Kumpulan Cerita Favorit

Author Archives: ceritajorok

Untuk kesekian kalinya Sinta terlentang di tempat tidur sambil berpura-pura merasakan orgasme. Suaminya Ponimin berbaring di samping nya terengah-engah karena kelelahan, sambil menyeringai puas seperti orang idiot.

Meskipun hanya lima tahun perbedaan usia antara Sinta dan Ponimin, namun bayak orang yang menganggap mereka terlihat seperti bapak dan anak daripada sebagai suami istri. Sinta adalah seorang perempuan langsing mungil yang diberkati dengan payudara ukuran DD. Dia rajin merawat tubuhnya sehingga tampak jauh lebih muda dari tiga puluh dua tahun.

Namun hal yang sama tidak dapat dikatakan tentang suaminya. Ponimin tingginya hanya mencapai dagu Sinta. Dia juga seorang pria gemuk dengan rambut yang mulai menipis. Kejantanannya yang berada diantara perut gendut dan paha glambirnya hampir saja tidak terlihat. Jelas bahwa Sinta hanya menikah karena uang.

Tapi Sinta jelas bukan istri setia dan berbakti. Dia pernah berselingkuh selama pernikahannya dengan si burung emprit. Mulai dari anak tetangganya dan menyebar ke office boy dan beberapa pria di kantornya. Tapi mereka semua telah mengakhirinya sendiri . Tak satu pun dari mereka memiliki nyali untuk melanjutkan bercinta dengan istri orang lain. Sinta merasa ditakdirkan untuk menghabiskan hidupnya tanpa kepuasan seksual.

Seperti biasa, malam itu segera setelah bercinta Ponimin mendengkur keras, sehingga Sinta diam-diam keluar dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk bermasturbasi, berharap untuk memberikan dirinya kepuasan yang tidak bisa didapatkan dari suaminya. Tapi saat ia membuka pintu ke kamar mandi, dia terkejut melihat apa yang terjadi di dalam kamar mandi.

Anwar, anak semata wayangnya yang telah beranjak remaja, sedang duduk di kursi toilet, dengan celana yang telah melorot di atas lantai, seang asyik membelai sosisnya yang be ukuran besar. Anwar memandang langsung ke arahnya, tahu dia ada di sana, tapi terus membelai pula. Lengannya dipompa lebih cepat dan lebih cepat hinga muncratlah lendir yang membentuk tali yang tebal, membasahi seluruh lantai.

Melihat kejadian itu Sinta merasakan vaginanya menjadi becek dan mulai membasahi celana dalamnya. Selangkangannya terasa gatal dan ia dipenuhi dengan nafsu yang sangat kuat yang belum pernah dirasakannya selama ini. Dia menatap penis yang ada di depannya, yang ukurannya tidak hanya akan mempermalukan milik suaminya tetapi juga penis dari seluruh laki-laki yang pernah tidur dengannya. Dan itu ada pada anaknya sendiri! Akan bertambah sebesar apa jika dia semakin dewasa kelak? Hanya dengan berpikir tentang hal itu membuat Sinta mendapatkan orgasme kecil.

Jantung Sinta berhenti berdetak saat ia menyadari bahwa ia telah menatap penis anaknya sendiri selama hampir satu menit. Wajahnya panas, ia bergegas kembali ke kamarnya tanpa berkata-kata, mengetahui dia akan menghabiskan malam horny dan tidak puas, tersiksa oleh mimpi bercinta dengan anaknya sendiri.

XXX

Anwar tersenyum dalam kepuasan ketika ia melihat ibunya bergegas kembali ke kamarnya. Tahap pertama dari rencananya telah berhasil tanpa hambatan. Ia tahu rutinitas orangtuanya. Pada pukul sepuluh, ayahnya akan mulai bercinta. Tidak sampai dua menit kemudian, dia akan selesai dan tertidur lelap. Ibunya akan datang ke kamar mandi untuk masturbasi. Jadi dia sudah menunggu di kamar mandi dengan lampu yang dipadamkan, meremas-remas penisnya, dan menunggu ibunya masuk kedalam kamar mandi. Keberuntungan baginya karena ibunya datang ketika dia melakukannya, tepat di depannya.

Tahap dua akan dilaksanakan tidak lama lagi. Besok Ayahnya akan berangkat dalam perjalanan bisnis ke Eropa, yang memberi Anwar dua minggu sendirian dengan ibunya untuk memberikan apa yang dia benar-benar butuhkan, pria sejati dengan penis keras.

XXX

Sinta pulang dari bandara setelah mengantar suaminya pergi. Tak pernah terlintas dalam pikirannya apa yang akan dilakukannya dalam dua minggu kedepan sendirian dirumah dengan anaknya. Mereka masih belum saling bicara tentang malam kemarin. Sejak kejadian itu, ia merasa bersalah karena setiap melakukan masturbasi selalu berkhayal tentang anaknya. Namun rasa bersalah itu segera memudar. Lagipula, sekadar khayalan bukanlah masalah asalkan tetap hanya sebagai khayalan belaka, bukan?

Sinta berhenti di depan rumahnya, menarik napas panjang, dan enggan masuk ke rumahnya. “Anwar?” dia memanggil. “Mamah pulang.”

“Mamah?” Suara Anwar datang dari lantai atas. “Mah, tolongin Anwar sebentar dong?”

“Oh Tuhan,” pikirnya. “Kamu lagi ngapain Nak?” Sahutnya sambil berjalan menaiki tangga ke lantai atas.

“Anwar di kamar mandi,” kata Anwar. Mengambil napas dalam-dalam, Sinta mendorong pintu ke kamar mandi. Ada Anwar, basah sehabis mandi, berdiri telanjang. Apa yang dilihat Sinta membuat gairahnya bangkit.

“Mah, tolong ambilkan handuk dong?” Pinta Anaknya. Tanpa berkata-kata, Sinta menarik handuk dari rak dan memberikan kepadanya.

“Mah, sekalian aja keringkan badan Anwar pake handuk kayak dulu waktu Anwar masih kecil?” Seolah-olah terhipnotis, Sinta melakukan apa yang diperintahkan. Dia berlutut di depannya seperti seorang pemuja dan menyeka kakinya, menarik handuk ke arah selangkangannya. Matanya tak pernah meninggalkan kemaluannya, yang perlahan mulai membesar.

Tanpa membuang kesempatan Anwar menggeser pinggulnya sehingga penisnya terdorong ke wajah Sinta dan meninggalkan bercak lendir di pipinya, tepat di sudut mulutnya. Perlahan-lahan Anwar mulai menggesek penisnya ke pipi ibunya. Tanpa sadar, Sinta mulai membuka mulutnya. Anwar siap untuk mendorong sosisnya ke dalam mulut ibunya.

Tiba-tiba Sinta terhenyak. “Tidak! Kita tidak boleh!” katanya terengah-engah.

“Mengapa tidak?” Tanya Anwar sambil menyeringai. Ibunya masih belum mengalihkan matanya dari kemaluannya.

“Ini salah! Dan bagaimana jika mamah nanti hamil?” protes Sinta langsung dipotong oleh anaknya dengan menghujam penisnya ke dalam mulut ibunya. SInta hampir tersedak tapi segera santai saat ia sekali lagi merasakan penis yang sudah mengeras di dalam mulutnya. Dia ingin melepaskan diri, tapi batin pelacurnya, wanita yang menghianati suaminya, mengatakan untuk tidak dilepas. Sinta yang sudah hampir putus asa mendambakan penis sejati, kini tidak peduli jika itu putranya sendiri. Sinta mulai bereaksi terhadap penis anaknya.

“Aah, nah gitu dong mah,” kata Anwar merasakan kepala ibunya mulai naik-turun pada poros nya. “Hisap terus, mah” Ketika Sinta merasakan cairan anaknya mulai menetes menggelitik ke tenggorokannya, blowjob nya menjadi lebih cepat. Sesekali dia membuka mulutnya dan mulai memainkan lidahnya dari atas ke bawah menjilati batang penis anaknya sebelum membungkus bibirnya kembali sekitar itu.

“Wah, mamah bener-bener menikmati punya Anwar ya?” kata Anwar. Sinta menjawab sambil mengulum penis anaknya sehingga terdengar tidak jelas oleh Anwar.

“Ngomong apaan sih , mah?,” kata Anwar saat ia tiba-tiba menarik kemaluannya keluar dari mulut ibunya. Sinta, kehilangan apa yang ia inginkan begitu lama, mencoba untuk memasukan penis anaknya kembali ke dalam mulutnya tetapi Anwar justru menarik menjauhinya.

“Katakan betapa Mamah menginginkannya,” perintah Anwar. “Katakan betapa Mamah mencintai penisku. Mamah harus memohon kepada Anwar untuk bercinta atau Anwar berhenti sekarang..”

Sinta mulai terisak sebelum dia mulai menangis dalam penghinaan. “YA Mamah butuh kamu, sayang! Mamah ingin kamu menyetubuhi mamah! Mamah ingin merasakan penis besarmu dan semburan spermamu di dalam vagina mamah! Oh Tuhan, aku begitu lemah aku seperti pelacur.!!” Dia membenamkan wajahnya di kedua tangannya dan menangis bebas.

“Anwar sangat mencintai Mamah,” kata Anwar. Sinta terhuyung kedepan bertumpu pada lututnya, seperti pecandu membutuhkan obat. Dia seorang pecandu … untuk anaknya. Baru sekali ia merasakan cairan pra-ejakulasi anaknya dan ia langsung terpikat. Dia yakin bahwa tidak ada seorangpun akan pernah memuaskan dirinya lagi selain anaknya.

“Berbaringlah , Mah,” perintah Anwar. ” Anwar akan bercinta dengan mamah. Itu yang mamah inginkan bukan?”

Sinta berbaring di lantai kamar mandi, melepaskan celana dalamnya dan menaikkan roknya. “YA, Lakukanlah, nak! Bawa aku sekarang, sayang … anakku!” teriaknya.

Anwar tersenyum serta menginginkannya. Ibunya sekarang miliknya. Namun Anwar sekali lagi mencoba untuk menggodanya, ia bertanya polos, “Tapi bagaimana dengan Papah?”

“Persetan dia!” jeritnya. “Dia pecundang yang tidak berharga yang tidak bisa menyenangkan mamah! Mamah sekarang menjadi milikmu. Tubuh ini milikmu, sayang!”

Tidak lagi mampu mengendalikan dirinya Anwar langsung menindih ibunya yang masih merengek dan mendorong penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina ibunya. Meskipun Sinta sudah sering selingkuh dengan banyak pria lain, tetapi vaginanya masih tembem dan rapet seperti empot ayam.

Baru beberapa tusukan keras, Sinta sudah mendekati orgasme pertamanya. Sodokannya semakin cepat, membuat payudaranya yang tidak memakai bra dibalik bajunya ikut bergincang. “Oh … oh … OHHHH!” dia tersentak saat mencapai klimaks. “Anwar, sayaaang, OHHH !”

“Papah pasti tidak pernah memuaskan mamah seperti ini, bukan?”

“Ti-tidak!”

“Anwar sayang Mamah!” kata Anwar. “Anwar ingin bercinta dengan mamah selamanya dan memliki keluarga denganmu, sayang!”

Karena nafsu gilanya, ide menikahi anaknya sendiri membuat Sinta kembali bergairah. “Lupakan papahmu. Mulai sekarang dia bukan suamiku lagi!” kata Sinta. ” Mamah tak peduli Sekarang kamu suamiku! Si cacing kecil itu tidak akan pernah memiliki tempat dalam vaginaku lagi!” Kata-kata yang terlontar dari mulut ibunya itu membuat gairah Anwar semakin memuncak.

“Oh Tuhan, nikmatnyaaa….aaahhhhhh…!” Dengan satu dorongan kuat terakhir, Anwar melepaskan semprotan cairan spermanya dengan deras sekali. Benihnya membanjiri jauh ke dalam rahim ibunya. Pada saat yang sama Sinta juga merasakan orgasme, untuk yang keempat kalinya. Dia menjerit dan menggeliat dalam kenikmatan.

“ Terimakasih, sayang.” Kata Sinta. “Mamah puas banget. Mama akan menghabiskan sisa bulan ini sebagai budak cintamu dan nanti setelah papahmu pulang dari Eropa mamah tidak ingin hubungan kita berhenti.” lanjut Sinta sambil memeluk anak/kekasih barunya. Mereka saling berciuman lalu tidur bersama, menghabiskan malam pertama mereka di lantai kamar mandi.

XXX

Sejak itu, selama suami SInta masih di eropa, pasangan Ibu dan anak tersebut hampir setiap saat melakukan sex disetiap bagian rumah. Tidak hanya di kamar tidur saja tetapi mereka juga melakukannya di ruang tamu, dapur, bahkan di serambi halaman belakang. Karena seringnya melakukan sex mereka jadi malas untuk memakai pakaian kembalai sehingga mereka lebih sering telanjang bulat selama di dalam rumah. Ketika mereka lelah melakukan sex, mereka istirahat sebentar, entah nonton TV, makan bersama di meja makan, atau sekedar baca majalah semuanya dilakukan mereka dalam keadaaan bugil. Seletah istirahat mereka kembali bercinta dengan ganas. Seluruh ruangan di dalam rumah kini beraroma sex karena banyak cairan sperma yang berceceran di lantai, karpet, sofa, dan meja. Aktifitas yang mereka lakukan akhirnya membuahkan hasil. Sinta positif hamil. Awalnya mereka terkejut, namun pada akhirnya mereka senang dan memutuskan untuk tidak menggugurkan kandungan.

XXX

Siang itu Ponimin tampak keluar dari taksi dan dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam rumah. Selama di luar negeri hasrat sexsualnya meningkat melihat wanita-wanita bule disana. Kini hasrat itu akan segera ia lepaskan bersama istri tercinta. Ia sudah kagen dan tidak sabar ingin bercinta dengannya dan waktunya juga pas karena Anwar pasti belum pulang sekolah, jadi mereka akan sendirian.

Melangkah di dalam pintu, ia mengendus aroma aneh. Tapi karena nafsu sedang memenuhi pikirannya, ia tidak memperdulikannya. “Sayang, papah pulang. “

“Sebentar pah, papah tunggu dulu aja di dapur ya. Mamah punya kejutan untuk papah,” sahut Sinta dari lantai atas, sambil cekikikan.

“Wah, asyik kejutan dari istriku,” kata Ponimin dalam hati. Ia bergegas ke dapur (yang juga punya bau aneh) dan duduk di meja.

Dia mendengar Sinta menuruni tangga. Sebelum memasuki dapur, istrinya bertanya, “Papah udah siap dengan kejutan dari mamah?”

“Apaan sih Mah, cepetan dong!” Ponimin berkata keras, tidak dapat menunggu lebih lama lagi.

Sinta melangkah perlahan-lahan ke dalam ruangan, mengenakan bra berenda hitam yang dia beli untuk kesempatan khusus. Ini adalah pertama kalinya dia mengenakan baju itu. Kulitnya juga dipercantik dengan semacam cairan pelumas. Itu adalah pemandangan paling seksi yang pernah dilihat oleh Ponimin.

“Tunggu sebentar,” pikir Ponimin. “bukankah itu air … ‘

Itu adalah air mani. BANYAK air mani! Diseluruh tubuh istrinya, menutupi wajah, payudara, perut, dan selangkangan. Apakah yang telah terjadi?

Pertanyaan-pertanyaannya terjawab ketika putranya, telanjang, mengikutinya ke dalam ruangan. Anwar mendekap tubuh Sinta dari belakang dan mulai membelai payudaranya yang berukuran melon. Dengan senyum sadis, Sinta melemparkan sesuatu ke meja. Ini adalah tes kehamilan positif.

Mulut Ponimin ternganga pindah tanpa keluar kata-kata. Sinta menjawab pertanyaan yang tak terucapkan itu. “Ya, mamah hamil!”

Ponimin akhirnya bersuara. “Anak itu … itu bukan milikku, bukan?”

“Tentu saja tidak, pah!” Anwar tertawa.

“Anwar, kamu,….kamu bajingan!” ia tergagap.

“Maaf, pah tapi Mamah adalah istri Anwar sekarang,” kata Anwar. “Dia tidak mau lagi jadi istri papah, benar kan mah?.”

“Ya, aku tidak menginginkanmu lagi, cacing kecil,” kata Sinta, senang akhirnya menggunakan nama itu keras-keras.

“Tidak! Ini tidak bisa … tidak mungkin! tidak!” Ponimin mengoceh banyak kata penolakan kepada istri yang tidak setia dan anak durhaka. Anwar takjub melihat bagaimana segala rencananya berjalan lancar. Ponimin telah kehilangan pikirannya dan merekalah penyebabnya! Hal ini membuat gairah Anwar naik.

Sinta menggenggam penis putranya. “Kau lihat ini?” dia berkata kepada suaminya. Masih shock, Ponimin hanya mengangguk. “Ini baru yang namanya penis. Dan kami akan menunjukkan kepadamu bagaimana cara menggunakannya!.” Sinta meraih ujung meja dapur dan membungkuk, menunjukkan bahwa pantatnya juga ditutupi dengan dengan bekas cairan sperma. “Bawa aku sekarang, sayang…… di depan suamiku!” Sinta memohon kepada anaknya. “Mari kita tunjukkan padanya apa cinta sejati itu!”

“Oh! Dengan senang hati, mah. Mari kita tunjukan kepadanya bagaimana perempuan cantik dan seksi seperti mamah pantas dicintai dan dinikmati..!” Sahut Anwar sambil tangannya bergerilya ke seluruh tubuh ibunya dan permainan sex pun dimulai.

Di saat terengah-engah kenikmatan, Sinta menoleh pada suaminya dan berkata, “Aku tidak … eh … akan menjadi … eh…oh Tuhan … istrimu lagi, Ponimin . Sekarang aku milik seorang pria yang memang layak untuk menikmati diriku. Putra kami! ” dia tertawa. “Ya….Terus, tusuk-tusukin punyamu ke lubang mamah! Jangan berhenti, sayang,,,,,! Enjot terus ibumu yang sedang hamil!”

“Mamah tidak akan pernah membolehkan cacing kecilnya papah masuk ke dalam lobang mamah yang inda ini kan?”

“Tidak, Anwar. Ohhh Saya hanya milikmu, kekasihku!Ohhh.. Sayang, mamah hampir …”

“Sama, Mah. Anwar juga hampir keluar…Ahhh.” Anwar keluarin di dalam ya, Mah! “

“Jangan, sayang. Tunjukan kepada papahmu seperti apa semprotan air mani dari laki-laki sejati”

“YEAH!” Anwar segera menarik keluar penisnya dari lubang ibunya. Sinta berbalik dan menggenggam batang kemaluannya yang keras, mengocok-nocoknya hingga mucratlah segalon air mani. Semprotan air mani tersebut menembak ke udara, lalu jatuh kelantai dengan percikan keras. Anwar kemudian kembali memasukan batang kemaluannya yang masih keras ke lubang vagina ibunya untuk membuat Sinta orgasme ke sebelas kalinya di hari itu.

Ponimin kembali shock saat melihat kuatnya semprotan air mani anaknya ke udara. Rasa sakit yang tiba-tiba menusuk sisi kiri dadanya. Sambil memegang dadanya yang sakit, tubuhnya jatuh ke lantai. Sinta dan Anwar melihat, tapi mereka terlanjur asyik dengan permainan mereka. Mereka berdua mendekati orgasme, sebuah titik di mana benar-benar tidak ada yang bisa membuat mereka berhenti.

Hal terakhir yang dilihat Ponimin sebelum meninggal adalah ketika istri dan anaknya di meraih puncak kenikmatan bersama.

XXX

Ponimin dinyatakan meninggal karena serangan jantung pada hari itu. Semua uang dan property Ponimin menjadi warisan mereka. Dengan itu, Sinta bisa pensiun dini. Ibu dan anak tersebut menghabiskan hari-hari mereka bersama-sama sebagai suami dan istri, bercinta terus-menerus.

Sembilan bulan telah berlalu dan Anwar berada di ruang tunggu rumah sakit, cemas menunggu kelahiran adik barunya / anak. Segera seorang perawat datang kepadanya. “Bapak Anwar?” dia bertanya.

“Ya Bagaimana ibuku? Apakah dia baik-baik?”

“Ya,” kata perawat itu sambil tersenyum. “Dia dan bayinya baik-baik saja. Anda dapat pergi dan melihat mereka sekarang..” Dia membawanya ke ruang tempat ibunya sedang beristirahat, bayi baru mereka terbuai dalam pelukannya.

“Kemarilah,” kata Sinta. “Lihatlah ini an….adikmu.” Dia terkikik karena hampir salah ucap.

“Kami akan meninggalkan kalian bertiga saja,” kata dokter. “Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan, tinggal tekan bel.” Dia dan perawat pergi, menutup pintu di belakang mereka.

“Bagaimana keaaan anak kita, mah?” Tanya Anwar lembut.

“Dokter mengatakan dia sehat, tetapi lihatlah ini.” Sinta menarik diri selimut bayi.

Penis bayi itu ternyata besar. Panjangnya hampir setengah pahanya.

“Oh Tuhan,” bisik Anwar. Dia tahu perkawinan sedarah yang dapat menghasilkan beberapa karakteristik yang tidak biasa. Mungkin itulah alasan penis bayi begitu besar.

“Kamu tidak cemburu, kan?” Sinta bertanya dengan senyum menggoda.

“Tidak sama sekali,” kata Anwar, memaksa tersenyum. “Jadi penisnya akan terus tumbuh bersama dengan usiai dia?”

“Kayaknya sih begitu,” kata Sinta dengan nada akrab yang memberi tanda kepada Anwar bahwa dia mulai terangsang. “Mamah penasaran akan besar apa nantinya ketika ia tumbuh dewasa. Sekarang taruh si kecil Rafi ke tempatnya sehingga dia dan mamah bisa beristirahat..”

XXX

Lima belas tahun telah berlalu dan Sinta meski telah berumur dan memliki dua anak namun tubuhnya masih tetap kencang dan kulitnya tetap segar. Ini karena dia selalu rajin Aerobik dan perawatan tubuh. Begitu pula dengan hasrat seksualnya yang tidak pernah padam.

Kehidupan seks juga dilanjutkan dengan Anwar, tapi selama bertahun-tahun, kegembiraan mulai memudar. Mungkin karena Anwar sekarang lebih sring berperan sebagai suami daripada sebagai anak. Hal ini sampai pada titik di mana ia kadang-kadang harus berpura-pura orgasme. Dia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa itu normal untuk semua hubungan jangka panjang, tapi ia tahu kebenarannya.

Dia rindu berzinah.

Dia merindukan kegembiraan berselingkuh dari pasangannya. Dia merindukan bagaimana enaknya membodohi, mempermalukan dan menghina suaminya dengan cara berzinah dengan anaknya. Sinta telah mencoba selingkuh dari Anwar dengan pria lain, tapi itu tidak sama rasanya.

Suatu hari, jawabannya datang kepadanya dalam sekejap. Dia membersihkan kamar Rafi, karena ia dengan tegas menolak untuk membersihkannya sendiri. Dia mencium aroma kamar Rafi yang aneh, seperti aroma sex. Dilantai kamar tersebut bertebaran tissue-tissue bekas sperma. Dia menarik napas dalam, menghirup aroma sperma yang lezat tersebut. Dia berhenti saat merasakan sesuatu yang tersembunyi di bawah selimut. Dia menemukan album foto dia dan Anwar yang telah tersusun mulai dari hari mereka akan mengungkapkan hubungan mereka dengan Ponimin.

Foto pertama menggambarkan tubuh Sinta yang dilumuri sperma Anwar sebagai persiapan untuk penghinaan Ponimin waktu itu. Di saku belakang binder album adalah tes kehamilan positif.

Melihat kembali pada lembaran tissue bekas di kamar Rafi, ia menyadari bahwa banyak yang masih segar. Apakah dia menyemprotkan sperma sebanyak ini sekaligus?

XXX

Anwar kembali ke rumah dari perjalanannya ke toko, bersemangat untuk menyenangkan ibunya. Dia membuka pintu dan melangkah masuk, sambil hendak memanggil nama Sinta.

Tiba-tiba Anwar mendengar suara. Dia mengenal suara itu.

“Ohh..goyang terus! Oh, Tuhan, setubuhi ibumu, sayang,” teriak Sinta liar dari lantai atas. Suaranya bergetar dan tersentak dengan nafsu dan gairah seksual. Marah, Anwar menjatuhkan belanjaan nya, berlari ke atas dan membuka pintu kamar tidur utama. Dia tertegun dengan apa yang dilihatnya.

Sinta berbaring telentang, telanjang, dan Rafi sedang asyik menyodokkan batang kemaluannya yang super besar masuk dan keluar dari vagina ibunya. Sebuah genangan besar dari air mani dari blowjob sebelumnya telah memercik ke mulut dan payudara. Anaknya / cucunya menindih di atasnya, menjepit tangannya di atas kepalanya sambil ia menggoyangkan pantatnya. Sinta berusaha mengimbangi irama gerakan pantat Rafi dengan semangat yang membuat Anwar menyadari betapa Sinta tidak lagi puas dengan Anwar.

Dia berdiri di sana selama hampir satu menit sebelum mereka akhirnya memperhatikan kehadirannya. “Mah, lihat siapa yan datang,” kata Alan dengan sinis.

Sinta berbalik menghadapi suaminya, Anwar dan mmemperlihatkan nafsu yang bergelora dimata Sinta. Tapi ketika melihat anak/suaminya itu berdiri di depannya, Sinta tersenyum lebar, senyum yang sama ketika dia menunjukkan Ponimin tes kehamilan. Dia menertawakannya, kasihan melihat si anak/suami yang kini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan cucu/anaknya Rafi dalam hal keperkasaan seksual.

“Sinta,” kata Anwar tersedak-sedak. “Mangapa?”

“Maafkan aku, Sayang,” kata Sinta dengan suara tidak tulus tapi mengejek. “Saya menghargai hubungan kita tapi saya menemukan sesuatu yang lebih …” dia dan Rafi berbagi senyum, “memuaskan.” Mereka tertawa lepas bersama-sama.

Mata Anwar terbelalak ketika Rafi berpindah posisi ke belakang ibunya yang setengah nungging kemudian ia meremas dengan kasar payudara ibunya, sambil menghujamkan batang kemaluannya ke lubang pantat ibunya.

“Ahh…. ohhhh…..nikmatnya, sayang,” lutut Sinta bergetar hebat menahan kenikmatan orgasme yang entah kesiakn kalinya. Tubuh Sinta akhirnya lungkai karena lemas dan ambruk ke kasur namun Rafi tetap menahannya sehingga psisinya kini menjadi doggy style di atas kasur. Rafi terus melanjutkan hujaman-hujamannya bergantian ke lubang vagina dan ke lubang pantat ibunya. Semakin lama gerakannya semakin cepat. Hal ini membuat Sinta terangsang kembali.

“ Ahhh….teruss sayang. Jangan berhenti. Mamah udah hampir….ohhhh…” racau sinta sambil menatap tajam Anwar yang masih berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca dihadapan mereka.

“ Rafi juga mau keluar, mah…eh..eh…eh. Rafi keluarin di dalem ya, mah?” tanya rafi tanpa memperlambat goyangannya.

“Jangan, sayang…ahh…Tunjukan kepada kakakmu seperti apa lelaki perkasa itu, sayang.” Pinta Sinta sambil terengah-engah menahan nikmat.

“ Oke, mah.” Rafi langsung mencabut penisnya dari lobang pantat ibunya dan menghadapkannya ke wajah Anwar yang masih berdiri shock dengan mulut ternganga.

“Arghhhhhh………rasakan ini! Tiba-tiba menyemburlah lahar panas dari ujung kemaluan Rafi. Semprotannya sangat kuat menuju ke udara tepat ke wajah Anwar. Beberapa tembakan pertama tepat masuk ke mulut Anwar yang masih ternganga.

Anwar yang tidak siap menerima semprotan tesebut kembali shock dan akhirnya tubuhnya lunglai jatuh ke lantai tidak sadarkan diri. Wajahnya belepotan penuh dengan air mani adik/anaknya sendiri. Melihat Anwar yang sudah terkapar tidak berdaya dengan wajahnya yang belepotan air mani, Sinta dan Rafi tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian Sinta bangun dari tempat tidurnya menuju ke Anwar yang tergeletak. Ia lalu berjongkok tepat diwajahnya dan mengencinginya sambil terkekeh-kekeh. Mereka kembali tertawa puas dengan kelakuan mereka dan akhirnya karena kecapaian mereka tidur pulas bersama ditempat tidur sementara Anwar dibiarkan begitu saja tergeletak apa adanya.

TAMAT


“Kriiinnggg…” bunyi telepon rumah yang sedikit mengganggu tidur siang ku, ternyata kakaku menelpon dan kemudian menyuruhku untuk menjemput tanteku di stasiun. Dengan sedikit menggerutu saya kemudian meluncur dengan motorku ke stasiun untuk menjemputnya. Setelah 15 menit menunggu ada suara memanggilku “hai nug.. sekarang tambah besar aja…”betapa kagetnya ternyata tanteku sekarang berbeda dengan yang dulu. Sekarang semakin kencang dan semakin menggairahkan. Dengan segera kualihkan konsentrasiku dari tubuhnya langsung menuju koper yang akan saya bawa.
Segera kuangkat dan langsung menuju ke parkiran.

Dalam perjalanan saya mencoba berkomunikasi untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung, ” tante ada keperluan apa kok tumben maen ke rumah..”tanyaku,.
“ini nug tante mau ngurus perpanjangan paspor tante…sekarang kamu semakin macho daripada dulu ya nug, dulu kan kamu kurus kering” jawab tanteku., “ya iyalah tante, mosok ya kurus terus”jawabku… awal sebuah interaksi yang bagus menurutku..
Tanpa terasa sampailah kerumah. Kemudian saya menyiapkan kamar untuk tanteku biar istirahat setelah sekian lama dalam perjalanan. Kemudian kulanjutkan tidurku yang sempat tertunda.

Sore pun tiba, dan aku bersiap untuk mandi.. dari kejauhan kulihat tanteku memakai baju senamnya sehingga terlihatlah setiap lekukan tubuhnya,dan itu membuatku sedikit menelan ludah. “hmmm, body yang sangat indah” gumamku,.. setelah tersadar dari melihat pemandangan indah itu segeralah aku menuju ke kamar mandi untuk menyelesaikan mandiku. Setelah selesai terkejutlah aku melihat posisi tanteku yang tadi hanya berdiri sekarang mengambil sikap kangkang dalam senam sehingga sedikit memperlihatkan lipatan miss V nya.. Semakin berdegup kencang jantung ini, karena malu sendiri akhirnya saya berlari kecil menuju kamar saya. Semakin tidak beraturan isi otak ini, sehingga menimbulkan keinginan kuat untuk dapat melihat bentuk yang dibalik pakaian senamnya. Kemudian muncullah sebuah ide untuk mengintip tanteku sendiri pada waktu mandi. Semalaman memikirkan bagaiman caranya mengintip,dan akhirnya berhasil menemukan ide itu. Keesokan harinya terdengar suara orang mandi, segera berlari menuju tempat yang telah direncanakan, melewati kamar tanteku dan sempat berhenti sebentar karena melihat branya. Segera kupasang posisiku untuk mengintip dengan sedikit menarik lubang selang air. Dan ternyata sukses, buah dari semalam berfikir keras. Terlihat buah dadanya yang besar dan rambut yang ada di vaginanya. Semakin banyak ku menelan ludah pada saat tanteku pelan2 menyabuni payudaranya dengan lembut,kemudian turun menuju vaginanya.. Namun sayang itu hanya berlangsung sekitar 5 menit saja. Karena tanteku sudah menyelesaikan mandinya. Segera berlari kecil menuju kamaraku dan membayangkan apa yang baru saja aku liat dan tanpa menyadari kalau “adik kecilku” ini reflek bangun dengan sendirinya..

15 menitan berselang dengan lamunanku diatas kasur dengan posisi tengkurap, terasa ada sedikit yang mencolek kakiku. Spontan saya langsung kaget dan berdiri. Ternyata tanteku membangunkan aku, “ayo nug.. anter tante ke kantor imigrasi. Tapi kali ini pake mobil kakakmu ya.. ini kuncinya. Mobilnya tadi pagi diantar suaminya waktu km tidur”.. “iya tante, sebentar mandi dulu..” jawabku.. “jangan lama2 ya nug, sama jangan maenan yang laen.. ntar kesiangan” jawab tanteku dengan sedikit tertawa..Alangkah kagetnya aku ternyata tanteku melihat kalau adik kecilku bangun dan mengacung keras. Segera tanteku keluar dan meninggalkan aroma wangi yang membuat birahi setiap pria pasti naik dengan rambut yang basah dan tanktop yang menempel di badannya.

Setelah 20 menitan berselang kamipun pergi menuju kantor imigrasi, dan sedikit ada kabar buruk kalau perpanjangan paspornya harus di kantor imigrasi yang ada di daerah tanteku. Dengan kecewa tanteku meninggalkan kantor imigrasi. Terdengar tanteku menelpon seseorang, kemudian bertanya kepadaku apa hari ini ada acara. Dengan tanggap kujawab tidak, padahal aku berencana menemani pacarku ke rumah tantenya hari itu juga. Tapi tak apalah buatku,paling doi juga pengertian. Setelah aku meyetujuinya kamipun berangkat menuju kota asal nya, 3 jam perjalanan yang melelahkan.

Setelah tiba di kantor imigrasi di daerah tanteku ternyata masih harus mengantri lama, dan kami harus menunggu. Dan inilah awal dari semuanya..
Terbesit di pikiranku untuk beralasan capek dan ingin menyewa sebuah hotel untuk istirahat sejenak. Kuutarakan maksudku dan yesssss………. lancarrr….. kamipun mencari hotel untuk beristirahat. Setelah mendapatkan hotel yang cocok kamipun merebahkan diri di atas kasur. Memang strategiku untuk pesan hanya single bed karena itulah rencanaku. setelah sekian menit tanpa tersadar aku pun bener2 ketiduran, dan betapa kagetnya ternyata tanteku juga tertidur disebelahku. Dengan jelas kini kulihat betapa besar buah dada itu, semakin berdegup kencang saat tangannya tanpa sengaja berpindah tempat dileherku. Tercium aroma wangi ditangan karena handbody, semakin naiklah birahiku. Dengan sedikit nekat jemariku kugesek2kan di atas payudaranya, kemudian dengan sedikit tekanan kuraba2, Tanpa disadari tanteku merubah posisi sekarang wajahnya tepat didepan wajahku, aku sedikit takut karena takut kalau tanteku marah. Tapi ternyata malah diam saja,sekarang posisi tanganku tertindih oleh payudaranya. “Kenyal..” gumamku..dengan sedikit keberanian kuremas perlahan payudara tanteku yang sekarang menindih tanganku.. Beberapa menit berselang, terasa nafas tanteku mulai memburu.. semakin cepat kuremas. Dan tiba tiba tanteku berkata ” pelan2 nug.. tante mau mens.. jadi agak sedikit sakit teteknya..” betapa kagetnya aku.. dan aku hanya mengangguk.. tanpa tahu siapa yang mulai kami pun mulai berciuman dengan nafsunya. ” tante bajunya saya buka ya..” tanyaku.. “iya nug.. hari ini perlakukanlah tante semau kamu nug.. karena tante menginginkah ini sudah lama setelah bercerai dengan om kamu. Ayo sayang.. celana tante juga boleh kamu lepas” Tanpa pikir panjang segera kulepas semua pakaian yang ada. Kujilati payudara tanteku yang selama ini menjadi obsesiku sekarang menjadi nyata. “ayoo nug.. jilatin terus.. sedoott yang dalam.. ssshhhh… enak nug.. ssshhht ” tanteku sudah mulai meracau. setelah agak lama bermain dengan payudara, jilatanku turun menuju vaginanya..semakin menderu nafas tanteku “sshhttt… enn..aakk banng..eett sayaang.. terusssss…” jilatanku semakin menjadi tatkala tanteku mulai menaikkan pinggulnya seirama dengan jilatanku. ” Ayyooo nuugg.. massuukkk,..innnnn.. tannte udah basah.. sshhtt…”
segera kubuka celanaku dan sedikit menekan kumasukkan segera penisku ke vagina tanteku “ssshhhhh.. peelan pelaann say…” racau tanteku. kemudian kukocok pelan2 isi vagina nya dengan penisku. “ssshhtt.. poompa teruss..ayoo nug..” dengan liarnya tanteku memutar pinggulnya. Setelah beberapa menit diatas, tanteku mulai terlihat binalnya seperti yang aku tebak. Berganti posisi tanpa mengeluarkan penisku dari vaginanya.
Semakin menjadi erangannya, “sshh .. enak nug.. masih ..peret to nug.. ssshhhh” tanya tanteku. Tanpa aku jawab kulumat habis payudaranya yang ikut bergoyang karena goyang pinggulnya..

Kamipun berganti posisi lagi, kali ini kami berdiri dan berpindah dari kasur menuju toalet meja rias di hotel yang kami sewa. Segera kuhadapkan tanteku di depan kaca untuk melihat ekspresinya dengan penisku yang semakin keras menghujam vaginanya ” gillaaa…nuggg.. kaamu ..sshh…pake obat ..ahhh.. kuuaattt.. yaa..aahhh.. hmm.. sshhh” setelah ngomong itu tanteku mengerang dengan mencengkram tanganku.. “”ahhh.. sshhhh… ayoo terruss pommpa ..hhssshsh..ohhhh.. taannttee.. udah ga kuuuat.. ayo oo,,sshhhtt.. tantee mau keluar..” kemudian keluarlah seperti air kencing dengan warna seperti susu kemudian bergetarlah kaki tanteku sehingga tidak kuat menopang tubuhnya. Namun masih tetap aku tahan untuk aku bisa orgasme juga. Tak memakan waktu lama aku pun menyusul tanteku., kulepas segera penis ku yang menancap divaginanya dan kusuruh tanteku jongkok. Tanteku tahu apa yang aku minta, segeralah dia mengulum penisku dan menyedotnya kuat2 sehingga aku semakin menggila dan keluarlah orgasme ku. Disedot habis dan ditelan semua spermaku di dalam mulutnya.

Kemudian kami pun kembali ke tempat tidur kami dengan berangkulan. ” nug, tante sangat puas..semisal tante minta lagi boleh nda”tanya tanteku. “dengan senang hati tante..”jawabku.. Setelah kami istirahat agak lama kamipun mengulanginya lagi di kamar mandi. Kuremas payudaranya dari belakan dan kemudian menjilati vaginanya dengan posisi salah satu kaki tante ku di atas toilet. Kami semakin menggila, dan ternyata tanteku orgasme untuk kedua kalinya dengan mengeluarkan banyak cairan dalam vaginanya.
Kamipun segera bersih2 dan menuju kantor imigrasi tadi. Kami berencana menginap semalam di kota tanteku itu, dan kami memainkan permainan itu semalam dengan penuh gairah

Dan besoknya kamipun mengulangi lagi dirumah sebelum aku antar dia ke bandara.

TAMAT


Namaku Sony, umur 24 tahun. Aku seorang lajang asal Semarang dan kuliah di Jakarta. Aku akan menceritakan pengalamanku.

Cerita ini berawal ketika aku pulang ke daerahku, untuk masa liburan kuliahku. Aku tinggal dengan nenekku, sedangkan mamahku serta keluargaku tinggal di rumah yang terpisah dengan nenekku.

Pagi itu aku ke rumah mamahku karena ditelepon olehnya. Kebetulan saat itu memang ulang tahunku. Mamahku termasuk orang yang cantik, walaupun umurnya sudah lebih dari 40 tapi dia pandai merawat tubuh dan wajahnya, sehingga masih terlihat sangat cantik samoai saat ini. Saat sampai di rumah mamahku, dia langsung menyapaku dan memberi selamat ulang tahun kepadaku. Kemudian aku duduk di kursi ruang tamu. Kebetulan saat itu kakak dan ayahku sedang di Jakarta dan adikku kuliah di Bandung.

Kemudian mamahku menghampiriku dan duduk di dekatku. Lalu dengan wajah sedikit mengeluh dia meminta maaf bahwa pada saat ini tidak bisa memberikan hadiah ulang tahun kepadaku, karena krisis keuangan yang ada di keluargaku.

“Son, untuk ulang tahunmu hari ini mamah sepertinya tidak bisa memberikan kamu hadiah, karena saat ini kita sedang krisis keuangan” kata mamahku. Akupun mengangguk dan memahami perasaan mamahku.

“ Tenang aja mah, bagi Sony ulang tahun sama seperti hari biasanya”

Kulihat wajah mamahku masih ada rasa tidak enak kepadaku dan berkata, “tapi mamah tetap ga enak nih”

“ga pa pa ko mah” jawabku.

Mamahku terus menunjukkan wajah yang sedikit tidak enak padaku, dan entah ada pikiran apa yang ada di kepalaku saat itu, aku memandang tubuh mamahku yang semakin membuatku sedikit terangsang, kemudian muncul dalam pikiranku suatu ide.

“Begini aja mah, kalo mamah mau kasih hadiah sama sony, gimana kalo selama satu hari ini mamah temenin Sony ya, mau kan” kataku sambil memelas ke mamahku.

Mamahku sempat berpikir sejenak, dan kemudian mengiyakan tanda setuju.

“Baik Son, mamah setuju, asal kamu senang mamah ga keberatan ko” sahutnya.

Akupun gembira dan tanpa basa basi berkata ke mamahku:

“Benar mamah mau”? sahutku.
“Benar Son” jawabnya. “Kalau begitu nanti mamah jangan protes dan ngeluh karena nemenin Sony seharian ya” sahutku.

Mamahku hanya mengiyakan kepalanya saja tanda setuju.

“kalo begitu mamah duduknya sebelah Sony donk, jangan disitu”

kemudian mamahku berpindah tempat duduk dan duduk di sampingku, kemudian kuberanikan tanganku untuk memegang pinggangnya, tapi mamahku diam saja. Melihat reaksi mamahku, aku semakin berani dan mengelus-elus pingganggnya, sambil kepalaku di rebahkan di pundaknya.

“Mah, Sony sayang baget sama mamah” kataku

“Ii…h, anak mamah ko jadi manja gini sih”, kamu udah mandi belum Son? Tanya mamahku

“belum mah”. “ Mandi dulu gih sana”

“boleh tapi temenin ya mah” sahutku. “Dasar manja, mandi sendiri donk” kata mamahku.

“ayolah mah”, kataku. Awalnya mamahku menolak, tapi karena aku merengek terus akhirnya mamahku mau juga.

“ya udah tutup pintu dulu sana, mamah sediain air mandinya dulu” sahutnya.

Kemudian mamahkupun bergegas ke kamar mandi sedang aku menutup pintu teras dan rumah, dan setelah itu aku menuju kamar mandi.

Aku melihat mamahku masih mengisi air untuk mandi, sambil membelakangiku, sehingga dia tidak sadar ketika aku masuk dan pintu kamar mandi kukunci.

Kemudian aku mulai mendekatinya dan merangkulnya dari belakang, dan itu kontan membuat mamahku kaget.

“Ah…!! Desahnya, “Sony kamu bikin kaget mamah aja deh, lekas mandi sana”

“Mah, tolong bantu bukain celanaku donk” pintaku, kemudian sambil aku membuka bajuku mamahku membuka resleting celanaku dan melepaskannya. sehingga aku kini hanya memakai cd saja.

“ Nah sekarang buka baju mamah, temani Sony mandi ya” sahutku, mamahku kaget mendengar permintaanku itu. Mungkin dia mengira hanya memandikanku saja dan tidak dalam artian mandi bersama.

“Mamah tadi udah mandi ko Son tadi, masak mandi lagi” elaknya

“Udahlah mah, katanya mamah janji bakal melayaniku seharian, gimana sih”, sahutku dengan muka yang sedikit kecewa.

Kemudian karena merasa tidak enak mamahku langsung membuka bajunya, melihat itu akupun menahan tangannya untuk melepas bajunya.

“Biar Sony yang buka baju mamah” kataku

Mamahku mempunyai pikiran yang konservatif dan kolot, sehingga dia merasa sedikit risih ketika aku mulai membuka kancing bajunya satu per satu, kulihat mukanya sedikit merah menutupi rasa malunya, dan ketika kancingnya terlepas semua aku mulai melepas pakaiannya dan kugantungkan di gantungan baju. Lalu terlihatlah buah dada yang sangat montok dan diselimuti oleh bh yang berwarna krem. Melihat hal itu mamahku langsung menutupinya dengan kedua tangannya.

“Sudah cukup Son, begini saja” pinta mamahku, tapi aku menutup mulut mamahku dengan telunjukku.

“Kalau begini saja ga asik donk, itu namanya bukan mandi” kataku. Kemudian aku membalikkan badan mamahku sehingga mamahku membelakangiku sekarang, kutarik perlahan resleting celana rok mamahku, dan kuturunkan pelan-pelan. Maka terlihatlah cd mamahku yang berwarna merah muda, dan kulihat diantara selangkangannya menyembul bulu-bulu hitam halus yang keluar sebagian dari cdnya, akupun terkesan melihat pemandangan itu.

Melihat hal itu mamahku semakin risih dan salah tingkah, “Son sudah cukup begini aja, ah! “kamu keterlaluan deh”!!! sahut mamahku.

Karena aku melihat mamahku yang sedikit ketakutan dan tegang, maka aku mencoba untuk menenangkannya.

“Ya udah deh, segitu aja dulu” kataku. Lalu aku menyalakan shower dan memegang tangan mamahku yang masih menutupi bhnya.

“Sini mah kita mandi berdua” kemudian aku memeluk mamahku dari belakang. Ketika kuelus bagian perutnya mamahku semakin risih dengan gerakan tanganku itu.

“Son udah ah, biar mamah mandi sendiri aja” pintanya sambil kedua tangannya tetap melipat menutupi bhnya.

“E..ehh..! mamahkan udah janji ama Sony ga bakal protes dan ngeluh” gimana sih mamah, ko ingkar janji kataku. Mendengar hal itu mamahku hanya bisa diam pasrah. Kemudian tanganku mencoba untuk melepaskan lipatan tangan mamahku yang masih menutupi bhnya.

“Son, tolong jangan begini, please…” lirihnya

Aku tidak memperdulikan ucapannya dan ketika lipatan tangannya terbuka, tanpa berpikir lagi aku meraih payudaranya dengan kedua tanganku, kuremas-remas dan kuputar-putar payudaranya ke kanan dan kiri.

“Ahhh….! “Sudah hentikan Son” sahut mamahku sambil menggerak-gerakkan badannya untuk menghindari gerakan tanganku.

“Ok…ok… tenang donk mah, sini kita keluar dari shower, kemudian aku mengambil sabun cair dan mengusapnya ke bagian punggung mamahku.

“Maah, ko diam aja, sabunin Sony juga donk” pintaku lalu mamahku mengambil sabun cair dan mengusapnya ke bagian dadaku, sehingga kini kami saling berhadapan dan saling mengusap, walaupun kulihat wajah mamahku semakin risih dan sedikit tegang, bahkan dari matanya terlihat linangan air matanya.

Ketika usapan tanganku sudah mencapai bagian dadanya, kucoba untuk menyusupkan tanganku di sekitar bagian samping tonjolan bhnya.

“Akhh… Son, tolong jangan begini” sahut mamahku sambil menahan laju tanganku yang mencoba menerobos bagian samping bhnya.

“Ayolah mah, Sony janji, setelah melepas bh mamah, Sony ga bakal melepas apa-apa lagi, ini bagian yang terakhir, gimana”, yang kumaksud adalah cd mamahku yang masih terpasang rapih walau sudah basah terkena air shower.

Mendengar hal itu mamahku hanya bisa menangis dan melepas tangannya yang mencoba menghalangi tanganku untuk merogoh bagian dalam bhnya, tanpa ragu lagi, kubalikkan badan mamahku sehingga membelakangiku, dan kuterobos kedua gundukan bhnya dengan tanganku menyusup dari bagian bawah bhnya kuraih putting susunya dan kuremas-remas.

“Arghhh…, sudah Son jangan begini, tolong, mamah ga biasa”! pinta mamahku sambil sedikit menagis

“Ahh… luar biasa banget mah, walaupun usia mamah udah 40 tahun lebih tapi susu mamah masih padet dan keras” kataku

“Jangan begini Son, Tolong, mamah mohon” kata mamahku sambil menangis.

Melihat hal itu aku mengeluarkan tanganku dari dalam bhnya, sementara tali bh mamahku sudah melorot kesamping akibat dari remasan tanganku tadi, sehingga ketika aku mengeluarkan tanganku dari dalam bh mamahku, secara otomatis kedua tonjolan bhnya langsung terurai ke bagian perutnya meninggalkan dadanya, karena kait bh bagian belakangnya belum kulepas.

Mamahku langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya, sedadngkan tanganku terus mengusap dengan sabun ke bagian perut lalu ke bawab.

Ketika tanganku sudah sampai bagian celana dalamnya kuusap bagian tengah celana dalamnya dan kuremas-remas dengan tangan kananku.

“Arkhhhh…..Son tolong jangan begini, tolong jangan begini, mamah mohon” rintih mamahku

kemudian aku menghentikan gerakan tanganku dan secara tiba-tiba tanganku langsung masuk menerobos bagian dalam cd mamahku, dan ketika tanganku sampai di belahan memiawnya, kurasakan banyak cairan-cairan yang lengket di sekeliling mamahku, ternyata mamahku sudah terangsang.

“Ah……ahha…..brengsek kamu Son, kamukan udah janji ama mamah tadi”
“tenang donk mah, Sonykan tadi janji ga bakal ngelepasin cd mamah, cd mamah masih kepasang ko” sahutku sambil terus mengocok bagian dalam memiaw mamahku dengan tangan kananku. Crkk….crkkk….crkk…crukkk…bunyi kocokan tanganku di dalam cd mamahku mulai terdengar karena memiaw mamahku sudah banyak mengeluarkan banyak air yang lengket, yang keluar dari vaginanya, sehingga banyak juga air dari vaginanya yang menetes jatuh ke bawah sebagai akibat dari cd yang dipakai oleh mamahku tidak dapat lagi menyerap limpahan air orgasme dari memiaw mamahku yang mengalir terus keluar bak air bah. Busa sabun yang ada di kedua tanganku saja sampai terbilas habis oleh air mani memiaw mamahku

“ah….uh…ahh….a..aah…ughhh…hentikan Son”, mamah mohon hent….ahh.ikan.ahhhh….ukhh…sambil kedua tangannya memegang tembok di depannya

“Wah luar biasa banget mah, ternyata mamah ga kalah ama wanita umur 20an, bener-bener gila” sahutku. Karena pikiran mamahku yang kolot dan konservatif, mamahku masih belum menyadari kalau dirinya sudah terangsang dan mau orgasme.

“ah….ah….ugh….ah……yahh…..aduu..h… akhhhhhh…mamah udah ga tahan Sonn, hentikann”!!!!!

“Tunggu sebentar lagi mah, itu tandanya mamah mau keluar” sahutku sambil makin mempercepat kocokan tanganku di klitoris dan memiaw mamahku, dan air mani mamahku yang terakhir yang menyembur paling dasyat dan keras. Crottt…crk…crtt…crtt…diikuti dengan terjatuhnya tubuh mamahku ke lantai, karena kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi karena lemas, kemudian aku dengan sigap merangkul mamahku dari belakang agar tidak jatuh ke lantai. Kulihat nafas mamahku sangat tersenggal-senggal dan tidak beraturan, air di sekujur tubuhnya lebih banyak ditutupi air keringat.

Lalu perlahan-lahan kurebahkan tubuh mamahku ke lantai. Disana tubuh mamahku yang putih mulus itu terkulai lemas dan mamah merintih sambil menangis. Tak terasa sudah 45 menit aku berada di kamar mandi “bermain” dengan mamahku

Lalu akupun duduk di lantai bak mandi merangkul mamahku dan mengusap air matanya serta membelai rambutnya.

“kamu anak brengsek Son, mamah benci sama kamu”!!!! sambil tangannya menepis tanganku yang sedang membelainya, dan mencoba mendorongku, tapi aku kemudian memeluk mamahku.

“Mah Sony sayang mamah, tolong jangan marah mah, Sony suka sama mamah” sambil kupeluk dengan erat mamahku. Mamahku hanya menagis di dadaku sambil memukul-mukul dadaku.

Kembali kubelai rambut mamahku, tapi kali ini mamahku tidak menepisnya, dan menyenderkan kepalanya di dadaku sambil tetap menangis! Lalu sambil membelai rambut mamahku, akupun mencium kening mamahku. Sepertinya emosi mamahku sudah mulai mereda.

“mah, sudah jangan menangis lagi, mamah jadi jelek kalau nangis! Sini Sony bersih kan air mata mamah” sahutku akupun mendekatkan wajahku ke wajah mamahku, lalu….srtt lidahku menjilat air mata mamahku yang masih membekas di pipinya. Mamahku ternyata diam saja melihat tindakanku itu.

Lalu mamahku mulai menceritakan kepadaku mengapa dia kaget ketika aku mulai mengocok memiawnya tadi, ternyata kehidupan seknya selama ini dengan papahku hanya sebatas cium dan penetrasi yang monoton saja tanpa adanya variasi lainnya. Sehingga mamahku belum mengetahui apa itu oral sek ataupu istilah seks lainnya, karena kupikir mungkin pikiran mamah dan papahku mengenai seks sangat minim.
Lalu mamahku melihat cairan vagina yang tercecer di lantai dan mengusapnya dengan tangannya, dia memberi tahu padaku saat berhubungan dengan papahku cairan seperti ini hanya sedikit keluarnya.

“Mah, mungkin papah kurang variasi sehingga mamah kurang terangsang”

“Kamu tahu Son, kenapa mamah bisa banyak ngeluarin cairan ini”? tanya mamahku dengan emosi yang sudah reda.

“itu tandanya mamah udah terangsang dan mau orgasme, semakin banyak cairannya semakin mamah terangsang”. “tapi Sony kaget ternyata mamah bisa ngeluarin cairan sebanyak itu, luar biasa banget mah” sahutku

“udah ah, kita mandi masih belum beres tau” kata mamahku sambil berdiri setelah sekian lama terkulai di lantai

kemudian mamahku mulai mengusap punggung dan tubuhku dengan sabun dan akupun mulai kembali mengusap tubuh mamahku dengan sabun. Ketika tanganku sampai di bagian cdnya….

“Son kamu lepas aja celana dalam mamah, sekalian tolong kamu bersihkan juga ya” kata ibuku

Aku kaget mendengarnya, pikiran mamahku tentang seks rupanya sudah mulai terbuka setelah tadi berbicara sebentar, tanpa basa-basi lagi kupelorotkan cd mamahku dan nampak banyak bulu yang hitam lebat di bagian memiaw mamahku, ternyata mamahku tidak pernah memotong bulu jembutnya. Akupunulai mengelus memiaw mamahku dengan tangan yang penuh sabun.

Mamahkupun terus mengelus tubuhku dan ketika sampai di cd yang kupakai mamahku masih belum berani memegang tongkolku, hanya mengelus di bagian depan cd yang kupakai, akupun maklum karena mamahkupun belum begitu tahu banyak variasi seks.

“mah tangan mamah masukin aja ke dalam celana dalam saya” sahutku awalnya mamahku sedikit risih tapi ketika kutuntun tangan kanannya masuk ke dalam cdku ternyata dia menurut saja, “nah sekarang giliran mamah kocok Sony punya” kataku akupun mulai mengajari mamahku bagaimana cara mengocok tongkolku sesuai dengan film-film bf yang sering kutonton

“ah… kali ini giliran aku yang tak tahan dengan kocokan tangan mamahku, kemudian dia membuka cd ku dan berlutut serta mulai mengocok tongkolku dengan penuh semangat

“mah….ah….pelan-pelan mahh” sahutku

mamahku hanya sedikit tersenyum melihat aku menahan rangsangan akibat kocokan tangan mamahku. “Rasain luh, mamah bales sekarang” kata mamahk sambil tersenyum.

Kemudian aku menahan tangan mamahku yang mengocok. “Mah kocoknya jangan pake tangan mah, pake mulut mamah aja, mamah juga pasti menikmatinya loh”

“ngaco kamu, jorok tau”! lagian gimana caranya ngocok pake mulut” jangan aneh-aneh ah kamu Son”

“karena itu, makanya Sony ajarin” sahutku, seperti biasa mulanya mamahku menolak dengan keras mengoralku, tapi dengan rengekanku dan mukaku yang sedikit memelas, akhirnya mamahku mau juga

“mamah ga tau caranya, ini gimana” katanya
“tenang aja mah, pertama mamah cium pake bibir mamah kepala tongkolku ini” sahutku kemudian mamah mulai mengikuti kata-kataku dan mulai mencium kepala tongkolku. “ bagus mah, cium terus jilat pake lidah mamah sekarang” kataku kemudian mamahku mulai menjilat penisku dan menciumnya.

“Ok mah sekarang batangnya juga mah” sahutku

Setelah beberapa saat aku melepaskan tongkolku dari ciuman bibir mamahku.

“Mah sekarang mamah mulai oral ya, pejamkan mata mamah terus keluarin lidah mamah sekarang, mah” pintaku

kemudian mamahku menjulurkan lidahnya keluar dan aku menaruh batang tongkolku ke atas lidahnya. “Ok sekarang mamah bawa masuk tongkol Sony pake lidah mamah ke mulut mamah” sahutku mamahkupun hanya menuruti omonganku dan Hup…setengah batang tongkolku sudah mulai masuk ke mulut mamahku.

“ok sekarang lemesin badan mamah dan mamah ikutin aja gerakan tangan Sony ya” kataku

Lalu aku mulai menjambak rambut mamahku dan menekannya ke depan, sehingga tongkolku hampir masuk seluruhnya ke mulut mamahku kemudia mengeluarkannya sebagian dan memasukkan lagi dalam-dalam ke mulut mamahku.

“Ok mah sekarang, pake gerakan mamah sendiri, ga usah dituntun tanganku lagikan” sahutku dan seolah mulai mengerti mamahku mulai mengulum tongkolku dengan gerakan kepalanya sendiri, dan akupun tidak lagi menjambak rambut mamahku karena dia sudah mengerti, dan mengubahnya menjadi membelainya.

Setelah sekian lama aku mulai ga tahan “Mah aku mau keluar mah” sahutku kemudian mamahku dengan sigap mengeluarkan tongkolku dari mulutnya dan mengocok dengan tangannya, an crot…crot…crot air maniku membasahi muka mamahku

“Mmhhhh, banyak banget Son” kamu punya Son, kemudian aku membersihkan wajah mamahku dan menyuruh mamahku duduk di pinggiran bak. “kamu mau ngapain Son” jawab mamahku

“udah pokonya mamah turutin kata Sony aja deh” mamahkupun menuruti kataku dan duduk di pinggiran bak. “sekarang buka selangkangan mamah donk”

“jangan Son, kamu mau ngapain sih emangnya”
“nanti juga mamah bakal tau” sahutku
ketika selangkangannya terbuka lebar, maka…. Hup mulutku langsung mencium bagian tengah memiaw mamahku

“arghhhhh…..gila kamu Son, jangan lakukan itu, hentikan ahhh….ah….Son, berhenti Son, kurasakan di mulutku memiaw mamahku sudah mulai berair lagi. Mamahku berusaha dengan keras untuk menarik kepalaku dari lubang memiawnya, tapi aku semakin membenamkan kepalaku ke memiawnya, lama kelamaan , tarikan tangan mamahku di kepalaku menjadi elusan halus yang mulai membenamkan kepalaku ke dalam memiawnya!
Rupanya mamahku sudah mulai terangsang lagi
“ah….shhhh….ahhh….akhhh…enak Son. Terusin, akhhh mulutku terus menjilat menggigit, dan bahkan menghisap semua jeroan memiaw mamahku
“uahhhhh…….yeah……….terus…terus…terusin sayang…
“ah…. Ya….ya….yahhh…ah…mamah udah mau keluar lagi Son”, aku terus makin menghisap dan menjilati memiaw mamahku
“ahhhhhhhhhhh……..akhirnya mamahku orgasme untuk kedua kalinya
“gimana mah? Enakkan?” tanyaku
mamahku hanya diam saja dan sedikit mengangguk. Lalu setelah itu kamupun membersihkan badan kami masing-masing dan saling mengelap dengan handuk tubuh mamah dan aku, karena mamahku terlihat lelah banget, karena hampir satu setengah jam aku berada di kamar mandi.

Akupun kemudian menggendong tubuh mamahku keluar kamar mandi dan membaringkan di ranjangnya
“mah, tau ga kado ulang tahunku tahun ini benar-benar sangat spesial yang mamah kasih buat aku”
mamahku hanya tersenyum saja. Aku melihat jam menunjukkan pukul 12 siang, aku berpikir sayang sekali kalau 1 hari ini disia-siakan begitu saja, Aku teringat seorang temanku yang bernama Ronald, dimana dia mempunyai beberapa alat seks seperti vibrator dan sejenisnya, kulihat mamahku sudah mulai tertidur, mungkin karena kelelahan setelah bermain selama 1 setengah jam di kamar mandi. Lalu timbul suatu ide gila yang sedikit merasuki pikiranku.

“Mah, mamah istirahat dulu ya, aku mau jeluar dulu sebentar, paling hanya setengah jam-an” kataku
Mamahku mencoba untuk bangun dengan tubuh yang lemas dan masih dalam keadaan telanjang. “Sini biar mamah antar kamu keluar” sahutnya
“tidak perlu mah, aku hanya keluar sebentar ko” kataku
“memangnya kamu mau kemana Son”
“cari angin di luar sebentar, mamah istirahat aja dulu disini ok, ga perlu temenin Sony ko” kataku sambil membelai kepala mamahku
“Ya udah, kebetulan mamah juga sedikit cape nih, mau istirahat dulu sebentar” sahutnya
akupun bergegas keluar mengenakan pakaianku dan menuju rumah temanku itu.
Agar dia tidak langsung curiga, aku sengaja bermain sebentar di rumahnya, mungking sekitar 1 jam, dan begitu aku lihat sudah cukup aku bermain dengannya sambil mengobrol, maka akupun langsung berbicara ke maksud tujuanku datang ke Ronald
“Eh Nald, kamu masih mempunyai vibrator yang kamu pakai untuk bermain dengan kekasihmu dulukan”?kataku ketika sudah sampai di rumah temanku
“ada sih, memangnya ada cw yang lo mau permaenin ya, gila juga luh, ga gua sangka lo ngomong kaya begini, memangnya cewe lo cakep ya Ton” kata Ronald
“udah lah, sn gua pinjem dulu”
“Ya udah lo tunggu di sini bentar ya” katanya
“Oh ya nald, sekalian aku pinjam beberapa film bokep juga donk” kataku
Ronald hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapanku itu.
Tak lama kemudian Ronald muncul sambil membawa alat-alat yang kuminta
“nih Son, lo pake aja yang puas ok, katanya”
“Oh ya, sekalian lo juga bawa ini nih” sahutnya sambil menyodorkan satu dus kondom.
Akupun pamit untuk pulang dan bergegas ke rumah mamahku.
Setelah sampai di rumah mamahku, ternyata dia sudah ada di ruang tamu dan mengenakan pakaian model korea yang dia sukai dimana modelnya selalu mempres badannya, sehingga tonjo;an dadanya semakin mencolok.
“darimana kamu Son”tanya mamahku
“Oh, aku tadi di jalan ketemu teman mah, jadi aku ngobrol sebentar” kataku
kutaruh alat seks yang kubawa dalam tas di bawah meja agar mamahku tidak terlalu curiga, kemudian aku pura-pura bergegas menghampiri mamahku.
“ah, pegal juga nih badanku” kataku
“Sini biar mamah pijit kamu” kata mamahku
lalu mamahku mulai memijiti punggungku.
“Wah disini kayanya sempit ya mah, aku ga leluasa untuk terlentang nich” kataku. Hal ini kukatakan agar mamahku memindahkannya ke area lain yang lebih luas.
“Ya udah, mamah pijitin kamunya di kamar mamah aja yah” kata mamahku
“Wah boleh juga tuh” kataku. Ini dia yang kuingini kataku dalam hati
kemudian kamipun berpindah ke kamar mamahku
akhirnya mamaku memijiti punggungku di dalam kamarnya, selang 15 menit kulihat keringat sudah keluar di kening mamahku, mungkin karena cuaca hari itu memang sedikit panas, dan mamahku juga terlihat sedikit lelah. Pada saat itu sambil dipijit aku mengobrol dengan mamahku. Dan lama-lama kuteruskan obrolanku yang mengarah kepada seks
“mah, mamah jarang melakukan hubungan intim dengan papah ya” kataku
mamahku diam sejenak mendengar ucapanku itu
“kamu ini, memangnya kalo jarang kenapa” kata mamahku
“mamah memang udah 10 tahun ini tidak melakukan hubungan intin lagi, karena mamah merasa sudah tua, itukan buat anak yang masih usia muda” kata mamahku
Akhirnya aku menyadari mengapa mamahku tidak terlalu mengerti dengan variasi seks.
“Wah, kalo gitu mamah salah, buktinya tadi aja mamah luar biasa di kamar mandi” kataku
“mamah benar-benar ga kalah sama anak muda yang baru kawin” timpalku
“mah, walaupun mamah udah berumur 40 tahun lebih, taoi gairah muda mamah masih bergejolak, sayang kalau dilewatkan” kataku lagi
“sudah ah, kamu jangan menggoda mamah lagi” kata mamahku
“mah, aku berkata benar ko, mamah masih punya gairah yang luar biasa, sayang kalau dilewatkan” kataku sambil membalikkan badanku dan mengelus pipinya.
“sudah ah, kamu ini gombal terus” kata mamahku
“Aku ga gombal ko, mah, gini aja kasih aku waktu 5 menit dari sekarang, kalo mamah tidak terangsang oleh gerakan Sony, maka Sony percaya kalau gairah seks mamah sudah menurun, gimana? Tawarku
“ah gila kamu” kata mamahku
“Kenapa mah, ko mamah jadi ga berani, apa mamah takut kalau kata-kata Sony itu bener?”
mendengar kata-kataku itu mamahku menjadi panas dan sedikit emosi.
“Huh, memangnya siapa yang takut, baiklah tapi inget Cuma 5 menit aja ya” kata mamahku
“ok, Cuma 5 menit, kalau dam waktu 5 menit mamah ga terangsang, Sony janji ga bakal godain mamah lagi hari ini, tapi kalo dalam waktu 5 menit mamah terangsang, mamah harus nerima permintaan Sony yang lain ya” kataku. Saat itu mamahku hanya diam saja. “nah karena mamah diam berarti Sony anggap setuju ya” kataku
Lalu akupun bergegas mendekati wajah mamahku dan menciun pipinya, lalu kuteruskan ke bagian telinganya, kucium dan kujilat bagian telinga dalamnya, sambil tangan kananku mengelus pahanya, sehingga rok yang dipakainya tersingkap, sedang tangan kiriku meremas payudara kiri mamahku. Melihat permainanku itu, mamahku yang sejak tadi berusaha untuk menahan rangsangan tanpa sadar mengeluarkan sedikit desahan.
“mmhhhh….uhhhhh…ukhh…hha..h, Son, sudah ah” hentikan” sahut mamahku
“tenang aja donk mah, inikan baru 1 menit lebih” kataku sambil terus kucium dan kujilati bagian pipi, telinga dan kuping, dan tanganku kini sudah diam di bagian tengah memiawnya, sambil kuelus dan kuputar-putar tanganku di bagian tengah memiawnya.
Dan saat itu kurasakan adanya bagian celana dalam mamahku yang mulai basah.
“Akhhhh….ughhh..ahahh….udah Son, please, mamah nyerah deh, masih banyak kerjaan nih” kata mamahku.
Kemudian mamahku bergegas berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena terkena remasan-remasan tangan nakalku, dan pergi untuk menyetrika pakaian-pakaian yang belum digosok. Sambil mamahku menyetrika kuhampiri mamahku.
“nah, sekarang berarti mamah harus menuruti permintaan Sony yang laennya ya, kan tadi mamah udah kalah” kataku
“memangnya kamu mau apa lagi Son” sahut mamahku
“sekarang terbukti kan omongan Sony kalau gairah seks mamah ternyata masih meledak-ledak, sayang kalau dibiarkan begitu saja mah” sahutku
“Ah, dasar nakal kamu” kata mamahku
“nah maksud Sony, Sony ingin penampilan mamah untuk hari ini aja, sesuai yang Sony mau” sahutku
“maksudmu”?
“Sony rasa Bh dan cd yang mamah gunakan tidak cocok untuk mamah, seperti benar-benar orang yang sudah tua, apalagi cd mamah seperti cd anak kecil” kataku
“semakin lama, semakin ngaco kamu Son” kata mamahku
“ayolah mah, untuk hari ini aja” pintaku
“jadi kamu mau apa” sahut mamahku
“nanti kita ke luar, n kita pilih bh dan cd yang sesuai buat mamah” kataku
“mau ya mah….”pintaku, dengan sedikit manja
“tterserah kamulah” kata mamahku
setelah selesai menyetrika aku dan mamahku keluar menuju sebuah mal di daerahku, dan menghampiri bagian pakaian dalam untuk wanita.
“yang mana yang kamu suka Son” kata mamahku
kemudian aku melihat bh berwarba hitam dengan sedikit obrasan bunga di kedua tonjolannya, serta cd berwarna hitam yang terbuat dari bagan parasut dengan dilapisi bagian busa yang tipis di lengkungan untuk memiaw perempuan, dengan model G-string.
“nah yang ini aja, mah” kataku
“kamu yakin, mamah cocok dengan yang seperti ini” kata mamahku
“pasti cocok, mah” kataku
akhirnya mamahkupun membeli bh dan cd yang kutunjuk tadi, dan tidak lupa akupun mengambil stoking berwarna hitam yang masih berada di tempat yang sama.
“Itu buat apa Son” tanya mamahku
“nanti juga mamah tau” kataku
setelah membayar, aku baru teringat kalau mamahku tidak mempunyai celana rok yang pendek.
“oh ya mah, sekalian kita beli celana rok buat mamah juga ya” kataku
“buat ngapain lagi sih” sahut mamahku dengan sedikit emosi
“ayolah mah, pokonya Sony ingin hari ini mamah keliatan cantik banget di hari ultah Sony ini” kataku
mamahku pun hanya bisa pasrah menuruti permintaanku, dan singkat cerita aku telah membelikan celana rok yang pendek untuk mamahku dan setelah itu kamipun pulang ke rumah.
“nah sekarang Sony mau mamah memakai semua yang kita beli tadi, kataku, kecuali baju mamah, yang lain harus diganti” kataku. Model baju mamahku adalah model baju korea dimana bisa mempres badan ketika dipakai, dan bisa melar ketika ditarik oleh tangan, seperti terbuat dari karet, walupun itu sebenarnya dari kain, karena kulihat mamahku sangat seksi jika memakai pakain seperti itu.
Lalu mamahkupun bergegas ke kamar untuk mengganti bagian dalamnya dengan yang baru dibeli, sedang aku menunggu di luar.
Ketika mamahku selesai dan keluar kamar dengan menggunakan rok yang pendek disertai stoking panjang berwarna hitam akupun terpana melihatnya, apalagi bagian dadanya yang kurasa sudah memakai bh yang tadi dibeli, karena mamahku memakai baju korea dan mempres badannya, sehingga terlihat ada sedikit ukiran bunga yang sedikit timbul dari bajunya yang berasal dari bhnya.
“wuaw, mamah seksi banget n cantik banget” kataku sambil menghampiri mamahku. Kubimbing mamahku ke kursi tamu dan di situ tak habis-habisnya aku terpana melihat kecantikan dan keseksian mamahku sambil tanganku mengelus-elus pahanya
‘Sudah ah Son, mamah sedikit risih nih” sahut mamahku
lalu kudekatkan wajahku ke wajah mamahku dan kucium pipinya, mamahku berusaha untuk mengelak ciuman itu, tapi karena tanganku memegang wajahnya mamahkupun hanya bersikap pasrah, setelah itu ciumanku kuteruskan ke bibir mamahku yang sedikit basah dan mungil, kucium dan kujilati semua bagian bibir mamahku, lalu sejenak aku melepaskan ciumanku pada mamahku.
“mah mulutnya jangan ditutup terus donk” pintaku
“sudah ah Son, hent…” belum sempat selesai bicara kembali kucium bibir mamahku, tangan kananku sudah mulai meremas-remas susu kanannya, kupaksa memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan kujilat lidah mamahku serta semua ronnga-rogga mulutnya.
“Mmmhhhhhh….” Hanya itu suara yang keluar dari mamahku, lalu akupun kembali melepaskan ciumanku.
“mah ada sesuatu yang spesial buat mamah loh”
“apa itu” kata mamahku
“eit, mata mamah harus ditutup dulu” kataku“”Sudah ah, kamu ini dari tadi macam-macam” sahut mamahku
“Ayolah mah” kataku seraya mulai menutup mata mamahku dengan kain dan mengikatnya. Lalu akupun pergi mengambil vibrator yang kupinjam dari temanku dan kembali menghampiri mamahku.
“kesini mah ikut Sony” seraya mengambil tangan mamahku dan menuntunnya ke kamarnya. Setela itu kududukkan mamahku di ranjangnya dan kutaruh vibrator di pinggir ranjangnya.
Setelah itu aku kembali mencium bibir mamahku, sambil kurebahkan dia di ranjang, dan tangan kananku berusaha untuk membuka pahanya dan mengelus elus bagian tengah selangkangannya yang masih ditutupi cd berwarna hitam, sedang tangan kiriku menyusup ke balik bajunya dan meremas-remas susu kanannya, setelah kurasakan mulai sedikit lembab, aku mengambil vibrator dan menyalakannya.
“Bunyi apa itu Son” sahut mamahku sambil melepaskan ciuman bibirku
“sudah lah, diam dan nikmati aja ya mah” sahutku
akupun langsung menggesek-gesekkan vibrator itu ke bagian tengah celana dalam mamahku secara lembut dan pelan
“Ahhhh…..uh……ukh…geli sekali… apa itu Son” tanya mamahku
aku hanya diam saja dan supaya mamahku tak terlalu berisik kembali kucium bibir mamahku untuk meredam suara mamahku agar jangan terlalu kencang, kutaruh vibrator di samping mamahku dan kulepas rok yang dipakai oleh mamahku, lalu kueluskan kembali vibrator tadi ke bagian tengah memiaw mamahku yang masih memakai cd, dan ternyata cd mamahku sudah semakin basah oleh air dari vaginanya.
“Ummhhhhh…..ukhh..hhhhh…emmmmhhh….desah mamahku dengan mulut yang masih kucium dengan bibirku. Kutarik lengan kiriku dari dada mamahku, lalu aku mulai membuka baju dan celanaku dengan tangan kiriku, sehingga aku hanya memakai cd saja. Lalu kulepas dan kulucuti pakaian mamahku, sehingga saat ini mamaku hanya mengenakan bh dan cd yang dibalut dengan stoking berwarna hitam. Kutaruh vibrator yang kupakai tadi, dan kuposisikan mamahku untuk duduk bersandar pada pinggiran ranjang, kubentangkan dengan lebar kedua kaki mamahku, dan…”ahhhhhh….ahaaahhh…” desah mamahku ketika aku mulai mencium bagian tengah memiawnya yang masih tertutup cd. Kujilat dan kuhisap celana dalam mamahku. Mamaku hanya menggeliat-geliatkan tubuhnya sambil kedua tangannya bertumpu di belakangnya, dan mencengkram sprei kasurnya dengan kuat.
“ahhh..ukh…mmhhh….geli…auhhh…geli banget…Son…mmhhh…nikmat….ahhh”desah mamahku. Sambil tetap menghisap selangkangannya, kedua tanganku mulai meremas-remas kedua gundukan dada mamaku yang masih tertutup bhnya, dan akupun membuka pengait bh yang ada di bagian depan bh mamaku, sehingga kini mamaku hanya mengenakan cd dan stocking hitam yang masih menempel ketat di sepasang kakinya. Lalu kulepas ciumanku dari selangkangan mamaku, dan kutarik cd mamaku yang sudah basah akibat dari air liurku dan bercampur juga dengan air dari vagina mamaku. Sesaat aku terdiam melihat bulu-bulu hitam mamaku yang begitu lebat yang berada di sekitar selangkangannya. Lalu kubuka kembali kedua kaki mamaku lebar-lebar dan kucium, kujilat dan kuhisap bagian dalam memiaw mamaku.
“akhh…uhhh…ge..l..ii….akhh…hhh…geli banget son….ohhhh…”rintih mamaku. Lalu kulepas isapan mulutku dari liang memiaw mamaku, dan membuka bibir vagina mamaku lebar-lebar dengan kedua jempolku, kukeluarkan air liurku dan kumasukkan ke dalam lubang memiaw mamaku, setelah lubang di dalam memiaw mamaku penuh air liur, kembali kuhisap dan kujilat memiaw mamaku.
“aohhhhhh…akhhh…mhhhh…ukhkhhh…geli…suda..h…hent..t ika….”rintih mamaku sambil menggeliat-geliatkan badannya dengan sangat kuat. Kali ini kulepaskan mulutku dari memiaw mamaku, dan aku mulai membuka cd yang kupakai, akupun mulai menggesek-gesekkan tongkolku yang sudah tegang di bibir vagina mamaku, setelah sekian lama, akupun mulai memasukkan tongkolku ke dalam memiaw mamaku. Kali ini tongkolku sangat lancar masuk ke dalam memiaw mamaku. Bles…bles…bless, kupompa terus mamaku dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat.
“akh…ah…uh…ahhh..oh…mmhhh…” rintihan dan desahan mamaku semakin kuat, kedua tanganku mulai meremas-remas kedua payudaranya, sambil mulai kucium bibirnya, dan mamakupun membalas ciumanku dengan tidak kalah ganasnya, lidah kami saling bertautan di dalam mulut mamaku. Karena aku sudah mau keluar, kuhentikan penetrasiku di dalam vagina mamaku, sambil masih tetap berciuman, kulepaskan tongkolku dari dalam vagina mamaku, dan akupun menggantinya dengan tangan kananku. Mula-mula kumasukkan 1 jariku ke dalam vaginanya, karena melihat reaksi mamaku masih biasa-biasa saja akupun menambah memasukkan 2 jariku lagi ke dalam vaginanya, sehingga kini tiga jari tengah kananku mulai mengocok bagian dalam memiaw mamaku.

“akh…ah…ah…Son…mmhhh…emhh…adu..hh…Son…Sony…mama udah ga kuat Son…ahh….” Desah mamaku sambil menggeliat-geliatkan badannya menahan rasa nikmat yang luar biasa, namun aku tak memperdulikan desahan mamaku.
“sabar ya ma, hari ini Sony mau bawa mama ke puncak kenikmatan yang paling tinggi” sahutku, sambil terus mengocok vagina mamaku dengan cepat.
“Son…ahh…ah…auh…oh…son…udah…udah…ma…mama…mama uda..h.. ga kuat lagi…aoh…akkkkkhhhhhhhh…..” mamaku mengerang dan mencapai orgasmenya. Untuk sementara waktu, kubiarkan mamaku untuk mengambil nafas dan beristirahat sejenak.

Setelah beberapa saat, akupun mulai kembali membuka selangkangan mamaku, dan mulai memasukkan tongkolku yang sudah tegang sejak tadi.
“Son, sudah ah…Mama udah cape nich, Mama udah tua Son, stamina mama juga sudah…akhhh, belum sempat mamaku selesai bicara aku sudah kembali menghujamkan tongkolku ke liang vaginanya, kali ini kumasukkan dengan tempo yang sedikit cepat, kuangkat kaki kiri mamaku, dan kutaruh di pundakku sambil terus kugenjot.

“Akh…emh…emh…ah…oh…akh…uhh…ahh…mama…mama udah mulai ga kuat Son, Son…” desah mamaku
“Sabar…sabar ya Ma, Sony..Sony juga udah mau ke luar ah…ah…ah…bentar lagi Ma” sahutku sambil makin kupercepat pompaanku di dalam memiawnya
“Sony…Son…Son…udah…udah Sooooonnn…..akhhhhhhhhhhhh” mamaku menjerit sekerasnya, dan disaat yang bersamaan aku juga berteriak, dan mengeluarkan banyak spermaku di dalam memiaw mamaku.
Kulihat kali ini seluruh tubuh mamaku banjir oleh keringat, demikianpun dengan aku, dan akupun terkulai lemas di sebelah mamaku.

Dan sejak saat itu, saat aku ada kesempatan berdua dengan mamaku (khususnya di siang hari), aku kembali melakukan hubungan seks dengan mamaku, dan mamaku selalu berusaha dengan baik untuk memenuhi kebutuhanku itu.

TAMAT


Ibu Mertuaku merintih dan menjerit sangat keras, nafasnya terlihat tidak teratur menahan orgasme yang menyerangnya, Vaginanya terasa sangat basah dan siap menyemburkan cairan kewanitaan.
Ku jilati terus lidahku sedalam dalamnya ke dalam Vagina Ibu Mertuaku sambil sesekali menekan klitorisnya dengan ujung lidahku, sesekali dia kembali menjerit seperti dimabuk kepayang, aku dapat merasakan menggilnya tubuh Ibu Mertuaku dengan wajahku yang benar2 lekat pada Vaginanya. Dan aku juga bisa merasakan mengalirnya cairan kewanitaan yang tersembur dari Vaginanya mengalir ke bibir, mulut dan lidahku.
Kutarik mundur kepalaku dari Vagina Rini Sang Ibu Mertuaku, Vaginanya terlihat memerah sangat sexy, bersamaan itu pula Rini secara otomatis berlutut dilantai seperti kehilangan topangan.
RINI : “Luar biasa sayang, enak banget. Kamu belum menyerah kan?”.
AKU : “Belum donk Bu, tapi Maaf ya Bu, soalnya kita sebelumnya belum pernah berbuat sampai sejauh ini”. Kataku sambil tersenyumkearah Ibu Mertuaku sambil meremas halus salah satu payudaranya.
RINI : “Bagus!! Oleh karena itu, sekarang Ibu Mau tau, apa yang bisa kamu lakukan ke Ibu?” Ibu mertuaku menyeringai genit kepadaku.
AKU : “Hmmm….kira2 apa ya bu, klo menurut ibu ngapain lagi nih kita?” Aku gentian menggoda dirinya.
Rini Sang Ibu Mertuaku merogohkan tangannya ke buah Zakarku, dan dia juga meraba batang Penisku yang sudah tegak tercetak di celanaku.
RINI : “Nah, ini dia, Ibu Mau tau kehebatan dari Penismu”. Sahut Ibu Mertuaku sambil meraba batang penisku.
AKU : “Ohh…yang ini memang sangat bagus Bu. Yang pasti anak perempuan ibu gak pernah mengeluh atau complain sama yang satu ini”.
RINI : “ Tapi kan aku bukan Nadya,lho…..Maksud Ibu, harapan ibu boleh dong lebih tinggi dari Nadya, Ibu mau yang lebih Dari kamu”
Rini berhenti bicara dan maju selangkah, untuk mulai melepaskan celanaku. Lalu Ibu mertuaku menyelipkan pinggulnya diantara kedua kakiku yang terbuka lebar, lalu dia memasukan tangannya kedalam celanaku untuk memegang dan merasakan ke-ereksian Penisku yang sudah sangat keras. Ketika aku rasakan genggaman tangannya pada batang penisku, kurasakan sensasi yang luar biasa, dan membuatku sedikit mengerang, ketika genggaman tangannya mulai mengocok penisku naik dan turun. Dan Ibu Mertuaku melihat kearah mataku, yang menyiratkan kepuasan sensasi bercinta dengan sang Ibu Mertua.
RINI : “Sudah berapa kali kamu membayangkan bersetubuh dengan ku, sayang..?”. Dia berkata sambil terus mengocok penisku.
Aku naikan salah satu alis mataku sesekali sambil bertatapan dengan mata Ibu Mertuaku, dengan maksud memberikan padangan yang mengejutkan hatinya, sambil sedikit tersenyum simpul kepadanya.
AKU : “Udah gak ke itung lagi Bu, sering banget”. Jawabku.
RINI : “Klo Ibu tuh sebenernya, udah dari dulu pengen banget bersetubuh dengan kamu sayang. Sampai kadang Ibu berpikir bahwa Nadya Anak perempuanku itu, egois banget ya nyimpen kamu untuk dirinya sendiri”.
AKU : “Lha bu, aku kan nikah sama dia Bu. BUkan sudah seharusnya begitu”. Jawabku sambil menahan nikmatanya kocokan demikocokan yang dilakukan oleh Ibu Mertuaku.
RINI : “Hmmmm….!!Betul sayang, tapi gak ada salhnyakan kamu tau sedikit tentang Ibu dari Istrimu”. Rini kembali menyanggah pendapat ku, dengan tersenyum lebar dengan penuh kenakalan.
AKU : “Ooohhh…sshhh….Akhhh…Apa tuh Bu, yang perlu aku tau tentang ibu?” Tanyaku sambil mendesah keenakan.
RINI : “Disaat aku ingin sesuatu yang agak nakal, dan pasti aku Ibu Mertuamu bisa mendapakannya. Dan apa yang ku mau sekarang adalah disetubuhi oleh mu Sayang, disetubuhi oleh Menantuku sendiri!!” Matanya menatapku sangat nanar dan penuh nafsu birahi yang sangat tinggi, dia memandangiku sambil agak meremas batang penisku dengan sangat gemas.
AKU : “Ibu..ya..ya..yakin Bbbu dengan kata2 Ibu, gak takut dddosa bu?”
RINI : “Hahahaha…Sayang, Hidup ini sangat singkat lho,kenapa sih kita buang2 waktu, ayo Sayang, setebuhilah Ibu Mertuamu ini…!!”. Rini tertawa sambil menjawab pertanyaanku.
Aku melenguh panjang, merasakan antara kenakan dan mencoba berpikir kembali sebelum ini terjadi, bahwa kejadian ini terjadi begitu cepat. Tidak ada lagi yang bisa kupirkan. Sejauh ini yang bisa kupirkan hanyalah, sebuah fantasi terbesar dalam hidupku yang sedang terjadi.
Rini mulai menghentakan kocokannya dengan perlahan, saat kocokan keatas dia menghentakan keatas, saat kocokan kebabawah dihentakannya kebawah. Hentakan demi hentakan dari kocokannya membuatku seperti berada pada surga dunia yang sangat indah.
RINI : “Sekarang, Ibu mau kasih tau kamu, klo Ibu Mertuamu ini sangat suka sekali disetubuhi dengan pelan, tapi dengan hentakan yang keras. Aku suka dengan gerakan yang sedikit agak kasar, setelah kita selesai bercinta nanti, Ibu mau merasakan bahwa Ibu benar2 terasa habis disetubuhi”.
AKU : “Ibu juga suka kan ngomong agak kotor, iya kan?” Tanyaku, dan penisku sudah benar2 tegak dan sangat keras.
RINI : “Nah itu dia Sayang, oleh karena itu Ibu bukan mau bercinta denganmu, tetapi Ibu hanya ingin bersetubuh denganmu, sayang. Ibu hanya ingin menyetebuhi menantu laki2 ibu!! Ya, selayaknya seperti binatang lah gitchu…, dan mungkin insting binatang telah merasuki kita sayang…hanya kepuasan..Lho. Kamu harus tau Sayang, binatang bersetubuh untuk berkembang biak, tapi masa2 reproduksi aku sudah berlalu lho…, tapi klo nafsu birahi Ibu Mertuamu ini akan tetap ada sampai kapan pun, Sayang”.
Rini sang Ibu mertuaku berbicara seperti itu kepadaku dengan cara sedikit melakukan desisan dan desahan yang terlihat seperti memimpikan kepuasan sensai birahi yang sangat luar biasa sambil dia berjongkok diantara kedua paha ku yang terbuka lebar dengan meremas remas bantang penisku, yang semakin membuatku terdiam bingung ingin menjawab apa dan gusar tak tertahankan untuk merasakan liang sanggama di dalam Vagina Rini Ibu mertuaku itu.
RINI : “Apa sayang, kamu mau apa sich?Gmn, kamu tertarik tak, untuk menyetubuh kelinci betina yang sekarang sedang menyiksamu ini?”.
Untuk sementara aku terdiam bingung amu menjawab apa. Tetapi sisi liar Ibu Mertuaku sangat membangkitkan gairah birahiku, apalagi perkataannya tentang sex yang sangat membuatku terangsang, dan aku belum pernah mengalami keterangsangan seperti ini, dengan Nadya sekalipun, sambil diiringi remasan2 yang sedikit agak kasar kepada Penisku dengan hentakan2 kopcokannya, yang makin membuatku tersiksa menahan gejolak nafsu birahi untuk menyetubuhinya yang sudah tidak mungkin aku bending lagi, memang penisku terasa gak sakit dengan kekasarannya tapi sensasinya membuat ku menikmati perlakuan dan gerakan tersebut.
AKU : “Ooohhh….akkhhh, Ibu…..sshhhh… Aku akan bersetubuh dengan Kelinci Betina ini, kapanpun dia mau”. Aku menjawab pertanyaannya sambil menikmati siksaan birahi yang dilakukan terhadap penisku, dan Rinisambil tersenyum dan dia tau, akhirnya dia hampir sukses untuk menggoda ku.
RINI : “BIlang dong sayang, bagaimana caranya rusa jantan muda ini menyetubuhi ku?Apa yang akan kamu lakukan dengan Penismu yang sudah berdiri tegak dank eras ini, terhadap Ibu Mertuamu ini?”.
Akhirnya aku tau sekarang, kapan aku harus melontarkan kata2 ini kepada Ibu Mertuaku yang aku hormati, segani, yang sekarang terlihat seperti pelacur, yang siap untuk disetubuhi oleh Suami dari anak kandunya sendiri.
AKU : “Aku akan menyodok Vagina Ibu dengan menghantamkan penisku sedalam2nya, dan kamu akan menikmatinya Kelinci Betina Cabul!! Akan ku kocok penisku ini sedalam2nya di dalam Vaginamu, Pelacur..!!!”
RINI : “Ooo yeah….Dasar kamu penis bajingan, kata2 kamu jadi bikin ibu Horny bgt deh…apakah cmn ini aja kata2 berengsek yang bisa keluar dari mulut kamu?”
AKU : “Tunggu aja bu, dan lihat apa yang akan terjadi nanti”. Jawabku.
Sambil kukatakan itu, aku mendorong Ibu Mertuaku kelantai, hingga dia agak terduduk akibat doronganku, dan terlihat kakinya yang terbuka lebar, dan aku lagsung mencengkram kedua pahanya dan agak melbarkannya lebih lebar lagi, aku mendorong badannnya kedepan sampai aku rasakan pinggulku berada pada jarak terdekat dengan liang vaginanya, dan aku dapat merasakan kepala penisku menyentuh klitorisnya. Aku tahan batangpenisku agar tidak langsung masuk kedalam vaginanya, dan aku mulai memegang batang penisku ku kocok perlahan an aku gesek2an pada bibir vaginanya.
AKU : “Vagina mu sdh siap belum untuk ku tusuk, perek..!!” Kutanya Ibu Mertuaku dengan kata yang agak kasar.
RINI : “Aku udah pernah merasakan yang lebih besar dari ini, bajingan..!!” Katanya sambil sedikit mendesah dan memajukan pinggulnya.
AKU : “Yeahhh…aku berani bertaruh, berarti udah banyak kan yang masukin Penisnya ke Vagina Ibu…hehehe”. Aku mencoba membalas pernyataannya.
RINI : “Apa kamu bilang…?? Klo aku membuka pahaku untuk semua lelaki,katamu..?
AKU : “Yup, benerkan bu.., kan Ibu tadi bilang pernah rasain yang lebih gede…hehe”.
RINI : “Yeahhhh…,hehehe…tapi Ibu Yakin koq, pasti ada lelaki yang bisa melakukan ini lebih baik dari kamu,..hahahaha”. Ibu mertuaku tertawa, tetap dia terlihat selalu mengcilkan hatiku, atau dia berkeinginan besar akan kepuasan yang nanti akan kuberikan kepadanya.
Aku sudah tidak sabar lagi memposisikan penisku di depan gerbang kenikmatan itu, bibir vaginanya sduah terlihat sangat basah becek, dan siap menerima hujam2 hujaman dari penisku.
AKU : “Aah..berisik banget sih Bu…dasar Ibu Mertua Pelacur….mending rasain ini…!!”
Aku katakan sambil mendorong maju pinggulku dengan sekali hentakan yang menyebabkan Penisku masuk sedalam 3 inci kedalam Vagina Ibu Mertuaku dan aku dapat merasakan bahwa ini belum masuk sepenuhnya, ku tarik lagi penisku secara pelahan dan ku hujamkan lagi kali ini penisku dengan hentakan yang lebih keras dari hentakan awal. Kurasakan vaginanya yang memang terasa masih sempit walau dengan hempasan keras penisku, aku masih merasa belum sepenuhnya masuk. Dengan hujaman penisku yang agak kasar, kulihat Ibu Mertuaku menjerit, entah kesakitan atau menikmati dan kulihat kuku jarinya mencakar dan mencengkram karpet yang menjadi alas persetubuhan kami di lantai, yang baru kusadari bahwa teriakannya adalah sebuah jeritan dari dampak kenimatan birahi sebuah sensasi benturan yang sangat kuat dari Penisku terhadapa liang Vaginanya yang sangat tiba2 dan terasa agak mendadak.
RINI : “Akkhhhh……sshhhhh eemmpffff….yesss, iya sayang masukin penismu yg dalam ke Vagina Ibu, setubuhi aku…sayang…!! Berikanlah Ibu Mertuamu ini kepuasan yang terbaik!!” Keluarlah kata2 dan jeritan mendesah dari mulutnya, kutindih tubuhnya yang sangat sexy dan sangat menggiurkan itu.
Dengan menindih tubuh Ibu Mertuaku, aku memberikan respon atas perkataannya. Ku lanjutkan pompaan penetrasi pada Vagina Ibu Mertuaku yang makin basah berlendir dengan hujaman hujaman yang cukup keras dan bertenaga dengan sangat perlahan dan semakin dalam tiap hujamannya. Hentakan demi hentakan yang semakin dalam kuberikan dari penisku terhadap Vagina Ibu Mertuaku Rini, memberikan sensasi tersendiri yang sangat luar biasa yang dapat kurasakan, setiap hentakan membuat Rini Sang Ibu Mertuaku menjerit kesakitan, mendesah keenakan dimana rasa itu bercampur menjadi satu untuk dia rasakan, tubuhnya pasrah menerima hujaman dan tikaman dari Menantunya, wajahnya sedikit memerah menahan rasa sakit pada Vaginanya yang memang ku hantam sangat keras dengan penisku, siksaan demi siksaan birahi dari nafsu persetubuhan kami yang kami lakukan membawa kenikmatan tersendiri bagi dirinya dan kepuasan bagiku dengan melihat wajahnya yang sangat cantik sexy dan menawan akhirnya dapat kusetubuhi, anganku terwujud. Ibu Mertuaku seperti ketagihan akan rasa sakit dan nikmat yang dia rasakan sewaktu penisku keluar masuk di Vaginanya.
Dalam beberapa detik akhirnya Vagina Rini mulai agak melonggar dan terasa tidak terlalu sempit lagi, dan akhirnya bisa menerima penisku seutuhnya di dalam vaginanya. Tubuhnya mulai mengikuti irama hentakan penetrasiku maju dan mundur, tiap gerakan, kami nikmati dengan penuh konsentrasi dan tiap gerakan juga menciptakan bunyi seperti tepukan atara basahnya kulit yang beradu akibat benturan demi benturan yang tercipta, menambahkan sensasi persetubuhan tabu yang sangat terlarang ini makin nikmat dan tidak ternilai keindahannya, antara diriku dan Ibu Mertuaku.
Melihat kebawah, kearah Tubuh Ibu Mertuaku yang sangat menggoda, aku merasakan suatu nafsu dari gairah keintiman yang mendadak secara tiba2 muncul untuk mencium Ibu Mertuaku. Kumajukan sedikit wajahku kearah bawah searah dengan wajah Rini Sang Ibu Mertuaku, dengan posisi penisku tetap melakukan penetrasi pada vaginanya, kutatap matanya tanpa basa basi langsung kukecup bibirnya yang bergincu merah muda, kulumat bibinya dengan bibirku dengan sedotan2 penuh nafsu. Dengan hisapan bibirku terhadap bibirnya, Ibu Mertuaku bereaksi dengan melingkarkan kedua lengannya kepunggungku dan memeluku dengan sangat erat, Rini mendekapku sangat erat penuh dengan nafsu binatang, dia membalas tiap ciuman yang kulakukan dengan penuh kegilaan, persetubuhan ini telah dimulai, persetubuhan yang sangat erotis sensasional dan penuh dengan kenikmatan dosa yang sangat berbirahi tinggi, antara aku dengan Ibu Mertuaku.
Ku jejalkan lidahku kedalam mulutnya sampai dengan ketenggorokannya, Ibu Mertuaku membalas dengan menghisap lidahku dengan penuh nafsu, kulihat percumbuan kami, Mata Ibu Mertuaku terpejam menikmati digauli oleh menantunya, dan mungkin dia membayangkan bahwa lidahku adalah penis yang sedang merogoh masuk ke dalam mulutnya.
Kami mencium,menghisap, menjilat an menggoda satu sama lain, gairah dari nafsu birahi kami mulai memuncak, suara2 desahan, keanakan, dan jeritan kami memenuhi selurh ruangan tengah, dimana tempat kami sedang bergumul. Beberapa saat persetubuhan kami, aku merangkul erat tubuhnya dan memutar posisi kami tanpa melepaskan penetrasi antara penisku dan vaginanya, sekarang Rini Ibu Mertuaku berada diatasku dan aku bisa melihatnya lebih liar, seperti pelacur yang sedang beraksi.
Gairah persetubuhan terus berlanjut, Rini mulai merebahkan tubunya diatas tubuhku dan mukanya bertumpu pada pundakku yang dimana wajahnya menjadi tepat disebelah pipiku, dan dia memerintahkanku untuk mencium kembali bibirnya, perintahnya langsung kulakukan dengan mendekap erat tubuhnya.
Tiba2 Rini menarik bibirnya dari bibirku, dan kembali duduk diatasku bertumpu pada lututnya. Dia sedang merasakan kenikmantan dari kerasnya batang penisku yang seutuhnya ada didalam dirinya di dalam Vaginanya yang masuk sangat dalam, dan dapat kurasakan penisku menyentuh diding rahimnya, dimana tempat Istriku Nadya dikandungnya selama 9 bulan, tetapi karena sekarang Ibu Mertuaku berada diatasku sepertinya sekarang dia ingin mengendalikan sepenuhnya Persetubuhan ini. Dengan gayanya yang sudah pasti bagaikan pelacur tingkat tinggi, Ibu Mertuaku meremas remas kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menaik turunkan badanya memompa vaginanya terhadap penisku, ketebalan penisku tengelam dilahap oleh Vagina Ibu Mertuaku, dan aku mulai merasakan cairan Vagina Ibu Mertuaku mulai mengalir keluar melalui sela2 antara batang penisku dan bibir Vaginanya.
Aku berbaring santai saati itu penuh dengan ke relaks-an, memandang keatas kearah Ibu Mertuaku, memuaskan birahiku dengan memandangi pemandangan yang sangat luar biasa yang baru kali ini aku alami seumur hidupku, sepasang payudara wanita berumur yang masih sanagt indah bergantung dan berggoyang naik turun yang terlihat dari dalam pakaiannya yang sangat halus menerawang. Payudaranya membuatku menjadi membayangkan sebuah gelombang, sebuah gelombang payudara yang cukup berisi dan padat yang siap timbul ke permukaan. Ku raih payudara Ibu Mertuaku itu, kuremas dengan telapak tangan ku satu demi satu. Ku nimtai sensasi itu, impianku selama ini yang akhirnya terwujud, payudara yang indah yang masih terlihat seperti wanita yang sedang menyusi, masing sangat montok sekali dan sangat natural.
RINI : “Iya sayang, kaya gitu, pegang terus payudara Ibu, selagi aku menaiki kamu,…akkhhhh Sayang,….Ooh…aah….saaaayang…aku mau kamu sepenuhnya sayang,seutuhnyaaaa…,Ibu mau setiap inci-nya dari Penismu memenuhi Vaginaku….aaarrgghhhhh!!!”.
Ibu mertuaku terlihat seperti akan mencapai klimasknya, tubuhnya tegang dan makin liar seperti binatang, tubunh ibu mertuaku maju sedikit agak membungkuk dan memindakkan tangannya keatas dadaku dan mencengkram erat dadaku dengan cakarnya dan berpindah lagi ke lantai bersamaan dengan tubuhnya yang mulai menggerakan pinggulnya dengan cepat, sangat menggebu gebu agak kasar, nafasnya mulai tidak teratur sering dengang kocokan Vaginanya terhadap Penisku naik dan turun, yang memang rasanya sangat luar biasa.
RINI : “Ooohhhh…sayang…aku sebentar lagi nih…hhhuuufffff….argghhhhhh…., sangat…sangat gak tahan nih Ibu Mertuamu…!! Buat aku puas sayang…buat aku klimaks…, setubuhilah Ibu Mertuamu yang sekarang menjadi Kelinci mu yang binal, dan puaskan pelacurmmuuuuu ini sssaaaayangg…!!”.
Ku raih lagi kedua payudaranya dengan kedua telapak tanganku, kujepit putingnya dengan jari2 ku sambil kuremas payudaranya, yang mengakibatkan Ibu Mertuaku menjerit nikmat.
AKU : “Iya Bu…nikmatin Bu, semprotin Cairan klimaks Ibu ke Penisku, biar aku bisa rasakan vagina ibu lebih nikmat lagi!!”.
Beberapa kalimat yang terlontar dari mulut Ibu Mertuaku. Bola matanya terpejam di balik kelopak matanya, tubuhnya seperti menjadi kaku, Vaginanya mengjang sangat hebat, mulutnya terbuka menganga meracau tidak karuan dan beberapa detik kemudian Rini mendesah, mengerang hebat, tubuhnya bergetar, seperti anjing betina yang sedang melonglong disetubuhi pejantannya, dan aku langsung bisa merasakan hangatnya cairan Vagina Ibu Mertuaku yang sebenarnya Cairan surgawi Ibu Mertuaku yang mengalir menelusuri batang penisku yang masih tertancap di Vaginanya.
Akhirnya tubuh Ibu Mertuaku merosot tumbang ke dadaku, tubuhnya masih sedikit bergetar agak gemetaran efek dari klimaks yang baru dialaminya tadi, Ibu Mertuaku mendesah dengan sedikit mengerang halus ke kupingku sebagai tanda bahwa dia telah mencapai puncak kenikmatan klimaks dari persetubuhan yang kami lakukan.
RINI : “Ohh Sayang, yampun…Itu tadi benar2 Surga, Ibu Merasa seperti di Surga”. Desahan yang keluar dari mulut Ibu Mertuaku.
Aku berpikir, bahwa urusanku belum selesai, jika dia sudah aku belum. Memang kurasakan tubuh Ibu Merutaku sudah sangat lemas lunglai dan merosot diatas tubuhku, tetapi Penisku masih berdiritegak dengan kerasnya di dalam Vaginanya, sudah sampai sejauh ini tindakan dari kami berdua dan aku juga harus mendapatkan kepuasan darinya, dan ini adalah penentuanku untuk segera mengisi penuh rahimnya dengan spermaku, sebelum dia tersadar dari kelemasannya.
Dengan mendekap erar kembali tubuhnya, dengan segala sisa keatanku kubalikan kembali posisiku seperti awal dengan posisi sekarang berada ku diatas Ibu Mertuaku. Hal ini ternyata tidak diperkirakan dan tidak seperti yang Ibu Mertuaku harapkan, dan sperti yang sudah terjadi dengan keadaannya di bawahku, Ibu Mertuaku mulai merasakan kembali serangangan dan hujaman secar penuh penisku kedalam Vaginanya.
RINI : “Ya ampun Sayang, udah donk…jangan lagi…plisss!!”. Dia memohon kepadaku.
Aku sama sekali tidak mempedulikan perkataannya. Aku selipkan tanganku ke bawah masing2 pahanya dan secepat mungkin mengangkat pahanya keatas dan membuka lebar sampai dengakulnya hampir saja menyentuh payudaranya. Sesegera mungkin ku tancapkan dalam2 penisku kedalam vagina Ibu Mertuaku sampai kurasakan kembali dinding rahimnya yang menyentuh kepala penisku, dan aku kembali merasakan nikmatnya kelaur masuk penisku di Vaginanya yang masih terasa agak basah tetapi juga agak kesat, dan disitulah letak kenikmatannya.
RINI : “Tidaaaakk….sayang, jangannn,Plis..!!”. Ibu mertuaku sudah kehabisan tenaga.
Tanpa mendengarkan perkataannya, tanpa ampun kuhentakan penisku yang masih teteap keras ke dalam Vaginanya secara kasar dan kali ini temponya sangat cepat, kumasukan lagi..lagi..dan lagi…tanpa menghiraukannya.
RINI : “No…no…jangan…lagi..sayang…Oohhhh yeaahhhh akhhh yesss..”. Rini kembali mengerang keenakan seiring dengan dirinya mendekati klimas untuk yang kedua kalinya.
Ku tekan kebawah sekuat tenaga, tubuhku menindih paha Ibu Mertuaku yang sudah terbuka lebar hingga hampir menyentuh payudara Rini, dan posisi ini adalah posisi yang paling sempurna untuk melepaskan spermaku ke dalam Rahim Ibu Mertuaku.
RINI : “Ooohh..yesss…bajingan kamu Nang,…yes..yes…yes…selesaikanlah cepat…”.
Rini mencoba mengangkat tubuhku dengan sekuat tenaganya, karena daya dorong tubuhku yang terlalu kuat, dan efek dari klimaksnya yang kedua yang kembali menyiksanya di dalam kenikmatan, semua syaraf seperti bersetruman satu sama lain, tetapi tubuhku tetap memompa dirinya, mungkin Ibu Mertuaku berpikir aku menggunakan Penisku dengan sangat kasar kepadanya dan mungkin dia menyukainya, kulakukan Penisku untuk menghujam Vaginanya seperti mau menombak lantai.
Akhirnya aku memuncratkan Cairan surgawi lelakiku ke dalam Rahim Ibu Mertuaku, dimana tempat Istriku Nadya dikandung dan dilahirkan, dan Ibu Mertuaku akhirnya bisa mendengar raungan hebat yang keluar dari mulutku, dan Rini mulai merasakan tubuhku mulai melemas, dan kupingnya bisa mendengar desahan kepuasan yang keluar dari mulutku dan aku sangat yakin nahwa Ibu Mertuaku dapat merasakan ledakan yang menyemprotkan benih kehidupan yaitu cairan putih kental yang membanjiri Rahimnya.
Ibu Mertua ku pun bisa merasakan tubuh menantunya seperti tumbang diatasnya dan mulai melemas, otot2 ku mulau relaks kembali, aku merosot merebah ketubuh Ibu Mertuaku, dan kejadian ini akhirnya berakhir.
Ku cabut Penisnku dari Vagina Ibu Mertuaku, dan aku pindah berbaring di sebelahnya dan sedikit melakukan percakapan selepas permaianan sex terlarang ini. Dengan sedikit percumbuan mesra yang kadang masih kami lakukan sesekali.
Ciuman ringan sesekali kukecupkan di bibir Ibu Mertuaku, dan juga bergantian. Pada akhirnya kami berdua menyadari bahwa di malam yang basah dan dingin ini, dengan semua kejadian yang telah terjadi merubah hubungan aku dan Ibu Mertuaku, antara Mertua dan Menantu, entah menjadi apa, yang pasti kami tau sama tau dan mau sama mau. Di lain waktu kadang kami lakukan kembali, jika memang keadaan sedang mendukung.

At least this Story just my Imaginations, is not real.
Because, I Really2 Obsess with my Mother In Law.

TAMAT


Aku berbaring di sofa, dengan segelas anggur sambil mendengarkan siaran dari stasiun radio lokal. Istriku, Nadya sedang pergi beberapa hari untuk berbisnis, dan dia mengambil kesempatan ini untuk bersantai sendirian di sore hari, dimana semua perhatian dan kekhawatiran, tidak terpikirkan olehku seperti yang biasanya terjadi, aku bisa duduk dengan santai. Sewaktu aku hendak menuangkan kembali anggur ke gelasku, aku mendengar suara hujan yang turun menerpa dengan keras jendela ruangan dimana tempat aku bersantai. Dihadapanku terdapat suatu perapian dengan kayu bakar yang terbakar, yang memberikan kehangatan. Meskipun musim dingin tahun ini agak ringan, tapi hari ini tetap terasa sangat dingin. Dengan udara yang dingin ditambah dengan derasnya hujan. Malam ini terasa seperti malam yang terasa agak mesum bagiku dan aku juga merasa tidak perlu untuk keluar dari rumah.
Aku hanya menuangkan gelas demi gelas anggur dan merapihkan serta menyusun kayu pada perapian, dan pada saat itu bell pintu berbunyi. Aku menyeruput seteguk anggur dari gelasnya dan menunggu beberapa saat, hanya ada dua hal yang ada pada pikiranku saat itu, membukakan pintu atau tidak, dan siapakah yang mencoba mengganggu diriku malam ini. Sebenarnya aku telah memutuskan untuk memberi tahu kondisiku kepada seseorang yang ada diluar, aku mencoba menjawab, saat suara bell terdengar untuk kedua kalinya.
Meletakan minumanku di meja dan mulai melangkahkan kakiku maju kedepan pintu menyalakan lampu di teras depan. Meskipun aku dapat melihat bentuk bayangan dari orang yang datang malam itu, aku tetap belum bisa menentukan siapakah itu, ataupun dengan sebab yang lain, apakah itu wanita atau pria. Melepaskan grendel lalu membuka pintu yang ternyata adalah Rini, Ibu Mertuaku yang sedang berdiri di beranda teras rumahku, yang akan kebasahan bila tidak segera kupersilahkan masuk.
“Hai sayang, aku pikir dirumah gak ada orang”. Kata Rini.
Walapun tidak berharap, aku juga tidak terlalu surprise dengan kedatangan perempuan yang biasa dipanggil dengan panggilan Rini. Ibu Mertuaku ini sangat dekat dengan anak perempuannya yang kini menjadi istri ku, sering sekali mereka berkomunikasi melalui telepon untuk mengobrol, sejak dia kehilangan suaminya setahun yang lalu.
“Silahkan masuk, bu”, aku mempersilahkan masuk Ibu mertuaku yang berdiri di beranda teras. “Nadya lagi gak dirumah, dia pergi berbisnis, aku pikir dia memberi tau Ibu”. Kata ku, sambil menutup pintu Rumah untuk menghalau Angin dan hujan yang memang agak kencang.
Rini, membalikan badan dan wajahnya kearah ku.
“Gak, istrimu belum bilang tuh, malahan sekarang Ibu berpikir untuk menghubungi istrimu untuk mengatakan bahwa aku akan menghabiskan waktu disini selama satu atau dua hari, untuk menyelesaikan beberapa hal”.
“Memang ada yang penting, Bu”? Aku bertanya.
“Gak lah, gak juga sichh, tapi Ibu muncul tiba2 karena memang Ibu butuh teman untuk ngobrol, tapi klo sibuk ya udah gpp koq, Ibu pulang lagi ya”. Ibu Mertuaku mengatakan hal tersebut sambil membuat bahasa tubuh seakan-akan siap untuk pergi meninggalkan diriku.
“Ya udah sih Bu, gpp koq, masa cepet amat langsung pergi, aku lagi gak ngapa2in koq, sebenarnya sekarang aku sedang bersantai aja di sore hari menjelang malam ini, mari Bu aku bantu untuk melepaskan mantel Ibu”. Kata ku, dengan sigap membantah kata2 Ibu Mertuaku.
Rini membalikan badannya agar diriku bisa dengan mudah membantu melepaskan mantelnya, dengan demikian secara tidak sengaja Rini menawarkan sebuah pemandangan punggungnya kepada ku. Selagi Ibu Mertuaku membuka kancing depan mantelnya, aku meraih Mantel dari Pundak Ibu mertuaku dan menurunkannya melalui bahunya. Dengan cepat dan insiatif aku menurunkan dan melepaskan Mantelnya, membuka mantel yang dikenakan oleh Ibu Mertuaku. Mantel yang berwarna biru terang terbuat dari rajutan bulu domba, dan ketika mantel nya dibuka telihatlah Baju Ibu Mertuaku bermodelkan terusan langsung tanpa kerah yang berbentuk huruf “V”, yang agak menonjolkan dadanya yang terlihat menggoda.
Pada kenyataannya pakaian yang dipakai oleh Ibu Mertuaku terlihat sangat cocok dan enak dilihat mata. Aku melihat Ibu Mertuaku dengan pakaian seperti itu mungkin hanya pada acara2 tertentu saja, atau mungkin saat kebetulan bila Ibu Mertuaku sedang memakainya, dan aku tidak cukup mempunyai alasan untuk meminta Ibu Mertuaku special memakai pakaian seperti itu hanya untuk diriku, dan memang hal seperti ini menjadi favorit diriku, terutama hal ini diperlihatkan Ibu Mertuaku saat Ibu Mertuaku menginjak umur 55 tahun, tetapi pada umurnya yang sudah cukup tua itu Ibu Mertuaku lebih terlihat seperti perempuan berumur 36 tahun, atau mungkin 25 Tahun, yang pasti jika orang melihat pasti masih cocok di skala umur 35-an tahun. Satu hal, sudah pasti Ibu Mertuaku sangat menjaga penampilannya agar selalu bisa tampil anggun dan cantik.
“Masuk Bu, silahkan ke dalam”. Aku berkata sambil menggantungkan Mantelnya. Seperti yang aku lakukan, aku tidak bisa mengantar Ibu Mertuaku masuk ke dalam, tetapi aku memperhatikan bagian belakang Ibu Mertuaku yang terlihat sangat memukau dengan gaya jalannya dan lenggokan pinggulnya saat berjalan menuju ruangan tengah tempat aku bersantai. Tampak belakang dari tubuhnya terlihat sangat indah, aku berkata di dalam hati, aku juga memperhatikan Pantat Ibu Mertuaku yang sangat elok nan rupawan yang bergoncang dan bergoyang ke kanan dan ke kiri terbungkus oleh kain halus pakaian terusannya yang agak ketat di daerah pinggulnya, seiring dengan langkah kakinya yang indah dah rupawan.
Rini menghilang masuk ke dalam rumah dan aku mengetahui bahwa diriku sedang berfantasi tentang Ibu Mertuaku, apa reaksi Ibu Mertuaku apabila dia tau bahwa tubuhnya sedang diperhatikan oleh menantunya atau dia tau bahwa Menantunya sangat mengaggumi dirinya. Lalu kemudian, dan lagi, aku sedikit banyak mulai berharap, aku mulai melangkahkan kaki ketempat dimana Ibu Mertuaku berada, dan aku juga sambil mengkhayal apabila Ibu Mertuaku tau dengan perasaannya yang sedang diperhatikan oleh Menantunya.
Aku mengikuti Ibu Mertuaku dari belakang ke ruang tengah dimana sebelumnya aku sedang bersantai dan memberikan isyarat kepada Ibu Mertuaku supaya membuat dirinya nyaman selagi aku menuangkan segelas Wine. Meskipun demikian, aku tetap tidak bisa menahan untuk tidak memandangi tubuh Ibu Mertuaku dari pojok mataku sewaktu dia duduk di Sofa. Lalu aku berjalan sambil meminum segelas wine yang ada di genggamanku. Lalu aku menawarkannya segelas Wine yang memang sudah kusediakan untuk Ibu Mertuaku.
Untuk beberapa menit kami mulai membicarakan tentang Nadya istriku, Nadya dan pekerjaannya yang memang membutuhkan dan menyita banyak waktu dan sementara kami berbicara, aku mengalami kehilngan kontrol pada matanku dan aku sangat susah untuk mencegah mataku untuk memperhatikan tubuh Ibu Mertuaku yang sangat mengundang birahi. Dua kali aku mencoba membenarkan posisi duduk ku dari kekhawatiranku terhadap Rini Ibu Mertuaku, yang mungkin bisa melihat sesuatu yang berubah pada celanaku.
Kami melanjutkan perbincangan tentang suatu hal yang memang menarik tetapi juga mungkin hanya perbincangan kosong dan tidak terlalu penting sehingga aku semakin dibuat mabuk kepayang oleh kesensualan dan keindahan Tubuh Ibu Mertuaku.
Memang sudah tidak diragukan lagi tentang hal itu, aku merenung dalam hati, Ibu Mertua atau bukan, Rini adalah seorang perempuan yang sangat menarik. Aku tersenyum kecil dan membayangkan perkataan dari orang-orang bahwa diriku mempunyai Ibu Mertua yang cantik dan sangat Modis, terlebih lagi pada saat malam ini, berpakaian rapih ketat walau tidak minim tapi memperlihatkan lekuk tubuh yang sangat sempurna, semua yang aku bayangkan secara tepat adalah sebuah sosok yang sangat menantang, sesosok perempuan yang menggoda yang sedang duduk dan secara tidak langsung Ibu Mertuaku juga terkadang menyembunyikan lirikan matanya, aku juga tau bahwa mungkin Ibu Mertuaku sudah masuk ke dalam sebuah atmosfer ketertarikan lawan jenis. Jika itu benar, aku akan sangat sulit untuk mempercayainya karena memang sejauh yang aku tau Ibu Mertuaku tidak mempunyai ketertarikan untuk makan malam atau minum Wine dengan lawan Jenis atau membina hubungan dengan lawan jenis semenjak dtinggal oleh suaminya.
Mata ku hanyut kepada Dadanya yang cukup sexy, kedua mataku menelusuri kerah kerah pakainnya yang berbentuk “V” yang agak rendah mulai dari atas kerah dari leher sampai ke akhir dari kerah tersebut, ukuran dari dada Ibu Mertuaku cukup membuat pakaian yang dikenakan olehnya menjadi sangat Ketat dan menggoda sangat mempesona dan menggairahkan, lalu aku diam2 meyakinkan ukuran buah dada dari mertuaku itu melalui belahan dada yang terlihat dari kerah “V” – nya. Belahan buah Dada Rini terlihat, naik turun seirama dengan nafasnya, yang kadang ditarik cukup dalam saat mengela nafas.
Mata ku terus tertuju kearah garis payudara dan lekukan tubuhnya yang tercetak pada pakaiannya yg ketat, pinggangnya yang ramping, belahan pinggulnya yang sangat montok nan bahenol dan terus tertuju kearah kaki Ibu Mertuaku, kaki yang sangat bagus, mulus terawat dengan sangat baik serta betisnyanya yang sangat menggoda. “ Mmmm…”,aku bergumam dalam hati dan berfantasi apabila aku bisa mendapatkan Ibu Mertuaku dan meraba seluruh tubuhnya.
Aku juga mengetahui bahwa Rini-Ibu Mertuaku mengenakan kaos kaki panjang nilon atau lebih tepatnya stoking, atau jika dilihat sesaat seperti celana ketat tapi memang terlihat seperti stoking. Mengetahui dirinya mengenakan stoking, aku berasumsi bahwa itu adalah benar2 stoking. Pendapat ku dalam hati, mungkin ibu mertuaku agak malu untuk mengenakan celana ketat, tapi itu hanya pendapatku saja.
Hampir tersadar dari lamunan tentang Ibu Mertua, aku mencoba mendengarkan perkataan Ibu Mertuaku sekali lagi dan sesaat diriku seperti mencoba tersadar dari khayalan nakalku, dan setelah tersadar ternyata aku tidak menyimak semua obrolan yang sedang kami perbincangkan.
“Eee..Ya..Duh, Maaf bu kenapa?”, kata ku. “Tadi aku lagi sedikit melamun, Bu. Tadi Ibu bilang apa?”
“Ya ampun, Sayang…,Hey, kamu sudah bosan ya mendengarkan ocehan Ibu Mertuamu?” Kata Rini.
“Gak..gak koq Bu, ya ampun Gak Bosen juga kali bu”. Diriku menyahut. “Aku hanya gak ngerti banget maksud dari perkataan Ibu”.
Rini melihat kearah diriku dan menganggukan kepalanya dan mencoba kembali menjelaskan pertanyaannya itu.
“Tadi Ibu Tanya, apakah kamu akan jemput Nadya di airport, sepulangnya istrimu itu?”
Aku meyeruput Wine dan berkata,”Tidak biar dia naik taksi saja, lagi pula dibayarin koq sama perusahaannya”.
“Dan Nadya pulangnya hari Kamis ya, katamu tadi”?Tanya Ibu mertuaku.
“Ya mungkin pada sore Hari-nya”, jawabku, sambil terus melirik kearah tubuh nya.
“Ooh..kasian banget kamu, tidur sendirian di tempat tidur sebesar itu untuk beberapa malam?Pasti kamu akan merasa kesepian banget”.Kata Rini sambil menurunkan tangannya kearah kedua belah pahanya dengan bersamaan menyilangkan pahanya bertumpu ke paha yang lain dengan gerakan yang tidak menentu.
Bagi ku, sementara komentar itu muncul dari mulut ibu Mertuaku, yang akhirnya keluar ke dalam pembicaraan mereka, membuat diriku seperti terkaget akan komentarnya yang seperti itu. Dengan nada rendah aku menjawab.
“Ya bu, memang sudah seharusnya seperti itu”. Jawabku.
Kulanjutkan perhatian kepada tubuh Ibu Mertuaku sementara Ibu mertuaku tetap mengoceh, memperhatikan pakaian terusan yang agak ketat di badannya sampai dengan lutut-nya. Hampir saja terpikir oleh ku, bahwa Ibu Mertuaku seperti akan menunjukan untuk memperlihatkan betapa mulusnya kaki dan pahanya. Tapi hal tersebut tetap tidak bisa membantu diriku untuk memulai berkhayal jika tanganku bisa membelai mulusnya paha dari Ibu Mertuaku yang terlihat sangat terawat dengan mahal, ujung kakinya yang terbalut oleh kain stoking dan juga meraba indahnya tubuh dibalik pakaianya yang menutupi tubuh Ibu Mertuaku, dan akhirnya aku kembali membetulkan posisi duduk ku untuk menutupi suatu perubahan pada diriku.
Pembicaraan terus berlangsung diatara kami, satu2nya persoalan yang mengganggu diriku adalah sewaktu aku berdiri untuk menuangakan wine ke gelas Ibu Mertuaku. Sewaktu pembicaraan masih berlangsung, Rini berbicara kepada ku,” Bagaimana jika kita nonton Film yang selalu di rekam oleh Nadya?”.
Karena waktu kerja Nadya yang sangat panjang dikantornya, Nadya selalu merekam Film yang terlewat untuk di tonton-nya kemudian. Seperti aku, Rini pun tau kesenangan anak perempuannya. Sesampainya dirumah dari kantor, mandi, berpakaian, lalu menyalakan TV, duduk relaks dan menonton salah satu film yang sudah dia rekam. Rini pun juga kadang2 suka begitu, ataupun bergabung bersama anak perempuannya itu.
“Ok, boleh juga tuh Bu”. Sahutku.
Aku tuangkan segelas wine untuk nya, lalu aku berjalan kearah TV. Membuka lemari TV dan menyalakannya, lalu mulai membaca judul2 film yang akan di putar. Ada sebagian film yang tidak ada judulnya, disitu hanya tertera Nomor dari film tersebut. Aku tersenyum kecil melihat hal tersebut dan mempunyai ide di dalam pikiranku. Aku tau bahwa sebagian itu adalah film porno, dan aku ingin tau apa reaksi Ibu Mertuaku jika aku secara tidak sengaja memutar film porno tersebut.
“Apa yang akan dikatakan oleh Ibu Mertuaku?”, gumamku dalam hati. Dan jika ternyata Ibu mertuaku menolak dengan tegas, yang kuperlukan adalah meminta maaf, dan menjelakan bahwa ini murni ketidak sengajaan, dan mengganti dengan film yang lain.
Waspada jika Ibu Mertuaku tau bahwa diriku mempunyai niat Nakal dengan senyuman kecilku itu, aku memutuskan untuk segera memutar film porno tersebut, berharap dia tidak sangat tersinggung dengan kenakalan ku dan tetap baik kepada menantu laki2nya ini, dan mudah2an film tersebut menuntun kami ke arah yang lain.
“Film apa nih?”, Rini bertanya sebelum film itu mulai berputar.
“Aku juga gak tau, Bu”. Aku menjawab pertanyaan dengan muka polos.”Aku sich berharap ini adalah salah satu Film televisi yang baru saja direkam oleh Nadya”.
Aku memperhatikan Rini yang sedang menyeruput wine-nya. Film sudah dimulai menampilkan adegan pertama dan aku akan secepatnya bilang seperti yang aku rencanakan tadi. Aku tau kapan aksi pertama film itu akan dimulai, film ini berlatar di Jerman, dimana Rini pasti akan menyakan soal itu. Setelah aku sudah cukup yakin, dan adegan pertama mulai, dimana adegan itu menampilkan seorang suami yang sedang bercakap cakap dengan seorang perempuan pirang, lalu Rini berpaling kepada ku.
“Film ini berlatar dimana ya?Asal negaranya…?” Tanya Rini.
“Ya ampun..”, Aku menyeringai agak keras, bahwa aku salah memutar Film, yang kuputar itu adalah Film Horor. “ Jika aku sekarang salah memutar film pasti Ibu gak mau nonton ya?” Kataku.
“Kenapa…?Ada yang salah…?” Kata rini Ibu Mertuaku.
“Gak sih Bu, gpp ..”, Kata ku sambil berdiri dari kursi. “ Aku akan mengganti dengan film yang lain Bu”. Kata ku sambil berdiri.
“Udalah..gpp koq”, Kata Ibu mertuaku. “Klo kamu mau nonton ya gpp, klo emang film horror-nya bagus kenapa gak”.
“Bukan itu Bu, maksud aku…”, kubalas pendapat Ibu Mertuaku.
“Film yang satu ini…..bisa dikatakan, film ini agak nakal gitu deh Bu, aku gak yakin Ibu Setuju untuk menontonnya”.
“Ooohhh..ya ya ya, Ibu tau sekarang”. Rini menjawab, dimana film tersebut sedang menampilkan adegan seorang wanita berambut pirang sedang menurunkan celana seorang laki2.
Untuk sementara aku terdiam mematung, satu matanya kearah screen TV, satu matanya agak melirik kearah Ibu Mertuaku.
“Hmmm…udahlah sayang Gak usah khawatir dengan Ibu”. Rini berbicara, sambil menyenderkan punggungnya di sofa. “Udah lama banget nih Ibu gak nonton film kaya gini, sejak dulu Ibu pernah nonton sekali. Terus, kamu sesekali juga nonton film begian, apa kamu nonton semuanya, Iya kan?” Kata Ibu Mertuaku sambil sedikit tersenyum Nakal.
“Tuh kan, Ibu…Kan aku sudah bilang klo ini film…”, Aku membalas pertanyaannya sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi agar diriku bisa sedikit santai dari ketegangan akibat pertanyaan Ibu Mertuaku.
“Ibu Yakin Nih, mau nonton Film ini?” aku langsung menyambung pernyataannya dengan bahasa tubuh seperti orang tidak berdosa dan berharap semua berjalan lancar dan sesuai rencana.
“Ya, gpp. Udah gak usah takut”. Kata Rini Ibu Mertuaku.
Beberapa menit kedepan kami menyaksikan di layar TV dimana adegan tersebut menampilkan wanita pirang mulai membuka celananya di depan suaminya, lalu adegan tersebut belangsung panas si suaminya mulai menggoda istri mudanya yang berambut pirang itu dengan meraba payudara sampai dengan rabaan pada putting payudaranya. Aku memperhatikan adegan itu dengan sangat konsentrasi dan membayangkan wanita yang sedang ada di dalam adegan itu adalah Ibu Mertuaku sendiri yaitu Rini dan aku juga membayangkan bahwa laki2 yg ada dlm adegan itu adalah diriku sendiri, yang sedang membelai payudara Rini. Dalam khayalan aku membelai kedua payudara Rini dari satu ke yang satunya dengan sangat lembut, dan aku hanya bisa mengkhayalkannya saja.
Kami berdua duduk dengan meyandarkan punggung kami pada senderan kursi, dan memperhatikan Video tersebut dengan seksama sejalan dengan jalan cerita dari film tersebut, sehingga aksi dari film di Video tersebut berjalan sesuai dengan alur cerita dan cerita kian memanas. Dalam beberapa kesempatan aku mulai terangsang dan makin terangsang. Karena aku membayangkan yang ada di film tersebut adalah aku dan ibu mertuaku yang menjadi artis porno, dan memainkan suatu adegan ranjang yang sangat panas. Aku membayangakan seperti adegan yang ada pada film tersebut, bersetubuh dengan bepelukan, persetubuhan dengan doogy style, bahkan hubungan seks anal dan oral, aku membayangkan diriku melakukannya bersama Ibu mertuaku sesuai dengan tampilan yang ada pada layar TV. Akhirnya film tersebut selesai dan habis, dan aku sudah membenarkan posisiku berkali kali sejak film itu mulai sampai dengan selesai, karena beberapa kali aku sangat susah menutupi keterangsanganku bila aku berdiri dari bangku yang kududuki. Kira2 apa yang akan terjadi pada kami berdua, karena memang aku merasa bahwa Rini Ibu Mertuaku kadang juga memperhatikan keterangsangan yang kualami.
“Hmmmm….terus sekarang apa yang ada di dalam pikiran kamu Sayang?”. Pertanyaan Ibu Mertuaku yang sama sekali tidak terpikirkan oleh diriku, membuat aku sangat Kaget.
AKU : “Mmmm…sebeneranya sih, jujur saya agak malu Bu, duduk disini bersama ibu Nonton film beginian, dan saya tidak tau apa yang harus saya katakana sekarang”.
RINI : “Hmpff…udah deh jagan sok lugu gitu deh kamu, kan Tadi ibu dah bilang, aku juga sdh pernah nonton film kaya gini sebelumnya, dan ibu yakin kamu sama Nadya juga sering kan nonton film beginian berdua?”
AKU : “Ya pernah lah Bu, tapi kan gak sama rasanya. Aku nonton sama Nadya dan sekarang kan aku nontonnya sama Ibu, beda kan Bu Rasanya?”.
RINI : “Ya Jelas Beda lah Sayang, harus berbeda donk, aku kan Ibu Mertua mu, terus klo kamu sam Anna lagi nonton…rekasi Nadya kaya gmn?” Ibu Mertuaku bertanya seperti ingin tau.
Pertama kalinya Aku terlihat sangat malu walau sedikit.
AKU : “Kalo Nasya sih enjoy2 aja Bu, nonton film begianan sama aku, ya kadang agak2 kaget2 juga sih bu”
RINI : “Nah, terus reaksi kamu gimana?”
AKU : “Ya jelas lah Bu, reaksi aku ya tergantung Reaksinya Nadya Gimana ke aku…hehe”.
RINI : “Itu menurut kamu, bisa juga karena kalian nonton film porno Non Local atau film porno dengan gaya sex kasar gitu kali ya, jadi itu yang bisa bikin kalian terangsang”.
Aku bertambah kaget ketika Ibu Mertuaku memberikan pernyatanyaan yang sangat jujur.
AKU : “Gak juga sih Bu, mungkin kadang2 gitu”. “Ibu mau minuman lain mungkin Bu?” Aku sedikit menyela untuk mengganti topik pembicaraan.
RINI: “Boleh juga tuh, mau donk”.
Aku bangkit dari kurisku, mengambil cangkir dari meja kopi, dan mulai membuat minuman. Lalu kembali ke ruang tengah dan memberikan Ibu Mertuaku gelas dengan minuman itu. Lalu aku kembali duduk ke kursi.
RINI : “ Kenapa sih duduknya jauh2, sini donk duduk deket Ibu!”.
Permintaan Ibu Mertuaku itu sungguh sangat mengagetkan diriku dan untuk sementara, membuat ku bingung harus menjawab apa.
AKU : “Mmmm…Aku gak tau Bu..eh…”, Jawabanku berantakan karena sangat Grogi.
RINI : “Yahh…jangan mikir macem2 deh kamu, kamu pikir Ibu akan merayu kamu ya? Hahaha….iya kan, kan kamu mikir gitu kan?” Ibu mertuaku tertawa geli.
AKU : “Ya gak lah bu..jelas gak…Aku hanya …mmm…”
RINI : “Yaudah sich…gak usah kebanyakan mikir, sini..ayo..!!” Ibu Mertuaku memerintahkan diriku sambil bergeser memberikan tempat untuk ku dan mengajak aku segera berajak dan pindah ke sofa untuk duduk bersama dengannya.
Dengan senyum malu2, aku berpindah ke sofa sambil menaruh gelas minuman di meja, dan duduk disebelah Ibu Mertuaku.
RINI : “Nah gitu donk, gak knp2 juga kan?” Ibu Mertuaku sedikit menggoda.
AKU : “Ya iyalah bu”. Balas ku dengan agak bingung dan muka yang malu kemerahan.
Setelah kami duduk di besebelahan di satu sofa, untuk sesaat kami terdiam dan tidak ada yang berkata sepatah katapun. Aku merasa sepertinya harus memulai membuka pembicaraan lagi agar kesunyian ini bisa terpecahkan, ternyata Rini Ibu Mertuaku telah memulai pembicaraan terlebih dahulu.
RINI : “Mmm..trus, kamu jadi gak mau kalo ibu menggoda kamu ya?”.
AKU : “Aku gak bilang gitu lho bu”.Jawabku, sambil agak terkejut.
RINI : “Ooohhh…jadi kamu mau kaannnn?”
Balas Rini sambil sedikit meluruskan kakinya kedepan. Otomatis mata ku langsung tertuju menelusuri dari lutut samapai dengan bawah kaki Ibu Mertuaku dan sepertinya aku sudah mulai masuk kedalam godaan2 Ibu Mertuaku. Dan memang aku sudah sangat tergoda. Tanpa basa basi, kubiarkan mataku untuk memandangi Ibu Mertuaku dari betis hingga pahanya yang sangat terawat dengan indah.
“Aku gak bilang gitu lho bu…”, ku ulang kata2 ku tadi, mengetahui bahwa Ibu Mertuaku sekarang sudah mulai menggoda diriku dengan sesuatu yang bisa dibilang tidak pantas dilakukan oleh seorang Ibu Mertua kepada Menantu Laki2nya, dan diwaktu yang sama pula saat aku mulai menjawab pertanyaan dari Ibu mertuaku, aku terus berusaha dan terus mencoba menggiringnya kedalam perangkap yang sudah aku letakan, persiapkan dan rencanakan.
RINI : “Apa yang ingin kamu katakana si, Say?” Kali ini dia dengan sengaja bertanya seperti itu kepadaku, dan dengan sengaja pula menyilangkan kakinya agar bisa memperlihatkan pahanya yang sangat sensual.
AKU : “Aku jadi malu Nih, Bu, seharusnya kita juga jangan dan tidak boleh berpikir kearah situ kali ya Bu?” aku menjawab dengan sagat jujur dan berharap membawa situasi ini selesai sampai disini saja.
RINI : “Hahahahaha…..Kenapa sih Sayang, Ibu terlihat agak nakal ya?” Dia bergurau sambil mengedipkan satu matanya.
AKU : “ Iya bu, sedikit”.
“Ooohhh jadi begitu, hmmm….trus klo aku nakal, apa yang kamu lakukan untuk menghukumku?”Tanya Ibu Mertuaku. Sambil bertanya kepada ku, Rini berdiri dari sofa dan berputar untuk berdiri tepat di depan ku yang masih duduk di sofa. Perlahan, lalu dia dengan sengaja mengangkat baju terusannya sampai sebatas paha agak naik sedikit, sambil menaikan kakinya menginjak tempat duduk sofa tepat disebelahku , kini kakinya yang mulus tepat berada disebelahku. Sekali lagi aku tidak bisa berbuat banyak tapi diriku membiarkan mataku untuk menikmati keindahan betis dan paha dari Ibu Mertuaku yang sekarang tepat berada di depan mataku dan sangat mudah sekali untuk disentuh.
RINI : “Suka gak sama kaki Ibu?”. Tanya Ibu Mertuaku.
AKU : “Ya, sangat Indah Bu”.
RINI : “Hmmm…!! Kamu mau menyentuh kedua kaki ku dan membelainya?”.
Diriku tau, bahwa harusnya kutolak kesempatan tersebut, tetapi pemandangan yang sudah sangat dekat itu sangatlah menggoda birahiku. Akhirnya kugerakan tangan dan menempatkan telapak tanganku di dengkul Ibu Mertuaku. Merasakan lembutnya rasa dari kain nilon yang masih membungkus kaki Ibu Mertuaku itu di telapak tangan dan aku mulai meraba dan menyentuh halus paha Ibu Mertuaku.
RINI : “Mmmppff…Rasanya enak sekali sayang, jika dibelai seperti itu…Ssshh”. Rini hampir mendesah.
Sekali lagi dengan penuh semangat aku memulai yang seharusnya tidak boleh kumulai. Sekarang, aku tidak mungkin menolak untuk membiarkan tanganku menelusuri pakaian yang selama ini menjadi misteri bagi ku dan tanganku mulai merasakan kehalusan dari kulit paha Ibu Mertuaku yang masih terbalut dengan kain nilon dan jari2ku dengan cepat meneliti bahwa itu adalah stoking, dan ya Ibu Mertuaku menggunakan stoking.
AKU : “Stoking,Ya Ibu memakai stoking”. Aku hampir berbicara seperti itu, saking penasarannya.
RINI : “Tunggu dulu, Sayang, Pokoknya yang terbaik akan ku berikan kepadamu”. Ibu mertuaku mendengar apa yang ku katakan dan langsung menjawabnya.
Rasa dari kehalusan kain nilon tersebut memberikan sensasi tersendiri, cukup memeberikan rasa yang sangat membangkitkan gairah ku dan aku pun menyadari bahwa aku sudah berbuat terlalu jauh, dan aku sudah tidak bisa mengendalikan diri.
Dengan perlahan aku mulai meraih pinggiran bawah dari pakaian terusan yang dikenakan Ibu Mertuaku dan memulai dengan perlahan menaikannya keatas. Dalam beberapa detik mulai terlihatlah pangkal paha Ibu Mertuaku dengan pemandangan yang masih terbalut full dengan stoking. Aku berdecak kagum atas pemandangan itu, sebelum akhirnya Tanganku menaikan lagi lebih tinggi pakian Ibu Mertuaku beberapa inci keatas dan segera aku melihat bahwa Ibu Mertuaku ternyata tidak mengenakan celana dalam. Vaginanya yang berwarna merah jambu terlihat jelas. Terdengarlah kembali decak kagum yang keluar dari mulut ku.
“Ooohh….gila…tercukur dengan rapih!!”. Terucap dari mulut ku kekaguman itu dan aku memutarkan telapak tanganku kebelakang Ibu Mertuaku dan meraih kedua pantatnya yang sangat gempal dan montok dengan kedua tanganku dan mendorong pantat itu tepat kedepan mukaku sambil meremas pantat Ibu Mertuaku. Tangan ku mulai bergerilya meremas dengan sedikit kasar mencari lubang anus Rini dan mulai menggosong lubang tersebut dan jari2ku juga dan juga menyeruak ke dalam bibir Vagina Ibu Mertuaku diantara kedua pahanya. Aku langsung memajukan kepalaku, dengan lidah aku mulai menjilati Vagina Ibu Mertuaku dengan sedikit menyentuh klitorisnya dengan sapuan2 lidahku. Dengan cepat Rini meraih belakang kepalaku dan menempelkan kuat2 kepalaku ke dalam Vaginanya, dan mulailah hisapan demi hisapan dan sapuan lidah ku ke dalam Vagina Ibu Mertuaku.
RINI : “Ohh..ahhh..ya sayang, lebih dalam lagi jilat agak dalam…sshhhakkhhh”. Ibu Mertuaku meracau dan mendesah.
Ku hirup dalam2 aroma bau2an vagina Ibu Mertuaku ke dalam hidungku dan kurasakan rasa dari bibir Vaginanya. Bisa dibilang, seblumnya saya tidak pernah sama sekali untuk mengubungi no telp Dia (Ibu Mertuaku) untuk mewujudkan impianku/fantasiku terhadap wanita ini. Tetapi sekarang, dia Rini Ibu Mertuaku, dengan membuka mengangkangkan kaki nya selebar mungkin, dengan tangannya yang memegang kepalaku dan mendesah kepadaku untuk terus memberikannya kepuasan birahi kepadanya dengan terus menjilati Vagina nya yang tercukur dengan rapih.
Ku tekan dengan kuat kepalaku kea rah Vagina nya, lidahku terus menelusuri bibir Vaginanya, sambil kujilati dan ku goyangkan lidahku keluar dan masuk Vaginanya. Tanganku tidak berhenti bergerilya dari remasan di Pantatnya sampai dengan belaian dipahanya lalu kembali lagi meremas pantat Ibu Mertuaku itu, merasakan kepuasan dari rasa halusnya kulit Pantat Ibu Mertuaku yang berpadu dengan tekstur halusnya kain Nilon stokingnya.
RINI : “Oooohhh sayang,ya …terus sayang, hisap yang kuat, tunjukan kehebatanmu padaku sayang”.
Kutekan lidahku kedalam vaginanya kujilat semampu lidahku menelusuri bibir Vaginanya, dan akhirnya Rini mulai terasa mengumpulkan untuk menahan klimaksnya.
RINI : “Ooohhh…Ooohh..Ibu mau keluar nih, ssshhhhh akkhhhh…aduhhh… gak tahan lagi”.

bersambung


Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.

Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.

Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.

Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.

Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.

Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.

“Roy..!” panggil mama.
“Ya, Ma…” sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.
“Ada apa, Ma?” tanya aku.
“Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya…” kata mama sambil tengkurap.
“Iya, Ma…” jawab aku.

Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, “Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih…” tanya aku.
“Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?” tanya mama.
“Seluruh badan mama,” jawab aku.
“Ya sudah, mama buka baju saja,” kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.
“Ayo lanjutkan, Roy!” kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.
“Mama tidak malu buka baju depan Roy?” tanya aku.
“Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,” jawab mama sambil memejamkan mata.

Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai “memijit” paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.

“Kok dilewat sih, Roy?” protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.
“Mm.. Roy takut mama marah…” jawab aku.
“Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!” pinta mama.

Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.

Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.

Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.

“Roy, kamu ngapain?” tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.
“Maaf, Ma…” kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.
“Roy tidak tahan menahan nafsu…” kataku lagi.
“Nafsu apa?” kata mama dengan nada lembut.
“Sini berbaring dekat mama,” kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.
“Sini berbaring Roy,” ujar mama lagi.
“Tutup dulu pintu kamar,” kata mama.
“Ya, Ma…” kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.

Mama menatapku sambil membelai rambut aku.

“Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,” tanya mama lembut.
“Mama marahkah?” tanya aku.
“Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,” ujar mama.
“Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma…” kataku. Mama tersenyum.
“Berarti anak mama sudah mulai dewasa,” kata mama.
“Kamu benar-benar mau sayang?” tanya mama.
“Maksud mama?” tanya aku.
“Dua jam lagi Papa kamu pulang…” hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.

Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.

“Buka pakaian kamu, Roy,” kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.

Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.

“kontol kamu besar, Roy…” kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.
“Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?” tanya mama.
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, “Belum pernah, Ma.. Mmhh..”. Mama tersenyum, entah apa artinya.

Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.

“Enak sayang?” tanya mama sambil menengadah menatapku.
“Iya, Ma.. Enak sekali,” jawabku dengan suara tertahan.
“Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan…” ujar mama sambil menarik tanganku.

Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.

“Ayo, Roy.. Masukkan…” ujar mama sambil terus memandang wajahku.

Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.

“Enak, Roy?” tanya mama.
“Sangat enak, Ma…” jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.
“Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?” tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.
“Karena mama sayang kamu, Roy…” jawab mama.
“Sangat sayang…” lanjutnya.
“Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh…” lanjutnya lagi.

Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.

“Roy juga sangat sayang mama…” ujarku.
“Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh…” desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.
“Mama mau keluar…” desah mama lagi.

Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..

“Ohh.. Enak sayangg…” desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.

Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..

“Ma, Roy gak tahann…” ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.
“Keluarin sayang…” ujar mama sambil meremas-remas pantatku.
“Keluarin di dalam aja sayang biar enak…” bisik mama mesra.

Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.

“Mmhh…” desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.
“Terima kasih ya, Ma…” ujar aku sambil mencium bibir mama.
“Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!” kata mama.

Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.

Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.

Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,”ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?” tanya tante Rina.
“Hayo, ngapain..?” tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.
“Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok…” jawabku.
“Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,” tanyanya lagi.
“Curigaan amat sih, tante?” kataku sambil tersenyum.
“Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu…” ujar tante Rina sambil tersenyum.
“Kayak suara yang lagi enak…” ujar tante Rina lagi.
“Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah…” ujarku sambil bangkit.
“Maaf dong, Roy. Tante becanda kok…” ujar tante Rina.
“Kamu mau kemana?” tanya tante Rina.
“Mau tidur,” jawabku pendek.
“Temenein tante dong, Roy,” pinta tante.

Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.

“Ada apa sih tante?” tanyaku.
“Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,” jawab tante Rina.
“Kamu sudah punya pacar, Roy?” tanya tante Rina.
“Belum tante. Kenapa?” aku balik bertanya.
“Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?” tanya tante lagi.
“Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,” jawabku.
“Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?” tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.

Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.

“Ni tante lagi horny kayaknya…” pikir aku.

Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.

“Mmhh..”

Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.

“Roy, pindah ke kamar tante, yuk?” pinta tante Rina.
“Iya tante…” jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.

Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.

“Ayo Roy, tante sudah gak tahan…” ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.

Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.

“Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh…” desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.

Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.

“Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang…” desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.

Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.

“Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh…” desah tante Rina.

Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.

“Isep dong kontol Roy, tante…” pintaku.

Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.

“Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante…” kataku.

Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.

“Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan…” bisik tante Rina.

Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.

“Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan…” kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.
“Ah, biasa saja, tante…” ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.

Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.

“Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh…” desahnya.

Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.

“Tente udah keluar, sayang…” bisik tante Rina.
“Kamu hebat.. Kuat…” ujar tante Rina.
“Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.

Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.

“Roy mau keluar, Tante…” kataku.
“Jangan keluarkan di dalam, sayang…” pinta tante Rina.
“Cabut dulu…” ujar tante Rina.
“Sini tante isepin…” katanya lagi.

Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.

Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.

“Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,” ujar tante Rina.
“Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?” tanya tante sambil memeluk aku.
“Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,” kataku sambil mengecup bibirnya.
“Terima kasih, sayang,” ujar tante Rina.
“Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,” kataku.
“Iya, sana tidur,” katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.

Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.

“Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?” tanya mama mengejutkanku.

Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,”Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?” tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.

“Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,” jawabku.
“Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian…” ujar mama.
“Kalian hati-hatilah…” ujar mama lagi.
“Kenapa mama tidak marah,” tanya aku.
“Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,” ujar mama.
“Terima kasih ya, Ma…” kataku.
“Roy sayang mama,” kataku lagi.
“Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?” tanya mama.
“Bantu apa, Ma?” aku balik tanya.
“Mama ingin…” ujar mama sambil mengusap kontolku.
“Roy akan lakukan apapun buat mama…” kataku. Mama tersenyum.
“Mama tunggu di kamar ya?” kata mama. Aku mengangguk..

Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.

Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali.

TAMAT


Halo pembaca perkenalkan namaku Alex. Well, langsung saja kali ya. Ceritaku ini bermula kira-kira 5 tahun yang lalu. Saat itu umurku masih 16 tahun, yaah mendekati 17 tahun. Aku ingat betul karena ceritaku ini terjadi berdekatan dengan ulang tahunku, dan mungkin sedikit berhubungan dengan ulang tahunku itu.
Hari itu adalah tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku yang ke 17. Saat itu aku dan Mamaku sedang makan malam berdua. Oh iya ada yang hampir kulupakan. Sejak umur 15 tahun aku tinggal berdua dengan Mamaku. Orangtuaku bercerai ketika aku berumur 15 tahun. Dan aku memilih untuk ikut Mama. Entah kenapa tapi sejak kecil aku memang lebih dekat ke Mama. Mungkin karena Mama sangat sayang kepadaku.

Aku dan Mama tinggal di sebuah rumah yang lumayan besar. Maklumlah, Kakekku (dari pihak Mama) adalah pengusaha yang sangat sukses. Dan Mama adalah penerusnya. Oh iya sebagai gambaran, saat itu Mamaku masih berusia 33 tahun. Hari ulang tahun Mama terpaut dua minggu dari hari ulang tahunku. Mama mempunyai wajah yang sangat cantik. Berkulit kuning langsat yang menambah kecantikannya. Dengan tinggi dan berat sekitar 165 cm dan 45 kg membuat Mama terlihat sangat ideal. Sedangkan buah dada Mama kuperkirakan berukuran 36 yang nantinya ternyata terbukti perkiraanku salah.

Kembali ke cerita awal. Pada saat asyik-asyiknya aku melahap makan malamku, Mama tiba-tiba berkata, “Lex, besok kamu kan ulang tahun.”
Aku yang lagi enak-enaknya makan sih hanya mengangguk saja. Melihat aku yang tidak begitu menanggapinya, Mama berkata lagi, “Kalo Mama nggak salah umurmu udah 17 tahun kan?”
Dan seperti tadi, aku pun hanya mengangguk-angguk saja sambil tetap melahap makanan di depanku.

“Lex, Mama ingin ulang tahunmu besok menjadi ulang tahun yang berkesan buatmu. Jadi kamu boleh meminta kado apa saja yang kamu mau.”
Aku yang mulai tertarik dengan ucapan Mama pun bertanya, “Apa saja Ma..?”
“Iya, apa saja yang kamu mau,” jawab Mama.
Dengan hati-hati aku bertanya lagi, “Ma, Alex kan udah gede.”
“Betul, Mama tau itu. Lalu..?” tanya Mama penuh selidik.
“Alex rasa udah waktunya Alex tau yang namanya.. seks,” kataku dengan hati-hati.

Kulihat Mama agak terkejut dengan perkataanku barusan. Tapi setelah dapat menguasai keadaan, Mama pun tersenyum sambil bertanya, “Apa nggak ada kado lain yang lebih kau inginkan dari pada itu, Lex..?”
“Tadi Mama bilang boleh minta apa saja, kok sekarang jadi menolaknya. Kalo Mama nggak mau ya udah. Beri aja Alex kado sweater atau baju seperti ulang tahun Alex yang udah-udah.” kataku dengan wajah agak muram.

“Wow, tunggu dulu donk Sayang. Kan Mama belon bilang mau apa nggak. Jadi jangan ngambek dulu donk.” kata Mama dengan wajah sabar.
“Jadi.. boleh nggak, Ma..?” tanyaku dengan tidak sabar.
“Setelah Mama pikir, bolehlah. Buat anak tercinta sih apa saja boleh kok Sayang..” jawab Mama.
“Terima kasih Ma. Alex sayang banget sama Mama.” jawabku dengan antusias.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seperti malam kemarin, aku dan Mama lagi makan malam berdua. Malam itu Mama terlihat cantik sekali.
Mama tiba-tiba berkata, “Alex, kamu udah siap menerima kado istimewamu..?” tanya Mama dengan tersenyum manis.
Aku yang memang sudah tidak sabar langsung saja menjawab, “Ya jelas siap donk, Ma.”

Setelah selesai makan Mama menggandengku ke ruang televisi.
“Duduk di sini Sayang. Tunggu sebentar ya..!” kata Mama sambil menyuruhku duduk di permadani.
Mama lalu masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian Mama keluar dari kamar. Aku terkejut, karena sekarang Mama hanya memakai baju tidur yang sangat seksi dan menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Di tangannya, Mama memegang beberapa buah CD. Mama lalu menuju ke VCD player lalu memasang CD yang dibawanya.

Setelah diputar, ternyata itu adalah VCD XX, VCD yang pertama kuingat berjudul ‘ChowDown’. Setelah duduk di sebelahku, Mama memandangiku sambil berkata, “Kamu udah siap Lex..?” tanya Mama.
“Udah dari tadi Ma.” jawabku.

Mama pun mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu sedetik kemudian Mama mulai mencium bibirku. Dengan refleks aku pun membalas ciumannya. Dan tidak lama kedua lidah kami pun bertautan.
“Mmmh.. mmhh.. mm..” hanya desahan saja yang terdengar kini dengan diiringi desahan-desahan dari film yang diputar di TV.
Aku memeluk Mama erat-erat sambil tetap berciuman. Mama pun terlihat sudah sangat terangsang.

Tidak lama tanganku pun mulai menggerayangi tubuh Mama. Tangan kiriku mulai meremas-remas payudara Mama dari luar baju tidurnya. Sedangkan tangan kananku mulai meraba-raba selangkangan Mama.
“Ahh..!” teriak Mama ketika tanganku menyentuh vaginanya.

Setelah sekitar 20 menit kami saling berciuman dan saling meraba, Mama melepaskan pelukan dan ciumannya. Lalu Mama menuntun tanganku untuk membuka bajunya. Tanpa diminta dua kali, tanganku pun mulai beraksi melepas baju tidur Mama dari tubuhnya. Sekarang Mama hanya memakai BH dan celana dalam saja. Mama tersenyum padaku lalu mendekatiku. Dan tidak lama, tangan Mama mulai berusaha melepas pakaian yang kukenakan. Aku hanya menurut saja diperlakukan begitu. Dan kini pun hanya tinggal CD saja yang melekat di tubuhku.

Dengan tubuh yang sama-sama setengah telanjang, aku dan Mama kembali berpelukan sambil berciuman. Hanya desahan saja yang terdengar di ruangan. Lalu perlahan tanganku membuka kaitan BH Mama. Melihat aku yang kesulitan membuka BH-nya, Mama tersenyum, lalu tangannya membantuku membuka BH-nya. Sekarang buah dada Mama yang indah itu pun terpampang jelas di depanku.

“Tetek Mama gede banget sih. Alex suka deh,” kataku sambil meraba payudara Mama.
“Jangan diliatin aja donk Sayang..! Dijilat dan disedot donk Sayang..!” pinta Mama.
Tanpa dikomando dua kali, aku langsung saja menjilati payudara Mama yang sebelah kanan. Sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara Mama yang sebelah kiri.
“Aahh.. Ohh.. *****..!” teriak Mama ketika buah dadanya kujilat dan kusedot-sedot.

Secara bergantian payudara Mama kusedot dan kujilati, sedangkan tangan kanan Mama meremas-remas batang penisku dari luar CD-ku. Dan tanpa sadar, Mama berusaha melepaskan CD-ku. Aku pun tidak mau kalah. Setelah puas menggarap payudara Mama yang besar itu, aku pun berusaha melepaskan CD Mama. Melihat kelakuanku yang tidak mau kalah, Mama hanya tersenyum saja. Sesaat kemudian kami berdua sudah telanjang bulat. Aku hanya dapat menelan ludah melihat tubuh indah Mama. Di selangkangan Mama, terlihat bulu-bulu yang tertata rapi membentuk segitiga.

“Lex, kont*l kamu gede bauanget,” kata Mama takjub melihat batang penisku yang sudah menegang.
“Masa sih Mam..?” tanyaku seakan tidak percaya, “Tapi tetek Mama juga gede kok. Emang tetek Mama itu ukuran berapa..?” tanyaku lagi.
“Ukuran 38B, emang kenapa si Lex. Kamu suka kan..?” tanya Mama.
“Ya jelas donk Mama sayang, mana mungkin Alex nggak suka.” jawabku, dan tanganku kembali meremas payudara Mama sambil menggigitnya.
“Aauwww..!” teriak Mama, “Kamu nakal Sayang, masa tetek Mama digigit..?” kata Mama manja.
“Ma’af, Ma. Alex nggak sengaja.” jawabku sekenanya.
“Nggak apa-apa kok Sayang, Mama suka kok. Kamu boleh memperlakukan Mama sesukamu.” kata Mama sambil tangan kanannya masih meremas-remas kemaluaku.

Dan tidak lama Mama pun berjongkok, lalu tersenyum. Mama mendekatkan wajahnya ke kemaluanku, lalu mulai mengeluarkan lidahnya.
“Uuhh.. aahh.. enak Mam..!” aku berteriak ketika lidah Mama mulai menyentuh kepala penisku.
Mama masih menjilati penisku, mulai dari pangkal sampai ujung kepala penisku. Dan kedua bijiku pun tidak terlewatkan oleh lidah Mama. Aku hanya memejamkan mata sambil mendesah-desah memperoleh perlakuan seperti itu.

Setelah sekitar sepuluh menit, aku merasa kemaluanku berada di sebuah lubang yang hangat. Aku pun membuka mataku dan melihat ke bawah. Ternyata sekarang separuh penisku sudah masuk ke mulut Mama.
“Aahh.. oohh.. yeeahh.. enaakk ba..nget Maa..!” teriakku lagi.
Kuperhatikan penisku diemut-emut oleh Mama tanpa mengenai giginya sedikit pun. Lidah Mama bergerak-gerak dengan lincah seperti ular.

Dan sekarang kulihat Mama menyedot-nyedot bulu kemaluaku seperti mau dikeramasi.
“Maa.. enak Maa..!” aku hanya dapat berteriak.
Aku merasa ada yang mau keluar dari penisku, aku tidak tahan lagi, dan seerr.. Aku kaget juga, kupikir yang keluar tadi adalah sperma, tapi tidak tahunya adalah air kencingku yang menyembur sedikit.
“Wah, ma’af Ma. Alex nggak sengaja.” kataku buru-buru dengan napas yang masih terengah-engah.

Tapi apa yang terjadi, Mama malah menjilati air kencingku yang berleleran. Gila.., sensasi yang kurasakan sangat luar biasa. Dan tiba-tiba Mama menarik tanganku dan mengajakku ke kamar mandi. Kamar mandi kami dapat dibilang sangat besar dan mewah. Sudah itu wangi lagi. Mama menuntunku menuju jacuzi, lalu Mama pun berlutut lagi. Batang penisku dikocok-kocok di depan wajahnya, terus disedot-sedot seperti makan es krim.

“Ayo Sayang..! Sekarang kencingi Mamamu ini..!” kata Mama.
Aku kaget juga. Tapi aku memang sudah tidak tahan lagi ingin kencing. Aku pun mengerahkan semua tenaga untuk kencing. Kulihat mulut Mama menganga dan lidah Mama seperti ular menelusuri kepala penisku.
Dan ketika kulihat mulut Mama tepat di depan batang penisku, “Maa.., Alex mo pipiis..!” teriakku.
Kulihat air kencingku menyembur kencang sekali dan seerr.., masuk ke dalam mulut Mama.

Kuperhatikan mata Mama merem sambil mulutnya terus menganga menerima siraman air kencingku. Kepalang tanggung, akhirnya kumasukkan juga penisku ke mulut Mama sehingga air kencingku memancar dan muncrat keluar lagi berleleran di tubuh telanjang Mama.
“Enak nggak Ma..?” tanyaku setelah aku selesai kencing.
Mama memandangku dengan manja, sedangkan mulutnya masih mengulum batang kemaluanku.

Setelah itu kedua bijiku pun dijilatinya.
“Kamu mau tau rasanya, Lex..?” tanya Mamaku setelah melepaskan kulumannya dari penisku.
“Boleh aja, Ma.” jawabku penuh semangat.
Mama lalu menyuruhku tidur telentang di lantai kamar mandi. Aku mengikuti saja perintah Mama.

Mama lalu berdiri dengan kedua kakinya berada di kiri kanan kepalaku. Dan sesekali kakinya digosok-gosokkan ke wajahku. Dan meskipun ada air kencingku yang berleleran di kaki Mama, aku tidak merasa jijik untuk menjilati kaki Mama. Setelah itu Mama perlahan-lahan mulai jongkok. Kuperhatikan pantat seksi Mama mulai mendekati wajahku. Aku menunggu dengan sabar sampai sesaat vagina Mama benar-benar berada tepat di atas mulutku.

Lubang kemaluan Mama terlihat sudah berlendir bertanda Mama sudah terangsang. Kujilati lubang kemaluan dan lubang anusnya secara bergantian. Mama menguakkan bibir vaginanya secara perlahan sampai-sampai aku dapat melihat lubang kemaluannya mengembang.
“Mama mau kencing nih. Minuumm.. Sayang..!” Mama merintih dengan sangat keras.
Seerr.., dari lubang kencing Mama memancar cairan yang bening dan panas sekali, masuk ke mulutku dengan deras.

Entah karena sudah nafsu atau karena apa, kutelan saja cairan yang rasanya asin dan agak pahit yang keluar dari kemaluan Mama. Suara erangan kepuasan menggema di dalam kamar mandi itu.
“Bagaimana rasanya Sayang, enak bukan..?” tanya Mama sambil matanya terpejam menahan nikmat karena vaginanya kujilat-jilat.
“Enak banget, Ma.” jawabku singkat.

Setelah itu Mama berdiri lalu duduk di sebelahku. Kedua kakinya dikangkangkan sehingga aku dapat melihat vaginanya dengan jelas.
“Sayang, sekarang kamu jilatin mem*k Mama ini..!” kata Mama sambil menunjuk ke arah vaginanya.
Setelah itu Mama tidur telentang di lantai kamar mandi. Aku langsung saja menuju bagian bawah pusar Mama. Kudekatkan wajahku ke vagina Mama, lalu kukeluarkan lidahku dan mulai menjilati vaginanya.

“Ahh.. fuuckk.. yeaahh.. shiitt.. hisapnya itilnya Sayang..!” Mama hanya dapat meracau saat kujilati vagina dan klitorisnya kuhisap-hisap.
“Ohh.. Aahh.. fuuck.. mee.. yeaahh.. masukin kont*lmu sekarang Sayang..! Mama udah nggak tahan..!” pinta Mama memohon.
Aku pun perlahan bangun dan mensejajarkan tubuhku dengan Mama. Kugenggam batang penisku, lalu perlahan-lahan kudorong pantatku menuju vagina Mama.

Ketika memasuki liang senggamanya, Mama berteriak-teriak, apalagi ketika separuh penisku mulai menelusuri dinding vaginanya. Baru pertama kali aku merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini. Rasanya seperti diurut-urut, enak seperti dielus-elus daging basah dan kenyal.
“Aahhkk enak se..kali.. Sayang..! Fuuck.. me.. hardeer.. honey..!” jeritan Mama memenuhi kamar mandi.

Setelah sekitar 10 menitan, aku mencabut batang kemaluanku dari lubang vagina Mama. Mama terlihat sangat kecewa ketika aku melakukan itu. Dan tidak lama kemudian aku meminta Mama untuk berganti posisi. Kuminta Mama untuk menungging. Lalu dari belakang kuremas-remas pantat Mama yang semok itu. Lalu kuarahkan batang penisku ke bibir vagina Mama. Setelah kurasa tepat, lalu kusetubuhi Mama dari belakang dengan doggie style.

“Aduhh.. enak.. sekali Sayang..! Kamu.. pin..tarr.. Sayang..!” jerit Mama ketika kusetubuhi dari belakang.
Sedangkan aku pun tidak kalah hebohnya dalam berteriak, “Maa.. mem*k.. nya.. e..naak..!”
Rupanya gaya itu membuat Mama sudah tidak tahan lagi, sehingga sesaat kemudian, “Sayang Mama mau sam..paai.. Aahh..!”
Mama berteriak keras sekali, dan aku yakin kalau kami tidak berada di rumah itu, orang lain pasti mendengar teriakan Mama.

Aku merasakan penisku seperti disiram cairan hangat. Walau kusadari Mama sudah mencapai puncaknya, aku tetap saja memompa batang penisku di dalam vagina Mama. Malah semakin giat karena sekarang liang Mama sudah licin oleh cairan Mama.
Dan tidak lama, “Maa.. Alex.. mau sampaaii nih..!” kataku ketika aku merasa mau orgasme.
“Cabut kont*lmu Sayaang..!” perintah Mama.
Segera saja batang kemaluanku kucabut dari liang Mama yang masih menungging.

Mama lalu berbalik kepadaku dan memegang batang penisku. Lalu dibukanya mulutnya dan Mama pun mulai mengulum kemaluanku.
“Aahh.. oohh..!” hanya desahan itu yang keluar dari mulutku.
Dan, creet.. croott.. crot..! air maniku menyemprot sebanyak sepuluh kali ke dalam mulut Mama. Mama tidak langsung menelan spermaku, melainkan memainkan spermaku di dalam mulutnya seperti orang yang sedang berkumur. Dan sebelum ditelan, Mama membuka mulutnya dan menunjukkan spermaku yang ada di dalam mulutnya itu. Baru setelah itu pejuku ditelan sampai habis.

Belum selesai sampai di situ, Mama menjilat-jilat batang penisku dan membersihkan sisa sperma yang masih menempel di kemaluaku. Rasanya ngilu, nyeri plus gimana gitu. Setelah itu kami berdua menuju ke ruang TV. Aku dan Mama duduk bersebelahan dalam keadaan telanjang bulat.

“Bagaimana kadonya, Lex..?” tanya Mama ketika sudah agak tenang.
“Luar biasa, Ma. Nggak ada kado yang sehebat tadi. Terima kasih, Ma.” sahutku.
“Mama bahagia kalo kamu puas. Sebenarnya Mama juga menginginkannya kok.” jawab Mama.
“Lalu kenapa Mama nggak minta ke Alex..?” tanyaku lagi.
“Iya ya, kalo tau kamu punya kont*l segitu gedenya Mama pasti udah minta sejak dulu. Tapi nggak apa-apa kok, kan belon terlambat. Betul kan..?” sahut Mama sambil tersenyum manis padaku.
“Iya Ma. Tapi Ma, setelah ini masih ada ronde selanjutnya kan..?” tanyaku.
“Kalo kamu masih kuat, ya pasti donk Sayang..!” jawab Mama manja.
“Alex sayang banget sama Mama,” kataku.
“Mama juga sayang banget sama Alex.” jawab Mama.

Setelah berisrirahat secukupnya, kami berdua melanjutkan persetubuhan kami sampai jam dua pagi. Setelah itu kami berdua tidur dalam keadaan telanjang bulat. Dan keesokan harinya aku dan Mama, yang kebetulan lagi tidak masuk kerja, berada di rumah dalam keadaan telanjang bulat selama sehari penuh. Dan tidak terhitung berapa kali kami bersetubuh. Sampai sekarang aku masih tinggal dengan Mama dan masih setia menyetubuhi Mama setiap hari, selama Mama tidak haid.

Itu adalah hadiah ulang tahun yang paling berkesan dalam hidupku.

TAMAT



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.