Kumpulan Cerita Favorit

Category Archives: Setengah Baya

Namaku Jono. Aku anak kedua. Ayahku, Muji 46th kerja mempunyai usaha mebel yang sudah cukup terkenal di Surabaya. Ibuku, Sri 42h juga mempunyai sebuah toko di Pusat Grosir terkenal di Surabaya. Aku adalah anak tunngal di keluargaku.

Saat ini aku akan memasuki masa kuliah. Karena aku baru lulus SMU, dan setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, aku diterima di salah satu universitas negri di Jogja. Karena aku harus tinggal di Jogja, Ibuku menyuruhku untuk tinggal di rumah Bude Surti. Kakak Ibu, umurnya cuman selisih setahun dengan Ibu. Ibu tidak memperbolehkan aku untuk kos supaya aku ada yang mengawasi.

Beberapa minggu pertama terasa berat bagiku. Karena mungkin aku gak terbiasa hidup jauh dari orang tuaku. Di rumah bude Surti cuman ada anak semata wayangnya, ipung yang masih duduk di abngku SMP. Sedangkan suaminya pergi ke luar pulau. Karena bekerja sebagai kontraktor jalan, dan mendapat proyek di Banjarmasin. Dan terakhir pulang saat lebaran tahun lalu. Bude ku dulunya adalah seorang sinden. Dulu, kata beliau tiap hari hampir pasti ada tanggapan. Tapi sekarang dia mengurangi intensitasnya supaya bisa fokus mengawasi sekolah ipung. Anak semata wayangnya.

Hingga pada suatu hari ada suatu kejadian yang membuatku mulai merasa kerasan tinggal di Jogja. Saat itu aku baru pulang kuliah. Jam menunjukan jam 4. Di rumah ternyata tidak ada orang. Mungkin bibiku ada tanggapan pikirku. Karena kecapekan aku tidur tiduran di ruang tengah. Tak berselang lama Budeku datang. Dia memakai kebaya khas sinden. Aq lihat sekilas sih badannya masih montok. Gak gembrot kayak ibu2 lainnya. Bahkan menurutku, ibuku kalah montok dengan Bude Surti.

“Lo kamu dah pulang to le”, kata Budeku
“Iya bude. Abis kuliah siang.. Bude habis tanggapan yah ?”, Jawabku
“Iyah dari desa sebelah. Lo kamu sakit ta le. Ya wes mandi biar seger. Tapi bude dulu ya yang mandi. Keringetan dari tadi.” Kata Bude

Bude ngeloyor masuk ke kamarnya. Tak berselang lama Bude keluar dari kamar. Yang bikin aku kaget adalah. Dia waktu itu memakai handuk yang hanya menutupi sebagian dada sampai hanya sebagian pahanya. Jelas terlihat sebagian tetek Budek yang gede. Yang seakan mo meloncat keluar. Tapi kulihat juga tali Bhnya. Bhnya sepertinya tidak dia lepas. Selain memperhatikan tetek yang gede itu, aku sepintas mencuri lihat ke bokong nya yang juga sangat montok pikirku. Hmmmm… pelahan adikku mulai berontak dan bikin celana sempit.

Bude mondar mandir seakan ada yang dia cari. Dan dia berhenti di pojokan deket aku tiduran tadi. Ternyata dia mo mengambil BH ama celana dalam yang kering habis dicuci di kerangjang cucian. Karena tempat cucian keringnya berupa keranjang dan ditaruh di lantai, dia mengambil dengan cari membungkuk membelakangiku. Entah gak sadar atao gimana, saat dia menungging, bokongnya yang super semok itu jelas terpampang. Dan aku melihatnya dengan jelas. Tentu juga celana dalamnya yang seolah gak muat membungkus bokong itu. Uhhhhhhh… bikin kontolku mulai bangun nih.

Terus kuperhatian saat dia nungging, terlihat di tengah-tengahnya seperti daging yang menyembul. Agak tembem. Dan terlihat samar2 warna hitam dibalik sempak Bude. Sssssssshhhh.. ini pasti memek Budeku yang ditumbuhi jembut. Aq jadi penasaran pengen melihat betapa tembemnya memek bude ama lebatnya jembut Bude. Makin lama kontolku makin keras ajah ni. Tak seberapa lama Bude selesai memiulih celana dalam dan BH untuk ganti. Waaaaaahhh… rejeki yang kecepetan pikirku. Dan Dia akhirnya masuk ke kamar mandi.
Baru masuk kamar mandi, ada suara “serrrrrrrrr…serrrrrr” keras sekali. Wah ini pasti Bude lagi kencing. Aku semakin penasaran nih ama memek Bude. Nyemprotnya sampek segitu keras. Aku berfantasi yang lebih liar, mungkin karena aku seringnonton film bokep di laptop.

Beberapa menit kemudian, Bude keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai daster. Dan dia menyuruhku untuk mandi. Aku pun bergegas mandi.

Setelah masuk ke kamar mandi, aku mendapat rejeki lagi. Di kaitan baju dalam kamar mandi terpampang dua benda yang bikin kontolku berdiri secara perlahan. Kulihat BH ama celana dalam Bude. BHnya gede. Celana dalam berenda itu kulihat ada bekas kuning dibagian depannya. Wah ini bekas kencing Bude pikirku. Akhirnya aku gak kuat, karena dari tadi kontolku udah mengeras saat aku melihat dan memegang megang Celana dalam dan BH Bude. Akhirnya aku selesaikan dengan mengocok sendiri. KU kocok kocok makin lama makin cepat. Dan.. crrrooooott…crooootttt…. menyemburlah sprema ku. Uhhhhh legaaa… tapi aku masih penasaran ama isi sebenarnya dari BH dan celana dalam Bude.

Hari makin hari makin malam. Setelah makan malam, aku, Bude dan Ipung lagi lesehan di depan TV. Malam ini Bude memakai daster dengan belahan paha yang agak tinggi. Duduknya bersimpuh. Khas seperti sinden. Dia disibukkan dengan menjahit baju. Sedangkan aku dan ipung tiduran di depannya menghadap TV. Iseng iseng aku mencuri pandang ke arah Bude. Sepintas aku liat dia duduk pahanya agak membuka. Wah walaupun agak gelap dan samar aku bisa lihat mulusnya paha Budeku. Ini yang membuat aq berpikiran jorok dan membuat tegang kontolku.

Hari makin malam, ipung yang ngantuk pindah ke kamarnya. Sambil menonton TV Bude sama aku ngobrol.-ngobrol.
Bude : “Gimana kuliahnya kamu Jon ?”
Aku : “Baik Bude. Seru temen-temenku”
Bude : “Dah punya cewek belum kamu le ?”
Aku : “Belum Bude masih pilih-pilih… hehehe”
Bude : “lo yang kemarin.. sapa tu namanya ? Wulan ? Itu bukan pacarmu to”
Aku : “Oh itu. Belom Bude. Aku masih kurang Sreg. Dianya itu yang ngebet ma aku”
Bude : “oooo.. tapi kapanhari Bude intip kamu lagi ciuman tu pas dia dateng kesini”
Mendengar itu aku kaget dan malu. Wah ternyata diam-diam Bude mengawasiku kalo lagi indehoy. Aku hanya senyum-senyum.

Bude : “Gpp le, namanya juga anak muda. Bude dulu juga gitu. Selain ciuman kalo lagi berduaan sepi kamu ngapain lagi hayooo?”
Bude menggodaku sambil senyum-senyum
Aku pun dibuat salah tingkah olehnya. “Ngapain ? Gak ngapa-ngapain kok Bude” jawabku sedikit gugup.
Bude : “Hmmm ngakunya gak ngapa-ngapaiiiin. Padahal bude pernah ngintip km lo. Kalian saling remas barang masing-masing. Hhihih ”
Aku kaget lagi. Ternyata bude tau kalo aku sering grepe-grepe.
Bude : “Gak usah malu gitu le. Kalopun kamu keterusan, yang penting kamu bisa mnegerti betul tentang sex”
aku terperangah. Jarang-jarang bude ngomong seperti ini.
Aku : “eee.eee.. maksutnya Bude?”
Bude : “Yaaa.. seandainya kamu gak kuat dan terpaksa itu otong kamu kepingin muntah. Yaa seenggaknya kamu pake kondom gitu le”

bude ngomong begitu sambil menunjuk kearah celanaku. Dia gak tau kalo isinya dah tegang hasil mengintip paha yang keliatan karena duduknya agak membuka.
Aku : “ee. I.. I.. iya Bude.”
Bude : “gimana rasanya teteknya si wulan itu le ? Enak ?”
Aku : “eee… lumayan kenyal Bude.”
jawabku dengan agak meringis. Dan akupun semakin berani karena arah pembicaraan udah memanas.
Aku : “Kalo Bude gimana. Pakde kan jarang pulang. Kalo pengen begituan gimana donk Bude ? ”
Aku sedikit takut akan pertanyaanku. Tapi ternyata dia merespon pertanyaanku tanpa marah.
Bude : “hmmm.. mau tau ajah kamu jon”
Bude : “Iya kalo kamu jon, gak kuat nahan paling-paling dikocok sendiri. Anak muda kan gitu biasanya”
Bude : “Oh iya le.. ntar kalo jahitnya selesai, kamu pijit Bude ya. Pegel semua abis ada tanggapan 2 tempat tadi.”
Aku : “iya bude”

Wah rejeki apalagi nih pikirku. Bisa mijitin badan Bude yang montok. Tak berselang Bude selesai menjahit. Dan dia mengambil minyak urut di kamarnya.

Bude : “Mijitnya di sini aja yah le. Sambil liat TV”
Bude dengan entengnya membuka dasternya dengan hanya menyisakan BH dan celana dalam berenda warna putih. Aku shock, terdiam. Tetek bude serasa mau loncat dari Bhnya.

Bude : “lo le.. kok diem saja. Kayak yang gak pernah lihat ginian. Bukannya wes biasa ama wulan. Hehe”
Bude pun langsung tengkurap di tikar dan menyerahkan minyak urut ke aku
Aku : “Beda bude”
Bude : “Beda apanya to le. Palingan tetek wulan lebih kenceng dari punya Bude.”
Sambil melumuri minyak dan mulai mengurut punggung Bude aku melanjutkan ngobrol.
Aku : “Hmm… punya Bude lebih montok. Lebih seger kayaknya. Hehehe. Lagian mana tau aku kalo punya wulan lebih kenceng. La wong aku gak pernah megang punya Bude. Hehehe”
Bude : “Husss ngawur”

Karena Bude masih memakai BH, aku kesulitan untuk mengurut punggungnya.
Aku : “Bude behanya dicopot ajah ya, aku gak leluasa ngurut punggungnya. Ada tali behanya”
Bude : “ya wes le, buka aja”
aku buka tali pengait behanya. Dan Bude agak mengangkat badannya dan melemparkan beha yang gede itu ke samping. Sekilas aku dapat melihat gedenya tetek Bude dari samping. Aku kembali fokus mengurut punggung Bude. Sekali-sekali aku elus punggungnya.
“hmm..mmmm”, Bude sepertinya keenakan dengan pijatanku.
Sesekali aku memijat bagian samping punggungnya. Dan tak sengaja aku menyenggol teteknya. Bude keenakan sepertinya. Tangannya yang sedari tadi nempel di tubuhnya sekarang direnggangkan. Hmm.. kulihat di ketiaknya terdapapat bulu yang lumayan lebat. Mirip seperti artis Eva Arnas jaman dulu. Wah ini membuat aku semakin horny aja.

Bude : “kok kamu ngurutnya di punggung aja to le. Turun donk biar rata pegelnya ilang”
Aku : “Turun kemana bude ?”
pura-pura aku tanya.
Bude : “ya ke bokong trus ke paha bude”
Aku : “oh.. I.. iya bude’
aku pun ganti mngurut bokong bude. Sesekali bokong semok ini aku remas-remas.
“sssstttt… hmmm.. enak le pijatanmu”
Bude keenakan spertinya. Matanya mulai merem merasakan nikmat. Abis aku pijat sama meremas-remas aku mulai turun ke pahanya. Aku mencoba untuk hanya mengelus-elus pahanya. Dari bawah jalan ke atas sampai bokongnya. Aku coba tanganku aku selipkan di selangkangannya. Hmmm.. terasa itu memek bude dibalik cd nya. Terasa tembem kayak kue apem.

Praktis pijatanku ini membuat bude keenakan. Erangan halusnya makin sering terdengar.
“shhhh.. hhhhh.. hmmmmm”
Sakit enaknya, dia sampai sedikit membuka kakinya. Wah memek tembemnya makin keliatan nih. Samar2 kulihat jembutnya di balik celana dalamnya. Bahkan beberapa jembut keluar dari celana dalamnya. Pemandangan jelas membuat aku semakin horny. Kontolku sepertinya mo berontak keluar. Aku semakin meningkatkan intesitas mengurutku di daerah ini.
Bude : “hmm… enak le. Makanya si wulan seneng banget kalo km remas2 le”
Aku : “Hehehe… bude tak liat-liat badanya masih sekel. Masih bagus Bude. Montok lagi. Padahal bude gak pernah olahraga”
Bude : “Bude minum jamu donk. Jamu sehat wanita”
Aku : “wah enak donk jadi pakde. Bude minum jamu mulu siii”
Bude : “Ntar kalo kamu udah kawin kamu bisa merasakan enaknya”
Pikirku mulai ngalor-ngidul. “Ah sekarang ajah aku ngentot ama Bude. Merasakan enaknya kayak pakde” batinku
Mungkin karena sudah birahi, terlihat celana dalam Bude agak basah.
“Ini mijetnya udah Bude ? Mana lagi ni yang mo dipijit ?” Aku terpaksa ngomong begitu karena tanganku pun dah berasa capek.
“Lo yang depan belom le”
Whaaaat… wah ini mah rejeki nomplok. Kapan lagi aku bisa menikmati tetek Bude. Tanpa babibu Bude langsung membalikkan badan. Woooooo…. tetek Bude yang selama in icuman bisa aku bayangkan sekarang ada di depan mata. Mimpi apaan nih aku semalem.
“Lo ayo le jangan diem ajah. Tetek Bude pegel ini. Ayo cepet dipijet.”
Aku pun menurut ama Bude. Kuurut itu tetek Bude. Terlihat tetek bude pentilnya dah mulai item. Tapi gede. Awalnya sih tidak ada reaksi saat aku memijat sambil meremas tetek Bude. Tapi lama kelamaan Bude menikmatinya.
“wenaaaak joooo.n….”
Mata Bude sambil tertutup menikmati pijatanku ini. Kusenggol pentilnya yang item. Sesekali aku pilin itu pentilnya. Shhh.. begitu erangnya.Dan entah ada dorongan dari mana, aku mencoba mendekat. Aku coba menjilat itu pentil. “slllrrrrppp…” sesekali aku kecup… aku sedot sedot… Tanganku satunya meremas tetek satunya lagi…
“ssssh… aahhhhhhhhh” erang Bude
Slrrrrrpp… cupppp…ceppppp… slrrpppp.. “Hmmm tetek Bude kenyal banget. Punya wulan kalah ni Bude”
“Terussss jooon… enaaaak… duh badan Bude geli semua ini” Bude meracau.
Bibirku sekarang mencoba menggapai Bibir Bude. Kucium. Lidahku masuk ke bibirnya. Aku sedot sedot. Sampai air liurnya masuk ke mulutku. Ciumanku mulai berjalan dari bibir Bude turun melewati leher dan ke tetek lagi. Ku kenyot kenyot itu tetek. Tanganku satunya berjalan ke arah selangkangan Bude. Sempaknya yang basah aku gosok gosok. Pinggul Bude karena keenakan bergoyang goyang menikmati. Aku masukkan tangganku ke dalam celana dalam. Terasa itu lebatnya memek Bude. Aku cari cari akhirnya ketemu itu lubang memeknya.

“shhh achhhh… ashhh achhhhh….”
Mendengar erangan Bude aku coba masukkan jariku ke memek Bude. Aku coba gosok klentitnya. Dan aku coba kosok itu memek.
“sshhhh.. enak leee. Terus leeee… ya itu disitu le… wenak leeee”
goyangan pantat Bude ke atas ke bawah. Aku coba buka itu celana dalam Bude. Bude membantunya dengan membukanya sendiri.

Kenyotanku pada teteknya aku hentikan. Aku sekarang dapat melihat betapa rimbunya memek Bude. Bude mekangkang. Wajahku mencoba mendekat. Kuciumi itu jembut2nya. Kusibak jembutnya. Setelah memek tembemnya keliatann Aku jilat bagian luarnya. Lidahku memainkan jilatan di klitorisnya. Kumasukkan lidahku ke lubang memek Bude.
“ahhhhh… ahhh.. argghhhh.. wenak… wenak… arhhhhh… awww… enak leeee…”
untuk menghentikan erangan Bude aku copot semua baju dan celanaku. Aku coba mengambil gaya 69. Wajahku di memeknya Bude, dan wajah Bude pas di kontiku.

Tanpa Ku komando, Bude dengan rakusnya mengenyot kontolku. Dia jilat dan disedot dengat enaknya.
“Kontolmu enak jooon, cepp ceppp..slrrrrppppp”…
Aku juga melanjutkan menjilkat memek Bude. Tak Lama setelah lidahku merongrong memek Bude, sepertia dia mendapatkan orgasme pertamanya.
“shhhhh.. jooooooon bude mau keluarrrr… ahhh ahhhhh”
Dengan diikuti gerakan bokongnya keatas… dan kepalaku dia jepit sekuat kuatnya…
“ahhhh… ahhhhh…argghhhhh…”

Setelah itu Bude melanjutkan mengulum kontolku. Karena aku berasa akan keluar aku cabut kontolku dari mulut Bude. Badanku berbalik. Sekarang posisiku diatas Bude. Kontolku skr ada di depan memek Bude. Aku gosok gosokan kontolku ini di luar memek Bude.
“ahhhhhh… jooon… masukin kontolmu joooon… tempik Bude dah pengin di entot jooo… masukiiin”
stelah bude terasa tersiksa begini aku coba pelan pelan masukin ini rudal ke memek Bude. Awalnya agak susah, pelan pelan aku dorong dan sekarang …. blesssss…
“arghhhhhh…. genjot jooon”
Aku genjot pelan pelan memek Bude.
“awwwww… arghhhhh.. shhhhhhh… wenak…kontolmu joooon…. manteeep leee”
Aku mainkan irama kontolku. Cepat… terus melambat.. cepat lagi… melambat lagi…
“ayo.. jon… genjot lebih cepet tempik Budemu ini… ahhhh… ahhhhh”
aku genjot semakin cepat…
“Bude.. aku mo keluar bude… ahhhhh… shhhh”
“sama jooonnnn…. Bude juga dah gak kuat.. mo keluar lagi le. Keluarin di dalem ajah le…”
Tak seberapa lama terasa memek Bude melumuri kontolku dengan cairan orgasmenya… memeknya berkedut… sepertinya kontolku di hisapnya…
“”awhhhhhhh.. awhhhhhhhh… enaaaak joooo…. n”
dan aku pun udah gak uat lagi menahan… crott..croottt.croott..
“Wenak Budee… ahhhh. Ahhhhhh… arhhh”

Akhirnya kami pun lemas. Aku terbaring diatas tubuh Bude…
Bude : “Kamu nakal lee… tapi enak tadi kontolmu.. dah lama aku gak ngentot ama pak demu le…”
Aku : “Iya bude.. Tempik Bude juga enak… punyaku terasa disedot… Minum jamunya yang sering yah Bude”
Bude : “Hussss kamu.. tapi ini rahasia yo leee. Jangan sampek orang lain tau’
Aku : “Beres Bude.. asal aku nanti dikasih tempik Bude yang enak ini”
Budeku tersenyum dan akhirnya kami biasa melakukannya bila kami pengen…

TAMAT


Seperti yang kujanjikan, beberapa teman kantorku akhirnya menjadi langganan pijatan Bu Mumun setelah aku mempromosikannya. Rupanya pijatannya benar-benar disukai para pria. Termasuk Pak Marmo, atasanku.

Bahkan ada dua temanku yang menanyakan kemungkinan untuk tidak sekadar mendapat layanan memijat dari Bu Mumun tetapi lebih dari itu. “Kayaknya bisa nggak To kalau Bu Mumun diajak begituan. Aku suka lho wanita tipe seperti dia. Sudah tua tapi tubuhnya masih bagus dan terawat,” kata Rizal, teman sekantorku suatu hari setelah hari sebelumnya dipijat Bu Mumun di rumahnya.

Rizal juga cerita, saat dipijat ia sempat menggerayang ke balik daster yang dipakai Bu Mumun. Tetapi ternyata, kata Rizal, Bu Mumun di samping memakai celana panjang ketat sebatas lutut juga memakai celana dalam rangkap. “Entah rangkap berapa celana dalam yang dipakainya. Aku sampai nggak bisa merasakan empuknya memek dia,” ungkap Rizal menambahkan.

Mendengar ceritanya aku jadi ingin ketawa sekaligus bangga. Sebab ide memakai pakaian seperti itu saat memijat memang atas saranku. Karena kuyakin para pria pasti tertarik untuk iseng dan coba-coba. Tetapi agar Rizal menjadi penasaran dan tetap menjadi langganan pijat, kukatakan padanya kalau aku tidak tahu bisa tidaknya Bu Mumun memberi layanan seks selain memijat.

“Selama ini sih aku hanya tahu ia tukang pijat yang baik dan pijatannya enak. Kalau sampai ke masalah itu saya tidak tahu. Mungkin kalau pendekatannya pas bisa saja ia mau melayani. Apalagi kan udah cukup lama ia ditinggal suaminya,” ujarku.

Pria lain yang juga terang-terangan menyatakan ketertarikannya pada Bu Mumun adalah atasanku. Bahkan setelah aku sering mengantar Bu Mumun untuk memijat, karena Pak Marmo lebih senang pijat di rumahnya, ia menjadi semakin dekat denganku. Aku juga dipercaya memegang sebuah proyek dengan nilai cukup besar, sesuatu yang belum pernah dipercayakan padaku.

Menurut Pak Marmo, pijatan Bu Mumun bukan hanya enak tetapi juga mampu menggairahkan kejantanannya. “Jangan cerita ke siapa-siapa ya. Saya dengan ibu sudah lama tidak jalan lho. Nggak tahu kenapa. Tetapi melihat pemijat tetanggamu itu dan mendapat pijatannya, sepertinya mulai agak bangkit. Suaminya sampai sekarang belum pulang?” kata Pak Marmo ketika aku menghadapnya di ruang kerja.

Pak Marmo mengundangku karena nanti malam jadwalnya dia dipijat Bu Mumun. Tetapi menurut dia, istrinya juga ada rencana belanja ke supermarket dan menemui salah satu koleganya pedagang permata. Selain mengantar Bu Mumun ke rumahnya, aku diminta bantuan menyopir mobil untuk mengantar istrinya.

Sebagai seorang bawahan terlebih karena kebaikannya mempercayakan sebuah proyek berdana besar kepadaku, kusampaikan kesediaanku. Namun sebelum aku keluar dari ruangannya ia kembali mencegah dan berbisik. “Eh Ton, kira-kira bisa nggak tukang pijat itu memberi layanan lebih? Kamu bisa bantu atur?”

Aku paham kemana arah pembicaraan atasanku itu. Maka seperti yang kusampaikan kepada dua temanku yang menjadi langganan pijat Bu Mumun, kukatakan bahwa selama ini yang kutahu ia hanya berprofesi sebagai pemijat dan soal yang lain-lain belum tahu. Hanya kepada Pak Marmo kukatakan akan mencoba melakukan pendekatan ke Bu Mumun.

Setelah keluar dari ruang kerja atasanku, aku menemui Bu Mumun. Sambil berpura-pura cemburu kuceritakan soal ketertarikan atasanku kepadanya. Tetapi juga kuceritakan tentang kebaikan Pak Marmo termasuk kepercayaannya memberikan proyek besar di bawah penangananku.

Bu Mumun cerita, setiap dipijat Pak Marmo memang berusaha merayunya. Juga berusaha menggerayang ke balik pakaian seperti temanku yang lain. “Tetapi kelihatannya punya Pak Marmo sudah sulit bangkit kok,” ujar Bu Mumun.

“Oh jadi cerita Pak Marmo soal kemampuan seksnya yang sudah berkurang itu bener?” Kataku pura-pura kaget.

“Jadi enaknya sikapnya gimana Pak Anto. Dia kan atasan bapak dan juga baik sama bapak,” ujarnya lagi.

Akhirnya dengan seolah-olah sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk kuputuskan, kukatakan padanya bahwa karena kondisi kemampuan seks atasanku tidak normal maka sebaiknya Bu Mumun membantunya. Saat memijat, sebaiknya tidak memakai celana dalam rangkap tiga dan juga tidak memakai celana panjang di balik daster yang dipakai.

“Maksud saya agar Pak Marmo terangsang karena dia suka sama ibu. Memang resikonya Pak Marmo jadi leluasa menjahili ibu sih. Tetapi niatnya kan untuk membantu menyembuhkan dia. Gimana menurut ibu?”

“Kalau itu yang terbaik menurut Pak Anto saya sih nurut saja. Tetapi Pak Anto jangan cemburu ya,”

Bu Mumun langsung kupeluk. Kukatakan padanya bahwa sebenarnya aku sangat cemburu dan tidak suka tubuh Bu Mumun diraba dan dipegang-pegang orang lain. Tetapi demi menolong atasanku itu dan demi membalas kebaikannya aku akan berusaha untuk tidak cemburu. “Asal yang ini jangan diberikan semua ke Pak Marmo ya bu. Saya suka banget dengan yang ini,” ujarku sambil meraba memek Bu Mumun setelah menyingkap dasternya.

Tadinya aku berniat melepaskan hasratku untuk menyetubuhi tubuh montok tetanggaku itu. Tetapi setelah saling memagut dan hendak saling melepaskan baju, kudengar anak-anak Bu Mumun pulang dari sekolah. Hingga kuurungkan niatku dan langsung kebur menyelinap lewat pintu belakang.

Seperti yang kujanjikan, sekitar pukul 17.00 kujemput Bu Mumun dan kuantar ke rumah Pak Marmo. Bu Mumun memakai seragam baju terusan warna putih seperti yang biasa dipakai suster rumah sakit. Itu memang baju seragamnya saat memijat. Tetapi dari bentuk cetakan celana dalam yang membayang di pantatnya yang besar, kuyakin ia tidak pakai celana panjang dan celana dalam rangkap seperti biasanya. Rupanya ia benar-benar memenuhi janjinya untuk melayani Pak Marmo dengan lebih baik seperti yang kusarankan.

Kulihat Pak Marmo sedang menyiram bunga di halaman rumahnya saat aku datang. “Eh To, silahkan masuk. Tuh istriku udah uring-uringan karena sudah dandan dan siap berangkat,” ujarnya mempersilahkan.

Benar Bu Marmo sudah berdandan rapi dan siap pergi. Bahkan ia langsung menyerahkan kunci kontak mobil kepadaku. “Wah ibu takut Nak Anto telat datang. Soalnya selain belanja ibu kan harus ke rumah Bu Ramli, jadi takut kemalaman,” kata Bu Marmo.

Bu Marmo menyapa Bu Mumun ramah dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu rumahnya. Ia meminta Bu Mumun menunggu karena suaminya belum mandi. Bahkan kepada Bu Mumun juga berpesan untuk istirahat di kamar tamu rumahnya kalau selesai memijat nanti ia belum pulang. “Santai saja Mbak Mumun nggak usah sungkan-sungkan. Kalau mungkin nanti saya juga ikut dipijat,” ujar Bu Marmo yang langsung mengahmpiriku yang sudah siap dengan mobil Kijang keluaran terbaru milik keluarga itu.

Usia Bu Marmo mungkin sebaya dengan Bu Mumun. Atau boleh jadi lebih tua satu atau dua tahun. Namun dengan pakaian stelan jas tanpa kancing yang dipadu dengan kaos warna krem di bagian dalam serta celana panjang ketat warna hitam senada, wanita itu tampak berwibawa.

Bau harum yang lembut dari wangi farfumnya membaui hidungku saat ia masuk ke dalam mobil. Ia menyebut nama sebuah suoermarket ternama hingga aku langsung menjalankan mobil perlahan. Untung aku yang biasanya hanya memakai T shirt, tadi memutuskan memakai baju lengan panjang meski untuk celana tetap memilih jins. Hingga tidak terlalu canggung mengantar istri atasanku.

Ukuran dan bentuk tubuh Bu Marmo nyaris sama dengan Bu Mumun, tinggi besar. Kakinya panjang dan kekar. Hanya perutnya relatif lebih rata, mungkin karena rajin senam dan olahraga hingga tubuhnya tampak lebih liat.

Awalnya pembicaraan lebih bersifat formal. Tentang bagaimana sikap kepemimpinan suaminya di kantor dan bagaimana penilaianku sebagai bawahan. Namun lama kelamaan perbincangan menjadi lebih cair setelah topiknya menyangkut keluarga. “Sebentar lagi cucu saya dua lho Nak Anto. Sebab Menik kemarin telepon katanya sudah hamil,” kata ibu beranak tiga itu.

“Kalau ngomongnya sama orang yang tidak tahu keluarga ibu nggak akan percaya kalau ibu sudah punya cucu,”

“Lho kok?”

“Soalnya dari penampilan ibu, orang pasti mengira usianya belum 40 tahun. Soalnya ibu terlihat masih muda dan energik,” kataku memuji.

“Ah bisa saja Nak Anto. Pujiannya disimpan saja deh untuk istri Nak Anto. Pasti istrinya cantik ya karena Nak Anto kan pandai merayu,”

Lewat kaca spion, wanita yang sehari-hari menjadi kepala sekolah di sebuah SD itu kulihat tak mampu menyembunyikan perasaan bangganya atas pujian yang kuberikan. Seulas senyum manis terlihat menghias wajahnya, wajah yang masih menyimpan sisa-sisa kecantikan di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.

Melihat Bu Marmo aku jadi ingat Bu Mumun. Wanita itu pasti lagi sibuk memijat tubuh atasanku. Atau boleh jadi sambil memijat ia jadi terangsang karena tangan Pak Marmo yang menggerayang ke paha dan selangkangan atau di memeknya yang kini hanya dibalut satu buah celana dalam.

Membayangkan semua itu aku kembali melirik Bu Marmo yang ada di sebelahku. Perbedaan Bu Mumun dengan Bu Marmo mungkin hanya pada warna kulitnya. Kulit Bu Mumun lebih terang dan Bu Marmo agak gelap. Kalau teteknya, aku berani bertaruh payudara istri atasanku ini juga cukup besar ukurannya. Meski tertutup jas hitam dan kaos krem yang dipakainya, tonjolan yang dibentuknya tak bisa disembunyikan.

Di luar itu, yang pasti Bu Marmo lebih wangi dan boleh jadi tubuhnya lebih terawat. Sebab ia memiliki kemampuan keuangan yang memadai untuk merawat tubuh dan membeli parfum mahal. Tetapi begitulah hidup, rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri.

“Sudah berapa lama ya Pak Marmo tidak menyentuh wanita berwajah manis ini? Ah aku juga mau kalau diberi kesempatan,” ujarku membathin sambil melirik bentuk kakinya yang panjang dan tampak indah dibalut celana hitam ketat.

Gara-gara terus-menerus melirik Bu Marmo, mobil yang kubawa nyaris menabrak becak. Untung Bu Marmo mengingatkan hingga aku bisa sigap menghindar. “Makanya jangan meleng! Kenapa sih, sepertinya Nak Anto ngelihatin ibu terus deh,”

“Ee.. ee.. anu.. eee ibu cantik banget sih,” jawabku sekenanya.

“Hush… orang sudah nenek-nenek dibilang cantik,”

Tanpa terasa mobil akhirnya memasuki pelataran parkir supermarket yang dituju. Tadinya aku berniat menunggu di tempat parkir sementara istri atasanku itu berbelanja. Tetapi Bu Marmo memintaku menemani masuk ke supermarket. Bahkan ia menggamit lenganku sambil berjalan di sisiku layaknya seorang istri pada suami.

Sebagai anak buah dari suaminya, sebenarnya aku agak canggung. Tetapi karena Bu Marmo terkesan sangat santai, aku pun akhirnya bisa bersikap wajar. Bahkan setelah berkali-kali tanpa disengaja lenganku menekan buah dada Bu Marmo yang kelewat merapat saat berjalan, aku mulai nekad mengisenginya. Sambil berjalan, siku lengan kiriku sengaja kutekan ke teteknya hingga kurasakan kelembutan buah dadanya.

Entah tidak tahu ulah isengku atau tahu tetapi pura-pura tidak tahu, Bu Marmo bukannya menghindar dari siku lenganku yang ‘nakal’. Sambil terus melangkah di sisiku untuk melihat-lihat barang-barang di supermarket posisi tubuhnya malah kian merapat. Akibatnya tonjolan buah dadanya kurasakan ikut menekan lenganku. Aku juga mulai bisa memperkirakan seberapa besar tetek istri atasanku itu.

Sebenarnya aku kurang begitu suka mengaantar istri berbelanja. Sebab biasanya, istriku suka berlama-lama khususnya ketika berada counter pakaian. Begitu pun Bu Marmo, hampir setiap baju dan gaun wanita yang menarik hatinya selalu didekati dan beberapa diantaranya dicobanya di kamar pas.

Namun aku yang biasanya jenuh dan menjadi bersungut-sungut, kali ini malah menikmatinya. Sebab sambil menunggu wanita itu memilih baju-baju yang hendak dibelinya, aku jadi punya banyak kesempatan untuk melihat bentuk tubuh istri atasanku itu. Saat kuamati dari belakang, wanita yang usianya sudah kepala lima itu ternyata masih lumayan seksi.

Dalam balutan celana ketat yang dipakainya, pinggul dan pantat Bu Marmo benar-benar aduhai. Apalagi celana dalam yang dipakainya jadi tercetak sempurna karena ketatnya celana warna hitam yang dikenakan. Aku terus melirik dan mencari kesempatan untuk menatapnya saat Bu Marmo membungkuk atau memilih-milih pakaian yang menjadikan posisi pantatnya menonjol.

Saat hendak mencoba baju yang diminatinya di kamar pas, Bu Marmo menitipkan tasnya padaku sambil meminta berada tak jauh dari lokasi kamar pas. Lagi-lagi goyangan pinggul dan pantat besarnya menggoda mataku saat ia melangkah. Pikiranku jadi menerawang membayangkan Bu Mumun. Ada perasaan cemburu karena kuyakin Pak Marmo lagi berusaha merayu atau malah sudah berhasil menaklukkan Bu Mumun dan tengah menikmati kemontokkan tubuh wanita itu. Ah andai Bu Marmo bisa kurayu atau membutuhkan layanan seksku, ujarku membathin.

Aku merasakan adanya peluang untuk itu ketika kudengar Bu Marmo memanggilku dari kamar pas. Dengan tergesa aku menuju ke kamar pas yang letaknya agak terpencil dan tertutup oleh display aneka pakaian di supermarket tersebut. Namun di lokasi itu, istri atasanku tak kunjung keluar dan menyampaikan maksudnya memanggilku hingga aku nekad melongokkan kepala dengan menyibak tirai kamar pas.

Ternyata, di kamar pas Bu Marmo dalam keadaan setengah telanjang. Karena setelah mencoba baju dan celana yang hendak dibelinya ia belum memakai pakaiannya lagi. Hanya BH dan celana dalam krem yang menutup tubuhnya. Maka yang semula hanya bisa kubayangkan kini benar-benar terpampang di hadapanku.

Wanita yang usianya tidak muda lagi itu, benar-benar masih menggoda hasratku. Teteknya nampak agak kendur, tetapi besar dan bentuknya masih bagus. Pahanya mulus tanpa cela. Hanya meskipun perutnya tidak membuncit seperti perut Bu Mumun, namun terlihat bergelombang dan ada beberapa kerutan. Maklum karena faktor usia. Sedangkan gundukkan di selangkangannya benar-benar membuatku terpana, besar dan membukit. Bisa kubayangkan montoknya memek Bu Marmo dari apa yang tampak oleh cetakan pada celana dalam yang membungkusnya.

Dan anehnya kendati tahu akan kehadiranku, ia tak merasa jengah atau mencoba menutupi ketelanjangannya. Bahkan meskipun mataku terbelalak dan terang-terangan menjilati ketelanjangannya. “Ih kayak yang nggak pernah lihat perempuan telanjang saja. Nak tolong ke sales untuk bajunya ganti nomor yang lebih besar sedikit. Yang ini kekecilan,” ujarnya tetap santai.

Saat kembali seusai menukar baju pada sales, Bu Marmo memang telah memakai kembali celana panjang warna hitamnya. Tetapi di bagian atas tetap terbuka. Bahkan tanpa menyuruhku pergi, ia segera memakai pakaian yang kusodorkan untuk dicobanya dihadapanku. “Menurut Nak Anto, ibu pantes nggak pakai pakaian model seperti ini,” ujarnya meminta komentarku.

“Ee.. ee bagus. Seksi banget,”

“Hus dimintai pendapat kok seksi.. seksi. Seksi apaan sih,”

“Ee maksud saya dengan pakaian itu ibu terlihat makin cantik dan seksi,” kataku yang tidak berkedip menikmati kemewahan buah dadanya.

Entah karena pujianku atau menganggap baju itu memang sesuai seleranya, Bu Marmo akhirnya memutuskan membelinya di samping beberapa stel pakain lainnya. Hanya ketika aku menemani di counter pakaian dalam dan ia memilih-milih BH nomor 36B, sambil berbisik kuingatkan bahwa nomor itu terlalu kekecilan dipakai olehnya.

“Ih sok tahu,” ujarnya lirih.

“Kan tadi sudah dikasih lihat sama ibu,”

Bu Marmo mencubit pinggangku. Tetapi tidak sakit karena cubitan mesra dan gemas. Kalau bukan ditempat keramaian, rasanya aku sudah cukup punya keberanian untuk memeluk atau mencium istri atasanku itu. Karenanya setelah membayar semua yang dibelinya, saat keluar dari supermarket lengannya kugamit untuk meyakinkannya bahwa aku pun tertarik padanya.

Seperti tujuannya semula, setelah dari supermarket Bu Marmo berniat ke rumah temannya untuk urusan pembelian perhiasan. Tetapi menurutnya ia agak lapar dan ingin menu ikan bakar. Maka seperti yang dimintanya, mobil pun meluncur ke kawasan pantai di mana terdapat rumah makan yang berbentuk saung-saung terpisah dan tersebar dan khusus menjual aneka menu seafood.

Setelah memesan beberapa menu dan minuman, kami menuju ke salah satu saung paling terpencil dan tertutup rimbun pepohonan. Tadinya Bu Marmo memprotes karena menurutnya tempatnya terlalu gelap dan terpencil. Tetapi saat tanganku melingkar ke pinggangnya dan kukatankan bahwa lebih gelap lebih asyik, protesnya yang boleh jadi cuma pura-pura segera berhenti dan hanya sebuah cubitan darinya sebagai jawabannya.

Dari pinggangnya tangaku meliar turun merayap di pantatnya. Dari luar celana ketat yang dipakainya, pantat besarnya kuraba. Bokongnya yang lebar masih lumayan padat, hanya agak sedikit turun. Dengan gemas kuusap-usap dan kuremas pantat Bu Marmo. Lagi-lagi ia tidak menolak dan bahkan kian merapatkan tubuhnya. Maka setelah di dalam saung, ia langsung kupeluk dan kulumat bibirnya.

Sejenak ia tidak bereaksi. Hanya diam membiarkan lidahku bermain di rongga mulutnya. Namun setelah tanganku merayap di selangkangannya dan menelusup masuk ke dalamnya melalui risleting celananya yang telah kuturunkan, pagutanku di mulutnya mulai mendapatkan perlawanan. Bibir dan lidah Bu Marmo ikut aktif melumat dan memainkan lidahnya.

Memek istri atasanku itu tak cuma tebal, tapi juga lebar dan membusung. Itu kurasakan saat telapak tanganku mengusap dari luar celana dalam yang dipakainya. Tetapi nampaknya tak berambut. Permukannya terasa agak kasar karena munculnya rambut-rambut yang baru tumbuh. Sepertinya ia baru mencukur bulu-bulu jembutnya itu.

Namun saat aku hendak lebih memelorotkan celana panjangnya agar leluasa meraba dan mengusap memeknya Bu Marmo mencegah. “Jangan Nak Anto, nanti ada orang. Kan pelayan belum ke sini buat nganterin pesanan makanan kita,” sergahya.

“Ii… ii.. iya Bu,”

Benar juga, ujarku membathin. Aku terpaksa menahan diri untuk tidak meneruskan niatku memelorotkan celana panjang yang dipakai Bu Marmo. Hanya usapan dan rabaanku di busungan memeknya tak kuhentikan. Bahkan sesekali aku meremasnya dengan gemas karena keinginan untuk memasukkan jariku ke lubang nikmatnya tak kesampaian.

Diobok-obok di bagian tubuhnya yang paling peka, kendati masih di luar celana dalamnya, Bu Marmo mendesah. Pelukannya semakin ketat dan lumatannya di bibirku makin menjadi. Rupanya wanita yang usianya sudah di atas kepala lima itu mulai terbangkitkan hasratnya.

Aku dan Bu Marmo baru melepaskan pelukan dan segera berbenah setelah dari jauh kulihat dua pelayan wanita membawa nampan berisi makanan dan minuman yang kami pesan. Selembar uang pecahan Rp 20 ribu kusisipkan di nampan salah satu pelayan perempuan setelah mereka selesai menghidangkan yang kami pesan. “Terima kasih dan selamat menikmati,” kata keduanya sambil melemparkan senyum dan beranjak meninggalkan saung yang kami tempati.

Tetapi bukannya makanan yang terhidang yang kuserbu setelah kedua pelayan meninggalkan saung. Dari arah belakang kudekati dan kupeluk Bu Marmo yang di tikar saung yang menyajikan makanan secera lesehan itu. “Tidak makan dulu Nak Anto?” ujar Bu Marmo.

Tetapi aku tak peduli pada apa yang dikatakan istri atasanku itu. Hasrtaku lebih besar untuk segera menikmati kehangatan tubuhnya ketimbang makanan yang tersaji. Hingga setelah membenamkan wajahku ke keharuman rambutnya, tanganku langsung meliar, Meremasi teteknya dari luar t shirt warna krem yang dipakai dibalik jaketnya yang tak terkancing.

Seperti tetek Bu Mumun, susu Bu Marmo juga sudah agak kendur. Tapi dari segi ukuran, nampaknya tak jauh beda. Besar dan empuk, entah bentuk putingnya. Sambil kuciumi tengkuk dan lehernya, tanganku merayap ke balik t shirt yang dipakainya. Kembali aku meremas teteknya dan kali ini langsung dari BH yang membungkusnya. Kelembutan buah dada Bu Marmo baru benar-benar dapat kurasakan setelah aku berhasil merogoh dan mengelurkannya dari BH.

Bu Marmo mulai menggelinjang dan mendesah saat aku meremas-remas teteknya perlahan dan memainkan puting-putingnya. Ia menyandarkan tubuh ke dadaku seakan memasrahkan tubuhnya padaku. “Sshhh….aaahhh….. sshhh….aahhh… ibu sudah lama tidak begini Nak Anto,” ujarnya mendesah.

“Lho kan ada Pak Marmo,” kataku menyelidik.

“Dia jarang mau diajak dan sudah sulit bangun itunya,”

Meski sudah mendengar langsung dari Pak Marmo aku agak kaget karena ternyata cerita atasanku itu benar adanya. Pantesan Bu Marmo merasa tidak ada masalah meninggalkan suaminya dipijat wanita lain berdua di rumahnya.

Ternyata wanita yang ada dalam pelukanku ini sudah lama tidak dijamah suaminya. Membayangkan itu aku makin terangsang. Jas hitam yang dipakai Bu Marmo kulepas dari tubuhnya. Namun saat hendak kulepas kaos krem yang dikenakan dibalik jaket, wanita istri atasanku itu mencegah. “Takut nanti ada yang ke sini Nak Anto,” ujarnya.

Meski aku telah membujuknya bahwa tak mungkin ada pelayan yang datang kecuali tombol bel yang ada ditekan untuk memanggil, Bu Marmo tetap menolak. Menurutnya ia tetap merasa was-was karena berada di ruang terbuka. “Kalau celana dalam ibu saja yang dibuka nggak apa-apa,” katanya akhirnya.

Agak kecewa sebenarnya karena aku ingin melihat tubuh istri atasanku dalam keadaa bugil. Tetapi membuka celana berarti memberiku kesempatan melihat memeknya. Bagian yang paling ingin kulihat pada tubuh Bu Marmo karena saat di kamar pas supermarket, bagian membusung di selangkangannya itu masih tertutup celana dalam.

Tanpa membuang kesempatan, segera kubaringkan Bu Marmo di lantai saung yang beralaskan tikar itu. Kubuka kancing celana hitam yang dipakai dan kutarik risletingnya. Kini kembali kulihat gundukan memeknya yang masih dibungkus celana dalam krem. Aku menyempatkan membelai memek istri atasanku itu dari luar celana dalamnya sebelum menarik dan memelorotkan celana panjangnya. Benar-benar tebal, besar dan masih cukup liat.

Aku makin terpana setelah memelorotkan celana dalamnya dan membuat tubuh bagian bawah Bu Marmo benar-benar bugil. Memeknya benar-benar nyempluk, membusung dan tanpa rambut. Kalau dibiarkan tumbuh mungkin jembut di memek Bu Mumun masih kalah lebat. Namun Bu Marmo rupanya lebih senang mencukurnya, hingga nampak gundul dan polos.

Memek tembemnya itu terasa hangat saat aku menyentuh dan membelainya. Tetapi sekaligus terasa kasar karena bulu-bulu jembutnya mulai tumbuh. Aku yang menjadi makin terangsang dan tak sabar untuk melihat itilnya, segera membuka posisi kaki Bu Marmo yang masih merapat.

Ah lubang memeknya ternyata sudah lebar, menganga diantara bibir kemaluannya yang tebal dan berkerut-kerut. Bibir kemaluannya coklat kehitaman. Tetapi itilnya yang mencuat menonjol di bagian atas celah memeknya nampak kemerahan. Aku tak lagi bisa menahan diri. Langsung kukecup memeknya dengan mulutku. Memek Bu Marmo ternyata sangat terawat dan tidak berbau. Ia mendesah dan makin melebarkan kangkangan pahanya saat lidahku mulai menyapu seputar bibir luar vaginanya.

Lidahku terus menjelajah, melata dan merayap seolah hendak melumasi seluruh permukaan tepian labia mayoranya. Bahkan dengan gemas sesekali bibir vaginanya yang telah menggelambir kucerucupi. Membuat Bu Marmo mendesis mengangkat pantat menahan nikmat. “Aakkhhh… sshhh… shhh… aahhh…. ookkhhh…. ssshhhh,” rintih wanita itu mengikuti setiap sapuan lidah dan cerucupan mulutku di memeknya.

Sambil mendesis dan mendesah, kulihat Bu Marmo meremasi sendiri susunya dari luar kaos warna krem yang dipakainya. Rupanya ia sangat menikmati sentuhan awal oral seks yang kuberikan. Aku yang memang berniat memberi kesan mendalam pada persetubuhan pertama dengan istri atasanku itu, segera meningkatkan serangan. Dengan dua tanganku bibir memeknya kusibak hingga terlihat lubang bagian dalam kemaluannya. Lubang yang sudah cukup lebar dan terlihat basah.

Ke celah lubang nikmat itulah lidahku kujulurkan. Terasa asin saat ujung lidahku mulai memasuki lorong kenikmatannya dan menyentuh cairan yang keluar membasah. Aku tak peduli. Ujung lidahku terus terulur masuk menjelajah ke kedalaman yang bisa dijangkau. Bahkan di kedalaman yang makin pekat oleh cairan memeknya, lidahku meliar. Melata dan menyodok-nyodok. Akibatnya Bu Marmo tak hanya merintih dan mendesah tapi mulai mengerang.

“Aahhkkkhhh…. aaahhh…. oookkkhhhh… enak banget Nak Anto. Oookkh.. terus.. Nak, aaakkkhhhhh,” erangnya kian menjadi.

Bahkan ketika lidahku menjilat itilnya, tubuh istri atasanku itu mengejang. Ia mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya. Seolah menjemput lidahku agar lebih dalam menggesek dan mendesak ke kelentitnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menempatkan kedua tanganku untuk menangkup dan menyangga pantatnya. Dan sambil terus menjilati itilnya kubenamkan wajahku di permukaan memeknya sambil menekan dan meremas-remas pantatnya.

Kenikmatan tak tertahan yang dirasakan Bu Marmo akibat jilatan-jilatan di kelentitnya membuat gairah wanita itu makin memuncak. Kakinya mengelonjot dan menyepak-nyepak sambil erangannya makin menjadi. Bahkan kepalaku dijambaknya. “Ahh.. ahhh.. ooohh ….aaaauuuhhhhh…. enak.. sshhh…. sshhh…. aahhh enak banget. Ibu nggak tahan Nak Anto, aaahhh…. aahhhh,” sesekali tangannya berusaha menjauhkan kepalaku dari memeknya.

Tetapi aku tak peduli. Jilatan lidahku di itilnya bukannya kuhentikan tetapi makin kutingkatkan. Bahkan dengan gemas, bagian paling peka di kemaluannya itu kucerucupi dan kuhisap-hisap. Akibatnya ia tak mampu bertahan lebih lama. Pertahanannya jebol. Kedua pahanya yang kekar menjepit kencang kepalaku dan menekan hebat hingga wajahku benar-benar membenam di memeknya.

Berbarengan dengan itu ia memekik dan mengerang kencang namun tertahan. Cairan kental yang terasa hangat juga kurasakan menyemprot mulutku uang masih menghisap itilnya. Saat itulah aku tahu Bu Marmo baru saja mencapai puncak kenikmatannya. Rupanya, upayaku untuk membuatnya orgasme tanpa mencoblos memeknya dengan kontolku berhasil.

Setelah beberapa lama, nafas Bu Marmo yang sempat memburu berangsur pulih seiring dengan mengendurnya jepitan paha wanita itu di kepalaku. Hanya ia tetap terbaring. Mungkin tenaganya terkuras setelah puncak kenikmatan yang didapatnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menyeka dan membersihkan mulutku memakai serbet makan yang tersedia bersama sejumlah menu makanan yang belum sempat kami sentuh.

Aku baru saja menenggak habis segelas teh manis hangat yang sudah diingin saat Bu Marmo menggeliat dan terbangun. Kulihat ia tersenyum padaku. Senyum yang sangat manis. Mungkin sebagai ungkapan terima kasih atas yang baru kuberikan dan sudah lama tidak diperoleh lagi dari suaminya. “Nak Anto sudah lapar? Kalau lapar makan dulu deh,” ujarnya.

“Saya sudah kenyang kok Bu,” jawabku.

“Kenyang apa, wong baru minum teh saja kok,”

“Bukan kenyang karena makanan. Tetapi karena menjilati memek ibu yang mantep banget,” candaku sambil menatapi busungan memeknya.

“Ih dasar. Ibu bener-bener nggak tahan lho Nak Anto. Soalnya sudah lama banget nggak dapat yang seperti tadi,” ujarnya tersipu.

Rupanya ia juga baru sadar bahwa bagian bawah tubuhnya masih telanjang. Celana dalam warna krem miliknya yang teronggok segera diambil dan Bu Marmo berniat untuk memakainya. Namun aku langsung mencegah. Kurebut dari tangannya dan kulempar agak jauh darinya. “Jangan ditutup dulu dong Bu. Saya masih belum puas lihat punya ibu,” kataku sambil mengusap memeknya.

“Nak Anto tidak pengin makan dulu?”

“Nanti saja ah. Perut saya sih belum lapar. Tapi kalau yang ini sudah lapar sejak tadi,” ujarku sambil menurunkan risleting celanaku dan mengeluarkan isinya dari celana dalam yang kupelorotkan.

Kontolku keras dan tegak mengacung sempurna. Urat-uratnya terlihat menonjol melingkari sekujur batangnya yang hitam dan berukuran lumayan besar. Bu Marmo tampak terpana melihatnya. “Punya saya hitam dan jelek ya Bu,” kataku memancing.

“Bukan.. bukan karena itu. Tapi ukurannya.. kok gede banget,”

“Masa? Tapi ibu suka sama yang gede kan?” Kataku sambil merubah posisi menggeserkan bagian bawah tubuhku mendekat ke istri atasanku. Aku berharap ia tak hanya menatap senjataku tapi mau mengelusnya atau bahkan mengulumnya. Sementara tanganku tetap merabai dan mengusap-usap memeknya yang tebal.

Bu Marmo ternyata cepat tanggap dan mengerti apa yang kuinginkan. Batang zakarku digenggamnya. Tetapi ia hanya mengelus dan seperti mengamati. Mungkin ia tengah membandingkan senjata milikku dengan kepunyaan suaminya. “Beda dengan milik bapak ya bu. Punya saya memang sudah hitam dari sananya kok,” candaku lagi.

“Ih.. bukan begitu. Punya Nak Anto ukurannya nggilani. Kayaknya marem banget,” ujarnya tersenyum. Wajahnya tampak dipenuhi nafsu.

Akhirnya, Bu Marmo benar-benar melakukan seperti yang kuharapkan. Setelah mengecu-ngecup topi baja kontolku, ia mulai memasukkan ke dalam mulutnya. Awalnya cuma sebagian yang dikulumnya. Selanjutnya, seluruh batang zakarku seperti hendak ditelannya. Mulutnya terlihat penuh karena berusaha memasukkan seluruh bagian tonggak daging milikku yang lumayan besar dan panjang.

Wanita istri atasanku itu ternyata cukup pandai dalam urusan kulum-mengulum. Setelah seluruh bagian batang kontolku masuk ke mulut, ia menghisap sambil menarik perlahan kepalanya. Begitu ia melakukannya berulang-ulang. Aku mendesah oleh kenikmatan yang diberikan. “Oookkhhh… sshhh…. oookkkhhhhh…. enak banget… aakkkkhhhh…. terusss…. aaakkkkkhhhhhh,” desisku.

Sambil terus melumati batang kontolku, tangan Bu Marmo juga menggerayang dan memainkan biji-biji pelir milikku. Kalau bukan di rumah makan mungkin aku sudah mengerang dan melolong oleh sensasi dan kenikmatan yang diberikan. Sebisaku aku berusaha menahan agar tidak sampai rintihanku terdengar orang lain.

Untuk melampiaskannya, aku mulai ambil bagian dalam permainan pemanasan yang dilakukannya. Aku harus bisa mengimbangi permainan Bu Marmo. Kedua pahanya kembali kukangkangkan dan wajahku kembali kubenamkan di selangkangannya. Bu Marmo sebenarnya belum sempat mencuci memeknya setelah lendir kenikmatannya keluar saat orgasme sebelumnya. Tetapi aku tak peduli. Memek wanita yang sudah dipanggil nenek itu kucerucupi.

Bahkan jilatan lidahku tidak hanya menyapu bagian dalam lubang memek dan kelentitnya. Tetapi juga melata di sepanjang alur liang nikmatnya yang menganga namun juga ke tepian lubang duburnya. Saat aku menjilat-jilat tepian lubang anusnya Bu Marmo menggerinjal dan memekik tertahan. Mungkin kaget karena tak menyangka lidahku bakal menjangkau bagian yang oleh sementara orang dianggap kotor.

Tetapi itu hanya sesaat. Setelah itu ia kembali melumati dan menghisapi batang kontolku sambil mendesah-desah nikmat. Karenanya aku makin fokus dan makin sering kurahkan jilatan lidahku ke lubang duburnya sambil sesekali meremasi bongkahan pantat besarnya.

Pertahananku nyaris jebol saat mulut Bu Marmo mulai mencerucupi biji pelir kontolku. Untung Bu Marmo mengambil insiatif menyudahi permainan pemanasan itu. Ia memintaku segera memasukkan rudalku ke liang sanggamanya. “Ahhh… sudah dulu ya. Sudah nggak kuat pengin merasakan batang Nak Anto yang gede ini nih,” kata Bu Marmo seraya melepaskan batang kontolu dari genggamannya.

“Ii.. iiya bu, saya juga sudah pengin banget merasakan memek ibu,”

Aku mengambil ancang-ancang di antara paha Bu Marmo yang mengangkang lebar. Lubang bagian dalam kemaluannya yang menganga terlihat kemerahan . Sepertinya lubang nikmat Bu Marmo telah menunggu untuk disogok. Memang sudah lama tidak ditengok karena kemaluan suaminya yang mulai loyo. Kepala penisku yang membonggol sengaja kuusap-usapkan di bibir luar memeknya yang sudah amburadul bentuknya. Bahkan ada sebentuk daging mirip jengger ayam yang menjulur keluar. Entah apa namanya karena aku baru melihatnya.

Bu Marmo mendesah saat ujung penisku menyentuh bibir kemaluannya. Meski nafsuku kian membuncah melihat memek tembemnya yang menggairahkan, aku berusaha menahan diri. Bahkan ujung topi baja rudalku hanya kumainkan untuk menggesek dan mendorong gelambir daging mirip jengger ayam di memek Bu Marmo. Sedikit menekannya masuk dan menariknya kembali.

Akibatnya Bu Marmo merintih dan memintaku untuk segera menuntaskan permainan. “Ayo Nak Anto… jangan siksa ibu. Masukkan kontolmu.. ssshhh… aahh… sshh ahhh ayo nak,”

Blleeessseeekkk… akhirnya batang kontolku kutekan dan benar-benar masuk ke lubang memeknya. Karena sudah lumayan longgar dan banyaknya pelicin yang membasah di lubang memeknya, batang kontolku tidak mengalami hambatan berarti saat memasukinya. Bagian dalam lubang Memek Bu Marmo terasa hangat dan sangat becek.

Setelah batang zakarku benar-benar membenam di kehangatan liang sanggamanya, kurebahkan tubuhku untuk menindih tubuh montoknya. Bibir istri atasanku yang merekah perlahan kukecup dan akhirnya kulumat. Saat itulah sambil terus mengulum dan melumati bibirnya, mulai kuayun pinggulku dan menjadikan batang kontolku keluar masuk di lubang memeknya.

Bu Marmo juga mulai mengimbanginya. Tak kalah hot, lidahku yang menyapu rongga bagian dalam mulutnya sesekali dihisap-hisapnya. Bahkan ia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku baru mulai merasakan kelebihan yang dimiliki Bu Marmo. Bukan cuma tubuhnya yang matang akibat usia senja namun masih menggairahkan. Tetapi kerja otot bagian dalam memeknya juga lebih terasa. Berdenyut dan seperti memerah batang kontolku.

Kini giliran aku yang dibuatnya mengerang. Nampaknya istri atasanku telah benar-benar matang dalam hal urusan ranjang. Untuk melampiaskannya, kuremas gemas teteknya yang besar dari luar kaos yang dipakainya. Bahkan karena kurang puas, kaosnya kusingkap dan sepasang payudaranya kurogoh dan kutarik keluar dari kutangnya. Pentil-pentil teteknya yang berwarna coklat kehitaman kupelintir dan kumain-mainkan dengan jariku.

Blep… blep…. blep… begitu suara yang kudengar setiap kali ayunan pinggulku menyentuh selangkangan Bu Marmo. Di samping bunyi kecipak karena lendir yang kian membanjir di liang sanggamanya. “Sshhh… ssshh …aahh …. aahh terus nak.. aahh enak banget. Kontolmu enak bangat Nak Anto,”

“Memek ibu juga enak. Empotannya mantep banget,”

Bu Marmo tersenyum. Wajahnya kian memerah. Kembali kulumat bibirnya sambil tak lepas tanganku menggerayangi buah dadanya. Saat itu kurasakan tangan Bu Marmo mencengkeram pantatku dan mulai menekan-nekannya. Dan kursakan tempo goyangan pinggulnya makin cepat. Rupanya ia mulai mendekat ke puncak gairahnya.

Aku yang juga mulai kehilangan daya tahan segera mengimbanginya. Berkali kontolku kutikamkan ke lubang memeknya dengan tekanan yang lebih kencang dan lebih bertenaga. Bu Marmo memekik dan mengerang. “Aaauuww… aaakhhh ,,,, aakkkhhh enak banget… aaakhhh…. terus… sayang …. aaaakhhh … ya…. aaakhhh memek ibu enak bangat disogok begini… aaaaakkkkhhhh …. sshhhh… sshhh… aaahhhhh,” rintihan dan suara Bu marmo makin tak terkontrol.

Aku jadi makin terpacu. Bukan cuma mulutnya yang kucium. Tapi ujung hidungnya yang bangir dan dahinya juga kucerucupi dengan mulutku. Bahkan lidahku menjelajah ke lehernya dan terus melata. Lubang telinga Bu Marmo juga tak luput dari jilatan lidahku setelah menyibak rambutnya.

Tubuh Bu Marmo kian mengejang. Kedua kakinya yang kekar dan panjang membelit pinggangku dan menekannya. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku. Rupanya ia hampir sampai di garis batas kenikmatannya. Aku yang juga sudah mendekati puncak gairah makin meningkatkan tikaman- tikaman bertenaga pada lubang sanggamanya.

Akhirnya gairah Bu Marmo benar-benar tertuntaskan. Cairan yang menyembur di lubang memeknya dan cengkereman kuku-kukunya di punggungku menjadi pertanda kalau ia sudah mendapatkan orgasmenya. Tetapi aku terus mengayun. Kocokan batang kontolku di lubang memeknya yang makin banjir tak kuhentikan. Bahkan makin kutingkatkan karena kenikmatan yang kian tak tertahan.

Puncaknya, Bu Marmo kembali mencengkeram pantatku. Kali ini dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan agar pinggulku tidak dapat bergerak dan kontolku tetap membenam di lubang memeknya. Saat itulah, otot-otot bagian dalam vaginanya terasa mencengkeram bagitu hebat dan bergelombang. Serasa memerah dengan kuatnya. Aku merintih dan melolong panjang. Pertahanku menjadi jebol dan maniku menyemprot sangat banyak gua kenikmatan istri atasanku. Bersama peluh membanjir, tubuhku ambruk di atas tubuh montok Bu Marmo dengan nafas memburu.

“Nanti ikan bakar dan kepiting saos tomatnya minta dibungkus saja Nak Anto. Sayang kalau tidak dimakan. Tapi jangan lupa piring-piringnya dibuat kotor dengan masi dan lauk yang lain, hingga sepertinya kita sudah benar-benar makan,” kata Bu Marmo setelah merapikan kembali baju yang dipakainya.

Kami meninggalkan rumah makan saung di pinggir pantai setelah membayar di kasir dan meninggalkan lembaran dua puluh ribu rupiah sebagai tip kepada petugas yang membereskan serta membungkuskan makanan yang memang tidak kami makan. Dari spion, wajah Bu Marmo kulihat sangat cerah. Pasti karena kenikmatan yang baru direguknya serta nafsunya yang lama tertahan telah tersalurkan.

“Apa lihat-lihat. Wanita sudah tua kok masih diajak ngentot,” kata Bu Marmo yang memergoki ulah mencuri-curi pandang ke arahnya lewat spion. Tetapi perkataannya itu bukan karena marah.

“Usia boleh saja sudah kepala lima. Tetapi wajah ibu masih cantik dan tubuh ibu masih sangat merangsang. Mau deh tiap malam dikelonin ibu,” ujarku menggoda.

“Bener tuh,”

“Sungguh Bu. Saya bisa ketagihan deh oleh empotan memek ibu yang dahsyat tadi,’

“Ibu juga suka sama batang Nak Anto. Besar dan panjang. Kalau mau kapan-kapan kita bisa mengulang. Kalau ada kesempatan nanti saya SMS,” ujar Bu Marmo.

Aku sangat senang karena sudah mendapat peluang untuk terus bisa menyetubuhinya. Tangan Bu Marmo kuraih dan kugenggam. Bahkan sempat meremas susunya sambil mengendalikan kemudi. Hanya Bu Marmo mengingatkan bahwa ulahku bisa menyebabkan kecelakaan hingga aku kembali berkosentrasi pada setir mobil yang kukendarai. Ah, memek wanita tua ternyata masih sangat nikmat.

Sampai di rumah Pak Marmo sudah tidur di kamarnya. Sedang Bu Mumun, terlihat berbincang dengan Yu Sarti, pembantu di rumah itu. Setelah berbincang sebentar, aku dan Bu Mumun pamit pulang. Hanya sebelumnya Bu Marmo memberikan bungkusan lauk yang belum sempat kami makan sewaktu di rumah makan. “Buat oleh-olah anak di rumah Bu,” kata Bu Marmo.

Di jalan, saat membonceng sepeda motor dan kutanya tentang ulah Pak Marmo, Bu Mumun cerita bahwa atasanku itu benar-benar genit. Selama dipijat, kata Bu Mumun, ia terus merayu dan berusaha menggerayangi. “Tapi tidak saya ladeni lho Pak Anto,” ujar Bu Mumun meyakinkanku.

“Pasti Pak Marmo maksa untuk bisa megang memek ibu kan? Soalnya dia kemarin bilang pengin banget lihat punya ibu,”

“Iya sih tapi hanya pegang. Dan karena terus maksa akhirnya ibu kocok,” ungkap Bu Mumun jujur.

Aku tertawa dalam hati. Sementara suaminya hanya bisa meraba memek wanita lain dan dipuaskan dengan dikocok, istrinya malah sampai orgasme dua kali disogok penis laki-laki lain. Bahkan istrinya berjanji untuk mengontak agar bisa mengulang kenikmatan yang telah kami lakukan.

Sampai di rumah anak-anak Bu Mumun sudah tidur. Dan mungkin karena terangsang gara-gara memeknya digerayangi Pak Marmo, Bu Mumun memaksaku untuk singgah di rumahnya. Untuk menolak rasanya kurang enak. Karena biasanya aku yang sering memintanya untuk melayaniku.

Rupanya nafsu Bu Mumun sudah benar-benar tinggi. Di kamarnya, saat ia mulai mengulum batang kontolku dan tanganku menggerayang ke selangkangannya, memeknya sudah basah. Bahkan saat tangaku mulai mencolok-colok lubang nikmatnya, Bu Mumun kelabakan. Memintaku untuk segera menuntaskan hasratnya.

Tetapi aku berusaha bertahan. “Punya saya belum terlalu keras Bu. Nanti kurang enak. Kalau ibu menjilatnya di sini, pesti cepat kerasnya,” kataku sambil mengangkat dan memperlihatkan lubang anusku,” kataku.

Sebenarnya, kontolku kurang keras karena sebelumnya telah dipakai melayani Bu Marmo di rumah makan. Namun keinginan untuk dijilati di bagian anus, mendapat tanggapan serius Bu Mumun. Ia langsung berjongkok di tepi ranjang dan berada selangkanganku. Dan tanpa ragu atau merasa jijik, langsung menjulurkan lidahnya untuk menyapu biji pelirku dan diteruskan dengan menjilat-jilat lubang duburku. Rasanya geli-geli nikmat dan membuat tubuhku merinding.

Akibatnya aku dibuat kelojotan. Dibuai kenikmatan yang diberikan Bu Mumun. Terlebih ketika ia mulai mencucuk-cucukkan lidahnya ke lubang duburku. “Aaakkhhhhh… aakkhh.. enak banget …. oookkh enak banget. Saya suka suka banget ngewe sama ibu. Oookkkh … nikmat,”

Dirangsang sebegitu rupa kontolku makin mengeras. Tetapi Bu Mumun terus saja menjilati dan mencerucupi anusku. Ia melakukannya sambil meremasi dan mengocok-ngocok kontolku yang makin terpacak. Takut keburu muncar sebelum dipakai menyogok lubang memeknya, aku meminta Bu Mumun menghentikan aksinya.

Tubuh montoknya langsung kutarik dan kutelentangkan di ranjang. Dalam posisi mengangkang, aku langsung menungganginya. Bleesss… kontolku langsung membelesak di lubang nikmatnya yang basah. Ia agak tersentak. Mungkin karena aku menggenjotnya secara tiba-tiba. Namun ia tidak mengeluh dan malah mendesah nikmat.

“Ah… sshh… aahh.. enak banget. Marem banget kontolnya Pak Anto,”

Dan lenguhannya makin menjadi ketika aku mulai memompanya. Aku mencolok-colok dan memaju-mundurkan pinggangku dengan tempo cepat. Tubuh Bu Mumun terguncang-guncang dan susunya yang besar bergoyang-goyang. Gemes dan merangsang banget melihatnya. Aku jadi tergerak untuk meraba dan meremas-remasnya sambil menikmati kehangatan lubang nikmatnya.

Aku sudah beberapa kali menyetubuhi Bu Mumun. Tetapi sepertinya tidak pernah bosan. Memek Bu Mumun meskipun sudah lumayan longgar tapi tetapi terasa kesat dan liat. Terlebih bila ia sudah memain-mainkan otot-otot bagian dalam lubang vaginanya. Erangan dan desahannya juga selalu mengipasi nafsuku.

Cukup lama kami saling memacu. Sampai akhirnya Bu Mumun mengisyaratkan bahwa ia hampir memperoleh orgasmenya. Maka kocokan dan sogokan kontolku di lubang kemaluannya kian kutingkatkan. Berdenyut-denyut batang kontolku dibuatnya saat Bu Mumun mulai mengimbangi dengan empotannya. Akhirnya Bu Mumun memperoleh apa yang didambanya dan aku pun sama. Spermaku menyemprot dan membasahi liang vaginanya. Tubuhku ambruk di kemontokan tubuh wanita yang basah oleh keringat.

TAMAT


Sebut saja namaku Setio, usiaku 32 tahun, sudah empat tahun perkawinanku tapi seorang anak belum kami dapatkan. Karena cintaku pada istriku, tidak ada niat untukku berselingkuh, tapi sejak perkenalanku dengan wanita itu, aku tergoda untuk selingkuh. Perkenalanku dengan wanita itu berawal 2 tahun yang lalu, saat kakak istriku mau menikah, kami mengunjungi rumah calon mempelai wanita untuk melamar, aku melihat seorang wanita berumur kira-kira 40 tahunan yang kutahu dia adalah istri dari pamannya calon pengantin wanita, dan kutahu kemudian namanya Bi Sumi, karena kami sama-sama panitia perkawinan iparku.

Awalnya kuanggap biasa perkenalan ini, tetapi pada waktu hari perkawinan iparku, aku terpana melihat kecantikan Bi Sumi yang memakai baju kebaya bordiran, sehingga lekuk tubuh dan bentuk payudaranya terbayang ditutupi kemben (pakaian kain Jawa) hitam yang membuatku ingin sekali melirik kemana perginya Bi Sumi dan membayangkannya di saat Bi Sumi telanjang.
Setelah acara pernikahan itu selesai, otomatis kami jarang sekali bertemu, karena Bi Sumi harus menemani suaminya yang tugas di Surabaya. Hampir satu tahun lamanya aku ingin melupakan dirinya, tetapi ketika iparku memiliki anak, aku bertemu lagi dengan Bi Sumi pada waktu menengok bayi. Saat itu Bi Sumi mengenakan baju dan jeans ketat, sehingga lekuk tubuhnya membayangi lagi pikiranku yang terbawa hingga kutidur.
Sebulan kemudian, ketika acara syukuran bayi iparku, Bi Sumi datang dengan suaminya dan ibunya Bi Sumi yang duduk di kursi roda akibat sakit stroke yang katanya sudah 4 tahun diderita. Dan dari iparku, kuketahui Bi Sumi sekarang satu bulan di Jakarta untuk menjaga ibunya dan satu minggu menemani suaminya di Surabaya.
Seminggu setelah itu, temanku datang ke rumah untuk menawarkan bisnis “MLM” berbasis food suplement yang dapat membuat beberapa penyakit sembuh. Langsung pikiranku tertuju kepada ibunya Bi Sumi. Setelah dapat nomor telpon Bi Sumi dari iparku, aku langsung menghubunginya. Setelah obrolan kami, Bi Sumi setuju untuk mencobanya terlebih dahulu. Keesokan harinya, ketika aku mengantar obat itu, aku berharap bisa ketemu Bi Sumi, tapi karena ibunya sedang anval, otomatis aku hanya bertemu pembantunya.
Satu minggu kemudian, tiba-tiba HP-ku berdering, sebenarnya aku malas menerimanya karena nomor yang tertera tidak kukenal, tapi dengan agak malas kuterima juga telpon itu yang rupanya dari Bi Sumi.
“Dik.. Setio, ya..? Disini Bi Sumi.”
“Eh.. iya Bi Sumi.. apa khabar..?”
“Wah.., Dik.. Bi Sumi senang loh kayaknya obat yang adik kirim buat ibu bagus sekali, ibu sekarang sudah nggak pakai kursi roda lagi.. kalau begitu Bi Sumi pesan lagi yach..? Kapan bisa kirim..?”
“Selamet deh Bi Sumi.. eng.. kalau begitu besok siang deh.. Bi Sumi.. saya kirim ke rumah..!”
“Ya.. sudah.. sampai besok yach..!”

Keesokannya, pukul 11:00 aku ke rumah Bi Sumi. Ketika sampai, aku disuruh menunggu oleh pembantunya di ruangan yang sepertinya ruang perpustakaan. Tidak lama kemudian Bi Sumi muncul dari pintu yang lain dari tempat kumasuk ruangan itu. Saat itu Bi Sumi mengenakan baju model jubah mandi yang panjang dengan tali di pinggangnya, dan mempersilakan aku duduk di sofa yang dia pun ikut duduk, sehingga kami berhadapan. Ketika dia duduk, satu kakinya disilangkan ke kaki yang lain, sehingga betisnya yang bunting padi dan putih bersih terlihat olehku, membuat pikiran kotorku kepada Bi Sumi muncul lagi.
Kami mengobrol panjang lebar, Bi Sumi menanyakan hal tentang perkawinanku yang sudah 4 tahun tetapi belum dikaruniai keturunan, sedangkan dia menceritakan bahwa sebenarnya Bi Sumi menikah disaat suaminya telah mempunyai anak yang sekarang sudah kuliah. Setelah hampir satu jam kami mengobrol, Bi Sumi mengatakan padaku bahwa ia senang kalau ibunya sudah agak membaik.
“Oh.. ya berapa nih harga obatnya..?”
“Ah.. sudah Bi Sumi, nggak usah, gratis kok, tujuan saya khan yang penting Ibu bisa baik.”
“Ah.. nggak lah Dik, Bi Sumi ambil dulu yach uangnya di kamar.”
Bi Sumi berdiri dan masuk ke pintu tempat tadi dia datang, tapi pintu itu dibiarkannya terbuka, sehingga kulihat kalau kamar di sebelah ruang kududuk adalah kamar tidur Bi Sumi. Dari dalam dia teriak ke arahku menanyakan harganya sambil memanggilku.
“Dik.. Setio, berapa sih harganya..? Kamu sini deh..!”
Dengan agak ragu karena perasaanku tidak enak masuk kamar orang lain, kuhampiri juga Bi Sumi.
Begitu sampai di pintu, aku seperti melihat suatu mukjizat, dan tiba-tiba perasaanku terhadap Bi Sumi yang pernah ada dalam pikiranku muncul. Bi Sumi berdiri di samping tempat tidurnya dengan jubah yang dipakainya telah tergeletak di bawah kakinya. Aku melihat tanpa berkedip tubuh Bi Sumi yang sedang berdiri telanjang dada dan pangkal pahanya tertutup celana dalam berwarna pink memperlihatkan sekumpulan bulu hitam di tengah-tengahnya.
“Dik, kalau kamu nggak mau dibayar sama uang, sama nafsu Bi Sumi aja yach..? Kamu mau khan..?”
“E.. e.. eng.. bb.. boleh deh Bi..!”

Tiba-tiba kali ini aku bisa melihat Bi Sumi yang setengah bugil dan memohon kepadaku untuk melayani nafsunya, kuhampiri dia sambil menutup pintu. Bentuk tubuh Bi Sumi sungguh indah di mataku, kulitnya putih bersih, payudara yang berukuran 36B berdiri dengan tegaknya seakan menantangku, lekukan paha dan kaki jenjangnya yang indah dan betisnya yang bunting padi, persis bentuk tubuhnya penyanyi Jennifer Lopez. Aku seakan tidak bisa menelan ludahku karena Bi Sumi sekarang tepat berdiri di depanku.
“Dik.. Setio, layani Bi Sumi yach..! Soalnya sudah dua bulan Bibi tidak dijamah Om..”
“Iya.. Bi, ta.. tapi.. kalau anak-anak Bibi datang gimana..?”
“Anak-anak kalau pulang jam 5:00 sore, lagi itu kan anak-anaknya Om.”
“Ok.. deh Bi, Bibi tau nggak, kalau hal ini sudah saya impikan sejak pernikahan Desi, soalnya Bibi seksi banget sih waktu itu.”
“Sekarang.. sudah nggak seksi dong..?”
“Oh.. masih.. apa lagi sekarang, Bibi kelihatan lebih seksi.”

Bibir tipisnya mencium bibirku dengan hangat, sesekali lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun membalasnya dengan lidahku. Tangan lembutnya mulai melepaskan dasi dan bajuku hingga kami sudah telanjang bagian atasnya. Dada bidangku mulai diciumi dengan nafsunya, sementara lehernya dan pundaknya kuciumi. Wangi tubuhnya membuat nafsuku juga meningkat, sehingga batangku mulai mengeras mendesak celana dalamku. Tangannya mengelus celanaku di bagian batangku yang sudah mengeras, sedangkan aku mulai memainkan mulutku di payudaranya yang terbungkus kulit putih bersih, putingnya yang putih kemerahan sudah jadi bulan-bulanan lidah dan gigiku, kugigit dan kusedot, sehingga Bi Sumi mengelinjang dan makin keras tangannya mencengkram batangku.
Celana panjangku mulai dibuka dengan tangan kirinya, lalu celana dalamku ditarik turun sehingga batangku sudah dipegang tangan halusnya dan mulai mengocok batangku.
“Dik.. batangmu besar sekali yach..? Kalau punya Om paling setengahnya aja, berapa sih besarnya..?”
“Kalau panjangnya 20 cm, kalau diameternya 4 cm.”
“Wah.. gede banget yach.. pasti Bibi puas deh.., boleh Bibi isap nggak..”
Aku hanya mengangguk, Bi Sumi langsung jongkok di hadapanku, batangku dipegangnya lalu dimainkan lidahnya pada kepala batangku, membuatku agak gelisah keenakan. Batangku yang besar berusaha dimasukkan ke dalam mulut mungilnya, tetapi tidak bisa, akhirnya kepala batangku digigit mulut mungilnya.
Kira-kira 15 menit, dia berdiri setelah kelelahan mengulum batangku, lalu dia merebahkan dirinya di sisi tempat tidur. Kali ini aku yang jongkok tepat di sisi kedua kakinya, tangan kananku melepaskan celana dalam pinknya, saat itu juga aroma wangi langsung bertebaran di ruangan yang rupanya aroma itu adalah aroma dari vagina Bi Sumi yang bentuknya sangat indah ditutupi bulu-bulu halus di sekitar liang vaginanya.
“Ah.. Bi Sumi Mon.. vagina Bibi harum sekali, boleh saya jilatin..?”
“Ah.. jangan Dik.. kamu nggak jijik, soalnya si Om nggak pernah menjilatinya.”
“Wah.. payah si Om.. vagina itu paling enak kalau dijilatin, mau yach.. Bibi.. enak.. kok..!”
“Iya deh.. kalau kamu nggak jijik.”

Paha putihnya sudah kuusap lembut dengan tangan kiriku, sementara jari tengah tangan kananku mulai menjamah liang vaginanya.
Kulihat Bi Sumi melirik ke arahku sambil berkata, “Dik.. jilatnya yang enak yah..!”
Aku hanya mengangguk sambil mulai kutempelkan lidahku pada liang vaginanya yang rupanya selain wangi rasanya pun agak manis, membuatku semakin bernafsu untuk menjilatinya, sementara kulirik Bi Sumi sedang merasakan geli-geli keenakan.
“Ah.. ah.. ssh.. argh.. iya.. yach.. Dik.. enak deh rasanya.. wah kalau gini.. besok-besok mainnya sama Dik Setio aja deh.. sama Om.. ntar-ntar deh.. abis.. enak.. banget.. sih.. Dik Setio mau khan..? Ah.. argh..!”
Aku tidak menjawab karena lidahku sudah menemukan biji klitoris yang rasanya lebih manis lagi dari liangnya, sehingga makin cepat kujilati. Rasa manisnya seakan-akan tidak pernah hilang. Bi Sumi semakin menggelinjang tidak karuan, sementara tangannya menekan kepalaku yang seakan dia tidak mau kalau kulepaskan lidahku dari biji klitorisnya. Hampir 30 menit klitoris manis itu kujilati ketika tiba-tiba tubuh Bi Sumi mengejang-ngejang, dan dari klitoris itu mengalir deras cairan putih bersih, kental dan rasanya lebih manis dari biji klitoris, sehingga dengan cepat kutangkap dengan lidahku, lalu kutelan cairan itu sampai habis. Bi Sumi pun mendesah dan langsung tubuhnya lemas.
“Argh.. argh.. agh.. ssh.. sshh.. eegh.. eegh.. Dik.. Setio.. enak.. buangget.. deh.. kamu.. pintar.. membuat.. Bibi.. keluar.. yang belum pernah Bibi.. keluarin dengan cara begini.. kamu.. hebat deh, agh.. agh..!”
Kuubah posisi Bi Sumi, kali ini kakinya terjuntai ke bawah, lalu kuposisikan batangku tepat di liang kemaluannya yang masih agak basah. Dengan jariku, kurenggangkan liang vaginanya, lalu dengan sedikit hentakan, batang kejantananku kudorong masuk, tapi agaknya vagina itu masih agak sempit, mungkin karena batangku yang besar. Kucoba lagi hingga 5 kali tapi belum bisa masuk.
“Bi.. Vagina Bibi.. sempit.. yach.. padahal saya sudah tekan berkali-kali..”
“Iya.. dik.. mungkin karena belum pernah melahirkan.. yach.. tapi tekan.. aja terus.. biar batang adik.. masuk.. nggak apa-apa kok.. kalau sampai vagina saya robek..”

Kucoba lagi batangku kutekan ke dalam vagina Bi Sumi. Akhirnya setelah 15 kali, Bi Sumi menjerit keenakan, masuklah batang kejantananku yang super besar itu merobek liang kewanitaannya.
“Ooowww.. argh.. argh.. gila.. hegk.. hegk.. gede.. banget.. sich.. Dik batangmu rasanya nembus ke perut Bibi nich.. tapi.. enak.. banget dech.. trus.. Dik.. trus.. tekannya.. argh.. argh..!” desahnya tidak menentu.
Kulihat Bi Sumi berceracau sambil dengan perutnya berusaha menahan batangku yang masuk lubang kenikmatannya. Kutekan keluar masuk batangku pada vaginanya berkali-kali, tangannya memegang perutku berusaha menahan tekanan batangku pada vaginanya. Tanganku mulai meremas-remas payudaranya, kupelintir putingnya dengan jariku.
Hampir satu jam Bi Sumi melawan permainanku. Tiba-tiba tubuh Bi Sumi menggelinjang dengan hebatnya, kakinya disepak-sepak seperti pemain bola dan keluarlah cairan dari vaginanya yang membasahi batangku yang masih terjepit di liang senggamanya. Cairan itu terus mengalir, sehingga meluber keluar membuat pahaku dan pahanya basah, tetapi aku belum merasakan apa-apa. Yang kukagetkan adalah ketika kulirik cairan yang mambasahi paha kami ada tetesan darahnya, aku berpikir bahwa selama ini Bi Sumi pasti masih perawan walau sudah berkali-kali main dengan suaminya.

Kulihat tubuh Bi Sumi langsung tergolek loyo, “Argh.. arghh.. ssh.. aawww.. oohh.. Dik Setio.. kamu.. e.. emang.. hebat..! Batangmu.. yahud. Aku benar-benar puas.. aku.. sudah.. keluar. Besok.. besok.. aku hanya.. mau.. memekku.. dihujam.. punyamu.. saja. Ah.. arghh.. ah.. ah.. ah.. ah..!”
Badan Bi Sumi langsung kuputar hingga kali ini dia tengkurap, pantatnya yang dibungkus kulitnya yang putih bersih dengan bentuk yang padat dan sexy, membuat nafsuku bertambah besar. Kuangkat sedikit pantatnya supaya agak menungging dan terlihatlah vagina yang tersembunyi di balik badannya. Aku agak menunduk sedikit, sehingga memudahkan lidahku memainkan liang kemaluannya untuk menjilati sisa-sisa cairan yang baru saja dikeluarkan oleh Bi Sumi. Cairan itu sangat manis rasanya sehingga langsung kuhisap habis.

Setelah cairan itu habis, kutempelkan lagi batang keperkasaanku pada liang senggamanya. Karena tadi Bi Sumi sudah orgasme, jadi liang kemaluannya sedikit lebih lebar dan memudahkanku dalam menekan batang kejantananku untuk masuk ke lubangnya Bi Sumi.
“Jleb.. bless.. jleb.. bless.. ah.. ah.. sedapnya.. memek.. Bi Sumi.. deh.. ah..!”
Aku memasukkan batang kejantananku ke liang Bi Sumi dengan berceracau, karena liang senggama Bi Sumi sangat sedap sekali rasanya. Sementara kulihat Bi Sumi tidak bersuara apa-apa, karena dia sudah tertidur lemas. Batang kejantananku keluar masuk liangnya dengan lembut, sehingga aku pun menikmatinya. Hal itu berlangsung satu jam lamanya. Tiba-tiba Bi Sumi terbangun dan dia mengatakan bahwa dia mau mencapai orgasme yang kedua kalinya, dan meneteslah cairan kental lagi dari liang kewanitaan Bi Sumi yang membasahi batang kemaluanku.
“Agh.. agh.. aawww.. arghh.. sshh.. Dik.. Se.. Setio ka.. kamu memang.. he.. hebat..! Bibi sampai dua.. kali.. keluar.., tapi.. kamu.. masih tegar.. argh.. sshh..!”
“Ah.. Bi.. saya juga sudah.. mau keluar.. saya.. mau.. keluarin.. di luar.. Bi Sumi.. agh..!”
“Jangan.. Dik Setio.. keluarin.. aja.. di dalam.. memek.. Bibi.. Bibi.. mau.. coba.. air.. mani.. Dik.. Setio. Siapa tahu nanti.. Bibi bisa.. hamil.. Keluar di dalam.. yach.. Dik..!”
Bi Sumi merengek meminta untuk air maniku harus dikeluarkan di dalam vaginanya, sebenarnya aku agak bingung atas permintaannya, tetapi setelah kupikir, aku dan Bi Sumi menginginkan seorang keturunan. Akhirnya kulepas cairan maniku ke liang senggamanya dengan sedikit pengharapan.
“Crot.. crot.. serr.. serr.. agh.. aghr.. agh.. Bi.. Bi Sumi.. memek Bibi memang.. luar biasa.. argh.. argh..!”
“Ahh.. ahh.. Dik.. air mani.. kamu.. hangat.. sekali.. ahh.. Bibi.. jadi segar.. rasanya..!”
Cairanku dengan derasnya membasahi lubang kemaluan Bi Sumi, sehingga agak meluber dan rupanya Bi Sumi menyukai air maniku yang hangat. Akhirnya kami pun ambruk dan langsung tertidur berpelukan.

Aku terbangun dari tidurku ketika batangku sedang dihisap dan dijilat Bi Sumi untuk mengeringkan sisa air maniku, jam pun sudah menunjukkan waktu 4:30. Aku berpikir bahwa hampir 3 jam aku dan Bi Sumi berburu nafsu birahi.
“Dik Setio, terima kasih yach..! Bi Sumi puass deh sama permainan seks kamu.. Kamu lebih hebat dari suami saya. Kapan kita bisa main lagi..? Bibi udah pingin main lagi deh..”
“Iya Bi, besok pun juga boleh. Habis saya juga puas. Bibi bisa mewujudkan mimpi saya selama ini, yaitu menikmati tubuh Bi Sumi dan Bibi luar biasa melayani saya hampir tiga jam. Wahh, Bi Sumi memang luar biasaa..”
“Iya.., kamu pun hebat, Dik Setio. Saya suka sekali ketika batangmu menghujam memek saya. Terlebih air mani kamu, hanggatt.. sekali. Besok kita bisa main lagi khan..?”
“Iya.. sayangku. Sekarang kita bersih-bersih, nanti anak dan suamimu datang..!”
Kukecup bibir Bi Sumi yang setelah itu kami membersihkan badan kami bersamaan. Di kamar mandi, Bi Sumi sekali lagi kusodok liang senggamanya sewaktu bershower ria.
Setelah itu, hampir setiap hari aku bertemu Bi Sumi untuk memburu nafsu birahi lagi. Hingga sekarang sudah berlangsung 3 bulan lebih lamanya, dan yang agak menyejukkan hati kami berdua bahwa sejak sebulan lalu, Bi Sumi dinyatakan hamil.

TAMAT


Kejadian ini berlangsung beberapa bulan yang lalu ketika anakku melangsungkan pesta pernikahannya di kota kecil Pr di Jawa Timur yaitu di tempat calon mertuanya bernama Pak Har (60 Thn) dan Bu Har (46 thn) yang masih menjadi kepala Desa. Aku dan istriku sebetulnya tidak setuju kalau anakku yang baru saja lulus dari salah satu universitas di Jawa Tengah harus segera kawin dengan pacarnya yang sama2 baru lulus.

Rencanaku biar anakku dapat kerja yang mapan dahulu sebelum kawin, tetapi Pak Har dan Istrinya terus mendesak agar mereka berdua cepat cepat di kawinkan agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan dan Bu Har sudah ingin menimang cucu, katanya. Tetapi karena anakku setuju dengan permintaan keluarga yang perempuan, ya sebagai orang tua tidak bisa berbuat lain selain merestuinya.

Tiga hari sebelum hari pernikahannya, aku dan istriku sudah berada di kota Pr. dan disambut dirumahnya dengan hangat oleh calon besanku Pak Har dan bu Har serta keluarganya. Aku dan istriku benar2 dibuat surprise dan tidak terbayangkan sebelumnya, orang2 yang ada di rumah itu begitu hormat kepada keluarga Pak Har dan yang lebih mengherankan lagi, rumahnya begitu besar dikelilingi tanaman buah2an dan ada pendoponya yang luas serta di salah satu sisinya ada seperangkat gamelan jawa. Bagaimana tidak heran, jabatan Pak Har hanyalah kepala desa yang tidak menerima gaji, tetapi hanya menerima tanah bengkok selama dia menjabat.

Yang membuatku lebih terpesona adalah Bu Har calon besanku perempuan, walaupun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi dengan tubuh yang semampai tidak terlalu tinggi serta kain kebaya yang dipakainya serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih dan kuperhatikan Bu Har terlihat sangat anggun, apalagi sisa2 kecantikan diwaktu mudanya masih terlihat, sehingga membuatku terpesona dan tidak ingin melepas memandangnya dan kadang2 aku harus mencuri curi pandang, agar istriku tidak mengetahuinya apabila aku memandangnya soalnya kalau sampai ketahuan, bisa2 terjadi perang besar.

Bu Har bukannya tidak tahu kalau sering kupandangi dengan penuh kekaguman dan ketika beberapa kali bertemu pandang, kuperhatikan dia selalu tersenyum sehingga terlihat giginya yang putih dan rata.

Hari pertama kedatanganku di kota ini, setelah makan siang bersama calon besanku, Bu Har lalu disuruh suaminya menghantarkan aku dan istriku untuk beristirahat di rumah sebelah… “Buuuu….. sana antar calon besan kita untuk istirahat di tempat yang sudah kita siapkan”, kata Pak Har dan sesampainya di rumah sebelah yang masih satu halaman dengan rumah induk, tenyata rumahnya pun cukup besar dan kamar yang disediakan untukku dan istriku pun sangat besar walaupun tidak ada kamar mandi didalamnya.

Setelah menunjukkan tempat2 yang dianggap perlu termasuk kamar mandi yang agak jauh dibelakang, lalu bu Har pamit untuk kerumah sebelah. “Terima kasih… mbaaak… atas semuanya, kataku sambil menjabat tangannya dan jabatan itu tidak kulepas dengan segera dan Bu Har pun tetap tidak menarik tangannya dan kembali kulihat senyumannya yang manis, sambil tiba2 menarik tangannya setelah mungkin merasa tangannya kujabat terlalu lama dan terus meninggalkanku kembali ke rumah sebelah.

Sore harinya ketika aku dan istriku sedang duduk di teras, kulihat Pak Har dan istrinya muncul dari belakang lalu duduk ngobrol menemani kami berdua dan tidak lama kemudian datang dua wanita dengan membawa pisang goreng serta teh panas. Setelah ngobrol kesana kemari membicarakan acara untuk pernikahan, Bu Har segera pamit kebelakang entah untuk apa, sehingga obrolan dilanjutkan oleh kami bertiga saja.

Karena tadi aku terlalu banyak minum air, terasa aku ingin buang air kecil dan setelah permisi kepada pak Har untuk kebelakang sebentar lalu aku beranjak kebelakang menuju kamar mandi yang tadi ditunjukkan oleh bu Har, karena sudah begitu kebelet untuk kencing lalu sambil menurunkan resleting celanaku serta mengeluarkan meriamku, kudorong pintu kamar mandi dengan bahuku dan terus masuk kamar mandi, tetapi alangkah kagetnya ketika didalam kamar mandi itu kulihat bu Har sedang berada di kamar mandi serta telanjang bulat seraya menggosok gosok badan dengan tangannya.

Kulihat bu Har pun begitu terkejut ketika mengetahui ada orang masuk kekamar mandi dan secara reflek bu Har berteriak kecil….. “maaaaaaas,” sambil berusaha menutupi badannya dengan kedua tangannya.

Setelah pintu kamar mandi kudorong tertutup, kudekati dia sambil kupegang kedua bahunya serta kukatakan dengan suara sedikit berbisik karena takut ada yang mendengar…. “mbaaaak…… maaa’aaaaaf….. saya tidak tahu kalau… embak lagi mandi……” “Sudah… laaaah,” sahut bu Har juga sedikit berbisik…. sana… keluar…… nanti ada yang lihat….. lagian mau apa siiiih… maaaas…?” “Saya… kebelet kencing… mbaaaak…,” sahutku dan disambutnya dengan kata2….. “cepaaat….. kencingnya….. dan cepat keluar…..”

Tanpa komentar lagi aku keluarkan meriamku yang setengah berdiri karena melihat tetek dan vagina bu Har yang ditumbuhi bulu jembut yang hitam lebat dan aku terus kencing dengan posisi menyamping dan sambil kulirik, kulihat mata mbak Har sepertinya sedang tertuju kearah meriamku.

Setelah selesai menyelesaikan kencingku dan kumasukkan meriamku kembali kedalam celana, sambil beranjak keluar pintu kamar mandi kusempatkan tangan kananku mencolek teteknya yang tertutup setengah oleh tangannya sambil kuucapkan….. “mbaaaak….. maaaa’aaaaf….. yaaaaa…” dan bu Har secara reflek menampar tanganku seraya berkata setengah berbisik …… “kurang…. ajaaaar….. awas…. nanti.”

Aku segera kembali ke depan dan kulihat istriku dan Pak Har masih ada sambil ngobrol dan aku kembali duduk seolah olah tidak terjadi apa apa, tetapi istriku tiba2 nyeletuk… “Paaak….. buang air kecil saja…. bajunya sampai basah semua……,” aku tidak menanggapi kata2 istriku itu dan kucoba menenangkan diri sambil kuambil minumanku di gelas.

Setelah beberapa saat kami meneruskan obrolan, Bu Har datang dari arah belakang dan sekarang sudah tidak memakai setelan kebaya lagi tetapi memakai rok terusan, walaupun begitu tetap saja membuatku terpesona apalagi bentuk kakinya yang kecil dam putih mulus, setelah dekat dengan kami bertiga serta duduk disalah satu kursi yang kosong, lalu berkata …. “buuu… paaaaaak…..,” seraya menengokku dan Istriku bergantian…. “silahkan mandi dulu biar terasa segar sebelum kita makan…..” dan setelah itu bu Har menggeser kursi nya sedikit membelakangiku. Tidak berlama lama, aku langsung ke kamar mengambil pakaian ganti dan langsung pergi ke kamar mandi.

Sengaja kamar mandinya tidak kukunci dengan harapan siapa tahu bu Har pun berbuat yang sama seperti tadi, tapi… kupikir mana mungkin… jadi segera saja kubuang jauh jauh pikiran itu dan sambil mandi kubayangkan tubuhnya bu Har yang walau sudah berumur dan teteknya yang terlihat sedikit karena tertutup tangannya tidak begitu besar kira2 36D serta sudah agak turun dan vaginanya yang tertutup tangan satunya juga mempunyai bulu jembutnya yang lebat tetapi menurutku masih cukup mempersonaku, sehingga meriamku menjadi bangun dan menjadi lebih tegang ketika batangnya kugosok gosok dengan sabun.

Sampai mandiku selesai, ternyata harapanku tinggal harapan saja….. dasar pikiran bejat. Ketika kembali ke depan ternyata kedua calon besanku serta istriku masih asyik ngobrol dan sambil duduk kembali aku langsung nyuruh Istriku untuk gantian mandi.

Malam harinya sewaktu makan ber empat diruang makan, entah kebetulan atau karena Istriku dan Pak Har telah duduk berhadapan terlebih dahulu, sehingga mau tak mau aku dan bu Har jadi duduk berhadapan. Ketika sedang enak2nya makan, tiba2 kakiku tersentuh kakinya bu Har dan anggapanku mungkin tidak sengaja sewaktu menggeser kakinya, apalagi ketika kulihat wajahnya bu Har tetap biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu dan meneruskan makannya dengan agak menunduk.

Untuk membuktikannya, sambil melepas sendal yang kupakai dan kulirik dimana posisi kaki bu Har di kolong meja, lalu pelan pelan kuletakkan kakiku diatas kakinya yang memakai sendal jepit sambil kupandang wajahnya. Kulihat bu Har tidak bereaksi dan tetap saja meneruskan makannya serta kakinya yang kuinjak itu didiamkannya saja, dan pelan pelan injakanku itu kuberi tenaga sedikit dan terasa bu Har secara perlahan lahan menarik kakinya.

Aku diamkan saja kakiku ditempatnya seolah olah aku menginjaknya secara tidak sengaja, tetapi beberapa saat kemudian terasa kakiku di injak oleh kakinya yang sudah tidak memakai sendalnya lagi, jadi aku mengambil kesimpulan kalau tendangan kaki bu Har tadi itu pasti disengajanya.

Aku diamkan saja injakkan kakinya dan tidak lama kemudian telapak kakinya di geser2kan di atas kakiku dan tentu saja hal ini tidak kubiarkan, jadi sambil tetap meneruskan makan kaki kami terus bermain dikolong meja makan dan lama2 jadi bosan juga.

Lalu kutarik kaki kananku yang diijaknya menjauh dari kaki bu Har dan sambil mengambil gorengan tahu yang agak jauh dari jangkauanku, kugeser kursiku maju kedepan merapat di meja makan dan pelan pelan kuangkat kaki kananku agar tidak ada kecurigaan dari istriku dan Pak Har serta kuselonjorkan kedepan, maksudku untuk kuletakkan dikursi diantara kedua paha bu Har, eh…… tidak tahunya terantuk salah satu dengkul bu Har dan kulihat bu Har agak terkejut sehingga garpu yang dipegangnya terjatuh diatas piringnya dan semua mata tertuju kearah bu Har dan Pak Har berkomentar…. “buuuuu…. makannya jangan buru buru…. bikin malu calon besan sajaaaaa…..,” dan kesempatan ini kugunakan untuk menggeser kakiku dan kuletakkan di ujung kursinya sehingga telapak kakiku terasa hangat terjepit diantara kedua pahanya dan secara perlahan lahan kuelus elus salah satu pahanya dengan telapak kakiku dan bu Har kulihat memandangku sejenak dengan matanya sedikit melotot dan kembali meneruskan makannya.

Aku mencoba menjulurkan kakiku lebih dalam lagi agar dapat mencapai pangkal paha bu Har, tetapi tetap saja kakiku tidak dapat mencapainya, karena kursi yang diduduki bu Har agak renggang dari meja makan dan aku mencari akal bagaimana kakiku bisa menyentuh vagina bu Har.

Ketika aku sedang memutar otakku, eh tidak tahunya bu Har menggeser tempat duduknya maju kedepan mendekati meja makan ketika akan mengambil buah2an setelah makannya selesai dan kesempatan ini tidak kusia siakan, dengan hanya mengulurkan kakiku sedikit tersentuhlah pangkal pahanya yang terasa sangat halus dan membuat bu Har agak terkejut sedikit tetapi setelah itu diam saja.

Lalu kugesek gesekkan jari kakiku ke vaginanya yang terasa tertutup dengan celana dalamnya dan sesekali kuperhatikan mata bu Har tertutup agak lama yang mungkin sedang menikmati enaknya gesekan jari kakiku di vaginanya, tapi untung istriku dan Pak Har tidak memperhatikannya karena sedang sibuk dengan buah2an yang dimakannya. Gesekan kakiku terus kulanjutkan sambil ngobrol berempat setelah buah2an yang kami makan habis.

Ketika Pak Har sedang bertanya sesuatu kepadaku, tanpa sadar sebelum pertanyaannya kujawab, aku berseru…. “aduuuh…..,” sehingga istriku dan kedua calon besanku melihat kearahku dan istriku langsung bertanya… “kenapa….paaah…?” untuk tidak menimbulkan kecurigaan langsung saja kujawab….. “kekenyangan….. dan perutku agak sakit tergencet ikat pinggang…,” kataku sekenanya sambil kulonggarkan ikat pinggangku…. “habis… makanan calon besan kita terlalu enak sih…..” tambahku sedikit memuji, padahal aku berseru aduh tadi itu karena kaget ketika kakiku tiba2 dicubit oleh tangan bu Har yang tanpa setahuku di taruh nya kebawah meja.

Aku cepat2 menarik kakiku dan menurunkannya ketika Pak Har tiba2 bangkit dari duduknya dan mengajakku dan istriku kembali ke teras rumahnya.

Esok harinya, aku dan istriku merencanakan pergi kekota Mlg. yang jaraknya hanya kira2 2 jam perjalanan dengan mobil untuk menjemput anakku yang nomer 2 dan yang sedang kuliah disana agar bisa mengikuti acara pernikahan kakaknya, tetapi entah karena makanku terlalu banyak atau karena tadi malam ngobrolnya sampai larut malam dan hawa kota kecil Pr. yang agak dingin, perutku terasa sakit atau seperti masuk angin sehingga beberapa kali aku harus ke belakang. Sehingga pagi harinya aku minta istriku saja yang menjemput anakku dengan sopir.

Setelah istriku berangkat, tidak lama kemudian Pak Har dan istrinya muncul dikamarku serta menanyakan kondisiku. “Paaak…. kata ibu lagi sakit perut yaaaa… ma’af…. mungkin ada makanan yang tidak cocok dengan perut bapak….. yaaa,” kata Pak Har dengan penuh rasa khawatir sedang istrinya hanya diam saja disampingnya.

“Oooh…. bukan sakit peruuut… kok… paaak,” sahutku sambil kutinggikan bantalku sehingga posisi tidurku setengah duduk…. “cuma.. masuk angin sedikit…. kayaknya…. sebentar lagi juga sembuh,” sahutku seraya kupandangi keduanya bergantian. “Apa bapak biasa minum obat tolak angin…. biar saya ambilkan..yaaa…,” kata bu Har. “Aaahhh… nggak usah lah buu…., tadi sudah dipijitin sedikit oleh istri saya….. biasanya sih dikerokin…. tetapi karena takut ke Mlg nya kesiangan….. jadi kerokannya nggak jadi…,” sahutku. “Lho… paaaak… kalau biasa kerokan… biar istri saya saja yang ngerokin… dia itu ahlinya… saya kalau masuk angin… paling cepat dikerokin lalu dipijitnya… langsung sembuh,” sahut Pak Har… “iyaaa.. buuu… tolong dikerokin saja dan setelah itu baru minum obat tolak angin…. soalnya kalau dibiarkan bisa kasep nanti…. apalagi besok adalah acara resmi perkawinannya… ayooo.. sana buuuu… ambil alat kerokannya,” tambah Pak Har dan segera saja bu Har pergi meninggalkan kamarku.

Tidak lama kemudian bu Har mencul kembali dan dikedua tangannya telah membawa alat kerokan dan segelas air minum serta obat tolak angin dan sambil meletakkan barang bawaannya di meja, bu Har mengatakan.. “paaakk…. lebih baik kaosnya dibuka saja…,” katanya dan pak Har yang masih menemaniku di kamar terus menimpalinya…. “betuuul.. paaaak…., ooooh… iyaaa.. buuuu,” kata Pak Har pada istrinya….. “saya tinggal dulu ya sebentar ke kantor KUA untuk menyelesaikan administrasi nya buat besok dan mungkin ke beberapa teman yang undangannya belum kita berikan.

” “Jangan.. lama2 lho.. paaaak…. masih banyak yang belum beres.. lhoo..,” sahut bu Har sambil keluar pintu kamarku menghantar suaminya pergi. Tidak lama kemudian bu Har muncul kembali sambil menutup pintu kamar…. “lhoooo… maaas… kok kaosnya belum dibukaaaa…..?” katanya ketika melihatku masih tiduran dan belum membuka kaosku, “…… isiiiiiin ….. mbaaaak,” sahutku sambil duduk dipinggir tempat tidur.

“Wong wis podo tuwek e kok….. pake isin segala…. wis to… bukaen kaose….,” kata bu Har dengan logat jawa timurnya. Tanpa disuruh kedua kalinya, segera kubuka kaos yang kupakai dan terus duduk membelakanginya sambil menunggu kedatangannya dari menutup pintu kamar.

Sesampainya dia dibelakangku dan duduk menghadap punggungku tiba2 saja bu Har mencubit pinggangku kuat2 sambil berkata… “maaaas….. kowe wih tuo… kok kurang ajar… tenan… siiiih…..,” karena cubitannya yang agak kuat dan tanpa kuketahui menjadikanku kaget dan berteriak….. “aduuuuh……” sambil kuputar badanku sehingga kami sudah duduk berhadapan dan kuambil barang2 kecil ditangannya serta kutaruh diatas kasur serta kupegang kedua bahunya seraya kukatakan….. “mbaaaaaak…… kowe sing marai aku dadi kurang ajar…. lha.. wong kowe….. sing membuatku jadi kesengsem…..” dan kemudian kupeluk rapat rapat sehingga terasa tetek nya yang tidak besar itu mengganjal didadaku serta kucium bibirnya dan bu Har pun memelukku serta mengusap usapkan kedua tangannya di punggungku yang sudah telanjang.

Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan terasa di sedot sedotnya dengan keras dan nafas kami berduapun sudah semakin terdengar keras.

Sambil kuangkat badannya sedikit agar bagian roknya yang diduduki terbebas, lalu kuangkat rok terusannya keatas dan kususupkan tangan kananku kedalam serta kupegang teteknya dari luar Bhnya dan terasa sekali teteknya begitu empuk dan diantara ciuman kudengar bu Har berkata….

“ssssshhhh….. maaaaas…… ojo… nakaaaaal….. too…” sambil tangan kanannya menggerayangi penisku dari luar celana yang kupakai dan langsung saja kulepas ciumanku dan kuangkat roknya keatas dan kupelas melalui kepalanya dan yang kudengar dari mulutnya hanyalah suara sedikit manja…

“maaaaaas ….. ojo.. nakaaaaal… toooooo,” tetapi tanpa ada penolakan sama sekali, malahan membantuku melepas roknya dengan mengangkat kedua tangannya keatas dan setelah roknya terlepas, kulihat badan bu Mar yang begitu mulus mengenakan Bh hitam yang tipis tanpa ada busa yang mengganjalnya dan Cd.nya juga berwarna hitam. Tanpa basa basi, langsung saja bu Har kurangkul dan kurobah posisinya serta kuterlentangkan diatas tempat tidur dan bu Har hanya protes

“…maaaaas…… apa apaan…. siiiiih….. katanya mau di kerokin…. kok jadi beginiiiii……” dan sambil mencari kaitan Bh dibelakang tubuhnya, kujawab saja “sekenanya…. mbaaaak….. aku sudah sembuh…. masuh anginnya… sudah hilang sendiri…..”

Setelah kaitan Bhnya terlepas, langsung saja bh nya kubuka dan kujilat teteknya serta kusedot sedot puting susunya yang hitam dan besar dan kurasakan bu Har mencoba memasukkan tangan kanannya kedalam celanaku mencari cari penisku tetapi karena celanaku agak sempit sehingga bu Har kesulitan memasukkan tangannya dan langsung saja dia berkata..

“maaaaas…… buka en celanamu…… aku yoo.. kepingin.. nyekel duwek mu” dan tanpa melepas puting teteknya yang masih kusedot, kulepas celana dan celana dalamku sekaligus, sehingga ku sekarang sudah telanjang bulat dan penisku yang setengah berdiri itu langsung saja dipegangnya dan segera saja dia berkomentar… “maaaas….. kok masih…. lembek……?”

“Coba saja di isap…… pasti sebentar saja… sudah tegang….. mau…?” tanyaku sambil kupandangi wajahnya dan kulihat bu Har hanya mengangguk sedikit tanpa jawaban. Segera saja kulepas isapan mulutku di teteknya dan bangun serta duduk didekat kepalanya sambil sedikit kumiringkan badannya kearahku dan dengan tidak sabaran langsung saja batang penisku yang masih setengah berdiri dipegangnya dan kepalanya di jilat jilatnya sebentar dan langsung dimasukkan kedalam mulutnya.

Sambil memutar badannya setengah tengkurap, bu Har segera saja memaju mundurkan kepalanya sehingga penisku keluar masuk terasa enak sekali sehingga tanpa terasa aku jadi mendesah “..aaaaaah……. ooooh… mbaaaak…. teruuuus…. ooooh….. enaaaaknyaa… mbaaak.. oooohh” sambil kuusap usap rambut dikepalanya dan sesekali kujambak dan baru sebentar saja bu Har menghisap penisku, terasa penisku sudah tegang sekali.

Tiba2 saja penisku dikeluarkan dari mulutnya dan langsung saja kukatakan… “mbaaaak…. isap… lagiiiiii… dooong,” tetapi kudengar bu Har berkata….. “maaaas….. tolong… punyaaa… saya… jugaa.”

Aku langsung mengerti apa yang dimaui bu Har dan langsung saja aku merubah posisi dan kujatuhkan diriku tiduran kedekat kaki bu Har dan kutarik celana dalamnya turun serta kulepas dari badannya.

Tiba2 saja bu Har bergerak dan berganti posisi tidur diatas badanku sehingga vaginanya tepat berada di mulutku dan tercium bau vagina yang sangat khas, maka tanpa bersusah payah kusibak bulu jembutnya yang menutupi bibir vaginanya dan setelah itu kubuka bibir vaginanya dengan kedua jari tanganku dan kujulurkan lidahku menusuk kedalam vaginanya yang sudah basah oleh cairannya dan terasa asin.

Ketika ujung lidahku menyodok lubang vaginanya, langsung saja bu Har menekan pantatnya ke wajahku sehingga terasa sulit bernafas dan terasa penisku sedang di kocok2nya dengan jari tangannya.

Ketika lidahku menjelajahi seluruh bagian vaginanya dan bibir vaginanya tetap kupegangi, bu Har lalu menaik turunkan pantatnya dengan cepat dan mungkin karena merasa keenakan dijilatin vaginanya, terdengar desahannya yang agak keras….

“oooooh… maaaaas…. oooohh…. aaaaaahh….. teruuuus….. uuuuuhh…. maaaas… aduuuuh…. enaaaak…. maaaas… oooh…..” dan sesekali itilnya yang sedikit menonjol itu dan sudah mulai mengeras, kuhisap hisap dengan mulutku sehingga desahan demi desahan keluar dari mulutnya…. “ooooooh…. ituuuu.. maaaaas…. enaaaaaak….. uuuuuh…… ooooh … maaaaaas” dan tiba2 saja pegangan dipenisku dilepaskannya dan bu Har menjatuhkan dirinya dari atas tubuhku dan tidur terlentang sambil memanggilku…

“maaaas….. maaaaas… siniiiii…. saya sudah… nggak tahaaaaan…. ayooo….. sini… maaaas.” Aku segera saja bangun dan membalik badanku serta kunaiki tubuh bu Har dan dia ketika tubuhku sudah berada di atasnya, dia membuka kakinya lebar lebar dan kutempatkan kakiku diantara kedua kakinya. Dengan nafas terengah engah dan mencoba memegang penisku dia berkata….

“maaaaas….. cepat.. doooong….. masukin….. saya sudah.. nggaaak tahaaaaan….” “Tunggu…. sayaaaang……, biar aku saja yang masukin sendiri….,” kataku sambil kupindahkan keatas, tangannya yang tadi mencoba memegang penisku tetapi rupanya bu Har sudah tidak sabaran lalu kembali dia berkata….

“maaaaas….. ayooooo… doooong… cepetaaaan….. dimasukiiiiiin… punyamu ituuuuuu…..” dan dengan hati2 kupegang penisku dan kugesek gesekkan di belahan bibir vaginanya beberapa kali dan kemudian kutekan kedalam serta…… bleeeeeeeeees….. terasa dengan mudahnya penisku masuk kedalam lubang veginanya dan seperti terkaget kudengar bu Har berteriak kecil bersamaan dengan penisku masuk kelobangnya….. “aduuuuuuh…… maaaaaas,” sambil mendekapku erat2.

“Sakit……. sayaaaang…..,” tanyaku dan bu Har kulihat hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan ketika dia menciumi disekitar telingaku kudengar dia malah berbisik…… “enaaak…..maaaas….”

Kuciumi wajahnya dan sesekali ku hisak bibirnya sambil kumulai menggerakkan pantatku naik turun pelan2, tetapi tiba2 saja punggungku dicengkeramnya agak keras seraya berkata… “maaaaas…… coba diamkan dulu pantatmu ituuu…..” dan aku nggak mengerti apa maunya tetapi tanpa banyak pertanyaan kuturuti saja permintaannya.

Eeehhh….. nggak tahu nya, bu Har sedang mempermainkan otot otot vaginanya, sehingga pelan2 terasa penisku seperti di pijat pijat serta tersedot sedot dan jepitan serta sedotannya semakin lama semakin kencang sehingga penisku terasa begitu enak dan tanpa terasa aku menjadi terlena keenakan……

“oooooohh… sssssshh….. mbaaaaak……. enaknyaaaaaa….. oooooh…. aaaakkrrrrsssss…. oooooh….. teruuuuus… mbaaaaaak… aduuuuuh… enaaaaak” dan aku sudah tidak dapat tinggal diam saja, langsung pantatku naik turun sehingga penisku keluar masuk lobang veginanya serta terdengar bunyi…

crreeeettt…… crrreeeet….. creeeeett…. secara beraturan sesuai dengan gerakan penisku keluar masuh vaginanya yang sudah sangat basah dan becek. “Maaaas…… cabut dulu punyamu itu….. biar aku lap dulu…. punyaku sebentar….,” kata bu Har setelah mungkin mendengar bunyi itu,

“biar… aja…. mbaaaaak….. enak begini… kooook,” sahutku sambil meneruskan gerakan penisku naik turun semakin cepat dan bu Har kurasa tidak memperhatikan jawabanku karena sewaktu aku menjawab pertanyaannya, kudengar dia sudah mengeluarkan desahannya…..

“oooooooh…… ssssssshhh…… aaaaaaaakkkkkk….. aduuuuuh… maaaaas…. teruuuuuskaaaan….. teruuuus… maaaaas…. oooooh…..,”

sambil mempercepat goyangan pinggulnya serta kedua tangannya yang dipunggungku selalu menekan nekan disertai sesekali menyempitkan lobang vaginanya sehingga terasa penisku terjepit jepit dan

“ooooh….. mbaaaaak….. ssssssshhhh….. ooooohhh…. enaaaaak.. mbaaaaak….. akuuuu… wis.. kate… metuuuu… mbaaaak….,”

desahanku yang sudah tidak kuat lagi menahan keluarnya airmaniku…..

“Maaaaas….. ayoooooo…. maaaas… aduuuuuh….. oooooh…… akuuu… jugaaa…… ayooooo… sekaraaaaaaang……. aaaaaaaakkkkrrrrrr.. ooooooooh…… maaaaaaaaaas”

dan kulepas air maniku semuanya kedalam vaginanya sambil kutekan penisku kuat2 dan bu Har pun mendekapku dengan sekuat tenaganya.

Aku terkapar diatas badan bu Har dengan nafas ngos ngosan demikian juga kudengar bunyi nafasnya yang sangat cepat seraya menciumi wajahku. Setelah nafas kami mulai mereda, lalu kukatakan…

“mbaaaaak…. wis yooooo….. tak cabut..” dan sebelum aku menhabiskan perkataanku, dicengkeramnya punggungku dengan kedua tangannya seraya mengatakan……

“jangaaan… duluuu.. maaaaas…… aku masih ingin…. punyamu ngganjel didalam……” dan setelah diam sebentar lalu katanya lagi….

“maaaas…… aku sudah lama… nggak begini…… bapak sudah nggak mau lagi….. padahal aku masih kepingin….”

Para pembaca sekalian, itulah kisahku dan setelah kami masih sesekali melakukannya yaitu ketika bu Har datang ke Jakarta dengan alasan kangen dengan anak perempuannya yang kawin dengan anakku. Biasanya bu Har menelponku dikantor apabila akan datang ke Jakarta dan kujemput dia di Gambir dan langsung pergi ke salah satu Hotel, sebelum dia menuju rumah anaknya.. eh… anakku juga.


Aku mahasiswa di kota dingin B dan mempunyai pacar yg bernama Ani. Setelah selesai SMA Ani melanjutkan studi di Singapura, sementara saya tetap di kota B., sekolah teknik. Tapi aku selalu bertandang ke rumah Ani, walau tidak pernah ketemu ketemu. Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi Ani, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal. Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan memegang beberapa perusahaannya yang memang sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih menjadi wakil rakyat.
Harapanku mengawini Ani tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung, justru bu Ida (ibunya Ani yang sering menemuiku. karena Ani ada kesibukan di Singapura, sehubungan dengan keikutsertaannya dalam sekolah presenter di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur Ani masih kalah dengan ibunya. Bu Ida lebih cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan tenang pembawaannya. Sementara Ani agak sawo matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Ani seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan dan penuh perhatian, baik juga.

Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya ada bu Ida dan seorang pembantu. sementara Ani sekolah di Singapura, paling-paling 3 bulan sekali pulang. Akhirnya saya di suruh bu Ida untuk membantu sebagai karyawan tidak tetap mengelola perusahaannya.
Untungnya saya memiliki kemampuan di bidang komputer
dan manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA. Setelah
mengetahui manajemen perusahaan bu Ida lalu saya
menawari program akuntansi dan keuangan dengan
komputer, dan bu Ida setuju bahkan senang.
Merencanakan kalkulasi biaya proyek yang ditangani
perusahaannya, dsb. Saya menyukai pekerjaan ini. Yang
jelas bisa menambah uang saku saya, bisa untuk
membantu kuliah, yang saat itu baru semester dua. Bu
Ida memberi honor lebih dari cukup menurut ukuran saya.
Pegawai bu Ida ada tiga cewek di kantor, tambah saya,
belum termasuk di lapangan. Saya sering bekerja setelah
kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang
pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek yang
harus dAnirjakan. Part time begitu. Bagi saya ini hanya
kerja sambilan tapi bisa menambah pengalaman.

Karena hubungan kerja antara majikan dan pegawai,
hubungan saya dengan bu Ida semakin akrab. Semula sih
biasa saja, lambat-laun seperti sahabat, curhat, dan
sebagainya. Aku sering dinasehati, bahkan saking
akrabnya, bercanda, saya sering pegang tangannya,
mencium tangan, tentu saja tanpa diketahui rekan kerja
yang lain. Dan rupanya dia senang. Tapi aku tetap
menjaga kesopanan. Pengalaman ini yang mendebarkan
jantungku, betapapun dan siapapun bu Ida, dia mampu
menggetarkan dadaku. Walaupun sudah cukup umur
wanita ini tetap jelita. Saya kira siapapun orangnya pasti
mengatakan orang ini cantik bahkan cantik sekali. Dasar
pandai merawat tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin
fitnees, di rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang
fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap
dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA dulu,
tapi karena saya pacar Ani, hal itu saya
kesampingkan. Data-data pribadi bu Ida saya tahu betul
karena sering mengerjakan biodata berkaitan dengan
proyek-proyeknya. Tingginya 161 cm, usianya saat kisah
ini terjadi 37 tahun, lima bulan dan berat badannya 52 kg.
Cukup ideal.
Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan
proyek dan paginya harus didaftarkan untuk diikutkan
tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum selesai, tapi aku
agak terhibur bu Ida mau menemaniku, sambil mengecek
pekerjaanku. Dia cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia
malah sering bercanda. Bahkan seperti seorang istri melayani
suaminya kalau minumanku habis dia tidak segan-segan yang
menuang kembali, aku malah menjadi kikuk.
Dia tak enggan pegang tanganku, mencubit,
namun aku tak berani membalas. Apalagi bila
sedang mencubit dadaku aku sama sekali tidak akan
membalas. Dan yang cukup surprise tanpa ragu memijit mijit
bahuku dari belakang.
“Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya.
Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga, dipijit
janda cantik. Apalagi yang kurasakan dadanya, pasti
teteknya menyenggol kepalaku bagian belakang, saya
rasakan nyaman juga. Lama-lama pipiku sengaja saya
pepetkan dengan tangannya yang mulus, dia diam saja.
Dia membalas membelai-belai daguku, yang tanpa rambut
itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir pukul 23.00 baru
selesai semua pekerjaan, saya membersihkan kantor dan
masih dibantu bu Ida. Wah wanita ini betul-betul seorang
pekerja keras, gumanku dalam hati.

Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan kopi, jadi
kembali minum.
“Kamu sudah punya pacar Min?”
“Belum Bu”, jawabku
“Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana yang tak
mau dengan cowok ganteng”, katanya
“Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk
bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan penerangan
yang agak redup. Entah siapa yang mendahului, kami
berdua saling berpegangan tangan saling meremas
lembut. Yang jelas semula saya sengaja menyenggol
tangannya…

Mungkin karena terbawa suasana malam yang dingin dan
suasana ruangan yang syahdu, dan terdengar suara mobil
melintas di jalan raya serta sayup-sayup suara binatang
malam, saya dan bu Ida hanyut terbawa oleh suasana
romantis. Bu Ida yang malam itu memakai gaun warna
hitam dan sedikit motif bunga ungu. Sangat kontras
dengan warna kulitnya yang putih bersih. Wanita
pengusaha ini makin mendekatkan tubuhnya ke arahku.
Dalam kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat
kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin
memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti gemuruh
ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi bergemetaran,
dan tak mampu berbuat banyak, walau tanganku tetap
memegang tangannya.

“Dingin ya Min..?!”, katanya sendu.
Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap lengan
kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.
“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.
Terasa dingin, sementara tangannya juga merangkul
pinggangku. Bau wewanginan semerbak di sekitar, aku
duduk, menambah suasana romantis
“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana Bu?”,
kataku gemetar.
“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”,
bisiknya.
Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup kening
wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia menengadahkan
wajahnya. Tanpa diajari atau diperintah oleh siapapun,
kukecup bibir indahnya. Dia menyambut dengan
senyuman, kami saling berciuman bibir saling melumat
bibir, lidah kami bertemu berburu mencari kenikmatan di
setiap sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing masing.
Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu
Ida, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku dan
bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi semakin
terangsang dalam permainan yang indah ini.

Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia tersenyum
manis bahkan amat manis, dibanding waktu-waktu
sebelumnya. Kami berangkulan kembali, seolah-olah dua
sejoli yang sedang mabuk asmara sedang bermesraan,
padahal antara majikan dan pegawainya. Dia mulai
mencumi leherku dan menggigit lembut semantara
tanganku mulai meraba-raba tubuhnya, pertama
pantatnya, kemudian menjalar ke pinggulnya.
“Sejak kamu kesini pacaran dengan Ani dulu, saya sudah berpikir:
“Ganteng banget ini anak!””, katanya setengah berbisik.
“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun saya
senang mendapat sanjungan.
“Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.
Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin
menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian juga
dada bu Ida. Diapun nampak bergetaran dan suaranya
agak parau.

Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik tangan bu
Ida yang supaya ikut berdiri. Dalam posisi ini dia saya
dekap dengan hangatnya. Hasrat kelakianku menjadi
bertambah bangkit dan terasa seakan membelah celana
yang saya pakai. Lalu saya bimbing dia ke kamarnya,
bagai kerbau dicocok hidungnya bu Ida menurut saja.
Kami berbaring bersama di spring bed, kembali kami
bergumul saling berciuman dan becumbu.
“Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku lirih.
Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian dia beranjak menuju lemari dan mengambil
pakaian sambil menyodorkan kepada saya.
“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian tidur.
Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudian
memakai kimononya.

Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku tertidur.
Baru sekitar setengah jam saya terbangun lagi. Dalam
kondisi begini, jelas aku susah tidur. Udara terasa dingin,
saya mendekapnya makin kencang. Dia menyusupkan
kaki kanannya di selangkangan saya. Penisku makin
bergerak-gerak, sementara cumbuan berlangsung,
penisku semakin menjadi-jadi kencangnya, yang
sesungguhnya sejak tadi di sofa.

Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana? Apakah saya
lanjutkan atau diam saja? Lama aku berfikir untuk
mengatakan tidak! Tapi tidak bisa ditutupi bahwa hasrat,
nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjaklonjak
dalam dadaku bercampur aduk sampai kepada
ubun-ubunku. Walaupun aku diamkan beberapa saat,
tetap saja kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang
saya sadar, wanita yang ada didekapanku adalah
majikanku, mamanya Ani, tapi sebagai pria
normal dan dewasa aku juga merasakan kenikmatan bibir
dan rasa perasaan bu Ida sebagai wanita yang sintal,
cantik dan mengagumkan. Sedikitnya aku sudah
merasakan kehangatannya tubuhnya dan perasaannya,
meski pengalaman ini baru pertama kali kualami.

Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti ini aku
semakin bergemetaran, antara mengelak dan hasrat yang
menggebu-gebu. Aku perhatikan wajahnya di bawah sorot
lampu bed, sengaja saya lihat lama dari dekat, wajahnya
memancarkan penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki
dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup di balik
gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan, saya tidak
tahu apakah dia tidur atau pura-pura tidur. Aku cium
lembut bibirnya, dan dia menyambutnya. Berarti dia tidak
tidur. Ku singkap gaun tidurnya kemudian kulepas, dia
memakai beha warna putih dan cedenya juga putih. Aku
menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh bu Ida,
putih dan indah banget. Ku raba-raba tubuhnya, dia
mengeliat geli dan membuka matanya yang sayu. Jari-jari
lentiknya menyusup ke balik baju tidur yang kupakai dan
menarik talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku
terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.
“Kamu ganteng banget, Min, tinggi badanmu berapa, ya?”,
bisiknya. Saya tersenyum senang.
“Makasih. Ada 171. Bu Ida juga cantik sekali”, mendengar
jawabanku, dia hanya tersenyum.

Aku berusaha membuka behanya dengan membuka
kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan
cedenya sehingga aku semakin takjub melihat keindahan
alam yang tiada tara ini. Hal ini menjadikan dadaku
semakin bergetar. Betapa tidak?! Aku berhadapan
langsung dengan wanita tanpa busana yang bertubuh
indah, yang selama ini hanya kulihat lewat gambargambar
orang asing saja. Kini langsung mengamati dari
dekat sekali bahkan bisa meraba-raba. Wanita yang
selama ini saya lihat berkulit putih bersih hanya pada
bagian wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang
tampak seluruhnya tiada yang tersisa. Menakjubkan!
Darahku semakin mendidih, melihat pemandangan nan
indah itu. Di saat saya masih bengong, pelan-pelan aku
melorot cedeku, saya dan bu Ida sama-sama tak
berpakaian. Penisku benar-benar maksimal kencangnya.
Kami berdua berdekapan, saling meraba dan membelai.
Kaki kami berdua saling menyilang yang berpangkal di
selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang ikut
membelai paha indah bu Ida. Sementara itu ia membelaibelai
lembut penisku dengan tangan halusnya, yang
membawa efek nikmat luar biasa.
Tanganku membela-belai pahanya kemudian kucium
mulai dari lutut merambat pelan ke pangkal pahanya. Ia
mendesah lembut. Dadaku makin bergetaran karena kami
saling mencumbu, aku meraba selakangannya, ada
rerumputan di sana, tidak terlalu lebat jadi enak
dipandang. Dia mengerang lembut, ketika jemariku
menyentuh bibir vaginanya. Mulutku menciumi
payudaranya dengan lembut dan mengedot puntingnya
yang berwarna coklat kemerah-merahan, lalu
membenamkan wajahku di antara kedua susunya.
Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya.
Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut indahnya.
Aku semakin bernafsu walau tetap gemetaran. Tanganku
mulai aktif memainkan selakangannya, yang ternyata
basah itu. Saya penasaran, lalu kubuka kedua pahanya,
kemudian kusingkap rerumputan di sekitar
kewanitaannya. Bagian-bagian warna pink itu aku belaibelai
dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan,
menyenangkan sekali. Bu Ida mengerang lembut sambil
menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu jariku
kumasukkan keterowongan pink tersebut dan menari-nari
di dalamnya. Dia semakin bergelincangan. Kelanjutannya
ia menarikku.
“Ayo Min” aku tak tahan”, katanya berbisik
Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian yang
menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.

Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil bertumpu
pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia tidak berat
menompang tubuhku. Sementara itu senjataku terjepit
dengan kedua pahanya. Dalam posisi begini saja enaknya
sudah bukan main, getaran jantungku makin tidak
teratur. Sambil menciumi bibirnya, dan lehernya,
tanganku meremas-remas lembut susunya. Penisku
menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas (perut),
kemudian turun berulang-ulang Tak lama kemudian
kakinya direnggangkan, lalu pinggul kami berdua
beringsut, untuk mengambil posisi tepat antara senjataku
dengan lubang kewanitaannya. Beberapa kali kami
beringsut, tapi belum juga sampai kepada sasarannya.
Penisku belum juga masuk ke vaginanya
“Alot juga”, bisikku. Bu Ida yang masih di bawahku
tersenyum.
“Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang
penisku dan menuntun memasukkan ke arah
kewanitaannya.
“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya. Akupun
menuruti saja, menekan pinggulku…
“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa
hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk itulah, rasa
nikmatnya amat sangat. Seolah aku baru memasuki dunia
lain, dunia yang sama sekali baru bagiku. Aku memang
pernah melihat film orang beginian, tetapi untuk
melakukan sendiri baru kali ini. Ternyata rasanya enak,
nyaman, mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam
usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan
kenikmatan tubuh wanita.
Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-turun,
naik-turun, kadang cepat kadang lambat, sambil
memandang ekspresi wajah bu Ida yang merem-melek,
mulutnya sedikit terbuka, sambil keluar suara tak
disengaja desah-mendesah. Merasakan kenikmatannya
sendiri.
“Ah… uh… eh… hem””
Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut
dengan menekan pula ke atas, supaya penisku masuk
menekan sampai ke dasar vaginanya. Getaran-getaran
perasaan menyatu dengan leguhan dan rasa kenikmatan
berjalan merangkak sampai berlari-lari kecil berkejarkejaran.
Di tengah peristiwa itu bu Ida berbisik
“Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu cepat
capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti iramanya”, ketika
saya mulai menggenjot dengan semangatnya.
“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.

Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala kadarnya
mengikuti gerakan pinggulnya yang hanya sesekali
dilakukan. Ternyata model ini lebih nyaman dan mudah
dinikmati. Sesekali kedua kakinya diangkat dan sampai
ditaruh di atas bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar,
bahkan kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku
terjepit ketat dan semakin seret. Gerak apapun yang kami
lakukan berdua membawa efek kenikmatan tersendiri.
Setelah lebih dari sepuluh menit , aku menikmati
tubuhnya dari atas, dia membuat suatu gerakan dan aku
tahu maksudnya, dia minta di atas.

Aku tidur terlentang, kemudian bu Ida mengambil posisi
tengkurap di atasku sambil menyatukan alat vital kami
berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia memasukkan
penisku rasanya ketat sekali menghujam sampai dalam.
Sampai beberapa saat bu Ida menggerakkan pinggulnya,
payudaranya bergelantungan nampak indah sekali,
kadang menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat
bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang.
Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung kudot.
Gerakan wanita berambut sebahu ini makin mempesona
di atas tubuhku. Kadang seperti orang berenang, atau
menari yang berpusat pada gerakan pinggulnya yang
aduhai. Bayang-bayang gerakan itu nampak indah di
cermin sebelah ranjang. Tubuh putih nan indah
perempuan setengah baya menaiki tubuh pemuda agak
coklat kekuning-kuningan. Benar-benar lintas generasi!

Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit, kian
lama kian kencang dan cepat, gerakannya. Nafasnya kian
tidak teratur, sedikit liar. Kayak mengejar setoran saja.
Tanganku mempererat rangulanku pada pantat dan
pinggulnya, sementara mulutku sesekali mengulum
punting susunya. Rasanya enak sekali. Setelah kerja
keras majikanku itu mendesah sejadi-jadinya”
“Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Min..”, rupanya ia orgasme.

Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku,
nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah merasakan
keenakan yang mencapai klimaknya. Nafasnya berkejarkejaran,
gerakannya lambat laun berangsur melemah,
akhirnya diam. Ia menjadi lemas di atasku, sambil
mengatur nafasnya kembali. Aku mengusap-usap
punggung mulusnya. Sesekali ia menggerak-gerakkan
pinggulnya pelan, pelan sekali, merasakan sisa-sisa
puncak kenikmatannya. Beberapa menit dia masih
menindih saya.

Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang kembali, siap
untuk saya tembak lagi. Kini giliran saya menindihnya,
dan mulai mengerjakan kegiatan seperti tadi. Gerakan ku
pelan juga, dia merangkul aku. Naik turun, keluar masuk.
Saat masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia bisa
menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh aku
menikmati seluruhnya tubuh bu Ida. Ruaar biasa! Tiba-
tiba suatu dorongan tenaga yang kuat sampai diujung
senjataku, aliran darah, energi dan perasaan terpusat di
sana, yang menimbulkan kekuatan dahsyat tiada tara.
Energi itu menekan-nekan dan memenuhi lorong-lorong
rasa dan perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran.
Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek
gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh indah,
yang mengimbangi dengan gerakan gemulai mempesona.
Akhirnya tenaga yang menghentak-hentak itu keluar
membawa kenikmatan luar biasa”, suara tak disengaja
keluar dari mulut dua insan yang sedang dilanda
kenikmatan. Air maniku terasa keluar tanpa kendali,
menyemprot memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ida.
“Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-sahutan.
Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun makin
merapatkan tubuhnya terutama pada bagian bawah
perutnya, kuat sekali. Menyatu semuanya,
“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.
“Aku juga Min”, suaranya agak lemah.
“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar lagi?!”,
tanyaku agak heran.
“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas.

Kami berdua berkeringat, walau udara di luar dingin.
Rasanya cukup menguras tenaga, bagai habis naik
gunung saja, lempar lembing atau habis dari perjalanan
jauh, tapi saya masih bisa merasakan sisa-sisa
kenikmatan bersama. Selang beberapa menit, setelah
kenikmatan berangsur berkurang, dan terasa lembek,
saya mencabut senjataku dan berbaring terlentang di
sisinya sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya
menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya. Perempuan
punya bentuk tubuh indah itupun terlihat puas, seakan
terlepas dari dahaganya, yang terlihat dari guratan
senyumnya. Saya lihat selakangannya, ada ceceran air
maniku putih kental meleleh di bibir vaginanya bahkan
ada yang di pahanya. Pengalaman malam itu sangat
menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku menaiki bu
Ida, aku lupa. Yang jelas kami beradu nafsu hampir
sepanjang malam dan kurang tidur.

Keesokan harinya
Busa-busa sabun memenuhi bathtub, aku dan bu Ida
mandi bersama, kami saling menyabun dan menggosok,
seluruh sisi-sisi tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian
yang paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia
menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut. Saya
senang sekali dan sudah barang tentu membawa efek
nikmat.
“Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus, kayak
tugu Monas, besar lagi. Ukuran jumbo lagi?!”, katanya
sambil menimang-nimang tititku.
“Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami tersenyum
bersama.

Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti sedang
nyapu halaman depan, kalau aku keluar rumah tidak
mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru pukul setengah
enam. Tetapi senjata ini belum juga turun, tiba-tiba
hasrat lelakiku kembali bangkit kencang sekali. Kembali
meletup-letup, jantung berdetak makin kencang. Lagi-lagi
aku mendekati janda yang sudah berpakaian itu, dan
kupeluk, kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku
lebih tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur
tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi. Lalu ku
lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan kuplorotkan
cedenya. Kami berdua kembali berbugil ria dan menuju
tempat tidur. Kedua insan lelaki perempuan ini saling
bercumbu, mengulangi kenikmatan semalam.

Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang indah
paduan antara pinggul depan, pangkal paha, dan
rerumputan sedikit di tengah menutup samara-samar
huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya. Aku buka
dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi, mulai dari lutut,
kemudian merambat ke paha mulusnya. Sementara
tangannya mengurut-urut lembut penisku. Tubuhku mulai
bergetaran, lalu aku membuka selakangannya,
menyibakkan rerumputan di sana. Aku ingin melihat
secara jelas barang miliknya. Jariku menyentuh benda
yang berwarna pink itu, mulai bagian atas membelaibelainya
dengan lembut, sesekali mencubit dan membelai
kembali. Bu Ida bergelincangan, tangannya makin erat
memegang tititku. Kemudian jariku mulai masuk ke
lorong, kemudian menari-nari di sana, seperti malam tadi.
Tapi bibir, dan terowongan yang didominasi warna pink ini
lebih jelas, bagai bunga mawar yang merekah. Beberapa
saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi paham
dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ida, yang
menghebohkan semalam.

Gelora nafsu makin menggema dan menjalar seantero
tubuh kami, saling mencium dan mencumbu, kian
memanas dan berlari kejar-kejaran. Seperti ombak laut
mendesir-desir menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat
mengekang dari kami berdua. Apalagi ketika puncak
kenikmatan mulai nampak dan mendekat ketat. Sebuah
kejutan, tanpa aku duga sebelumnya penisku yang sejak
tadi di urut-urut kemudian dikulum dengan lembutnya.
Pertama dijilati kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga
mulutnya. Rasanya saya diajak melayang ke angkasa
tinggi sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi
berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang,
sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang
bertumpu pada kedua tangan saya. Saya mulai
memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan bu Ida
yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-bagiannya secara
seksama itu. Benda ini memang rasanya tiada tara, ketika
kumasukkan, tidak hanya saya yang merasakan enaknya
penetrasi, tetapi juga bu Ida merasakan kenikmatan yang
luar biasa, terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan
lembut dari mulutnya.
“Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke arah
selakangannya, sambil menekankan pula pinggulnya ke
arah tititku. Kami berdua mengulangi mengarungi
samodra birahi yang menakjubkan, pagi itu.

Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar pukul
setengah delapan, saat Darti mencuci di belakang. Dalam
perjalanan pulang aku termenung, Betapa kejadian
semalam dapat berlangsung begitu cepat, tanpa liku-liku,
tanpa terpikirkan sebelumnya. Sebuah wisata seks yang
tak terduga sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih,
prosesnya mulus, semulus paha bu Ida. Singkat, cepat
dan mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan
yang menghebohkan. Betapa aku bisa merasakan
kehangatan tubuh bu Ida secara utuh, orang yang selama
ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona wajah bu Ida
yang memerah jambu, kepasrahannya dalam
ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan seorang
wanita yang mebutuhkan belaian dan kehangatan seorang
pria.

Akhirnya aku menjadi ayah angkat pacarku walaupun umurnya berbeda tetapi pengabdiannya sebagai seorang istri sangat membahagiakanku


Kisahku kali ini terjadi beberapa bulan lalu di hari Sabtu pagi. Ketika itu aku yang sedang sendirian di rumah dan tidak ada kegiatan, memulai hari dengan memanjakan diri di sofa ruang keluarga untuk melihat acara TV. Setelah aku pindah-pindah channel TV ternyata nggak ada acara yang menarik. Akhirnya aku putuskan untuk tidur-tiduran saja di kamar tidur.

Rumah ini terasa sangat sepi pada saat-saat seperti ini. Maklum saja, biasanya rumahku selalu ramai oleh orangtua serta adik-adikku. Sebagai seorang wanita di usia 29 tahun, tentu aku selalu berusaha untuk merawat tubuh, baik di salon maupun di rumah. Teman-temanku sering memuji wajahku yang awet muda dan tubuhku yang mungil tapi proporsional.

Namun yang sering membuatku risih adalah tatapan anak-anak SMU, yang seringkali menggoda aku. Mungkin mereka mengira aku masih seusia mereka. Apalagi saat aku memakai pakaian bebas. Rumahku terletak di daerah Cibubur yang menurutku lumayan dingin. Halaman rumahku memang tidak luas, namun di luar rumah banyak ditumbuhi pepohanan rindang. Kamar tidurku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman luar.

Setelah merebahkan badanku beberapa lama, ternyata mata ini tidak mau terpejam. Akhirnya aku SMS-an dengan pacarku. Baru beberapa kali SMS, terdengar suara berisik dari halaman depan rumahku. Aku bangkit dan melihat keluar. Kulihat dua anak berusia berseragam SMP sedang berusaha untuk memetik buah di depan rumahku. Tentu saja aku sebagai pemilik rumah tidak senang perilaku anak-anak tersebut. Bergegas aku keluar dari kamar.

Seraya berkacak pinggang aku berteriak pada mereka “Dik, jangan dipetik dulu nanti kalau sudah masak pasti Kakak kasih deh…!”

Tentu saja mereka berdua kaget dan ketakutan karena tidak menyangka kalau ada orang yang melihat perbuatan mereka. Kedua anak itu menundukkan wajahnya karena menyesal. Aku yang tadi hendak marah akhirnya merasa iba.

“Nggak apa-apa kok Dik, Kakak hanya minta buahnya jangan dipetik dulu. Kan masih belum matang benar… Nanti kalau adik-adik sakit perut gimana coba?” aku mencoba menghibur.

Sedikit mereka berani mengangkat wajah. Dari penampilan mereka kelihatan bahwa mereka anak kurang mampu. Melihat wajah mereka mereka yang tertunduk dan menyesal akhirnya aku mengajak mereka ke dalam rumah, untuk ikut menonton TV denganku di ruang keluarga. Aku tanya kenapa pada jam-jam belajar mereka kok ada di luar sekolah. Ternyata mereka bolos dari sekolah karena sedang bosan belajar. Setelah mendapat penjelasan mereka, aku menasehati keduanya supaya jangan membolos dari sekolah lagi. Mereka hanya menganggukan kepala saja.

Kemudian aku tinggal mereka sebentar mereka ke dapur untuk mengambilkan minuman. Lumayan juga pikirku, aku jadi ada teman untuk ngobrol. Dari obrolanku dengan mereka, ternyata usia keduanya masih 13 tahun, dan mereka baru saja masuk SMP. Walaupun baru mulai masuk SMP, ternyata mereka sudah sering bolos dari sekolah. Aku menanyakan nama mereka, yang berkulit hitam dan berambut keriting bernama Gani. Sedangkan yang berkulit sawo matang dan berambut cepak bernama Edo. Keduanya memiliki badan yang kecil dan kurus. Mungkin tinggi badan mereka hanya 140 cm saja.

Ketika ngobrol aku tahu mata-mata mereka sering mencuri pandang ke bagian dadaku. Aku baru sadar bahwa di dalam kaos warna krem-ku, aku tidak memakai Bra, sehingga puting coklatku terlihat jelas. Aku berpikir, biar masih kecil, namanya laki-laki itu sama saja. Semula aku tidak suka dengan perilaku mereka namun akhirnya ada perasaan lain sehingga aku biarkan mata mereka menikmati keindahan putingku dari luar. Aku menjadi menikmati tingkah laku mereka kepada diriku.

Bahkan aku mempunyai pikiran yang lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja meregangkan tanganku ke belakang sehingga putingku pasti terlihat semakin jelas. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin salah tingkah.

“Hayoo..!! Pada ngeliatin apa!?” Aku pura-pura mengagetkan mereka.

Tentu saja ini sangat membuat mereka menjadi semakin salah tingkah.

“Ng.. gak.. kok.. Kak Tita…” Gani membela diri.

“I.. Itu acara TV bagus Kak Tita” Edo menambahkan.

“Nggak apa-apa kok. Kakak tahu kalian sedang melihat ke dada Kakak kan?Ayo ngaku aja deh…” aku mencoba mendesak mereka.

“Eeee.. A-Anu Kak Tita…” Edo nampak akan mengatakan sesuatu.

Namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya, aku kembali menimpali “Ibu kalian kan juga punya, dulu kalian kan sering nyusu dari Ibu kalian”

“I.. Iya Kak Tita” Gani menjawab.

“Tapi sekarang kami kan sudah nggak nyusu lagi. Lagipula kamu juga udah lupa gimana rasanya nyusu…” Edo nampaknya sudah mampu menguasai keadaannya.

“Terus maksud kamu bagaimana Do?” Aku menanyakan.

“Kami pengen deh liat teteknya Kak Tita” kata Gani semakin berani.

Kata-kata tersebut membuat aku berpikiran lebih gila lagi. Gairahku yang semakin meninggi sudah mengalahkan norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan kendali bahwa yang ada di depanku adalah anak-anak polos yang masih bersih pikirannya. Aku kemudian menatap wajah mereka semakin serius.

“Gani, Edo kalian mungkin sekarang sudah nggak nyusu lagi karena kalian sudah besar. Tapi kalian boleh kok…” aku berkata.

Tentu saja kata-kataku ini membuat mereka penasaran.

“Boleh ngapain Kak Tita?” sergah Gani tidak sabar.

“Boleh nyusu sama Kakak, kalian mau nggak..?” tanyaku walau sebenarnya aku sangat tau jawaban mereka.

“Ee.. ma.. u…!!” jawab Edo.

“Mau banget dong Kak…!!” sahut Doni setuju dengan temannya.

Jawaban mereka membuat aku semakin bergairah dan terangsang. Aku berpikiran hari ini aku akan mendapatkan sensasi dari anak-anak ini. Aku memang sudah pernah merasakan kenikmatan juga dari dua anak jalanan, yang aku sudah ceritakan sebelumnya. Karena itu, aku ingin kembali merasakan sensasi seperti itu. Aku mendekati mereka, kemudian dengan agak tergesa aku melepaskan kaos bagian atasku sehingga kini bagian atas tubuhku sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Mata mereka melotot memandangi payudaraku. Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.

“Ayo dimulai dong Adik-adik. Kok malah bengong sih?” aku menyadarkan mereka.

Kemudian tangan-tangan mereka mulai menggerayangi payudaraku. Aku menjadi geli melihat tingkah mereka.

“Jangan rebutan dong! Aaaaah.. Gani yang ki.. ri… Edo yang kanan…” perintahku.

Birahiku semakin meninggi, sementara Gani sudah mulai mendekatkan bibirnya ke putingku, Edo masih membelai sambil dipilin-pilin putingku. Lalu Edo mulai mengisap-isap putingku juga. Betapa seakan perasaanku melayang ke awan, apalagi ketika mereka berdua mengisap secara bersamaan nafasku menjadi tersengal. Tanganku membelai kadang agak sedikit menjambak sambil menekan kepala mereka agar lebih dalam lagi menikmati payudaraku.

Mereka semakin menikmati mainan mereka aku semakin terhanyut, aku ingin lebih dari hanya ini. Aku semakin lupa.

Ketika baru nikmat-nikmatnya tiba-tiba Edo melepaskan isapannya sambil berkata “Kak Tita kok nggak keluar air susunya?”

Aku kaget harus menjawab apa akhirnya kau menjawab sekenanya “Kakak kan belum nikah, terus belum punya anak. Jadi belum keluar air susunya…”

“Oh gitu ya Kak…?” Edo langsung mengerti.

Gani tidak menggubris, dia semakin lahap menikmati buah dadaku. Akhirnya aku ingin lebih dari sekedar itu.

“Gani… Edo.. Ber.. henti dulu…” aku meminta.

“Ada apa Kak Tita?” Gani bertanya.

“Kita ke kamar saja yuk! Di sini posisinya nggak enak” jawabku.

Kemudian aku berdiri menuju ke kamarku. Tentu saja mata mereka menatap tubuhku yang hanya ditutupi oleh celana pendek ketatku.

“Ayo ikut Kakak…” aku mengajak.

Seperti kerbau dicocok hidungnya mereka mengikuti diriku. Sampai di dalam kamar aku duduk di sisi ranjang.

“Gan.. Edo.. lepas saja seragam kalian…” pintaku.

“Tapi Kak Tita…” Edo masih agak ragu.

“Sudahlah turuti saja…” aku menyahut.

Dengan malu-malu mereka mulai melepas baju dan celana seragam mereka. Tampaklah penis dari anak-anak itu sudah tampak tegang. Rambut kemaluan mereka tampak belum tumbuh sama sekali, sedang batang kemaluannya masih agak kecil. Namun melihat pemandangan ini libidoku semakin naik tinggi.

“Kak Tita curang!” Edo berkata.

“Curang bagaimana?” aku bertanya.

“Kak Tita nggak melepas celananya!?” Edo menjawab.

Gila anak ini, cepat sekali dewasanya. Aku tersenyum, kemudian bangkit dari dudukku. Celana pendek berikut celana dalamku aku lepaskan. Sekarang kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Tatapan mereka tertuju pada benda yang ada dibawah pusarku. Vaginaku yang masih rapat dan tanpa ditumbuhi bulu menarik perhatian mereka. Aku duduk kembali di ranjang lalu menaikkan kakiku dan mengangkangkannya. Vaginaku terbuka lebar dan tentu saja terlihat isi-isinya. Mereka mendekat dan melihat vaginaku dengan wajah penasaran.

“Ini namanya vagina, lain dengan punya kalian…” aku menerangkan ke mereka layaknya seorang guru biologi.

“Kalian lahir dari sini…” aku melanjutkan.

Tangan mereka mulai mengelus-elus bibir kemaluanku. Sentuhan ini nikmat sekali. Jari Gani masuk ke lobang vaginaku dan bermain-main di dalamnya. Cairan-cairan tampak semakin membanjiri liang vaginaku. Sementara jari Edo kelihatannya lebih tertarik dengan kemulusan pahaku. Tangan Edo semakin berani untuk mengelus-elus pahaku. Aku biarkan kenikmatan ini berlangsung.

“Aaa.. duh… Eee.. nak.. sekali! Nik.. mat… Terr.. us…” aku merintih.

Anak-anak ini agak lama memainkan vagina beserta pahaku. Sungguh mereka memberiku kenikmatan yang hebat. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku tanpa bisa berkata-kata hanya rintihan dan nafas yang tersengal-sengal.
Akhirnya aku mendorong mereka aku bangkit dan menghampiri mereka yang berdiri di tepi ranjang.

Aku berjongkok dihadapan mereka sambil kedua tanganku memegang diiringi dengan remasan-remasan kecil pada penis mereka. Aku mendekatkan wajahku pada penis Gani, kemudian aku kulum dan jilati kepala penis muda ini. Tampak kedua lutut Gani tergetar. Aku masukkan seluruh batang penis itu kedalam mulutku dan aku membuat gerakan maju mundur. Tangan Gani mencengkeram erat kepalaku. Sementara tanganku yang satu mengocok-kocok kontol Edo.

“Kak Titaaa.. Akuuu.. ma.. u.. ken.. cing…” Gani merintih.

Tampaknya anak ini akan orgasme, tentu aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi karena aku masih ingin permainan ini berlanjut. Kemudian aku beralih pada penis Edo. Tampak penis ini agak lebih besar dari kepunyaan Doni. Aku mulai jilati dari pangkal sampai pada ujungnya, lidahku menari di kepala penis Edo. Aku tusuk-tusuk kecil lobang kencing Edo kemudian aku masukkan seluruh batang penis Edo. Jambakan rambut Edo kencang sekali ketika aku semakin mempercepat kulumanku.

“Kaaakkk.. a.. ku.. ju.. ga.. mo.. ken.. cing.. nih…” Edo merintih.

Aku hentikan kulumanku pada penis mereka, kemudian aku bangkit dan naik ke atas ranjang lalu aku kangkangkan kakiku lebar-lebar sehingga vaginaku terbuka lebar.

“Siapa duluan yang mau tititnya dimasukkan ke sini?” aku berkata sambil tanganku menunjuk ke lubang vaginaku yang sudah nampak basah kuyup.

Mereka berpandangan, tampaknya membuat persetujuan. Dan akhirnya Gani duluan yang akan menusukku. Gani naik ke atas ranjang dan mengangkangiku tampak penis yang tegang mengkilat siap menusuk lubang vagina wanita yang pantas menjadi kakaknya. Aku tuntun penis Gani masuk ke lubang kenikmatanku. Aku membiarkan pria muda ini melepas keperjakaannya oleh vaginaku. Dan ‘bless’, batang penis Gani amblas ke dalam vaginaku.

“Aaaah Gan…” aku mendesis.

“Masukkan.. Le.. bih.. da.. lam lagi.. dan genjot..” aku memberi perintah.

“Iyaaaa.. Kak Tita!! Eee.. naak.. bangeeeettt…” Gani berkata.

Aku hanya bisa mendesah sambil menggigit bibir bagian bawahku. Tampaknya Gani cepat memahami perkataanku dia memompa wanita yang lebih dewasa yang ada dibawahnya dengan seksama. Genjotannya semakin lama semakin cepat. Edo yang menunggu giliran hanya tertegun dengan permainan kami. Genjotan Gani kian cepat aku imbangi dengan goyanganku. Dan tampaknya hal ini membuat Gani tidak kuat lagi menahan sperma yang akan keluar.

Dan akhirnya “Akuuu.. mau.. ken.. cing.. la.. gi! Udah gak.. ta.. han.. la.. gi..” Gani setengah berteriak.

Kakiku aku lipat menahan pantat Gani. Dia merangkul erat tubuhku dan ‘creet.. creet…’ cairan hangat membanjiri liang kewanitaanku. Gani terkulai lemas diatas tubuhku, butiran-butiran keringat keluar dari sekujur tubuhnya.

“Enaaaak bangeettt Kak….” Gani berkata penuh kepuasan.

“Iya… tapi sekarang gantian Edo dong…” aku berkata.

Gani mencabut penisnya yang sudah agak mengempis dan terkapar lemas disampingku.

“Edo sekarang giliranmu yah…” aku berkata kepada Edo .

“Kamu tusuk Kakak dari belakang ya…” aku memberi arahan kepadanya.

Kemudian aku mengambil posisi menungging sehingga vaginaku pada posisi yang menantang. Edo naik ke atas ranjang dan bersiap menusuk dari belakang. Dan penis anak yang kedua memasuki lobang kenikmatanku yang seharusnya belum boleh dia rasakan seiring dengan melayangnya keperjakaan dia.

Tampaknya Edo sudah agak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar dari dia melihat permainan Gani. Edo menggerakkan maju mundur pantatnya. Aku sambut dengan goyangan erotisku. Semakin lama gerakan Edo tidak teratur semakin cepat dan tampaknya puncak kenikmatan akan segera diraih oleh anak ini.

“Enaaaaaaaaaaak Kak…” Edo berteriak nikmat.

Dan akhirnya dengan memeluk erat tubuhku dari belakang sambil meremas susuku Edo mengeluarkan spermanya. Lubang vaginaku terasa hangat setelah diisi sperma kedua anak ini. Edo juga terkapar disampingku. Dua anak ini terkapar lemas setelah memasuki dunia kenikmatan.

Walaupun aku belum sempat orgasme, namun sensasi yang aku dapatkan cukup membuat aku puas. Aku bangkit dan berjalan ke dapur tanpa berpakaian untuk membuatkan sirup dingin, agar tenaga mereka pulih. Setelah berpakaian dan selesai minum mereka minta ijin untuk pulang.

“Gani, Edo kalian boleh pulang tapi jangan cerita kepada siapa-siapa tentang semua ini, kalian boleh minta lagi kapan saja asal waktu dan tempat memungkinkan…” aku berkata kemudian mencium bibir kedua anak itu.

“Iya Kak…!” sahut mereka hampir bersamaan.

Setelah mereka berdua pergi, satu sisi diriku bertanya-tanya, mengapa aku bisa bertindak seperti ini. Namun sisi lain diriku merasa puas karena berhasil menggoda dua orang anak yang masih polos. Aku juga sangat menikmati menggunakan tubuhku untuk merangsang dan menguasai kedua anak tersebut. Aku juga senang bisa membuat keduanya lepas kendali dan jatuh dalam pelukan birahi. Namun sampai saat ini, aku tidak pernah melihat keberadaan mereka lagi. Tapi aku juga tidak akan pernah lupa dengan mereka. Karena kedua anak itu dapat memberikan kepuasan dan sensasi yang berbeda.

TAMAT


Kerjasama Hendro dan Erwin semakin berkembang, cabang-cabang perusahaan di kota “ kota besarpun mulai dibuka, sehingga Hendropun semakin sibuk dengan perjalanan bisnisnya kesetiap cabang-cabang perusahaannya, dan itu membuat Hendro semakin jarang dirumah. Dalam satu minggu Hendro hanya 1-2 hari berada dirumahnya yaitu hari Sabtu atau Minggu, hari Seninnya Hendro sudah mulai keluar kota kembali.
Seiring dengan berkembangnya usaha Hendro, keadaan ekonomi Hendropun berubah, mereka sekarang tinggal di kawasan elite di bilangan Jakarta Selatan, rumah mereka dilengkapi dengan kolam renang dalam ruangan, penghuni rumahpun mulai bertambah, mereka sekarang mempunyai 4 orang pembantu, 3 perempuan dan 1 laki-laki, yang perempuan bertugas membersihkan rumah, mencuci, memasak dan sebagainya, sementara yang laki-laki bertugas merawat dan membersihkan taman dan kolam renang.

Tuti, Narti dan Ani adalah nama pembantu wanita mereka, Tuti berusia 20 tahun, Narti dan Ani berusia 19 tahun, sementara itu Pono pembantu lelakinya berusia 18 tahun. Mereka semua berasal dari satu daerah, Hendro yang membawa mereka datang ke Jakarta. Tuti dan Narti keduanya berstatus janda, mereka berdua gagal dalam membina biduk rumah tangga, sementara Ani dan Pono masih berstatus lajang. Mereka berempat sudah sekitar 6 bulan tinggal bersama keluarga Hendro.
Dirumah Hendro masih ada 2 orang supir, Bambang dan Yono keduanya sudah berkeluarga, Bambang berusia 26 tahun sementara Yono berusia 25 tahun, Bambang adalah supir Hendro sementara Yono selalu mengantar Dewi kemanapun nyonyanya pergi. Mereka sudah 8 bulan bekerja dengan Hendro.
Keempat pembantu dan kedua supir ini merasa kerasan bekerja di keluarga Hendro, keluarga Hendro tidak memandang rendah mereka, tingkah keluarga Hendropun tidak sombong terhadap mereka semua, apalagi Yono yang selalu mengantar Dewi, dia sangat kerasan bekerja di keluarga Hendro, selain cantik dan sexy nyonyanya ini selalu memberikan uang makan untuknya jika sedang mengantar ke Mall, ditambah Yono dapat menikmati pemandangan indah terutama saat Dewi mengenakan rok mini atau sedang membungkukkan badan, belahan dada Dewi yang putih dan padat serta pahanya yang putih mulus selalu membuat Yono menelan air liurnya pada saat ia melihat pemandangan itu.
Hari ini Yono kembali disuguhi pemandangan yang membangkitkan gairah lelakinya, nyonyanya ini mengenakan rok pendek berwarna putih dan baju putih tanpa lengan dengan belahan rendah didada, celana dalam dan behanya yang berwarna hitam terbayang dengan jelas, belahan dada nyonyanya ini yang putih dan mulus terlihat dengan jelas, Yono berkali-kali menelan air liurnya melihat pemandangan ini dari kaca spion mobilnya.
kemana kita, Bu? tanya Yono
ke ***** Yon, kata Dewi.
baik, Bu sahut Yono.

Selama perjalanan Yono mencuri-curi pandang tubuh nyonyanya ini dari balik kaca spionnya, selama itu juga berkali-kali Yono meneguk air liurnya, dalam hatinya berkata alangkah beruntungnya punya istri cantik, mulus dan sexy seperti nyonyanya ini, setiap malam pasti minta jatah terus. Kalau ia bandingkan dengan istrinya dirumah, jauh sekali perbedaannya bagaikan langit dengan bumi, tampang Yono sendiri tidak jelek tidak juga tampan, postur tubuhnya tidak tinggi juga tidak pendek, tidak besar juga tidak kecil, semuanya serba sedang.
Sesampainya di Supermarket yang disebutkan oleh nyonyanya tadi, Yono mengarahkan mobilnya kearah pintu masuk, kemudian Dewipun turun sambil berkata,
Yon, kamu cari parkir, terus nanti kamu susul saya kedalam,
Baik, Bu jawab Yono
Setelah memarkir mobilnya, Yono menyusul kedalam dan menemui Dewi yang sudah menunggu kedatangannya, kemudian Dewi mengambil keranjang dorong dan menyuruh Yono untuk mengambilnya juga. Kira-kira 3-4 jam mereka baru selesai berbelanja.
Kemana lagi kita, Bu? tanya Yono setelah selesai memasukkan kantung belanja yang terakhir.
Hhmmm, pulang dulu, Yon. Sahut Dewi.
Dalam perjalanan pulang, Yono kembali mencuri-curi pandang dari kaca spionnya, Dewi tidak menyadari tingkah supirnya itu, karena seperti biasanya Dewi sibuk dengan majalahnya. Tanpa Dewi sadari posisi duduknya saat ini agak sedikit terbuka dan rok mini yang ia kenakan agak sedikit naik keatas, membuat Yono yang sedang mencuri pandang semakin panas dingin dibuatnya, Yono melihat CD hitam Dewi dan paha mulus Dewi dari balik kaca spionnya, kemaluannya mulai menegang seiring dengan lamunan joroknya membayangkan kemaluan Dewi, Yono gelisah sendiri melihat semua ini, berkali-kali ia meneguk air liurnya.
Yon, turunin semua belanjaannya, taruh di dapur dan beritahu Ani atau Narti, kata Dewi sesampainya dirumah dan Dewi pun langsung turun menuju kedalam rumahnya.
Baik, Bu jawab Yono.
Setelah Dewi turun, Yonopun memarkir mobilnya di Garasi dan mulai menurunkan semua belanjaan dan membawanya ke dapur.
Ti, nich beresin belanjaan ibu, Yono memberitahu Narti yang sedang ada di dapur sambil menaruh belanjaan.
Iyah, jawab Narti sambil langsung membereskan belanjaan itu.
Tak lama kemudian Yonopun selesai membawa seluruh belanjaan itu kedapur sementara Narti sibuk dengan membereskan belanjaan itu.
Ti, bagi kopi dong, kata Yono setelah selesai menaruh kantung belanjaan yang terakhir.
Bikin sendiri, aku masih sibuk beres-beres, jawab Narti.
Saat Yono sedang membuat kopi, kembali dia disuguhi pemandangan yang membuat gairah lelakinya kembali bangkit, dia melihat Dewi yang sedang menuju kekolam renang mengenakan bikini putih, tubuh Dewi yang putih mulus dan kedua bongkahan payudaranya yang indah, selama ini Yono belum pernah melihat majikannya ini mengenakan bikini, batang kemaluannya mulai menegang, nafasnya mulai memburu, kedua bola mata Yono hampir tidak berkedip mengikuti langkah Dewi yang menuju kolam renang.

Lokasi kolam renang memang tidak jauh dari dapur, dan kolam renang itu terletak didalam ruangan dengan keseluruhan atapnya menggunakan kaca, sehingga cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa di area kolam renang tersebut.
Sambil menikmati kopi yang dibuatnya, Yono tanpa bergeming dari tempatnya dan kedua bola matanya masih tetap memandangi tubuh Dewi yang mulus dan sexy, tanpa sadar Yonopun mulai mengelus-elus batang kemaluannya dari balik celananya, dalam pikirannya ia membayangkan meremas-remas kedua payudara Dewi, sambil menjilati kedua putingnya, batang kemaluannya semakin mengeras, sebetulnya Yono adalah lelaki yang setia, tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk selingkuh atau membayangkan tubuh wanita lain selain tubuh istrinya, tetapi semenjak ia bekerja di keluarga Hendro dan setiap hari ia melihat pemandangan yang menakjubkan, semenjak itu pula pikiran Yono mulai menyimpang, ia mulai sering mengkhayal tentang menyetubuhi Dewi begitu pula saat ia sedang berhubungan dengan istrinya, ia membayangkan sedang menyetubuhi majikannya itu, Yono sendiri bingung kenapa akhir-akhir ini pikirannya selalu ketubuh Dewi, seperti sekarang ini pemandangan didepan matanya benar-benar membuat ia lupa diri, pikirannya menerawang membayangkan tubuh Dewi, lekuk tubuh Dewi yang aduhai, kedua payudara Dewi yang montok, semakin ia membayangkan tubuh Dewi semakin cepat ia mengelus-elus batang kemaluannya, Yono lupa bahwa saat ini ia sedang berada didapur.

Hayo, sedang ngapain, bisik Narti di telinga Yono.
Eeehhh.ngaakkklagii ngapa-ngapain, jawab Yono terkejut.
Kok, ngelamunehh..minum kopi kok ngelamun, lanjut Narti.
Eeeh..ini kopinya masih panasjadi..nunggu dingin, jawab Yono lagi.
Nunggu kopinya dingin atau lagi ™ kembali Narti mendesak Yono, sambil matanya melirik kearah kolam renang, ngintip nyonyanya, yach,
Tiddaaakkenaak..aja..aku lagi nunggu kopinya dingin nich, jawab Yono terbata-bata, batinnya kaget saat Narti dapat menebak apa yang sedang ia lakukan.
Hah..jawabnya tidak, tapi matanya kearah kolam renang,lanjut Narti penasaran.
Gak mungkin, aku ini sedang mikirin istriku, makanya aku ngelamun,Yono mengelak atas tuduhan Narti.
Hhmmmlaki-laki dimana saja sama,sahut Narti sambil kembali membereskan belanjaan yang tadi ia tinggalkan.

Yono menghela nafas saat Narti kembali mulai sibuk membereskan belanjaan, kemudian iapun dengan cepat-cepat keluar dari dapur, tapi pikirannya masih terbayang lekuk tubuh Dewi yang begitu indah sedangkan batang kemaluannya masih tegang, Yonopun segera menuju ke toilet, didalam toilet ia segera membuka celana panjangnya dan CDnya, CDnya sudah mulai basah dengan cairan beningnya, batang kemaluannya berdiri dengan gagah perkasa, sambil mulai mengocok batang kemaluannya dengan mata terpejam dan pikirannya yang mulai membayangkan tubuh Dewi yang indah dan sexy yang hanya berbalutkan bikini, Yono membayangkan ia mulai menjilati kedua payudara Dewi, sambil tangannya mengocok batang kemaluannya yang semakin mengeras, lenguhan dan desahan mulai keluar dari mulut Yono, belum pernah Yono melakukan self service seperti yang ia lakukan sekarang ini, tak lama berselang Yono merasakan desakan kuat di batang kemaluannya, batang kemaluannya mulai mengejut-ngejut, air maninya mulai menyemprot keluar dari batang kemaluannya, membasahi tembok toilet, Yonopun melenguh menikmati kocokan tangannya, matanya terpejam menikmati ejakulasi semunya, nafasnya yang memburu mulai mereda, seiring dengan tetes terakhir air maninya. Kemudian Yonopun mulai mencuci batang kemaluannya serta menyiram air maninya yang berlepotan di tembok toilet, setelah selesai menuntaskan hajat semunya Yonopun keluar dari toilet meneruskan minum kopinya, ada penyesalan dalam hatinya melakukan perbuatan tersebut, tapi apa daya hasrat birahinya sedang memuncak akibat melihat tubuh Dewi tadi dan tidak mungkin ia pulang kerumahnya untuk melakukan hubungan sex dengan istrinya. Yono merasa agak sedikit lemas setelah melakukan self service tersebut, sambil duduk di garasi Yonopun menikmati kopinya yang dari tadi belum sempat diminumnya, pikirannya masih memikirkan hal yang baru saja terjadi, ia tidak menyadari saat Narti mendekatinya.
Ehhhni orang dari tadi kerjaannya ngelamun melulu,kata Narti.
Ehhhhsiaappaa..yang ngelamun,jawab Yono kaget.
Udah jelas ngelamun, masih gak ngaku juga,kata Narti.
Tuh, dipanggil nyonya, cepetan ˜tar nyonya marah, baru tahu rasa,lanjut Narti.

Tergopoh-gopoh Yono masuk kedalam untuk menemui nyonya majikannya, tapi baru tiga langkah ia berhenti dan balik bertanya ke Narti.
Nyonya ada dimana? tanyanya ke Narti.
Ehh..nih orang betul-betul ngelindur, nyonya masih dikolam renang, cepetan entar ngomel, baru tahu rasa,jawab Narti
˜Ohh cerewet, nanyakan gak apa-apa, daripada kaga tahu mau kemana, sahut Yono.

Dengan segera Yono menghampiri nyonyanya yang sedang berada di kolam renang, setibanya di kolam renang ia melihat tubuh nyonyanya terbaring di kursi malas yang ada dipinggiran kolam renang, kedua matanya tertutup sementara tubuhnya yang hanya berbalutkan bikini terpampang dengan jelas di mata Yono, kembali Yono menelan ludah melihat pemandangan tersebut dari jarak yang sangat dekat, Yono memperhatikan kedua bukit payudaranya betul-betul sempurna, kedua puting susunya yang berwarna merah muda terbayang dengan jelas, turun kebawah ia melihat belahan vaginanya tercetak dengan jelas, ini akibat Dewi mengenakan bikini yang agak tipis apalagi bikini itu dalam keadaan basah, sehingga bayangan kedua puting susu serta belahan vaginanya tercetak dari balik bikininya tersebut, melihat semua itu batang kemaluan Yono kembali menegang dengan cepat, batang kemaluannya seolah mendesak ingin keluar dari balik celananya, celananya menggelembung menahan desakan kontolnya yang semakin membesar dan mengeras. Sesaat setelah puas menikmati pemandangan itu dengan suara agak sedikit serak Yono berkata kepada nyonyanya itu.
Buu..ibu..memanggil saya, kata Yono dengan suara sedikit serak dan agak terbata-bata.
Mendengar suara Yono, Dewi membuka matanya, saat ia membuka matanya yang terlihat olehnya adalah tonjolan diselangkang Yono, ia melihat celana Yono seolah membusung kedepan dan Dewi dapat memastikan bahwa batang kemaluan Yono sedang bangun.
Ohh..Yon, kamu jangan pulang dulu, nanti sore saya ada perlu keluar, jawab Dewi sambil matanya tetap terpaku kearah selangkangan Yono, batinnya bergumam sudah lama aku tidak menikmati kemaluanku disodok oleh batang kemaluan lelaki, tetapi kalau sekarang terlalu beresiko kalau dilakukan dirumah.
Baik, Bu, ada lagi, jawab Yono, sambil matanya tetap tidak mau lepas dari tubuh Dewi.
Cukup itu saja, kata Narti sambil kembali memejamkan matanya.
Dengan sedikit agak berat hati, Yono terpaksa meninggalkan tubuh Dewi, meninggalkan pemandangan yang sangat indah, yang tidak pernah terbayangkan oleh dirinya bahwa ia akan mendapat pemandangan tersebut, rasanya barusan Yono ingin segera menerkam tubuh Dewi, melucuti bikini Dewi dan memasukkan kontolnya kedalam lubang vagina Dewi dan menggenjotnya, meremas kedua payudaranya dan menjilati kedua putingnya yang berwarna merah muda. Tetapi akal sehatnya masih dapat mengalahkan nafsu birahinya sehingga Yono tidak melakukan hal tersebut, dengan langkah berat Yono kembali kegarasi, ia menuju kemobilnya dan merebahkan tubuhnya dikursi pengemudi, dengan memejamkan matanya Yono kemudian membayangkan pemandangan barusan, sampai akhirnya tanpa terasa iapun tertidur.

Dengan gemas Yono mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, mulutnya mulai bergantian menjilati kedua puting payudara Dewi yang berwarna merah mudah, dengan rakus Yono menjilati dan menghisap-hisap kedua puting tersebut bergantian. Sedang asyik-asyiknya Yono menjilati dan menghisap-hisap serta meremas-remas kedua payudara Dewi, Yono dikagetkan oleh suara yang memanggil-manggilnya.

Yon, Yon, ehhh..nich orang tidurnya seperti orang mati ajah, Narti berteriak-teriak membangunkan Yono.
Bangun..Yonbangun Yon.,kembali Narti berteriak membangunkan Yono.

Hhmmmhhhmmm.aduuuhhh, Yono kaget terbangun dari tidurnya, batinnya menjerit kurang ajar hanya mimpi rupanya padahal sedang seru-serunya menghisap dan meremas toket nyonyanya.

Adaaa apa..sich, orang lagi tidur kok diganggu,gumam Yono dengan nada kecewa karena mimpi indahnya diganggu.

Ehhh..marah..tuch..kata nyonya suruh siapin mobil soalnya nyonya mau pergi,sahut Narti ketus.

Apaa.sekarang jam berapa,Tanya Yono.

Jam 5, tidur melulu sich kerjaannya,Narti bersungut-sungut marah.

Ehhh..maafyach,sambung Yono sambil beranjak dari tidurannya lalu cepat-cepat ia ketoilet untuk membasuh mukanya.

Setelah membasuh mukanya, Yono kemudian melanjutkan membuang hajat kecilnya, agak sedikit susah karena kontolnya sedang tegang, ia melihat CDnya basah dan ujung kepala kontolnya masih meneteskan cairan beningnya, setelah hajat kecilnya tuntas ia salurkan, ia kembali kemobil dan mulai menyalakan mobilnya, tak lama berselang Dewi muncul dengan mengenakan rok hitam mini sedikit longgar, dengan belahan dada yang rendah dan bagian punggung yang terbuka, karena roknya model diikat ditengkuknya, sehingga bagian punggung dan pundaknya jadi terbuka, bagian dadanya terlihat membusung kalau lebih diperhatikan jelas-jelas Dewi tidak mengenakan BH itu terlihat dari kedua putingnya yang agak membayang diroknya, serta tidak ada tali BH dipundak ataupun dipunggung yang kelihatan.

Kemana kita, Bu, tanya Yono sambil kembali menelan ludah saat melihat ke Dewi yang agak sedikit membungkuk saat naik mobil, sehingga Yono dapat melihat dengan jelas payudara Dewi yang bergelantungan dengan indahnya.

Kita ke Mall ****, jawab Dewi.

Baik, Bu, sambil mengiyakan Yono mulai meluncurkan mobil ketempat tujuan.

Dalam perjalanan Yono kembali mencuri-curi pandang kearah Dewi lewat kaca spionnya, sementara Dewi sedang asyik membaca majalah, Yono sangat berharap ia dapat melihat kedua bukit kembar Dewi seperti yang ia lihat saat Dewi menaiki mobil, tetapi harapan hanyalah tinggal harapan, sampai di tempat tujuan Yono tidak beruntung dapat melihat kedua bukit kembar Dewi.

Yon, kamu tunggu saya,kata Dewi.

Baik, Bu, nanti kalau sudah selesai ibu panggil saya saja,jawab Yono.

Hhmmmm,Dewi mengiakan.

Yon, Ini buat makan,kata Dewi sambil memberikan uang 100ribu.

Ohh..makasih Bu,jawab Yono sambil menerima uang pemberian Dewi.

Kemudian Dewipun turun dari mobil dan masuk kedalam mall, sementara Yono mencari parkir, setelah memarkirkan mobilnya Yonopun keluar mencari makan. Selesai makan Yono kembali kemobilnya menunggu panggilan nyonyanya sambil kembali membayangkan tubuh Dewi yang aduhai terutama bagian payudaranya yang sudah secara sekilas ia melihatnya. Yono memang lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan para sopir yang menggosipkan majikannya, ia lebih senang menyendiri sambil membayangkan lekuk tubuh Dewi serta kedua bongkahan payudaranya yang indah menggelantung dibagian dadanya.

Sambil mengelus-elus batang kemaluannya yang kembali mulai menegang, maklum usianya masih usia yang tegangan tinggi, jadi hanya cukup dengan membayangkan saja batang kemaluannya langsung berdiri dengan tegak, pemandangan tadi kembali menari dipelupuk matanya, kedua bukit kembar Dewi begitu indahnya menggelayut seolah menanti untuk dijamah dan diremas, ia membayangkan seandainya ia dapat kesempatan untuk menikmati kedua payudaranya itu, dalam hatinya ia hanya menghela nafas, kesempatan itu mungkin tidak akan pernah terkabulkan.

Tapi Yono cukup puas dengan melihat dan membayangkan saja, karena ia masih segan dengan keluarga Hendro terutama dengan nyonyanya yang cantik dan sexy itu, nyonyanya itu menurut penilaian Yono selain cantik dan sexy juga sangat pengertian dan tidak pernah marah, tidak cerewet, menyuruhpun selalu dengan sopan, tidak pernah memandang rendah, tanpa terasa 4 jam sudah ia lewati sambil membayangkan tubuh dan kedua bukit kembar nyonyanya itu. Tiba-tiba HPnya berdering, dengan cepat Yono segera mengangkat HPnya setelah melihat yang memanggil adalah nyonyanya.

Iya, Bu, sahut Yono.

Yon, kamu ke pintu utama, saya menunggu disitu, jawab Dewi.

Baik, Bu, jawab Yono sambil langsung menstart mobilnya dan mengarahkan kepintu
utama.

Setibanya dipintu utama ia melihat Dewi sudah menunggu disana, dan ia melihat Dewi membawa banyak kantung belanjaan, Yono segera menepikan mobilnya dan segera turun untuk membantu Dewi memasukkan kantung belanjaan tersebut kedalam mobil, dengan cekatan kantung belanjaan yang banyak itu hanya dalam sekejap sudah masuk kedalam mobilnya, ditutupnya pintu belakang mobil tersebut dan ia segera duduk dibelakang kemudi, kemudian Yono mengarahkan mobilnya keluar area mall tersebut.

Yon, kita ke hotel x,kata Dewi.

Baik, Bu,jawab Yono, dalam hatinya bertanya-tanya, ini adalah luar biasa, nyonyanya mau pergi kehotel, yang setahu dia hotel ini adalah hotel short time, parkir mobilnya saja langsung dibawah kamar. Yono memang bingung dibuatnya, ada janji sama siapa nyonyanya ini.

Dewi sebetulnya sudah merencanakan semua ini dari rumah, ia yang sudah cukup lama
tidak mendapat sentuhan lelaki dan merasakan sodokan-sodokan di lubang vaginanya, semenjak ia melihat tonjolan diselangkangan Yono, gairah birahinya kembali membara, lubang vaginanya mulai merasa gatal ingin segera merasakan sodokan batang kemaluan lelaki dilubang vaginanya. Dengan pertimbangan yang matang akhirnya Dewi memutuskan untuk menikmati batang kemaluan Yono, kalau seandainya Yono setelah melakukan hubungan dengan dia mulai bertingkah macam-macam, Dewi akan segera memecatnya dan menggantinya dengan supir yang baru, tapi kalau Yono tidak bertingkah macam-macam, ia akan terus memperkerjakan Yono sambil sekali-sekali dapat merasakan sodokan-sodokan kontolnya.

Reception hotel tersebut berada diluar sehingga memudahkan orang untuk check-in tanpa perlu turun atau keluar dari mobil, setelah Dewi membayar sewa kamarnya, Dewi menyuruh Yono langsung kekamar yang diberikan oleh receptionist hotel, mobilpun meluncur kekamar hotel tersebut, dengan mengikuti petunjuk dari petugas hotel yang hampir setiap belokan ada, akhirnya mereka sampai di kamar tersebut. Yonopun memarkir mobilnya digarasi kamar tersebut, setelah petugas hotel menutup pintu garasi, Dewi segera turun dari mobil.

Ayo, Yon, kamu ikut saya,kata Dewi

Baaaikk, Bu,jawab Yono bingung.

Ada apa yach, kok nyonyanya menyuruh saya untuk ikut turun,batin Yono bertanya-tanya, tapi karena yang menyuruhnya adalah majikannya, Yonopun mengikuti Dewi, sambil terus bertanya-tanya dan menebak-nebak kenapa majikannya mengajak ia untuk turun dan mengikuti kekamar tersebut.

Duduk, Yon, kamu mau minum apa?Dewi berkata setibanya mereka didalam kamar.

Eh, apa saja Bu, jawab Yono masih dalam keadaan bingung.

Kemudian Dewi memesan minuman lewat telepon, tak lama berselang minuman tersebut datang, Dewi segera membayar minuman tersebut, dan menyerahkan salah satu minuman tersebut ke Yono.

Yon, saya minta kamu untuk menjaga rahasia ini, jangan sekali-sekali kamu cerita hal
ini kepada siapapun, seandainya saya mendengar kamu membocorkan rahasia ini, saya akan memecat kamu, tapi kalau kamu bisa menjaga rahasia ini, saya akan membuat kamu senang, kamu mengertikan,Dewi berkata dengan sedikit mengancam.

Baaikk..Bu, saya janji tidak membocorkan rahasia ibu kepada siapapun,jawab Yono

Bagus, saya akan memegang janjimu itu,kata Dewi

Ayo minum,kata Dewi.

Yono hampir tersedak saat meminum minumannya, ia sangat kaget dengan aksi Dewi didepan matanya, ia melihat kedua tangan Dewi dengan lemah gemulai menarik ikatan roknya yang berada ditengkuknya, dengan terlepasnya ikatan dibelakang tengkuk Dewi kedua tali rok tersebut segera meluncur turun dan membuat kedua payudara Dewi tidak tertutup apapun, Yono melihat kedua bukit kembar Dewi dengan mata terbelalak, dengan perlahan dan pasti kontolnya mulai berdiri, tak terbayangkan oleh Yono akhirnya ia dapat melihat dengan jelas kedua bukit kembar Dewi yang putih mulus, perasaannya berkecamuk antara bingung dan tidak percaya, rasanya ia seperti sedang bermimpi, Yono tidak menyangka hal ini akan terjadi.

Didepan mata Yono sekarang Dewi hanya mengenakan CD saja, bentuk tubuh Dewi yang sexy dan kulit yang putih mulus membuat Yono menelan air liurnya berkali-kali,
mulutnya terbuka lebar, matanya melotot melihat itu semua. Dalam hatinya ia merasa beruntung sekali dapat menikmati pemandangan ini, kalau hal seperti ini yang harus dijaga kerahasiaannya sudah pasti ia akan menjaga rahasia ini sampai mati.

Dewi yang masih mengenakan CDnya mulai menghampiri Yono yang masih terkesima, diambilnya gelas ditangan Yono dan menaruhnya dimeja, kemudian Dewi menarik tangan Yono untuk berdiri dan menuju kearah tempat tidur, didorongnya tubuh Yono sehingga terlentang diatas tempat tidur, tanpa basa-basi lagi Dewi mulai melucuti celana Yono beserta CDnya, barang pusaka Yono yang sudah tegang terpampang didepan matanya saat Dewi menarik CD Yono, Dewi mulai mengelus-elus batang kemaluan tersebut, bau khas dari batang kemaluan lelaki tercium oleh Dewi membuat dewi semakin bergairah, dengan tangan masih mengelus-elus batang kemaluan tersebut, lidah Dewi mulai bermain dengan lincah menjilati kepala kontolnya, sambil sekali-sekali batang kemaluan tersebut dia kulum-kulum, Yono mendesah kenikmatan, batinnya berkata mimpi apa aku semalam, sehingga kontolku diselomoti dan dijilati oleh nyonyanya yang cantik dan sexy.

Ooohhhooohhhssshhhhaahhhh,Yono mendesah kenikmatan, matanya merem melek akibat selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya.

Yono betul-betul beruntung, bukan saja ia dapat menikmati pemandangan tubuh nyonyanya yang sexy dan mulus secara nyata, tapi ia dapat merasakan bibir nyonyanya yang lembut sedang mengulum-ngulum kontolnya, selama ini ia hanya dapat membayangkan tubuh nyonyanya saja, saat menunggu, saat bermimpi ataupun saat bermain dengan istrinya, tidak pernah bermimpi ia akan merasakan kuluman bibir nyonyanya ini.

Yono hanya dapat terbaring pasrah menikmati kuluman mulut Dewi dikontolnya, Yono hanya dapat mengangkat pantatnya saat kontolnya itu berada dalam kuluman mulut Dewi, Yono belum berani melakukan hal yang lebih dari itu, tangannyapun belum berani menyentuh rambut dan kepala Dewi, yang dapat ia lakukan hanya meremas sprei tempat tidur saja, dan mulutnyapun hanya mengeluarkan desahan-desahan saja serta lenguhan-lenguhan nikmat.

Yono memang sudah dari tadi sore menahan hasrat nafsunya saat membayangkan tubuh Dewi, dan kontolnya sudah dari tadi ingin merasakan lubang vagina dan gairah birahinya sudah memuncak dari tadi, sehingga saat Dewi mulai mengulum-ngulum serta menjilati dan mengocok kontolnya, Yonopun tidak bertahan lama dengan serangan Dewi tersebut, puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh, pendakian bukit kenikmatannya hampir sampai, dengan tubuh yang mengejang dan dengan pantat terangkat seolah menyambut mulut Dewi untuk lebih dalam lagi mengulum kontolnya.
Aaaaahhhhh.Buuuaaaakkuu tidak taahannlaaagiaakuuukheeeluuarrrooohhh ssshhhaaaahhh,Yono melenguh menikmati puncak kenikmatannya.
Cccrrreeetttt..ccreeeettt.cccrreeeetttccreeeett tt. kontolnya menyemprotkan air maninya kewajah Dewi, Dewi merasakan hangatnya sperma Yono membasahi wajahnya, batang kemaluan Yono mulai Dewi usap-usapkan kewajahnya yang sudah berlepotan air mani Yono, sehingga seluruh wajahnya penuh dengan sperma Yono, seiring dengan semprotan terakhir dari kontolnya Yono, Dewi kembali memasukkan batang kemaluan tersebut kedalam mulutnya dan menghisapnya, sehingga membuat Yono mengejang merasakan nikmat yang sangat luar biasa saat kontolnya menyemprotkan tetes terakhir air maninya tersebut, belum pernah selama ini Yono merasakan nikmat yang sangat hanya dengan kuluman mulut saja, entah karena dia memang selalu membayangkan Dewi atau karena hebatnya permainan mulut Dewi.

Batang kemaluan Yono sudah tidak tegang lagi, Dewipun beranjak dari selangkangan Yono, ia mulai membuka celana dalamnya, sehingga tubuhnya yang indah sekarang menjadi polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh sexynya, Dewipun mulai berjongkok diwajah Yono, kedua tangannya berpegangan diranjang bagian atas, Yono langsung mengerti apa yang dikehendaki oleh nyonyanya ini, Yonopun mulai menjilati itil Dewi, aroma kemaluan Dewi sungguh berbeda dengan aroma kemaluan istrinya, dengan penuh nafsu Yono menjilati, menciumi dan menghisap itil Dewi, terdengar suara decakan keluar dari mulut Yono saat mulutnya menghisap dan menjilati bibir kemaluan dan itil Dewi. Dewipun dibuat melenguh keenakan, Yonopun sudah mulai berani untuk menjamah kedua bongkah pantat Dewi dan mulai meremas-remasnya. Dewipun mulai menikmati jilatan dan hisapan Yono dikemaluannya, Dewipun mengimbangi permainan lidah dan mulut Yono dengan memaju-mundurkan pantatnya sehingga kelentitnya lebih bergesekan dengan lidah dan mulut Yono, Yono merasakan pantat Dewi kadang-kadang mengejut-ngejut saat mulutnya menghisap itilnya Dewi.

Lenguhan dan desahanpun mulai terdengar keluar dari mulut Dewi, sementara suara decakan Yono semakin bertambah sering terdengar, ssslrrrrppppsssllrrppppssslrrrppp tidak puas dengan hanya menjilat dan menghisap saja Yono mulai dengan aksi jari tangannya yang mulai menerobos lubang kenikmatan Dewi, pertama-tama hanya jari tengahnya saja yang mengocok vagina Dewi, lama-lama jari manisnya ia masukkan juga kedalam lubang vagina Dewi, membuat Dewi bertambah kelojotan menikmati sensasi jari-jari tangan Yono dan mulut Yono. Jari tangan Yono semakin aktif keluar masuk dilubang vagina Dewi, biarpun Yono hanya seorang supir tapi soal oral seks Yono betul-betul ahli, ditambah dengan permainan jari tangannya yang seperti pemain film BF, betul-betul membuat Dewi bergelinjang menikmati permainan oral seks dan jemari Yono divagina dan kelentitnya.

Hhmmmhhhaaaahhh.teruuusssooohhhteruuusssYooo nnnkamu heeebaat. Aaahhhkocok memekkkuuu.hisaapp itilkkuuuooohhh yaahhh., Dewi melenguh keenakan menikmati permainan jari Yono dan hisapan-hisapan Yono di kelentitnya.

Yono semakin bertambah semangat mendengar erangan-erangan nikmat dewi, permainan mulut dan jari tangannya semakin bertambah menggila, membuat Dewi semakin menggelinjang keenakan, Dewi belum pernah merasakan nikmat seperti ini saat seseorang melakukan oral seks kepadanya, Dewipun merasa kagum kepada Yono yang dapat memberikan kenikmatan hanya dengan oral seks.

Uugghhhaaaaahhhh.ooohh..nikmmaatttaaakuu tidak tahan lagiaaahhh terus Yooon, akuu mauu keluar,Dewi menjerit kenikmatan saat dirinya mencapai puncak kenikmatannya.

Sssrrrrrssrrrrssrrrrlubang kemaluan Dewi menyemprotkan cairan kenikmatannya, Yono yang merasakan memek Dewi semakin basah semakin bertambah cepat mengocok jari tangannya dilubang vagina Dewi dan mulutnya semakin bertambah kuat menghisap itil Dewi, sehingga membuat Dewi semakin blingsatan menikmati sensasi puncak kenikmatannya, tubuhnya mengejang pantatnya mengejan-ejan, pegangan tangannya semakin mencengkram kuat.

Aaaggghhheeeddaaannnikmat sekaliOoouughhhhYoonn, kamu betul betuull hebattttt.ssshhh.aaaaahhh, Dewi mengerang.

Dengan nafas yang masih terengah-engah Dewi merebahkan tubuhnya disamping Yono, ia melihat batang kemaluan Yono sudah berdiri dengan gagahnya, Dewi terkesima melihat hal itu, hatinya membatin cepat juga pulihnya padahal belum terlalu lama dia barusan menyemprotkan spermanya, Yono sendiri bingung merasakan kontolnya sudah ngaceng lagi, biasanya sehabis berhubungan dengan istrinya kontolnya sudah tidak mau bangkit lagi, sementara saat ini kontolnya itu sudah berdiri dengan gagahnya siap untuk mengaduk-aduk lubang kenikmatan Dewi, tapi Yono tidak mau lancang terhadap nyonyanya ini, sebelum Dewi memintanya untuk menyodokkan kontolnya kememek Dewi, Yono hanya diam pasrah saja, hanya matanya yang berani melirik ketubuh Dewi, Yonopun tidak mau membuang kesempatan untuk menikmati pemandangan itu, karena dalam pikirannya kapan lagi aku dapat memandangi tubuh telanjang nyonyanya ini.

Dewi termasuk wanita yang selalu haus akan seks, dirinya selalu haus akan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki, apalagi sekarang ini Dewi sudah lama tidak merasakan batang kemaluan lelaki menyodok memeknya, tidak ada yang mengira bahwasanya Dewi adalah wanita yang haus akan seks, dari wajahnya tidak Nampak bahwasanya Dewi adalah wanita yang binal, Yono sendiri heran akan tingkah nyonyanya yang mengajaknya bermain seks di hotel, ia juga tidak menyangka sama sekali nyonyanya sangat agresif, dari pernampilannya tidak nampak bahwa Dewi akan melakukan hal tersebut, tapi Yono tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut, buatnya yang penting ia dapat menikmati tubuh nyonyanya, walaupun baru hanya dapat menjilati memeknya saja.

Selang beberapa saat, Dewi mulai beranjak menaiki tubuh Yono yang masih terlentang, diraihnya batang kemaluan Yono, diusap-usapkannya kepala kemaluan itu ke vaginanya, Dewi merasakan kontolnya Yono sangat keras sekali, kelentitnya terasa geli oleh sentuhan kepala kemaluan Yono, Dewi mendengus kegelian, Yono sendiri merasakan kegelian saat kepala kontolnya tersentuh dengan bibir vagina Dewi, beberapa kali Dewi mengusap-usapkan kepala kemaluan tersebut kebibir vaginanya, membuat Dewi menggelinjang sendiri, lubang vaginanya mulai terasa gatal kembali ingin segera digaruk oleh kontolnya Yono, Yono juga tidak tahan dengan rasa geli yang ia rasakan pada ujung kepala kontolnya, ingin rasanya ia memasukkan cepat-cepat kontolnya ke memek Dewi, tapi agar tidak dibilang lancang Yono hanya dapat diam pasrah, mengikuti irama permainan nyonyanya ini.

Satu tangan memegangi batang kemaluan Yono, sambil terus mengoles-oleskan kebibir vagina dan kelentitnya, satu tangan lagi mulai menguakkan bibir vaginanya, Yono hanya dapat melihat tingkah polah nyonyanya ini, dan ia juga melihat bibir vagina Dewi mulai terkuak, lubang kenikmatannya mulai terpampang dihadapan matanya, Yono hanya dapat menelan ludah melihat itu semua, ia hanya bisa diam mengikuti irama permainan Dewi, tapi hatinya resah ia ingin sekali merasakan kontolnya dijepit oleh lubang kenikmatan Dewi, ingin rasanya ia mengaduk-aduk lubang tersebut dengan kontolnya yang sudah sangat tegang itu.

Pucuk dicinta ulam tiba, penantian yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, dengan perlahan-lahan Dewi mulai mengarahkan kepala kemaluan Yono kelubang vaginanya, diselipkan kepala kemaluan itu dibibir vaginannya, dengan perlahan-lahan Dewi mulai menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Yono dengan perlahan tapi pasti mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Dewi.

Sleeeeppp..bleessssblessss..blesssss perlahan tapi pasti batang kemaluan Yono tertelan oleh lubang vagina Dewi sehingga tidak terlihat lagi, Yono melihat kontolnya masuk perlahan-lahan di memek Dewi, Yono melihat sekarang jembutnya dan jembut Dewi bertemu saat kontolnya tertelan seluruhnya oleh memek Dewi.

Dewi merasakan batang kemaluan Yono memenuhi rongga vaginanya, dan ia juga merasakan kelentitnya bersentuhan dengan jembut Yono, dengan memejamkan mata Dewi mulai memutar pantatnya dengan perlahan, Dewi merasakan lubang memeknya seperti diaduk-aduk oleh kemaluan Yono, sementara Yono sendiri merasakan kontolnya seperti dipilin-pilin oleh dinding vagina Dewi, lenguhan dan desahan mereka mulai terdengar bersahutan, Dewi juga merasakan sensasi yang sangat luarbiasa saat kelentitnya bergesekan dengan jembut Yono, tangannya segera meraih kedua tangan Yono, ditariknya tangan Yono kearah dadanya, kedua telapak tangan Yono didaratkannya dikedua bukit kembarnya, dan mulai digerakkannya, seolah ia menyuruh Yono untuk meremas kedua payudaranya, Yono yang memang dari awal ingin sekali meremas tetek Dewi tanpa membuang waktu segera meremas-remas kedua bukit kembar tersebut, remasan-remasan lembutnya penuh nafsu birahi, matanya menatap kedua bukit kembar itu yang berada dalam cengkramannya, tapi kedua bukit kembar tersebut cukup lumayan besar sehingga kedua telapak tangannya tidak dapat menutupi kedua bukit kembar tersebut.

OooohhhsshhhaaahYon, kontolmu, enaaakssshhhaaaahhh, desah Dewi sambil terus memutar pantatnya.

Desahan, erangan dan lenguhan Dewi semakin sering terdengar, pantatnya bergantian aksinya antara berputar dan maju mundur, kadang-kadang pantat Dewi berputar memilin-milin batang kemaluan Yono, kadang-kadang gerakannya maju mundur, saat pantatnya bergerak maju mundur Dewi merasakan kelentitnya bertambah gatal karena bergesekan dengan jembut Yono, belum lagi remasan-remasan tangan Yono yang penuh nafsu dikedua bukit kembarnya, semua itu menambah sensasi persetubuhan mereka.

Yono hanya dapat mengerang-ngerang keenakan merasakan kontolnya berada dalam jepitan memek Dewi, kadang-kadang ia merasa kontolnya sedang dipilin-pilin oleh dinding vagina Dewi, kadang-kadang ia merasakan kontolnya keluar masuk di vagina Dewi, remasan tangannya semakin menggila di payudara Dewi, sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, kedua puting susu Dewi semakin mengeras dan mencuat kedepan.

Hhhmmmmaaaaaggghhssshhhooohhh,erang Yono menikmati persetubuhan ini.

Dewi semakin menggila memaju mundurkan pantatnya, dengan tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya kebelakang, seolah-olah ia ingin kontolnya Yono semakin dalam menerobos kedalam lubang vaginanya.

OoouuggghhhYon, aakuukeeeluuaaarrr.sssshhhhaaaaaggghhhooohhh, Dewi mengerang merasakan letupan birahinya yang menerobos keluar dari lubang vaginanya.

Sssrrrrsssr.ssrrrr..cairan kenikmatan Dewi menyemprot membasahi batang kemaluan Yono.

Akkkuu..jugaa.mau keluuaar..Buooouugghhh,Yono pun mengerang, kontolnya menyemprotkan lahar kenikmatannya kedalam lubang vagina Dewi.

Crrreeettt.,creeettttcreettt..sperma Yono membasahi lubang vagina Dewi, Dewi merasakan hangat didinding lubang vaginanya saat sperma Yono menyemprot, dan ia juga merasakan batang kemaluan Yono berkedut-kedut, sementara itu Yono merasakan kontolnya seperti diremas-remas oleh dinding vagina Dewi.

Dewipun ambruk, tubuhnya tertelungkup diatas tubuh Yono, ia merasakan batang kemaluan Yono masih berdenyut-denyut, Yono yang terbaring pasrah dengan tubuh Dewi yang tertelungkup diatasnya masih merasakan detik-detik kenikmatannya, Yono merasakan kontolnya masih berdenyut-denyut meneteskan tetes-tetes spermanya dan ia juga masih dapat merasakan denyutan dinding vagina Dewi.

Perlahan-lahan batang kemaluan Yono mulai menciut dan terlepas dari jepitan vagina Dewi, sementara nafas mereka berdua masih tersengal-sengal, Dewi merasakan saat kontolnya Yono mulai terlepas dari jepitan vaginanya itu dan ia juga merasakan sperma Yono mulai mengalir keluar dari lubang vaginanya.

Tak lama kemudian Dewi beranjak bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh, setelah Dewi selesai membersihkan tubuhnya, Yonopun beranjak untuk membersihkan kontolnya, Yono melihat kontolnya berkilat akibat basah oleh cairan kenikmatan Dewi, saat keluar dari kamar mandi Yono melihat Dewi sudah mengenakan roknya kembali, dengan segera ia juga mengenakan pakaiannya.

Ingat, Yon, kamu jangan membocorkan rahasia ini, kata Dewi.

Baik, Bu, jawab Yono sambil mengenakan pakaiannya.

Setelah selesai mereka berdua kembali kemobil dan meluncur pulang, jam menunjukkan pukul 12 malam, saat mereka tiba dirumah, Dewipun masuk kedalam rumah sambil kembali mengingatkan Yono untuk bias menjaga rahasia, Yonopun mengiyakan, selesai memarkir mobil digarasi, Yonopun beranjak pulang dengan senyum bahagia tersungging dimulutnya, dalam perjalanan pulang ia membayangkan kejadian yang baru saja dia alami. Hatinya bergumam hari ini adalah hari keberuntunganku, hari ini aku dapat menikmati tubuh nyonyaku yang sexy dan indah tersebut secara nyata tanpa perlu membayangkan. Mudah-mudahan nyonyanya masih mau meminta ia untuk menyetubuhinya, sehingga ia dapat merasakan kembali keindahan tubuh nyonyanya terutama memek nyonyanya yang enak luarbiasa.

TAMAT



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.