,

Ouughhenaknya.terus pompa aku..entot aku..puaskan..aku lagiiaagghh..ssshhh..aahhh .kalian hebat nikmatnya dientot seperti ini..tambah cepattambah dalaammhmmm..ahhh.. sshhh..aagghhoooghh., rintih Rina.

Tubuh Rina terlihat naik turun, kedua batang kemaluan kepunyaan Nanang dan Feri keluar masuk dengan cepat, tangan Feri menahan beban tubuh Rina dipantat sementara tangan Nanang menahannya dipinggang Rina, kerja sama Feri dan Nanang saat mengangkat dan menurunkan tubuh Rina betul-betul kompak.

Dewi pun tidak mau kalah dengan kedua temannya yang merintih-rintih keenakan akibat sodokan penis dilubang mereka, Dewi yang saat itu sedang menerima sodokan-sodokan Hendra di vaginanya dan Edwin di lubang pantatnya ikutan merintih meramaikan suasana yang semakin menghangat, suara rintihan Dewi sedikit berbeda dengan kedua temannya itu karena mulutnya sedang asyik menyepong penis Acep,

Hhhmmppp..sslrrpppaaahhsshhhaahhhhmmppp..ssll lrrpppssslrppp..hhhmppp..oohhh entotaku..tekanaaaahh..yang dalamhhmmpp..sslrpppteruss.hhmppaahh..sshhh. yang kuatuuhuukkuuhuukk..hhmmpp..slrpppsshhh..aahh, suara rintihan Dewi bercampur dengan suara sedotan-sedotannya dipenis Acep kadang-kadang suara tersedaknya terdengar saat penis Acep masuk terlalu dalam didalam mulutnya sehingga menyentuh anak tekaknya dan dinding tenggorokkannya.

Saat ketiga grup ini sedang asyiknya memacu birahi mereka untuk segera mencapai puncaknya, ketiga grup ini mendengar pekikan nikmat dari Gito, kemudian disambung oleh suara jeritan puas dari kelompok Doni dan kelompok Dedi, nampaknya Gito, Doni dan kelompoknya serta Dedi dan grupnya telah berhasil terlebih dahulu mencapai titik puncak pendakian kenikmatan mereka.

Ketiga grup yang masih asyik dengan pergulatan mereka ini semakin mempercepat gerakan-gerakan mereka, mereka berlomba untuk mencapai puncak kenikmatannya masing-masing, nafas mereka semakin memburu, birahi mereka semakin menggelegak, keringat mereka semakin deras keluar dari tubuh mereka, desahan dan rintihan mereka terus menerus terdengar.

Hilman semakin menggebu menggenjot penisnya keluar masuk dimemek Siska, Siska mengimbangi dengan putaran-putaran erotis pantatnya, Hilman menekan Siska memutar keatas, Hilman menarik Siska memutar kebawah, Hilman merasakan batang penisnya seperti dipilin-pilin, Hilmanpun melenguh keenakan bersahutan dengan rintihan nikmat Siska,

Uuggghhpenisku..seperti.dipilin-pilin..ooohh..terus..Tante..enak..sekalinikmatgo yangan pantatmupersis goyangan Inuloouughh..terus..tanteterus..putar..goyangaa hhhh, Hilman melenguh.

Kooontoolmmujugaaoooghhh.enaakterus..tekan yang dalamyang kuaat..agghh enak.nikmaaatyang cepat.puaskkaan. aku,Siska merintih-rintih keenakan.

*****

Feri dan Nanangpun mempercepat gerakan tangan mereka yang menaik turunkan tubuh Rina, gerakan penis mereka semakin cepat keluar masuk dilubang vagina dan pantat Rina, secepat gerakan naik turun tubuh Rina, Rina mendesah-desah menikmati sodokan-sodokan dua batang penis, Feri dan Nanangpun melenguh keenakan merasakan jepitan kuat di penis mereka.

Oohhhhenaakkaaghh..terus..terusyang cepatyang dalamterus..ooohh..enak sekali dientot kaliannoooghhaaagghhkkooontooll..kaliann nikmaat..aaghhsshhh..aaahhh oohhh,Rina mendesah keenakan.

Ooohh.Tante memekmu jugaaa..enakk.oohhh,Feri melenguh.

Iyaah..Bupantatmu juga sempit sekaliiooohhnikmat,Nanang melenguh.

*****

Aaaaghhh.terussssstekaaannhmmppp..sslrrpppkko ontooll..kkaaaliann..hhmmpp..sslrrpp
aaaaghh..sshhhhhmmpppyang dalam..uuhuukkuuhuukkk..nikmat.aaghh..ssshh..ooh h hmmmmpppsllrppp,Dewipun ikut mengerang-erang keenakan sambil tersedak-sedak saat penis Acep menyentuh anak tekak dan tenggorokannya.

Tante.Ooohhh..ssedot punyakuuu..aaahhh..nikmat sekali seponganmuTantehebat..aahhh .terus Tantee.,..terusss..sedot yang kuattthhmm..aahhh,Acep mengerang-erang keenakan.

Hendra sambil menikmati penisnya yang sedang keluar masuk di memek Dewi sibuk dengan kedua payudara Dewi yang berguncang dihadapan matanya, mulutnya bergiliran menghisap dan menjilati kedua putingnya bergiliran kiri dan kanan, tangannya aktif meremas-remas kedua payudara itu, membuat kenikmatan Dewi semakin bertambah, Edwin dengan gencarnya menyodok-nyodokkan penisnya dilubang pantat Dewi, kedua tangannya ikut membantu gerakan maju mundurnya dengan berpegangan pada pinggang Dewi, saat ia menekan masuk penisnya tangannya menarik kuat pinggang Dewi sehingga penisnya melesak masuk lebih dalam lagi dilubang pantat Dewi, bukan hanya penisnya saja yang masuk lebih dalam tetapi penis Hendrapun menyeruak masuk lebih dalam sampai ujung kepala penis Hendra menyentuh dinding rahim Dewi dengan kuat, tatkala Edwin menarik mundur penisnya tangannya mendorong maju tubuh Dewi, begitu seterusnya lama-lama gerakannya semakin bertambah cepat.

*****

Gerakan tubuh Hilman semakin tidak beraturan, tubuhnya dan tubuh Siska mulai bergetar, kaki Siska mulai mengait dibelakang pinggang Hilman, terlihat kaki Siska mulai meregang, pantatnya terangkat, tubuhnya melenting, matanya terpejam, dari mulutnya terdengar desahan-desahan, dan

Sssssrrrrssrrrrssrrr vagina Siska menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi penis Hilman.

Ooogghhhakuu..keluarr.nikmatt..ooghh..ssshh..aa hhh..enaak.koontollmubetuul..betull maaanttappaaghh..sshhh..aahhoooohhh.tekan yang ddaaalllaammm.,Siska mengerang menyambut puncak birahinya yang berhasil ia rengkuh.

Hilman semakin mempercepat gerakannya, dan kemudian Hilman menekan penisnya dalam-dalam dilubang memek Siska, penisnya mengejut-ngejut menyemburkan spermanya di lubang senggama Siska,

Creetttcreett..creett Siska merasakan dinding rahimnya hangat oleh semprotan sperma Hilman.

AaahhhTantee..aku juga keluarmemekmmu betull enak..aaaghhh,Hilman mengerang.

*****

Saat Siska dan Hilman saling menyemburkan lahar kenikmatan mereka, Rina melenguh panjang,

Oouughhh.aaakukeluuaaarr.aaaachhh..nikmatnyad ieentoot..kaliannaaahhh..sshhh ooohhhaaaaaahhhh, Rina melenguh, puncak kenikmatannya berhasil ia raih, tubuhnya bergetar hebat, pahanya terlihat mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya.

Sssssrrrr..ssrrrr..ssssrrr.vaginanya semakin bertambah basah akibat semburan cairan kepuasan Rina.

Hampir bersamaan Feri dan Nanangpun mencapai puncak birahi mereka, mereka menurunkan tubuh Rina kebawah menyambut sodokan penis mereka, sehingga penis mereka menghujam dalam-dalam dilubang memek dan pantat Rina, penis mereka berbarengan mengejut-ngejut mengeluarkan pejuhnya.

Creeettt..ccreeetttcreetttRina merasakan hangatnya pejuh mereka berdua menyirami kedua lubangnya.

Ooohhhaaku juga keluar .Tanteeenaakkknikmatnyamemekmu inii,erang Feri.

Akku juga kkeeluaraaaghhaaahhhoohhhBu.ooohhh..,Nanang mengerang hampir bersamaan dengan erangan Feri.

*****
Mendengar erangan kepuasan kedua temannya membuat Dewi semakin ingin cepat-cepat menuntaskan hasrat birahinya, tubuhnya dimaju mundurkan lebih cepat, sedotan-sedotannya semakin menggila dipenis Acep, Acep yang mendapat serangan itu menjadi kelabakan, penisnya mulai mengejut-ngejut..dan creettt..creett..creett..

Tanteee..aku keluuaar..oohhgila sepongan Tanteaaahh..enak..betull, Acep mengerang, tubuhnya bergetar hebat, pantatnya ia tekan kedepan, penisnya melesak lebih dalam di mulut Dewi.

Uuhuukkuuhuukk.gleeekkuuhuukk..uuhukk..gleekk .sssslrpp..uuhuukkhmmpppgleeksslrrpp..hhmmppss lrrpp, Dewi tersedak-sedak akibat lesakan penis Acep yang menyentuh dinding tenggorokannya dan terjangan sperma Acep ditenggorokannya yang langsung masuk mengalir kedalam perutnya.

Gerakan Dewi terhenti sebentar saat ia sedang tersedak itu, tapi gerakan Edwin dan Hendra tidak berhenti, malahan mereka semakin meningkatkan akselarasi penis mereka dilubang memek dan pantat Dewi.

Setelah penis Acep tuntas meneteskan tetes terakhir spermanya, Dewi kembali mengikuti gerakan Edwin dan Hendra dengan memaju-mundurkan tubuhnya menyambut sodokan penis-penis mereka.

Tubuh mereka mulai bergetar dengan hebat, gerakan tubuh mereka mulai tidak beraturan, dan tiba-tiba dengan satu kali sentakan kuat Edwin menarik pantat Dewi kebelakang dan Edwin sendiri mendorong maju pantatnya, penisnya dan penis Hendra terbenam lebih dalam di lubang memek dan pantat Dewi.

Ccreeetttccreeetttccreeettsssrrrsssrrrsssrrr ccrreeettt..cccreettccreett.hampir bersamaan ketiga kemaluan mereka mengeluarkan lahar kenikmatannya.

Tubuh mereka mengejang dan meregang, mereka bertiga menggelepar menyambut kedatangan puncak kenikmatan mereka, suara erangan mereka bersahutan.

Ohhh.Tantee..aku keluaarnikmaatttnya..pantatmu ini..aaahh..ooohh..,Edwin mengerang.

Akuu juga Tanteee..aakuukeluarraaahhh..meemekmu..enaakTan tee,Hendra mengerang juga.

Shhh.aaaghhooohhhhkoontolll..kaliannbetulll hebattaaku ppuaass..sekali.dientott. olehkaliaanaaaghhssshhh..aahhh.ssshhh..aaahh. ,Dewipun merintih-rintih menikmati terjangan lahar kenikmatannya yang sedang muncrat.

*****

Pesta Ulang Tahun anaknya Doni berhasil Dewi rubah menjadi pesta seks yang tidak akan pernah dilupakan oleh dia ataupun teman-temannya, dan tentu juga yang pastinya tidak akan dilupakan oleh Doni beserta teman-temannya, dan sudah jelas pesta ini tidak akan dilupakan oleh Gito cs.

Pesta seks ini terus berlanjut sampai matahari bersinar dengan teriknya dan mereka semua telah kehabisan tenaga serta nafsu birahi mereka semua betul-betul telah terlampiaskan, entah berapa kali mereka semua mendapatkan puncak kenikmatan dari persetubuhan itu, tapi yang jelas para lelaki yang ada dipesta ini merasakan tubuh kelima wanita itu.

TAMAT



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.