Kumpulan Cerita Favorit

Author Archives: ceritajorok

Ibu Mertuaku merintih dan menjerit sangat keras, nafasnya terlihat tidak teratur menahan orgasme yang menyerangnya, Vaginanya terasa sangat basah dan siap menyemburkan cairan kewanitaan.
Ku jilati terus lidahku sedalam dalamnya ke dalam Vagina Ibu Mertuaku sambil sesekali menekan klitorisnya dengan ujung lidahku, sesekali dia kembali menjerit seperti dimabuk kepayang, aku dapat merasakan menggilnya tubuh Ibu Mertuaku dengan wajahku yang benar2 lekat pada Vaginanya. Dan aku juga bisa merasakan mengalirnya cairan kewanitaan yang tersembur dari Vaginanya mengalir ke bibir, mulut dan lidahku.
Kutarik mundur kepalaku dari Vagina Rini Sang Ibu Mertuaku, Vaginanya terlihat memerah sangat sexy, bersamaan itu pula Rini secara otomatis berlutut dilantai seperti kehilangan topangan.
RINI : “Luar biasa sayang, enak banget. Kamu belum menyerah kan?”.
AKU : “Belum donk Bu, tapi Maaf ya Bu, soalnya kita sebelumnya belum pernah berbuat sampai sejauh ini”. Kataku sambil tersenyumkearah Ibu Mertuaku sambil meremas halus salah satu payudaranya.
RINI : “Bagus!! Oleh karena itu, sekarang Ibu Mau tau, apa yang bisa kamu lakukan ke Ibu?” Ibu mertuaku menyeringai genit kepadaku.
AKU : “Hmmm….kira2 apa ya bu, klo menurut ibu ngapain lagi nih kita?” Aku gentian menggoda dirinya.
Rini Sang Ibu Mertuaku merogohkan tangannya ke buah Zakarku, dan dia juga meraba batang Penisku yang sudah tegak tercetak di celanaku.
RINI : “Nah, ini dia, Ibu Mau tau kehebatan dari Penismu”. Sahut Ibu Mertuaku sambil meraba batang penisku.
AKU : “Ohh…yang ini memang sangat bagus Bu. Yang pasti anak perempuan ibu gak pernah mengeluh atau complain sama yang satu ini”.
RINI : “ Tapi kan aku bukan Nadya,lho…..Maksud Ibu, harapan ibu boleh dong lebih tinggi dari Nadya, Ibu mau yang lebih Dari kamu”
Rini berhenti bicara dan maju selangkah, untuk mulai melepaskan celanaku. Lalu Ibu mertuaku menyelipkan pinggulnya diantara kedua kakiku yang terbuka lebar, lalu dia memasukan tangannya kedalam celanaku untuk memegang dan merasakan ke-ereksian Penisku yang sudah sangat keras. Ketika aku rasakan genggaman tangannya pada batang penisku, kurasakan sensasi yang luar biasa, dan membuatku sedikit mengerang, ketika genggaman tangannya mulai mengocok penisku naik dan turun. Dan Ibu Mertuaku melihat kearah mataku, yang menyiratkan kepuasan sensasi bercinta dengan sang Ibu Mertua.
RINI : “Sudah berapa kali kamu membayangkan bersetubuh dengan ku, sayang..?”. Dia berkata sambil terus mengocok penisku.
Aku naikan salah satu alis mataku sesekali sambil bertatapan dengan mata Ibu Mertuaku, dengan maksud memberikan padangan yang mengejutkan hatinya, sambil sedikit tersenyum simpul kepadanya.
AKU : “Udah gak ke itung lagi Bu, sering banget”. Jawabku.
RINI : “Klo Ibu tuh sebenernya, udah dari dulu pengen banget bersetubuh dengan kamu sayang. Sampai kadang Ibu berpikir bahwa Nadya Anak perempuanku itu, egois banget ya nyimpen kamu untuk dirinya sendiri”.
AKU : “Lha bu, aku kan nikah sama dia Bu. BUkan sudah seharusnya begitu”. Jawabku sambil menahan nikmatanya kocokan demikocokan yang dilakukan oleh Ibu Mertuaku.
RINI : “Hmmmm….!!Betul sayang, tapi gak ada salhnyakan kamu tau sedikit tentang Ibu dari Istrimu”. Rini kembali menyanggah pendapat ku, dengan tersenyum lebar dengan penuh kenakalan.
AKU : “Ooohhh…sshhh….Akhhh…Apa tuh Bu, yang perlu aku tau tentang ibu?” Tanyaku sambil mendesah keenakan.
RINI : “Disaat aku ingin sesuatu yang agak nakal, dan pasti aku Ibu Mertuamu bisa mendapakannya. Dan apa yang ku mau sekarang adalah disetubuhi oleh mu Sayang, disetubuhi oleh Menantuku sendiri!!” Matanya menatapku sangat nanar dan penuh nafsu birahi yang sangat tinggi, dia memandangiku sambil agak meremas batang penisku dengan sangat gemas.
AKU : “Ibu..ya..ya..yakin Bbbu dengan kata2 Ibu, gak takut dddosa bu?”
RINI : “Hahahaha…Sayang, Hidup ini sangat singkat lho,kenapa sih kita buang2 waktu, ayo Sayang, setebuhilah Ibu Mertuamu ini…!!”. Rini tertawa sambil menjawab pertanyaanku.
Aku melenguh panjang, merasakan antara kenakan dan mencoba berpikir kembali sebelum ini terjadi, bahwa kejadian ini terjadi begitu cepat. Tidak ada lagi yang bisa kupirkan. Sejauh ini yang bisa kupirkan hanyalah, sebuah fantasi terbesar dalam hidupku yang sedang terjadi.
Rini mulai menghentakan kocokannya dengan perlahan, saat kocokan keatas dia menghentakan keatas, saat kocokan kebabawah dihentakannya kebawah. Hentakan demi hentakan dari kocokannya membuatku seperti berada pada surga dunia yang sangat indah.
RINI : “Sekarang, Ibu mau kasih tau kamu, klo Ibu Mertuamu ini sangat suka sekali disetubuhi dengan pelan, tapi dengan hentakan yang keras. Aku suka dengan gerakan yang sedikit agak kasar, setelah kita selesai bercinta nanti, Ibu mau merasakan bahwa Ibu benar2 terasa habis disetubuhi”.
AKU : “Ibu juga suka kan ngomong agak kotor, iya kan?” Tanyaku, dan penisku sudah benar2 tegak dan sangat keras.
RINI : “Nah itu dia Sayang, oleh karena itu Ibu bukan mau bercinta denganmu, tetapi Ibu hanya ingin bersetubuh denganmu, sayang. Ibu hanya ingin menyetebuhi menantu laki2 ibu!! Ya, selayaknya seperti binatang lah gitchu…, dan mungkin insting binatang telah merasuki kita sayang…hanya kepuasan..Lho. Kamu harus tau Sayang, binatang bersetubuh untuk berkembang biak, tapi masa2 reproduksi aku sudah berlalu lho…, tapi klo nafsu birahi Ibu Mertuamu ini akan tetap ada sampai kapan pun, Sayang”.
Rini sang Ibu mertuaku berbicara seperti itu kepadaku dengan cara sedikit melakukan desisan dan desahan yang terlihat seperti memimpikan kepuasan sensai birahi yang sangat luar biasa sambil dia berjongkok diantara kedua paha ku yang terbuka lebar dengan meremas remas bantang penisku, yang semakin membuatku terdiam bingung ingin menjawab apa dan gusar tak tertahankan untuk merasakan liang sanggama di dalam Vagina Rini Ibu mertuaku itu.
RINI : “Apa sayang, kamu mau apa sich?Gmn, kamu tertarik tak, untuk menyetubuh kelinci betina yang sekarang sedang menyiksamu ini?”.
Untuk sementara aku terdiam bingung amu menjawab apa. Tetapi sisi liar Ibu Mertuaku sangat membangkitkan gairah birahiku, apalagi perkataannya tentang sex yang sangat membuatku terangsang, dan aku belum pernah mengalami keterangsangan seperti ini, dengan Nadya sekalipun, sambil diiringi remasan2 yang sedikit agak kasar kepada Penisku dengan hentakan2 kopcokannya, yang makin membuatku tersiksa menahan gejolak nafsu birahi untuk menyetubuhinya yang sudah tidak mungkin aku bending lagi, memang penisku terasa gak sakit dengan kekasarannya tapi sensasinya membuat ku menikmati perlakuan dan gerakan tersebut.
AKU : “Ooohhh….akkhhh, Ibu…..sshhhh… Aku akan bersetubuh dengan Kelinci Betina ini, kapanpun dia mau”. Aku menjawab pertanyaannya sambil menikmati siksaan birahi yang dilakukan terhadap penisku, dan Rinisambil tersenyum dan dia tau, akhirnya dia hampir sukses untuk menggoda ku.
RINI : “BIlang dong sayang, bagaimana caranya rusa jantan muda ini menyetubuhi ku?Apa yang akan kamu lakukan dengan Penismu yang sudah berdiri tegak dank eras ini, terhadap Ibu Mertuamu ini?”.
Akhirnya aku tau sekarang, kapan aku harus melontarkan kata2 ini kepada Ibu Mertuaku yang aku hormati, segani, yang sekarang terlihat seperti pelacur, yang siap untuk disetubuhi oleh Suami dari anak kandunya sendiri.
AKU : “Aku akan menyodok Vagina Ibu dengan menghantamkan penisku sedalam2nya, dan kamu akan menikmatinya Kelinci Betina Cabul!! Akan ku kocok penisku ini sedalam2nya di dalam Vaginamu, Pelacur..!!!”
RINI : “Ooo yeah….Dasar kamu penis bajingan, kata2 kamu jadi bikin ibu Horny bgt deh…apakah cmn ini aja kata2 berengsek yang bisa keluar dari mulut kamu?”
AKU : “Tunggu aja bu, dan lihat apa yang akan terjadi nanti”. Jawabku.
Sambil kukatakan itu, aku mendorong Ibu Mertuaku kelantai, hingga dia agak terduduk akibat doronganku, dan terlihat kakinya yang terbuka lebar, dan aku lagsung mencengkram kedua pahanya dan agak melbarkannya lebih lebar lagi, aku mendorong badannnya kedepan sampai aku rasakan pinggulku berada pada jarak terdekat dengan liang vaginanya, dan aku dapat merasakan kepala penisku menyentuh klitorisnya. Aku tahan batangpenisku agar tidak langsung masuk kedalam vaginanya, dan aku mulai memegang batang penisku ku kocok perlahan an aku gesek2an pada bibir vaginanya.
AKU : “Vagina mu sdh siap belum untuk ku tusuk, perek..!!” Kutanya Ibu Mertuaku dengan kata yang agak kasar.
RINI : “Aku udah pernah merasakan yang lebih besar dari ini, bajingan..!!” Katanya sambil sedikit mendesah dan memajukan pinggulnya.
AKU : “Yeahhh…aku berani bertaruh, berarti udah banyak kan yang masukin Penisnya ke Vagina Ibu…hehehe”. Aku mencoba membalas pernyataannya.
RINI : “Apa kamu bilang…?? Klo aku membuka pahaku untuk semua lelaki,katamu..?
AKU : “Yup, benerkan bu.., kan Ibu tadi bilang pernah rasain yang lebih gede…hehe”.
RINI : “Yeahhhh…,hehehe…tapi Ibu Yakin koq, pasti ada lelaki yang bisa melakukan ini lebih baik dari kamu,..hahahaha”. Ibu mertuaku tertawa, tetap dia terlihat selalu mengcilkan hatiku, atau dia berkeinginan besar akan kepuasan yang nanti akan kuberikan kepadanya.
Aku sudah tidak sabar lagi memposisikan penisku di depan gerbang kenikmatan itu, bibir vaginanya sduah terlihat sangat basah becek, dan siap menerima hujam2 hujaman dari penisku.
AKU : “Aah..berisik banget sih Bu…dasar Ibu Mertua Pelacur….mending rasain ini…!!”
Aku katakan sambil mendorong maju pinggulku dengan sekali hentakan yang menyebabkan Penisku masuk sedalam 3 inci kedalam Vagina Ibu Mertuaku dan aku dapat merasakan bahwa ini belum masuk sepenuhnya, ku tarik lagi penisku secara pelahan dan ku hujamkan lagi kali ini penisku dengan hentakan yang lebih keras dari hentakan awal. Kurasakan vaginanya yang memang terasa masih sempit walau dengan hempasan keras penisku, aku masih merasa belum sepenuhnya masuk. Dengan hujaman penisku yang agak kasar, kulihat Ibu Mertuaku menjerit, entah kesakitan atau menikmati dan kulihat kuku jarinya mencakar dan mencengkram karpet yang menjadi alas persetubuhan kami di lantai, yang baru kusadari bahwa teriakannya adalah sebuah jeritan dari dampak kenimatan birahi sebuah sensasi benturan yang sangat kuat dari Penisku terhadapa liang Vaginanya yang sangat tiba2 dan terasa agak mendadak.
RINI : “Akkhhhh……sshhhhh eemmpffff….yesss, iya sayang masukin penismu yg dalam ke Vagina Ibu, setubuhi aku…sayang…!! Berikanlah Ibu Mertuamu ini kepuasan yang terbaik!!” Keluarlah kata2 dan jeritan mendesah dari mulutnya, kutindih tubuhnya yang sangat sexy dan sangat menggiurkan itu.
Dengan menindih tubuh Ibu Mertuaku, aku memberikan respon atas perkataannya. Ku lanjutkan pompaan penetrasi pada Vagina Ibu Mertuaku yang makin basah berlendir dengan hujaman hujaman yang cukup keras dan bertenaga dengan sangat perlahan dan semakin dalam tiap hujamannya. Hentakan demi hentakan yang semakin dalam kuberikan dari penisku terhadap Vagina Ibu Mertuaku Rini, memberikan sensasi tersendiri yang sangat luar biasa yang dapat kurasakan, setiap hentakan membuat Rini Sang Ibu Mertuaku menjerit kesakitan, mendesah keenakan dimana rasa itu bercampur menjadi satu untuk dia rasakan, tubuhnya pasrah menerima hujaman dan tikaman dari Menantunya, wajahnya sedikit memerah menahan rasa sakit pada Vaginanya yang memang ku hantam sangat keras dengan penisku, siksaan demi siksaan birahi dari nafsu persetubuhan kami yang kami lakukan membawa kenikmatan tersendiri bagi dirinya dan kepuasan bagiku dengan melihat wajahnya yang sangat cantik sexy dan menawan akhirnya dapat kusetubuhi, anganku terwujud. Ibu Mertuaku seperti ketagihan akan rasa sakit dan nikmat yang dia rasakan sewaktu penisku keluar masuk di Vaginanya.
Dalam beberapa detik akhirnya Vagina Rini mulai agak melonggar dan terasa tidak terlalu sempit lagi, dan akhirnya bisa menerima penisku seutuhnya di dalam vaginanya. Tubuhnya mulai mengikuti irama hentakan penetrasiku maju dan mundur, tiap gerakan, kami nikmati dengan penuh konsentrasi dan tiap gerakan juga menciptakan bunyi seperti tepukan atara basahnya kulit yang beradu akibat benturan demi benturan yang tercipta, menambahkan sensasi persetubuhan tabu yang sangat terlarang ini makin nikmat dan tidak ternilai keindahannya, antara diriku dan Ibu Mertuaku.
Melihat kebawah, kearah Tubuh Ibu Mertuaku yang sangat menggoda, aku merasakan suatu nafsu dari gairah keintiman yang mendadak secara tiba2 muncul untuk mencium Ibu Mertuaku. Kumajukan sedikit wajahku kearah bawah searah dengan wajah Rini Sang Ibu Mertuaku, dengan posisi penisku tetap melakukan penetrasi pada vaginanya, kutatap matanya tanpa basa basi langsung kukecup bibirnya yang bergincu merah muda, kulumat bibinya dengan bibirku dengan sedotan2 penuh nafsu. Dengan hisapan bibirku terhadap bibirnya, Ibu Mertuaku bereaksi dengan melingkarkan kedua lengannya kepunggungku dan memeluku dengan sangat erat, Rini mendekapku sangat erat penuh dengan nafsu binatang, dia membalas tiap ciuman yang kulakukan dengan penuh kegilaan, persetubuhan ini telah dimulai, persetubuhan yang sangat erotis sensasional dan penuh dengan kenikmatan dosa yang sangat berbirahi tinggi, antara aku dengan Ibu Mertuaku.
Ku jejalkan lidahku kedalam mulutnya sampai dengan ketenggorokannya, Ibu Mertuaku membalas dengan menghisap lidahku dengan penuh nafsu, kulihat percumbuan kami, Mata Ibu Mertuaku terpejam menikmati digauli oleh menantunya, dan mungkin dia membayangkan bahwa lidahku adalah penis yang sedang merogoh masuk ke dalam mulutnya.
Kami mencium,menghisap, menjilat an menggoda satu sama lain, gairah dari nafsu birahi kami mulai memuncak, suara2 desahan, keanakan, dan jeritan kami memenuhi selurh ruangan tengah, dimana tempat kami sedang bergumul. Beberapa saat persetubuhan kami, aku merangkul erat tubuhnya dan memutar posisi kami tanpa melepaskan penetrasi antara penisku dan vaginanya, sekarang Rini Ibu Mertuaku berada diatasku dan aku bisa melihatnya lebih liar, seperti pelacur yang sedang beraksi.
Gairah persetubuhan terus berlanjut, Rini mulai merebahkan tubunya diatas tubuhku dan mukanya bertumpu pada pundakku yang dimana wajahnya menjadi tepat disebelah pipiku, dan dia memerintahkanku untuk mencium kembali bibirnya, perintahnya langsung kulakukan dengan mendekap erat tubuhnya.
Tiba2 Rini menarik bibirnya dari bibirku, dan kembali duduk diatasku bertumpu pada lututnya. Dia sedang merasakan kenikmantan dari kerasnya batang penisku yang seutuhnya ada didalam dirinya di dalam Vaginanya yang masuk sangat dalam, dan dapat kurasakan penisku menyentuh diding rahimnya, dimana tempat Istriku Nadya dikandungnya selama 9 bulan, tetapi karena sekarang Ibu Mertuaku berada diatasku sepertinya sekarang dia ingin mengendalikan sepenuhnya Persetubuhan ini. Dengan gayanya yang sudah pasti bagaikan pelacur tingkat tinggi, Ibu Mertuaku meremas remas kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menaik turunkan badanya memompa vaginanya terhadap penisku, ketebalan penisku tengelam dilahap oleh Vagina Ibu Mertuaku, dan aku mulai merasakan cairan Vagina Ibu Mertuaku mulai mengalir keluar melalui sela2 antara batang penisku dan bibir Vaginanya.
Aku berbaring santai saati itu penuh dengan ke relaks-an, memandang keatas kearah Ibu Mertuaku, memuaskan birahiku dengan memandangi pemandangan yang sangat luar biasa yang baru kali ini aku alami seumur hidupku, sepasang payudara wanita berumur yang masih sanagt indah bergantung dan berggoyang naik turun yang terlihat dari dalam pakaiannya yang sangat halus menerawang. Payudaranya membuatku menjadi membayangkan sebuah gelombang, sebuah gelombang payudara yang cukup berisi dan padat yang siap timbul ke permukaan. Ku raih payudara Ibu Mertuaku itu, kuremas dengan telapak tangan ku satu demi satu. Ku nimtai sensasi itu, impianku selama ini yang akhirnya terwujud, payudara yang indah yang masih terlihat seperti wanita yang sedang menyusi, masing sangat montok sekali dan sangat natural.
RINI : “Iya sayang, kaya gitu, pegang terus payudara Ibu, selagi aku menaiki kamu,…akkhhhh Sayang,….Ooh…aah….saaaayang…aku mau kamu sepenuhnya sayang,seutuhnyaaaa…,Ibu mau setiap inci-nya dari Penismu memenuhi Vaginaku….aaarrgghhhhh!!!”.
Ibu mertuaku terlihat seperti akan mencapai klimasknya, tubuhnya tegang dan makin liar seperti binatang, tubunh ibu mertuaku maju sedikit agak membungkuk dan memindakkan tangannya keatas dadaku dan mencengkram erat dadaku dengan cakarnya dan berpindah lagi ke lantai bersamaan dengan tubuhnya yang mulai menggerakan pinggulnya dengan cepat, sangat menggebu gebu agak kasar, nafasnya mulai tidak teratur sering dengang kocokan Vaginanya terhadap Penisku naik dan turun, yang memang rasanya sangat luar biasa.
RINI : “Ooohhhh…sayang…aku sebentar lagi nih…hhhuuufffff….argghhhhhh…., sangat…sangat gak tahan nih Ibu Mertuamu…!! Buat aku puas sayang…buat aku klimaks…, setubuhilah Ibu Mertuamu yang sekarang menjadi Kelinci mu yang binal, dan puaskan pelacurmmuuuuu ini sssaaaayangg…!!”.
Ku raih lagi kedua payudaranya dengan kedua telapak tanganku, kujepit putingnya dengan jari2 ku sambil kuremas payudaranya, yang mengakibatkan Ibu Mertuaku menjerit nikmat.
AKU : “Iya Bu…nikmatin Bu, semprotin Cairan klimaks Ibu ke Penisku, biar aku bisa rasakan vagina ibu lebih nikmat lagi!!”.
Beberapa kalimat yang terlontar dari mulut Ibu Mertuaku. Bola matanya terpejam di balik kelopak matanya, tubuhnya seperti menjadi kaku, Vaginanya mengjang sangat hebat, mulutnya terbuka menganga meracau tidak karuan dan beberapa detik kemudian Rini mendesah, mengerang hebat, tubuhnya bergetar, seperti anjing betina yang sedang melonglong disetubuhi pejantannya, dan aku langsung bisa merasakan hangatnya cairan Vagina Ibu Mertuaku yang sebenarnya Cairan surgawi Ibu Mertuaku yang mengalir menelusuri batang penisku yang masih tertancap di Vaginanya.
Akhirnya tubuh Ibu Mertuaku merosot tumbang ke dadaku, tubuhnya masih sedikit bergetar agak gemetaran efek dari klimaks yang baru dialaminya tadi, Ibu Mertuaku mendesah dengan sedikit mengerang halus ke kupingku sebagai tanda bahwa dia telah mencapai puncak kenikmatan klimaks dari persetubuhan yang kami lakukan.
RINI : “Ohh Sayang, yampun…Itu tadi benar2 Surga, Ibu Merasa seperti di Surga”. Desahan yang keluar dari mulut Ibu Mertuaku.
Aku berpikir, bahwa urusanku belum selesai, jika dia sudah aku belum. Memang kurasakan tubuh Ibu Merutaku sudah sangat lemas lunglai dan merosot diatas tubuhku, tetapi Penisku masih berdiritegak dengan kerasnya di dalam Vaginanya, sudah sampai sejauh ini tindakan dari kami berdua dan aku juga harus mendapatkan kepuasan darinya, dan ini adalah penentuanku untuk segera mengisi penuh rahimnya dengan spermaku, sebelum dia tersadar dari kelemasannya.
Dengan mendekap erar kembali tubuhnya, dengan segala sisa keatanku kubalikan kembali posisiku seperti awal dengan posisi sekarang berada ku diatas Ibu Mertuaku. Hal ini ternyata tidak diperkirakan dan tidak seperti yang Ibu Mertuaku harapkan, dan sperti yang sudah terjadi dengan keadaannya di bawahku, Ibu Mertuaku mulai merasakan kembali serangangan dan hujaman secar penuh penisku kedalam Vaginanya.
RINI : “Ya ampun Sayang, udah donk…jangan lagi…plisss!!”. Dia memohon kepadaku.
Aku sama sekali tidak mempedulikan perkataannya. Aku selipkan tanganku ke bawah masing2 pahanya dan secepat mungkin mengangkat pahanya keatas dan membuka lebar sampai dengakulnya hampir saja menyentuh payudaranya. Sesegera mungkin ku tancapkan dalam2 penisku kedalam vagina Ibu Mertuaku sampai kurasakan kembali dinding rahimnya yang menyentuh kepala penisku, dan aku kembali merasakan nikmatnya kelaur masuk penisku di Vaginanya yang masih terasa agak basah tetapi juga agak kesat, dan disitulah letak kenikmatannya.
RINI : “Tidaaaakk….sayang, jangannn,Plis..!!”. Ibu mertuaku sudah kehabisan tenaga.
Tanpa mendengarkan perkataannya, tanpa ampun kuhentakan penisku yang masih teteap keras ke dalam Vaginanya secara kasar dan kali ini temponya sangat cepat, kumasukan lagi..lagi..dan lagi…tanpa menghiraukannya.
RINI : “No…no…jangan…lagi..sayang…Oohhhh yeaahhhh akhhh yesss..”. Rini kembali mengerang keenakan seiring dengan dirinya mendekati klimas untuk yang kedua kalinya.
Ku tekan kebawah sekuat tenaga, tubuhku menindih paha Ibu Mertuaku yang sudah terbuka lebar hingga hampir menyentuh payudara Rini, dan posisi ini adalah posisi yang paling sempurna untuk melepaskan spermaku ke dalam Rahim Ibu Mertuaku.
RINI : “Ooohh..yesss…bajingan kamu Nang,…yes..yes…yes…selesaikanlah cepat…”.
Rini mencoba mengangkat tubuhku dengan sekuat tenaganya, karena daya dorong tubuhku yang terlalu kuat, dan efek dari klimaksnya yang kedua yang kembali menyiksanya di dalam kenikmatan, semua syaraf seperti bersetruman satu sama lain, tetapi tubuhku tetap memompa dirinya, mungkin Ibu Mertuaku berpikir aku menggunakan Penisku dengan sangat kasar kepadanya dan mungkin dia menyukainya, kulakukan Penisku untuk menghujam Vaginanya seperti mau menombak lantai.
Akhirnya aku memuncratkan Cairan surgawi lelakiku ke dalam Rahim Ibu Mertuaku, dimana tempat Istriku Nadya dikandung dan dilahirkan, dan Ibu Mertuaku akhirnya bisa mendengar raungan hebat yang keluar dari mulutku, dan Rini mulai merasakan tubuhku mulai melemas, dan kupingnya bisa mendengar desahan kepuasan yang keluar dari mulutku dan aku sangat yakin nahwa Ibu Mertuaku dapat merasakan ledakan yang menyemprotkan benih kehidupan yaitu cairan putih kental yang membanjiri Rahimnya.
Ibu Mertua ku pun bisa merasakan tubuh menantunya seperti tumbang diatasnya dan mulai melemas, otot2 ku mulau relaks kembali, aku merosot merebah ketubuh Ibu Mertuaku, dan kejadian ini akhirnya berakhir.
Ku cabut Penisnku dari Vagina Ibu Mertuaku, dan aku pindah berbaring di sebelahnya dan sedikit melakukan percakapan selepas permaianan sex terlarang ini. Dengan sedikit percumbuan mesra yang kadang masih kami lakukan sesekali.
Ciuman ringan sesekali kukecupkan di bibir Ibu Mertuaku, dan juga bergantian. Pada akhirnya kami berdua menyadari bahwa di malam yang basah dan dingin ini, dengan semua kejadian yang telah terjadi merubah hubungan aku dan Ibu Mertuaku, antara Mertua dan Menantu, entah menjadi apa, yang pasti kami tau sama tau dan mau sama mau. Di lain waktu kadang kami lakukan kembali, jika memang keadaan sedang mendukung.

At least this Story just my Imaginations, is not real.
Because, I Really2 Obsess with my Mother In Law.

TAMAT


Aku berbaring di sofa, dengan segelas anggur sambil mendengarkan siaran dari stasiun radio lokal. Istriku, Nadya sedang pergi beberapa hari untuk berbisnis, dan dia mengambil kesempatan ini untuk bersantai sendirian di sore hari, dimana semua perhatian dan kekhawatiran, tidak terpikirkan olehku seperti yang biasanya terjadi, aku bisa duduk dengan santai. Sewaktu aku hendak menuangkan kembali anggur ke gelasku, aku mendengar suara hujan yang turun menerpa dengan keras jendela ruangan dimana tempat aku bersantai. Dihadapanku terdapat suatu perapian dengan kayu bakar yang terbakar, yang memberikan kehangatan. Meskipun musim dingin tahun ini agak ringan, tapi hari ini tetap terasa sangat dingin. Dengan udara yang dingin ditambah dengan derasnya hujan. Malam ini terasa seperti malam yang terasa agak mesum bagiku dan aku juga merasa tidak perlu untuk keluar dari rumah.
Aku hanya menuangkan gelas demi gelas anggur dan merapihkan serta menyusun kayu pada perapian, dan pada saat itu bell pintu berbunyi. Aku menyeruput seteguk anggur dari gelasnya dan menunggu beberapa saat, hanya ada dua hal yang ada pada pikiranku saat itu, membukakan pintu atau tidak, dan siapakah yang mencoba mengganggu diriku malam ini. Sebenarnya aku telah memutuskan untuk memberi tahu kondisiku kepada seseorang yang ada diluar, aku mencoba menjawab, saat suara bell terdengar untuk kedua kalinya.
Meletakan minumanku di meja dan mulai melangkahkan kakiku maju kedepan pintu menyalakan lampu di teras depan. Meskipun aku dapat melihat bentuk bayangan dari orang yang datang malam itu, aku tetap belum bisa menentukan siapakah itu, ataupun dengan sebab yang lain, apakah itu wanita atau pria. Melepaskan grendel lalu membuka pintu yang ternyata adalah Rini, Ibu Mertuaku yang sedang berdiri di beranda teras rumahku, yang akan kebasahan bila tidak segera kupersilahkan masuk.
“Hai sayang, aku pikir dirumah gak ada orang”. Kata Rini.
Walapun tidak berharap, aku juga tidak terlalu surprise dengan kedatangan perempuan yang biasa dipanggil dengan panggilan Rini. Ibu Mertuaku ini sangat dekat dengan anak perempuannya yang kini menjadi istri ku, sering sekali mereka berkomunikasi melalui telepon untuk mengobrol, sejak dia kehilangan suaminya setahun yang lalu.
“Silahkan masuk, bu”, aku mempersilahkan masuk Ibu mertuaku yang berdiri di beranda teras. “Nadya lagi gak dirumah, dia pergi berbisnis, aku pikir dia memberi tau Ibu”. Kata ku, sambil menutup pintu Rumah untuk menghalau Angin dan hujan yang memang agak kencang.
Rini, membalikan badan dan wajahnya kearah ku.
“Gak, istrimu belum bilang tuh, malahan sekarang Ibu berpikir untuk menghubungi istrimu untuk mengatakan bahwa aku akan menghabiskan waktu disini selama satu atau dua hari, untuk menyelesaikan beberapa hal”.
“Memang ada yang penting, Bu”? Aku bertanya.
“Gak lah, gak juga sichh, tapi Ibu muncul tiba2 karena memang Ibu butuh teman untuk ngobrol, tapi klo sibuk ya udah gpp koq, Ibu pulang lagi ya”. Ibu Mertuaku mengatakan hal tersebut sambil membuat bahasa tubuh seakan-akan siap untuk pergi meninggalkan diriku.
“Ya udah sih Bu, gpp koq, masa cepet amat langsung pergi, aku lagi gak ngapa2in koq, sebenarnya sekarang aku sedang bersantai aja di sore hari menjelang malam ini, mari Bu aku bantu untuk melepaskan mantel Ibu”. Kata ku, dengan sigap membantah kata2 Ibu Mertuaku.
Rini membalikan badannya agar diriku bisa dengan mudah membantu melepaskan mantelnya, dengan demikian secara tidak sengaja Rini menawarkan sebuah pemandangan punggungnya kepada ku. Selagi Ibu Mertuaku membuka kancing depan mantelnya, aku meraih Mantel dari Pundak Ibu mertuaku dan menurunkannya melalui bahunya. Dengan cepat dan insiatif aku menurunkan dan melepaskan Mantelnya, membuka mantel yang dikenakan oleh Ibu Mertuaku. Mantel yang berwarna biru terang terbuat dari rajutan bulu domba, dan ketika mantel nya dibuka telihatlah Baju Ibu Mertuaku bermodelkan terusan langsung tanpa kerah yang berbentuk huruf “V”, yang agak menonjolkan dadanya yang terlihat menggoda.
Pada kenyataannya pakaian yang dipakai oleh Ibu Mertuaku terlihat sangat cocok dan enak dilihat mata. Aku melihat Ibu Mertuaku dengan pakaian seperti itu mungkin hanya pada acara2 tertentu saja, atau mungkin saat kebetulan bila Ibu Mertuaku sedang memakainya, dan aku tidak cukup mempunyai alasan untuk meminta Ibu Mertuaku special memakai pakaian seperti itu hanya untuk diriku, dan memang hal seperti ini menjadi favorit diriku, terutama hal ini diperlihatkan Ibu Mertuaku saat Ibu Mertuaku menginjak umur 55 tahun, tetapi pada umurnya yang sudah cukup tua itu Ibu Mertuaku lebih terlihat seperti perempuan berumur 36 tahun, atau mungkin 25 Tahun, yang pasti jika orang melihat pasti masih cocok di skala umur 35-an tahun. Satu hal, sudah pasti Ibu Mertuaku sangat menjaga penampilannya agar selalu bisa tampil anggun dan cantik.
“Masuk Bu, silahkan ke dalam”. Aku berkata sambil menggantungkan Mantelnya. Seperti yang aku lakukan, aku tidak bisa mengantar Ibu Mertuaku masuk ke dalam, tetapi aku memperhatikan bagian belakang Ibu Mertuaku yang terlihat sangat memukau dengan gaya jalannya dan lenggokan pinggulnya saat berjalan menuju ruangan tengah tempat aku bersantai. Tampak belakang dari tubuhnya terlihat sangat indah, aku berkata di dalam hati, aku juga memperhatikan Pantat Ibu Mertuaku yang sangat elok nan rupawan yang bergoncang dan bergoyang ke kanan dan ke kiri terbungkus oleh kain halus pakaian terusannya yang agak ketat di daerah pinggulnya, seiring dengan langkah kakinya yang indah dah rupawan.
Rini menghilang masuk ke dalam rumah dan aku mengetahui bahwa diriku sedang berfantasi tentang Ibu Mertuaku, apa reaksi Ibu Mertuaku apabila dia tau bahwa tubuhnya sedang diperhatikan oleh menantunya atau dia tau bahwa Menantunya sangat mengaggumi dirinya. Lalu kemudian, dan lagi, aku sedikit banyak mulai berharap, aku mulai melangkahkan kaki ketempat dimana Ibu Mertuaku berada, dan aku juga sambil mengkhayal apabila Ibu Mertuaku tau dengan perasaannya yang sedang diperhatikan oleh Menantunya.
Aku mengikuti Ibu Mertuaku dari belakang ke ruang tengah dimana sebelumnya aku sedang bersantai dan memberikan isyarat kepada Ibu Mertuaku supaya membuat dirinya nyaman selagi aku menuangkan segelas Wine. Meskipun demikian, aku tetap tidak bisa menahan untuk tidak memandangi tubuh Ibu Mertuaku dari pojok mataku sewaktu dia duduk di Sofa. Lalu aku berjalan sambil meminum segelas wine yang ada di genggamanku. Lalu aku menawarkannya segelas Wine yang memang sudah kusediakan untuk Ibu Mertuaku.
Untuk beberapa menit kami mulai membicarakan tentang Nadya istriku, Nadya dan pekerjaannya yang memang membutuhkan dan menyita banyak waktu dan sementara kami berbicara, aku mengalami kehilngan kontrol pada matanku dan aku sangat susah untuk mencegah mataku untuk memperhatikan tubuh Ibu Mertuaku yang sangat mengundang birahi. Dua kali aku mencoba membenarkan posisi duduk ku dari kekhawatiranku terhadap Rini Ibu Mertuaku, yang mungkin bisa melihat sesuatu yang berubah pada celanaku.
Kami melanjutkan perbincangan tentang suatu hal yang memang menarik tetapi juga mungkin hanya perbincangan kosong dan tidak terlalu penting sehingga aku semakin dibuat mabuk kepayang oleh kesensualan dan keindahan Tubuh Ibu Mertuaku.
Memang sudah tidak diragukan lagi tentang hal itu, aku merenung dalam hati, Ibu Mertua atau bukan, Rini adalah seorang perempuan yang sangat menarik. Aku tersenyum kecil dan membayangkan perkataan dari orang-orang bahwa diriku mempunyai Ibu Mertua yang cantik dan sangat Modis, terlebih lagi pada saat malam ini, berpakaian rapih ketat walau tidak minim tapi memperlihatkan lekuk tubuh yang sangat sempurna, semua yang aku bayangkan secara tepat adalah sebuah sosok yang sangat menantang, sesosok perempuan yang menggoda yang sedang duduk dan secara tidak langsung Ibu Mertuaku juga terkadang menyembunyikan lirikan matanya, aku juga tau bahwa mungkin Ibu Mertuaku sudah masuk ke dalam sebuah atmosfer ketertarikan lawan jenis. Jika itu benar, aku akan sangat sulit untuk mempercayainya karena memang sejauh yang aku tau Ibu Mertuaku tidak mempunyai ketertarikan untuk makan malam atau minum Wine dengan lawan Jenis atau membina hubungan dengan lawan jenis semenjak dtinggal oleh suaminya.
Mata ku hanyut kepada Dadanya yang cukup sexy, kedua mataku menelusuri kerah kerah pakainnya yang berbentuk “V” yang agak rendah mulai dari atas kerah dari leher sampai ke akhir dari kerah tersebut, ukuran dari dada Ibu Mertuaku cukup membuat pakaian yang dikenakan olehnya menjadi sangat Ketat dan menggoda sangat mempesona dan menggairahkan, lalu aku diam2 meyakinkan ukuran buah dada dari mertuaku itu melalui belahan dada yang terlihat dari kerah “V” – nya. Belahan buah Dada Rini terlihat, naik turun seirama dengan nafasnya, yang kadang ditarik cukup dalam saat mengela nafas.
Mata ku terus tertuju kearah garis payudara dan lekukan tubuhnya yang tercetak pada pakaiannya yg ketat, pinggangnya yang ramping, belahan pinggulnya yang sangat montok nan bahenol dan terus tertuju kearah kaki Ibu Mertuaku, kaki yang sangat bagus, mulus terawat dengan sangat baik serta betisnyanya yang sangat menggoda. “ Mmmm…”,aku bergumam dalam hati dan berfantasi apabila aku bisa mendapatkan Ibu Mertuaku dan meraba seluruh tubuhnya.
Aku juga mengetahui bahwa Rini-Ibu Mertuaku mengenakan kaos kaki panjang nilon atau lebih tepatnya stoking, atau jika dilihat sesaat seperti celana ketat tapi memang terlihat seperti stoking. Mengetahui dirinya mengenakan stoking, aku berasumsi bahwa itu adalah benar2 stoking. Pendapat ku dalam hati, mungkin ibu mertuaku agak malu untuk mengenakan celana ketat, tapi itu hanya pendapatku saja.
Hampir tersadar dari lamunan tentang Ibu Mertua, aku mencoba mendengarkan perkataan Ibu Mertuaku sekali lagi dan sesaat diriku seperti mencoba tersadar dari khayalan nakalku, dan setelah tersadar ternyata aku tidak menyimak semua obrolan yang sedang kami perbincangkan.
“Eee..Ya..Duh, Maaf bu kenapa?”, kata ku. “Tadi aku lagi sedikit melamun, Bu. Tadi Ibu bilang apa?”
“Ya ampun, Sayang…,Hey, kamu sudah bosan ya mendengarkan ocehan Ibu Mertuamu?” Kata Rini.
“Gak..gak koq Bu, ya ampun Gak Bosen juga kali bu”. Diriku menyahut. “Aku hanya gak ngerti banget maksud dari perkataan Ibu”.
Rini melihat kearah diriku dan menganggukan kepalanya dan mencoba kembali menjelaskan pertanyaannya itu.
“Tadi Ibu Tanya, apakah kamu akan jemput Nadya di airport, sepulangnya istrimu itu?”
Aku meyeruput Wine dan berkata,”Tidak biar dia naik taksi saja, lagi pula dibayarin koq sama perusahaannya”.
“Dan Nadya pulangnya hari Kamis ya, katamu tadi”?Tanya Ibu mertuaku.
“Ya mungkin pada sore Hari-nya”, jawabku, sambil terus melirik kearah tubuh nya.
“Ooh..kasian banget kamu, tidur sendirian di tempat tidur sebesar itu untuk beberapa malam?Pasti kamu akan merasa kesepian banget”.Kata Rini sambil menurunkan tangannya kearah kedua belah pahanya dengan bersamaan menyilangkan pahanya bertumpu ke paha yang lain dengan gerakan yang tidak menentu.
Bagi ku, sementara komentar itu muncul dari mulut ibu Mertuaku, yang akhirnya keluar ke dalam pembicaraan mereka, membuat diriku seperti terkaget akan komentarnya yang seperti itu. Dengan nada rendah aku menjawab.
“Ya bu, memang sudah seharusnya seperti itu”. Jawabku.
Kulanjutkan perhatian kepada tubuh Ibu Mertuaku sementara Ibu mertuaku tetap mengoceh, memperhatikan pakaian terusan yang agak ketat di badannya sampai dengan lutut-nya. Hampir saja terpikir oleh ku, bahwa Ibu Mertuaku seperti akan menunjukan untuk memperlihatkan betapa mulusnya kaki dan pahanya. Tapi hal tersebut tetap tidak bisa membantu diriku untuk memulai berkhayal jika tanganku bisa membelai mulusnya paha dari Ibu Mertuaku yang terlihat sangat terawat dengan mahal, ujung kakinya yang terbalut oleh kain stoking dan juga meraba indahnya tubuh dibalik pakaianya yang menutupi tubuh Ibu Mertuaku, dan akhirnya aku kembali membetulkan posisi duduk ku untuk menutupi suatu perubahan pada diriku.
Pembicaraan terus berlangsung diatara kami, satu2nya persoalan yang mengganggu diriku adalah sewaktu aku berdiri untuk menuangakan wine ke gelas Ibu Mertuaku. Sewaktu pembicaraan masih berlangsung, Rini berbicara kepada ku,” Bagaimana jika kita nonton Film yang selalu di rekam oleh Nadya?”.
Karena waktu kerja Nadya yang sangat panjang dikantornya, Nadya selalu merekam Film yang terlewat untuk di tonton-nya kemudian. Seperti aku, Rini pun tau kesenangan anak perempuannya. Sesampainya dirumah dari kantor, mandi, berpakaian, lalu menyalakan TV, duduk relaks dan menonton salah satu film yang sudah dia rekam. Rini pun juga kadang2 suka begitu, ataupun bergabung bersama anak perempuannya itu.
“Ok, boleh juga tuh Bu”. Sahutku.
Aku tuangkan segelas wine untuk nya, lalu aku berjalan kearah TV. Membuka lemari TV dan menyalakannya, lalu mulai membaca judul2 film yang akan di putar. Ada sebagian film yang tidak ada judulnya, disitu hanya tertera Nomor dari film tersebut. Aku tersenyum kecil melihat hal tersebut dan mempunyai ide di dalam pikiranku. Aku tau bahwa sebagian itu adalah film porno, dan aku ingin tau apa reaksi Ibu Mertuaku jika aku secara tidak sengaja memutar film porno tersebut.
“Apa yang akan dikatakan oleh Ibu Mertuaku?”, gumamku dalam hati. Dan jika ternyata Ibu mertuaku menolak dengan tegas, yang kuperlukan adalah meminta maaf, dan menjelakan bahwa ini murni ketidak sengajaan, dan mengganti dengan film yang lain.
Waspada jika Ibu Mertuaku tau bahwa diriku mempunyai niat Nakal dengan senyuman kecilku itu, aku memutuskan untuk segera memutar film porno tersebut, berharap dia tidak sangat tersinggung dengan kenakalan ku dan tetap baik kepada menantu laki2nya ini, dan mudah2an film tersebut menuntun kami ke arah yang lain.
“Film apa nih?”, Rini bertanya sebelum film itu mulai berputar.
“Aku juga gak tau, Bu”. Aku menjawab pertanyaan dengan muka polos.”Aku sich berharap ini adalah salah satu Film televisi yang baru saja direkam oleh Nadya”.
Aku memperhatikan Rini yang sedang menyeruput wine-nya. Film sudah dimulai menampilkan adegan pertama dan aku akan secepatnya bilang seperti yang aku rencanakan tadi. Aku tau kapan aksi pertama film itu akan dimulai, film ini berlatar di Jerman, dimana Rini pasti akan menyakan soal itu. Setelah aku sudah cukup yakin, dan adegan pertama mulai, dimana adegan itu menampilkan seorang suami yang sedang bercakap cakap dengan seorang perempuan pirang, lalu Rini berpaling kepada ku.
“Film ini berlatar dimana ya?Asal negaranya…?” Tanya Rini.
“Ya ampun..”, Aku menyeringai agak keras, bahwa aku salah memutar Film, yang kuputar itu adalah Film Horor. “ Jika aku sekarang salah memutar film pasti Ibu gak mau nonton ya?” Kataku.
“Kenapa…?Ada yang salah…?” Kata rini Ibu Mertuaku.
“Gak sih Bu, gpp ..”, Kata ku sambil berdiri dari kursi. “ Aku akan mengganti dengan film yang lain Bu”. Kata ku sambil berdiri.
“Udalah..gpp koq”, Kata Ibu mertuaku. “Klo kamu mau nonton ya gpp, klo emang film horror-nya bagus kenapa gak”.
“Bukan itu Bu, maksud aku…”, kubalas pendapat Ibu Mertuaku.
“Film yang satu ini…..bisa dikatakan, film ini agak nakal gitu deh Bu, aku gak yakin Ibu Setuju untuk menontonnya”.
“Ooohhh..ya ya ya, Ibu tau sekarang”. Rini menjawab, dimana film tersebut sedang menampilkan adegan seorang wanita berambut pirang sedang menurunkan celana seorang laki2.
Untuk sementara aku terdiam mematung, satu matanya kearah screen TV, satu matanya agak melirik kearah Ibu Mertuaku.
“Hmmm…udahlah sayang Gak usah khawatir dengan Ibu”. Rini berbicara, sambil menyenderkan punggungnya di sofa. “Udah lama banget nih Ibu gak nonton film kaya gini, sejak dulu Ibu pernah nonton sekali. Terus, kamu sesekali juga nonton film begian, apa kamu nonton semuanya, Iya kan?” Kata Ibu Mertuaku sambil sedikit tersenyum Nakal.
“Tuh kan, Ibu…Kan aku sudah bilang klo ini film…”, Aku membalas pertanyaannya sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi agar diriku bisa sedikit santai dari ketegangan akibat pertanyaan Ibu Mertuaku.
“Ibu Yakin Nih, mau nonton Film ini?” aku langsung menyambung pernyataannya dengan bahasa tubuh seperti orang tidak berdosa dan berharap semua berjalan lancar dan sesuai rencana.
“Ya, gpp. Udah gak usah takut”. Kata Rini Ibu Mertuaku.
Beberapa menit kedepan kami menyaksikan di layar TV dimana adegan tersebut menampilkan wanita pirang mulai membuka celananya di depan suaminya, lalu adegan tersebut belangsung panas si suaminya mulai menggoda istri mudanya yang berambut pirang itu dengan meraba payudara sampai dengan rabaan pada putting payudaranya. Aku memperhatikan adegan itu dengan sangat konsentrasi dan membayangkan wanita yang sedang ada di dalam adegan itu adalah Ibu Mertuaku sendiri yaitu Rini dan aku juga membayangkan bahwa laki2 yg ada dlm adegan itu adalah diriku sendiri, yang sedang membelai payudara Rini. Dalam khayalan aku membelai kedua payudara Rini dari satu ke yang satunya dengan sangat lembut, dan aku hanya bisa mengkhayalkannya saja.
Kami berdua duduk dengan meyandarkan punggung kami pada senderan kursi, dan memperhatikan Video tersebut dengan seksama sejalan dengan jalan cerita dari film tersebut, sehingga aksi dari film di Video tersebut berjalan sesuai dengan alur cerita dan cerita kian memanas. Dalam beberapa kesempatan aku mulai terangsang dan makin terangsang. Karena aku membayangkan yang ada di film tersebut adalah aku dan ibu mertuaku yang menjadi artis porno, dan memainkan suatu adegan ranjang yang sangat panas. Aku membayangakan seperti adegan yang ada pada film tersebut, bersetubuh dengan bepelukan, persetubuhan dengan doogy style, bahkan hubungan seks anal dan oral, aku membayangkan diriku melakukannya bersama Ibu mertuaku sesuai dengan tampilan yang ada pada layar TV. Akhirnya film tersebut selesai dan habis, dan aku sudah membenarkan posisiku berkali kali sejak film itu mulai sampai dengan selesai, karena beberapa kali aku sangat susah menutupi keterangsanganku bila aku berdiri dari bangku yang kududuki. Kira2 apa yang akan terjadi pada kami berdua, karena memang aku merasa bahwa Rini Ibu Mertuaku kadang juga memperhatikan keterangsangan yang kualami.
“Hmmmm….terus sekarang apa yang ada di dalam pikiran kamu Sayang?”. Pertanyaan Ibu Mertuaku yang sama sekali tidak terpikirkan oleh diriku, membuat aku sangat Kaget.
AKU : “Mmmm…sebeneranya sih, jujur saya agak malu Bu, duduk disini bersama ibu Nonton film beginian, dan saya tidak tau apa yang harus saya katakana sekarang”.
RINI : “Hmpff…udah deh jagan sok lugu gitu deh kamu, kan Tadi ibu dah bilang, aku juga sdh pernah nonton film kaya gini sebelumnya, dan ibu yakin kamu sama Nadya juga sering kan nonton film beginian berdua?”
AKU : “Ya pernah lah Bu, tapi kan gak sama rasanya. Aku nonton sama Nadya dan sekarang kan aku nontonnya sama Ibu, beda kan Bu Rasanya?”.
RINI : “Ya Jelas Beda lah Sayang, harus berbeda donk, aku kan Ibu Mertua mu, terus klo kamu sam Anna lagi nonton…rekasi Nadya kaya gmn?” Ibu Mertuaku bertanya seperti ingin tau.
Pertama kalinya Aku terlihat sangat malu walau sedikit.
AKU : “Kalo Nasya sih enjoy2 aja Bu, nonton film begianan sama aku, ya kadang agak2 kaget2 juga sih bu”
RINI : “Nah, terus reaksi kamu gimana?”
AKU : “Ya jelas lah Bu, reaksi aku ya tergantung Reaksinya Nadya Gimana ke aku…hehe”.
RINI : “Itu menurut kamu, bisa juga karena kalian nonton film porno Non Local atau film porno dengan gaya sex kasar gitu kali ya, jadi itu yang bisa bikin kalian terangsang”.
Aku bertambah kaget ketika Ibu Mertuaku memberikan pernyatanyaan yang sangat jujur.
AKU : “Gak juga sih Bu, mungkin kadang2 gitu”. “Ibu mau minuman lain mungkin Bu?” Aku sedikit menyela untuk mengganti topik pembicaraan.
RINI: “Boleh juga tuh, mau donk”.
Aku bangkit dari kurisku, mengambil cangkir dari meja kopi, dan mulai membuat minuman. Lalu kembali ke ruang tengah dan memberikan Ibu Mertuaku gelas dengan minuman itu. Lalu aku kembali duduk ke kursi.
RINI : “ Kenapa sih duduknya jauh2, sini donk duduk deket Ibu!”.
Permintaan Ibu Mertuaku itu sungguh sangat mengagetkan diriku dan untuk sementara, membuat ku bingung harus menjawab apa.
AKU : “Mmmm…Aku gak tau Bu..eh…”, Jawabanku berantakan karena sangat Grogi.
RINI : “Yahh…jangan mikir macem2 deh kamu, kamu pikir Ibu akan merayu kamu ya? Hahaha….iya kan, kan kamu mikir gitu kan?” Ibu mertuaku tertawa geli.
AKU : “Ya gak lah bu..jelas gak…Aku hanya …mmm…”
RINI : “Yaudah sich…gak usah kebanyakan mikir, sini..ayo..!!” Ibu Mertuaku memerintahkan diriku sambil bergeser memberikan tempat untuk ku dan mengajak aku segera berajak dan pindah ke sofa untuk duduk bersama dengannya.
Dengan senyum malu2, aku berpindah ke sofa sambil menaruh gelas minuman di meja, dan duduk disebelah Ibu Mertuaku.
RINI : “Nah gitu donk, gak knp2 juga kan?” Ibu Mertuaku sedikit menggoda.
AKU : “Ya iyalah bu”. Balas ku dengan agak bingung dan muka yang malu kemerahan.
Setelah kami duduk di besebelahan di satu sofa, untuk sesaat kami terdiam dan tidak ada yang berkata sepatah katapun. Aku merasa sepertinya harus memulai membuka pembicaraan lagi agar kesunyian ini bisa terpecahkan, ternyata Rini Ibu Mertuaku telah memulai pembicaraan terlebih dahulu.
RINI : “Mmm..trus, kamu jadi gak mau kalo ibu menggoda kamu ya?”.
AKU : “Aku gak bilang gitu lho bu”.Jawabku, sambil agak terkejut.
RINI : “Ooohhh…jadi kamu mau kaannnn?”
Balas Rini sambil sedikit meluruskan kakinya kedepan. Otomatis mata ku langsung tertuju menelusuri dari lutut samapai dengan bawah kaki Ibu Mertuaku dan sepertinya aku sudah mulai masuk kedalam godaan2 Ibu Mertuaku. Dan memang aku sudah sangat tergoda. Tanpa basa basi, kubiarkan mataku untuk memandangi Ibu Mertuaku dari betis hingga pahanya yang sangat terawat dengan indah.
“Aku gak bilang gitu lho bu…”, ku ulang kata2 ku tadi, mengetahui bahwa Ibu Mertuaku sekarang sudah mulai menggoda diriku dengan sesuatu yang bisa dibilang tidak pantas dilakukan oleh seorang Ibu Mertua kepada Menantu Laki2nya, dan diwaktu yang sama pula saat aku mulai menjawab pertanyaan dari Ibu mertuaku, aku terus berusaha dan terus mencoba menggiringnya kedalam perangkap yang sudah aku letakan, persiapkan dan rencanakan.
RINI : “Apa yang ingin kamu katakana si, Say?” Kali ini dia dengan sengaja bertanya seperti itu kepadaku, dan dengan sengaja pula menyilangkan kakinya agar bisa memperlihatkan pahanya yang sangat sensual.
AKU : “Aku jadi malu Nih, Bu, seharusnya kita juga jangan dan tidak boleh berpikir kearah situ kali ya Bu?” aku menjawab dengan sagat jujur dan berharap membawa situasi ini selesai sampai disini saja.
RINI : “Hahahahaha…..Kenapa sih Sayang, Ibu terlihat agak nakal ya?” Dia bergurau sambil mengedipkan satu matanya.
AKU : “ Iya bu, sedikit”.
“Ooohhh jadi begitu, hmmm….trus klo aku nakal, apa yang kamu lakukan untuk menghukumku?”Tanya Ibu Mertuaku. Sambil bertanya kepada ku, Rini berdiri dari sofa dan berputar untuk berdiri tepat di depan ku yang masih duduk di sofa. Perlahan, lalu dia dengan sengaja mengangkat baju terusannya sampai sebatas paha agak naik sedikit, sambil menaikan kakinya menginjak tempat duduk sofa tepat disebelahku , kini kakinya yang mulus tepat berada disebelahku. Sekali lagi aku tidak bisa berbuat banyak tapi diriku membiarkan mataku untuk menikmati keindahan betis dan paha dari Ibu Mertuaku yang sekarang tepat berada di depan mataku dan sangat mudah sekali untuk disentuh.
RINI : “Suka gak sama kaki Ibu?”. Tanya Ibu Mertuaku.
AKU : “Ya, sangat Indah Bu”.
RINI : “Hmmm…!! Kamu mau menyentuh kedua kaki ku dan membelainya?”.
Diriku tau, bahwa harusnya kutolak kesempatan tersebut, tetapi pemandangan yang sudah sangat dekat itu sangatlah menggoda birahiku. Akhirnya kugerakan tangan dan menempatkan telapak tanganku di dengkul Ibu Mertuaku. Merasakan lembutnya rasa dari kain nilon yang masih membungkus kaki Ibu Mertuaku itu di telapak tangan dan aku mulai meraba dan menyentuh halus paha Ibu Mertuaku.
RINI : “Mmmppff…Rasanya enak sekali sayang, jika dibelai seperti itu…Ssshh”. Rini hampir mendesah.
Sekali lagi dengan penuh semangat aku memulai yang seharusnya tidak boleh kumulai. Sekarang, aku tidak mungkin menolak untuk membiarkan tanganku menelusuri pakaian yang selama ini menjadi misteri bagi ku dan tanganku mulai merasakan kehalusan dari kulit paha Ibu Mertuaku yang masih terbalut dengan kain nilon dan jari2ku dengan cepat meneliti bahwa itu adalah stoking, dan ya Ibu Mertuaku menggunakan stoking.
AKU : “Stoking,Ya Ibu memakai stoking”. Aku hampir berbicara seperti itu, saking penasarannya.
RINI : “Tunggu dulu, Sayang, Pokoknya yang terbaik akan ku berikan kepadamu”. Ibu mertuaku mendengar apa yang ku katakan dan langsung menjawabnya.
Rasa dari kehalusan kain nilon tersebut memberikan sensasi tersendiri, cukup memeberikan rasa yang sangat membangkitkan gairah ku dan aku pun menyadari bahwa aku sudah berbuat terlalu jauh, dan aku sudah tidak bisa mengendalikan diri.
Dengan perlahan aku mulai meraih pinggiran bawah dari pakaian terusan yang dikenakan Ibu Mertuaku dan memulai dengan perlahan menaikannya keatas. Dalam beberapa detik mulai terlihatlah pangkal paha Ibu Mertuaku dengan pemandangan yang masih terbalut full dengan stoking. Aku berdecak kagum atas pemandangan itu, sebelum akhirnya Tanganku menaikan lagi lebih tinggi pakian Ibu Mertuaku beberapa inci keatas dan segera aku melihat bahwa Ibu Mertuaku ternyata tidak mengenakan celana dalam. Vaginanya yang berwarna merah jambu terlihat jelas. Terdengarlah kembali decak kagum yang keluar dari mulut ku.
“Ooohh….gila…tercukur dengan rapih!!”. Terucap dari mulut ku kekaguman itu dan aku memutarkan telapak tanganku kebelakang Ibu Mertuaku dan meraih kedua pantatnya yang sangat gempal dan montok dengan kedua tanganku dan mendorong pantat itu tepat kedepan mukaku sambil meremas pantat Ibu Mertuaku. Tangan ku mulai bergerilya meremas dengan sedikit kasar mencari lubang anus Rini dan mulai menggosong lubang tersebut dan jari2ku juga dan juga menyeruak ke dalam bibir Vagina Ibu Mertuaku diantara kedua pahanya. Aku langsung memajukan kepalaku, dengan lidah aku mulai menjilati Vagina Ibu Mertuaku dengan sedikit menyentuh klitorisnya dengan sapuan2 lidahku. Dengan cepat Rini meraih belakang kepalaku dan menempelkan kuat2 kepalaku ke dalam Vaginanya, dan mulailah hisapan demi hisapan dan sapuan lidah ku ke dalam Vagina Ibu Mertuaku.
RINI : “Ohh..ahhh..ya sayang, lebih dalam lagi jilat agak dalam…sshhhakkhhh”. Ibu Mertuaku meracau dan mendesah.
Ku hirup dalam2 aroma bau2an vagina Ibu Mertuaku ke dalam hidungku dan kurasakan rasa dari bibir Vaginanya. Bisa dibilang, seblumnya saya tidak pernah sama sekali untuk mengubungi no telp Dia (Ibu Mertuaku) untuk mewujudkan impianku/fantasiku terhadap wanita ini. Tetapi sekarang, dia Rini Ibu Mertuaku, dengan membuka mengangkangkan kaki nya selebar mungkin, dengan tangannya yang memegang kepalaku dan mendesah kepadaku untuk terus memberikannya kepuasan birahi kepadanya dengan terus menjilati Vagina nya yang tercukur dengan rapih.
Ku tekan dengan kuat kepalaku kea rah Vagina nya, lidahku terus menelusuri bibir Vaginanya, sambil kujilati dan ku goyangkan lidahku keluar dan masuk Vaginanya. Tanganku tidak berhenti bergerilya dari remasan di Pantatnya sampai dengan belaian dipahanya lalu kembali lagi meremas pantat Ibu Mertuaku itu, merasakan kepuasan dari rasa halusnya kulit Pantat Ibu Mertuaku yang berpadu dengan tekstur halusnya kain Nilon stokingnya.
RINI : “Oooohhh sayang,ya …terus sayang, hisap yang kuat, tunjukan kehebatanmu padaku sayang”.
Kutekan lidahku kedalam vaginanya kujilat semampu lidahku menelusuri bibir Vaginanya, dan akhirnya Rini mulai terasa mengumpulkan untuk menahan klimaksnya.
RINI : “Ooohhh…Ooohh..Ibu mau keluar nih, ssshhhhh akkhhhh…aduhhh… gak tahan lagi”.

bersambung


Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.

Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.

Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.

Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.

Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.

Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.

“Roy..!” panggil mama.
“Ya, Ma…” sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.
“Ada apa, Ma?” tanya aku.
“Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya…” kata mama sambil tengkurap.
“Iya, Ma…” jawab aku.

Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, “Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih…” tanya aku.
“Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?” tanya mama.
“Seluruh badan mama,” jawab aku.
“Ya sudah, mama buka baju saja,” kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.
“Ayo lanjutkan, Roy!” kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.
“Mama tidak malu buka baju depan Roy?” tanya aku.
“Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,” jawab mama sambil memejamkan mata.

Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai “memijit” paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.

“Kok dilewat sih, Roy?” protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.
“Mm.. Roy takut mama marah…” jawab aku.
“Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!” pinta mama.

Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.

Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.

Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.

“Roy, kamu ngapain?” tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.
“Maaf, Ma…” kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.
“Roy tidak tahan menahan nafsu…” kataku lagi.
“Nafsu apa?” kata mama dengan nada lembut.
“Sini berbaring dekat mama,” kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.
“Sini berbaring Roy,” ujar mama lagi.
“Tutup dulu pintu kamar,” kata mama.
“Ya, Ma…” kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.

Mama menatapku sambil membelai rambut aku.

“Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,” tanya mama lembut.
“Mama marahkah?” tanya aku.
“Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,” ujar mama.
“Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma…” kataku. Mama tersenyum.
“Berarti anak mama sudah mulai dewasa,” kata mama.
“Kamu benar-benar mau sayang?” tanya mama.
“Maksud mama?” tanya aku.
“Dua jam lagi Papa kamu pulang…” hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.

Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.

“Buka pakaian kamu, Roy,” kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.

Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.

“kontol kamu besar, Roy…” kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.
“Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?” tanya mama.
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, “Belum pernah, Ma.. Mmhh..”. Mama tersenyum, entah apa artinya.

Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.

“Enak sayang?” tanya mama sambil menengadah menatapku.
“Iya, Ma.. Enak sekali,” jawabku dengan suara tertahan.
“Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan…” ujar mama sambil menarik tanganku.

Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.

“Ayo, Roy.. Masukkan…” ujar mama sambil terus memandang wajahku.

Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.

“Enak, Roy?” tanya mama.
“Sangat enak, Ma…” jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.
“Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?” tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.
“Karena mama sayang kamu, Roy…” jawab mama.
“Sangat sayang…” lanjutnya.
“Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh…” lanjutnya lagi.

Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.

“Roy juga sangat sayang mama…” ujarku.
“Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh…” desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.
“Mama mau keluar…” desah mama lagi.

Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..

“Ohh.. Enak sayangg…” desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.

Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..

“Ma, Roy gak tahann…” ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.
“Keluarin sayang…” ujar mama sambil meremas-remas pantatku.
“Keluarin di dalam aja sayang biar enak…” bisik mama mesra.

Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.

“Mmhh…” desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.
“Terima kasih ya, Ma…” ujar aku sambil mencium bibir mama.
“Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!” kata mama.

Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.

Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.

Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,”ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?” tanya tante Rina.
“Hayo, ngapain..?” tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.
“Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok…” jawabku.
“Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,” tanyanya lagi.
“Curigaan amat sih, tante?” kataku sambil tersenyum.
“Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu…” ujar tante Rina sambil tersenyum.
“Kayak suara yang lagi enak…” ujar tante Rina lagi.
“Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah…” ujarku sambil bangkit.
“Maaf dong, Roy. Tante becanda kok…” ujar tante Rina.
“Kamu mau kemana?” tanya tante Rina.
“Mau tidur,” jawabku pendek.
“Temenein tante dong, Roy,” pinta tante.

Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.

“Ada apa sih tante?” tanyaku.
“Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,” jawab tante Rina.
“Kamu sudah punya pacar, Roy?” tanya tante Rina.
“Belum tante. Kenapa?” aku balik bertanya.
“Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?” tanya tante lagi.
“Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,” jawabku.
“Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?” tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.

Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.

“Ni tante lagi horny kayaknya…” pikir aku.

Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.

“Mmhh..”

Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.

“Roy, pindah ke kamar tante, yuk?” pinta tante Rina.
“Iya tante…” jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.

Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.

“Ayo Roy, tante sudah gak tahan…” ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.

Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.

“Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh…” desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.

Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.

“Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang…” desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.

Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.

“Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh…” desah tante Rina.

Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.

“Isep dong kontol Roy, tante…” pintaku.

Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.

“Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante…” kataku.

Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.

“Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan…” bisik tante Rina.

Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.

“Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan…” kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.
“Ah, biasa saja, tante…” ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.

Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.

“Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh…” desahnya.

Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.

“Tente udah keluar, sayang…” bisik tante Rina.
“Kamu hebat.. Kuat…” ujar tante Rina.
“Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.

Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.

“Roy mau keluar, Tante…” kataku.
“Jangan keluarkan di dalam, sayang…” pinta tante Rina.
“Cabut dulu…” ujar tante Rina.
“Sini tante isepin…” katanya lagi.

Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.

Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.

“Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,” ujar tante Rina.
“Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?” tanya tante sambil memeluk aku.
“Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,” kataku sambil mengecup bibirnya.
“Terima kasih, sayang,” ujar tante Rina.
“Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,” kataku.
“Iya, sana tidur,” katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.

Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.

“Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?” tanya mama mengejutkanku.

Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,”Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?” tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.

“Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,” jawabku.
“Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian…” ujar mama.
“Kalian hati-hatilah…” ujar mama lagi.
“Kenapa mama tidak marah,” tanya aku.
“Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,” ujar mama.
“Terima kasih ya, Ma…” kataku.
“Roy sayang mama,” kataku lagi.
“Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?” tanya mama.
“Bantu apa, Ma?” aku balik tanya.
“Mama ingin…” ujar mama sambil mengusap kontolku.
“Roy akan lakukan apapun buat mama…” kataku. Mama tersenyum.
“Mama tunggu di kamar ya?” kata mama. Aku mengangguk..

Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.

Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali.

TAMAT


Halo pembaca perkenalkan namaku Alex. Well, langsung saja kali ya. Ceritaku ini bermula kira-kira 5 tahun yang lalu. Saat itu umurku masih 16 tahun, yaah mendekati 17 tahun. Aku ingat betul karena ceritaku ini terjadi berdekatan dengan ulang tahunku, dan mungkin sedikit berhubungan dengan ulang tahunku itu.
Hari itu adalah tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku yang ke 17. Saat itu aku dan Mamaku sedang makan malam berdua. Oh iya ada yang hampir kulupakan. Sejak umur 15 tahun aku tinggal berdua dengan Mamaku. Orangtuaku bercerai ketika aku berumur 15 tahun. Dan aku memilih untuk ikut Mama. Entah kenapa tapi sejak kecil aku memang lebih dekat ke Mama. Mungkin karena Mama sangat sayang kepadaku.

Aku dan Mama tinggal di sebuah rumah yang lumayan besar. Maklumlah, Kakekku (dari pihak Mama) adalah pengusaha yang sangat sukses. Dan Mama adalah penerusnya. Oh iya sebagai gambaran, saat itu Mamaku masih berusia 33 tahun. Hari ulang tahun Mama terpaut dua minggu dari hari ulang tahunku. Mama mempunyai wajah yang sangat cantik. Berkulit kuning langsat yang menambah kecantikannya. Dengan tinggi dan berat sekitar 165 cm dan 45 kg membuat Mama terlihat sangat ideal. Sedangkan buah dada Mama kuperkirakan berukuran 36 yang nantinya ternyata terbukti perkiraanku salah.

Kembali ke cerita awal. Pada saat asyik-asyiknya aku melahap makan malamku, Mama tiba-tiba berkata, “Lex, besok kamu kan ulang tahun.”
Aku yang lagi enak-enaknya makan sih hanya mengangguk saja. Melihat aku yang tidak begitu menanggapinya, Mama berkata lagi, “Kalo Mama nggak salah umurmu udah 17 tahun kan?”
Dan seperti tadi, aku pun hanya mengangguk-angguk saja sambil tetap melahap makanan di depanku.

“Lex, Mama ingin ulang tahunmu besok menjadi ulang tahun yang berkesan buatmu. Jadi kamu boleh meminta kado apa saja yang kamu mau.”
Aku yang mulai tertarik dengan ucapan Mama pun bertanya, “Apa saja Ma..?”
“Iya, apa saja yang kamu mau,” jawab Mama.
Dengan hati-hati aku bertanya lagi, “Ma, Alex kan udah gede.”
“Betul, Mama tau itu. Lalu..?” tanya Mama penuh selidik.
“Alex rasa udah waktunya Alex tau yang namanya.. seks,” kataku dengan hati-hati.

Kulihat Mama agak terkejut dengan perkataanku barusan. Tapi setelah dapat menguasai keadaan, Mama pun tersenyum sambil bertanya, “Apa nggak ada kado lain yang lebih kau inginkan dari pada itu, Lex..?”
“Tadi Mama bilang boleh minta apa saja, kok sekarang jadi menolaknya. Kalo Mama nggak mau ya udah. Beri aja Alex kado sweater atau baju seperti ulang tahun Alex yang udah-udah.” kataku dengan wajah agak muram.

“Wow, tunggu dulu donk Sayang. Kan Mama belon bilang mau apa nggak. Jadi jangan ngambek dulu donk.” kata Mama dengan wajah sabar.
“Jadi.. boleh nggak, Ma..?” tanyaku dengan tidak sabar.
“Setelah Mama pikir, bolehlah. Buat anak tercinta sih apa saja boleh kok Sayang..” jawab Mama.
“Terima kasih Ma. Alex sayang banget sama Mama.” jawabku dengan antusias.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seperti malam kemarin, aku dan Mama lagi makan malam berdua. Malam itu Mama terlihat cantik sekali.
Mama tiba-tiba berkata, “Alex, kamu udah siap menerima kado istimewamu..?” tanya Mama dengan tersenyum manis.
Aku yang memang sudah tidak sabar langsung saja menjawab, “Ya jelas siap donk, Ma.”

Setelah selesai makan Mama menggandengku ke ruang televisi.
“Duduk di sini Sayang. Tunggu sebentar ya..!” kata Mama sambil menyuruhku duduk di permadani.
Mama lalu masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian Mama keluar dari kamar. Aku terkejut, karena sekarang Mama hanya memakai baju tidur yang sangat seksi dan menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Di tangannya, Mama memegang beberapa buah CD. Mama lalu menuju ke VCD player lalu memasang CD yang dibawanya.

Setelah diputar, ternyata itu adalah VCD XX, VCD yang pertama kuingat berjudul ‘ChowDown’. Setelah duduk di sebelahku, Mama memandangiku sambil berkata, “Kamu udah siap Lex..?” tanya Mama.
“Udah dari tadi Ma.” jawabku.

Mama pun mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu sedetik kemudian Mama mulai mencium bibirku. Dengan refleks aku pun membalas ciumannya. Dan tidak lama kedua lidah kami pun bertautan.
“Mmmh.. mmhh.. mm..” hanya desahan saja yang terdengar kini dengan diiringi desahan-desahan dari film yang diputar di TV.
Aku memeluk Mama erat-erat sambil tetap berciuman. Mama pun terlihat sudah sangat terangsang.

Tidak lama tanganku pun mulai menggerayangi tubuh Mama. Tangan kiriku mulai meremas-remas payudara Mama dari luar baju tidurnya. Sedangkan tangan kananku mulai meraba-raba selangkangan Mama.
“Ahh..!” teriak Mama ketika tanganku menyentuh vaginanya.

Setelah sekitar 20 menit kami saling berciuman dan saling meraba, Mama melepaskan pelukan dan ciumannya. Lalu Mama menuntun tanganku untuk membuka bajunya. Tanpa diminta dua kali, tanganku pun mulai beraksi melepas baju tidur Mama dari tubuhnya. Sekarang Mama hanya memakai BH dan celana dalam saja. Mama tersenyum padaku lalu mendekatiku. Dan tidak lama, tangan Mama mulai berusaha melepas pakaian yang kukenakan. Aku hanya menurut saja diperlakukan begitu. Dan kini pun hanya tinggal CD saja yang melekat di tubuhku.

Dengan tubuh yang sama-sama setengah telanjang, aku dan Mama kembali berpelukan sambil berciuman. Hanya desahan saja yang terdengar di ruangan. Lalu perlahan tanganku membuka kaitan BH Mama. Melihat aku yang kesulitan membuka BH-nya, Mama tersenyum, lalu tangannya membantuku membuka BH-nya. Sekarang buah dada Mama yang indah itu pun terpampang jelas di depanku.

“Tetek Mama gede banget sih. Alex suka deh,” kataku sambil meraba payudara Mama.
“Jangan diliatin aja donk Sayang..! Dijilat dan disedot donk Sayang..!” pinta Mama.
Tanpa dikomando dua kali, aku langsung saja menjilati payudara Mama yang sebelah kanan. Sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara Mama yang sebelah kiri.
“Aahh.. Ohh.. *****..!” teriak Mama ketika buah dadanya kujilat dan kusedot-sedot.

Secara bergantian payudara Mama kusedot dan kujilati, sedangkan tangan kanan Mama meremas-remas batang penisku dari luar CD-ku. Dan tanpa sadar, Mama berusaha melepaskan CD-ku. Aku pun tidak mau kalah. Setelah puas menggarap payudara Mama yang besar itu, aku pun berusaha melepaskan CD Mama. Melihat kelakuanku yang tidak mau kalah, Mama hanya tersenyum saja. Sesaat kemudian kami berdua sudah telanjang bulat. Aku hanya dapat menelan ludah melihat tubuh indah Mama. Di selangkangan Mama, terlihat bulu-bulu yang tertata rapi membentuk segitiga.

“Lex, kont*l kamu gede bauanget,” kata Mama takjub melihat batang penisku yang sudah menegang.
“Masa sih Mam..?” tanyaku seakan tidak percaya, “Tapi tetek Mama juga gede kok. Emang tetek Mama itu ukuran berapa..?” tanyaku lagi.
“Ukuran 38B, emang kenapa si Lex. Kamu suka kan..?” tanya Mama.
“Ya jelas donk Mama sayang, mana mungkin Alex nggak suka.” jawabku, dan tanganku kembali meremas payudara Mama sambil menggigitnya.
“Aauwww..!” teriak Mama, “Kamu nakal Sayang, masa tetek Mama digigit..?” kata Mama manja.
“Ma’af, Ma. Alex nggak sengaja.” jawabku sekenanya.
“Nggak apa-apa kok Sayang, Mama suka kok. Kamu boleh memperlakukan Mama sesukamu.” kata Mama sambil tangan kanannya masih meremas-remas kemaluaku.

Dan tidak lama Mama pun berjongkok, lalu tersenyum. Mama mendekatkan wajahnya ke kemaluanku, lalu mulai mengeluarkan lidahnya.
“Uuhh.. aahh.. enak Mam..!” aku berteriak ketika lidah Mama mulai menyentuh kepala penisku.
Mama masih menjilati penisku, mulai dari pangkal sampai ujung kepala penisku. Dan kedua bijiku pun tidak terlewatkan oleh lidah Mama. Aku hanya memejamkan mata sambil mendesah-desah memperoleh perlakuan seperti itu.

Setelah sekitar sepuluh menit, aku merasa kemaluanku berada di sebuah lubang yang hangat. Aku pun membuka mataku dan melihat ke bawah. Ternyata sekarang separuh penisku sudah masuk ke mulut Mama.
“Aahh.. oohh.. yeeahh.. enaakk ba..nget Maa..!” teriakku lagi.
Kuperhatikan penisku diemut-emut oleh Mama tanpa mengenai giginya sedikit pun. Lidah Mama bergerak-gerak dengan lincah seperti ular.

Dan sekarang kulihat Mama menyedot-nyedot bulu kemaluaku seperti mau dikeramasi.
“Maa.. enak Maa..!” aku hanya dapat berteriak.
Aku merasa ada yang mau keluar dari penisku, aku tidak tahan lagi, dan seerr.. Aku kaget juga, kupikir yang keluar tadi adalah sperma, tapi tidak tahunya adalah air kencingku yang menyembur sedikit.
“Wah, ma’af Ma. Alex nggak sengaja.” kataku buru-buru dengan napas yang masih terengah-engah.

Tapi apa yang terjadi, Mama malah menjilati air kencingku yang berleleran. Gila.., sensasi yang kurasakan sangat luar biasa. Dan tiba-tiba Mama menarik tanganku dan mengajakku ke kamar mandi. Kamar mandi kami dapat dibilang sangat besar dan mewah. Sudah itu wangi lagi. Mama menuntunku menuju jacuzi, lalu Mama pun berlutut lagi. Batang penisku dikocok-kocok di depan wajahnya, terus disedot-sedot seperti makan es krim.

“Ayo Sayang..! Sekarang kencingi Mamamu ini..!” kata Mama.
Aku kaget juga. Tapi aku memang sudah tidak tahan lagi ingin kencing. Aku pun mengerahkan semua tenaga untuk kencing. Kulihat mulut Mama menganga dan lidah Mama seperti ular menelusuri kepala penisku.
Dan ketika kulihat mulut Mama tepat di depan batang penisku, “Maa.., Alex mo pipiis..!” teriakku.
Kulihat air kencingku menyembur kencang sekali dan seerr.., masuk ke dalam mulut Mama.

Kuperhatikan mata Mama merem sambil mulutnya terus menganga menerima siraman air kencingku. Kepalang tanggung, akhirnya kumasukkan juga penisku ke mulut Mama sehingga air kencingku memancar dan muncrat keluar lagi berleleran di tubuh telanjang Mama.
“Enak nggak Ma..?” tanyaku setelah aku selesai kencing.
Mama memandangku dengan manja, sedangkan mulutnya masih mengulum batang kemaluanku.

Setelah itu kedua bijiku pun dijilatinya.
“Kamu mau tau rasanya, Lex..?” tanya Mamaku setelah melepaskan kulumannya dari penisku.
“Boleh aja, Ma.” jawabku penuh semangat.
Mama lalu menyuruhku tidur telentang di lantai kamar mandi. Aku mengikuti saja perintah Mama.

Mama lalu berdiri dengan kedua kakinya berada di kiri kanan kepalaku. Dan sesekali kakinya digosok-gosokkan ke wajahku. Dan meskipun ada air kencingku yang berleleran di kaki Mama, aku tidak merasa jijik untuk menjilati kaki Mama. Setelah itu Mama perlahan-lahan mulai jongkok. Kuperhatikan pantat seksi Mama mulai mendekati wajahku. Aku menunggu dengan sabar sampai sesaat vagina Mama benar-benar berada tepat di atas mulutku.

Lubang kemaluan Mama terlihat sudah berlendir bertanda Mama sudah terangsang. Kujilati lubang kemaluan dan lubang anusnya secara bergantian. Mama menguakkan bibir vaginanya secara perlahan sampai-sampai aku dapat melihat lubang kemaluannya mengembang.
“Mama mau kencing nih. Minuumm.. Sayang..!” Mama merintih dengan sangat keras.
Seerr.., dari lubang kencing Mama memancar cairan yang bening dan panas sekali, masuk ke mulutku dengan deras.

Entah karena sudah nafsu atau karena apa, kutelan saja cairan yang rasanya asin dan agak pahit yang keluar dari kemaluan Mama. Suara erangan kepuasan menggema di dalam kamar mandi itu.
“Bagaimana rasanya Sayang, enak bukan..?” tanya Mama sambil matanya terpejam menahan nikmat karena vaginanya kujilat-jilat.
“Enak banget, Ma.” jawabku singkat.

Setelah itu Mama berdiri lalu duduk di sebelahku. Kedua kakinya dikangkangkan sehingga aku dapat melihat vaginanya dengan jelas.
“Sayang, sekarang kamu jilatin mem*k Mama ini..!” kata Mama sambil menunjuk ke arah vaginanya.
Setelah itu Mama tidur telentang di lantai kamar mandi. Aku langsung saja menuju bagian bawah pusar Mama. Kudekatkan wajahku ke vagina Mama, lalu kukeluarkan lidahku dan mulai menjilati vaginanya.

“Ahh.. fuuckk.. yeaahh.. shiitt.. hisapnya itilnya Sayang..!” Mama hanya dapat meracau saat kujilati vagina dan klitorisnya kuhisap-hisap.
“Ohh.. Aahh.. fuuck.. mee.. yeaahh.. masukin kont*lmu sekarang Sayang..! Mama udah nggak tahan..!” pinta Mama memohon.
Aku pun perlahan bangun dan mensejajarkan tubuhku dengan Mama. Kugenggam batang penisku, lalu perlahan-lahan kudorong pantatku menuju vagina Mama.

Ketika memasuki liang senggamanya, Mama berteriak-teriak, apalagi ketika separuh penisku mulai menelusuri dinding vaginanya. Baru pertama kali aku merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini. Rasanya seperti diurut-urut, enak seperti dielus-elus daging basah dan kenyal.
“Aahhkk enak se..kali.. Sayang..! Fuuck.. me.. hardeer.. honey..!” jeritan Mama memenuhi kamar mandi.

Setelah sekitar 10 menitan, aku mencabut batang kemaluanku dari lubang vagina Mama. Mama terlihat sangat kecewa ketika aku melakukan itu. Dan tidak lama kemudian aku meminta Mama untuk berganti posisi. Kuminta Mama untuk menungging. Lalu dari belakang kuremas-remas pantat Mama yang semok itu. Lalu kuarahkan batang penisku ke bibir vagina Mama. Setelah kurasa tepat, lalu kusetubuhi Mama dari belakang dengan doggie style.

“Aduhh.. enak.. sekali Sayang..! Kamu.. pin..tarr.. Sayang..!” jerit Mama ketika kusetubuhi dari belakang.
Sedangkan aku pun tidak kalah hebohnya dalam berteriak, “Maa.. mem*k.. nya.. e..naak..!”
Rupanya gaya itu membuat Mama sudah tidak tahan lagi, sehingga sesaat kemudian, “Sayang Mama mau sam..paai.. Aahh..!”
Mama berteriak keras sekali, dan aku yakin kalau kami tidak berada di rumah itu, orang lain pasti mendengar teriakan Mama.

Aku merasakan penisku seperti disiram cairan hangat. Walau kusadari Mama sudah mencapai puncaknya, aku tetap saja memompa batang penisku di dalam vagina Mama. Malah semakin giat karena sekarang liang Mama sudah licin oleh cairan Mama.
Dan tidak lama, “Maa.. Alex.. mau sampaaii nih..!” kataku ketika aku merasa mau orgasme.
“Cabut kont*lmu Sayaang..!” perintah Mama.
Segera saja batang kemaluanku kucabut dari liang Mama yang masih menungging.

Mama lalu berbalik kepadaku dan memegang batang penisku. Lalu dibukanya mulutnya dan Mama pun mulai mengulum kemaluanku.
“Aahh.. oohh..!” hanya desahan itu yang keluar dari mulutku.
Dan, creet.. croott.. crot..! air maniku menyemprot sebanyak sepuluh kali ke dalam mulut Mama. Mama tidak langsung menelan spermaku, melainkan memainkan spermaku di dalam mulutnya seperti orang yang sedang berkumur. Dan sebelum ditelan, Mama membuka mulutnya dan menunjukkan spermaku yang ada di dalam mulutnya itu. Baru setelah itu pejuku ditelan sampai habis.

Belum selesai sampai di situ, Mama menjilat-jilat batang penisku dan membersihkan sisa sperma yang masih menempel di kemaluaku. Rasanya ngilu, nyeri plus gimana gitu. Setelah itu kami berdua menuju ke ruang TV. Aku dan Mama duduk bersebelahan dalam keadaan telanjang bulat.

“Bagaimana kadonya, Lex..?” tanya Mama ketika sudah agak tenang.
“Luar biasa, Ma. Nggak ada kado yang sehebat tadi. Terima kasih, Ma.” sahutku.
“Mama bahagia kalo kamu puas. Sebenarnya Mama juga menginginkannya kok.” jawab Mama.
“Lalu kenapa Mama nggak minta ke Alex..?” tanyaku lagi.
“Iya ya, kalo tau kamu punya kont*l segitu gedenya Mama pasti udah minta sejak dulu. Tapi nggak apa-apa kok, kan belon terlambat. Betul kan..?” sahut Mama sambil tersenyum manis padaku.
“Iya Ma. Tapi Ma, setelah ini masih ada ronde selanjutnya kan..?” tanyaku.
“Kalo kamu masih kuat, ya pasti donk Sayang..!” jawab Mama manja.
“Alex sayang banget sama Mama,” kataku.
“Mama juga sayang banget sama Alex.” jawab Mama.

Setelah berisrirahat secukupnya, kami berdua melanjutkan persetubuhan kami sampai jam dua pagi. Setelah itu kami berdua tidur dalam keadaan telanjang bulat. Dan keesokan harinya aku dan Mama, yang kebetulan lagi tidak masuk kerja, berada di rumah dalam keadaan telanjang bulat selama sehari penuh. Dan tidak terhitung berapa kali kami bersetubuh. Sampai sekarang aku masih tinggal dengan Mama dan masih setia menyetubuhi Mama setiap hari, selama Mama tidak haid.

Itu adalah hadiah ulang tahun yang paling berkesan dalam hidupku.

TAMAT


Pepatah mengatakan “rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput dihalaman rumah sendiri”. Tapi buat yang satu nih mestinya pepatahnya “Santan tetangga lebih kental daripada dirumah sendiri”. Lho?
Ya iyalah karena cerita aku tuh bukannya dapat yang lebih muda, tapi dapat yang lebih tua dari yang dirumah, tapi ngelupaiinnya susah banget, bikin kecanduan dah. Sayangnya jarang banget dapat kesempatan seperti itu.
Emang menyebalkan kalo ditinggal sendiri dirumah, yah kalo ditinggal bini sih masih mending. Ini ditambah mertua juga ikutan pergi plus mesti jagain rumah keluarga yang disebelah lagi. Yah ndaa ada yang nyiapin makan malam ama kopi deh
Rumahku memang bersebelah dengan rumah kakek istriku dan tantenya. Lokasi rumahku pas pojokan sehingga teras belakang rumah berhadapan lagsung dengan dapur rumah kakekku dan garasi rumah tanteku, eh maksudnya kakek dan tante istriku yah.
Hari Jum’at beberapa bulan yang lalu pas liburan sekolah, aku mestinya sih pulang awal, tapi berhubung bini plus seabrek keluarganya sedang ada hajatan diluar kota dan mesti nginap sampe hari minggu, berhubung aku belum bisa cuti, aku ndak ikut sekalian jaga rumah, sedang dirumah kakekku juga ada tantenya biniku, (mohon maaf namanya diganti tante ris, biasanya aku panggil mbak ris) beda usia mbak ris dgn biniku juga ndak jauh-jauh amat cuma 5 tahun, malahan ada yang pangkat paman, nyaris seumuran ama biniku, maklum jaman dulu, emak sama anak bersaing dapetin keturunan.

He.he. sorry ngelantur bro.
Jadinya aku juga agak males pulang awal hari itu, lepas maghrib nyempatin diri cari makan malam, plus nongkrong dulu di warung kopi. Sejam nongkrong di warkop aku baru ingat kalo lampu dirumahku ama dirumah tante sebelah kan belum dihidupin, ya udah daripada rumah kemalingan aku pulang.
Sampe dirumah emang gelap, begitu juga rumah tanteku, hanya rumah kakekku saja yang sudah terang, kuhidupkan dulu lampu rumahku, kepingin rasanya cepat-cepat mandi dan on-kan komputerku terus surfing di DS. Tapi aku ingat kalo rumah tanteku belum dinyalain lampunya. Aku keluar lewat dapur dan langsung berjalan ke arah rumah tanteku menuju garasinya, sepintas kudengar suara air. Terlintas di otakku untuk mengintip, karena sudah pasti dirumah kakekku cuma ada Mbak Ris sendiri. Orang yang selama ini sering kucuri-curi pandang kalo lagi ada acara keluarga. Orangnya putih sama dengan biniku, karena emang keturunan orang putih sih. Bodinya sih tergolong umum, hanya saja kalo dilihat dari dekat disekujur tangannya ada bulu-bulu yang lebih lebat daripada wanita umumnya dan itu salah satu kelemahan aku terhadap wanita, kalo melihat yang tangannya seperti itu, kepingin rasanya diremas-remas. Sebenarnya nih tante yang satu tergolong jutek, biniku aja ndak terlalu suka ama dia, buktinya walaupun sudah punya 2 anak, tetap aja ditinggal sama suaminya yang aku nilai ndak bisa mengontrol istrinya, malahan takut kelihatannya, ah suami yang aneh.
Kembali ke cerita. Aku batal mengintip karena kudengar pintu berdenyit, wah aku terlambat, ada kesalnya juga sih, kenapa tadi ndak minum kopinya dirumah aja sambil nungguin tanteku mandi aja ya. He.he.. menyesal kemudian memang ndak berguna.
Ya udah aku langsung membuka pintu rumah keluarga biniku yang kunci rumahnya memang dititipkan ke aku. Kuhidupkan lampu rumahnya dan kuperiksa semua rumah itu memastikan semuanya aman-aman saja. Dari bagian belakang kuperiksa dapur dan kamar mandi, aman, dasar rumah ini juga nyaris seluruh penghuninya juga wanita, sepupu istriku kebanyakan masih gadis-gadis, sehingga di kamar mandinya bergelantungan celana dalam dan bra, memang sedikit membuatku terangsang jika membayangkan sepupu-sepupu istriku. Lalu kulanjutkan memeriksa kamar-kamar sepupu istriku, dasar anak gadis, CD kan BRA juga tergeletak sembarangan diatas tempat tidurnya, ndak mikir apa kalo aku yang mesti periksa rumahnya. Dikamar sepupu istriku yang tertua dan yang terkenal seksi dikalangan keluarga aku tergoda untuk merebahkan badanku, semerbak bau khas wanita menyerang hidungku, merusak otakku, sehingga aku benar-benar terangsang berada dikamarnya, mana ada CD yang aku yakin karena buru-buru mau keluar kota, main letakkan aja ditempat tidur nih. Ah beberapa menit yang menyenangkan berada disitu, untung saja aku sadar dan langsung bangun karena kuingat rumahku sendiri dapurnya terbuka. kumatikan lampu dalam rumah dan menghidupkan lampu-lampu luar, akupun bergegas pulang, karena badan sudah gerah dan pikiran jadi ngeres banget. Setelah mengunci pintu, aku berjalan ke arah rumahku, namun aku benar-benar kaget karena mendengar suara batuk wanita, nyaris copot jantungku karena kupikir ada mahluk gaib yang menegurku.
“Mas, habis ngidupin lampu ya?” yah pertanyaan basa-basih nih makiku dalam hati, jantungku sudah kembali normal setelah yang kulihat ternyata mbak Ris sedangkan merendam pakaian kotornya di pelataran cuci. Aku berhenti untuk menyapanya, dan ia menanyakan kok lama aku dirumah sebelah, dasar jutek juga nih orang, sampe kesitu lagi pertanyaannya. Jangan-jangan ngintip juga dia. Bodo ah, jadi kujawab sekenanya aja. Sekalian cari minum tadi kataku. Juteknya tanteku ini benar-benar ketutup karena pemandangan yang ada didepanku saat itu, aku sering sekali kalo sedang duduk di pelataran belakang menikmati kopi pagiku, melihat mbak Ris keluar dari kamar mandinya ke pelataran cuci rumah kakekku dengan tubuh yang hanya ditutupi handuk seadanya. Hampir setiap sabtu dan minggu aku menikmati dua kegiatan sekaligus. Tubuh putihnya memang begitu membangkitkan semangat hari liburku. He.he.he

Nah malam ini aku bisa melihat dari dekat, hanya dua langkah aja didepanku. Handuknya yang pendek ditambah posisinya yang sedikit jongkok tentu membuat handuk itu terangkat nyaris ke bokongnya.dari samping belahan susunya menyembul seperti hendak mencelat keluar menegurku. kutanyakan kok berani keluar sendiri mbak, terpaksa sih jawabnya karena memang tidak ada orang, “kenapa ?” tanyanya lagi. “yah mana tau ada yang niat jahat, terpancing ama mbak yang Cuma pake handuk aja”
Sambil tertawa dia menjawab “emang bisa ya orang lain terangsang”,
“mbak nih” jawabku ”jangankan orang lain, ponakan sendiri aja terangsang gini” jawabku seenaknya. Yang disambut tanteku dengan tertawa kecil.
“Ha.ha. keponakan ketemu gede” kata tanteku
“Gede apanya mbak?” pancingku. “Gede takutnya” dasar batinku dalam hati tapi lumayanlah buat cairkan suasana sementara aku mencoba mententramkan adik kecil didalam celana yang semakin tegang aja. Aku menemani mbak Ris mencuci sambil kita ngobrol kemana-mana sampai…
“Berani mbak sendirian dirumah malam ini?” tanyaku.
“Sebenarnya sih berani, Cuma gara-gara tadi nonton film hantu jadi agak takut juga nih, nyesal deh mbak buka TV, lumayan bagus sih filmnya”.
“Temanin mbak bentar ya nanti, sampe tidur aja, ntar mbak bayar dengan kopi. Ndak ada yang buatkan hari ini kan?”
“Siap mbak” jawabku, padahal aku sebenarnya sudah minum kopi.
Mbak Ris juga sudah selesai mencuci, “ya udah sana mandi dulu, tuh adiknya juga dimandiin jangan tegang melulu” Sialan dalam hatiku, ketahuan deh. Gara-gara pake celana kain kantoran nih. Sampe dirumah akupun langsung mandi, dinginnya air cukup membuat adikku jadi mengkerut dan sedikit tenang.

Selepas mandi, dengan baju tidurku dan celana pendek bahan kaos yang menjadi idolaku kalo mau tidur kukenakan, kalo malam aku memang paling ndak suka pake CD, bawaannya jadi lega banget kalo tidur, dan biniku jadi gampang kalo melorotin celanaku.
Setelah memeriksa kembali rumahku, dan mengunci pintu, aku bergegas kerumah kakekku melalui pintu belakang yang langsung berhadapan dengan pintu rumahnya. Pintunya tidak terkunci ketika aku mengetuk, Mbak Ris menyuruhku masuk dan kulihat ia sedang membuatkan kopi 2 cangkir.
Oh iya sekali lagi Tante biniku ini sering kupanggil Mbak, karena biniku juga memanggilnya demikian, mungkin supaya ndak ketahuan kali, kalo dia tuh tantenya. Sedangkan dia kalo manggil aku juga biasanya ‘Mas’ ikut-ikut sepupu biniku yang lain.
Ini dia cerita yang sebenarnya.
Malam itu mbak Ris memakai daster tidur yang waduh tipisnya sih ndak terlalu Cuma bayangannya itu lo, bisa kupastikan dia tidak memakai CD dan Bra, hmm mirip aku juga nih ternyata kalo tidur, semua peralatan dalam tidak dipakai. “keruang TV dulu sana mas kopinya udah hampir jadi” aku sedang menikmati pemandangan yang indah.
Akupun beranjak keruang TV yang Cuma ada kursi kecil dan permadani, yah kebiasaan keluarga, kalo nonton TV sambil baring, sedangkan kursi kecil tuh buat sang Kakek yang ndak tahan kalo lama-lama duduk di lantai.
“kok kopinya 2 mbak, buat siapa satunya?” tanyaku setelah duduk dilantai saat kulihat mbak Ris membawa nampan kopi. “buat mbak nih mas, ada film bagus jam 11 nanti” terus terang aku tidak terlalu memperhatikan omongannya, mataku sebenarnya sedang tertuju ke daerah perut mbak yang melangkah ke arahku, karena kulihat sedikit bayang hitam diantara pahanya. Nih kopinya mas, jangan matanya aja yang minum, katanya membuat aku terpaksa harus mengalihkan pandanganku ke TV. Waduh bakal lama nih nemanin si Mbak, pake minum kopi lagi dia, bakalan susah tidur tuh. Tapi kapan lagi ya aku bisa menikmati kopi ditemani tante biniku dengan dasternya yang tipis.
Aku duduk dilantai sementara mbak Ris mengambil posisi duduk dikursi antara aku dan TV, lumayanlah sesekali melihat bayangan susunya yang bergayut ditubuhnya yang ternyata padat juga walaupun tidak montok.
Kita berdua ngobrol kemana-mana sambil nonton TV, dan sesekali menyerempet ke arah sex. Akhirnya akupun tau ternyata Mbak sering marah dengan suaminya dulu karena sering belum mencapai klimaks si om udah keburu muncrat, mana langsung loyo lagi, sehingga terpaksa Mbak Ris harus menyelesaikannya sendiri, dan kalo ndak tuntas itu yang membuat emosinya sering meledak esoknya.

Jam saat itu menunjukan angka 10.30, kutawarkan ke Mbak Ris untuk mematikan lampu ruang tamu, “sekalian aja mas lampu ruang ini diganti dengan lampu kecil ya” yah mumpung adikku (maksudnya Mr P ya) ndak lagi tegang. Kuletakkan bantal yang dari tadi berada di atas pahaku, menutupi adikku dan kumatikan lampu. Kopi buatan mbak Ris pun telah habis kuminum, jadi sambil menonton TV aku merebahkan badan, ke bantal sedangkan bantal satunya lagi kupeluk supaya menutupi pergerakan adikku yang sudah seperti dongkrak aja nih.
Filmnya semakin seru karena memang sudah hampir selesai, kulihat Mbak Ris sedang konsentrasi memandang ke arah TV, aku tdak bisa menikmati tontonan TV malam itu, yang kupandang hanya tubuh moleknya yang duduk di atas kursi pendek tanpa sandaran itu, mungkin Dengklek yang agak tinggi, kata orang jawa. Remangnya lampu dan posisi mbak yang berada ditengah antara aku dan TV membuat bayangan tubuhnya semakin kentara, kedua bukitnya justru semakin kelihatan bentuknya, di dua bukit itu terdapat benda sebesar biji jagung, daster tidurnya yang pendek menyingkapkan pahanya yang mulus. Sesekali aku terpaksa menonton TV karena mbak masih mengajakku ngobrol. Akhirnya selesailah sudah film di TV. Aku sedikit menghela nafas karena berarti aku sudah harus pulang.
Saat aku hendak bangun, mbak bertanya “Mau kemana mas? Kan filmnya baru mau mulai nih”
“ndak ngantuk mbak?”
“kan udah ngopi, temanin mbak ya, buru-buru aja mau pulang”
“enaknya sambil baring ah nontonnya” si mbak langsung mengambil bantal yang kupeluk, “ha.ha.. rupanya ada yang bangun ya” memang saat itu posisi adikku sedang tegang benar.
Setelah iklan filmpun dimulai, kami berdua sama-sam berbaring bersebelahan, “kasihan adiknya, ndak ada sarangnya nih malam ini” kata mbak Ris saat jeda iklan. Kubalas juga, “tuh kaki ngapain mbak dari tadi dikepit melulu, emang apanya yang dijepit tuh” si mbak tertawa sambil memukulkan bantalnya ke arahku, kami bersenda gurau saat-saat jeda iklan, dan mbak masih juga memukulku dengan bantal terkadang mencoba mencubitku, sampe akhirnya aku terpaksa menangkap tangannya, ia mencoba melepaskan tangannya supaya bisa mencubitku lagi. Kali ini aku memegang tangannya dan tidak kulepaskan, sampai akhirnya tangannya melemaskan diri tanda sudah menyerah.
Aku tetap tidak melepaskan peganganku namun aku sudah mengendorkannya. Aku benar-benar menikmati menyentuh kulit tangannya dengan bulu halusnya itu. kali ini aku mengelusnya menggunakan telapak tanganku, mbak diam saja.
Aku mencoba yang lebih berani lagi, karena juteknya tanteku yang satu ini membuatku mesti perlahan-lahan. Biar saja dia hanyut dalam sungai yang tenang ini. Kugenggam jari-jari tangannya, mbak membalas dan meremas jari tanganku pula. Lalu pelan-pelan kuangkat tangan kirinya dengan tangan kananku kubawa tangannya ke arah adikku, dan benar Mbak Ris menurutinya kuletakkan tangannya di atas Mr P, dan kulepaskan genggamannya.
Ternyata disitulah mulai kutahu Kelapa yang lebih tua memang banyak santannya. Mbak Ris menekan Mr. P kearah tubuhku sambil menggerakkan tangannya maju-mundur pelan-pelan dengan belakang telapak tangannya. Akupun memindahkan tanganku ke atas pahanya, namun dengan lembut mbak Ris menahan tanganku. Aku harus bertahan untuk menyentuh gundukan diantara segitiga itu. Mbak Ris terus mengusap milikku dengan belakang tangannya, hingga akhirnya ia membalikkan telapak tangannya dan menggenggam p-ku. Dan perlahan ia mengeluarkannya dari lubang bawah celana, menarik celanaku sehingga p-ku mencelat keluar dari celana dalam berbahan kaos itu. dengan jarinya iapun mengusap-usap p-ku. Ujung kukunya bukannya membuat sakit, justru membuat sensasi yang beda. Perpaduan rasa enak dan sedikit perih telah membuatku benar-benar melayang. Bokongku terangkat mengikuti irama tangannya, seperti naga barongsai yang mengejar bola api.
ia pun mulai mengusap kepangkal p-ku, menyentuh bola sebesar pimpong itu, menarik tangannya kearah pusar, aku tau saat itu ia ingin aku melepaskan celanaku. Saat aku harus sedikit terbangun melepaskan celanaku aku berpaling ke arahnya, mataku tertuju mulai dari gundukan dibawah pusar, seperti sebuah senter kuterangi lekuk-lekuk tubuhnya sampai kedaerah dadanya yang membusungkan dua bukit kembar bermahkotakan biji jagung, yang walaupun sudah 10 tahun lebih tidak tersentuh namun masih tetap mengencang dan menantang. Hingga kutatap wajahnya, kali ini wajah judes sudah hilang, senyum dan matanya mengalirkan air yang membuat lelaki muda dapat takluk, dan tenggelam didalamnya. wajahnya memang tidak secantik dan semuda istriku (maaf ndak ge-er ya) namun malam ini dengan senyumnya itu, mbak Ris membuatku lupa akan istriku yang entah mungkin malam itu sedang ikut cara midodareni di kampung, kontras sekali. Bibirnya yang tersungging dan dibasahi dengan lidahnya itu membuat medan magnet yang menarik wajahku mendekatinya. Kucium bibir mbak Ris, kulumat perlahan bibir atas, kulepaskan, tangannya menarik kembali leherku, kucium lagi bibir bawahnya, kulepaskan dan kurasakan air liurnya yang tadi membasahi bibirnya seperti menempel pada bibirku, tak ada rasa geli, justru seperti aku sedang menikmati wine yang dipendam dalam gudang bawah tanah selama ratusan tahun. Aku seperti kecanduan air itu segera kulumat lagi bibirnya, kali ini kutambahkan dengan mengeluarkan lidahku kemulutnya, menghunjam mencari sumbernya, dan dijaga oleh lidahnya yang menyambut lidahku, memberi air itu pada gersangnya lidahku.
Tangan tanteku yang sedang memeluk leherku segera kutangkap dan terus kulumat bibirnya. Kugenggam kedua jari tangannya, sambil perlahan aku memindahkan tubuhku keatasnya. Kuletakkan kedua tangan diatas kepalanya, posisinya saat itu seperti wanita yang telah benar-benar pasrah, rasa penasaranku pada tangannya tidak kusia-siakan, kualihkan ciumanku ke lehernya, menjilati leher dan belakan kupingnya, membuat kakinya yang tadi terbujur menjadi tertekuk, aku sedikit mengangkat bokongku, dan aku yakin ketika tubuhku juga bergerak turun pasti baju bawahnya juga melorot, karena kurasakan p-ku menyentuh vaginanya langsung.
Kuteruskan ciumanku ke bawah menyusuri lengan tangannya, kucium leengan tangan yang ditumbuhi bulu halus itu, p-ku juga bergerilya menyentuh v-nya tanteku sedikit mendorong-dorong, membuat mbak Ris semakin melebarkan selangkangannya. Tapi aku tidak ingin segera menyudahi.
Kulepaskan genggaman tanganku, kucium lagi bibir mbak Ris, nafasnya sudah tidak teratur seirama dengan nafasku yang semakin memburu. Mbak Ris kini menarik baju kaosku dan aku ‘tottaly nude’. Dibarengin dengan lidahnya yang kini gantian menyeruak masuk kedalam mulutku, yang kubalas dengan menghisapnya. Begitu lihainya ia membangkitkan nafsu, dengan mulai mengusap-usap dadaku, sesekali menyentuh biji jagungku juga.
Akupun mengerti dengan keinginannya, segera aku merangsak ke daerah dadanya yang selama ini juga cukup membuatku penasaran. Mbak Ris membuka kancing daster bagian atasnya, menunjukkannya padaku sambil menyentuh sendiri buah biji jagung itu dengan jemarinya. Sementara aku membiarkannya sesaat.
Tak tahan aku menunggu lama-lama tangankupun segera mengambil alih fungsi tangannya, kuremas kedua bukit itu, dan kulumat bijinya. Kumainkan lidahku layaknya yang sering DS-er lihat di film xxx, sedikit gigitan kecil ternyata justru membuat bokong tanteku ini terangkat, mbak Ris seperti ingin aku segera memasukkan p-ku kemiliknya, aku masih belum mau. Bisa-bisa aku nanti kalah perang deh seperti suaminya yang dulu. Nafasnya kini tidak lagi melalui hidung tapi sudah terdengar melalui mulut dan menambah gairahku.
Puas kuremas bukit kembar itu segera aku turun ke daerah pangkal pahanya, serta merta mbak Ris menarik tubuhku ke atas, tersirat dimatanya ia tidak ingin aku melakukan itu. kuberi ia senyum yang menurutku saat itu lumayan indahya buat dia (he..he..) posisi wajahku tetap berada di antara pahanya, kali ini tanganku kembali meremas susunya.
Kembali mbak Ris berdesah, dan memejamkan matanya, kali ini dengan perlahan kuturunkan kepalaku v-nya, lidahku langsung kuarahkan ke clitnya, benar seperti dugaanku kali ini ada respon baik, ia tida lagi menarik tanganku dan justru menggenggam tanganku untuk terus meremas susunya. Tiga kali jilatan kuangkat wajahku menatapnya, dan matanya kembali terbuka dan tersenyum, sedikit anggukan sudah memastikan bahwa aku boleh melanjutkan jilatanku pada clitnya. Benar-benar cara bercinta yang tanpa kata-kata, cukup kode saja kita berdua sama-sama tau apa yang harus dilakukan, itulah enaknya bercinta dengan wanita yang lebih tua, santannya memang lebih kental.
Kulanjutkan mencumbu clitnya dengan lidahku, sesekali kulumat bibir v-nya dengan bibirku, kuarahkan lidahku ke bibir v-nya, tante istriku semakin menggeliat, tanganku yang sudah tidak meremas, susunya karena ia telah melakukannya sendiri benar-benar membantuku.
Sambil terus menjilati v-nya dengan bau khas yang membuat para lelaki sulit tidur itu tanganku mulai memainkan v-nya. Perlahan kumasukkan jari telunjukku, aku tidak ingin nanti pada saat penetrasi ia kesakitan. Tubuhnya mengejang dan peret sekali, persis seperti saat aku mengambil mahkota istriku dimalam pertama kami. Cerita tentang bagaimana mbak ris memenuhi kebutuhan biologisnya nanti aku ceritakan deh, karena aku mendapatkannya setelah ML.
Kucabut perlahan tanganku dan terus kumainkan clitnya meskipun v-nya sudah basah tapi karena sempitnya ruang itu aku harus pelan-pelan. Kali kedua aku sudah lebih mudah, dan sudah seluruh jari telunjukku bisa menerobos kedalam, gerakan jariku yang maju mundur pun sudah bisa dinikmati oleh mbak Ris yang kali ini. Desahan yang diselingi teriakan kecil nikmatnya itu seolah membuah aku tidak ingin berhenti menjilati dan memasukkan tanganku kedalam relung yang sudah basah itu, sampai-sampai airnya keluar membasahi daerah v-nya bercampur dengan liur dari bibirku yang juga menikmatinya. Kumanfaatkan jari tangan kirinya mengusap cairan itu dan membawanya ke daerah anal.
Serviceku malam itu memang tidak tanggung-tanggung. Sementara lidahku memainkan clitnya. Jari telunjuk kananku masuk ke v-nya, tangan kiriku bermain ke daerah analnya, karena dengan kedua tangannya mbak Ris menahan pahanya sehingga posisi bokongnya terangkat. Telunjukku yg memainkan lobang itu ternyata dinikmati olehnya kumainkan di sekitar lubang itu. dan dengan pelan kucoba menusuknya dengan jariku. Mbak Ris menikmatinya kulihat dari wajahnya yang tidak sedikitpun menunjukkan penolakannya.
Ingin kuteruskankan permainan tadi tapi berhubung aku juga sudah mulai tidak tahan mendengar desahannya kututup dengan mencium seluruh bagian v-nya dan kedua lubang itu, menandakan aku sanga menikmatinya.
Aku bergerak ke atas, dan mbak Ris melepaskan tangan dari pahanya, kutindih lagi tubuhnya dan kucium bibir mbak Ris, yang membalasnya seperti ingin meminta bagian dari sisa-sisa air yang ada di bibirku, kucoba kumasukkan p-ku kedalam v-nya. Tangan mbak Ris menuntun p-ku ke lubang v. dengan sedikit gerakan kepala P-ku sudah berhasil menembusnya. Kutekan kedalam, pegangan mbak ris yang mencengkeram lenganku pertanda ia sedikit kesakitan, kucabut P-ku, mata mbak Ris terbuka, kami beradu pandang, kulanjutkan memasukkan P-ku seperempat bagian telah masuk, basah namun seret, kali ini wajah mbak Ris tidak seperti menahan sakit, kuteruskan mendorong P-ku kedalam, mbak menatapku dan kulihat ia sudah mulai menikmati, kuteruskan mendorong kedalam dan akhirnya seluruh P-ku telah masuk kedalam.
Wajahnya menatapku yg mengartikan ia tidak lagi sakit, lalu kucium bibirnya, mbak Ris memjamkan matanya, kubiarkan sesaat P-ku didalam situ karena kurasakan seperti ada yang membetot didalam sana, aku merasakan sensasi yang baru. Lalu mulailah aku melakukan penetrasi sebenarnya, kulakukan gerakan misionaris seperti biasa. Permainan mbak Ris tidak kalah hebatnya. Dengan suara desah dan teriakan kecilnya itu aku semakin cepat melakukan gerakan. Kami teruskan permainan hingga aku merasakan aku bisa-bisa orgasme lebih dulu.
Kutarik keluar P-ku dan ternyata membuat mbak Ris seperti mendapatkan kesempatan, diciumnya aku lalu ia membalikkan badannku ke bawah. Kini posisi Mbak Ris ada diatasku, rasa panas membuat ia membuka dasternya dan membuang kesamping, aku mempunyai kesempatan mengatur kembali nafasku. Tubuh mbak Ris yang hanya di terangi oleh lampu remang-remang sangat bagus untuk orang seusianya. Kini aku menyaksikan lagi dua bukit yang bergayut itu tanpa ada halangan. Ia pun mulai mengarahkan P-ku yang sudah tegang itu kedalam V-nya. Setelah itu ia mulai melakukan gerakan naik-turun, kenikmatannya dapat kurasakan, dan sungguh enak saat ia sesekali melakukan gerakan seperti ngebor, tapi ndak seperti inul ya. Variasi yang nikmat dari seorang tante yang terkenal judes.
Sampai akhirnya aku merasakan aku akan keluar, namun kurasakan gerakan mbak Ris yang semakin cepat bahwa ia akan segera orgasme juga, tidak tahan lagi aku berbaring segera kudekap tubuh mbak Ris, dengan posisiku yang sedang duduk semakin erat kupeluk dia semakin kuat juga mbak Ris memelukku sampai saatnya, aku harus melepaskan tembakanku dilubangnya disaat yang sama mbak Ris berteriak penuh kenikmatan. Kita berdua bisa sama-sama mencapai klimaksnya disaat yang benar-benar tepat.
Kami terus berpelukan mengatur nafas, aku tidak ingin mencabut P-ku, kubaringkan mbak Ris ke lantai pelan-pelan. Setelah aku bisa menindihnya aku menciumnya. Kubiarkan saja P-u didalam sana, yah mumpung masih tegak, emang kebiasaanku nanti kalo sudah normal baru aku mencabutnya. Ternyata perkiraanku tepat, hal ini juga sering terjadi pada istriku, nafas Mbak Ris kembali mendengus, kali ini akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya. “Mas, aduh mas, mbak lagi nih” sambil memelukku dengan keras. Kutekan lagi lebih dalam P-ku ke lubang itu, sampai ia benar-benar lemas, dan biasanya punyaku juga sudah melemas. Mbak Ris juga mengalami dua kali Orgasme.
Setelah itu aku berbaring disamping mbak Ris dan menggenggam tangannya.
“Tidur didalam aja yuk mas, ndak usah pulang aja ya malam ini,” ia mengajakku berbaring dikamarnya dan kuiyakan, karena aku pikir kapan lagi bisa semalam bersama tanteku yang jutek.
Mbak Ris duluan kekamarnya dengan membiarkan tubuhnya tanpa baju, dasternya hanya dibawa kekamar saja. Kumatikan TV, sambil kukenakan celana pendekku, memeriksa pintu belakang, lalu kususul mbak Ris dikamarnya. Kulihat dasternya tergeletak disamping tempat tidur. Akupun berbaring disampingnya masu kedalam bed covernya.
Kita berdua belum bisa tidur, kami berbincang-bing lebih dalam lagi, dan dari situlah aku tau gimana ia memenuhi kebutuhan biologis.

TAMAT


Sejak Tsunami itu, Marwan meresa dirinya sudah tak berarti lagi. Dia mondar mandir tak menentu. Terkadang dia mengitari pantai mencari entah apa. Terkadang dia berteriak di tepi pantai memanggil-manggi nama isterinya dan putra tunggalnya. Banyak orang yang merasa jatuh kasihan kepadanya. Tapi takdir mengatakan lain, dia harus mnenerima kenyataan.

Ibunya juga demikian. Dua anaknya Adik Marwan berseta ayah Marwan raib tak tau kemana terseret oleh Tsunami. Ketkika tsunami itu terjadi, Marwan dan Ibunya sednagh pergi berboncengan naik sepeda motor ke gunung, untyuk menghadiri pesta dan mereka mewakili keluarga. Saat itulah mereka mendengar di pesta, kalau tsunami terjadi, dan pesta serta merta bubar. Marwan dan ibunya Syifa memacu kenderaan mereka menuju desanya dan melihat semuanya sudah habis.

Ibu Marwan Syifa sedikit lebih kuat dan dia masih mampu menenangkan hati Marwan setelah sekian minggu. Mereka pasrah dan kembali membangun gubuk mereka. Untuk rumah mereka agak di ketinggian, hingga hanya rumah mereka yang hamncur, namun di sana sini masih bisa diperbaiki. Dari atas bukit itu mereka berdua selalu menatap ke bawah dan orang dari bawah merasa hiba, tentu saja mereka yang masih tersisa dari Tsunami.

“Kamu menikahlah Marwan agar aku bisa menumpang denganmu,” kata Syifa di suatu sore. Marwan hanya terdiam dan menunduk.
“Kini kita tinggal berdua Ibu, Tanpa saudara, tanpa sesiapa. AKu ingin kita hidup berdua saja,” jawa Marwan. Syifa diam tak menjawab. Dia sendiri pikirannya entah kemana. Dalam usianya yang 42 tahun, dia tidak memikirkan pernikahan kembali. Dia hanya ingin membahagiakan anak tunggalnya Marwan.

Berdua mereka memasuki puing-puing rumah mereka yang disana disni diperbaiki. Tak layak lagi disebut rumah, tapi gubuk yang hanya bisa dipakai unhtuk berteduh dari hujan dan matahari. Marwan selalu naik ke bukit untuk mengambil apa saja yang bisa untuk dijual untuk bisa makan. Terkadang dia ke laut untuk menangkap ikan dengan tatapan kosong.

Malam itu, Marwan tidur di sisi ibunya dan memeluknya.
“Ibu aku ingin menikah,” bisiknya. Syifa ibu Marwan merasa bahagia sekali mendengarnya.
“Kapanm kamu mau menikah dan siapa perempyuan yang beruntung untuk kau nikahi anakku?”
“Malam ini juga, Ibu.”
“Malam ini juga? Apa kamu sudah gila Marwan?”
“Aku mau menikahi ibu,” kata Marwan lirih.
“Apa kamu m,asih waras nak? Aku ibumu, tak boleh demikian. Sadar, nak.. sadar…”
“Aku ingin menikahimu ibu?”
“Jangan Nak. Sadar Nak aku ibumu…”
“AKu ingin menikahimu sekarang juga Syifa…” Bentak Marwan. Matanya tajam menatap Syifa. Syifa ketakutan bukan kepalang.
“Maukan aku menikahimu…?” Marwan berkata selembut mungkin. Entah karena takutnya Syifa mengangguk lemah dan Marwan tersenyum. Dia salami ibunya dan dia bergumam, aku menkahimu dengan mas kawin Rp. 2 juta hutang. Syifa tersenyum dipaksakan dan airmatanya berlinang. Marwan memeluknya dan menciuminya, lalu membawanya ke kamar tidur, lalu lanmpu teplok pun diredupkan.

“Ini malam pertama kita sayang…” kata Marwan. Syifa ketakutan ditatap tajam oleh sorot mata Marwan.
“Ya… ini malam pertama kita, kata Syiofa menggigil. Marwan tersenyum dan mendekati Syifa, lalu melepas satu persatu pakaiannya sampai bugil . Keduanya bugil, sementara purnama mengintip dari celah-celah dinding bambu. Marwan menmeluk ibunya dan mengecup bibirnya, meremas teteknya dan mengelus sekujur tubuh Syifa. Desah demi desah nafas jadi saling memburu dan Syifa malah sudah lupa kalau dia adalah ibukandung Marwan. Vagina yang sudah basah, akhirnya menelan habis kemaluan Marwan dan hitam besar da panjang. Syifa tidak bis aberbuat apa-apa selain menimmatinya sampai keduanya orgasme.

Usah itu, Syifa sempat meneteskan airmatanya, sementara Marwan sudah terkapar di sisinya dengan nafasnya yang memburu. Kali kedua mereka lakukan Syifa masih merasakan ada sesuatru yang mengganjal di hatinya. Setelah yang ke empat dan ke lima, dia bisa menikmatinya, dan melupakan siapa dirinya. Syifa semakin menyanangi Marwan yang semakin gigih mencari nafkah. Dia tau orang banyak mengatakan kalau Marwan sudah gila bahkan dirinya juga dikatakan gila, Syifa diam saja. Dia tahu siapa Marwan dan siapa dirinya.

Ketika Syifa hamil dan semua orang tau, kalau Syifa tidak pernah menikah setelah Tsunami dan semua sudah memastikan kehamilan Syifa adalah karena hubungan seks ibu dan anak, semua diam. Semua mengatakan, Syifa dan Marwan ibu dan anak yang sudah gila.
Saat anak mereka lahir dengan sehat, Marwan pergi ke kota dan menawarkan tanah dan rumah mereka. Bertahun tanah dan rumah itu ditawarkan, tak ada yang mau membeli, walau surat-suratnya lengkap. Siapa yang mau membeli dari orang gila. Saat seorang Cina mengetahui surat lengkap dan Marwan adalah pemilik sah tanah ayahnya, Cina ityu membelinya, saat Syifa sedang hamil anak kedua dalam udia 49 tahun. Mereka pindah entah kemana kini.

TAMAT


Setelah seminggu kami menikah, akhirnya aku menjadi terbiasa di rumah mertuaku. Aku memang bekerja di kota S, sedang keluargaku berada di desa. Aku dan isteriku mendapat kamar di lantai dua. Di lantai dua, ada seorang adik iparku lakilaki belum menikah. Isteriku tiga bersaudara. Dia anak perempuan satu-satunya. Dia diapit oleh dua saudara laki-alkinya. Yang sulung juga belum menikah dan kini masih kuliah di Australia.

Aku cepat pulang dari biasanya. Isteriku masih bekerja di kantor. Di rumah hanya ada seorang pembantu dan ibu mertuaku. Saat aku melintasi kamarnya yang berada di bawah tangga, aku melihat ibuku sedang berganti pakaian. Nampaknya daia baru mandi. Entah kenapa, mata kami beradu. Dengan cepat aku menunduk. Aku cepat ke lantai atas. Tapi dadaku berdebar kencang. Gila! Tubuh ibuku, ternyata sangat sempurna, walau sudah melahirkan tiga anak. Usianya yang 42 tahun benar-benar masih OK. Dadanya masih kelihatan mulus, kencang dan putih sekali. Dengan cepat aku memasuki kamar mandi dan membersihkan diriku. Kuganti celana kerja dengan training spark. Aku memakai kaos longgar saja. Saat keluar kamar, aku melihat ibu mertuaku ada di lantai dua.

“Nak…Wawan, kamu tadi sempat lihat mama, ya?” tanyanya. Aku gelagapan. Mata kami sudah beradu, untuk apa berbohong, apalagi membohongi hatiku.
“Ya..ma. Kenapa mama tidak menutup dan mengunci kamar rapat-rapat,” kataku.
“Siapa sangka kamu pulang cepat. Tidak biasanya. Ya sudah…tak perlu ngomong bilang siapa-siapa,” katanya. Aku tersenyum. Lalu kami turun ke lantai bawah untuka makan siang. Saat mau menuruni tangga tak sengaja, tanganku menyenggol buah dadanya. Empuh sekali.
“Tu…kamu sudah menyentuh…?” Mertuaku tak meneruskan perkataannya.
“Maaf ma…Maaf. Tak sengaja,” kataku. Mata mamaku tajam menatapku. Aku tak mengerti apa makna tatapannya itu. Apakah marah atau bagaimana. Lama kami diam dan saling menatap. Tiba-tiba geloraku naik. Dadaku terasa menggemuruh. Kupegang bahu mertuaku. Ingin aku menentramkan hatinya. Saat aku menyentuh bahu kanannya, mertuaku tersenyum. Ah…perduli amat. Toh enggak ada saksi, kata hatiku. Langsung saja kupeluk mertuaku yang seksi itu.
“Waannnn…” tangkisnya. Tapi kedua tanganku sudah memeluknya. Mulutku sudah mengecup bibirnya. Buah dadanya sudah menempel di dadaku. Aku terus melumat bibirnya, sampai kondenya terlepas. Kuremas-remas pantatnya.

“Wan…nanti kelihatan si Inem lho…”
“Inem lagi keluarkan, Ma?”
“Sebentar lagi datang.”
“Nanti dia pasti menekan bell, kan?” kataku terus memeluk mamaku.
“Jangan Wan…ketahuan papa mu dan isterimu. Gila kamu.”
“Mama diam saja,” kataku. AKu terus memeluknya, kini aku meremas teteknya yang masih terbalut pakaian dan Bra.
“Mama enggak mau Wan. Kamu kan menantu mama.”
“Sabar ya Ma. Kita sama-sama nakal kan?” kataku terus juga membuka kancing baju mertuaku. Ah…begitu cepatnya tanganku bekerja, hingga tetek putih itu sudah terlepas dari pembungkusnya. Kulumat putingnya dan aku mempermainkan lidahku. Tubuh mertuaku kusandarkan ke dinding tangga.
“Wa…mama enggak mau. Takut…” AKu tak perduli. Sudah kepalang tanggung. Tanganku mulai meraba mmeknya dri balik CD nya. Tiba-tiba terdengar suara bell.
“Tu…kan…? Ayo kamu yang buka. pasti si Inem. Aku bereskan dulu kondeku.”

Aku langsung turun ke bawah dan membuka pintu pagar. Sengaja aku berjalan lambat, agar Inem tak cepat memssuki rumah. Setelah Inem masuk dan ke dapaur, mertuaku turun dan menemui Inem ke dapur. Aku mendengar pembicaraan mereka. Mertuaku meminta agar dia tidak diganggu, karean mau istirahat di kamar. Sedang aku, dikatakannya juga sedang mengerjakan pekerjaan kantor di kamar atas, juga tidak diganggu. Inem mengiyakan. AKu cepat lari naik ke lantai dua. Dari atas, aku mengirimkan SMS kepada mertuaku.

“Ma…cepat naik ke atas, biar kondenya saya betulin.”
AKu menunggu balasannya. Benar saja, tak lama kemudian aku mendapat jawaban dari SMS mertuaku.
“Ntar…tunggu saja. Belum aman.” Gila. Itu artinya, mertuaku akan menyusul aku ke lantai dua. Padahal aku hanya iseng saja mengirimkan SMS, mau tau apa jawaban mertuaku.

Tak sampai 5 menit, mertuaku datang ke lantai dua dengan memakai dasternya. Dia sudah melepas sanggulnya dengan rambut digerai. Langsung kupeluk dia. Ah…terasa empuk sekali dadanya yang tak dilapisi bra. Kuraba memeknya, juga tidak memakai CD. Gila sekali. Berarti mertuaku juga kepingin bermesraan denganku. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Kuseret dia ke kamar khsus untuk tamu. Kukunci secepatnya. Dengan cepat pula aku menelanjangi diriku. Kulihat mertuaku tersenyum melihat penisku yang sudah menegang.

“Kamu sungguhan mau menyetubuhi, mama?” Basa-basi gila, pikirku. Pake nanya segala. Lalu mau apa, kan aku sudah telanjang!
Tak perlu aku menjawab pertanyaan gila itu. Langsung saja kuangkat dasternya dari bawahke atas. Tubuh mamaku benar-benar masih indah. Putih bersih dan masih ramping, berbentuk tanpa lemak di pinggul dan perutnya. Aku langsung emnciuminya, meraba dan menjilatinya. Mama tak mau kalah. Dia lebih agresif lagi menjilati tubuhku. Kamu saling menjilati dan meraba, mengisap, mengelus dan memeluk. Indah sekali rasanya, bercinta dengan wanita yang berpangalaman. Aku justru seperti dituntun untuk melakukan apa yang dia lakukan serta menjilati apa yang dia jilat. Kutolak mertuaku ke atas tempat tidur. Dia langsung emngangkangkan kedua pahanya lebar-lebar. Aku menindihnya dan memasukkan penisku ke dalam paginanya. Aku memompanya. Mertuaku menggamit tengkukku. Setelah lidahku berada dalam rongga mulutnya, kini tubuhnya meliuk-liuk bagaikan ular sawah yang berada di air yang sedikit sekali. Gila. Ak terjungkit-jungkit di atas tubuhnya. Keringatr kami, membuat sekujur tubuhkami menjadi basah.

“Ma…ampuuun, aku mau sampai ma…?”
“Tahan dulu. Jangan dulu…”katanya sembari menggigit lidahku kuat-kuat. Aku kesakitan dan hanya bisa mengeluarkan desahan saja, seab lidahku ada di kulumannya. Setelah itu mertuaku melepas lidahku yang sakit sengaja dia gigit. Rasa mau orgasme seketika menjadi hilang, diganti rasa sakit di lidahku. Mertuaku terus menerus meliuk-liukkan
tubuhnya dari bawah. Aku terbawa olehliukan tubuh yang gemulai itu. Di jepitnya kedua kakinya ke pinggangku dan leherku dikepit oleh tangannya, Kepalaku sudah berada di lehernya da sebelah tangannya memeluk pingangku. Liukannya semakin cepat membuat tubuhku ikut bergiyang-goyang. AKu tak perlu lagi memompa penisku ke dalam memeknya, karean liukannya, membuat penisku bis akeluar masuk dengan sendirinya. Benar-benar gila, mertuaku. Liukannya berhenti seketika dan kakinya menjepit lebuih kuat serta leherku terasa sakit dijepit tangannya. Aku merasakan ada desir air hangat di kepala penisku. Mertuaku sudah orgasme.

“Ayo…puaskan dirimu…” katanya, setelah jepitannya melemah. AKu memeompanya dan membangun nafsuku yang hammpir hilang. Saat aku memompanya, mertuamu mengelus-elus punggungku dengan lembut. Tak lama, aku orgasme. Kami sama-sama lemas. Begiti kami usai istirahat, aku membersihkan diri ke kamar mandi dan mertuaku juga. Dia terus tersenyunm.
“Kapan-kapan, kita betulin lagi konde mama ya,” katanya sambil berlalu.

Sejakl saat itu, kami terus melakukannya, kapan sja kami mau melakukannya pada saat-saat aman. Hingga pada suaru sore di kantor, aku mendapat SMS dari ibu mertuaku.
“Mama di Kamar 612 Hotel S. Mau memperbaiki konde. Kalau bisa Jemput Mama, Minta izin pada isterimu.”

Dengan cepat aku menelpon isteriku, mengatakan aku terlambat pulang karena ada urusan kantor. Isteriku mengingatkan aku, agar hati-hati. Kupacu mobilku ke hotel yang tersebut dalam SMS. AKu memarkir mobol di tempat tersembunyi dan langsung ke kamar 612. Ku tekan bell. Mertuaku tersenyum menyambutku.

“Kita perbaiki konde mama, ya,” kataku.
“Ya…waktu kita singkat. Kita harus segera,” katanya. Kami kembali melakukan persetubuhan yang lebih seru lagi.

Mertuaku memang seorang perempuan yang mengerti bermain seks. Luar biasa. Terlebih dia sangat lihat meliuk-liukkan tubuhnya dengan indah, bagaikan ular sawah yang sedang birahi.

TAMAT


Ini adalah cerita mantan pacar gw Marcia, yang dia ceritain ke gw beberapa waktu lalu. Marcia mendesah saat ia menyandarkan kepalanya di bagian belakang kursi goyang. Bayinya (amy) yang berumur berumur satu bulan putri berada di pelukannya sedang menetek. Rasanya nyaman sekali akhirnya masalahnya selesai. Pompa ASInya rusak dan Amy tidur lebih lama dari biasanya, dan payudaranya terasa sakit sekali karana penuh denga susu. Marcia akhirnya lega setelah Amy bangun, nangis untuk segera disusui. Tapi Marcia hanya lega setengahnya saja, karena setelah menghabiskan ASI dari payudara kirinya, Amy kembali tidur, sementara payudara kananya masih penuh dengan susu. Sementara anaknya yang pertama Markis, Dia tampak agak-agak menarik diri akhir-akhir ini semenjak adik bayinya lahir. Tentu saja Marcia tahu Markis pasti masih sulit menerima kematian ayahnya yang meninggal enam bulan yang lalu, karena korban tabrak lari. Air mata pun mulai mengalir di mata Marcia ketika ia mulai terkenang Guruh, suaminya dan ayah bagi kedua anak-anak –nya. Ia sangat merindukannya. Hidup tampak begitu tidak adil pikirnya. Sekarang dia ditinggalkan sendirian mengurus seorang bayi yang baru lahir dan remaja tanggung.

Dia mendengar langkah kaki dan membuka matanya. Markis sudah pulang sekolah dan langsung menuju ruang TV. Marcia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Markis dan ngga harus ngerasa malu kalau Markis melihat dia sedang menyusui Amy. “Markis ‘, kata Marcia. Markis menggerutu mennjawabnya. Dia sudah asyik menonton TV. “Bagaimana di sekolah?” Marcia berusaha untuk memilai percakapan. Markis tidak menjawab. “Markis?” “Apa?” Akhirnya ia menjawab dengan jengkel. “Bagaimana di sekolah” “Lumayan. Kapan makan malam Bunda? “Jawabnya. “sekitar satu jam lagi bunda buatin. Ngga apa-apa kan? ” Lagi-lagi, Markus ngga menjawab. Marcia menghela napas. Ia merindukan saat-saat dai dan Markis percakapan mereka. Ia merindukan senyuman dan lelucon norak dari anak laki-laki satu-satunya itu. Marcia menyadari kalau ia merindukan Markis hampir sama seperti ia merindukan mendiang suaminya. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membawa Guruh kembali. Tapi ia bertekad untuk melakukan apapun untuk membuat Markis ceria kembali. Pada saat itu, Marcia menyadari bahwa Amy sudah berhenti mengisap peyudaranya, Amy sudah tidur lagi! Sial…, pikirnya. Amu bahkan belum menetek payudara yang satunya. Dia membuka dasternya dan menekan lembut pada payudaranya yang tampak bengkak. Setetes susu keluar dari putingnya dan Marcia meringis. Payudaranya begitu begitu bengkak penuh susu, sedangkan pompa ASInya masih rusak! Dia mencoba membangunkan Amy, tapi Amy tidur nyenyak sekali! Jadi Marcia mulai memijat payudaranya sedikit, berharap untuk memerah susunya. Marcia begitu serius memerah ASInya sampai dia tidak menyadari bahwa payudaranya telah sepenuhnya terlihat oleh Markis. Dia hanya menyadari itu ketika dia akhirnya menengadah dan melihat mata Markis benar-benar terfokus pada payudaranya! Ia menatap Markis sejenak, dan merasakan selangkannya telah basah. Marcia sangat terkejut! Bahwa dia bisa terangsang hanya karena anaknya sedang melihat payudaranya! Marcia buru-buru mengalihkan perhatiannya dan dengan cepat menutupi payudaranya. Tiba-tiba, pandangan mata Markis dan Marcia bertemu. Sejenak, mereka tidak mengatakan apa-apa. Kemudian Markis memerah mukanya dan ia kembali menonton TV lagi.
Marcia merenung. Apa yang baru saja terjadi? Dia mencoba memastikan bagaimana perasaannya saat ini. Marcia menggeliat di tempat duduknya dan menyadari bahwa dia sudah sangat basah …. dia
terangsang! Putranya telah membuatnya terangsang. Marcia memang tidak melakukan hubungan seks dalam waktu yang cukup lama, tapi bagaimana ia bisa terangsang sama anaknya sendiri? Setelah satu menit, Marcia menyadari bahwa apa yang dia rasakan belum juga hilang. Bahkan semakin menjadi-jadi. Dia harus bisa menghentikannya, pikir Marcia. Marcia pun kembali berfokus di Payudaranya yang penuh ASI. Dia butuh bantuan pikirnya. Kalau saja Markis mau mengisapnya … ahh..apa yang sedang dipikirnya, darimana datangnya ide itu? Ide it uterus menggema di kepalanya. Marcia melihat Markis putranya dan dui melihat bahwa markus sedang terngsang juga, penisnya sedang ereksi. Markis matanya memang terpaku pada TV, tapi tangannya mengelus-elus selangkangannya. Marcia melirik ke arah TV. Tentunya acara Tom & Jerry tidak akan membuatnya jadi terangsang. Mungkinkah Markis sedang membayangkannya? Tanpa berpikir lebih jauh, Marciapun mengambil keputusan Dia perlu bantuan dan Markis ada di sini …

”Markis.” Panggil Marcia. Markis menoleh ke arahnya, tangannya pun segera menyingkir dari selangkangannya
“Tolong taruh Amy di tempat tidurnya, kemudian kembali lagi ke sini segera. Bunda ada perlu sama kamu. ” “Tentang apa Bunda?” Jawab Markis. “Markis…..tolong bunda dulu deh… “. Markis segera bangun dari sofa dan dengan hati-hati mengambil Amy dari Bundanya. Marcia sengaja membiarkan bajunya tetap terbuka ketika Markis mengangkat adik bayinya. Dia melihat tatapan Markis terpaku pada putingnya, Markis memandangi putingnya sejenak. Markis membawa Amy ke kamar dan beberapa saat, ia kembali.
Marcia tidak berusaha untuk menutupi tubuhnya sehingga ketika Markis dating ia melihat ibunya dengan baju benar-benar terbuka dan payudaranya benar-benar terpampang padanya.
Marcia membiarkan Markis memandanginya sejenak, lalu Marciapun berbicara.
“Markis, bisa Bantu bunda?.” Markis memandangnya. “Ya Bunda, ada apa?”. “Emh.., Amy tidak terlalu lapar dan sayangnya dia tidak minum semua ASI bunda. Bunda pengen minta tolong kamu…..emh…itu……. kamu tahu kan…. ” Suara Marcia tiba-tiba menghilang. Tiba-tiba ia tidak begitu yakin apa yang sedang dilakukannya. Markis kelihatan kebingungan.

“Sudahlah Nak ….” Marcia pun mulai menutup banjunnya kembali. Markis segera maju kedepan. “Tidak, Bunda .. tolong jangan” Markispun menghentikan Marcia menutup bajunya. “Biar Markis.” Dia memohon. Dan tanpa ragu-ragu, Markis berlutut di samping kursi dan dengan lembut meraih puting susu bundanya ke mulutnya dan dia mulai menetek. Perasaan lega seperti menjalari tubuh Marcia pada saat itu. Ia menyenderkan kepalanya ke belakang dan hanya menikmati sensasi yang timbul. Markis menetek dengan semngat. Tangan Markis memijat dengan lembut payudara bundanya saat dia Menetek, Marcia bisa mendengarkan bunyi Markis menelan ASInya. Sampai akhirnya ASInya habis, tapi Markis masih saja mengisap putingnya.

Lalu Markis menggigit kecil putingnya dan Marciapun menjerit! Markis melepaskan putting Bundanya dan tersenyum padanya. “Maaf Bunda”. Dan mereka berdua pun tertawa.
Marcia sangat senang sekali bisa tertawa lagi dengan Markis. Marcia tidak ingin membiarkan perasaan itu pergi. Dia melihat bahwa tangan Markis memijat payudara yang satunya. Markis bertanya menatapnya dan Marcia pun mengangguk. Tanpa ba bi bu lagi Markis mulai mengisap payudara yang satunya juga. Ada beberapa tetes susu tersisa dan Markis dengan lahap menjilatnya.

Markis menetek dengan sangat lahap. Tangan Marcia memeluk kepala anaknya, mendorongnya lebih dekat dengannya. Marcia sadar kakinya membuka melebar dan dia pun milai mengerang lembut. Markis akhirnya melepaskan putting Bundanya dan ia mulai menurunkan kepalanya kearahnya selangkangan Bundannya yang terbuka. “Bunda … ajarin Markis apa yang harus dilakukan”. Marcia terkejut untuk sejenak. “Oke sayang…”. Tapi pertama-tama, kita turun dulu dari kursi ini.”
Markis membantunya berdiri. Marcia memandang anaknya dan ia tahu bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Dia perlukan menunjukkan cintanya kepada Markis dan dengan melakukan itu, mungkin Markis bisa ceria lagi. Marcia ia membutuhkan seorang pria. Kita bisa saling membantu pikir Marcia.

“Bunda mencintaimu anak”. “Markis juga cinta sama Bunda”. Lalu bibir mereka bertemu dan mereka berciuman dengan penuh gairah. Marcia tahu kalau Markis tidak berpengalaman, Tapi dia akan mengajarinya. Ciuman berakhir. Marcia menjilat bibirnya. Merasakan ASInya sendiri ! Tanpa membuang waktu lagi, Marcia mulai membuka kancing kemeja anaknya .
“buka pakaian kamu sekarang sayang”, Marcia mengerang. Dia begitu terangsang!
Markis pun telah telanjang bulat dihadapannya bagaikan saat dia dilahirkan dulu. Penisnya tampak keras dan berdenyut-denyut. Ia terkejut melihat betapa besar penis Markis. Apa semua anak umur 14 tahun sebesar ini? Marciapun menyentuh penis anaknya, yang langsung menjadi semakin keras. Marcia ingin menunjukkan cintanya, ia pun berlutut dan mulai mengisap penis anaknya.

“Oh Bunda”, katanya Marcia mencium penis anaknya, berputar-putar lidahnya di ujungnya, kemudian mengulumnya. Kepalanya naik turun saat ia mengulum penis anaknya. Rasanya nikmat sekali ada penis di mulutnya lagi. Dia merasakan penis Markis mulai bergetar di mulutnya … Marcia tahu markis akan klimaks. Marcia bertekad untuk menelan setiap tetes cinta putranya, sama seperti Markis telah meminum ASInya. “Bunda?” …. Markis berkata dengan berbisik.

Marcia terus mengisap, memandang ke arah putranya dan memberitahu kepadanya dengan tatapan matanya bahwa tidak apa-apa. Markis menatapnya sejenak, lalu ia memejamkan matanya rapat-rapat. Pada saat itu, putranya mencapai klimaks dan mulutnya penuh dengan cairan kental putih. Dia bisa merasakan semprotan dalam mulutnya lagi dan lagi. Marcia terus mengulum Penisnya dan menelan setiap tetes mani anaknya. Dan tetap saja dia tidak berhenti mengisap.

Dalam sekejap, penisnya keras lagi. Dia membuka mulutnya dan melepaskan penis markis. Marcia memandang ke arahnya dan perlahan-lahan mulai berdiri. Tubuhnya bergesekan dengan tubuh putranya ketika ia berdiri. Dia menekankan tubuh dekat dengannya, merasakan payudaranya di dada anaknya. Penis Markis berdenyut. Marcia menciumnya lagi, kali ini dengan perlahan-lahan. Marcia mengulurkan lidahnya. Markis segera merespon dengan memutar-mutar lidahnya. Ciuman mereka semakin dalam. Marcia memelukya lebih erat. Markis sudah lebih tinggi daripada Marci, kepalanya sedikit mendongak ketika mereka berciuman. Akhirnya ciuman mereka berhenti. Kali ini, Markis berdiri di depannya saat ia menatap tubuhnya. Masih masih baju dan roknya dan dia tersenyum dan berkata “Ikuti Bunda.”.

Marcia berjalan ke kamar tidur, Markis pun mengikutinya. Ketika ia berjalan, ia pun sambil membuka pakaian, Pada saat dia sampai di tempat tidur, ia sudah telanjang bulat seperti Markis. Marcia berbalik dan menghadap kea rah Msrkis. Markis berada tepat di belakangnya dan dia pun segera menerkam Bundanya. Mereka berdua tertawa, mereka terjatuh di ranjang. Marcia merasa sangat senang bisa untuk bisa tertawa lagi dengan Markis, Merekapun bernafsu lagi. Dan Marcia hanya bisa terkagum-kagum melihat betapa nyatanya gairah untuk anaknyaini. Dia ingat hari ia dimana Markis lahir, mendorong keluar dari antara kedua kakinya dengan penuh semangat untuk memulai kehidupan.

Dan sekarang di sinilah dia, 14 tahun kemudian, siap untuk mengambil tempat tepat antara kedua kakinya lagi. Anaknya. Mereka berbaring di tempat tidur bersama-sama. Marcia memeluk kepalanya Markis ketika ia mulai menetek pada payudaranya lagi. Sekali lagi, membuka kakinya kepada Markis. Markis berlutut di antara kedua kaki Marcia yang terbuka. Marcia buka lebar kedua kakinya saat Markis memandang vaginanya untuk pertama kalinya. Markis tampak terengah-engah, Ia memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma vagina Bundanya. Marcia mendesah dan vaginanya pun tambah basah. “Bunda cantik sekali”. Bisiknya.

Markis menundukkan kepala dan mulai menjilati vagina Bundanya. Marcia terkesiap merasakan lidah Markis menyapu vaginanya untuk pertama kalinya. “Ajarin Markis Bunda”, katanya.
”Sudah bener sayang…lakuin aja secara alami insting kamu sayang” Bagaikan kata-kata penyemangat dari Bundanya Markis makin bernafsu menjilati dan menghisapi vagina Bundanya dan mulai memasukan jarinya kesana
Marcia belum pernah merasakan perasaan yang begitu kuatnya. Anaknya sendiri sedang menjilati vaginanya. Dia merasakan nafsu yang amat liar menjalari tubuhnya. Mulut Markis terasa nyaman sekali di vaginanya, tetapi Markis perlu untuk diajari lagi supaya lebih pintar.

“Markis …… hisap itil Bunda sayang …” . Marcia menggerakkan jari-jarinya dan menyentuh klitorisnya untuk menunjukkannya kepada Markis. Markis cepat belajar, segera ia menemukan g-spotnya dan dia terus mengisap klitoris Bundanya, yang membawa Bundanya ke ambang puncak kenikmatan. Seluruh tubuh Marcia dipenuhi oleh nafsu. Gelombang demi gelombang gairah dan nafsu datang bagaikan air bah. Anaknya sendiri sedang berada di antara kakinya, menjilati vaginanya, dan rasanya begitu nikmat sekali. Marcia mengerang, terengah-engah.

“Entot bunda sayang”, dia berteriak. “Entot Bunda!” Dan Markis pun melakukan hal itu. Markis menyorongkan kemaluannya di vagina bundanya dan mulai menyetubuhinya. Marcia mengencangkan dinding vaginanya, ketika penis anaknya masuk ke dalam. Dengan setiap dorongan,
ia meremas otot-otot vaginanya dan menggerakkan pinggulnya. Mereka berdua mendesah penuh gairah. Marcia Menarik lengan Markis agar lebih dekat dengannya, lalu tangannya meluncur ke bawah punggungnya sampai menyentuh pantatnya. Marcia ingin membawa Msrkis lebih dekat dengannya. “Oh Markis sayang …” teriak Marcia. “I love you Bunda” kata Markis.

Marcia menjerit tertahan saat ia mencapai klimaks, hampir pada waktu yang bersamaan dengan anaknya itu. Bersama-sama mereka berteriak, tubuh mereka menjerit di tempat tidur. Marcia bisa merasakan semprotan mani anaknya di dalam rahimnya. Marcia melengkungkan punggungnya dan berteriak, gairahnya bagaikan memakan seluruh tubuhnya. Tubuhnya tersentak, kemudian sejenak, mereka tidak mengatakan apa-apa. Markis mulai mengeser tubuhnya, tetapi Marcia menahannya. Markis terlihat santai, mulutnya ada di dekat payudara bundanya. Dia membuka mulutnya dan putingnya pun masuk kedalam mulutnya. Markis mengisapnya perlahan. Rumah itu sepi, kecuali suara dari mulut markis sedang menetek sama Bundanyamengisap. Kemudian sama seperti saat Markis lakukan ketika ia masih bayi, suara hisapannya menjadi lebih tenang dan tenang sampai akhirnya ia berhenti dan dia tidur.

Marcia menatap putranya dengan penuh..

Itulah yang di ceritakan Marcia ke gw saat kita bertemu beberapa waktu yang lalu…..hubungan mereka sekarang telah membuahkan seorang putra berusia 1.5 tahun…Walaupun Marcia sudah tidak menyusui Amy tetapi Marcia tetap menyusui kedua anak laki-lakinya sampai sekarang.

TAMAT


Sejak menjadi lumpuh akibat kecelakaan 7 bulan yang lalu nampaknya ayahku semakin depresi dari hari ke hari, sehingga suatu hari dia tiba-tiba ngamuk. Dia mengusir kami keluar dari rumah.
Awalnya kami tidak menghiraukan omongan dia yang marah itu, tapi ketika melihat dia merangkak kedapur dan mengancam akan membakar rumah, kamipun mulai keluar.
Ibuku, aku, dan adik perempuanku yang masih berumur 7 tahun hanya bisa menangis sambil membawa keluar barang-barang berlomba dengan api yang terus melahap rumah kayu kami sementara orang-orangpun mulai berdatangan untuk menolong dan menonton.
Untunglah ibuku sempat mengambil simpanan uang sekitar 9 jutaan, dan perhiasaan, sementara aku dan adikku sempat membawa hampir semua pakaian kami.
Nampaknya tidak ada pilihan lain untuk menghemat uang, kami terpaksa mengontrak sebuah rumah kecil yang tidak jauh dari situ.
Rumah itu benar-benar sempit bagi kami bertiga, sehingga kamipun harus tidur satu kasur di dalam kamar tidur yang memang cuma satu.
Namun yang menjadi masalah besar bagi kami, yaitu kami harus berurusan dengan polisi, sebagai buntut dari kasus bunuh diri ayah.
Hampir 2 minggu baru kami bisa merasa tenang, setelah urusan itu selesai, ibupun bisa kembali bekerja di sebuah salon dan sekolah akupun tidak lagi terganggu.
Hari-hari berlalu kamipun mulai bisa melupakan masalah besar yang pernah menimpa kami, dan canda tawapun mulai ada diantara kami meskipun masih jarang.
Memang semua sudah mulai normal tapi aku malah semakin tidak normal, dari malam ke malam aku semakin gelisah, setiap melihat ibuku mulai berbaring, hatiku terasa menyadari bahwa ibuku kesepian sejak ayah sakit, dan aku ingin menggantikan posisi ayah memeluk dan menindih ibu.
Tapi benarkah ibu merasa kesepian dan maukah ibu jika aku lakukan itu?Memang meskipun kami tidur satu kasur, namun saking sibuknya kami kadang tidak waktunya ngobrol, kalau malam kadang malas ngobrol karena tidak mau menggangu adikku yang mau cepat tidur.
Suatu malam ketika seperti biasanya kami mulai duduk diatas kasur hendak tidur, sementara adik duluan tidur ditengah antara aku dan ibu, aku coba berbicara: “bu, ada yang ingin aku omongkan”
“kenapa nak?” ibu dengan suara lembut.
Aku menarik nafas panjang:”nampaknya kita harus ngobrol diruang tamu aja, ga pa-pa kan ma?”
Aku duluan duduk diatas sofa yang sudah robek-robek tapi masih lembut diruang tamu itu kemudian ibu mengikuti duduk diujung sofa.”Ada apa nak” ibu bertanya lagi sambil seperti menahan kantuk.
“Ga pa-pa kok ibu, aku cuma rindu dan pingin ngobrol sama ibu, ga marahkan!”
“Ah! Masak marah sih!” ibu tersenyum.
“Bu,” aku menarik nafas, “apa ibu ga ada rencana nikah lagi?”
Ibu tersenyum lagi, “ha..ha.. kenapa memang?”
“Ga pa-pa, tapi ibu ga kesepian?” aku memberanikan diri memandang wajah ibu.
Ibu terdiam kemudian menunduk.
Dengan jantung berdenyut hebat, aku mulai mendekati ibu, langsung memegang tangannya.
Sementara ibu masih terdiam menunduk, aku mulai memeluk lembut.
“Kenapa kamu grosi?” ibu tiba-tiba berbicara membuat aku terkejut.
“ga-ga…” aku gugup.
Membuat ibu tersenyum lagi namun untuk senyum yang ketiga kali ini aku tafsir sebagai sinyal bahwa ibu mengerti perasaanku.
Untuk itu aku coba mencium pipinya.
Ternyata benar ibu menikmati, sehingga aku merasa diberi kekuasaan untuk mengecup bibirnya dan terus melumat.
Seperti biasanya dalam dunia kasmaran, kami duapun saling mematuk, berlomba memberi kenikmatan dan secara otomatis tanganku meraba dan terus membukakan pakaian ibu.
Payudaranya sudah tidak kencang lagi, tapi aku begitu berhasrat mengenang masa balitaku dengan mengisap pentil kemerah-merahan itu.
Dengan sedikit panduan dari ibu akupun mulai memasukkan penisku, karena memang ibu sudah mengambil posisi menekukkan lututnya, namun ketika aku mulai memperkuat goyangan, mungkin karena sofa ‘klasik’ itu ikut bergoyang sehingga menimbulkan suara, membuat adikku yang dikamar tiba-tiba terbangun dan langsung memanggil “mama!”
Kami dua kaget, dan spontan aku mencabut penisku sekaligus mengambil pakaian masing-masing untuk menutupi tubuh.
Dengan ekpresi gusar ibu masuk kemar sambil berbicara: “kenapa nak, ini ibu disini” lalu kembali kepadaku dikamar tamu dengan membawa selimut.
“Kita ulang lagi ya, sayang” suara ibu terdengar serak.
Kami duapun segera mengambil posisi diatas sofa, mengabaikan kemungkinan adik terbangun lagi.
Namun ketika aku hendak memasukkan penisku lagi, tiba-tiba ibu berbicara: “biar ibu aja yang diatas, biar suaranya ga kuat” ibu sepertinya menghindari suara goyangan sofa yang bisa membuat adikku terbangun lagi.
Tapi sama saja, goyangan ibu juga membuat ada bunyi-bunyian disofa tua itu, namun ibu sepertinya tidak mau peduli, dia terus saja membuat aku merasakan kenikmatan tiada tara, sehingga sebuah panggilan terdengar: “mama!”
Ibu cepat-cepat mengambil selimut kemudian menutupi tubuhnya dan bagian bawah tubuhku.”Mama kenapa disitu?” adikku menghampiri kami dengan ekspresi penasaran.
“Ka..ka..mu liat ibu lagi mijat kakak mu!” ibu menaruh tangannya diatas dadaku yang telanjang.
“Memangnya kaka sakit apa?”
Ibu tidak menjawab dan akupun tidak mampu menjawab karena ibu mulai bergoyang lagi dengan lembut didalam selimut.
“Sudah kamu tidur saja nak, ini sudah malam, tidur sendiri dulu ya ibu mau mijitin kakak” kata ibuku kepada adiku.
Setelah adikku masuk kamar kami pun kembali melanjutkan persetubuhan kami.
Setalah yakin adikku tertidur kembali kamu pun bertukar posisi, aku menindih ibuku, aku pun memompa penisku keluar masuk vagina ibu, sampai akhirnya aku tumpahkan spermaku disana.
Persetubuhan it uterus kami lakukan di hari-hari berikutnya sampai akhirnya 6 bulan kemudian ibuku positif hamil.

TAMAT


aku Enos 30 tahun. sudah menikah, istriku seusia denganku dan kami punya anak satu. kami tinggal dengan adik iparku bernama titin, umurnya 27 tahun. kalau aku ditanya siapa wanita terseksi maka jawabannya adalah adik iprku itu. titin punya tubuh yang luar biasa menarik dalam pandanganku. wajahnya memang biasa tapi selalu enak dipandang.

tingginya 162, berat 45. yang membuatku sangat mengaguminya adalah payudara pinggul dan pantatnya. bh 36A, pinggul berlekuk sempurna hampir tanpa lemak dan pantat yang membulat keatas.

caranya berpakaian dan sikapnya dirumah membuatku dapat menikmati pemandangan indah itu dengan leluasa.

sering aku curi pandang kearah dadanya, hampir tiap malam aku bangun dan mengintipnya sedang tidur. membuatku sering masturbasi.

aku sering berfantasi sedang menikmati tubuh indah itu bahkan saat aku sedang bercinta dengan istriku.

aku selalu berpikir keras bagaimana caranya aku bisa menikmati tubuh titin tanpa terjadi masalah. kalau dia mau bercinta suka sama suka tentu tak masalah, tapi akukan suami kakaknya.

suatu hari istriku pulang ke semarang menengok ibunya yang sakit. sedang titin karena kerja tinggal dirumah.

kesempatan yang jarang seperti ini harus kumanfaatkan. malam harinya saat akan tidur aku memasukkan obat tidur dosis tinggi dalam teh yang diminum titin.

hampir jam 12 malam aku masuk kekamarnya. mengetuk dan untuk memastikan obat itu sudah bekerja aku memanggilnya. karena tidak ada jawaban aku masuk dan menyalakan lampu.

tubuh titin tergeletak indah diatas ranjangnya. dasternya membentuk setiap lekuk tubuhnya. puting susunya terbentuk jelas.

darahku mengalir lebih cepat, nafasku jadi berat. kudekati titin pelan kuraba kakinya tiada reaksi terus kepahanya. titin diam tak bergerak, rupanya obat tidur itu kuat luar biasa.

kutarik dasternya melepaskan dari tubuhnya. tidak sulit karena tubuhnya lemas tertidur pulas.

sekarang tubuh yang kuidam-idamkan tergolek telanjang tanpa sehelai benangpun.

kulepas pakaianku, kontolku melompat keluar dengan semangat berdiri tegak ingin merambah vagina titin.

kuremas susunya, titin mengeluh pelan kutarik tanganku kaget. rupanya ia tetap tertidur. susunya terasa kenyal padat. seperti mangga ranum.

kuremas lagi susunya, aku terangsang berat. sekarang mulutku yang menghisapi putingnya, buas mengigiti lembut. tanganku meraba selangkangannya. setiap kali titin mendesah tapi tetap tertidur. mungkin ia terangsang dibawah alam sadarnya. tapi yang jelas desahannya menambah tinggi gairahku.

jariku pelan menusuk liangnya, mengocok pelan. hangat terasa lubangnya. setelah beberapa kali kocokan akhirnya jariku leluasa bergerak, anehnya vaginanya basah oleh cairannya.

“WOOOWWW…… ini lebih dari yang kuharapkan!” pekikku dalam hati.

kuputar posisiku menjadi 69. walau titin tidak menghisap kontolku, kugosok kontolku di wajahnya. nikmat terasa tegangnya kontolku menggesek wajahnya.

kujilat rambut vaginanya. kucari liang yang sudah kutusuk tadi. bibir vaginanya tersingkap berwarna merah muda warna perawan.

dengan nafsu kujilati bibir vagina itu, suaraku seperti sedang orang makan rujak. kuisap klitorisnya. nikmat menyerang tubuhku. lidahku masuk menyeruak kedalam vaginanya. terasa tubuh titin bergerak lembut. sungguh aku tak mengerti, apakah titin merasakan cumbuanku dalam tidurnya?

lidahku bertemu dengan rasa khas vagina, lendir licin dan hangat bercampur dengan liurku. sambil itu kuremas dengan gemas pantatnya yang kenyal dan padat.

tubuhku yang menindih tubuhnya meliuk meresapi kenikmatan ini. ku coba memaksa kontolku masuk ke mulutnya. agak susah tapu akhirnya sebagian batang kejantananku tenggelam kemulutnya. kukocok kontolku sambil membayangkan titin mengulumnya. nafsu rendahku membuatku menikmati gesekan mulut, bibirnya di batangku.

hampr 10 menit aku melakukan seks posisi 69 itu sendiri. aku cukup puas walau titin tidak sadar. kontolku mulai terasa penuh. kutarik dan kuputar tubuhku dalam posisi tradisional. vagina titin yang telah membuka dan kontolku yang keras seperti batu bertemu. sulitnya kumasukkan kontolku. butuh upaya sampai akhirnya dengan pelan kontolku menembus vagina titin.

“SLEEPPP”

“AAGGGGHHHHH……” aku mengerang nikmat.

kubiarkan kontolku meresapi kontraksi lembut vagina titin. remasan yang rupanya terjadi tanpa sengaja. aku juga heran perempuan yang tidurpun cairan kimia dalam tubuhnya dapat bereaksi tanpa diminta.

setelah menikmati itu, kukocok pelan kontolku, tubuh titin berguncang lembut. kupacu nafsuku diatas tubuh adik iparku yang menggairahkan.

benar-2 pengalaman yang menegangkan dan indah.

hampir 10 menit akhirnya kontolku tidak bisa menahan desakan spermaku yang mau muntah. kutarik dan kutumpahkan maniku dibajuku.

aku terkapar lemas di atas tubuh adik iparku itu. menikmati setiap tetes kenikmatan yang mengucur.

aku memilih tidur sambil memeluki tubuh titin. sampai jam 4 pagi aku memakaikan lagi dasternya dan pindah kekamarku.

malam itu berlalu dengan indah.

TAMAT



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.