Kumpulan Cerita Favorit

Category Archives: Sedarah

aku Enos 30 tahun. sudah menikah, istriku seusia denganku dan kami punya anak satu. kami tinggal dengan adik iparku bernama titin, umurnya 27 tahun. kalau aku ditanya siapa wanita terseksi maka jawabannya adalah adik iprku itu. titin punya tubuh yang luar biasa menarik dalam pandanganku. wajahnya memang biasa tapi selalu enak dipandang.

tingginya 162, berat 45. yang membuatku sangat mengaguminya adalah payudara pinggul dan pantatnya. bh 36A, pinggul berlekuk sempurna hampir tanpa lemak dan pantat yang membulat keatas.

caranya berpakaian dan sikapnya dirumah membuatku dapat menikmati pemandangan indah itu dengan leluasa.

sering aku curi pandang kearah dadanya, hampir tiap malam aku bangun dan mengintipnya sedang tidur. membuatku sering masturbasi.

aku sering berfantasi sedang menikmati tubuh indah itu bahkan saat aku sedang bercinta dengan istriku.

aku selalu berpikir keras bagaimana caranya aku bisa menikmati tubuh titin tanpa terjadi masalah. kalau dia mau bercinta suka sama suka tentu tak masalah, tapi akukan suami kakaknya.

suatu hari istriku pulang ke semarang menengok ibunya yang sakit. sedang titin karena kerja tinggal dirumah.

kesempatan yang jarang seperti ini harus kumanfaatkan. malam harinya saat akan tidur aku memasukkan obat tidur dosis tinggi dalam teh yang diminum titin.

hampir jam 12 malam aku masuk kekamarnya. mengetuk dan untuk memastikan obat itu sudah bekerja aku memanggilnya. karena tidak ada jawaban aku masuk dan menyalakan lampu.

tubuh titin tergeletak indah diatas ranjangnya. dasternya membentuk setiap lekuk tubuhnya. puting susunya terbentuk jelas.

darahku mengalir lebih cepat, nafasku jadi berat. kudekati titin pelan kuraba kakinya tiada reaksi terus kepahanya. titin diam tak bergerak, rupanya obat tidur itu kuat luar biasa.

kutarik dasternya melepaskan dari tubuhnya. tidak sulit karena tubuhnya lemas tertidur pulas.

sekarang tubuh yang kuidam-idamkan tergolek telanjang tanpa sehelai benangpun.

kulepas pakaianku, kontolku melompat keluar dengan semangat berdiri tegak ingin merambah vagina titin.

kuremas susunya, titin mengeluh pelan kutarik tanganku kaget. rupanya ia tetap tertidur. susunya terasa kenyal padat. seperti mangga ranum.

kuremas lagi susunya, aku terangsang berat. sekarang mulutku yang menghisapi putingnya, buas mengigiti lembut. tanganku meraba selangkangannya. setiap kali titin mendesah tapi tetap tertidur. mungkin ia terangsang dibawah alam sadarnya. tapi yang jelas desahannya menambah tinggi gairahku.

jariku pelan menusuk liangnya, mengocok pelan. hangat terasa lubangnya. setelah beberapa kali kocokan akhirnya jariku leluasa bergerak, anehnya vaginanya basah oleh cairannya.

“WOOOWWW…… ini lebih dari yang kuharapkan!” pekikku dalam hati.

kuputar posisiku menjadi 69. walau titin tidak menghisap kontolku, kugosok kontolku di wajahnya. nikmat terasa tegangnya kontolku menggesek wajahnya.

kujilat rambut vaginanya. kucari liang yang sudah kutusuk tadi. bibir vaginanya tersingkap berwarna merah muda warna perawan.

dengan nafsu kujilati bibir vagina itu, suaraku seperti sedang orang makan rujak. kuisap klitorisnya. nikmat menyerang tubuhku. lidahku masuk menyeruak kedalam vaginanya. terasa tubuh titin bergerak lembut. sungguh aku tak mengerti, apakah titin merasakan cumbuanku dalam tidurnya?

lidahku bertemu dengan rasa khas vagina, lendir licin dan hangat bercampur dengan liurku. sambil itu kuremas dengan gemas pantatnya yang kenyal dan padat.

tubuhku yang menindih tubuhnya meliuk meresapi kenikmatan ini. ku coba memaksa kontolku masuk ke mulutnya. agak susah tapu akhirnya sebagian batang kejantananku tenggelam kemulutnya. kukocok kontolku sambil membayangkan titin mengulumnya. nafsu rendahku membuatku menikmati gesekan mulut, bibirnya di batangku.

hampr 10 menit aku melakukan seks posisi 69 itu sendiri. aku cukup puas walau titin tidak sadar. kontolku mulai terasa penuh. kutarik dan kuputar tubuhku dalam posisi tradisional. vagina titin yang telah membuka dan kontolku yang keras seperti batu bertemu. sulitnya kumasukkan kontolku. butuh upaya sampai akhirnya dengan pelan kontolku menembus vagina titin.

“SLEEPPP”

“AAGGGGHHHHH……” aku mengerang nikmat.

kubiarkan kontolku meresapi kontraksi lembut vagina titin. remasan yang rupanya terjadi tanpa sengaja. aku juga heran perempuan yang tidurpun cairan kimia dalam tubuhnya dapat bereaksi tanpa diminta.

setelah menikmati itu, kukocok pelan kontolku, tubuh titin berguncang lembut. kupacu nafsuku diatas tubuh adik iparku yang menggairahkan.

benar-2 pengalaman yang menegangkan dan indah.

hampir 10 menit akhirnya kontolku tidak bisa menahan desakan spermaku yang mau muntah. kutarik dan kutumpahkan maniku dibajuku.

aku terkapar lemas di atas tubuh adik iparku itu. menikmati setiap tetes kenikmatan yang mengucur.

aku memilih tidur sambil memeluki tubuh titin. sampai jam 4 pagi aku memakaikan lagi dasternya dan pindah kekamarku.

malam itu berlalu dengan indah.

TAMAT


Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Dewi baru saja beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamar tidurnya, setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, iapun keluar dari kamar tidurnya menuju kedapur untuk membuat sarapan.
Setibanya di dapur Dewi melihat Doni anak tirinya sedang membuat kopi, saat itu Doni hanya memakai celana boxer saja, Dewipun menyapa Doni sesaat ia berada disamping Doni.

Kamu tidak sekolah, Don?? Dewi bertanya.

Eh, mami, mami lupa yach!!, kan kemarin hari terakhir aku ujian, jadi hari ini libur sampai pengumuman hasil ujian, jawab Doni.

baru bangun mih??, Doni balik bertanya, mau kubuatkan kopi

Heeh, boleh tuch, jawab Dewi.

Dewi memperhatikan tubuh anak tirinya ini, Doni mempunyai tubuh yang sangat atletis, dadanya bidang dan berotot, Dewi tahu Doni sering sekali berolahraga, tingginya sekitar 180 cm, berbeda dengan ayahnya yang pendek, dari samping Dewi mengagumi tubuh anak tirinya ini, saat pandangan mata Dewi jatuh di boxer Doni, ia melihat tonjolan di celana boxer Doni, melihat itu Dewi menelan ludahnya, dan ia tahu bahwa Doni saat ini tidak mengenakan celana dalamnya dan kontolnya sedang tegang-tegangnya, dari balik celana boxernya Dewi tahu juga bahwa Doni mempunyai kontol yang besar dan panjang.

Mih, nich kopinya, Doni berkata.

Eehh..iyach, makasih, Don! sahut Dewi.

Doni tidak mengetahui bahwa dari tadi mamihnya memandangi tonjolan di celananya dengan penuh nafsu.

Papih, kapan pulang, mih?? Doni bertanya

Masih lama, Dewi menjawab.

Ooohh, aku kekamar dulu yach, mih! lanjut Doni, mo chatting dulu ama temenku

Heeh, Dewi mengiyakan.

Seperginya Doni, Dewi merasakan lubang senggamanya berdenyut-denyut, ingin merasakan kembali sodokan-sodokan kontol-kontol yang besar, sambil menikmati kopinya, tangan kanannya mulai mengelus-elus vaginanya, sementara pikirannya membayangkan pemandangan tadi, membayangkan seandainya kontol Doni dielus-eluskan di itilnya dan dibibir memeknya. Batinnya menjerit memanggil nama Doni sambil merasakan sentuhan tangannya di memek dan itilnya, lubang senggamanya mulai basah karena gelora birahinya yang mulai bangkit, Dewi sendiri merasa heran sendiri kenapa sekarang ini birahinya cepat sekali terangsang, sekarang ini Dewi merasa selalu kehausan ingin dipuaskan, libido seksnya semakin meninggi dibandingkan dengan sebelum ia pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya.

Semakin lama elusan tangannya semakin cepat, gairahnya semakin memuncak, lubang senggamanya semakin gatal ingin digaruk kontol besar, gairah birahinya ingin cepat dipuaskan, batinnya berkecamuk antara ingin dientot oleh Doni merasakan kontol Doni mengaduk-aduk lubang senggamanya dengan ketakutan seandainya Doni tidak mau lalu melaporkan hal itu ke papihnya atas kelakuan dia.

Tapi nampaknya nafsu birahinya yang menang, akhirnya Dewi melangkah menuju kamar anak tirinya, sesampainya didepan pintu kamar Doni, dengan perlahan-lahan Dewi membuka pintu kamar Doni, Dewi terkejut melihat pemandangan di depan matanya, Dewi melihat Doni sedang telanjang dan duduk diatas karpet membelakangi pintu, sementara kedua telinga Doni tertutup oleh earphone dan dilayar komputer Dewi melihat adegan seks, rupanya Doni sedang menonton film BF, dan Dewi juga melihat Doni sedang mengelus-elus kontolnya yang sudah ngaceng, melihat ini semua membuat birahi Dewi semakin memuncak, Dewipun melangkah masuk kekamar Doni lalu menutup pintunya, didekatinya Doni dari arah belakang, Doni yang sedang asyik tidak mengetahui bahwa Mamihnya sedang menyaksikan perbuatannya itu.

Setelah menanggalkan dasternya, Dewi kemudian mendekati Doni, dipeluknya tubuh Doni, diciuminya tengkuk dan telinga Doni, kedua payudaranya ia tempelkan dipunggung Doni, sambil berbisik,

Doonn,.. sini mamih bantuin, Dewi mendesah lirih sambil tangan kanannya meraih kontol Doni lalu mengelus-elusnya.

EehhMih, oouughhssshhhhaachhh Doni terperanjat kaget akan perbuatan Dewi, tapi ia menikmati sentuhan tangan Dewi yang halus di kontolnya, kagetnya hilang berganti dengan kenikmatan.

Aksi Dewi semakin bertambah, dari tengkuk dan telinga ciumannya menjalar kedepan kedada Doni, dijilatinya kedua puting Doni bergantian, sementara tangannya semakin gencar mengelus-elus kontol Doni, membuat Doni semakin mengerang keenakan, lenguhan-lenguhan kenikmatan keluar dari mulut Doni, Dewi lalu mendorong tubuh Doni sehingga telentang diatas karpet, ciuman dan jilatan Dewi semakin menggila dari dada turun keperut, dari perut turun ke selangkangan Doni, Doni semakin menggelinjang mendapatkan serangan Dewi, tubuh Doni melenting menikmati jilatan Dewi ditubuhnya.

Aaghhhh.Miiihh, eenaaakkkkk.Aaaaaggghh Doni mengerang keenakan ketika kontolnya dijilati dan dikulum-kulum oleh Dewi.

Sllrrppp.sssllrrpppp.. Dewi asyik menjilati dan mengulum-ngulum kontol Doni.

Miihhh, aakkuu gak taahhaannouughh..aakkuu..mau keluaar nich..ooughh Doni merintih.

Mendengar Doni mau keluar Dewi semakin cepat mengulum-ngulum kontol Doni, tak lama kemudian,

Creetttcreeettt..cccreeetttkontol Doni menyemburkan lahar kenikmatannya didalam mulut Dewi.

Ougghh.. Dewi tersedak akibat tembakan sperma dari kontol Doni

Gleekkk..ssllrppp.gleekkk..sslrrppp terdengar Dewi menelan sperma Doni sambil menghisap-hisap kontol Doni, membuat Doni semakin merem-melek, kontolnya mengedut-ngedut semakin kencang.

Sesaat kemudian kontol Doni berhenti mengedut-ngedut, Dewipun puas mendapatkan sperma perjaka, dan Dewi kaget melihat bahwa kontol Doni tetap keras meskipun barusan telah mengeluarkan sperma, Dewi tidak merasakan kontol Doni yang sedang dalam genggamannya akan mengecil.

kamu puas, Don Dewi bertanya lirih.

Iyach, Mih, Doni menjawab

kamu masih pengen khan, kembali Dewi bertanya

heeh Doni mendesah

Kemudian Dewi berjongkok diatas tubuh Doni, kontol Doni ia arahkan kelubang memeknya yang sudah basah dari tadi. Dioles-oleskannya kepala kontol Doni di itilnya, Dewi merasakan geli-geli nikmat saat itilnya tersentuh oleh kepala kontol Doni, sementara Doni sendiri menggelinjang kegelian saat kepala kontolnya menyentuh itil mamihnya, belum pernah Doni merasakan sensasi seperti ini, biasanya kontolnya itu ia kocok sendiri kalau lagi tegang karena nonton BF, jadi Doni belum pernah merasakan kontolnya itu bersentuhan dengan itil apalagi sampai merasakan dijepit memek.

Setelah puas mengoles-ngoleskan kontol Doni, Dewi mulai menyelipkan kepala kontol Doni dibelahan memeknya, Dewi melenguh saat kepala kontol Doni mulai terjepit dilubang senggamanya, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh kepala kontol Doni, perlahan-lahan Dewi mulai menurunkan pantatnya,

SleeppBleeessss.

Uuugghhh. Dewi melenguh saat kontol Doni mulai menerobos masuk dalam lubang senggamanya,

Doni sayang, kontolmu besar sekali, sesak memekku dibuatnya, lanjut Dewi sambil mulai menekan pantatnya lagi.

Bleeesss..

aaagghhh.Mih, sempit sekali memekmu, Doni mengerang merasakan kontolnya yang terjepit erat oleh memek Dewi.

bukan memekku yang sempit sayang, tapi kontolmu yang besar, ooohhhhh, enak sekali kontolmu ini, Dewi mengerang manja, sambil menekan lagi pantatnya kebawah perlahan-lahan,

Bleesss.bleessss..

Dan,
Uuuugghhhh., Dewi menjerit lirih, saat kepala kontol Doni menyentuh dinding rahimnya,
Sensasi nikmat yang Dewi rasakan kali ini berbeda dengan sensasi nikmat yang pernah ia dapatkan sebelumnya, lubang senggamanya betul-betul penuh sesak oleh jejalan kontol Doni, ini membuat dinding vaginanya berkedut-kedut sendiri, sementara Doni merasakan batang kontolnya seperti dipijat-pijat oleh dinding vagina Dewi, yang membuat ia merem melek.

Kemudian Dewi mulai mengangkat turunkan pantatnya perlahan-lahan, tangannya bertumpu di dada Doni, Dewi merasakan batang kontol Doni menggesek dengan erat dinding vaginanya, memeknya yang sudah basah tidak terlalu berpengaruh karena besarnya kontol Doni, gesekan-gesekan didinding vaginanya sangat terasa ketat sekali, Donipun merasakan yang sama, apalagi persetubuhan ini adalah kali pertama buat Doni, Doni merasakan perbedaan yang sangat besar antara gesekan tangan dia dibandingkan dengan gesekan memek mamih tirinya ini.

Keduanya mulai melenguh, mendesah dan merintih menikmati persetubuhan ini, gerakan naik turun Dewi semakin lancar seiring semakin membasahnya lubang kenikmatannya, cairan-cairan kenikmatan dari kedua kemaluan mereka semakin banyak, sehingga memudahkan pergeseran kelamin mereka.

Keirngat mulai mengalir dari kedua tubuh mereka, goyangan Dewi yang semakin cepat membuat kedua bukit payudaranya bergoyang naik turun, pemandangan ini membuat Doni semakin bernafsu, Donipun bangkit dari posisi telentangnya, dipeluknya tubuh Dewi, mulutnya bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi, membuat puting susu Dewi semakin mengeras, perbuatan Doni merubah gaya naik turun Dewi menjadi maju mundur, kuluman dan hisapan Doni di kedua payudaranya membuat Dewi semakin bernafsu, lenguhan-lenguhan kenikmatannya semakin terdengar.

Dengan posisi duduk seperti ini itil Dewi lebih sering bersentuhan dengan batang kontol Doni, sehingga menambah sensasi kenikmatan Dewi semakin menjadi, gerakan maju mundur Dewi bertambah cepat, mengimbangi kuluman dan hisapan Doni dikedua payudaranya. Kedua tangan Doni yang tadinya hanya memeluk Dewi, mulai beraksi juga, Doni mulai meremas-remas kedua bongkah pantat Dewi, sambil meremas-remas Donipun membantu menekan pantat Dewi bertepatan dengan gerakan maju Dewi, sehingga membuat kontolnya masuk lebih dalam kedalam memek Dewi, aksi Doni ini membuat Dewi mengerang karena sodokan kontol Doni didinding rahimnya semakin terasa.

Aaagghhhssshhhh.ooouucchhhhterussss..Doon , yaachhh..hisaaappp..teeetekku,erang Dewi.

Hhmmmmsssllrrppphhmmmhhmm..ssssllrppp, Doni mengiyakan permintaan mamihnya.

Yaaacchh teeekaaannpaantatkuuooucchhhaaaagghhh, lagi-lagi Dewi mengerang saat Doni menekan pantatnya membantu gerakan majunya.

Tak lama kemudian,

Miiihhhh, hhmmmhhsssllrpp.aaakkkuu..ssslrpp.mauu..keluaar r..laaagiiii.., Doni melenguh, sambil mulutnya tetap menghisap-hisap tetek Dewi.

Taaahhaansebeentaarrr..ssaaayaang.kita saamaaankeeluarnya, jawab Dewi.

Slllllrrrpppp.aaaaacchhaaaaakkkuuu tiddak..ssslrpppppp Doni melenguh lagi dan,

Creeetttt..creeetttt.cccreeeetttt..

kontol Doni menembakkan spermanya dalam lubang senggama Dewi,

Aaagghhhhh.miiihhhaaaku kelluaaarmeemek mamihhh enaaakk sekaliiiaaaagghhh.., Doni mengerang keenakan saat kontolnya memuntahkan sperma dilubang kemaluan Dewi.

Dewi merasakan semburan hangat didinding rahimnya, dan Dewi juga merasakan kontol Doni berdenyut-denyut, merasakan ini semua Dewi semakin mempercepat gerakannya, iapun mendorong tubuh Doni sehingga telentang lagi, dipeluknya tubuh Doni, bibirnya memagut bibir Doni yang, pantatnya digerakkan naik turun dengan cepat, nampaknya Dewi tidak mau kehilangan kesempatan untuk merengkuh kenikmatannya.

Hmmmhhh.sslllrpp.hhmmmhhssllrppp., rintihan nikmat keluar dari kedua mulut Dewi dan Doni yang sedang berpagutan.

Tak lama kemudian, gerakan Dewi semakin tidak beraturan dan bertambah cepat, lalu dengan sekali hentakkan Dewi menekan pantatnya dalam-dalam,

Aaaggghhh.Dooonnnmamiihhh keluaaar jugaaaa..ooohhhh..eenak kontol besaaarmu ini, Dewi melenguh.

Ssssrrrr.sssssrrrrr..sssssrrrr lubang senggama Dewi menyemburkan lahar kenikmatan yang menyirami batang kontol Doni.

Doni merasakan pijatan-pijatan kuat dibatang kontolnya, saat lubang vagina Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.

Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Dewi menciumi Doni dengan mesra, keduanya berpagutan dengan mesra, beberapa saat kemudian setelah gairah nafsu mereka mereda, Dewi mengangkat pantatnya, kontol Doni yang mulai mengecilpun terlepas dari jepitan memeknya, Nampak kontol Doni mengkilat oleh sperma dan cairan kenikmatan dari memeknya, Dewipun merebahkan tubuhnya disamping Doni.

Makasih yach, sayang, kamu telah memberikan Mamih kepuasan, Dewi berkata sambil mengecup pipi Doni.

Aku juga, Mih, kata Doni sambil memeluk Dewi dan memberikan kecupan ringan dibibir Dewi.

Keduanya kemudian berpelukan sambil memejamkan mata mereka, di bibir mereka tersungging senyum kepuasan.

TAMAT


Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut dengan ibunya masing-masing, selain itu Dewi menikah dengan seorang Duda, sementara kedua temannya menikah dengan suami orang, dan suami mereka sekarang telah menceraikan istri-istri tuanya. Nita dan Hani hampir mempunyai sifat yang sama yaitu tipe wanita yang tidak mau sengsara, yang mereka pedulikan hanyalah harta kekayaan dari suami-suami mereka, mereka menikah juga tidak didasari dengan cinta.

Sudah dari dulu Nita dan Hani selalu mengajak Dewi untuk pergi bersama, mencari batang-batang kemaluan yang besar dan panjang untuk memuaskan birahi mereka dan Dewi selalu menolak ajakan itu. Tapi itu dulu, semenjak Dewi sudah beberapa kali merasakan kenikmatan atas sodokan-sodokan dari batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, Dewi selalu merindukan batang-batang kemaluan lelaki yang besar dan panjang.

Topik pembicaraan mereka siang ini tidak jauh berbeda dari dulu, yaitu tidak jauh dari selangkangan lelaki, hanya sekarang Dewi juga ikut aktif, dulu Dewi hanya sekedar pendengar setia sambil tersenyum simpul, kalau sekarang Dewi aktif bercerita tentang pengalaman-pengalaman seksnya, membuat kedua temannya ini melongo mendengar cerita Dewi itu.

Tak satupun kejadian yang telah dialami oleh Dewi yang disembunyikan termasuk ketika Dewi menikmati permainan seks dengan Doni-anak tirinya dan juga ketika bersetubuh dengan ketiga teman Doni, Nita dan Hani hanya dapat menelan ludah mendengar cerita Dewi itu, birahi mereka mulai bangkit mendengar cerita Dewi, apalagi ketika Dewi menceritakan melakukan seks dengan tiga lelaki sekaligus, yang belum pernah mereka alami selama ini.

Tak terasa waktu berlalu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 12 siang, perut mereka mulai meronta minta diisi, Dewi berinisiatip hendak menyediakan makanan untuk kedua temannya ini, Nita dan Hani mengikuti langkah Dewi kedapur, obrolan kembali berlanjut sambil sibuk menyiapkan makanan.

Tak lama kemudian makan siangpun tersaji, obrolanpun mereka lanjutkan di meja makan sambil menikmati makan siang mereka, penasaran dengan cerita Dewi, Hani dan Nita mengusulkan ke Dewi agar mereka bisa untuk ikut menikmati batang-batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, mereka berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk membuat hal itu terjadi, sedang asyiknya mereka menyusun rencana, mereka mendengar suara kunci yang terbuka dari arah pintu depan, Dewi tahu bahwa yang pulang itu adalah Doni anak tirinya, dan tebakan Dewi betul adanya, selang tak lama wajah Doni terlihat oleh mereka, Donipun memanggutkan kepala dan tersenyum kepada Hani dan Nita, lalu ia menghampiri Dewi.

Mih, sabtu ini kan aku Ulang Tahun, boleh tidak aku undang teman-temanku kesini untuk merayakannya, tanya Doni sesampainya dihadapan Dewi.

Oh, iyah, hampir Mamih lupa, berapa orang, terus apa saja yang harus Mamih sediakan, Dewi bertanya balik ke Doni.

Ah, gak banyak kok Mih, paling sepuluh orang termasuk aku sebelas jadinya, kayanya gak usah repot-repot dech, beli makanan jadi aja Mih, jawab Doni.

Yach klo cuman sebanyak itu sich, Mamih siapin sendiri aja, gak usah beli, paling kita beli kue ulang tahunnya dan minumannya saja, balas Dewi.

Ah kebetulan Sabtu ini, suamiku gak ada, dia pergi keluar kota, jadi aku bantuin kamu aja, Wi, sahut Nita.

Iyah, aku juga bantuin kamu dech, Wi, mumpung lakiku juga belon pulang, Hani ikut nimbrung juga.

Oh, iyach, Don, kenalin ini teman Mamih, ini tante Nita dan yang itu tante Hani, kata Dewi.

Serius kalian mo bantuin, yach klo gitu sich, aku seneng-seneng aja ada yang bantuin, lanjut Dewi.

Doni, kata Doni menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Hani dan Nita.

Waduh, makasih banyak, Mih, dan tante makasih juga yach udah mau bantuin mamih, Doni berkata kepada mereka.

Doni, kekamar yach, mo istirahat, lanjut Doni dan Donipun beranjak meninggalkan mereka.

Sepeninggal Doni, mereka bertiga tersenyum genit, dan mereka mulai merencanakan acara tersebut, dalam benak mereka berharap mudah-mudahan yang diundang Doni adalah teman laki-lakinya semua, kalau yang datang semuanya adalah lelaki maka pesta yang akan mereka adakan itu pasti akan lebih meriah, dan mereka merencanakan akan membuat pesta ulang tahun itu menjadi pesta seks, tapi kemudian Dewi tersadar bahwa kemungkinan besar rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena suaminya sedang berada di Jakarta, kembali ketiganya memutar otak untuk dapat melaksanakan niat mereka itu.

Sorenya Nita dan Hani berpamitan sambil membawa PR kerumah masing-masing tentang bagaimana caranya membuat pesta itu terjadi sesuai dengan harapan mereka dan menyingkirkan suami Dewi untuk sementara waktu, mereka bertiga berjanji untuk saling memberi kabar jika salah satu dari mereka telah menemukan akal untuk hal tersebut.

Sampai 2 hari menjelang hari H, mereka bertiga belum menemukan jalan untuk menyingkirkan suaminya Dewi, tapi nampaknya dewi seks berpihak pada mereka bertiga, nampaknya dewi seks memberikan jalan kepada mereka untuk melakukan acara pesta seks yang sudah mereka rencanakan itu, karena saat suaminya pulang kerumah ia memberitahu Dewi bahwa besok dirinya harus berangkat dengan pak Erwin untuk meninjau lokasi proyek mereka. Mendengar berita ini Dewi bersorak girang dalam hatinya, tak sabar ia ingin segera memberitahukan kabar ini kepada kedua temannya.

Keesokan harinya sepeninggal suaminya, Dewi menghubungi kedua temannya dan memberitahukan berita gembira ini, kedua temannya yang mendengar berita ini bersorak kegirangan dan mereka berjanji untuk datang kerumah Dewi hari ini dan mereka merencanakan akan bermalam dirumah Dewi sampai hari Minggu.

Siangnya setelah Hani dan Nita tiba dirumah Dewi, mereka bertiga pergi berbelanja untuk keperluan acara besok, selesai belanja mereka langsung pulang, setibanya dirumah mereka melihat Doni sedang nonton TV.

Don, Mamih ada yang lupa nich, kata Dewi.

Apa yang mamih lupa? Doni bertanya.

Kamu undang teman-temanmu itu jam berapa? tanya Dewi.

Oh, jam 12 siang, soalnya biar pas waktunya dengan waktu makan siang,jawab Doni.

Terus, berapa orang laki-laki dan berapa orang perempuan,Dewi kembali bertanya.

Oh, klo itu sich, yang Doni suruh dating semuanya teman laki-laki Doni,Doni menjawab kembali.

Memangnya kamu tidak punya teman perempuan, makanya tidak ada teman perempuanmu yang diundang?, kembali Dewi bertanya

Ada sich, Mih. Cuman gak asyik aja klo ada teman perempuanku, gak rame, gak heboh,jawab Doni.

Eh, Mamih juga perempuan, berarti kehadiran mamih tidak diinginkan juga dong? canda Dewi.

Yach, itu sich lain mih,jawab Doni.

Och, yach mih, aku mau pergi dulu kerumah temanku, pulangku pasti malam, gak usah mamih tungguin yach, lanjut Doni, yang segera beranjak setelah di iyakan oleh Dewi.

Sepeninggal Doni, mereka bertiga sibuk didapur menyiapkan bahan-bahan untuk besok, sambil asyik merencanakan tindakan apa yang harus mereka lakukan besok, karena sibuk dan asyik dengan rencana-rencana mereka.

Jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore saat mereka mendengar suara bel pintu, Dewi beranjak kedepan untuk melihat siapa yang datang bertamu, saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah Parmin.

Ada apa pak Parmin? tanya Dewi.

Ini Bu, saya mau mengembalikan pinjaman saya yang kemarin,jawab Parmin.

Oh, memang pak Parmin sudah ada uangnya, tanya Dewi lagi, sambil berpikir untuk mengundang Parmin agar datang nanti malam dan mengajak Sugito, Dewi berpikir pasti teman2nya ingin merasakan sodokan-sodokan satpam ini.

Sudah Bu, sudah soalnya hari ini saya dapat rejeki, jawab Parmin.

Oh ya sudah, ngomong-ngomong Pak Parmin nanti malam tugas tidak,tanya Dewi.

Memang kenapa Bu?Parmin balik bertanya.

Klo tidak tugas bagaimana klo pak Parmin nanti malam datang yach sekitar jam 8an gitu, sambil ajak pak Gito,jawab Dewi genit.

Oh bisa, bisa Bu, nanti malam saya akan datang sama pak Gito, hanya kita berdua aja Bu,Parmin mengiyakan sambil bertanya.

Memang ada siapa lagi,tanya Dewi

Klo yang tidak tugas nanti malam sich ada 2 orang lagi, Nanang dan Udin,jawab Parmin.

Yach, udah sekalian mereka juga suruh datang,sahut Dewi cepat.

Klo gitu saya permisi dulu Bu, saya mau kasih tahu mereka,pamit Parmin.

Dewi bergegas masuk sepeninggal Parmin, lalu ia ceritakan hal tersebut kepada teman-temannya, Hani dan Nita menyambut gembira hal tersebut, lalu mereka cepat-cepat membenahi dapur dan menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk pesta kecil mereka nanti malam, selesai itu mereka betiga membersihkan diri mereka dan bersiap-siap untuk menyambut tamu-tamu yang akan memberikan mereka kepuasan.

Jam berdentang 7 kali saat bel pintu dirumah Dewi berbunyi, Dewi bergegas menuju kepintu depan, pintu dibuka Dewi melihat 4 sosok lelaki dihadapannya, Dewi tersenyum melihat yang siapa yang datang ini, lalu ia mempersilahkan ke 4nya untuk masuk dan langsung diajaknya keruangan keluarga dimana Hani dan Nita sedang menunggu kehadiran mereka juga.

Dewi memperkenalkan mereka kepada Hani dan Nita, yang disambut dengan genit oleh Hani dan Nita, merekapun terlibat pembicaraan sambil menikmati makanan dan minuman, sambil diselingi dengan rabaan dan remasan-remasan genit ketiga wanita ini kepada para lelaki, ke 4 lelaki ini tidak pernah membayangkan dalam hidupnya mereka akan mengalami hal ini, 3 wanita yang jelas-jelas lebih cantik dan seksi daripada istri mereka dirumah bertingkah laku genit kepada mereka, dan tangan mereka meraba-raba serta meremas-remas batang kemaluan mereka dari balik celana yang mereka pakai, aksi ke 3 wanita ini telah membuat birahi mereka mendidih.

Gito yang sedang menikmati remasan dan rabaan tangan Hani, mulai melakukan aksi balik, tangannya mulai meremas-remas payudara Hani, mulutnya mulai melumat bibir Hani, aksi balas Gito membuat Hani mendesah, Parmin melakukan hal yang sama kepada Nita, mulutnya melumat bibir Nita dengan penuh nafsu, kedua tangannya beraksi melucuti pakaian atas Nita yang dilanjut dengan membuka Branya, terlihat kedua payudara Nita yang masih mengkal menggantung dengan indahnya, kedua putingnya yang berwarna merah muda sedikit mencuat, dengan tidak sabar Parmin memnyerbu kedua payudara itu, remasan-remasan penuh nafsu dilakukannya kebukit kembar Nita diselingi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya.

Nanang dan Udin yang sedang menikmati tangan lembut Dewi, menyaksikan kedua temannya sudah beraksi dan saat mereka melihat Parmin melucuti pakaian dan bra Nita, kemudian terpampang dengan jelas dikedua mata mereka bukit kembar Nita, mereka menjadi penasaran ingin segera melihat bukitm kembar Dewi. Keduanya bekerja sama melucuti pakaian Dewi termasuk dengan bra dan celana dalam Dewi, akhirnya Dewi dibuat telanjang bulat oleh mereka, setelah selesai dengan melucuti pakaian Dewi, mereka melepaskan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dengan keadaan telanjang bulat mereka mulai menyerbu Dewi, Nanang menerkam bagian atas Dewi dengan penuh nafsu, dia melumat bibir Dewi yang disambut dengan penuh nafsu oleh Dewi, sementara tangan Nanang beraksi dikedua payudara Dewi, remasan-remasan tangan Nanang dan pilinan-pilinan dikedua putingnya membuat Dewi mendesah apalagi Udin juga mulai beraksi dibagian bawah tubuhnya, Udin dengan penuh nafsu menjilati vagina Dewi dan menghisap-hisap kelentit Dewi.

Gito menghentikan serangannya, ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Hani sehingga tubuh mulus dan putih Hani terpampang dengan jelas dikedua mata Gito, Hani juga membalas dengan melucuti semau pakaian Gito, saat celana dalam Gito terlepas, Hani melihat batang kemaluan Gito yang sudah berdirti tegak dengan gagahnya, dibandingkan dengan kepunyaan suaminya memang sangat berbeda, Gito kemudian merebahkan tubuhnya diatas karpet, Hani dengan posisi merangkak mulai menyerbu batang kemaluan Gito, dikulum-kulum dan dijilatinya barang pusaka Gito itu dengan penuh nafsu, sambil menikmati selomotan dan jilatan Hani dikontolnya, tangan Gito tidak tinggal diam, kedua tangannya mulai menyerang payudara dan vagina Hani, tangan kirinya asyik meremas-remas payudara Hani bergantian sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, tangan kanannya dengan lembut menggesek-gesek vagina dan kelentit Hani, kadang-kadang jari tengahnya menerobos kedalam lubang vagina Hani lalu dikocok-kocokkan keluar masuk dilubang vagina Dewi.

Parminpun tidak mau kalah oleh teman-temannya, ia segera melucuti pakaian Nita dan pakaiannya sendiri, setelah tubuh Nita tidak tertutupi oleh sehelai kainpun begitu pula dengan tubuhnya yang sudah polos, Parmin segera merangkak keatas tubuh Nita, ia mulai menjilati vagina dan kelentit Nita, Nita juga mulai membalas aksi Parmin dengan penuh nafsu batang kemaluan Parmin diselomoti dan dijilatinya, Parmin melenguh menikmati sedotan-sedotan mulut Nita dibatang kemaluannya, iapun mengimbanginya dengan melesakkan kedua jarinya kedalam lubang vagina Nita, dan mengocok-ngocokannya keluar masuk lubang vagina Nita, dari mulut Nita yang sedang penuh oleh jejalan batang kemaluan Parmin terdengar erangan dan lenguhan, Nita betul-betul menikmati sensasi permainan mulut dan tangan Parmin divaginanya.

Saat itu Dewi dengan penuh nafsu sedang menikmati batang kemaluan Nanang, mulutnya mengulum-ngulum kontol Nanang, tangan kirinya mengelus-ngelus biji pelernya, sementara tangan kanannya meremas-remas rambut Udin yang masih asyik bermain dengan vaginanya, kadang-kadang terlihat pantat Dewi terangkat menyambut hisapan mulut Udin serta sodokan jari tangan Udin divaginanya, lenguhan dan erangan terdengar keluar dari mulut Dewi, Nanang merasakan kenikmatan yang tiada duanya, ia betul-betul menikmati selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya, tangan kirinya memegang kepala Dewi, kadang-kadang mendorong kepala Dewi akibatnya kontolnya hampir masuk semuanya didalam mulut Dewi dan membuat Dewi tersedak, sementara tangan kanannya meremas-remas kedua payudara Dewi bergantian kiri dan kanan, dan ditingkahi dengan memilin-milin kedua putingnya.

Kemaluan Hani semakin basah mendapatkan serangan Gito yang bertubi-tubi, Hani sudah tidak sabar lagi ingin merasakan sodokan-sodokan kontol Gito dilubang senggamanya, dengan segera Hani merangkak diatas tubuh Gito dan mulai mengarahkan kontol Gito yang sudah semakin tegang itu kelubang senggamanya, dioles-oleskannya kepala kontol Gito dengan kelentitnya, kemudian Hani menyelipkan kepala kontol Gito di lubang vaginanya, sleepp.dengan perlahan-lahan Hani mulai menurunkan pantatnya, batang kemaluan Gito mulai menerobos lubang senggama Hani, bleessssedikit-demi sedikit kontol Gito mulai menyeruak masuk, bleeessHani menurunkan pantatnya lagi, Hani merasakan memeknya agak sedikit sakit akibat kontol Gito yang lebih besar daripada kepunyaan suaminya, bleess.kembali Hani menurunkan pantatnya, Gito merasakan memek Hani begitu erat menjepit batang kemaluannya, dan bleessssdengan sekali hentakan kuat Hani menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Gito melesak lebih dalam lagi dirongga vagina Hani, Gito merasakan ujung kepala kontoknya bersentuhan dengan dinding rahim Hani begitu pula Hani merasakan dinding rahimya tersentuh agak kuat oleh kepala kontol Gito, keduanya melenguh.Uuuughhhh

Hani mendiamkan sebentar gerakannya, ia merebahkan tubuhnya ketubuh Gito sementara mulutnya mulai menciumi mulut Gito, dibalas oleh Gito dengan penuh nafsu, Gito meneroboskan lidahnya kedalam mulut Hani mencari lidah Hani, lidah mereka bertautan dirongga mulut Hani, tangan Gito mengelus-ngelus punggung Hani dan kedua bongkah pantat Hani, kadang-kadang tangannya meremas-remas kedua bongkah pantat Hani, tingkah mereka tidak luput dari pandangan Parmin yang sedang asyik menjilati kemaluan Nita, karena posisi mereka tepat berhadapan dengan kepala Parmin, Parmin melihat jelas sekali tahap demi tahap saat kontol Gito menerobos masuk kedalam lubang vagina Hani, lalu saat ia melihat tangan Gito meremas-remas pantat Hani, Parmin melihat lubang pantat Hani, ia ingat pengalamannya sewaktu mengentot lubang pantat Dewi, dan sekarang ia juga ingin memerawani lubang pantat Hani, Parmin segera menghentikan aksinya, ia beranjak dari posisinya kemudian Parmin berlutut dibelakang Hani, dibasahinya batang kemaluannya dengan air ludahnya, lalu ia selipkan kepala kontolnya dilubang pantat Hani, ssleepp kepala kontol Parmin mulai terselip dilubang pantat Hani, Hani menjerit merasakan sakit saat lubang pantatnya mulai diterobos oleh kepala kontol Parmin, Hanipun meronta agar kepala kontol Parmin terlepas dari lubang pantatnya tapi percuma karena Gito yang melihat Parmin mendekati Hani dari belakang sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Parmin, kedua tangannya memeluk erat Hani sehingga Hani tidak dapat bergerak.

Saakit.aaargghh.cabut kontolmu dari lubang pantatkuOoogghh,jerit Hani.

ssssttt..tenang Bu, sekarang sakit tapi lama-lama pasti ibu akan keenakan, kata Parmin sambil mulai melesakkan batang kemaluannya dilubang pantat Hani perlahan-lahan, bleeesssbleesssblessssbleessss.

Sakkiiittt.Ugghhh.sakiitt..sudah aku tidak kuatsakit sekali..jeritan Hani terdengar kembali saat batang kemaluan Parmin semakin masuk kedalam lubang pantatnya.

Uughhtenang Bu, nanti pasti juga ibu ketagihan,kata Parmin lalu dengan sekali hentakan ia dorong batang kemaluannya, bbleesssss..seluruh batang kemaluannya tertelan di lubang pantat Hani, Uuughhh,gilasempit sekali nich lubang pantatnya, Bu, belom pernah dientot lubang pantatnya yach,Parmin mengerang sambil bertanya.

Hani tidak dapat menjawab karena menahan sakit yang luar biasa, Gito merasa kasihan melihat Hani, dengan lembut ia menciumi Hani, dengan berpegangan pada pinggang Hani, Parmin mulai menggerakkan tubuh Hani kedepan dan kebelakang perlahan-lahan, sehingga membuat batang kemaluannya keluar masuk dengan sendirinya dilubang pantat Hani, tapi bukan batang kemaluannya saja yang secara otomatis keluar masuk, kontol Gitopun dengan sendirinya keluar masuk dilubang vagina Hani.

Lama-lama isak tangis Hani berganti menjadi erangan dan desahan, rasa sakit perlahan-lahan berganti menjadi rasa nikmat yang luar biasa, dari yang tadinya hanya diam saja sekarang Hani mulai membantu gerakan Parmin yang memaju-mundurkan tubuhnya, kedua payudaranya yang bergelantungan didepan wajah Gito bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang maju mundur, dengan penuh nafsu Gito menjilati dan mengulum-ngulum kedua payudara Hani bergantian kiri-kanan, dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan kuat dikedua putingnya, menambah sensasi kenikmatan Hani.

Ooohhh..enak sekaliaaaghhterushisap tetekkuyachtekan lebih dalam,Hani mengerang-ngerang kenikmatan, tubuhnya ia mundurkan lebih kuat membuat kedua kontol Gito dan Parmin melesak lebih dalam.

Enak betul memek ibu, gak kalah enak ama punya bu Dewi, aaghh kontolku seperti diremas-remas, Gito mengerang merasakan keenakan saat dinding vagina Dewi mencengkram erat batang kemaluannya dan berdenyut-denyut.

Iyach lubang pantatnya sama-sama masih perawan sama seperti punya bu Dewi, enak kurasakontolku juga kaya diremas-remas nich,erang Parmin bersamaan dengan erangan Gito, Parmin merasakan ketatnya lubang pantat Hani menjepit kontolnya, juga dinding lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.

*****

Saat Parmin mulai melesakkan kontolnya kelubang pantat Hani, Nita yang ditinggal begitu saja segera menghampiri Nanang, didorongnya tubuh Nanang hingga bersandar di sofa, lalu ia berdiri mengangkangi kepala Nanang yang tergolek diatas sandaran sofa, kaki kanannya ia angkat keatas dan dipijakkannya diatas sandaran sofa, kedua tangannya menguakkan lubang vaginanya, terpampang di mata Nanang pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat selama ini, kelentit Nita terlihat oleh Nanang dengan jelas sementara vagina Nita yang berwarna merah muda terlihat jelas oleh Nanang, tanpa membuang waktu lagi dan Nanang tahu bahwa Nita ingin vagina dan kelentinya dijilati dan dihisap, Nanang mulai menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati vagina Nita sambil ditingkahi dengan hisapan-hisapan dikelentitnya, tangan Nanang mulai beraksi juga, kedua jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Nita, tangan kirinya mulai mengelus-ngelus lubang pantat Nita, Nita melenguh menerima serangan ini, pantatnya ia maju mundurkan perlahan-lahan, Nanang menekan bagian dalam vagina Nita tepat dibelakang kelentitnya saat ia menghisap-hisap kelentitnya, kadang-kadang kedua jarinya mengocok vagina Nita.

Oohhhterushisap itilku..yang kuaataaaghhenakterustekanyach..kocok lagiochh enak sekali,Nita mengerang merasakan sensasi kenikmatan permainan tangan dan mulut Nanang.

Hhhmmssslllrrpppmemek ibu wangi dan cairannya ini gurihssslrrpppp,gumam Nanang sambil asyik menghisap-hisap kelentit Nita dan menelan cairan-cairan pelicin yang keluar dair vagina Nita.

Kocokan-kocokan tangannya semakin dipercepat keluar masuk dalam lubang vagina Nita yang semakin basah oleh cairan pelicinnya, kadang-kadang ia tekan bagian belakang kelentitnya saat ia menghisap kuat-kuat kelentitnya, tubuh Nita gemetar dibuatnya, lenguhannya semakin sering terdengar, matanya merem-melek menikmati permainan Nanang, kedua tangan Nita mulai meremasi kedua payudaranya sendiri.

*****

Dewi sendiri yang ditinggalkan oleh Nanang juga mulai meremasi kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menikmati permainan Udin dilubang vaginanya, tubuhnya kadang-kadang melenting menikmati serangan Udin, kedua kakinya yang menopang saat tubuhnya melenting terlihat gemetar, Dewi merasakan nikmat yang luar biasa dengan permainan Udin, kedua jari tangan Udin keluar masuk dengan cepat, kadang-kadang Udin memutar-mutar jari tangannya yang sedang berada didalam vagina Dewi kekiri-kekanan, atau kadang-kadang Udin menekan keatas-kebawah kedua jari tangan saat kedua jari tangannya berada didalam vagina Dewi, sementara hisapan dan jilatannya dikelentit Dewi tidak berhenti saat Udin melakukan aksi tangannya itu, Dewi dibuat merem melek oleh Udin, lenguhan dan desahannya sering terdengar, bersahutan dengan suara Nita dan Hani yang sama-sama sedang menikmati serangan-serangan dilubang senggama mereka.

Oohhterus Din, enak betul..hisap terus kelentitkuOoohhyachkocok memekku yach,lenguh Dewi.

Hhhhmmmssllrppp..memek ibu..enak..wangi,Udin bergumam, sambil mulutnya tetap menghisap kelentit Dewi.

Aksi Udin semakin menggila, jempol kirinya ia masukkan kedalam lubang pantat Dewi dan saat jempolnya sudah masuk semuanya didalam lubang pantat Dewi, ia gerakkan jempolnya keatas-kebawah, aksinya ini menambah sensasi kenikmatan buat Dewi, tangan kanan Dewi menekan belakang kepala Udin, pantatnya terangkat, kaki dan tubuhnya terlihat gemetar merasakan kenikmatan permainan Udin.

Oooohh..Din, terus..terusenakyach,terdengar Dewi mengerang lagi.

*****

Sementara Hani yang sedang dikeroyok berdua mulai mendekati titik kenikmatannya, puncak kenikmatannya sudah diambang pintu, erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya mengejang-ngejang, keringatnya sudah membanjir menjadi satu dengan keringat Gito dan Parmin.

Ooohhhterusssodok memekku dengan kontol kalian, lebih kuat dan lebih dalam, yachoohh kalian betul-betul enak, aku tidak kuat lagi, Ooohhaku mau keluar tekan lebih dalam.aarrghh yachbegitu..teruss..lebih cepat lebih dalamaaagghh..aku keluar, Hani mengerang keenakan, tubuhnya mengejang-ngejang dan gemetar, saat meraih puncak kenikmatannyassssrrrrrr.sssrrrrrr..lubang vaginanya menyemprotkan lahar kenikmatannya menyirami kontol Gito yang berada didalam lubang vaginanya.

Hani memeluk Gito erat, tubuhnya meregang menikmati peraihan puncak kenikmatannya, matanya terbeliak keatas sehingga hanya bola putihnya saja yang terlihat, mulutnya ternganga sementara kepalanya mendongak keatas.

*****

Saat Hani sedang meregang menyambut puncak kenikmatannya, Nita juga hendak meraih puncak kenikmatannya, tubuhnya mulai agak limbung, kedua kakinya gemetar, tangan kanannya meraih belakang kepala Nanang, tangan kirinya memegang erat sandaran kepala sofa, tubuhnya mengejang, pantatnya menekan kebawah lalu mengejut-ngejut, ssssrrrr..sssrrrsssrrrcairan kenikmatannya menyembur keluar menyiram mulut dan muka Nanang, merasakan itu Nanang semakin kuat menghisap kelentit Nita, sementara jari tangannya ia dorong lebih dalam dan digerakkan keatas-kebawah, bagian depan dan belakang jari tangannya bergantian bersentuhan dengan dinding vagina Nita.

Oouuhhaku keluar.ooohenakhisap kuat-kuat itilku.yaaachhh,Nita mengerang, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan cairan kenikmatan, matanya terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang berhasil ia capai, kepalanya terdongak kebelakang.

*****

Saat kedua temannya sedang meregang keenakan, Dewi juga merasakan hal yang sama, tubuhnya saat itu juga sedang meregang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh, pantatnya semakin terangkat keatas, kedua kakinya gemetaran, kedua tangannya menjambak rambut Udin, sementara tubuhnya melenting ditopang oleh kepala dan kedua kakinya, mulutnya melenguh kuat saat vaginanya mulai menyemburkan lahar kenikmatannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vaginanya, ssrrrrr..ssssrrrr.ssssrrrrrr.

Din, aaku keluaarooohhhenak.sekali..hisap yang kuat Din, yach aaarggg,Dewi melenguh menyambut puncak kenikmatannya.

Dari wajah ketiga wanita itu terlihat senyum kepuasan, pipi mereka merona merah, nafas mereka terdengar memburu, tubuh mereka masih gemetar, terlihat pantat mereka masih mengejut-ngejut lemah seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vagina mereka yang mulai mereda.

Keempat lelaki itu mendiamkan sejenak aksi mereka, mereka merasakan kedutan-kedutan dilubang vagina mereka yang perlahan mulai mereda. Mereka berempat saling bertukar pandangan dan dimulut mereka tersungging senyuman, mereka berempat berpikir bahwa ini baru awal dari permainan seks selanjutnya dan mereka akan merasakan satu demi satu tubuh para wanita ini.

Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya.

Oooohhhh.,Hani melenguh.

Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari dirongga mulut Hani, saling bertautan, Gito mulai menaikkan ritme sodokan-sodokan kontolnya di lubang vagina Hani.

Sementara itu Parmin beranjak kearah Nita, yang saat itu sedang menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Parmin lalu menyuruh Nanang untuk mulai mengentot Nita sambil duduk dengan posisi WOT, Parmin membantu Nanang dengan menggendong tubuh Nita dan mengangkangkannya diatas tubuh Nanang, sementara Nanang mengarahkan kepala kontolnya kelubang vagina Nita, diselipkannya kepala kontolnya divagina Nita, ssleepppkepala kontolnya terjepit oleh lubang vagina Nita, Nita melenguh saat merasakan kepala kontol Nanang mulai menerobos lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan Parmin mulai menurunkan pantat Nita, bbleesss.bleessssbbleesss.kontol Nanang perlahan-lahan menerobos masuk kedalam lubang memek Nita, dan bbbleeesss..dengan sekali hentak Parmin menekan pantat Nita kebawah, kontol Nanangpun terbenam seluruhnya didalam lubang nikmat Nita, Nita melenguh keras saat Parmin menghentakkan pantatnya itu.

Uughhh.kontolmu besar dan panjangkurasa ujung kepala kontolmu menyentuh dinding rahimkuAaaarrgghh,lenguh Nita.

Parmin lalu mendorong punggung Nita, sehingga tubuh Nita tengkurap diatas tubuh Nanang, lalu ia mulai menyelipkan kontolnya kedalam lubang pantat Nita, Nita menjerit saat merasakan kepala kontol Parmin mulai menyeruak lubang pantatnya, Nita merasakan sakit dilubang pantatnya, tapi ia tidak bisa meronta karena saat itu Nanang sedang memeluknya dengan erat, dengan terpaksa Nita hanya dapat menerima perlakuan Parmin di lubang pantatnya, sambil menahan sakit ia menggigit pundak Nanang, Nanang mendiamkan gigitan Nita karena saat itu ia sedang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, kontolnya sedang terjepit dengan erat oleh memek Nita, ditambah dengan aksi Parmin yang sedang meneroboskan kontolnya dilubang pantat Nita sehingga membuat lubang vagina Nita semakin sempit dirasakan oleh Nanang.

Terus, Min, dorong terus, gila memeknya jadi tambah sempit, berkedut-kedut terus lagi, kontol gw kaya dipijat-pijat,teriak Nanang yang sedang keenakan merasakan jepitan memek Nita.

Heeh, ini pantatnya juga sempit, masih perawan, heheheempot ayam juga, tenang Bu, nanti juga enak, tanya aja ama bu Hani tuch, ya nggak bu Han,kata Parmin terkekeh-kekeh.

HeehbeetulNit, tar juga enak..Ooohhh terus Git, sodok lebih dalam lagi, iyaaahh,jawab Hani membetulkan sambil menikmati sodokan-sodokan kontol Gito.

Tuch, apa saya bilang Bu,Parmin berkata lagi, sambil terus menekankan kontolnya lagi, bbleess .blleessbbleeesssperlahan tapi pasti kontol Parmin mulai menyeruak masuk lebih dalam dilubang pantat Nita.

Hhhmmm.hhhmmmm,Nita hanya bisa bergumam merasakan kesakitan saat kontol Parmin menerobos makin dalam dilubang pantatnya.

Dan.Bbbleeesss.dengan sekali sentakan kuat Parmin mendorong kontolnya, Nita menjerit akibat sentakan Parmin itu,

Arrgghhhh.sakiiittt.ccabut..kontolmu ituUughhh,jerit Nita.

Parmin yang sedang menikmati jepitan erat lubang pantat Nita di batang kemaluannya itu tidak mau mendengarkan permintaan Nita, tapi dengan kedua tangannya memegangi pinggang Nita Parmin mulai dengan perlahan-lahan memaju mundurkan tubuh Nita, sehingga kontolnya dan kontol Nanang mulai keluar masuk dengan sendirinya dilubang-lubang Nita.

Min , uenak tenan, nichngentot cara begini, betul-betul mantabkayanya memeknya tambah sempit aja..oooohh, sedappnikmat.,kata Nanang saat ia mulai merasakan kontolnya keluar masuk memek Nita dengan seretnya.

Sssrtttt.bbleess..sssrtttt.bbleess.sssrrrtt.b bblleesssssrrttt..bbleeess.. kedua kontol mereka keluar masuk perlahan-lahan di kedua lubang Nita.

Lama kelamaan rasa sakit yang dirasakan oleh Nita berangsur menghilang berganti dengan rasa nikmat, Nita sekarang mulai bisa merasakan enaknya pergeseran kedua kontol itu didalam lubang memek dan pantatnya, ia merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh kontol-kontol besar Parmin dan Nanang, sensasi nikmat yang ia rasakan sekarang belum ia alami sebelumnya.

Sementara itu Udin mulai memposisikan tubuh Dewi untuk menungging, Dewi menuruti kemauan Udin yang ingin kontol* dia dari belakang, pantatnya ia angkat sementara dada dan wajahnya menempel keatas karpet, dengan tidak sabar lagi Udin mulai menyelipkan kepala kontolnya dilubang memek Dewi, setelah dirasakan kepala kontolnya tepat dilubang senggama Dewi, dengan sekali sentakan kuat Udin mendorong maju kontolnya menerobos vagina Dewi.
BleeessssssBatang kemaluan Udin menyeruak masuk kedalam vagina Dewi.

Aaaggghhhpelaann..Din, robek punyaku nantikontolmu besar sekali..,jerit Dewi saat lubang vaginanya diterobos dengan kuat oleh kontol Udin.

heeh..tenang bu, gak akan robek, tapi yang ada nanti merem-melek sama batangku ini,jawab Udin.

Udin merasakan jepitan kuat dibatang kontolnya, dan ia merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut, seolah-olah meremas-remas batang kontolnya, Udin merasakan nikmatnya memek Dewi itu, yang belum pernah dirasakan olehnya tatkala ia menyetubuhi istrinya yang sudah punya 3 anak.

Tak lama berselang Udin mulai memaju-mundurkan kontolnya didalam lubang vagina Dewi sssrttt.blessssrrrtttblessssssrttttbleess.

Oohhenak Din, terustekan yang dalam..yachyang kuat..oohhenak kontolmu Din,desah Dewi, yang merasakan nikmatnya sodokan kontol Udin divaginanya.

Teruss.oohhlebih cepat..yachhhhmmm..aaghhhnikmat,kembali Dewi mendesah.

Uughhhyach..tekan yang kuataaahhhenaknikmatkontolmu,rintih Hani yang sedang menikmati enjotan Gito.

Terus..Git, lebih cepatoohhhpuaskan akuyachhaaaghhhnikmat sekali,kembali Hani merintih keenakan.

Uugghhhhmmmmsslllrrpppmemek ibu sempit sekalihhmmmsslrrrppp,gumam Gito sambil mulutnya asyik menghisap-hisap payudara Hani bergantian kiri & kanan.

Sementara itu Nita juga sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, dari mulutnya tidak hentinya terdengar erangan-erangan keenakan,

Ooohhhenak..sekaliterus enjot kontol kalianyang dalam tekannyayaahhh..begitulebih cepatnaahhnikmat sekaliterusterus,erang Nita keenakan dienjot oleh Nanang dan Parmin.

Kedua payudara Nita juga tidak luput dari aksi Nanang, remasan-remasan tangan Nanang dikedua payudara Nita dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan serta jilatan-jilatan pada kedua putingnya membuat Nita semakin mengerang kenikmatan.

OoohhhNang, hisapterushisaptetekkuyachyang kuat..oohh..geli enak..,Nita mengerang lagi.

hhhmmm ssslrrppp hhmmm ssslllrpppmemek ibu juga enak sekali sempit ssllrrppp hhhmmm,desah Nanang.

Ooohhenakooohhnikmat,Parmin merintih keenakan, sambil terus menggenjot kontolnya keluar masuk dalam lubang pantat Nita.

Rintihan, erangan, dan desahan terdengar tanpa henti dari mulut mereka, keringat mereka sudah membanjiri tubuh mereka dan bercampur aduk, bunyi suara ceplakan saat tubuh mereka beradu menambah ramai suasana persetubuhan mereka.

Cairan pelicin semakin banyak keluar dari kemaluan mereka, mempermudah keluar masuk batang kemaluan para lelaki didalam lubang-lubang para wanita, gerakan keluar masuk batang kemaluan para lelaki semakin bertambah cepat, akibatnya membuat para wanita semakin mengerang keenakan.

Mendapat sodokan-sodokan yang bertubi-tubi dari batang kemaluan para lelaki itu membuat para wanita itu mulai goyah, tubuh mereka mulai mengejang dan mengejut-ngejut, puncak kenikmatan para wanita sudah diambang pintu, sementara para lelaki mengalami hal yang sama, puncak kenikmatan mereka hampir mereka rengkuh juga, gerakan para lelaki itu sudah mulai tidak beraturan.

Ooohhaaku tidak tahan lagi aku mau keluar..aahhh..nikmatenak,Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan, puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya akan mereka raih.

Oooohhhaku keluarOohhtekan yang dalaammm.yang kuaat,™kembali Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan dan, sssrrrr.ssrrr.sssrr.sssrrr.vagina mereka menyemburkan lahar kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan lelaki yang sedang berada dalam lubang mereka.

Uughhhhhmmmaku keluar jugaa.aaagghhenaaakk..uughh,Ke empat lelaki itu mengerang secara bersamaan dan menekan dalam-dalam kontol mereka kedalam lubang para wanita itu, dan cccrreeeett.creeetttccreeett.ccreeett.kontol mereka memuntahkan lahar kenikmatan didalam lubang para wanita itu hampir berbarengan dengan semburan lahar kenikmatan dari vagina para wanita itu.

Tubuh mereka semua terlihat mengejut-ngejut seirama dengan muntahnya lahar kenikmatan mereka, nafas mereka terdengar memburu, pancaran puas terbias di wajah mereka. Selang tak lama setelah tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan masing-masing, mereka semua akhirnya tergolek kelelahan diatas karpet.

Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani dan Nita kembali keruang keluarga sementara Dewi menuju ke dapur untuk membuat minuman, Hani dan Nita menyuruh para lelaki itu untuk membersihkan batang kemaluan mereka sebelum mereka memulai ronde selanjutnya, dengan gesit para lelaki itu menuju kekamar mandi bersamaan.

Di dapur Dewi yang sedang membuat minuman tidak menyadari, bahwa saat itu anaknya Doni sudah berada di garasi bersama dengan 3 temannya, mereka memasukkan mobil kedalam garasi saat Dewi sedang berada didalam kamar mandi, sementara para lelaki tidak mendengar suara mobil datang karena suara musik di ruangan keluarga agak lumayan keras sehingga menutupi suara mobil Doni. Nampaknya Doni merencanakan sesuatu dengan ketiga temannya, karena kepulangan Doni lebih awal dari yang ia bilang ke Dewi. Doni mengetahui bahwa Dewi pernah melakukan seks dengan ketiga temannya yang saat sekarang ini bersama dia, dan dia mendengar cerita mereka saat mereka menyetubuhi Dewi, Doni tertarik untuk melakukan ramai-ramai bersama temannya sebelum pesta ulang tahunnya besok dimulai.

Tapi Doni tidak mengetahui bahwa saat itu Dewi baru saja selesai pesta seks, ketika Doni membuka pintu garasi yang menghubungkan dengan dapur, Doni terkejut dengan pemandang yang ada dihadapannya, ia melihat tubuh Dewi yang tidak mengenakan sehelai kainpun sedang menyiapkan minuman, Doni tidak mau banyak berpikir kenapa Dewi bertelanjang bulat dan suara musik terdengar mengalun dari ruangan keluarga, yang saat ini ada dalam pikiran Doni dan ketiga temannya yang menyaksikan pemandangan itu adalah ˜Pucuk Dicinta Ulam Tiba™, keinginan mereka bakalan terwujudkan malam ini yaitu menyetubuhi Dewi beramai-ramai.

Ehhhapa-apaan ini, siapa?,Dewi berkata setengah terkejut saat Doni memeluknya dari belakang.

SstttMih, Ini Doni..,jawab Doni, sambil melanjutkan dengan menciumi tengkuk Dewi dan kedua tangannya meremas-remas kedua bukit kembar Dewi.

OoohhDon, kukira siapa, oooohhh.jangan disini, kita didalam saja,Dewi mendesah mendapat serangan Doni, dan ia melepaskan tangan Doni dari kedua bukit kembarnya, Dewipun membalikkan badannya berhadapan dengan Doni.

Dewi tambah terkejut saat tubuhnya berhadapan dengan Doni, karena bukan hanya Doni yang datang tapi ada ketiga temannya Doni yang pernah melakukan seks dengan dia, dengan sedikit salah tingkah Dewi mencoba menutupi kedua payudaranya dan selangkangannya, tapi hal itu dicegah oleh Doni, kedua tangan Dewi dipegang oleh Doni sambil Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, mendengar itu muka Dewi menjadi merah, tapi otaknya berpikir dengan cepat, pesta malam ini akan menjadi tambah seru karena kedatangan tenaga baru dan muda, dengan cepat diajaknya ke 4 anak muda ini kedalam sambil tidak lupa untuk menyuruh mereka membawa minuman yang sudah dibuatnya tadi.

Doni dan ketiga temannya terperanjat saat sampai diruangan keluarga begitu pula dengan Gito cs, yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira hanyalah Nita & Hani, jalan pikiran mereka hampir sama dengan Dewi, yaitu kedatangan tenaga baru yang masih muda.

Hani dan Nita langsung menyambut keempat anak muda itu, dengan gesit mereka melucuti baju mereka satu persatu sehingga keempatnya sekarang sama-sama telanjang bulat, Nita dan Hani berdecak kagum melihat keempat batang kemaluan mereka yang sudah berdiri tegak dan ukurannya hampir sama, tapi yang jelas kepunyaan keempat anak muda ini lebih besar dan panjang daripada kepunyaan Gito cs, dengan bernafsu Hani dan Nita mulai menyerbu keempat batang kemaluan itu, Hani memegang 2 batang begitu juga dengan Nita, lalu mereka mulai menyelomoti kontol-kontol tersebut, yang satu diselomoti dan dikulum-kulum yang satunya dikocok-kocok dan diremas-remas lembut oleh tangan Hani dan Nita.

Gito cs asyik menonton ˜live show™ yang dilakukan oleh Hani dan Nita serta keempat anak muda itu, sementara itu Dewi berpikir tentang mengundang sisa teman-teman Doni untuk datang malam ini, ia mempunyai rencana untuk membuat pesta ulang tahun Doni dirayakan tepat jam 12 malam, lalu ia membisikkan sesuatu ketelinga Doni, dijawab oleh Doni dengan anggukan, kemudian Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, Dewi mengangguk dan langsung mengambil HP Doni, Dewi beranjak meninggalkan ruangan menuju ke dapur, di dapur terlihat Dewi sibuk berbicara di HP Doni.

Anto dan Dedi yang saat itu sedang menikmati permainan tangan dan mulut Hani mengimbangi permainan Hani dengan meremas-remas payudara Hani dan memilin-milin puting susunya Hani, Hani menikmati remasan-remasan tangan mereka di kedua payudaranya serta pilinan-pilinan di kedua putingnya, membuat ia semakin bernafsu mengulum-ngulum kedua batang kemaluan Anto dan Dedi, kedua batang kemaluan Anto dan Dedi bergantian dikulum-kulum oleh Hani, saat Hani mengulum dan menyelomoti serta menjilati kontol Anto tangannya sibuk meremas dan mengocok-ngocok kontol Dedi, begitu juga sebaliknya saat mulut Hani sibuk dengan kontol Dedi tangannya sibuk mempermainkan kontol Anto, Anto dan Dedi betul-betul menikmati permainan Hani, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras, nafsu Anto dan Dedi tidak dapat dibendung lagi dengan bersamaan mereka mengangkat tubuh Hani untuk berdiri, lalu kedua anak muda ini mulai menyerang Hani, Anto diatas dan Dedi dibawah, Anto dengan bernafsu mulai menciumi, menjilati, menghisap-hisap kedua payudara Hani bergantian antara kiri dan kanan, sementara Dedi berjongkok sibuk menjilati kelentit Hani dan menghisap-hisapnya, serangan mereka membuat Hani mendesah keenakan, tubuhnya gemetar menahan laju nikmat yang sangat luar biasa.

Ooohhhisap tetekkuooohh itilku juga hisap yang kuat.aaahhhenak,desah Hani.

remas-remas tetekkuyaahh..terusoohh..hisappremasooohh,Han i mendesah lagi.

Ooohhhhisap itilkuyaahh..enakk..terus..kocok memekku dengan jari..yah hhmmm..aaahh.. teruspuaskan akuhhhmm..aahhh,lagi-lagi Hani mendesah-desah keenakan.

Kemaluan Hani semakin basah akibat perlakuan kedua anak muda itu, cairan pelicinnya semakin banyak keluar, membasahi jari-jari Dedi yang sedang keluar masuk di lubang memek Hani, gerakan jari tangan Dedi semakin cepat keluar masuk dilubang memek Hani, tubuh Hani meliuk-liuk menahan arus nikmat yang luar biasa, pantatnya terlihat mengejut-ngejut saat Dedi menghisap kelentitnya serta mengocok lubang vaginanya, desahan-desahan nikmat keluar tanpa henti dari mulut Hani, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.

Anto dan Dedi merasakan batang kemaluannya semaklin mengeras saja mendengar desahan Hani, mereka kemudian menghentikan aksinya, kemudian mereka menyuruh Hani merangkak, Anto lalu berlutut tepat dihadapan Hani dan segera menyodorkan kontolnya kemulut Hani yang langsung disambut oleh Hani dengan penuh nafsu, sambil tangannya memegangi kepala Hani, Anto menekankan dan menarik kepala Hani sehingga kontolnya keluar masuk mulut Hani, bibir Hani menjepit kuat batang kemaluan Anto, kadang-kadang karena terlalu menekan kebawah kepala kontolnya menyentuh anak tekak Hani, sehingga membuat Hani tersedak, sementara Anto mulai beraksi di mulut Hani, Dedi berjongkok dibelakang Hani dan mengarahkan kepala kontolnya kearah lubang vagina Hani, ssleeepppdiselipkannya kepala kontolnya tepat dilubang memek Hani.

Dedi mulai mendorong masuk kontolnya perlahan-lahan kedalam lubang memek Hani, bleess.. bleesss.bleesss sedikit demi sedikit batang kemaluannya mulai terbenam didalam lubang senggama Hani, Dedi merasakan memek Hani sangat menjepit erat kontolnya, Hani sendiri merasakan memeknya menjadi penuh sesak oleh kontol Dedi, Dedi mendiamkan sebentar kontolnya yang baru masuk setengahnya, ia merasakan memek Hani seperti meremas-remas kontolnya, nampaknya otot dinding vagina Hani sedang bekerja hendak menyesuaikan dengan ukuran batang kemaluan Dedi.

Terus jangan berhentitekan lebih dalam lagi kontolmu..Ooohhh..enak sekali kontolmu hhhmmmm..ssllrppp.oouughhhh, Hani merintih sambil melahap kontol Antol lagi.

Mendengar itu Dedi lalu mendorong lagi kontolnya untuk masuk lebih dalam bleesss.blesss.blesssperlahan-lahan batang kemaluan Dedi akhirnya masuk semua kedalam lubang senggama Hani.

Uugghhhgila To, memeknya sempit sekali, kayanya jarang dipake nih ama lakinya.,Dedi berkata kepada Anto.

Tar giliran, gw masih asyik dengan sepongannyagila ..ahli banget dia nyepong kontol nich, Anto menjawab.

Tangan Anto kemudian beralih meremas-remas payudara Hani yang mulai bergoyang kedepan dan kebelakang seirama dengan sodokan-sodokan Dedi yang mulai mengeluar masukkan kontolnya dilubang memek Hani.

Hani dibuat merem melek oleh mereka berdua, desahan dan rintihan keenakan semakin sering keluar dari mulutnya yang sibuk menyepong kontol Anto, tubuhnya gemetar menahan arus kenikmatan yang menerjang dengan kuat, Hani merasakan lubang vaginanya berdenyut semakin cepat secepat sodokan-sodokan kontol Dedi, tubuhnya mulai bergetar hebat, paha dan pantatnya mulai mengejut-ngejut, menyambut datangnya puncak kenikmatannya, tak lama berselang Hani melenguh panjang, vaginanya berdenyut-denyut menyemburkan lahar kenikmatannya.

Sssssrrr..ssssrrrrr.sssssrrrrr.sssrrr.vagina Hani menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami batang kemaluan Dedi.

Ooooohhh..aaakku..keluaareenak..sekaliaaahhh. ssshhh..ooohhhhmmm..aahh, lenguh Hani.

Tubuh Hani bergetar dengan hebat, terlihat pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan keluarnya cairan kenikmatannya, kepalanya mendongak matanya terpejam, tangannya mencengkram paha Anto dengan kuat.

Saat Hani sedang sibuk mengulum-ngulum kontol Dedi dan Anto, Nita juga melakukan hal yang sama terhadap batang kemaluan Roni dan Doni, kontol Roni dan Doni bergiliran keluar masuk di mulut Nita, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras.

Tak lama berselang Doni berjongkok dibelakang Nita yang sedang asyik mengulum-ngulum kontol Roni, dipeluknya Nita dari belakang, kedua tangan Doni meraih dan mulai meremas kedua payudara Nita yang ranum, kadang-kadang diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya, sementara batang kemaluannya ia selipkan kebawah dan digesek-gesekkannya kebibir vagina Nita yang mulai membasah oleh cairan pelicinnya, tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh Doni, ia juga mulai menciumi dan menjilati tengkuk dan punggung Nita, Nita mendesah lirih mendapat serangan dari Doni ini, nafsu birahinya semakin memuncak meminta untuk dituntaskan, selomotannya dikontol Roni semakin bertambah cepat diselingi dengan hisapan-hisapan kuat sehingga membuat Roni mengerang keenakan diperlakukan seperti itu oleh Nita.

Doni yang merasakan vagina Nita yang sudah semakin basah, kemudian ia merebahkan dirinya lalu perlahan-lahan ia menggeserkan tubuhnya kebawah tubuh Nita yang sedang berjongkok, Nita yang merasakan gesekan paha Doni di kedua kakinya mengarahkan tangannya untuk menggapai kontol Doni, setelah posisi kontol Doni tepat dibawah lubang vaginanya, Nita mulai mengoles-oleskan kepala kontol Doni di kelentitnya, lalu Nita mulai menyelipkan kepala kontol Doni dilubang memeknya, ssleeeppp..kepala kontol Doni mulai terjepit oleh vagina Nita, sambil tidak melepaskan permainan mulutnya di kontol Roni, Nita mulai menurunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan kontol Doni mulai menerobos masuk kedalam lubang senggamanya, kedutan batang kemaluan Doni dapat dirasakan oleh dinding lubang vaginanya, matanya terbeliak saat kontol Doni mulai menyeruak masuk dilubang vaginanya, mulutnya menggumam tidak jelas karena tersumpal oleh kontol Roni.

Doni merasakan memek Nita betul-betul sempit, batang kemaluannya terjepit dengan erat oleh dinding vagina Nita, Doni merasakan hangatnya lubang senggama Nita dan ia juga merasakan dinding vagina Nita berdenyut-denyut seolah-olah sedang meremas-remas kontolnya.

Blleeess..bleeeesss.bleesssskontol Doni sedikit demi sedikit mulai tertelan didalam lubang senggama Nita, sambil menikmati eratnya jepitan memek Nita, Doni mengelus-elus punggung dan pantat Nita, sambil mulutnya mengeluarkan suara lenguhan saat merasakan kontolnya yang semakin lama semakin dalam menerobos memek Nita, bleesssbleesssakhirnya kontol Doni terbenam seluruhnya didalam rongga memek Nita, setelah mendiamkan sesaat Nita mulai menaik turunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan batang kemaluan Doni yang besar sedang menggeser-geser dinding vaginanya dengan ketat sekali, rasanya berbeda dengan yang ia rasakan saat dientot oleh suaminya ataupun Nanang, Doni tidak dapat melihat mimik muka Nita yang sedang keenakan itu, karena posisi Nita yang membelakanginya, Roni yang melihat raut wajah Nita yang sedang merasakan keenakan itumenjadi bertambah nafsu, sambil tangan kirinya memegangi bagian belakang kepala Nita, tangan kanannya mulai beraksi meremas-remas payudara Nita dan memilin-milin putingnya, Nita semakin keenakan dibuatnya.

Lenguhan dan desahan Nita sering terdengar, hampir bersahutan dengan lenguhan dan desahan Hani yang saat itu juga sedang menikmati sodokan Dedi dan Anto, kedua wanita itu betul-betul menikmati persetubuhan mereka ini.

Ooougghhhhhmmmpppsssllrpppeeenakhhmmpp..slrrp pkontol kalianbesarhhmm ..ssllrppp,desah Nita sambil tetap mengulum-ngulum kontol Roni.

Doni membantu gerakan naik turun Nita dengan memegangi pinggang Nita, lalu mendorong naik dan menarik turun tubuh Nita, semakin lama semakin cepat gerakan tangan Doni, dan kedua bukit kembar Nita terombang-ambing naik turun, menambah gemas ingin meremas bagi yang melihatnya.

Shhhooohhhhmmppsllrpppsssshhooohhhheenakte russooohh..hhmmm..sllrpp.. makin cepat..oohhsshhh..aahhhhhhmmmppp..sslrrpp,Nita merintih keenakan.

Remas .oohh.hhmm..tetekkussllrrpphhmm..ssshhaahhhy ang kuatpilin..sslrrpp sshh..aaahhputingnya..oohhyah..gitu..ssllrrppoo ohh..enaknikmat,Nita merintih lagi.

Roni meremas-remas kedua payudara Nita bergantian kiri dan kanan sambil diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya yang semakin mencuat, selang tak lama Roni kemudian berlutut dan mulai menciumi bibir Nita dengan bernafsu, lidahnya menjulur masuk kedalam rongga mulut Nita mencari lidah Nita, kedua lidah mereka mulai menari bersama didalam rongga mulut Nita, saling bertautan, saling bersentuhan, nafas mereka berdua semakin memburu penuh nafsu, tangan Roni perlahan-lahan merayap turun kebawah mengarah keselangkangan Nita, yang dituju oleh Roni adalah kelentit Nita, jari tangannya mulai menyentuh kelentit Nita, dengan lembut kelentit Nita mulai digesek-geseknya, kemudian kelentit Nita dijepit oleh kedua jari tangannya, setelah kelentit Nita terjepit oleh kedua ttangannya, Roni mulai menggerakkan jari-jari tangannya dengan lembut, kelentit Nita semakin menyembul keluar akibat perlakuan jari tangan Roni, terlihat tubuh Nita bergetar hebat menikmati sensasi permainan tangan Roni dipadu dengan sodokan-sodokan kontol Doni, pantatnya kadang-kadang mengejut-ngejut, erangan dan desahannya semakin sering terdengar dari mulutnya, apalagi mulut Roni mulai menghisap-hisap kedua puting susunya kiri dan kanan bergantian, matanya merem melek menikmati terpaan gelombang birahinya yang semakin membesar.

Oooohhh.ssshhhaaahhooohhhsshhh..aahhhenakte rus.enaknikmatsshh.. ahhhyang kuat ssshhaaahhh..yang dalamooohh,Nita melenguh keenakan.

hisap tetekkuooohh..ssshenakkyang kuathhhmmmsshhaahhh,kembali Nita melenguh.

Selang tak lama, seiring dengan menekan pantatnya kebawah sekali Nitapun memeluk tubuh Roni dengan erat, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut, kakinya yang tadi sedang dalam posisi jongkok sekarang bersimpuh tidak kuat menahan serangan gelombang birahinya yang telah mencapai titik klimaksnya, terlihat kedua kakinya bergetar dengan hebat, dan ssssrrrrrrsssssrrrssssssrrrr.. lahar kenikmatannya menyembur dengan kuat membasahi kontol Doni, pelukannya ditubuh Roni semakin erat, dari mulutnya keluar lenguhan panjang, matanya terpejam.

Oooogghhhh..aku keluarenak sekaliooohhhaahhh..ssshhh..aaahhh,lenguh Nita.

Doni merasakan dinding vagina Nita berdenyut kencang seirama dengan semburan-semburan lahar kenikmatannya yang memyirami kontolnya, Roni yang merasakan pelukan Nita ditubuhnya semakin erat, semakin mempercepat gerakan-gerakan jari tangannya di kelentit Nita.

Ooohh..nikmat sekali ooohhenak sekali ooohhaku betul-betul puasooohh,Nita mendesah menikmati puncak klimaksnya yang baru saja ia raih.

Setelah pelukan Nita ditubuhnya mulai mengendur Roni mulai menciumi bibir Nita dengan lembut, mereka berpagutan dengan lembut, tangan Ronipun beralih kepunggung Nita dan mengusap-usap lembut punggung Nita, sementara Doni menimpali dengan meremas-remas kedua bongkah pantat Nita dengan lembut.

Sementara itu saat Nita berhasil merengkuh puncak kenikmatannya, Hanipun berhasil mencapai puncak klimaksnya, jerit kenikmatan mereka terdengar hampir bersamaan, dan ini adalah yang untuk ketiga kalinya mereka berhasil meraih puncak kenikmatan mereka, hal yang belum pernah mereka alami selama ini, untuk satu kali saja mereka berhasil meraih puncak kepuasannya hampir tidak pernah mereka alami, apalagi sampai tiga kali seperti sekarang ini.

Keempat anak muda ini memberikan kesempatan kepada Hani dan Nita untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka raih, hanya Roni dan Anto saja yang menciumi bibir Hani dan Nita dengan lembut, untuk sekedar menambah sensasi kenikmatan yang baru saja Hani dan Nita raih.

Nafas Hani dan Nita mulai terdengar normal kembali, vagina mereka sudah berhenti berkedut, lahar kenikmatan merekapun sudah berhenti menyembur. Mereka berenam terlihat mulai merubah posisi mereka, nampaknya mereka akan memulai babak baru persetubuhan mereka.

Tanpa melakukan oral seks lagi, mereka langsung melakukan babak persetubuhan itu, Anto dan Roni segera merebahkan tubuh mereka diatas karpet, Hani dan Nita menaiki tubuh mereka dan meraih batang-batang kemaluan mereka, kemudian menyelipkan batang-batang kemaluan tersebut dilubang vagina mereka, sssleeeppp.ssleeppp kontol Anto terjepit vagina Hani dan kontol Roni terjepit vagina Nita, dengan waktu hampir bersamaan Hani dan Nita mulai menurunkan pantat mereka, bbleeess..bleeesss.bbleessss. perlahan-lahan kontol Anto dan Roni mulai menerobos masuk sedikit demi sedikit dilubang senggama Hani dan Nita, akhirnya batang kemaluan Anto dan Roni tidak terlihat lagi, seluruh batang kemaluan mereka tertelan didalam gelapnya lubang senggama Hani dan Nita.

Dedi dan Doni yang sedang berjongkok dibelakang Hani dan Nita melihat semua proses penerobosan batang kemaluan Anto dan Roni, mulai bergerak setelah melihat kedua kontol teman mereka itu tenggelam dilubang kehangatan Hani dan Nita, mereka berbarengan mengarahkan pedang wasiat mereka kelubang pantat Hani dan Nita, diselipkan kepala kemaluan mereka dilubang pantat Hani dan Nita, sslleeeppp.ssleeeeppp Hani dan Nita terpekik saat kepala kontol mereka mulai menerobos lubang pantat itu, karena kepala kontol yang barusan menerobos masuk itu lebih besar dari kepunyaan Parmin, rasa perih mereka alami lagi tapi tidak seperih saat pertama kali lubang mereka diterobos oleh Parmin, bblleeeess.bbleeesss. bleesss bleeess Dedi dan Doni hampir berbarengan mendorong masuk batang-batang mereka kedalam lubang pantat Hani dan Nita.

Tiba-tiba tangan Doni dan Dedi yang sedang memegangi pinggang Nita dan Hani, menarik kuat-kuat pinggang Hani dan Nita, akibatnya batang-batang kemaluan mereka terbenam seluruhnya didalam lubang pantat Nita dan Hani.

Aiiiiooougghh..pelan,Hani dan Nita menjerit bersamaan.

Sssrrrttttbbleeess.sssrttttbleesss.. kontol keempat anak muda itu mulai keluar masuk didalam lubang-lubang Hani dan Nita seirama dengan gerakan tangan Doni dan Dedi yang mendorong dan menarik tubuh kedua wanita itu.

Tubuh Hani dan Nita bergerak maju mundur, kedua payudara merekapun bergoyang maju mundur, Anto dan Roni yang melihat ini mulai mengangkat kepala mereka, kedua tangan mereka mulai memegangi payudara yang sedang berguncang itu, sambil meremas-remas payudara itu mereka mulai menjilati puting-puting payudara tersebut dan kadang-kadang dihisap-hisap puting-puting tersebut. Suara decakan dan hisapan terdengar dari mulut Anto dan Roni, bersahutan dengan suara rintihan keenakan Hani dan Nita, menambah suasana menjadi ramai, nafsu birahi Gito cs yang menyaksikan aksi mereka dari tadi semakin bertambah, batang-batang kemaluan mereka berempat sudah menegang lagi, secara bersamaan mereka berempat beranjak menghampiri mereka berenam yang sedang asyik masyuk bersenggama.

Parmin dan Gito berlutut disamping kiri dan kanan Nita, sementara Nanang dan Udin berlutut disamping kiri dan kanan Hani, batang-batang kemaluan mereka yang tegak berdiri disodorkan kepada kedua wanita itu, Hani dan Nita segera meraih batang-batang kemaluan itu, secara bergiliran Hani dan Nita mulai meng-oral batang-batang kemaluan tersebut, saat sedang meng-oral batang kemaluan yang satu yang satunya mereka kocok-kocok dengan tangan mereka, Gito cs dibuat melenguh-lenguh menikmati permainan mulut dan tangan kedua wanita itu.

*****

Dewi terlihat sedang duduk diruangan tamu, ia sudah tidak sibuk lagi dengan teleponnya, nampaknya ia sedang menunggu kedatangan orang.

Saat Hani dan Nita sedang sibuk melayani nafsu birahi kedelapan lelaki itu, sebuah mobil masuk kepekarangan rumah Dewi, Dewi yang melihat sinar lampu mobil tersebut segera beranjak kepintu rumahnya lalu ia membuka pintu rumahnya, Dewi hanya menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, karena saat itu Dewi tidak mengenakan sehelai benangpun, Dewi melihat 7 anak muda turun dari mobil tersebut, senyum simpul tersungging di wajahnya, tenaga baru sudah datang batinnya berkata.

Yang datang memang teman-temannya Doni yang tadi Dewi teleponin, ke 7 anak muda itu terperanjat saat mereka melangkah masuk kedalam rumah, mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, mereka melihat tubuh Dewi yang tidak tertutupi oleh sehelai benangpun. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka akan menyaksikan mamihnya Doni telanjat bulat, apalagi mereka tidak menyangka mamihnya Doni masih muda dan sexy, mereka memang untuk pertama kalinya datang bertandang kerumah Doni, berbeda dengan Roni, Dedi dan Anto yang sering bermain kerumah Doni, pendulum mereka mulai bergerak naik, darah muda mereka berdesir melihat kedua payudara Dewi yang ranum, turun kebawah mereka melihat gundukan semak hitam diselangkangan Dewi, wajah Dewi yang cantik, tubuh yang sexy dan senyum simpul yang tersungging membuat gairah birahi ke 7 anak muda itu bergelora, saat ke 7 anak muda itu sedang terpesona oleh tubuh Dewi, sebuah mobil kembali masuk kedalam pekarangan rumah, dari mobil itu turun 2 wanita sexy dan cantik, usia mereka seumuran dengan Dewi dan kedua teman Dewi yang saat ini sedang menikmati persetubuhan.

Kedua wanita itupun melangkahkan kakinya kearah pintu depan, saat kaki mereka melangkah kedalam rumah merekapun sama terperanjatnya dengan ke 7 anak muda tadi, Ke 7 anak muda itu tidak menyadari kehadiran 2 wanita ini, mereka masih terperangah melihat pemandangan didepan mata mereka.

Kedua wanita itu adalah teman Dewi bernama Siska dan Rina, umur mereka memang hampir seumuran dengan Dewi, mereka sama cantiknya dengan Dewi ataupun Hani dan Nita, mereka berdua juga mempunyai tubuh yang sama-sama sexy seperti tubuh Dewi, Hani dan Nita, yang membedakan mereka adalah keduanya tidak mempunyai suami, mereka berdua adalah wanita simpanan entah pejabat entah orang kaya.

Persamaan yang paling nyata dari kelima wanita ini adalah mereka membutuhkan kontol-kontol perkasa yang dapat memuaskan libido seks mereka yang tidak pernah mereka dapatkan dari pasangan mereka masing-masing.

Ke 9 orang ini masih terkejut dengan apa yang dilihat oleh mereka saat ini, tapi Dewi yang menjadi pusat perhatian ini nampaknya tidak memperdulikan kekagetan mereka, setelah mengunci pintu rumahnya, Dewi mengajak mereka semua keruangan keluarga dimana saat itu Hani dan Nita sedang dikeroyok.

Mata ke 9 orang yang baru datang ini semakin terbelalak melihat pemandangan diruangan keluarga, batang-batang kemaluan ke 7 anak muda yang baru datang itu semakin mengeras, celana mereka semakin menggembung, Dewi yang dari tadi selalu memperhatikan celana ke 7 anak muda itu menjadi tersenyum, sementara Siska dan Rina juga mulai terangsang melihat pemandangan itu dan mendengar suara desahan dan lenguhan Hani dan Nita yang sedang keenakan menerima sodokan-sodokan kontol.

Gito dan Nanang yang saat itu batang kemaluannya tidak sedang dipermainkan oleh Hani dan Nita beranjak menghampiri mereka yang baru datang, keduanya menghampiri Siska dan Rina, dengan penuh nafsu melihat barang baru mereka mulai menggerayangi tubuh kedua wanita itu, hanya dalam waktu sekejap saja kedua wanita itu dibuat telanjang bulat oleh Gito dan Nanang, sementara itu ke 7 anak muda yang baru datang mulai membuka baju mereka dengan tergesa-gesa, terlihat batang-batang kemaluan mereka telah berdiri dengan tegaknya saat tubuh mereka sudah tidak mengenakan sehelai kainpun, ukuran batang-batang kemaluan itu bervariasi, ada yang seukuran Doni cs, ada juga yang seukuran Gito cs dan ada juga yang lebih kecil dan pendek dari ukuran Doni cs dan Gito cs, Dewi yang memang sudah sangat bernafsu menghampiri para pemuda itu, kemudian ia berjongkok dan mulai mengulum-ngulum salah satu kontol itu, sementara kedua tangannya meraih kontol-kontol yang lainnya, keempat anak muda yang batang-batang kemaluannya lolos dari serbuan Dewi mulai beralih kearah Siska dan Rina yang sedang diserang oleh Gito dan Nanang, merekapun mulai membantu Gito dan Nanang menyerang Siska dan Rina.

Doni yang sedang asyik menikmati persetubuhannya matanya melirik kearah Dewi, ia melihat Dewi sedang asyik bermain dengan 3 batang kemaluan kepunyaan temannya, saat itu Doni melihat mamihnya sedang menyepong kontol Hadi, sementara kontol Edwin dan Hendra berada dalam genggaman tangan mamihnya, disebelah grup mamihnya Doni melihat Dadang dan Acep sedang sibuk menggerayangi Siska bersama Gito dan disebelahnya lagi Doni melihat Nanang yang asyik mencumbu Rina sedang dibantu oleh kedua temannya Feri dan Hilman.

Ruangan keluarga itu bertambah riuh oleh suara-suara desahan dan lenguhan-lenguhan dipadu dengan suara berkecipak kontol-kontol yang sedang keluar masuk lubang-lubang Hani dan Nita. Pesta ulang tahun Doni menjadi pesta seks yang luar biasa, ke 20 orang diruangan itu asyik dengan kegiatan masing-masing, tanpa memperdulikan hal-hal yang lain, yang mereka perdulikan adalah terlampiaskan nafsu birahi mereka yang menggelora.

*****

Saat Hani dan Nita yang semakin menikmati ketiga batang kemaluan yang sedang memenuhi semua lubang mereka, Dewi yang sedang asyik menyepong Hadi juga mulai menikmati serangan-serangan Edwin dan Hendra, Edwin mulai menyerbu kedua payudara Dewi, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua payudara Dewi dan juga mulai menghisap-hisap kedua putingnya bergantian kiri dan kanan, sementara Hendra mulai menyerbu vagina Dewi, Hendra mulai menyelusupkan kepalanya kebawah Dewi yang saat itu berjongkok, mulutnya mulai menciumi dan menjilati kelentit Dewi, sementara kedua tangannya menopang paha Dewi, Dewi mulai mendesah-desah dengan mulut yang sedang penuh oleh kontol Hadi.

Hhhhhmmm ssshhh.aaaahhhhhhmmmpppsslllrrppooohh..sshhh.. aaahhsslrrpp sshhh..aaahhhhhhmmmmppssslrrrppp,Dewi mendesah-desah sambil mulutnya tetap menyepong kontol Hadi.

Mendapat serangan di payudara dan di vaginanya membuat nafsu birahi Dewi semakin menggelora, hasrat ingin disodok-sodok oleh kontol-kontol perkasa semakin memuncak, jilatan dan hisapan-hisapannya di kontol Hadi semakin menggila, kedua pipinya terlihat mengempot saat Dewi menghisap kontol Hadi dengan kuat, aksi Dewi membuat Hadi mengerang keenakan, kedua tangan Hadi memegangi kepala Dewi, saat Dewi menghisap-hisap kuat kontolnya, Hadi menekan maju kepala Dewi, kontol Hadi hampir seluruhnya tertelan oleh mulut Dewi, kepala kontolnya menyentuh anak tekak Dewi, membuat Dewi tersedak, Dewi sedikit menarik kepalanya kebelakang tapi hal itu tidak dapat dilakukannya karena tangan Hadi memegang kepalanya dengan kuat, Hadi yang sedang keenakan malah semakin menekan kepala Dewi dan mendorongkan kontolnya semakin dalam didalam mulut Dewi, membuat Dewi semakin tersedak merasakan jejalan kontol Hadi didalam mulutnya, kepala kontol Hadi sudah melewati anak tekaknya, dan menyentuh tenggorokannya, Dewi gelagapan dan agak sedikit susah bernafas dibuatnya, melihat itu Hadi mulai menarik kontolnya keluar dari mulut Dewi, Dewi menjadi lega dan bisa bernafas lagi, tapi baru saja Dewi mulai dapat bernafas lega, Hadi mulai mendorong masuk lagi kontolnya dalam-dalam kedalam rongga mulutnya, dan kali ini kontol Hadi masuk seluruhnya, itu terlihat dari hidung yang menempel di selangkangan Hadi, akibatnya kembali Dewi tersedak dan nafasnya megap-megap lagi, begitu seterusnya Hadi memaju mundurkan kontolnya dimulut Dewi.

Hadi yang memang dari pertama datang sudah sangat terangsang tidak dapat lagi menahan puncak birahinya, kontolnya yang sedang keluar masuk mulut Dewi mulai berdenyut dengan kuat, tubuhnya mulai bergetar hebat, kedua kakinya gemetaran menahan hasrat birahinya yang hampir keluar, tak lama berselang tubuhnya menggigil hebat saat kontolnya ia tekan dalam-dalam kedalam mulut Dewi, dan creeettt.creeetttccreeett.creettt. kontolnya menyemburkan cairan spermanya didalam mulut Dewi, Dewi kelabakan dibuatnya, sperma Hadi langsung tertelan olehnya karena kontol Hadi yang terbenam dalam-dalam didalam mulutnya, Dewi merasakan semburan kuat menghantam dinding tenggorokannya, Dewi tersedak dan terbatuk-batuk dibuatnya, sementara Hadi yang sedang meraih puncak kenikmatannya itu mengerang keenakan, pantatnya mengejut-ngejut seiring dengan kontolnya yang sedang mengejut-ngejut memuntahkan lahar kenikmatannya.

UuhuukkUuhhuukkk.uuhuukkkggleekk.uuhuukkkuuh uukkgglleeekkk.uhuukk.., Dewi terbatuk-batuk dan menelan sperma Hadi yang langsung masuk ditenggorokannya.

Uuughhuuhuukkgila..kamuhampir gak bisa bernafas akuuuhukkuugghh..,Dewi menggerutu.

Ooohhh.sshhhhaaaggghh.uuuhuukkhhmmppssshhhu uhuukkooohhh…ssshhh..,masih dengan terbatuk-batuk terdengar Dewi mendesah keenakan lagi merasakan nikmat saat kelentitnya dihisap-hisap oleh Hendra dan permainan Edwin dipayudaranya.

Ooouughhsshhhaaahhssudah..aku ingin merasakan kontol kalian dimemekku.ssshhh aaagghhoooouughhentot akuaaagghhhhhmmpppaayoocepatakusudah gak tahan lagi pengen dientot, Dewi merintih-rintih memohon kepada Hendra dan Edwin untuk segera mengentotnya.

Dewi segera melepaskan diri dari Hendra yang sedang asyik menghisap-hisap kelentitnya, iapun lalu memundurkan pantatnya kebelakang, sementara tangannya meraih kontol Hendra, lalu kontol Hendra yang sudah dalam genggamannya mulai dioles-oleskannya kebibir vagina dan kelentitnya, Dewi sendiri merasakan geli saat kepala kontolnya Hendra menyentuh bibir vaginanya dan terutama menyentuh kelentitnya, mulutnya mendesah-desah, dan sssleeeepppp kepala kontol Hendra ia selipkan dilubang vaginanya, dan tanpa membuang waktu lagi Dewi mulai menekan pantatnya kebawah, bbllleeesss.bleesssbleeessdan dengan sekali hentakan kuat ia menekan pantatnya kebawah bbleeesss.kontol Hendra akhirnya terbenam seluruhnya didalam rongga senggamanya

Uugghh.ssshh.aagghhh.., Dewi dan Hendra mengerang bersamaan saat kepala kontol Hendra menerobos masuk dengan kuat dalam lubang kemaluan Dewi.

Sambil mendiamkan sebentar kontol Hendra dalam jepitan vaginanya, Dewi memeluk Hendra dan menciumi bibir Hendra dengan penuh nafsu, tapi sebelum ia mencumbu Hendra ia menyuruh Edwin untuk memasukkan kontolnya dilubang pantatnya.

Edwin dengan segera melakukan permintaan Dewi, diselipkannya kontolnya dilubang pantat Dewi, Dewi merintih saat kepala kontol Edwin mulai menerobos lubang pantatnya, Hendra merasakan memek Dewi semakin menjepit erat kontolnya saat kontol Edwin mulai menyeruak masuk dilubang pantat Dewi, Edwin merasakan lubang pantat Dewi menjepit kuat batang kemaluannya, bbleess.bblleessbbleess.Edwin mendorong masuk perlahan-lahan kontolnya didalam lubang pantat Dewi, Edwin merasakan eratnya dinding lubang pantat mencengkram batang kemaluannya.

Uuughhsempit sekali nich lubang pantat Tante,Edwin mengerang.

Heehmemeknya juga jadi tambah sempit.,Hendra pun mengerang.

Dan.Bleessss..kontol Edwin terbenam seluruhnya didalam lubang pantat Dewi, Edwin dan Hendra merasakan batang kontol mereka seperti sedang diremas-remas oleh dinding vagina dan lubang pantat Dewi, Dewi merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh jejalan kontol-kontol Edwin dan Hendra, kembali Dewi merasakan enaknya disetubuhi oleh 2 kontol, sensasi nikmat seperti ini yang dinanti-nantikan oleh Dewi.

Aagghhhkontol kalianooouuhhhhentot aku cepatooohhhssshhhaaahhpuaskan aku.oooughhsshhhaaahhh,Dewi mengerang keenakan, dengan tidak sabar ia mulai menggerakkan pantatnya maju mundur perlahan-lahan.

Ssssrrrrtttbleesssssrrtttbleessssssrttttbleee ss, kontol Hendra dan Edwin mulai keluar masuk dilubang Dewi, gerakan maju mundur Dewi belum terlalu lancar karena kedua lubangnya menjadi tambah sempit akibat kedua kontol besar yang menyumpal penuh memek dan lubang pantatnya.

Erangan dan rintihannya tidak berhenti keluar dari mulut Dewi, matanya merem melek menikmati keluar masuk kontol-kontol itu, Edwin dan Hendra sendiri merasakan kenikmatan yang luar biasa, kontol mereka terjepit dengan erat oleh lubang-lubang Dewi, pergesekan batang kemaluan mereka dengan dinding lubang Dewi sangat terasa sekali di kulit batang kemaluan mereka, merekapun melenguh dan mendesah keenakan.

Ooougghhssshhhmemekmu, tante. Sempit betul, enaak..ssshhh..aaahh,desah Hendra.

Uuuggghhaaahhhooohhlubang yang ini juga sempit sekali.nikmat..aaahhh,desah Edwin.

Edwin dan Hendra mulai mengimbangi gerakan Dewi yang sedang maju mundur, saat Dewi memajukan tubuhnya mereka menarik mundur batang kemaluan mereka, dan mendorong maju kontol mereka saat Dewi memundurkan tubuhnya, sungguh kerja sama yang sangat kompak, mereka seperti berlomba untuk mencapai titik akhir dari persetubuhan ini.

*****

Sisca cukup kelabakan mendapat serangan dari 3 lelaki itu, nafsu birahinya semakin memuncak, rangsangan-rangsangan yang diterima oleh tubuhnya akibat permainan oral ketiga lelaki itu mendera Siska seperti gelombang tanpa henti menerpa kapal. Dadang memagut bibir Siska dengan penuh nafsu, dan pada saat yang bersamaan Acep menghisap-hisap kedua putingnya bergantian kiri dan kanan, sementara kedua tangan Acep sibuk meremas-remas kedua payudaranya, ditambah dengan serangan Gito divagina dan kelentitnya, akibatnya desahan-desahanpun mengalir dari mulutnya yang sedang sibuk meladeni cumbuan Dadang dan permainan lidah Dadang yang menari didalam rongga mulutnya.

Ssshhhhhhmpppssshhhhhhmpppaahhh, Siska mendesah, suaranya bersahutan dengan desahan Dewi yang saat itu sedang asyik menikmati kontol Hadi.

Dicumbu oleh 3 lelaki sekaligus adalah pengalaman pertama bagi Siska, mulutnya mendesah dan merintih tiada hentinya, tubuhnya bergetar dengan hebatnya, menahan gelombang birahi yang menerjangnya dengan kuat, kakinya mengejang-ngejang saat kelentitnya dihisap-hisap oleh Gito, kenikmatan yang saat ini ia peroleh betul-betul luar biasa dirasakan oleh Siska, jauh berbeda dengan saat ia melakukan dengan pria yang menyimpannya sebagai gendak, saat dengan pria itu Siska tidak pernah mengalami hal seperti ini, yang ada adalah ia hanyalah sebagai pemuas nafsu pria itu.

Ssshhhooohhhaaku..tidak kuatentot..akuoohh..sshhaku ingin kontol kalianoohhh .sshhhaaahhhentot memekku..c.epataaku ingin merasakan kontol kalianssshhh..aaah .ssss,Siska merintih memohon kepada ketiga lelaki itu untuk segera menyetubuhinya.

Mendengar rintihan memohon Siska, ketiga lelaki itu menuruti kemauan Siska, mereka mendudukan Siska disofa, setelah duduk dipinggiran sofa tubuh Siska didorong kebelakang oleh Dadang, kemudian Dadang dengan berlutut disofa mengasongkan kontolnya untuk dikulum-kulum oleh Siska, sementara Acep tetap menyerbu payudara Siska, Gito sendiri mulai mengarahkan kontolnya kelubang senggama Siska.

Ssleeeepppkepala kontol Gito mulai terjepit dilubang senggama Siska, Siska mengerang disela-sela kontol Dadang yang saat itu sedang dalam kuluman mulutnya.

Uugghh.pelan..kontolmu besar .robek memekkuaaagghhtekan pelan-pelan ssshhhhhmmmpppssslllrrrppp,erang Siska.

Dadang merem melek oleh permainan mulut Siska yang luar biasa, pipi Siska terlihat kempot saat ia menghisap-hisap kontol Dadang, tangan kiri berpegangan disandaran kepala sofa itu sementara tangan kanannya memegangi belakang kepala Siska, membantu memaju mundurkan kepala Siska, saat ia menekan kepala Siska kedepan Dadangpun memajukan pantatnya akibatnya kontolnya melesak lebih dalam dirongga mulut Siska, kepala kontolnya menyentuh anak tekak Siska dan dinding tenggorokan Siska, akibatnya

Uugghh..uhuukkuuhuukkaaahhh..sssshhooghhh, Siska tersedak akibat sodokan kontol Dadang dimulutnya, suara tersedaknya bersamaan dengan Dewi yang saat itu sedang tersedak juga akibat kontol Hadi.

Dadang nampaknya tidak peduli dengan Siska yang tersedak itu, dalam pikirannya hanya satu yaitu tuntas mencapai puncak kenikmatannya, kontolnya dikeluar masukkan didalam mulut Siska, Siska sendiri menjadi gelagapan dibuatnya, bibirnya dikatupkan erat-erat sehingga batang kemaluan Dadang tidak terlalu menerobos terlalu dalam dirongga mulutnya, Dadang yang merasakan bibir Siska menempel kuat dibatang kemaluannya malah menjadi keenakan geseran-geseran dibatang kemaluannya malah lebih terasa, apalagi Siska menambahi dengan memainkan lidahnya dibatang dan kepala kontolnya, Dadang semakin mempercepat gerakan maju mundurnya, kontolnya berdenyut kencang, puncak kenikmatannya hampir ia rengkuh, Siska yang merasakan kontol Dadang mulai berdenyut menambahi aksinya dengan mulai mengelus-ngelus biji peler Dadang, akibatnya tak lama berselang Dadang mendengus keras,

Uugghhh..aaahhhaakku..keluargila..sepongan Tante, gak ada duanyauuughh..oohh enak..sekali,Tannteeesambut pejuhkuuuu,Dadang mengerang keenakan, menikmati terengkuhnya puncak birahinya, kontolnya menyemburkan sperma didalam mulut Siska.

Dadang menekan dalam-dalam kontolnya dimulut Siska, kontolnya mengejut-ngejut saat menyemburkan spermanya, Ccreeeetttcccreeetttccreetttccreeettt. Siska merasakan cairan hangat menyembur di tenggorokannya, Siskapun tambah gelagapan dibuatnya, Siskapun tersedak karena jejalan kontol Dadang dan sperma Dadang di tenggorokkannya, tapi ia tidak dapat melakukan apa-apa selain dengan terpaksa menelan semua sperma yang keluar dari kontol Dadang,

Uuhhuukk..uuhuuukkggleeekkhhmmpp.aaagghhhglle ekkuuhuukkuuhuukk, Siska tersedak dan terpaksa menelan sperma Dadang.

Dan saat Siska sedang tersedak itu Dewi juga mengalami hal yang serupa, Dewi tersedak akibat sperma dan kontol Hadi, muka Siska dan Dewi bersemu merah, akibat kesulitannya mereka untuk bernafas, tapi ada sensasi aneh yang mereka rasakan saat itu.

Nanang memagut bibir ranum Rina dengan penuh nafsu lidahnya menjulur masuk didalam rongga mulut Rina, menari-nari dengan lincahnya, dibalas oleh Rina juga dengan birahi yang tinggi, mereka berpagutan dengan liar seolah takut tidak ada hari esok untuk menikmati sensasi seks, lidah mereka bertautan.

Desahan dan lenguhan Rina mulai terdengar, ini semua akibat permainan Hilman ditoketnya, Hilman dengan asyiknya meremas-remas kedua payudara Rina dengan penuh nafsu, mulutnya menyedot-nyedot kedua payudara itu bergantian kiri dan kanan, kedua putingnyapun tidak luput dari sedotan dan gigitan lembut Hilman.

Ooohhssshhhhhhmmpppsssshh..hhmmppaaahhhooohh hmmmppsshh,Rina mendesah manja.

Feri yang melihat semua temannya sudah mulai sibuk dengan aksi mereka, iapun tidak mau ketinggalan, Feripun berjongkok diantara selangkangan Rina, kaki kanan Rina ia angkat dan ditaruh diatas sofa, sehingga vagina Rina terlihat dengan jelas dimatanya, belahan bibir vagina Rina terlihat dengan jelas didepan matanya, bulu-bulu hitam yang menghiasi selangkangan Rina tertata rapih membentuk segitiga hitam tepat diatas bibir vagina Rina, dengan penuh nafsu bibir vagina tersebut ia kuakkan sehingga kelentitnya yang masih tersembunyi mulai nampak sedikit, tanpa menunggu waktu lagi Feri mulai menyeruput kelentit Rina kuat-kuat seperti orang yang sedang menyeruput kopi, akibatnya Rina melenguh panjang menerima hisapan kuat itu.

Oooogghhhssshhhhhmmmppaaahhhoooohhheenakk.. terusooohh..ssshhmm.. hhmmppp,Rina melenguh sambil mulutnya membalas pagutan Nanang.

Seperti Siska yang sedang kelabakan diserang tiga lelaki sekaligus, Rina juga mengalami hal yang serupa, pengalaman yang belum pernah ia alami selama ini, pengalaman yang hanya ada dalam bayangannya saja saat ia melayani lelaki yang memelihara ia.

Feri semakin lincah memainkan lidah dan mulutnya di kelentit Rina, tangan Rina meremas-remas rambut Feri dan kadang-kadang menekan kepala Feri saat Feri sedang menghisap-hisap kelentitnya, tidak hanya mulut saja yang aktif tetapi tangan Feripun mulai beraksi, kedua jari tangan kanannya mulai ia selipkan masuk kedalam memek Rina, kemudian dikocok-kocoknya jari tangannya itu, memek Rina yang sudah basah semakin basah dibuatnya, tangan kiri Feripun ikut beraksi jari tengahnya mulai dimasukkan dalam lubang pantat Rina, jari tangan kirinya itu mulai mengocok-ngocok lubang pantat Rina seirama dengan gerakan jari tangan kanannya yang mengocok-ngocok memek Rina.

Hhhhmmmmpp..ssshh..aaahhhhmmppteruskocok..meme kku..oooghh..hhhmmmpp..shhhh aaah.ooogghhterusshhmmmpp, Rina merintih disela-sela pagutan Nanang, matanya terpejam menikmati sensasi permainan oral ketiga lelaki ini.

Permainan oral yang diterimanya kali ini adalah permainan oral yang pertama kalinya ia alami, sebelumnya belum pernah ia mendapatkan permainan oral seperti ini, terutama permainan Feri dikedua lubang bagian bawahnya. Gelombang birahinya menerpa sekujur tubuhnya tanpa henti, darahnya menggelegak mengalir dengan cepat, rintihannya tiada henti keluar dari mulutnya yang sedang berpagutan dengan Nanang, bersahutan dengan rintihan keempat temannya yang juga sedang menikmati serangan para lelaki itu.

Dari pertama Rina melangkahkan kaki keruangan ini, ia sudah sangat terangsang dengan pemandangan yang ia dapati, libido seksnya menuntut untuk dipuasi, memeknya basah dan gatal ingin merasakan sodokan-sodokan kontol.

Tubuh Rina terlihat bergetar hebat, kedua kakinya meregang-regang, pantatnya terlihat mengejut-ngejut mengikuti irama hisapan Feri dikelentitnya dan seolah menyambut sodokan-sodokan jari-jari tangan Feri di kedua lubangnya.

Oooogghhhmmppp..ssshh..aaahhkocok..terusooohhh …hhmmppsshhaahhh…nikmat enak hhmmpppaaahhhpuaskan..aku, Rina merintih-rintih menikmati permainan Feri di bawah.

Shh..aaahhgeli terus..jilati..akuaaahh..yach hisap tetekkuoougghgilaaaahhnikmat sekali.aawww..geli, Rina mendesah menikmati jilatan Nanang dileher dan telinganya serta menikmati hisapan Hilman dikedua payudaranya.

Kenikmatan yang dirasakan oleh Rina sungguh luarbiasa dan belum pernah ia alami selama ini, batinnya berkata ini baru dengan mulut dan jari mereka saja sudah nikmat begini apalagi kalau dengan kontol-kontol mereka yang berukuran lebih panjang dan besar dari lelaki yang memeliharanya, desahan dan rintihannya terus terdengar, berbarengan dengan suara tersedaknya Siska dan Dewi, sungguh kontras didengar suara mereka bertiga, tak lama berselang Rina melenguh panjang, kakinya bergetar hebat kedua tangannya meremas-remas rambut Feri dan menekan kepala Feri seolah Rina ingin Feri untuk menelan kelentit dan memeknya, pantatnya mengejut-ngejut, gelombang birahi yang menerpanya tidak dapat ia bendung lagi, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, kepalanya terdongak kebelakang dengan mata terpejam menikmati detik-detik pencapaian puncak kenikmatannya, sssrrrrr..ssrrr .sssssrrrrsssrrrr.sssssrrr.vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami tangan Feri dan mulut Feri yang disambut dengan hisapan-hisapan kuat.

Oooooohh.aaaku..keluaraaaaagghhsshhhaahhhooh h..nikmat..sekali.eenaakkk ooogghh..sshhaahhaaakku puas.ssekalli, Rina melenguh panjang. Menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh.

Nanang menciumi pipi, leher dan telinga Rina dengan lembut, hal yang sama dilakukan oleh Hilman yang menciumi kedua tetek Rina juga dengan lembut dan Feri yang beraksi dibawah melakukan jilatan-jilatan di bibir vagina dan kelentit Rina serta jari-jari tangannya masih tetap keluar masuk di lubang vagina dan pantat Rina tetapi dengan perlahan-lahan, semuanya aksi mereka itu semakin menambah sensasi nikmat Rina, disaat yang bersamaan lenguhan Rina disahuti oleh erangan Hadi dan Dadang yang sama-sama meraih puncak kenikmatannya, mereka bertiga hampir bersamaan menaklukkan puncak kenikmatan mereka.

*****
Doni, Roni dan Parmin yang sedang menggarap Nita, dan juga Dedi, Anto serta Udin yang asyik mengerjai Hani, semakin bersemangat mengeluar masukkan batang kemaluan mereka di ketiga lubang Nita dan Hani, apalagi Doni sambil asyik mengembat lubang pantat Nita ia melihat pemandangan ketiga grup yang baru saja bergabung dan sedang memulai acara mereka, Dedi juga menikmati pemandangan itu, mereka berdua seolah menonton film BF tapi yang ini adalah siaran langsung, gerakan tangan mereka semakin bertambah semangat, tubuh Nita dan Hani semakin cepat maju mundur, akibatnya batang-batang kemaluan mereka semakin cepat keluar masuk di lubang senggama Hani dan Nita.

Hani dan Nita semakin mendesah dan merintih-rintih, kemaluan mereka semakin basah oleh sodokan-sodokan batang-batang perkasa itu, keringat mereka semakin banyak mengalir keluar bercampur baur dengan keringat para lelaki itu, sodokan-sodokan yang kuat dan dalam disertai hisapan-hisapan penuh nafsu dikedua payudara mereka membuat bertambahnya sensasi nikmat mereka, suara desahan dan rintihan mereka bersahutan dengan suara dari kelompok Dewi, suasana ruangan itu semakin ramai dengan suara desahan dan rintihan yang saling bersahutan dan bercampur aduk dengan suara kecipak kemaluan mereka yang beradu dan suara kecipak tubuh mereka yang sudah berkeringat itu beradu.

Mereka berdelapan seolah sedang berlomba dengan grup Dewi untuk mencapai titik akhir dari persetubuhan mereka, terlihat batang-batang kemaluan mereka mengkilat terkena sinar lampu karena telah dibasahi oleh cairan pelicin mereka.

Gerakan masuk keluar batang-batang kemaluan mereka sungguh teratur dan sangat kompak, dan juga menimbulkan suara yang merangsang bagi yang mendengar.

*****
Dewi yang menyaksikan Doni cs yang begitu gencarnya mengerjai Nita dan Hani, juga ikut terangsang, Dewi semakin bersemangat memaju mundurkan pantatnya, batang-batang kemaluan Hendra dan Edwin bergerak keluar masuk dengan cepat seirama dengan gerakan maju mundur pantat Dewi.

Sementara Siska yang sedang dientot memeknya oleh kontol Gito juga semakin bernafsu melihat pemandangan grup Doni itu, kedua kakinya ia lingkarkan kepinggang Gito, saat Gito mendorong maju kontolnya Siska juga menekankan kakiknya sehingga batang kemaluan Gito melesak lebih dalam sehingga ujung kepala kontolnya menyentuh dinding rahim Siska.

Sementara Acep menghampiri Dewi yang sedang dientot oleh Hendra dan Edwin, iapun berdiri disamping Dewi dan menyodorkan kontolnya kemulut Dewi yang segera disambut oleh Dewi, tangan Acep sendiri mulai beraksi meremas-remas payudara Dewi yang sedang berguncang.

Rina yang saat itu baru saja tuntas mencapai puncak kenikmatannya mulai terangsang kembali, dan ia memohon kepada Feri cs untuk segera mengentot lubang memeknya, kemudian Feri berdiri dan menggendong Rina, dipeganginya pantat Rina, sambil jarinya membuka lubang memek Rina dan diarahkan kebatang kemaluannya, sleepppkepala kontolnya terjepit lubang vagina Rina, dan bllleeessss.dengan sekali hentakan kuat Feri menurunkan pantat Rina sehingga batang kemaluannya menerobos dengan kuat dan akhirnya terbenam seluruhnya didalam lubang vagina Rina, Rina mengerang saat merasakan sodokan kuat batang kemaluan Feri di memeknya.

Uuuughhh..kontolmu besar sekalioooohh robek memekku.tapi enaakkaahhh, Rina mengerang.

Nanang kemudian beralih kebelakang Rina dan mulai mengarahkan kontolnya kelubang pantat Rina, sleeepppkepala kontolnya mulai menerobos masuk dilubang pantat Rina, dan bbleeessss.dengan sekali sentakan kuat Nanang mendorong keatas kontolnya, batang kemaluannya hanya dapat masuk sedikit saja karena sempitnya lubang pantat Rina dan Rina sendiri menjerit dibuatnya,

Aaieeesaakiitttaaagghh..pelaannoooohhhpantatk u sakit sekali,jerit Rina kesakitan.

Uuugghhsempit sekali.,Nanang mendengus, sambil mendorong lagi batang kemaluannya,

Bleesss.. kontolnya masuk sedikit, bleess lagi hanya sedikit saja yang dapat masuk, bleesss.. Nanang menekan lagi, bleess. Perlahan batang kemaluannya sudah masuk setengahnya. Dan Nanang mencoba lagi dengan sekali sentakan kuat ia menekan keatas sementara tangannya yang memegangi pinggang Rina menekan tubuh Rina kebawah, Bleesssss kontol Nanang tenggelam didalam lubang pantat Rina begitupula dengan kontol Feri yang semakin terbenam kedalam memek Rina.

Uuughhhhhssshhhaahhsakiiitt.tapii..enakkoooh hentot..aku..puaskan lagi aku.., Rina merintih keenakan dan kesakitan, kedua tangannya memeluk leher Feri.

Feri dan Nanang kemudian bekerja sama menahan beban tubuh Rina dengan kedua tangan mereka dan mulai menaik turunkan tubuh Rina, terlihat batang kemaluan Nanang dan Feri keluar masuk dikedua lubang Rina seperti piston mesin yang sedang bergerak.

*****

Gito dengan penuh semangat memompa batang kemaluannya didalam vagina Siska, ia berpacu dengan gelombang birahi yang menerpanya, Siska dibuatnya merintih-rintih keenakan akibat gocekan-gocekan kontolnya, kemaluannya bergerak keluar masuk diiringi alunan suara kecipak beradunya kemaluan mereka, dengusan Gito bersahutan dengan erangan Siska.

Setiap mendorong batang kemaluannya Gito menekan kuat-kuat sehingga ujung kepala kontolnya mengenai dinding rahim Siska, Siska dibuat semakin keenakan akibatnya, ditambah dengan gesekan bulu-bulu kemaluan Gito yang menggelitik kelentitnya setiap Gito menekan dalam-dalam batang kemaluannya itu.

Uugghh..memekmu enak sekalii, bu. Jepitannya erat sekali dibatang kontolkuooohh.. nikmat betul ngentot ibu ini..,dengus Gito sambil terus menggenjot Siska.

Ssshh..aahsssh..aaahhhenak..terustekan yang dalam..aahh..sshhyang kuat terus. Entot aku..puaskkann..akueeenaakniikmatnyaa..aaahh..ss hhh..,rintih Siska keenakan.

Sodokan Gito semakin lama semakin dalam dan kuat, gerakan tubuhnya mulai tidak beraturan, dengusan penuh nafsu Gito semakin terdengar, dan plop Gito mencabut keluar batangnya dari dalam cengkraman memek Siska, Siska merasa hampa saat Gito mencabut batang kemaluannya, dengan gerakan cepat Gito beranjak kehadapan wajah Siska dan mengasongkan kontolnya sambil mengocoknya, dan creeetttccreetttccreeetttccreeettkontol Gito menyemburkan sperma diwajah Siska, tubuh Gito meregang merasakan puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh,

Ooohh..aku keluar.ooohsambut pejuhku, Bu. Ooohh hisap kontolku iniooohh,Gito mendengus saat merasakan terjangan pejuhnya yang keluar dari batang kemaluannya itu.

Hhhmmmppssslrrrpppsssslrrphhmmmppaaahhhkamu curang aaku..belum puas kamu keluar duluanaaahhhssslrpphhmmpp.., Siska mendesah agak kecewa karena Gito muncrat duluan, sementara nafsu birahinya belum terlampiaskan.

Hilman yang saat itu tidak kebagian menggarap tubuh Rina, melihat Gito yang sedang meregang menikmati puncak birahinya, kemudian mendekati Siska dan mulai mengarahkan batang kemaluannya ke vagina Siska, ssleepppkepala kontolnya ia selipkan dilubang memek Siska yang sangat basah, dan bleesssss..dengan hentakan kuat Himan mendorong masuk batang kemaluannya kedalam lobang senggama Siska, kontolnya dengan mudah menerobos masuk memek Siska, Siska kaget dengan sodokan langsung Hilman tapi Siska menyukainya karena kali ia nafsu birahinya pasti dapat terpuaskan.

Sambil mengulum-ngulum kontol Gito yang mulai menyusut dan menghisap-hisap sisa sperma di kontol Gito, Siska mulai merasakan kontol Hilman keluar masuk dimemeknya. Kenikmatannya yang tadi sempat terhenti karena Gito meraih puncak kenikmatannya mulai dirasakannya lagi, sodokan-sodokan Hilman didalam lubang kemaluannya diimbanginya dengan putaran pantatnya, saat Hilman mendorong maju kontolnya Siska memutar naik pantatnya dan saat Hilman menarik kontolnya Siska memutar turun pantatnya, akibatnya Hilman merasakan kontolnya seperti dipilin-pilin oleh memek Siska. Dengusan Hilman dan rintihan Siska mulai ikut meramaikan suasana ruangan itu.

Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju mundur menerpa wajah Roni, Roni menyambut dengan mulutnya dan menghisap-hisap payudara Nita bergantian.

Hhhmmmpp.sssllrrppphmmmpppssslrrpppsssshhhhh mmppp..aaaahh..sslrrpp aahh hhmmpp..ssslrrppssshhh.hhmmmpppsslrrppp,deng usan Nita terdengar disela-sela kesibukannya menyepong batang kemaluan Parmin.

Uughhhnikmat terus emot kon*olkuaaahhuuggghh.aahhh..,Parmin melenguh menikmati sepongan Nita.

Hhhhmmpp.ssslrrppphhmmssslrppooohhh..ssslrrpp. .hhmmppaaahhhhhhmmpp,Roni menggumam sambil terus menghisap-hisap tetek Nita.

Ooohh..tante.enak betul ngentot tanteaaahh nikmat.ooohh,Doni mengerang keenakan sambil terus mempercepat gerakannya.

Ooohhterusentotakuuuoohhsshhhhhmmmppp.aaah henakknikmat. ooohhh .yang dalamyang kuathhmmppp sslrppp.terus puaskan aku.ooohh..hhmmppp..ssllrpp sshhh..aahhhhmmpp..sslrrpp,desahan Nita terus terdengar disela-sela kesibukannya menyepong kon**l Parmin.

Selang tak lama tubuh mereka berempat bergetar dengan hebat, tubuh mereka meregang, puncak kenikmatan yang dinanti-nantikan oleh mereka akhirnya datang juga, tubuh mereka kelojotan, gerakan tubuh mereka semakin tidak beraturan, hampir secara bersamaan mereka mengerang, kemaluan merekapun hampir berbarengan memuntahkan lahar kenikmatan mereka.

Ccreeeettt..c.creeetttccreeett..ssrrrsssrrr..ccr eeettt..creettt..creett..ssrrr..ssrrr ketiga lubang Nita dipenuhi oleh pejuh yang menyembur keluar dari batang-batang kemaluan Doni, Roni dan Parmin, Roni merasakan hangatnya lahar kenikmatan Nita menyirami batang kemaluannya, Roni merasakan denyutan kuat dinding vagina Nita seolah meremas-remas batang kemaluannya, lubang pantat Nitapun ikut mengempot kuat saat Nita mencapai klimaksnya itu, Doni merasakan batang kemaluannya seolah dipijat-pijat oleh lubang pantat Nita, sementara Parmin menikmati sedotan kuat dibatang kemaluannya karena saat Nita sedang merengkuh puncak kenikmatannya itu Nita menyedot kuat-kuat batang kemaluan Parmin.

Uuggghhh.gillaa..sedotannyaaaaku aaahhhnikmat sekali,Parmin mendengus saat merasakan batang kemaluannya yang saat itu sedang memuntahkan cairan sperma disedot kuat-kuat oleh Nita, air pejuhnya langsung masuk dan ditelan oleh Nita.

Akku keluar..ooohhnikmat betul.enak..Tante..enakooohhpantatmuini oohh,Doni mengerang keenakan merasakan empotan lubang pantat Nita.

Akku juga..oohbatang kontolku seperti diremas-remasaahh..oohh..,Roni melenguh matanya merem melek menikmati pijatan-pijatan dinding vagina Nita di batang kemaluannya.

Hhhmmppglleekk..ssllrrpppgleeekkssllrrpppaaah hnikmatsslrrpp..gleekkoohh. aku keluarpuas akussslrrpp..gleekkkssslrrppp..gleekk..aahhkont ol-kontol kalian betul betul hebat..ooohhnikmat sekali,Nita merintih keenakan ditengah kesibukannya menghisap pejuh Parmin.

Suara erangan dan rintihan mereka berempat hampir bersamaan dengan erangan Gito yang baru saja mencapai puncak kenikmatannya juga, saat Gito terkapar kelelahan dan sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dicapainya, keempat orang ini juga sama-sama menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh.

*****
Uuughhaaahhhssshhh..hhhmmppssslrpphhhmmppp..s sslrrpp..aahh..sshh..oouuhh. hhmmppp..sslrrppp..hhhmmpp..sslllrppp..aaahhhenak terus entot aku..buat aku puas. Oohh hhmmpp..sslrpppsshhh,Hani merintih-rintih keenakan sambil mulutnya sibuk mengulum-ngulum batang kemaluan Udin.

Uugghhkalian betul-betul jantanoohh..ini yang aku butuhkan selama inissshhh..aahhh hmmmppp..ssslrpppaaahhhmmmppslllrpppnikmatnya enak sekalliiihmmpp..sllrpppp aaaahhssshhh.hmmpppslrrrppp, tak hentinya Hani merintih-rintih keenakan menikmati genjotan batang-batang kemaluan Dedi dan Anto.

Dedi dan Anto bekerja sama dengan baik saat mereka mengeluar masukkan batang kemaluan mereka, saat mereka mendorong maju batang mereka, merekapun menekannya dalam-dalam, sehingga dinding rahim Hani tersentuh oleh ujung kepala kontol Anto.

Sementara itu Udin yang sedang menikmati permainan mulut Hanipun merem melek menikmati sedotan-sedotan kuat Hani, pipi Hani menjadi kempot saat ia menyedot kuat-kuat itu, tubuh Udin menggigil keenakan dibuatnya.

Uughh..gila sedotannya.enak..aahhhterus sedot Bu, terusbuat aku muncratooohh. Aaahhh.nikmat betul ., Udin mengerang keenakan.

Lubang pantatnya sempit banget bihooohhh.enak betulooohh.Tantteeeenak..betul.. ngentot anusmu . Aaahhhsedaapp,Dedi mengerang juga.

Tanteeememekmu..aaahhhhmpppsslrppptetekmumas ih mengkaloouughhsslrpp. Sempit bener memekmu,Antopun ikut mengerang merasakan jepitan yang ketat dibatang kemaluannya.

Ooohhh.hhmmmpppslrrppp..gleekkssslllrppp..sssh hhaaaghhhoouughhkon***-***tol kalian juga enaaaaakk.besaaarrpuaskan akuooohhhhmmppsllrppp.entot aku.yang kuat hhmpppssslrrrpppssshhh..aaahhhtekan yang dalam.ooohh..hmmmppsslrrppp enak,Hani semakin merintih-rintih.

Tambah cepat sodokan kaliaanooughhhmmpp..sslrpphmmpppslrrpppsshhaa ahhh aku tidak tahan lagiooohhsssshhhaaahhhhhmmmpppaaku mau kelluaarooohhh.yang cepatoooghhyang dalam.uuughhsshhhaaahhentot..terus.. aakkuuoooghhenaakkhhmpppsslrrrppssshhsslrppp sssshh.., rintihan Hani semakin menjadi-jadi.

Dedi dan Anto menambah cepat gerakan keluar masuk batang-batang kemaluan mereka sesuai dengan permintaan Hani, dan mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hani, puncak kenikmatan mereka sudah diambang pintu, Udinpun merasakan hal yang sama, dengan penuh nafsu Udin mulai mencecar mulut Hani dengan cepat, kedua tangannya memegangi kepala Hani, Hani dibuat gelagapan oleh jejalan batang kemaluan Udin dimulutnya, batang kemaluan Udin semakin dalam masuk dimulutnya, setiap Udin mendorong maju batang kemaluannya anak tekak dan tenggorokan Hani tersentuh oleh batang kemaluan Udin.

Dan hampir bersamaan lahar kenikmatan mereka menyembur dengan kuat, creeeettt.creeettt ssrrrrrccreettt..ccreettcrettt..sssrrr.sssrrrc creeettt..ccrreeettt

Oooohhhaaaku keluaarr,pekik mereka berempat kompak, hampir bersamaan dengan pekikan Gito dan Doni cs, yang sama-sama berhasil merengkuh puncak kenikmatan mereka.

Anto, Dedi dan Udin menekan dalam-dalam batang kemaluan mereka di lubang-lubang senggama Hani, tubuh mereka meregang dan mengejut-ngejut seirama dengan berdenyutnya batang kemaluan mereka saat menyemprotkan lahar kenikmatannya, Hani menggelepar menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia raih, pantatnya mengejut-ngejut, vaginanya berdenyut-denyut kuat sambil memuntahkan lahar kenikmatannya dan membasahi lubang memek dan batang kemaluan Anto.

Uuuugghhh..uuhuukkgleeek.uuughhh..uuhuukkgleee kkhhmmpppsslrrpppggleekk ssslrppphhmmmpppaaahhoooohhh., Hani tersedak saat kemaluan Udin menyemprotkan air pejuhnya, pejuh Udin langsung masuk tenggorokan, Hani menelan pejuh Udin yang menerobos ditenggorokannya.

Akhirnya mereka berempat juga terkapar kecapaian menyusul Gito dan Doni cs yang baru saja terkapar juga, wajah puas terukir diwajah mereka.

*****
Vagina Siska yang semakin basah mempermudah keluar masuk batang kemaluan Hilman, Hilman dengan bertubi-tubi menyodokkan penisnya dimemek Siska, Siska mendesah-desah keenakan, Siska melenguh tubuhnya melenting matanya terbelalak saat ujung kepala penis Hilman menyentuh dinding rahimnya.

Ouugghhsshhh..aaahhssshhhaahhh..hhmm..aaahh..s sshhenak..terusyang dalam..yang kuatooohhpuaskan akuyang cepataah..sshhaaahh.,rintihan Siska keluar terus menerus dari mulutnya saat menerima sodokan-sodokan penis Hilman.

Memekmu juga enaaakTanteuuugghhh..aaahh.nikmatnya ngentot Tanteaaaghhh, Hilman mengerang sambil terus mengeluar masukkan batang kemaluannya.

Rintihan Siska yang terus menerus disahuti oleh rintihan Rina yang sedang dipompa oleh Feri dan Nanang,

Ouughhenaknya.terus pompa aku..entot aku..puaskan..aku lagiiaagghh..ssshhh..aahhh .kalian hebat nikmatnya dientot seperti ini..tambah cepattambah dalaammhmmm..ahhh.. sshhh..aagghhoooghh., rintih Rina.

Tubuh Rina terlihat naik turun, kedua batang kemaluan kepunyaan Nanang dan Feri keluar masuk dengan cepat, tangan Feri menahan beban tubuh Rina dipantat sementara tangan Nanang menahannya dipinggang Rina, kerja sama Feri dan Nanang saat mengangkat dan menurunkan tubuh Rina betul-betul kompak.

Dewi pun tidak mau kalah dengan kedua temannya yang merintih-rintih keenakan akibat sodokan penis dilubang mereka, Dewi yang saat itu sedang menerima sodokan-sodokan Hendra di vaginanya dan Edwin di lubang pantatnya ikutan merintih meramaikan suasana yang semakin menghangat, suara rintihan Dewi sedikit berbeda dengan kedua temannya itu karena mulutnya sedang asyik menyepong penis Acep,

Hhhmmppp..sslrrpppaaahhsshhhaahhhhmmppp..ssll lrrpppssslrppp..hhhmppp..oohhh entotaku..tekanaaaahh..yang dalamhhmmpp..sslrpppteruss.hhmppaahh..sshhh. yang kuatuuhuukkuuhuukk..hhmmpp..slrpppsshhh..aahh, suara rintihan Dewi bercampur dengan suara sedotan-sedotannya dipenis Acep kadang-kadang suara tersedaknya terdengar saat penis Acep masuk terlalu dalam didalam mulutnya sehingga menyentuh anak tekaknya dan dinding tenggorokkannya.

Saat ketiga grup ini sedang asyiknya memacu birahi mereka untuk segera mencapai puncaknya, ketiga grup ini mendengar pekikan nikmat dari Gito, kemudian disambung oleh suara jeritan puas dari kelompok Doni dan kelompok Dedi, nampaknya Gito, Doni dan kelompoknya serta Dedi dan grupnya telah berhasil terlebih dahulu mencapai titik puncak pendakian kenikmatan mereka.

Ketiga grup yang masih asyik dengan pergulatan mereka ini semakin mempercepat gerakan-gerakan mereka, mereka berlomba untuk mencapai puncak kenikmatannya masing-masing, nafas mereka semakin memburu, birahi mereka semakin menggelegak, keringat mereka semakin deras keluar dari tubuh mereka, desahan dan rintihan mereka terus menerus terdengar.

Hilman semakin menggebu menggenjot penisnya keluar masuk dimemek Siska, Siska mengimbangi dengan putaran-putaran erotis pantatnya, Hilman menekan Siska memutar keatas, Hilman menarik Siska memutar kebawah, Hilman merasakan batang penisnya seperti dipilin-pilin, Hilmanpun melenguh keenakan bersahutan dengan rintihan nikmat Siska,

Uuggghhpenisku..seperti.dipilin-pilin..ooohh..terus..Tante..enak..sekalinikmatgo yangan pantatmupersis goyangan Inuloouughh..terus..tanteterus..putar..goyangaa hhhh, Hilman melenguh.

Kooontoolmmujugaaoooghhh.enaakterus..tekan yang dalamyang kuaat..agghh enak.nikmaaatyang cepat.puaskkaan. aku,Siska merintih-rintih keenakan.

*****

Feri dan Nanangpun mempercepat gerakan tangan mereka yang menaik turunkan tubuh Rina, gerakan penis mereka semakin cepat keluar masuk dilubang vagina dan pantat Rina, secepat gerakan naik turun tubuh Rina, Rina mendesah-desah menikmati sodokan-sodokan dua batang penis, Feri dan Nanangpun melenguh keenakan merasakan jepitan kuat di penis mereka.

Oohhhhenaakkaaghh..terus..terusyang cepatyang dalamterus..ooohh..enak sekali dientot kaliannoooghhaaagghhkkooontooll..kaliann nikmaat..aaghhsshhh..aaahhh oohhh,Rina mendesah keenakan.

Ooohh.Tante memekmu jugaaa..enakk.oohhh,Feri melenguh.

Iyaah..Bupantatmu juga sempit sekaliiooohhnikmat,Nanang melenguh.

*****

Aaaaghhh.terussssstekaaannhmmppp..sslrrpppkko ontooll..kkaaaliann..hhmmpp..sslrrpp
aaaaghh..sshhhhhmmpppyang dalam..uuhuukkuuhuukkk..nikmat.aaghh..ssshh..ooh h hmmmmpppsllrppp,Dewipun ikut mengerang-erang keenakan sambil tersedak-sedak saat penis Acep menyentuh anak tekak dan tenggorokannya.

Tante.Ooohhh..ssedot punyakuuu..aaahhh..nikmat sekali seponganmuTantehebat..aahhh .terus Tantee.,..terusss..sedot yang kuattthhmm..aahhh,Acep mengerang-erang keenakan.

Hendra sambil menikmati penisnya yang sedang keluar masuk di memek Dewi sibuk dengan kedua payudara Dewi yang berguncang dihadapan matanya, mulutnya bergiliran menghisap dan menjilati kedua putingnya bergiliran kiri dan kanan, tangannya aktif meremas-remas kedua payudara itu, membuat kenikmatan Dewi semakin bertambah, Edwin dengan gencarnya menyodok-nyodokkan penisnya dilubang pantat Dewi, kedua tangannya ikut membantu gerakan maju mundurnya dengan berpegangan pada pinggang Dewi, saat ia menekan masuk penisnya tangannya menarik kuat pinggang Dewi sehingga penisnya melesak masuk lebih dalam lagi dilubang pantat Dewi, bukan hanya penisnya saja yang masuk lebih dalam tetapi penis Hendrapun menyeruak masuk lebih dalam sampai ujung kepala penis Hendra menyentuh dinding rahim Dewi dengan kuat, tatkala Edwin menarik mundur penisnya tangannya mendorong maju tubuh Dewi, begitu seterusnya lama-lama gerakannya semakin bertambah cepat.

*****

Gerakan tubuh Hilman semakin tidak beraturan, tubuhnya dan tubuh Siska mulai bergetar, kaki Siska mulai mengait dibelakang pinggang Hilman, terlihat kaki Siska mulai meregang, pantatnya terangkat, tubuhnya melenting, matanya terpejam, dari mulutnya terdengar desahan-desahan, dan

Sssssrrrrssrrrrssrrr vagina Siska menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi penis Hilman.

Ooogghhhakuu..keluarr.nikmatt..ooghh..ssshh..aa hhh..enaak.koontollmubetuul..betull maaanttappaaghh..sshhh..aahhoooohhh.tekan yang ddaaalllaammm.,Siska mengerang menyambut puncak birahinya yang berhasil ia rengkuh.

Hilman semakin mempercepat gerakannya, dan kemudian Hilman menekan penisnya dalam-dalam dilubang memek Siska, penisnya mengejut-ngejut menyemburkan spermanya di lubang senggama Siska,

Creetttcreett..creett Siska merasakan dinding rahimnya hangat oleh semprotan sperma Hilman.

AaahhhTantee..aku juga keluarmemekmmu betull enak..aaaghhh,Hilman mengerang.

*****

Saat Siska dan Hilman saling menyemburkan lahar kenikmatan mereka, Rina melenguh panjang,

Oouughhh.aaakukeluuaaarr.aaaachhh..nikmatnyad ieentoot..kaliannaaahhh..sshhh ooohhhaaaaaahhhh, Rina melenguh, puncak kenikmatannya berhasil ia raih, tubuhnya bergetar hebat, pahanya terlihat mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya.

Sssssrrrr..ssrrrr..ssssrrr.vaginanya semakin bertambah basah akibat semburan cairan kepuasan Rina.

Hampir bersamaan Feri dan Nanangpun mencapai puncak birahi mereka, mereka menurunkan tubuh Rina kebawah menyambut sodokan penis mereka, sehingga penis mereka menghujam dalam-dalam dilubang memek dan pantat Rina, penis mereka berbarengan mengejut-ngejut mengeluarkan pejuhnya.

Creeettt..ccreeetttcreetttRina merasakan hangatnya pejuh mereka berdua menyirami kedua lubangnya.

Ooohhhaaku juga keluar .Tanteeenaakkknikmatnyamemekmu inii,erang Feri.

Akku juga kkeeluaraaaghhaaahhhoohhhBu.ooohhh..,Nanang mengerang hampir bersamaan dengan erangan Feri.

*****
Mendengar erangan kepuasan kedua temannya membuat Dewi semakin ingin cepat-cepat menuntaskan hasrat birahinya, tubuhnya dimaju mundurkan lebih cepat, sedotan-sedotannya semakin menggila dipenis Acep, Acep yang mendapat serangan itu menjadi kelabakan, penisnya mulai mengejut-ngejut..dan creettt..creett..creett..

Tanteee..aku keluuaar..oohhgila sepongan Tanteaaahh..enak..betull, Acep mengerang, tubuhnya bergetar hebat, pantatnya ia tekan kedepan, penisnya melesak lebih dalam di mulut Dewi.

Uuhuukkuuhuukk.gleeekkuuhuukk..uuhukk..gleekk .sssslrpp..uuhuukkhmmpppgleeksslrrpp..hhmmppss lrrpp, Dewi tersedak-sedak akibat lesakan penis Acep yang menyentuh dinding tenggorokannya dan terjangan sperma Acep ditenggorokannya yang langsung masuk mengalir kedalam perutnya.

Gerakan Dewi terhenti sebentar saat ia sedang tersedak itu, tapi gerakan Edwin dan Hendra tidak berhenti, malahan mereka semakin meningkatkan akselarasi penis mereka dilubang memek dan pantat Dewi.

Setelah penis Acep tuntas meneteskan tetes terakhir spermanya, Dewi kembali mengikuti gerakan Edwin dan Hendra dengan memaju-mundurkan tubuhnya menyambut sodokan penis-penis mereka.

Tubuh mereka mulai bergetar dengan hebat, gerakan tubuh mereka mulai tidak beraturan, dan tiba-tiba dengan satu kali sentakan kuat Edwin menarik pantat Dewi kebelakang dan Edwin sendiri mendorong maju pantatnya, penisnya dan penis Hendra terbenam lebih dalam di lubang memek dan pantat Dewi.

Ccreeetttccreeetttccreeettsssrrrsssrrrsssrrr ccrreeettt..cccreettccreett.hampir bersamaan ketiga kemaluan mereka mengeluarkan lahar kenikmatannya.

Tubuh mereka mengejang dan meregang, mereka bertiga menggelepar menyambut kedatangan puncak kenikmatan mereka, suara erangan mereka bersahutan.

Ohhh.Tantee..aku keluaarnikmaatttnya..pantatmu ini..aaahh..ooohh..,Edwin mengerang.

Akuu juga Tanteee..aakuukeluarraaahhh..meemekmu..enaakTan tee,Hendra mengerang juga.

Shhh.aaaghhooohhhhkoontolll..kaliannbetulll hebattaaku ppuaass..sekali.dientott. olehkaliaanaaaghhssshhh..aahhh.ssshhh..aaahh. ,Dewipun merintih-rintih menikmati terjangan lahar kenikmatannya yang sedang muncrat.

*****

Pesta Ulang Tahun anaknya Doni berhasil Dewi rubah menjadi pesta seks yang tidak akan pernah dilupakan oleh dia ataupun teman-temannya, dan tentu juga yang pastinya tidak akan dilupakan oleh Doni beserta teman-temannya, dan sudah jelas pesta ini tidak akan dilupakan oleh Gito cs.

Pesta seks ini terus berlanjut sampai matahari bersinar dengan teriknya dan mereka semua telah kehabisan tenaga serta nafsu birahi mereka semua betul-betul telah terlampiaskan, entah berapa kali mereka semua mendapatkan puncak kenikmatan dari persetubuhan itu, tapi yang jelas para lelaki yang ada dipesta ini merasakan tubuh kelima wanita itu.

TAMAT


Aku sudah 15 tahun menjadi janda. Kubesarkan ketiga anak-anakku dengan tenagaku. Aku harus harus pontang pantng mencari nafkah, agar anak-anakku bisa terus sekolah. Setelah lima tahun aku sendiri, anak sulungku Harun mulai bisa membantuku di pasar dan dua adik perempuannya harus pula kerja keras di rumah, walau mereka masih SMP. Aku banga pada anak sulungku yang mau membantuku di pasar berjualan. Dia mau bekerja keras mengangkati barang-barang pelanggan, seperti beras selalu dia pikul seberat 20 Kg.

Nilai raportnya di sekolah cukup bagus dan kami senang padanya. Aku kira, dia adalah seorang anajk yang sangat berbakti kepada ibunya yang sudah janda.
Ketika ayahnya meninggal dunia dia masih kelas 5 SD dan adiknya yang kercil belum sekolah.

Sebagai anak masih kelas 5 SD, aku dan ketiga anak-anakku selalu tidur sekamar. Terkadang aku membutuhkan Harun untuk mengambil air panas, untuk menyedu susu anak bungsunya. Harun selalu saja kurang tidur. JIka hujan, aku selalu mengeloni Harun untuk melepas rinduku pada bapaknya yang mriip sekali dengan wajahnya.

Aku menolak setiap tawan laki-laki yang mau menikahiku. Terlebih jika laki-laki itu tidak jelas, mau hidup menompang pula dalam kehidupanku yang yang aku anggap sudah susah, sementara mereka mengangap aku orang mampu karena memiliki dua buah kios peninggalan suamiku yang kuusahai dengan gigih.

Harun memang suka kolokan. Malam-malam dia suka membuka bajuku dan menetek. Bila aku larang, dia selalu merengek. Dia tidak malu menetek di depan adik-adiknya. Lima tahun, dia terus menetek padaku, walau sebenarnya air tetekku sudah tidak ada. Sampai kelas 3 SMP, dia tidak bisa tidur, kalau dia tidak menetek.

Saat yang terjadi padaku, setiap kali di menetek, terus terang aku selalu nafsu, karena usiaku juga masih produktif. Terkadang, jika aku butuh, aku malah sering menyodorkan pentil tetekku ke mulutnya, kemudian tanganku meraba-raba klitorisku. Sampai akhirnya aku tertidur pulas, setelah aku tiba pada puncak klimaksku. Terkadang, Harun justru tertidur lebih dulu, sebelum aku tiba pada klimaksku, lalu aku memaksanya untuk kembali mengisap tetekku. Jika dia tidak mau, aku mengancam, kalau besok-besok aku tidak mengizinkannya menetek lagi.

Lima tahun dia terus menerus menetek, sampai dia kelas 1 SMA. Semakin lama, cara meneteknya semakin membuatku benar-benar bernafsu. Dia selalu menetek saat kami nonton TV, ketika adik-adiknya sudah tidur, atau kalau dia ingin menetek, dia tingalkan kamar tidurnya, lalu datang ke kamar kami dan langsung saja membuka bajuku dan terus menetek. Setelah puas menetek, dia kembali ke kamar tidurnya. Malam itu, 10 tahun lalu tidak demikian.

Kami nonton TV bareng, sampai pukul 01.00, karena ada acara yang menarik. Sambil menonton, aku menyodorkan tetekku ke mulutnya, karena aku juga nafsu melihat adegan dalam film yang kami tonton dengan menggunakan antena parabola, dari Prancis. Mungkin sebuah kesalahan bagiku, aku membiarkan tangan Harun menepis t anganku, saat aku meraba klitoris-ku. Tangan Harunlah yang menggantikan rabaan pada klitorisku dan aku menikmatinya. Aku berada di awang-awang rasanya, karean tangannya mampu membuatku terbang.

Aku pun sudah tidak duduk di sofa lagi, melainkan aku sudah duduk di lantai yang beralaskan karpet. Saat itu, tanpa sadar, karena aku sudah demikian hampir tiba pada orgasmeku. Aku tak ingat lagi bagaimana kejadiannya, tiba-tiba penis Harun sudah mesuk penuh ke dalam memekku. Aku mulai dipompanya dari atas dan aku melayaninya, sampai aku orgasme dan memeluiknya dengan kuat. Saat itu pula Harun melepaskan spermanya beberapa kali.

Lama kelamaan pelukan kami merenggang. Saat itulah aku sadar, kalau Harun masih berada di atas tubuhku.
“Kenapa kamu perkosa Ibu? Kan aku ibu kandungmu?” kataku setengah berteriak dalam bisikku. Harun tak menjawab.
“Kenapa, Nak?” tanyaku lagi.
“Maafkan Harun Bu. Harun gak sengaja. Harun nafsu sekali. Sudah lama sekali Haruin menginginkannya,” katanya ketakutan.
“Tapi….” aku meneteskan air mata.
“Maafkan Harun, Bu…”
Kami pun diam. Kuturunkan kain sarungku untuk menutup kemaluanku. Lalu aku mengambil celana dalam Harun dan memakaikannya. Saat aku memakaikannya, aku masih melihat kemaluannya masih basah berlendir.

Aku mematikan TV dan pergi meninggalkannya. Kumasuki kamarku dan dan kukunci dari dalam. Kulihat kedua putriku tertidur dengan pulas. Aku teryus menangis, sampai kemudian aku tertidur pulas dan bangun kesiangan. Aku terbanguin, setelah Harun menggedor kamarku dan aku membuka pintu. Begitu aku membuka pintu, Harun memelukku dan memohon maaf atas kejadian tadi malam. Aku diam saja. Harun mengikutiku kemana saja sampai aku mulutku mengeluarkan kata-kata:”Ya.. sudahlah.”

Beberapa hari kami tidak saling tegur sapa. Sepulang dari sekolah dia langsung ke pasar membantuku. Di pasar dia mengganti pakaiannya. Begitu dia datang, aku langsung menyiapkan makan siangnya, tanpa bicara apa-apa. Dia juga makan dalam diamnya dan bekerja dalam diamnya, karena dia sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan sebagai tugas tugas rutinnya.

Setelah sepuluh hari, dia memasuki kamarku dan membuka bajuku, lalu menetek. Duh…. bathinku. Harun datang tepat waktu, saat aku demikian bernafsu malam itu. Tak bisa kutolak perbuatannya, karena entah kenapa aku benar-benar sangat bernafsu.
“Jangan di sini. Tunggu aku di kamarmu,: bisikku. Harun langsung ke luar kamar. Kupastikan kedua putriku tertidur pulas, aku pun mendatanginya ke kamar tidurnya. Langsung kubuka tetekku untuk kusodorkan ke mulutnya. Harun justru memelukku dan mencium bibirku dan melumatnya. Aku refleks membalas lumatan bibirnya dan kami saling melumat, dan semuanya berlangsung demikian saja, dan aku sudah telanjang bulat.
Tetekku menjadi sasarannya dan memekku dielus-elusnya, sampai basah kuyup. Dan… aku merasakan memekku sudah dipenuhi sebuah benda hangat.

Kami saling berpelukan lalu kami saling jilat, saling gigit dan segalanya, hingga kami berdua t iba pada pubncak kenikmatan kami. Lalu kami terkulai, sampai kami dibangunkan oleh adzan subuh. Kami bersiap-siap memakai pakaian kami dan aku segera kembali ke kamarku.

Sebulan setelah itu, aku ternyata tidak haid. Saat aku periksakan, hasilnya menyatakan aku sudah hamil tiga minggu. Aku panik. Aku mendengar cerita-cerita tremanpteman dipasar, sampai aku mengatakan ada tetanggaku yang hamil sudah t iga minggu, sementara suaminya sedang mefrantau. Bagaimana mengatsinya. Kasihan tetanggaku, ujarku. Seorangt teman mengajariku, agar aku membawa sang tetangga ke sebuah ahli jejamuan. Katanya kalau belum lewat sebulan masih gampang di luncturkan. Nasihatnya aku turuti, Malam aku minum jamunya, besok siangnya aku haid selama empoat hari.
Setelah kulaporkan pada temanku bahwa nasihatnya itu manjur, temanku di pasar menganjurkan agar tetanggu yang aku ceritakan padanya, memakai susuk KB pada seorang bidan yang dia kenal dan laki-laki selingkuhannya itu memakai kondom jadi aman, sebab keduanya sudah saling menjaga.

Aku memutuskan, aku harus memakai susuk KB dan aku membayarnya kepada sang bidan. Kemudian aku menyediakan sekotak kondom dan memberinya kepada Harun tanpa penjelasan. Harun ternyata mengerti maksudku.

Setiap hari tak ada lagi pertanyaan atau komenmtar apapun di antara kami. Jelasnya, kepada dua putriku aku mengatakan, pintu kamar jangan dikunci. Mana tau ada apa-apa, biar Harun abang mereka bisa cepat membantu. Kedua putriku malah meledekku. Katanya, biar Harun bisa netek, kapan dia dia mau.
“Hus… sudah… namanya juga sudah kebiasaan, jadi susah merobahnya,” kataku dan mereka dapat menerimanya, walau seoprang putriku sudah kelas 3 SMP.

Harun juga tak pernah mengunci pintu kamarnya. Yang paling membuatku senang, dia sama sepertiku. Tidur hanya memakai kain sarung tanpa pakai celabna dalam. Jika aku membutuhkannya, aku gampang saja mengungkap kain sarungnya, kemudian mengulumn kemaluannya sampai tegak berdiri, Jika dia tak bangun juga setelah penisnya mengeras, aku yang menaiki tubuhnya.

Sebenyanya dalam usianya ke 39 tahun aku sadar kalau sudah menua. Tapi di sisi lain, kenapa justru pada usiaku seperti ini, nafsuku justru meledak-ledak. Apakah karena aku sangat percaya pada anakku sendiri, atau apakah karena aku sangat menyayanginya ataukah aku yang tak mampu membendung nafsuku yang berlebihan.

Sebaliknya Harun sendiri selalu saja tak pernah menolak, bila aku membutuhkannya. Pernah suatu kali, di kios kami, Karena sepi pembeli, Harun tertidur di lantai di bawah meja-meja yang kami buat. DImana di atas meja-meja itu, terbentang barang dagangan dan biasanya aku duduk di lantai menunggui pembeli. Tiba-tiba nafsuku membuncah dan kemaluanku cenat-cenun ingin disetubuhi. Kuraba penis anakku dan kuraba-raba sampai mengeras. Harun menurunkan celananya, sampai kontolnya keluar dari celana. Saat itu, aku melepaskan celana dalamku dan aku beruntung, karena memakai rok kembang.

Cepat kunaiki tubuh anakku dan menuntun kontolnya memasuki memekku. Setelah masuk, tiba-tiba pembeli datang membeli sabun mandi dan aku layani, sementara kontol Harun berada di dalam memekku. Kemudian aku harus melayani pembeli yang meminta kacang hijau dua kilogram. Aku terpaksa berdiri menimbangnya. Saat itu, aku merasa sangat tersiksa sekali dan aku melayaninya dengan cepat dan mengembalikan uangnya.
Setelah dia pergi cenut-cenut di memekku tak mampu kubendung dan aku kembali ke tempat semula dan menangkap kontol Harun dan menuntunnya ke dalam memekku.

Kutekan jauh kontol itu memasuki lubangku. Saat orang sepi cepat kuputar-putar pinggullku sembari melihat ke sekeliling, kemudian aku orgasme, sampai memekku demikian basahnya. Harun justru belum orgasme. Dia menahan tubuhku dan aku memberi peluang beberapa centi, hingga dia mampu menusuk-nusuk memekku dari bawah, sampoai akhirnya dia menarik tubuhku rapat ke bawah dan dia melepaskan spermanya.

Aku bangkit dan Harun memperbaiki celanaya, kemudian di pergi ke toilet umum, sedang aku melapnya pakai tissu. Setelah Harun kembali, baru aku ke toilet umum. Keadaan seperti biasa saja. Kami hanya saling melempar senyum puas saja. Senyuj yang tak mungkin bisa diketahui oleh orang lain maknanya.

* * *

Setelah sekian tahun kami lakukan, pada sabtu malam aku bertanya, apa tak ingin bermalam minggu seperti teman-teman? Harun balik bertanya, apakah dia boleh pergi? Kataku silahkan, asal jangan pulang larut malam. Harubn pun pergi dengan mengenderai sepeda motor bebek barunya. Aku gelisah. Tak tau apa yang kugelisahkan, begitu melihat jam sudah pukul 24.00. Aku terus menunggu Harun di depan televisi. Pukul 24. 15 aku mendengar sepeda motornya memasuki teras rumah dan aku cepat membuka pintu. Aku merah dalam hjatiku, karena Harun lama sekali baru pulang.

“Kenapa kami lama sekali pulangnya?”
“Cerita-cerita sama teman setelah pulang nonton film,” jawabnya sekenanya.
“Kamu pasti bawa cewek ya?” kataku. Aku sangat cemburu sekali. Aku yakin dia sudah punya pacaran karean sudah setahun dia menjadi mahasiswa. Harun menatapku dengan tajam.
“Mana mungkin aku pacaran, Bu. Kan aku sudah punya pacar,” katanya dingin. Akau semakin cemburu. Kutangkap dia dan bertanya siapa pacarnya. Kemarahanku membuat dia berbisik di telingaku.
“Kan ibu sendiri pacarku. Mana ada yang lain,” katanya. Darahku langsung berubah dingin. Dia tersnyum manis meluluhkan hatiku.
“Apakah kamu serius, kalau aku ini pacarmu, bukan ibumu?” tanyaku melunak.
“Kedua-duanya. Pacarku dan ibuku juga. Mungkin sudah menjadi isteriku,” jawanya tegas. Aku tersenyum dan memeluknya. Dia balas memelukku, menciumku, akhirnya kami ke kamarnya dan melakukan persetubuhan.

* * *

Setelah dilantik jadi sarjana beberapa tahun, kedua adik-adiknya pun sudah menikah. Sibungsu malah tak sempat kuliah. Begitu lulus uajian kelas tiga, dia langsung dilamar. Mereka berdua sudah diboyong oleh suaminya, bahkan kota kami berjarak ratusan kilometer. Aku sudah berusia 53 tahun. Harun tak menikah-menikah juga. Egoiskah aku. Suatu malam, aku bertanya padanya, apa tak punya rencana menikah? Katanya dia tidak akan menikah, karena dia yakin dia tidak akan menemui perempuan sebaik dan secantik aku serta sehebat aku. Aku terenyuh juga mendengarnya.

“Aku kan sudah tua. Apa kamu tidak ingin yang lebih muda, yang lebih kencang dan lebih segala-galanya,” kataku. Harun marah besar. Aku berusaha menyadarkannya, agar dia realistis saja, kalayu semua tubuhku sudah tidak ketat lagi. Akhuirnya dia maragh lagi dan dia akan buktikan sesuatu yang mampu membuatnya betah, asal aku mau mengikutinya. Mana mungkin aku menolak keinginannya.

Haru mengajakku bersetubuh. Dia membawa baby oil. Sebelumnya kami sudah telanjang bulat dan aku sadar jkalau tubuhku, semuanya sudah kendur. Dia memintya kontolnya aku kulum sampai dia mengeras. Dia suruh aku menungging, seperti biasanya, dia menusuk memekku dari belakang. Yang terjadi bukan itu, dia melumuri kontolnya dan melumuri duburku dengan baby oil. Perlahan aku merasakan ujung kontolnhya menyentuh duburku, kemudian dia menekannya. Aku merasa sakit. Tapi aku harus menahannya, demi kebahagiaan Harun. Perlahan tapi pasti, kontolnya memasuki duburku. Perlahan dia menariknya, kemudian dia mensuknya kembali, demikian berulang-ulang.

Yang mulanya ada rasa sakit sedikit, lama-lama menjadi sebuah kenikmatan bagiku, terlebih saat dia menusuk-tarik kontolnya, dia metremas-remas kedua buah dadakku. Terkadang tangannya mempermainkan klentitku. Makin lama tusuk tariknya semakin cepat dan aku merasakan semakin nikmat, kemudian dia merintih dan aku juga berdesis. Kami sama-sama orgasme.

Mungkin tak ada yang opercaya, tapi aku juga tak ingin orang bisa percaya. Kini usiaku sudah 57 tahun, dan kami masih saja terus melakukannya dengan Harun. Terkadang aku kasihan padanya, karena dioa tidak menikah. Tapi terkadang aku mau marah dan mau membunuhnya, bisa dia terlalu dekat dengan perempuan mana saja, bahkan walau hanya aku tau dia bebricara basa basi saja. Tatapan mataku, diekathuinya kalau aku cemburu verat dan Harun pun menjaga dirinya.

Aku sudah tidak memakai syusuk KB lagi, karena aku sudah beberapa tahun mati haid. Tapi jangan dikira nafsuku tidak ada, malah sebaliknya, aku merasa nafsu seks ku biasa saja. Mungkin rasa cinta yang membuatku demikian dan orang selalu mengatakan aku seorang perempuan yang poenuh semangat hingga susah menjadi tua.
Entahlah !

TAMAT


“Hati-hati di jalan ya Mas…” ucapku sambil mencium tangan suamiku.

“Iya… Baik-baik juga ya di rumah…” jawab suamiku lalu segera menaiki motornya untuk berangkat kerja.

Saat ini aku memang sudah menikah dan tinggal di rumah mertuaku di daerah Bekasi. Dahulu sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan suamiku saat ini, namun karena melihat kalau dia mencintaiku dengan tulus akhirnya aku bersedia dinikahi olehnya.

“Huuuffh… Sendirian lagi deh…” gerutuku dalam hati.

Karena sudah tidak bekerja lagi setelah menjadi seorang istri, aku pun mencoba mengisi waktu luang dengan menonton TV, membersihkan rumah dan kegiatan lain yang sering dilakukan oleh ibu rumah tangga. Walaupun aku sudah mencoba usaha menjual pakaian secara online melalui Facebook, namun tetap saja setiap hari rasanya berjalan lama sekali. Akhirnya aku teringat kalau pagi itu aku belum mencuci pakaian. Kemudian aku pun mengambil pakaian kotor dan segera menuju ke kamar mandi.

Setelah sekitar 1 jam berlalu dan sedang bersiap untuk menjemur pakaian, aku mendengar suara pintu pagar rumah dibuka.

“Siapa ya? Apa ibu mertuaku udah pulang?” tanyaku kepada diri sendiri.

Kemudian aku bergegas berjalan ke arah pintu depan dan untuk memastikannya. Ternyata di luar dugaan yang berdiri di depan pintu adalah Amar, adik laki-lakiku. Tentu saja aku tidak menyangka kalau dia yang datang, karena biasanya Amar mengunjungiku pada hari libur saja, itu pun bersama adik-adikku yang lain.

“Eh… Si Amar… Kok tumben? Sendirian aja? Emang lagi nggak ada kuliah?” aku langsung mengajukan banyak pertanyaan kepadanya.

“Teteh bukannya nyuruh masuk malah nanya-nanya Amar sih? Hehehe…” jawab adikku sambil tertawa.

“Oh iya Teteh lupa…! Abis nggak biasanya maen kemari… Ya udah buka aja Mar… Nggak digembok kok…” aku pun jadi ikut tersenyum.

“Amar capek banget nih Teh abis perjalanan jauh…!” adikku berkata sambil membersihkan wajahnya yang berkeringat.

“Ya elaaah…!! Manja amat sih sekarang…! Ayo masuk deh…” aku meledeknya namun tetap membukakan pintu gerbang.

“Tapi ngeliat Teteh rasa capek Amar langsung ilang kok…” ujar adikku sambil memasukkan motornya ke halaman.

“Basi banget deh…!!” kataku lalu mencubit pelan pinggangnya.

Setelah adikku sudah berada di dalam rumah aku mempersilahkan dia untuk duduk di ruang keluarga yang penuh dengan nuansa hijau tua.

“Bentar ya Mar… Teteh lagi mau jemur baju dulu… Kamu tunggu aja di situ yah… Bikin minum aja sana…” kataku berpamitan.
“Sini Amar bantuin Teh… Lagian nggak sopan banget sih masa tamu disuruh bikin minuman sendiri?” canda adikku.

“Yeee…! Bukannya lebih nggak sopan lagi kalo tamu disuruh bantuin jemur baju?” balasku.

Amar tersenyum lebar yang memperlihatkan giginya yang berukuran besar. Tapi tentu saja tawaran adikku tadi tidak kutolak. Lagipula lebih meringankan pekerjaanku dan akan lebih cepat selesai. Saat sedang menjemur pakaian, dapat kulihat Amar terus memandangiku saat aku sedang memeras bra dan celana dalam milikku. Walaupun aku dan Amar pernah memiliki hubungan yang ‘istimewa’, namun tetap saja aku merasa risih diperhatikan seperti itu. Namun aku pikir tanggung karena sebentar lagi pekerjaan ini selesai dan aku akan ke kamar untuk segera berganti pakaian.

“Amar udah sarapan belum?” tanyaku berbasa-basi sambil terus menggantung pakaian.

“Eh… Belum laper Teh…” jawab adikku dengan sedikit canggung.

Setelah seluruh pakaian sudah dijemur, aku menyuruh Amar untuk menonton TV sambil menungguku. Sesampainya di kamar, aku berbaring sejenak karena cukup lelah setelah mencuci dan menjemur pakaian. Tanpa terasa aku tertidur cukup pulas. Dalam keadaan setengah sadar aku dapat mendengar seseorang membuka pintu kamar ini. Keberadaan orang tersebut terasa semakin mendekatiku. Tidak lama ranjang ini terasa bergoyang karena sepertinya dia sudah duduk di sebelahku.

Kemudian aku merasa ada tangan yang meraba-raba betisku. Selanjutnya tangan tersebut mulai merayap naik ke bagian pahaku. Namun karena masih berada di antara alam tidur dan kenyataan, aku mengira saat itu sedang mimpi berhubungan intim dengan suamiku. Apalagi saat tangan tersebut membelai-belai selangkanganku yang masih tertutup celana dalam itu, aku merasa bahwa itu adalah jilatan-jilatan dari suamiku.

Ketika bagian-bagian tubuhku terus disentuh dan digerayangi aku mulai tersadar dari tidurku namun tidak langsung membuka mata.

“Teteh gue emang mulus banget…” dengan mata terpejam aku masih dapat mengenal jelas suara tersebut.

Tentu saja jantungku berdetak lebih kencang ketika mendapati kalau mimpiku tadi benar-benar sedang terjadi, apalagi ditambah kenyataan bahwa Amar adalah pelakunya! Karena tidak ingin tangannya merayap lebih jauh lagi maka aku mulai merapatkan kedua pahaku. Adikku rupanya tidak menyerah begitu saja. Tangan Amar kini mulai berpindah ke daerah payudaraku, yang hanya terlindungi oleh kaos tanpa bra, kemudian meremas-remasnya secara lembut dan perlahan. Jari-jari milik adikku seolah-olah menari diatas dadaku sambil sesekali mencubit kecil.
Namun diperlakukan sedemikian rupa, aku pun akhirnya tidak dapat menahan diri lagi untuk terus berpura-pura masih terlelap.
“Ya ampuun Amaaar…!! Apa-apaan siih kamu!?” aku lalu membuka mata kemudian berteriak supaya sandiwaraku benar-benar tampak meyakinkan.
“Eeeh… A-amar cuma pengen bangunin kok… A-abis Teteh pules amat tidurnya…” kata adikku beralasan.
“Hayooo ngaku aja Mar…! Sebenarnya kamu mau ngapain Teteh sih?” aku mencoba untuk membuat Amar berkata jujur walaupun sebenarnya diriku sudah mengetahui apa yang dia lakukan dari tadi.
“Teeeh… Amar kangeeen…!” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut adikku sebelum dia mencumbu bibirku dengan ganas.
“Jangaaaan..!! Inget Mar… Emmmhh… Te-teteeeh kan u-udaaah nikaah…!” saat aku tersadar bahwa semua ini salah.

“Ayo dong Teeeh… Sekali ini ajaaaa… Amar bener-bener udah nggak tahan…” adikku memohon dengan tatapan mata yang memelas.

“Ta-tapi Mar…” kataku yang hendak beranjak pergi namun tubuhku justru memilih untuk tetap pasrah.

“Rasanya kepala Amar jadi mau pecah gara-gara napsu ngeliat Teteh tiduran tadi… Sekarang udah kentang nih…!” ujar Amar yang seolah-olah kejadian ini murni karena kesalahanku.

Sesaat kemudian tangan adikku yang kurus sudah meraba-raba bagian dadaku. Dia lalu menaikkan kaosku ke atas hingga lewat kepala dan membuangnya ke sudut ruangan. Dia tersenyum mesum melihat payudaraku yang terpampang bebas dengan putingnya yang sudah menonjol karena terangsang.
“U-udaaah Maaar… Nanti… Ennngghh… Ada yang liaaat…” aku masih berusaha melarangnya sambil mendesah karena saat ini Amar mulai mencumbui bagian samping leherku.
“Siapa yang bakal ngeliat sih Teh? Kan pada belom pulang…” tanya adikku tanpa berusaha menghentikan usahanya.
Terus-menerus mendapat perlakuan seperti itu, tentu saja pertahananku akhirnya bobol juga. Amar sungguh pandai membangkitkan nafsu birahiku karena dia sudah paham benar titik mana saja yang sensitif untuk merangsangku. Menyadari hal tersebut, ciuman Amar terus merambat turun ke pundakku. Dia menjilatinya hingga aku menggelinjang. Tanpa ingin kehilangan waktu sedetik saja mulut Amar mulai mendarat di payudara kananku. Telapak tangannya meremas-remas payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku. Lidahnya kini bermain-main di atas putingku.
Pertama-tama lidah adikku hanya menyapu bagian putingnya saja, tidak lama kemudian mulai bergerak memutari seluruh daerah di sekitarnya, sebelum diakhiri dengan mengenyot habis puting tersebut hingga pipinya terlihat kempot.

“Ohh… Geliiii Mar…!” aku memekik.

Rasa tersebut dibarengi dengan mulai tumpahnya cairan-cairan cinta yang membasahi rongga liang senggamaku. Aku sudah kewalahan untuk mengalihkan gairah yang berubi-tubi disusupkan oleh Amar. Gairahku terpompa naik dengan cepat oleh setiap sentuhannya.
“Aaaaaah… A-maaaaar…!!” aku semakin mendesah kencang akibat aksinya.

Mulut adikku kini berganti-ganti menghisap kedua payudaraku. Aku yang sudah sangat terangsang itu mulai mengelus-elus rambut Amar. Padahal sebelumnya aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk tidak akan pernah lagi melakukan hal seperti ini dengan lelaki lain, termasuk Amar, setelah menikah.

Gejolak hatiku memang sedang berperang di dalam diri ini, tetapi pada kenyataannya Amar benar-benar sudah menaikkan nafsu birahiku.

“Celananya Amar buka yah…” bisik Amar yang sudah bersiap menarik celana pendekku.

“Mar…!” kataku yang sesungguhnya berniat untuk menolak.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah tangan adikku dengan perlahan-lahan mulai dengan melucuti celana pendek beserta celana dalamku hingga bugil. Setelah itu, jari-jari panjangnya kembali membelai bibir vaginaku yang sudah basah.

“Eeemmm… Ahhh… Aamar nggak sabaran banget sih…!” kataku yang kini tidak lagi dapat menolak perlakuannya.

Mendengar ucapanku tadi membuat Amar tersenyum mesum sambil memandang wajahku dengan tatapan lapar. Adikku kemudian menelan ludah saat memandangi bukit gundul yang indah di tengah-tengah selangkanganku. Biarpun Amar sudah sangat sering melihatnya, namun aku yakin tidak akan pernah ada laki-laki yang bosan melihat vagina milikku yang mulus dan sedap dipandang. Apalagi walau sudah menikah, namun kedua bibir vaginaku masih menutup dengan sangat rapat. Warna kulit di sekitar vaginaku juga cukup putih yang tentu saja membuatnya semakin menggoda.

“Uuhhhhhh… Amaaaaar… Nghhhhh…” aku terus merintih dengan nafas tertahan saat dua jari adikku menusuki belahan vagina.

Tanpa memberi ampun lagi, Amar mulai membenamkan wajahnya di selangkanganku. Dia menghirup kuat-kuat aroma dari vagina milikku itu. Jadilah aku semakin menggeliat-geliat tidak karuan menerima cumbuannya yang bertubi-tubi pada daerah pribadiku.

“Eeeemmpphh… Sluuurpphhh… Sluuurphhh…” adikku melahap nikmat kemaluan yang dulu jadi santapannya hampir setiap hari.

Seperti ular, lidah Amar menelusup ke dalam celah vaginaku kemudian menari-nari menyapu bagian dalamnya. Dengan bantuan kedua tangannya, Amar membuka bibir vaginaku untuk membuat ruang bagi lidahnya. Sentilan ujung lidah adikku membuat tubuhku bergetar seperti disengat aliran listrik. Apalagi saat lidah tersebut kini mencapai bagian klitoris yang membuatku semakin megap-megap merasakan gelombang libido hingga menekan kerongkonganku yang sudah terasa sangat kering.

“Aaaaauuuuuh…” kedua pahaku menutup seketika menjepit kepala Amar saat merasakan ada benda lunak dan hangat yang mengenai bibir kemaluan milikku.
“Memeknya Teteh tambah wangi aja nih…! Abis kawin makin rajin dirawat ya Teh?” kata adikku di tengah melancarkan aksinya.

Tanpa menunggu jawaban dariku, Amar pun kembali menjilati vaginaku. Namun kali ini dia lebih banyak menggunakan lidahnya untuk menyentuh bagian klitorisku. Kedua Kombinasi dari kecupan, hisapan dan jilatannya yang liar membuatku menggelepar-gelepar menahan rasa nikmat yang menggelitik.

“Sssshhh… Aaaaaaahhh…!!” aku hanya bisa mendesah kencang karena terangsang.

“Aaaaaahhhh… Mmmmhhh… Hhhmmhhhh…” lirihku yang sudah mulai menyerah pada serangan lidah Amar di bawah sana.

Tidak terbayangkan apa jadinya apabila saat itu suamiku menyaksikan istrinya yang sudah tidak mengenakan penutup apapun, sedang menikmati jilatan pada selangkangannya oleh pria yang tidak lain merupakan adik kandung istrinya sendiri! Namun perasaan itu malah membuatku menggelepar-gelepar merasakan rasa nikmat sekaligus sensasi seks sedarah yang sungguh luar biasa. Adikku juga betul-betul menikmati setiap jengkal dari alat kelamin kakaknya tersebut.

Jilatan Amar semakin menjadi-jadi, lidahnya menjilat hingga masuk ke lubang vaginaku. Memang aku sudah lama tidak berhubungan seks dengannya, sehingga ada perasaan yang kuat untuk dapat merasakannya kembali.

“Hmmmm… Amaaaaaaar…!!” desahku sambil menggigit pelan bibir bagian bawah.

Vaginaku tidak ubahnya seperti makanan yang sangat lezat bagi Amar yang ingin dia nikmati sampai habis. Selangkanganku pun sudah basah kuyup dengan air liurnya yang bercampur dengan cairan vaginaku.

“Ooooouuugh…” tiba-tiba aku merasakan tubuhku bergetar hebat seketika.

Ternyata saat itu Amar sedang bermain pada bagian klitoris dengan lidahnya sekaligus memainkan jari-jari kurusnya pada lubang kenikmatanku. Aliran listrik yang mengejutkan terus aku rasakan menjalar di sekujur tubuh. Dari mulutku terus keluar desahan-desahan lepas dengan suara yang begitu menggairahkan bagi yang mendengarnya. Adikku semakin menggila setelah mencicipi lelehan lendir yang mulai keluar dari vaginaku. Melihatku yang lebih terangsang pada saat tersentuh di bagian klitoris, Amar terus melancarkan serangan-serangan lidahnya pada benda kecil tersebut.

“Aaaaaahhhh… Eemmmhhh… Maaaar…!! Uuuungggh…” aku terus mendesah sejadi-jadinya ketika dilanda rasa nikmat yang luar biasa.

Tubuhku semakin menegang dan kakiku menjadi kaku serta kedua pahaku semakin menjepit kepala Amar. Secara spontan aku menekan kepala Amar ke vagina milikku dengan kedua tangan, seperti ingin membekapnya.

“Enak yah dijilatin Amar Teh?”goda adikku di sela-sela aktivitasnya.

“I… I-iyaaaa… Maaar…. E-enaaaakkkhhhh… Ooooooohhhhh…” kataku dengan terbata-bata akibat dirangsang sedemikian rupa.

“Kalo enak buka pahanya yang lebar dong Teh… Kepala Amar jangan dijepit… Sakit nih…!” canda Amar sembari mencubit gemas paha putih mulus milikku.

Tanpa sempat tersenyum mendengar gurauannya, aku langsung melebarkan kedua paha yang tentu saja memberi keleluasaan kepada Amar untuk dapat menikmati vaginaku. Setelah menunjukkan senyum kemenangan pada wajahnya, Amar langsung menyerbu kembali vaginaku dengan gencar. Aku sampai kewalahan dan menggeliat-geliat hebat. Kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri, vaginaku mulai berkedut-kedut serta desahanku begitu lepas. Diriku sangat yakin kalau wanita manapun akan bereaksi sama sepertiku saat ini karena lidah Amar benar-benar lincah bermain.

“Maaaar…!! Amaaaaaar…!!!!” lenguhku sambil memegangi kepala adikku dengan kencang.

“Sssrpphhhh… Sslluuurrpphhh..” Adikku menyeruput dan menyedot dengan sangat kuat seakan tidak ingin melewatkan satu tetes pun cairan vaginaku.

“Waaaah… Keluarnya banyak banget sih Teh? Sampe luber kayak gini… Pasti enak banget yah memeknya diisep sama Amar?” komentar adikku sambil terus menyeruput cairan cintaku yang masih tersisa.

“Sssruuupphh… Gluukkk… Sleeerpphhh… Mmmmm… Enaknyaaa jus memek buatan Teteh… Hehehe…” komentar Amar yang pada ujung bibirnya masih terlihat lelehan cairan kewanitaanku.

“Maaaar… Teteeh… Nggggh…” hanya kata-kata tersebut yang dapat keluar dari mulutku yang sedang terengah-engah.

“Kenapa Teh? Enak kan? Mau Amar terusin?” goda adikku.

Aku hanya menghela nafas karena tahu kalau perbuatan kami berdua sudah tidak dapat dihentikan dan akan berlanjut ke tingkat yang lebih jauh lagi. Lagipula Amar masih tampak begitu bernafsu karena dirinya sama sekali belum terpuaskan. Sebenarnya cukup berat bagiku untuk melayani Amar saat ketika sadar bahwa kini aku telah bersuami. Namun vaginaku yang dari tadi dirangsang membuat gairah seksualku ikut terbangkitkan dan tidak memakai akal sehat lagi.

“Sekarang giliran Amar dong Teh…” pinta adikku yang tanpa menunggu lama segera menurunkan celananya di depan wajahku.

Jantungku bekerja lebih keras ketika melihat penisnya yang sedikit kehitaman dan tampak berdiri tegap. Saat mataku bertatapan dengan matanya, aku dapat melihat kalau pandangan Amar begitu liar. Sementara aku yang sudah mengerti akan apa yang diinginkan olehnya langsung meraih penis yang sudah sangat tegang itu dengan tangan kananku. Nafasku semakin memburu saat telapak tanganku mengelus-ngelus batang kemaluan milik adikku yang hangat dan berkedut seperti mahluk hidup.

Dengan lembut aku terus memijat benda tersebut kemudian mengocoknya secara perlahan. Amar hanya terseyum melihat tingkah kakaknya yang sudah mengetahui apa yang dia inginkan.

“Oooooh…!” adikku mengerang saat aku mulai meningkatkan irama kocokan pada penisnya.
Aku meremas sekaligus menekan batang penisnya ke arah atas dan bawah lalu mengulang gerakan seperti itu seterusnya. Telapak tangan milikku yang berukuran kecil ini tampak tidak sanggup untuk menggenggam seluruh batang tersebut. Gerakan tanganku yang sudah sangat lancar terus mengocok-ngocok batang kemaluan adikku.
“Hmmmm… Enaaaaak…!! Teteh udah kangen ya sama kontol Amar ini? Hehehe…” goda adikku sambil tertawa.
“I-iya Mar… Teteh kangen sama penis Amar…” sahutku pelan.

Dengan tidak sabar aku melingkarkan bibirku pada ujung penis Amar kemudian menggelitiknya dengan lidahku yang sudah terampil. Adikku tentu saja terlihat sangat menikmati perlakuan dari saudari kandungnya ini.

Aroma khas penis Amar semakin kuat tercium oleh hidungku yang kemudian aku hirup dalam-dalam hingga membuatku semakin lupa diri. Tidak ingat atau mungkin tidak ingin menerima kenyataan bahwa kami berdua adalah kakak dan adik kandung.

“I-iseeeppp terusss… Yang kuaaaat Teeeeh… Aaaarrrgggh…” perintah Amar sambil menjambak rambutku.

Tidak aku hiraukan perlakuan kasarnya tersebut karena yang tersisa sekarang hanyalah nafsu untuk menghisap-hisap batang panjang milik adikku ini. Aku terus menyedot kuat-kuat hingga Amar mengerang keenakan. Benda itu semakin terasa berdenyut di dalam mulutku.

“Mmmmmh… Sluuuurp…” aku mencoba untuk menelan seluruh bagian penis Amar hingga dia semakin berada di awang-awang.

“Auuuuh… Teteh makin jago aja nih!” puji Amar ketika merasakan sensasi yang ditimbulkan dari hisapan bibirku yang lembut, hangat dan basah.

“Gimana Mar… Sluuuuurp… Rasanyaaa? Hmmmm… Sluuurp…” tanyaku terputus-putus.
“Oooohh… Jelaas enaaak Teeeh…! Pagi-pagi beginiiii… Ooooh… Disepongiiin sama kakak yang cantiiik…!! Ennnggh…” ujarnya dengan kurang ajar namun justru membuatku semakin bersemangat.

“Eeemmm… Terus udah nggak pusing lagi sekarang? Sluuurrp…” candaku sambil terus menghisap penis Amar sehingga membuat wajahnya tersipu.
Terakhir kali aku melakukan oral seks adalah dengan Amar beberapa bulan lalu sebelum aku menikah tentunya. Anehnya lagi, suamiku tidak pernah aku berikan pelayanan seperti ini walaupun dia sudah berulang kali memintanya. Saat ini aku benar-benar layaknya anak kecil yang sedang disuguhi permen. Aku semakin menikmati penis milik Amar, mulai dari mencium, menjilat hingga mengemut sambil mengocok-ngocok batang penis miliknya. Seharusnya dari pertama aku bisa saja menolak permintaan adikku untuk melakukan hal yang sebenarnya sudah ingin aku hentikan. Tetapi nafsu birahi mengatakan kepada diriku untuk memuaskan Amar secara seksual.

“Teh…! Teeeh…! Udah dulu yah… Amar nggak mau keluar cuma gara-gara disepong sama Teteh doang… Mendingan kita langsung ngentot aja yuk…!” saran adikku yang langsung mencabut keluar penisnya dari mulut mungilku.

Seketika kewanitaanku terasa ngilu, membayangkan penis adikku masuk mengaduk-aduk liang vaginaku.

Dengan suara lemah aku berkata sambil menatap matanya lekat-lekat “Tapi jangan keluarin di dalem ya Mar…”

Adikku tersenyum tipis lantas menjawab “Yaaah… Si Teteh gimana sih… Bukannya Teteh pengen banget punya anak?”

“Emang bener sih… Tapi kan…” suaraku terdengar serak karena tenggorokan ini terasa kering.

“Daripada Mas Sigit belom bisa ngasih anak sampe sekarang… Mending sama Amar aja Teh! Hahaha…” lanjut Amar menyelak kalimatku yang belum selesai.
Mendengar perkataan adikku tadi perasaanku bercampur antara marah sekaligus terangsang memikirkan bagaimana jadinya apabila aku benar-benar hamil dari benih spermanya. Walaupun dari pengalaman bercinta dengan pria lain, termasuk Amar, aku juga tidak yakin kalau rahimku subur. Selama ini mereka hampir selalu mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku dan aku tidak pernah hamil. Namun di dalam hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin mengecewakan suamiku apabila nanti aku mengandung anak yang bukan darah dagingnya sendiri.

Tanpa merasa bersalah, Amar mulai mengatur kakiku seperti huruf ‘v’ di sisi ranjang dengan mulai menggesekkan penisnya ke bibir vaginaku. Kakiku mengayuh naik dan turun, menunjukkan bahwa vaginaku sudah tidak sabar ingin ditusuk oleh sebuah penis. Melihat hal tersebut tentu saja membuat adikku tertawa licik karena semakin yakin bahwa diriku sudah benar-benar terangsang.

“Kenapa Teh? Pasti nggak sabar ya memeknya pengen disodok sama kontol Amar… Ngomong dulu… Nanti Amar janji bakalan bikin Teteh keenakan deh…! Hehehe…” ledek adikku.

“Emmm… Teteh pengen bangeeet digituin Amar…” kataku lirih hingga nyaris tidak terdengar.

“Maksudnya Teteh pengen ngentot? Bilang aja kayak gitu… Nggak usah jaim… Hahaha…” tanya adikku sambil terus melecehkanku.

“Iya deh… Teteh pengen ngentot…!! Udah deh… Cepetan dooong…!!” kali ini aku merengek tanpa ada perasaan malu lagi.

“Sekarang waktunya Amar ngerasain memek Teteh…” adikku bersiap memasukkan penisnya yang sudah terlihat sangat tegang.

Sementara itu aku hanya memperlihatkan raut wajah pasrah ketika penis Amar mulai memasuki vaginaku dengan semakin dalam. Dia terus menjejali penis tersebut ke liang senggamaku karena ingin menikmati jepitan vaginaku yang sudah cukup lama tidak dirasakannya.

“Ohhhhkh…!! Enaaaak…!!!” celoteh Amar mengomentari liang vaginaku yang menjepit kepala penisnya.

Aku menatap sayu wajah Amar yang begitu bernafsu ingin menguasai menyetubuhiku. Kedua mataku menjadi saksi ketika batang penis Amar ditekan ke bawah hingga pahaku terbuka semakin lebar.
“Busyeeet deeeh…!! Ennnggkh… Masiiiih rapet aja memeknya Teteeeeh…!! Oooooh…!!!” ujar adikku berteriak puas ketika akhirnya berhasil menanamkan seluruh penisnya dari kepala hingga pangkal ke dalam kemaluanku.

Seketika vaginaku terasa penuh oleh penisnya yang tanpa jeda terus menyetubuhiku hingga kami benar-benar sudah sempurna bersetubuh.

Tiba-tiba adikku berdiam diri menghentikan gerakannya. Mungkin dia lelah atau karena sekedar ingin menikmati penisnya yang tenggelam di dalam vaginaku. Kemudian secara perlahan, adikku menarik batangnya dari jepitan vaginaku hingga tersisa ujung kepalanya saja. Namun tanpa aku duga, dia menghantamkan keras-keras hingga penisnya kembali tertelan seluruhnya di dalam vaginaku.

“Ooooooookkh…!!” aku mengerang keras akibat perlakuannya itu.

Berulang kali Amar melakukan hal tersebut yang membuat vaginaku terasa perih namun nikmat di saat yang bersamaan. Akibat gerakan brutal itu, aku merasakan kalau sebentar lagi akan mengantar diriku menuju titik orgasme. Gerakan adikku kian lama semakin cepat. Liang vaginaku kini sudah sedemikian basah, hingga pada setiap tusukan terdengar bunyi gesekan yang sangat jelas. Aliran libido yang meledak seolah memompa tubuh mungilku dan menekannya ke segala arah. Tentu saja hal tersebut menandakan bahwa aku sungguh menikmati perbuatan terlarang ini.

“Aaaakhh…!! Aaah… Maaaar…!!” aku berteriak ketika akhirnya merasakan orgasme.

Beberapa detik lamanya nafasku seperti terhenti merasakan kenikmatan yang begitu hebat. Menyadari aku sudah mencapai puncak, Amar sengaja menghentikan tusukannya ketika merasakan penisnya seperti disirami air yang tentu saja itu adalah cairan kewanitaanku.

Setelah cukup lama, Amar mulai menarik lepas penis miliknya dari vaginaku. Wajahnya terlihat bangga ketika melihat penisnya mengkilat dilumuri lendir vaginaku.

“Amar sayang Teteh…” kata adikku layaknya laki-laki yang sedang merayu pasangannya.

“Teteh juga…” balasku pelan.

“Ahh… Aaaahhh… Aaaaaahhh…” terdengar nafasku tersengal-sengal ketika Amar kembali memompa vaginaku.

Tubuhku memang mulai melemas seiring dengan orgasme yang sudah kurasakan, namun nafsu birahiku bangkit ketika Amar mulai menyetubuhiku lagi.

“Aaahh… Aaakkhh…!! Aaahhh… Sa-sakiitt…!! pelan-pelaaann dong Maaar…” hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku ketika Amar semakin memperlakukanku dengan kasar.

Tetapi sesungguhnya aku lebih menikmati permainan seperti ini dibanding dengan suamiku yang sangat lembut. Adikku membuat putaran dan menusukkan penisnya lebih dalam. Kadang dia juga menaikkan kecepatan sodokannya lalu tiba-tiba memperlambatnya. Tentu saja hal tersebut membuat emosiku naik dan turun. Walaupun badan ini serasa ingin remuk, namun aku benar-benar merasakan sensasi seks yang benar-benar hebat. Sekitar 10 menit kemudian, aku menyadari bahwa Amar sebentar lagi akan keluar ketika dia menggeram cukup keras dan terus menaikkan kecepatan sodokannya.

“Amaaar… Mauuu keluuaaaar Teeeeh…!!” teriaknya seperti sudah aku duga.

“Maaaar… Ja-jangaaan… Heeeeeh… Ke-keluariiin di dalem yaaah…” pintaku memohon.

“Teeeh buka mulutnyaaaa…” ujar Amar yang membuatku lega karena mengerti dengan maksudnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung membuka mulutku. Lubang jamur Amar akhirnya menyemprotkan cairan putih kental. Aku pasrah menerima semburan sperma yang sangat banyak namun hampir dapat kutelan semua. Cairan yang menetes di pinggiran mulutku bahkan aku bersihkan hingga tidak tersisa sama sekali. Apalagi rasanya tidak berubah dan masih tetap enak seperti dulu. Amar hanya tersenyum melihat aku terus menjilat seolah tidak memberi kesempatan batang penisnya untuk beristirahat.

Sesudahnya Amar langsung lunglai di atas tubuhku. Dia kemudian merangkulku ke dalam pelukannya dan mencium keningku. Sungguh romantis adikku ini, bahkan suamiku sendiri tidak pernah melakukannya setelah kami selesai berhubungan badan.

“Enaaak banget Teh…” bisiknya di telingaku hingga hampir tidak terdengar.

Amar kemudian merebahkan tubuhnya di sampingku, sebelum akhirnya mulai tertidur lelap. Terdengar suara dengkurannya yang cukup keras hingga membuatku tertawa tertahan. Karena tidak merasa mengantuk walaupun lelah, aku lalu menatap kosong langit-langit kamar tidurku ini. Pikiranku melayang-layang mengingat kejadian-kejadian yang aku dan Amar sering lakukan sebelum ini. Semua petualangan seks mulai dari pertama kali semua hal ini berawal, yaitu di kamar mandi rumah orangtua kami, kemudian di kamar kami masing-masing hampir setiap malam, di parkiran mobil sebuah pusat perbelanjaan dan masih banyak lagi. Kejadian yang tidak sepantasnya kami lakukan. Namun apabila nafsu sudah menguasai, perbuataan tersebut tidaklah pandang bulu karena yang dikejar hanyalah kepuasan birahi belaka. Kami berdua memang sudah tidak dapat memutar waktu dan merubah semuanya.

Hanya dengan membayangkan kejadian-kejadian tadi sudah membuat vaginaku kembali basah. Masih sangat terasa usapan-usapan telapak tangan Amar yang merayapi pahaku dan juga denyutan-denyutan kenikmatan pada vaginaku. Saat ini jari-jemariku mulai mengusap klitorisku yang rasanya kian membengkak. Tanganku yang satunya lagi meremasi payudaraku yang mungil namun padat serta perlahan-lahan memilin bagian putingnya dengan penuh kelembutan.

Kurasakan butir-butir keringat telah mengumpul di sekujur tubuhku, karena selain hawa yang panas, aku juga sudah terbakar birahi. Aku membalikkan badan hingga tidur menyamping membelakangi Amar agar tidak mengganggunya.

“Engggghhhhh… Hhhmmmhhhhh…” ketika menggosok-gosok klitorisku tidak terasa aku mulai mendesah-desah merasakan nikmatnya masturbasi ini.

Ada rasa menggelitik saat jari tengahku bergerak lembut memutari putingku yang semakin meruncing. Sambil melakukan gerakan ini, aku mencoba membayangkan adikku menggerayangi lekuk-lekuk tubuhku yang mulus, kemudian bibirnya yang tebal menghisap puncak payudaraku dan dengan tanpa ampun dia menjebloskan batang penisnya yang keras ke dalam vaginaku.

“M-marrr… Amaaaaar…! Ooooh… Amaaaar…!” aku menyebut nama adikku berulang kali saat merasakan kenikmatan yang tiada tara.

“Auhhh…” aku tersentak kaget ketika sebuah tangan memegang bahuku dan tentu saja membuat diriku keluar dari kenikmatan sebuah dunia halusinasi.
“Teteh manggil Amar?” tanya adikku yang rupanya sudah terbangun.
Adikku sepertinya tidak sadar bahwa dia telah menjadi bahan imajinasiku. Karena tidak tahan lagi akhirnya aku langsung mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Tubuhku seperti menggigil saat ciuman kami semakin liar tanpa kendali. Bibir adikku kini mulai merambat turun ke leherku. Dengan kasar lidahnya menjilati batang leherku dengan kuat. Kedua tanganku melingkar memeluk batang leher adikku sambil terus merintih lirih. Tampaknya Amar terangsang dengan suara rintihanku karena terbukti sekarang dia semakin ganas menjilati batang leherku.
“Uhhhhh…!!” permainan adikku membuat tubuh ini melonjak seperti tersengat listrik.

Mataku bertatapan dengan matanya yang berbinar-binar liar, aku terlena dalam nyamannya rasa nikmat hingga tidak menyadari saat tangannya sudah berada di bagian selangkanganku

“Ohhhhhhhhhhhh…!!” aku semakin terangsang saat adikku juga meremas-remas gundukan payudaraku.

Sungguh luar biasa nikmatnya saat telapak tangan Amar bergesekan dengan kulit payudaraku yang halus hingga sulit sekali untuk diungkapkan dengan kata-kata.

“Heemmm… Sekarang kok Teteh yang napsu sih?” tanya Amar.

Tanpa ada keinginan untuk menjawab, aku terus menikmati remasan-remasan kuat tangannya. Agar lebih nyaman aku memperbaiki posisiku dengan membuka lebih lebar kedua kakiku. Tangan kiri Amar mengelus-elus selangkanganku sedangkan tangan kanannya terus bermain pada payudaraku. Aku menggigit pelan bibir bawahku untuk menahan suara desahan dan rintihan dari bibirku.

“Eeehh… Aaaah… Amaaaarr…!!” aku sedikit terkejut ketika keempat jarinya sudah mulai menggaruk dan memijat-mijat permukaan vaginaku.

Nafasku terasa semakin berat dan sesak saat rasa nikmat itu semakin menjadi-jadi. Gairahku semakin sulit untuk dikendalikan sehingga untuk beberapa saat lamanya aku hanya terdiam pasrah. Melihat seringai mesum di wajah Amar justru membuat aku terangsang berat.

“Uufffhhh… M-maaar…!! Ooooh…!!” sambil terus mendesah aku memegang tangannya lalu mengarahkan ke bagian klitorisku.

Tubuhku terasa menghangat dan lemas saat jari-jari tangannya sudah berada di bagian paling sensitif dari vaginaku. Aku semakin mendesah nikmat saat tangan adikku terus merayapi bagian intimku. Sudah tentu aku sangat menikmati urutan-urutan Amar di tempat tersebut.

“Eemmmhhh… Ssssshh… Ssssshhhhh… Aaahhhh…!” aku tidak menyadari sejak kapan cairan vaginaku mulai meleleh melalui rekahan vaginaku yang masih rapat.

Aku semakin sering menggelinjang dan menggelepar keenakan saat tangan Amar menjepit dan memilin-milin puting susuku, sementara jemari terlatihnya terus-menerus mengelus serta menggosok-gosok di belahan bibir vaginaku.

“Maaaaar…!! Eemmmh… Maaaar…!!” aku mengejang dengan nafas tertahan saat merasakan vaginaku berdenyut-denyut dengan kuat.

“Aaakhhhh… Teteeeeh keluaaaaaaar…!!! Amaaaaaaaar…!!!!” aku berteriak-teriak seperti orang gila ketika mencapai puncak.

Semburan-semburan cairan hangat yang nikmat itu membuat tubuhku menggigil dengan hebat. Remasan-remasan tangan Amar membuatku semakin terhanyut menikmati klimaksku. Kedua mataku terpejam meresapi sisa-sisa orgasme yang baru saja kualami.

“Teh… Amar pengen ngentot lagi nih… Tapi sekarang pake gaya nungging yuk…!!” ajak adikku dengan pandangan berbinar sambil jakunnya bergerak turun naik tanda sudah sangat bernafsu untuk dapat menyetubuhi kakak kandungnya kembali.

Aku terdiam saat dia sudah membalikkan tubuhku yang masih lelah. Kedua tangan Amar dengan kuat menarik pinggulku hingga bersentuhan dengan penisnya.

“Siap-siap ya Teh…!” ujar Amar memperingatkanku.

“Nngghhh… Nnngghhh…” berkali-kali tubuhku terdesak kuat saat Amar berusaha menjejalkan kepala penisnya.

Kepala penis Amar terus bergesekan dengan bibir vaginaku yang masih basah oleh lendir-lendir licin yang lengket sebelum akhirnya menekan kuat hingga mulai masuk sepenuhnya. Dapat aku rasakan kedutan-kedutan alat kelamin kami yang sudah menyatu. Batang tersebut terus bergerak-gerak dengan sentakan-sentakan yang kuat dan semakin dalam hingga selangkangan kami saling mendesak. Berkali-kali tubuhku mengejang nikmat saat adikku mulai menggenjot. Genjotan-genjotan kasarnya dipadu dengan goyangan ke kiri dan kanan.

Sekujur tubuhku bergetar hebat menahan rasa nikmat saat batang yang panjang tersebut memasuki liang vaginaku. Aku membenamkan kepalaku ke bantal untuk meredam suara teriakan yang keluar dari mulutku.
“Pelan-pelaaaan Maaar…” ketika penis tersebut semakin dalam memasuki vaginaku.

Ketika sudah cukup lama berada di dalam posisi menungging, akhirnya tenagaku habis. Buah pantatku merosot turun serta payudaraku mendarat di atas ranjang. Aku tergeletak tanpa daya dibawah tindihan tubuh Amar ketika tangannya mengelus-ngelus punggungku.

“Sssssshhhh… Sssssshhhhh…” aku meringis menahan rasa nikmat saat penis itu mulai memompa liang vaginaku.

Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Gempuran demi gempuran batang penis Amar seolah menguras habis tenagaku. Suara helaan nafas kami dan suara penisnya yang beradu dengan selangkanganku saling bersahutan memenuhi kamar ini. Aku terus menikmati setiap sodokan-sodokan batang penis Amar. Ketika kekuatanku sudah lumayan pulih, pantatku mulai naik ke atas hingga posisiku kembali menungging di atas kedua kaki dan tanganku.

“Nahhh… Kayak gitu dong! Teteh emang hebaaattt!” kata adikku memuji.

“Aaahhh… Aahhh… Aaaaaaahhh…” aku mengerang dan merintih lirih merasakan lingkaran otot yang seperti tertarik keluar saat Amar menarik penisnya lalu membenamkan seluruh batangnya sekaligus.

“Gilaaa memeknyaaa Teteeeeh…!! Sumpaaaah… Enaaaaak bangeeeet…!!! Aaaaaaakkh…!!”geram adikku.

“Maaaar… Oooohh…!!” aku semakin sulit mengendalikan luapan nafsuku saat kedua tangan Amar menggapai payudaraku dan melakukan remasan-remasan lembut.

“Oooooh…!! Aaaaaaah…!! Teteeeeeeeh…!!!!!” teriak Amar yang rupanya hendak mencapai puncak.

“Aaaanghh… Aaaaaaanngghh… Keluaaariiin di daleeeem ajaaa Maaaar…!! Aaaaah…” kataku sambil mendesah dengan suara seksi.

Dengan tanpa ampun penisnya yang terus menyeruak masuk mulai berkedut-kedut. Adikku berkelojotan ketika meraih ejakulasi melalui perantara tubuhku. Semburan demi semburan terus memenuhi rahimku. Kami berdua sama-sama menggeram setiap kali adikku menyemprotkan sperma. Aku terus bergidik merasakan nikmatnya air mani yang keluar di dalam vaginaku hingga tetes terakhir.

“Oookhh… Enaknyaaa memek… Heeeh… Teteeeh… Eeenggh…” celoteh adikku sebelum akhirnya merebahkan diri.

Saat ini kami benar-benar merasa kelelahan. Aku membaringkan kepalaku di dadanya yang kurus. Ada rasa nyaman yang kurasakan saat kedua tangannya memeluk tubuhku yang mungil dan mengusap keringat di tubuhku. Ketika menyadari kalau saat ini sudah cukup siang, kami bergegas mengenakan pakaian, kemudian menuruni tempat tidur dan menuju ke ruang tamu karena takut jika mertuaku tiba-tiba saja pulang. Sekitar 15 menit kemudian adikku pamit untuk pulang. Setelah menutup pintu depan, aku kembali masuk ke kamar tidur lalu merayap naik keatas ranjang dan berusaha menenangkan diri sambil berusaha mengusir sisa-sisa kenikmatan yang sudah lama tidak aku alami dengan Amar.

Perasaan bersalah saat melihat wajah suamiku yang tidak pernah mengetahui hal ini membuat aku mengutuk diriku sendiri. Mungkin nantinya aku akan berusaha menghindari Amar saat aku sedang main ke rumah orangtua kami di Cibubur atau ketika ada acara keluarga besar, karena apabila ini terus terjadi maka cepat atau lambat suamiku pasti akan mengetahui semuanya.

TAMAT


Seperti sudah menjadi suatu kebutuhan di hari libur, pagi itu aku bersama Winnie menyaksikan acara gosip di ruang keluarga. Ketika sedang serius menonton, tiba-tiba Dewi adik bungsuku muncul. Lalu dengan gayanya yang cuek dia ikut duduk di antara aku dan Winnie.

“Aduuh! Sempit nih De!! Lagian ngapain sih pake ikut-ikutan segala!?” protes Winnie karena acara menontonnya jadi terganggu.

Tentu saja aku tertawa melihat Winnie yang marah-marah sedangkan Dewi tidak menghiraukannya sama sekali.

“Teh, jalan-jalan ke ITC yuk! Ibu juga mau tuh…” ajak Dewi dengan wajah ceria.

“Boleh aja! Tapi nanti Dewi beliin Teteh baju yah…” candaku.

“Yeeee…!! Ada juga Teteh tuh yang baru gajian beliin Dewi!” kata Dewi sambil menjulurkan lidahnya.

Ibu yang tanpa sengaja menyaksikan tingkah laku anak-anak gadisnya hanya dapat tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya udah… Nanti biar Ibu yang beliin baju buat Dewi deh. Sekarang pada siap-siap sana…” ujar Ibu pada kami.

“Asyiiik!! Emang Ibu paling baik sedunia deh…!” teriak Dewi kegirangan sambil masuk ke kamarnya kemudian disusul oleh Winnie yang masih terlihat malas untuk beranjak dari duduknya.

“Teteh bangunin Amar dulu sana… Nanti takut kesiangan jalannya…” lanjut Ibu ketika aku baru saja hendak masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.

“Iya Bu…” jawabku dengan nada sedikit malas namun tetap berbalik arah untuk menuju ke kamar adik laki-lakiku.

“Tok… Tok… Tok… Maaar!! Amaaaar…!! Bangun Maaaar…!!” aku mengetuk pintu kamar adikku dari luar dengan cukup keras sambil meneriakkan namanya.

Setelah cukup lama aku berusaha membangunkan adikku namun belum juga terdengar sahutannya dari dalam. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar adikku karena pintunya juga tidak dalam keadaan terkunci. Setibanya di dalam aku mendapati adikku sedang tertidur dengan posisi terlentang. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, namun tetap saja belum ada sedikitpun tanda-tanda dia akan terbangun.

“Pasti si Amar pulang pagi lagi deh makanya nyenyak banget tidurnya…” keluhku sambil menghela nafas panjang.

Di saat aku terus berusaha membangunkan adikku, tanpa sengaja aku melihat penisnya sedang tegak berdiri di balik celananya. Tiba-tiba saja muncul pikiran isengku untuk membuat adikku terbangun dari tidur pulasnya. Aku kemudian bangkit dari tepi ranjang lalu segera menuju ke arah pintu untuk menutup serta menguncinya.

Setelah yakin keadaan telah aman, dengan perlahan aku menurunkan celana pendek beserta celana dalam milik adikku. Penisnya yang panjang dan kurus itu kini sudah keluar dari sarangnya. Tanpa berpikir panjang lagi aku pun mulai mengocok penisnya dengan lembut dan perlahan.

“Eeeehmmm… Teeeeeh… Teeteeeeh… Eeeehmmm…” di dalam tidurnya adikku mendesah sambil menyebut-nyebut namaku saat aku sedang menaik-turunkan penisnya.

“Amar pasti lagi ngimpiin aku yang nggak-nggak deh…” pikirku yang sempat menyangka kalau Amar sudah tersadar dari tidurnya.

Mendengar igauan Amar tadi malah membuatku terangsang lalu semakin mempercepat kocokanku pada penisnya. Akibatnya, tidak sampai 5 menit kemudian penis miliknya menyemprotkan sperma dalam jumlah banyak ke tanganku bahkan hingga menetes ke paha serta tempat tidurnya. Dengan sangat bernafsu aku pun menjilati sperma adikku yang masih menempel di tangan.

“Mmmmmmhhh… Enak banget rasa spermanya Amar…” aku menggumam pelan sambil menikmati rasa sperma adikku yang sudah cukup lama tidak aku rasakan.

Setelah selesai aku pun kembali merapihkan celana adikku hingga seperti keadaan semula. Tidak berapa lama setelah itu dia pun mulai membuka matanya. Wajah adikku terlihat sedikit terkejut melihat kehadiranku yang sudah berada di sebelahnya.

“Eeeh… Te-teteh… Masa barusan Amar ngimpi disepongin sama Teteh…” kata adikku dengan wajah tanpa dosa.

“Iiih… Dasar otak ngeres…!! Makanya kalo tidur jangan kelamaan…! Jadi ngimpi yang nggak-nggak tuh…!” ujarku sambil memasang wajah pura-pura marah sekaligus menahan senyum mendengar ucapan adikku barusan.

“Abisnya Amar udah kangen banget disepong sama Teteh… Sampe celana Amar basah kayak gini deh…” kata adikku sambil menunjuk ke arah celananya.

“Udah deh Mar nggak usah bahas itu lagi…! Mendingan Amar sekarang mandi aja sana terus anterin belanja ke ITC yah…” kataku yang tetap merahasiakan kejadian sebenarnya dari adikku.

“Iya deh Teh…” jawab adikku ketika aku sudah beranjak untuk keluar dari kamarnya.

Setelah selesai bersiap-siap aku pun menuju mobilku yang diparkir di depan rumah. Aku mengambil duduk di sebelah adik laki-lakiku yang bertugas menjadi supir karena seperti biasa Ayah jarang mau ikut apabila diajak pergi ke Mal.

“Hari ini Teteh cantik banget sih…” bisik adikku yang terus menatapku dengan pandangan kagum walaupun saat itu aku hanya memakai kaos putih berkerah dan celana jins ketat warna biru.

“Huuuh…! Kakak sendiri kok digombalin juga sih…” kataku dalam hati namun tetap saja pujian tersebut membuat aku jadi tersipu malu.

Setelah kami semua sudah berada di dalam mobil, akhirnya kami pun berangkat. Selama di perjalanan pikiranku selalu menerawang bayangan-bayangan imajinasi liar untuk melakukan persetubuhan dengan adik laki-lakiku seperti yang dulu sering kami lakukan.

“Aku jadi pengen bersetubuh sama Amar lagi deh… Mungkin untuk terakhir kalinya…” keinginanku untuk melakukan hal tersebut semakin kuat setelah peristiwa tadi pagi.

Sebenarnya beberapa bulan lalu kami berdua sepakat tidak akan pernah lagi melakukan perbuatan terlarang tersebut, dikarenakan aku dan pacarku telah merencanakan untuk melangsungkan pernikahan kami tahun ini. Walaupun aku masih teringat akan janji kami itu, namun tetap saja aku tidak dapat menghilangkan pikiran tersebut, apalagi ditambah kenyataan kalau tadi pagi aku baru saja merasakan kembali nikmatnya sperma milik adikku.

“Lagi mikirin apa sih Teh? Kok dari tadi bengong terus?” tanya adik laki-lakiku memecahkan lamunanku.

“Mmmm… Nggak kok Mar… Cuma lagi kepikiran kerjaan aja…” jawabku berbohong.

“Oh gitu? Ya udah… Tapi kalo Teteh mau cerita, Amar mau kok ngedengerin…” sambungnya lagi.

“Makasih ya Mar… Sekarang Amar konsen nyetir aja sana… Nanti malah nabrak lagi…!” jawabku sambil bercanda.

Karena tersadar kalau percakapan aku dengan Amar tadi dapat terdengar oleh Ibu serta adik-adik perempuanku, maka aku segera melirik ke bangku belakang. Perasaanku sungguh lega karena ternyata aku mendapati mereka bertiga sedang tertidur lelap.

“Untung aja nggak ada yang dengerin obrolan aku sama Amar barusan…” pikirku dalam hati karena takut apabila Ibu sampai mendengar percakapan kami tadi beliau akan menjadi sangat kuatir.

Setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan kami pun akhirnya tiba. Seperti halnya pada hari-hari libur, di depan jalan sudah penuh dengan mobil yang antri agar mendapatkan parkir di dalam gedung. Karena takut membuang waktu terlalu lama, Amar menyuruh kami semua untuk turun di depan lobi utama, kemudian nanti dia akan menyusul ke dalam.

“Bu… Teteh nemenin si Amar nyari parkiran dulu yah. Kasihan dia entar nyasar lagi! Ibu, Winnie sama Dewi duluan aja…” kataku yang melihat ini adalah kesempatan untuk dapat berduaan saja dengan adik laki-lakiku.

Kelihatannya mereka tidak curiga dengan permintaanku karena alasan yang aku berikan cukup masuk akal. Tempat ini memang lebih sering aku datangi bersama pacarku bila dibandingkan oleh Amar yang baru beberapa kali saja. Akhirnya kami janjian untuk bertemu di tempat makan karena Winnie dan Dewi sudah kelaparan.

“Teteh baik banget sih pake nemenin Amar segala…” kata Amar ketika sedang mencari tempat parkir yang kosong.

“Nanti juga Amar tau kok kenapa Teteh mau nemenin…” kataku sambil tersenyum penuh arti yang membuat wajah adikku jadi terlihat bingung.

Karena mendapati setiap lantai sudah terisi penuh, maka kami terus mencari parkir hingga ke tingkat paling atas. Ketika sampai di sana, aku melihat kondisi pelataran parkir tersebut sangatlah sepi, paling hanya diisi sekitar 5 mobil saja. Mungkin karena banyak orang yang malas untuk parkir hingga ke lantai atas, sehingga mereka lebih memilih untuk parkir di luar gedung saja. Namun sungguh kebetulan karena memang suasana seperti inilah yang aku harapkan.

“Mar, parkir di sana aja tuh…” aku menunjuk sebuah tempat kosong yang berada di sudut dan jauh dari mobil-mobil lainnya.

Tanpa banyak bertanya dengan segera adikku mengarahkan mobil kami untuk menuju tempat yang aku tunjuk tadi. Tempat tersebut ternyata cukup gelap karena tidak terlalu terjangkau oleh sinar matahari ataupun lampu penerangan, dikarenakan letaknya yang sedikit tersembunyi.

“Mar… Teteh jujur aja kalo sebenarnya Teteh masih sering kepikiran tentang kita…” kataku setelah Amar selesai parkir dan mematikan mesin mobil.

“Maksudnya Teteh apa sih?” tanya adikku dengan wajah serius yang mengartikan kalau dia memang belum mengerti apa maksud perkataanku.

“Eeemm… Te-teteh pengen gituan lagi sama Amar…” jawabku terus terang.

“E-eh… Te-teteh serius nih?” adikku bertanya lagi namun kali ini dengan sedikit gugup.

Pertanyaan adikku tadi hanya aku jawab dengan anggukan lalu secara perlahan-lahan aku mulai mendekatkan wajahku ke arahnya. Aku dapat merasakan hembusan nafas adikku yang memburu di wajahku. Kemudian aku lingkarkan tanganku pada lehernya dan bibir kami mulai saling bertemu. Aku mengeluarkan lidah menjilati bibirnya, adikku juga ikut mengeluarkan lidahnya untuk membalas perbuatanku. Ciuman kami semakin panas seiring dengan gairah yang membara di dalam diri kami. Suara-suara kecupan bercampur dengan erangan tertahan ditambah oleh nafas kami yang semakin tidak beraturan saja.

Wajah adikku kini merambat turun hingga ke leher mulusku, kemudian dengan bibir serta lidahnya dia mencium dan menjilat dengan penuh nafsu. Sambil terus menciumi leherku, tangan adikku juga mulai meremas-remas payudaraku yang masih terbungkus pakaian lengkap.

“Teteh harum banget deh…! Jadi tambah napsuin aja…!!” kata Amar memuji aroma tubuhku karena saat itu aku memang memakai minyak wangi cukup banyak terutama di bagian leher.

“Eeeemmmhhh…” aku hanya mendesah pelan menanggapi pujiannya.

Tidak puas dengan hanya memegang payudaraku dari luar saja, tangan adikku mulai menarik ujung kerah bajuku ke atas hingga akhirnya terlepas seluruhnya. Kini bra milikku yang berwarna pink dan perutku yang mulus jadi terlihat. Dengan cepat kedua tangan adikku meraih tali bra tersebut, kemudian dia membuka kaitannya hingga kini payudaraku sudah tidak tertutup apa-apa lagi.

Memang payudaraku tidak besar bentuknya, namun tetap saja menantang untuk diraba dan diremas oleh siapapun yang melihatnya. Sementara kedua putingku yang berwarna kecoklatan nampak nikmat untuk dikulum. Kedua tangan adikku kini memegang masing-masing buah dadaku. Kemudian aku pun mulai memejamkan mata karena ingin lebih menghayati dan menikmati rabaan dan remasan adikku sehingga dia pun juga semakin bernafsu. Kini adikku meremas-remas kedua payudaraku sambil memilin kedua putingnya dengan jari-jarinya yang panjang hingga membuatnya semakin tegang. Tampak putingku yang kecoklatan sudah sangat mengeras akibat ulah adikku.

“Oooooooh… Ooooohhhh… Aaaaaaaaaah…” aku merintih tidak karuan.

Aku tidak tahu persis berapa lama buah dadaku menjadi bulan-bulanan adikku. Namun yang aku sadari hanya darahku semakin berdesir ketika adikku kini mulai menyedot-nyedot puting payudaraku. Aku yang merasa semakin terangsang hanya dapat menggunakan kedua tanganku untuk mengelus-elus kepala adikku yang sedang menghisap payudaraku. Tubuhku bergetar hebat merasakan payudaraku dihisap habis oleh adikku.

“Aaaaaghhh… Amaaaaar…!! Teeruuuuus…!!” aku melenguh ketika dengan semakin rakus adikku melumat payudaraku.

Tangan adikku ternyata tidak tinggal diam, sambil terus melumat payudaraku tangannya memainkan vaginaku yang masih tertutup dengan celana jeans.

“Mar… Teteh pengen isepin penis Amar sekarang…” aku berkata pelan sambil menatap adikku.

Tentu saja mendengar permintaanku tanpa pikir panjang lagi adikku langsung melucuti celananya sendiri hingga kini terpampang jelas penisnya sudah tegak berdiri seperti tiang bendera.

“Kok udah tegang kayak gitu aja sih Mar? Pasti Amar udah nggak tahan ya?” tanyaku dengan nada menggoda.

“I-iyaa Teh…! Abis udah lama banget nggak pernah disepong sama Teteh lagi…” jawab adikku dengan wajah malu-malu.

Tanpa rasa canggung dan ragu, akupun memegang dan mengocok perlahan penis adikku. Nafsu birahiku sepertinya sudah menguasai diriku sampai aku tidak sadar bahwa sekarang kami berdua sedang melakukan hal ini di dalam parkiran mobil yang sewaktu-waktu bisa saja ada satpam atau orang lain datang memergoki kami.

‘Pleeekhh… Pleeekk… Pleeekkk…’ terdengar suara kocokan tanganku pada batang penis Amar yang semakin menegang saja.

Denyutan batang penis adikku sungguh begitu hebat sampai-sampai aku bisa merasakan kedutan aliran darahnya ketika melewati rongga urat-urat yang berwarna hijau kehitaman.

“Uuuuuuugghhh… Teteeeeh…!!” Amar melenguh ketika tanganku bermain pada penisnya.

“Teeeh… Amaaar nyalain AC dulu yaaah… Jadi panaaass nih!” kata adikku yang dahinya sudah penuh dengan keringat.

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan adikku lalu menghentikan kocokanku terlebih dahulu. Seperti tidak mau kehilangan waktu sedetik pun, dengan terburu-buru adikku memutar kunci mobil yang masih menempel pada kontak, kemudian segera menyalakan AC. Di saat jeda itu aku baru tersadar kalau ternyata tubuhku juga sudah basah oleh keringat.

“Lanjutin lagi dong Teh…!! Udah nggak tahan nih…!” pinta Amar setelah udara di dalam mobil menjadi lebih sejuk.

Aku langsung meraih penis tersebut lalu berkata “Amar udah siap diisepin sama Teteh kan?”

Tanpa perlu menunggu jawaban dari adikku terlebih dahulu, aku pun langsung membuka mulutku lebar-lebar lalu mulai menghisap penis tersebut.

“Mmmmmmhh… Sluuurp…” begitulah suara yang keluar ketika dengan cepat aku mengulum serta memainkan lidahku pada penis Amar.

“Aggghhh…!! Iseeep teruuus Teeeeehh…!! Iyaaaaaah… Eenaaak bangeeeeet…!!” kata adikku yang kini mendesah dan mengerang keenakan menikmati apa yang aku lakukan pada penisnya.

Sekilas tercium bau keringat dari penis adikku sehingga aku harus sedikit menahan nafas. Namun aku terus saja memasukkannya lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menghisap, terkadang tanganku juga turut aktif mengocok penisnya.

“Aaaaaaaaaaahh… Teteeeeh makiin jagooo ajaaaa nyepongnyaaaaa…!!” ceracau adikku karena saat itu aku memang mengeluarkan semua teknik oralku.

Kedua tangan adikku membelai rambutku dengan lembut selagi aku terus berusaha membuat penisnya semakin menegang. Sesekali aku menatap nakal pada adikku, agar dia semakin terangsang. Tidak lama kemudian tangan adikku mulai bergerak untuk meraba-raba kedua payudaraku selagi aku sedang menikmati penisnya.

“Mmmhh… Slurrrp… Mmmmhh…” tentu saja saat ini aku tidak bisa bebas mendesah ketika kurasakan tangan adikku semakin kencang meremas dadaku.

“Mmmmh… Aaaaaaahh… Maaaar…!!” karena tidak kuat lagi akhirnya aku mendesah hingga untuk sesaat penis adikku terlepas dari kulumanku.

“Kok berhenti sih Teh? Terusin lagi dong… Enak banget sepongannya Teteh!” dengan kurang ajar adikku menjejalkan penisnya ke dalam mulutku.

“Mmmppph…” aku merintih tertahan lalu melanjutkan hisapanku yang sempat tertunda.

“Oooooooh… Teteeeeeeeeh…!!” adikku mulai menjambak rambutku dengan kencang karena mungkin dia tidak mampu menahan kenikmatan yang dirasakannya.

Penis adikku itu kujilat memutar, lalu kepala penisnya kuhisap kuat-kuat dan beberapa saat kemudian penis itu kembali kucelupkan ke dalam kuluman mulutku. Namun karena tangan adikku masih saja terus-terusan bermain pada kedua payudaraku, maka beberapa kali aku melenguh tertahan karena mulutku penuh dengan penisnya.

Mungkin karena adikku tidak mau cepat-cepat mengalami ejakulasi dia berkata ”Udah dulu Teh…! Sekarang giliran Amar yang muasin Teteh…” sambil mengangkat pelan kepalaku hingga hisapanku pada penisnya terlepas.

Kemudian aku membuka celana panjang dan menurunkan celana dalam yang juga berwarna sama dengan bra milikku. Sehingga sekarang terlihatlah vaginaku yang tanpa dihiasi bulu sedikitpun. Adikku memperhatikan sejenak kemaluanku sambil mengelus pelan bibir bagian luarnya.

“Memek Teteh masih rapet aja…” adikku terkagum-kagum walaupun ini bukan pertama kalinya dia memegang vaginaku.

Lalu dengan tidak sabar jari-jari tangannya membelai kemaluanku yang memang tampak menggoda. Dua jarinya kemudian masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding vaginaku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan titik rangsangan itu, adikku semakin gencar memainkan benda tersebut sehingga tubuhku semakin tidak terkendali dan terus menggeliat-geliat.

“Aaaaaaaaaahh…” aku mendesah-desah karena jari adikku terus menyentuh bagian tersebut.

Walaupun AC di dalam mobil menyala cukup dingin, namun butir-butir keringat seperti embun semakin membanjiri wajah dan tubuhku yang menandakan betapa terangsangnya aku. Supaya lebih memudahkan Amar, aku kemudian mengangkat paha sebelah kananku hingga berada di bangku yang sedang diduduki adikku hingga kini aku berada dalam posisi mengangkang.

Dengan kedua jarinya, adikku membuka bibir vaginaku sehingga udara dingin dari AC menerpanya dan membuatku semakin merinding. Tubuhku semakin bergetar ketika dengan penuh nafsu Amar mulai membenamkan wajahnya dan menjilat-jilat vaginaku.

“Oooohhh… Amaaaaaar!! Enaaaaaaak…!!” aku berteriak-teriak menikmati jilatan adikku.

Adikku yang sekarang sudah pasti jauh lebih berpengalaman, memainkan lidahnya dengan tepat pada klitorisku, sedangkan jari tengahnya menerobos lubang vaginaku. Jendela mobil yang dalam keadaan tertutup rapat membuat aroma khas dari vaginaku segera menyebar di dalam mobil yang justru membuat adikku semakin bernafsu memainkan lidahnya.

“Eenngghh… Teruuuuus Maar…!!” aku menggeliat merasakan lidah adikku bergerak liar merangsang setiap titik peka pada vaginaku.

Aku sungguh menikmati permainan jilatan lidah dari adikku hingga otot vaginaku semakin menegang. Birahiku pun semakin memuncak yang berakibat tubuhku mulai menggelinjang hebat.

“Oooohhh… Amaaaar…!! Sssshh… Enaaak bangeeet Maar…!!” desahku ketika merasakan geli sekaligus nikmat akibat ulah adikku.

Menerima rangsangan terus-menerus seperti ini aku merasa gelombang orgasmeku mulai datang. Detak jantungku kini semakin cepat dan nafasku mulai terengah-engah. Wajahku sekarang pasti tampak sayu karena puncak kenikmatan sudah berada di depan mata akibat berulang kali bibir vaginaku disapu lidah serta dihisap oleh adikku.

“Aaaaaaaaaaah… Amaaaaar…!! Teteeeeh keluaaaaaaar…!!” aku akhirnya mengerang panjang karena merasakan nikmat yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Permainan lidah dan tangan adikku akhirnya membuatku mencapai orgasme yang pertama. Tubuhku mengejang dengan sangat hebat! Tangan kiriku meremas-remas payudaraku sendiri sedangkan tangan kananku menekan kepala adikku agar lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku merasakan vaginaku dihisap kuat oleh adikku dan dengan rakusnya dia melahap setiap tetes cairan yang terus mengalir dari sana.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaah…!! U-udaaaah Maaar…! Teteeeh udaah nggaak kuaaat lagiiii…!!” aku memohon agar adikku menghentikan jilatan dan hisapannya pada vaginaku.

Tanpa memperdulikan permintaanku, adikku terus melumat kemaluanku dengan rakusnya. Lidahnya menyapu seluruh pelosok vaginaku dari bibirnya, klitorisnya hingga ke dinding bagian dalamnya. Namun perbuatannya itu memang memberikan sensasi yang luar biasa. Aku benar-benar telah lepas kontrol dan mataku menjadi merem-melek dibuatnya. Setelah menyantap cairan cintaku hingga benar-benar habis barulah adikku menghentikan hisapannya.

“Dasaaar… Heeeh… Kamuuu nakaaal Maar…!! Heeeh… Heeeeh…” kataku dengan nafas terengah-engah.

“Tapi Teteh suka kan?” tanya adikku yang di pinggir mulutnya masih tampak lengket dengan cairan kewanitaanku.

Tanpa dapat berkata apa-apa, aku menganggukkan kepala tanda setuju sambil tersenyum puas. Seperti tidak mau memberi kesempatan bagiku untuk beristirahat, adikku mencium lagi bibirku yang juga kubalas dengan tidak kalah bernafsu. Selagi kami berciuman aku dapat mencium aroma tajam dari cairan vaginaku yang melekat pada mulutnya.

“Mar… Masukin penis kamu ke vagina Teteh dong… Teteh udah nggak tahan…” aku berkata mesra di telinganya setelah tenagaku pulih kembali.

“Ayo Teh! Tapi biar lebih enak kita pindah ke bangku belakang aja yah…” ajak adikku dengan penuh semangat.

Setelah aku berpikir kalau benar juga apa yang dikatakan oleh adikku tadi, aku pun menuruti perintahnya untuk berpindah ke bangku belakang lalu mengambil posisi tiduran. Sedangkan adikku yang masih berada di bangkunya, terlihat sedang sibuk membuka bajunya hingga akhirnya kami berdua sudah dalam keadaan telanjang bulat. Setelah itu adikku ikut menyusul ke belakang.

“Jangan kasar-kasar yah Mar…” pintaku.

“Iyaaa Teh…” jawab adikku ketika sedang berusaha memasukkan penisnya.

Adikku melebarkan kedua pahaku lalu mengarahkan penis panjangnya di antara vaginaku. Bibir vaginaku jadi ikut terbuka siap untuk menyambut penis yang akan memasukinya. Namun di luar dugaan adikku tidak langsung mencoblos vaginaku, melainkan sengaja dia gesek-gesekkan terlebih dahulu kepala penisnya pada bibir luar vaginaku agar semakin memancing birahiku.

“Masukiiiin sekaraaaaang Maaar…!!” karena sudah tidak sabar ingin segera dicoblos aku pun meraih batang penis milik adikku yang sudah tegang dan keras sekali lalu membimbingnya untuk masuk ke dalam vaginaku.

“Uuughhh… Peniiis Amaaaar enaaaak bangeeet…!!” kataku setelah merasakan penis adikku yang kini hampir memenuhi seluruh rongga vaginaku.

“Memeeek Teteeeeh jugaa nikmaaat bangeeeet… Aaaaaaaaah…!!” desah adikku.

Dengan perlahan adikku mulai menggenjot vaginaku yang sudah mulai basah lagi. Kami berdua sama-sama saling melampiaskan hasrat dan nafsu yang begitu menggebu-gebu. Saat melakukan persetubuhan aku sempat berpikir ada untungnya juga kami parkir di lantai yang sepi dan letaknya cukup jauh dari mobil-mobil lain, kalau tidak tentu goyangan-goyangan dari dalam mobil ini pasti akan mengundang kecurigaan.

“Aaaaaaakkhh…” erangku sambil mengepalkan tangan erat-erat saat penis adikku sudah masuk seluruhnya ke dalam vaginaku.

Pelan-pelan adikku menarik penisnya lalu ditekan ke dalam lagi seakan ingin menikmati dulu gesekan-gesekan pada himpitan vaginaku yang bergerinjal-gerinjal itu. Aku juga ikut menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginaku mengimbangi hentakan penisnya. Ternyata gerakanku tadi membuat sodokan adikku semakin lama semakin kencang saja.

“Aaaauuuuuuhhh…!!” aku menjerit lebih keras akibat hentakan keras dari penis adikku pada lubang vaginaku.

Kuperhatikan selama adikku menyetubuhiku, tubuhnya yang kurus terus bercucuran keringat. Beberapa menit kemudian adikku menurunkan tubuhnya hingga menindihku. Aku menyambutnya dengan pelukan erat, sementara kedua kakiku aku lingkarkan di pinggangnya. Adikku mendekatkan mulutnya ke leherku lalu memagutnya. Sementara di bawah sana penis adikku semakin gencar mengaduk-aduk vaginaku diselingi gerakan berputar. Tubuh kami berdua sudah berlumuran keringat yang saling bercampur.

“Aaaaaagh… Aaaaaah… Oooooh…” aku terus merintih karena merasa akan mengalami orgasme kembali.

“Aaaahhh… Teteeeh keluaaar lagiiii Maaaaar…!! Oooohhhh…” aku melenguh panjang ketika aku orgasme untuk yang kedua kalinya.

Erangan keras tadi menandai orgasme dahsyat melandaku melebihi yang pertama tadi. Aku pun menjerit sejadi-jadinya, tidak peduli sedang dimana aku sekarang ini, untung mobil itu tertutup rapat dari dalam sehingga suaraku tidak akan terdengar sampai keluar.

“Sekarang giliran Teteh yang di atas yah…” tanpa memberi aku waktu adikku merubah posisi kami sehingga kini aku berada di atas tubuhnya.

Walaupun masih merasa sangat lelah akibat mengalami dua kali orgasme, namun tanganku tetap meraih penis Amar lalu mengarahkannya ke vaginaku.

“Ooohh… Eenak bangeeet Mar!!” kepalaku menengadah sambil mengeluarkan desahan menggoda saat menurunkan tubuhku hingga penis adikku melesak masuk ke dalam vaginaku yang sudah basah.

“Teteeeeh… Oooooohhh… Teteeeeeeeh…” Amar juga ikut mendesah sambil tidak henti-hentinya meneriakkan namaku.

Kedua tangan adikku memegang sepasang payudara milikku dan meremasinya. Sesaat kemudian, aku sudah mulai menaik-turunkan tubuhku di atas penis adikku. Amar melenguh merasakan bibir vaginaku mengapit penisnya dan dinding-dinding bergerinjal di dalamnya menggeseki penisnya di dalam sana. Goyangan naik-turunku semakin liar dan desahanku pun semakin tidak karuan.

“Aaaaaaaaaaahhh…” aku sungguh menikmati posisi tersebut dikarenakan penis adikku menancap lebih dalam pada vaginaku.

Karena berada dalam posisi di atas, aku baru sempat memperhatikan kalau ternyata sudah ada beberapa mobil lain yang parkir tidak jauh dari tempat kami sekarang. Sebenarnya ada rasa ketakutan yang besar di dalam diriku apabila kami berdua sampai dipergoki oleh orang lain dalam keadaan seperti ini. Namun justru inilah sensasi dari melakukan seks di tempat yang berbahaya.

Aku mencondongkan badanku lebih ke depan sehingga payudara milikku mendekati wajah adikku, tanpa diminta dia langsung melumatnya. Tangan adikku juga ikut meremasi bongkahan payudaraku dan mulutnya menggigit-gigit kecil putingnya. Aku merasakan betapa liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan adikku itu sedalam-dalamnya.

‘Clep… Clep… Clep’ suara vaginaku yang sudah becek bergesekan dengan penis milik adikku.

Cairan pelumas vaginaku keluar sangat banyak sehingga penis adikku semakin lancar keluar masuk vaginaku. Dengan penuh birahi aku terus menggenjot penis Amar. Tangan nakal adikku meraih payudara serta pantat mungilku lalu meremas-remasnya dengan gemas.

“Ooohh… Memeeeek Teteeeeh… Sempiiit bangeeeeet…!! Enaknyaaaa…!!” adikku terus memuji vaginaku.

Cukup lama aku menaik-turunkan tubuhku dengan liar dalam posisi di atas hingga akhirnya tubuhku dirasakan semakin mengejang. Gelombang kenikmatan itu menyebar ke seluruh tubuh menyebabkan tubuhku berkelejotan dan mulutku mengeluarkan erangan panjang. Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit aku menggoyangkan tubuhku di atas adikku, aku pun mengalami orgasme untuk yang ketiga kalinya!

“Aaaaaaaah… Teteeeeh mauuuu keluaaaaar lagiiii… Oohhhh… Amaaaar!!” Aku melenguh panjang meresapi kenikmatan yang melanda tubuhku.

“Amaaaar jugaaa udaaah mau keluaaar Teeeh…!!” teriak adikku yang akhirnya hampir mencapai klimaks.

‘Croooot… Croooot… Croooot…’ tidak lama kemudian akhirnya terdengar suara sperma adikku yang mengisi penuh rahimku dalam waktu yang sangat lama.

Sementara itu alat kejantanan adikku tetap aku biarkan terbenam sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan birahinya terhisap di dalam tubuhku sampai tetes terakhir. Aku memang sengaja berusaha menjepit penisnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.

Aku sungguh mengagumi keperkasaan adikku yang mampu membuatku mencapai orgasme hingga beberapa kali. Selanjutnya kami hanya bisa terhempas kelelahan di jok belakang itu dengan tubuh bugil kami yang penuh oleh keringat. Kami berdua berpelukan mesra menikmati sisa-sisa kenikmatan. Nafas kami saling memburu hingga akhirnya mulai normal lagi setelah beberapa menit beristirahat.

“Amar hebat banget sih…! Masa Teteh udah keluar sampe tiga kali, Amar baru sekali…” pujiku sambil mengecup mesra bibir adikku.

“Berarti nggak percuma dong Amar sering ngentot sama cewek Amar…” katanya terus terang.

Jujur saja ada sedikit perasaan tidak rela mendengar kenyataan bahwa adikku sudah pernah bersetubuh dengan wanita selain diriku. Namun aku harus dapat belajar menerima semua itu, karena aku pun juga tidak setia dengannya. Tidak lama kemudian adikku kembali melumat bibirku dengan penuh gairah. Lidah kami saling beradu dengan sangat panas. Sambil terus berciuman, tangan kurus adikku tidak henti-hentinya menjelajahi seluruh tubuhku. Sentuhan demi sentuhan adikku kembali menaikkan birahiku.

Dengan gaya nakal aku mendorong dada adikku hingga kini dia kembali berada dalam posisi tiduran. Aku menaiki wajah Amar kemudian menggeser tubuhku hingga penisnya berada di atas mulutku, sementara itu mulut adikku juga tepat di bawah vaginaku.

“Jilatin vagina Teteh yah Mar… Puasin Teee… Aaaaahhh!” sebelum sempat menyelesaikan kata-kataku lidah adikku sudah lebih dulu menyapu bibir vaginaku.

Aku membalasnya dengan menjilati kepala penis adikku yang sudah tampak licin dan berwarna kehitaman. Lidahku menjilati bagian yang disunat tersebut beserta lubang penisnya. Aksiku itu membuat tubuh adikku menjadi bergetar dan mulutnya mengeluarkan lenguhan nikmat.

Seiring birahiku yang naik semakin tinggi, tentu saja aku semakin bersemangat mengoral penis milik adikku. Aku hisap benda itu kuat-kuat hingga pipiku sampai terlihat cekung menghisapi penis tersebut. Tanganku yang halus juga ikut memijati buah zakar adikku sehingga pasti menambah kenikmatan baginya. Adikku menyibakkan bibir vaginaku lebar-lebar, menusuk-nusuk dengan jari-jarinya dan menjilati setiap bagian dari vaginaku. Tentu saja kini vaginaku semakin basah dibuatnya.

Pinggulku bergoyang dengan liar akibat ulah adikku yang dengan sangat cekatan menjilati vaginaku yang kini telah banjir. Adikku juga terlihat semakin bersemangat menghisap-hisap dan menjilati klitorisku. Adikku terus-menerus merangsang titik-titik sensitif pada daerah vaginaku hingga membuat tubuhku semakin menggelinjang.

Tidak mau terus kalah dengan Amar, aku semakin berusaha mengeluarkan kemampuan dalam menjilat dan menyedot-nyedot penis miliknya hingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sebaliknya adikku juga tetap tidak ingin kalah dengan mengalami orgasme terlebih dahulu. Sehingga kami berdua kini saling berlomba merangsang satu sama lain dan tinggal menunggu saja siapa yang tidak kuat bertahan.

“Teteeeeh nggaaaak kuaaaaaaat lagiiiii…!! Aaaaaaaaaaaahhhhhhh…!!” lagi-lagi akulah yang menjadi pecundang karena sudah tidak tahan lagi dirangsang sedemikian rupa oleh adikku.

Kali ini aku bahkan mengalami orgasme yang sungguh luar biasa! Saat itu aku sama sekali tidak ingat lagi dengan keadaan sekitar sehingga aku meracau tidak karuan sambil berteriak-teriak dengan keras. Sementara itu vaginaku masih saja terus mengeluarkan cairan dengan sangat banyak yang tentu saja tidak disia-siakan oleh adikku.

Setelah adikku puas menikmati cairan vaginaku, dengan tidak sabar dia menggerakkan pantatnya seolah sedang melakukan penetrasi ke dalam mulutku hingga penisnya kini sudah mencapai rongga kerongkonganku. Adikku terus membenamkan batang penisnya ke dalam mulutku sambil sesekali mengaduk-aduk tenggorokanku. Diperlakukan seperti itu aku hanya bisa pasrah dan membiarkan adikku berbuat sesuka hatinya.

“Aaaaaaahh… Teteeeeeh…!! Amaaar sebentaaaar lagi keluaaaar…!!” akhirnya adikku pun sudah tidak dapat menahan lagi kenikmatan yang mulutku berikan kepada penisnya.

Hingga tidak berapa lama setelah itu ‘Crooott… Crooootttt… Crooooott…’ sperma adikku yang hangat, kental serta memiliki bau yang khas, keluar dengan cukup banyak ke dalam mulut mungilku.

“Ooooohh… Sedoot teruus Teeeh!! Enaaaak… Teleeen pejuuu Amaaar semuanyaaaa…!!” perintah adikku agar menelan seluruh sperma yang dikeluarkan dari penisnya dengan mulutku sampai betul-betul habis.

Setelah selesai meminum sperma adikku yang terasa sangat nikmat di mulut, aku pun meraih batang penisnya lalu menghirup dalam-dalam aroma spermanya. Dengan perlahan aku menjilati sisa sperma adikku yang masih menempel hingga penisnya menjadi mengkilap dan licin kembali.

“Emang paling mantep deh sepongannya Teteh…!” kata adikku memuji pelayananku.

Setelah tenaga kami sudah terasa habis, kami berdua hanya bisa menyenderkan tubuh di kursi belakang. Selama kami tersandar lemas di bangku belakang, suasana di dalam mobil menjadi hening. Hanya terdengar suara desah nafas dan juga suara tiupan AC mobil yang angin dinginnya menerpa tubuh telanjang kami berdua.

“Ternyata mimpi Amar bener-bener jadi kenyataan…” kata adikku yang nampak tersenyum puas.

Seperti layaknya sepasang kekasih, aku menyandarkan kepalaku di pundak Amar sambil memeluk badannya yang kurus. Rambut panjangku yang kini dalam keadaan berantakan juga dielus lembut oleh adikku. Kemudian kami berciuman kembali sambil saling menggoda dan bercanda menikmati saat-saat terakhir sebelum akhirnya mulai berbenah diri.

“Aduh Mar!! Kita udah satu jam lebih nih…! Nanti bilang apa ke Ibu?” aku berteriak kaget ketika melihat ke arah jam tanganku.

“Tenang aja Teh! Bilang aja nyari parkirnya susah, terus Teteh bilang aja sekalian liat-liat baju…” jawab adikku dengan santainya.

“Iiiiih… Amar emang paling pinter deh kalo nyari alesan…!” kataku sambil mencubit pelan pipinya.

Setelah kembali berpakaian lengkap akhirnya kami pun segera keluar dari mobil dan menuju ke Food Court tempat Ibu dan adik-adikku yang lain menunggu. Ternyata alasan yang disarankan Amar tadi benar-benar membuat mereka percaya begitu saja.

Karena sudah merasa sangat lapar dan lelah akibat saling melepas birahi di mobil tadi, akhirnya aku dan Amar langsung memesan makanan sebelum kami semua melanjutkan perjalanan untuk berbelanja. Sungguh hari ini menjadi belanja paling melelahkan bagiku. Bahkan aku sempat tertidur di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah.

Di dalam hati kecilku, aku merasa yakin kalau setelah kejadian ini aku dan adik laki-lakiku akan tetap melanjutkan hubungan terlarang ini setiap kali ada kesempatan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan kami melakukannya setelah aku menikah dengan pacarku nanti.

TAMAT


Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun.

Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung.

Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.

Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah.

“Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,” pikirku.

TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba…

“Anton.. apa yang kamu lakukan!!” teriak sebuah suara yang aku kenal.

“Ooooohh… Tante…?!” aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.

“Eeeehhhh… ppppffffff…!!! badan tante Ida seketika
mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia
sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai
memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas….

“Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu…!!! Cepat lepas… nanti kulaporkan kau ke om mu…” teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.

Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku.

Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu.

Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.

Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi…

“Tooonnnn… aaammmpuunn… Toonnnnn… iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!”

Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.

“Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghh
hhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!” akibat perlakuanku itu,
kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang
mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin
memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan
kuat dan……..

“Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa
angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt..Tooo nnn…
oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!”
akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,
serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan
tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.

Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.

Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.

Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…

“Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????”

“Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk
tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri
sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!” sahutku mencari-cari
alasan sekenanya.

Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih
menggenggam penisku katanya lagi..

“Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai
segede ini..!!”

“Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!” memang penis ku panjangnya 20
cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi
sangat bernafsu begini.

Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai
memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan
tante Ida tak mau lepas dari situ.

“Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar
enaaakkk….!!!!”

“Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!”, perlahan-lahan kedua
tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan
sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua
tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai
menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku
menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang
kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang
terlewat dari sapuan lidahnya.

Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.
Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan
dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi
sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida
mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin
mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.
Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku.

“Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo
keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!”

Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu
menyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya
semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar
tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.
Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya
hingga bersih.

Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur,
sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti
rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas
tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam
keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan
yang sayu dan terlihat pasrah.

Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan
aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar
kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.

Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya,
sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina
tante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan
ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan
diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala
penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida.

Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang
kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,
kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat…

“Oooooohhhhhh… Toooonnnn… bee.. beeeesaaarrrr
aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan… pee laaan… Tooooonnnnn… ooooohhhhh..!!!!!” tante Ida merintih perlahan.

Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam… terus… terus…. ooohhhhhh… eeeenna aaak… benaaarrrr… terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku.

Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..

“Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!”

Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku.

Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku
terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……
terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,
karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba
menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya
memompa keluar masuk.

Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun
yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan
sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida
terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam
dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida
bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku
dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.

Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot
penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.

“Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..
hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…
keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.”

Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.

Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.

Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang
ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan
ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot
penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang
berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya
selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan
tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.
“Aaaaaauuddddduuhhhh… taaannnnnn… teeeee… oooooohhhhh…..!!!!” keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan
…croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat,
mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian
badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara
kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan
sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja
berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.

“Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!” kataku dengan manja.

“Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!”

“Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????”

“Iya.. siiihhh….!!!!!” kata tante Ida malu-malu.

Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati

TAMAT



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.