Kumpulan Cerita Favorit

Bude Surti

Namaku Jono. Aku anak kedua. Ayahku, Muji 46th kerja mempunyai usaha mebel yang sudah cukup terkenal di Surabaya. Ibuku, Sri 42h juga mempunyai sebuah toko di Pusat Grosir terkenal di Surabaya. Aku adalah anak tunngal di keluargaku.

Saat ini aku akan memasuki masa kuliah. Karena aku baru lulus SMU, dan setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, aku diterima di salah satu universitas negri di Jogja. Karena aku harus tinggal di Jogja, Ibuku menyuruhku untuk tinggal di rumah Bude Surti. Kakak Ibu, umurnya cuman selisih setahun dengan Ibu. Ibu tidak memperbolehkan aku untuk kos supaya aku ada yang mengawasi.

Beberapa minggu pertama terasa berat bagiku. Karena mungkin aku gak terbiasa hidup jauh dari orang tuaku. Di rumah bude Surti cuman ada anak semata wayangnya, ipung yang masih duduk di abngku SMP. Sedangkan suaminya pergi ke luar pulau. Karena bekerja sebagai kontraktor jalan, dan mendapat proyek di Banjarmasin. Dan terakhir pulang saat lebaran tahun lalu. Bude ku dulunya adalah seorang sinden. Dulu, kata beliau tiap hari hampir pasti ada tanggapan. Tapi sekarang dia mengurangi intensitasnya supaya bisa fokus mengawasi sekolah ipung. Anak semata wayangnya.

Hingga pada suatu hari ada suatu kejadian yang membuatku mulai merasa kerasan tinggal di Jogja. Saat itu aku baru pulang kuliah. Jam menunjukan jam 4. Di rumah ternyata tidak ada orang. Mungkin bibiku ada tanggapan pikirku. Karena kecapekan aku tidur tiduran di ruang tengah. Tak berselang lama Budeku datang. Dia memakai kebaya khas sinden. Aq lihat sekilas sih badannya masih montok. Gak gembrot kayak ibu2 lainnya. Bahkan menurutku, ibuku kalah montok dengan Bude Surti.

“Lo kamu dah pulang to le”, kata Budeku
“Iya bude. Abis kuliah siang.. Bude habis tanggapan yah ?”, Jawabku
“Iyah dari desa sebelah. Lo kamu sakit ta le. Ya wes mandi biar seger. Tapi bude dulu ya yang mandi. Keringetan dari tadi.” Kata Bude

Bude ngeloyor masuk ke kamarnya. Tak berselang lama Bude keluar dari kamar. Yang bikin aku kaget adalah. Dia waktu itu memakai handuk yang hanya menutupi sebagian dada sampai hanya sebagian pahanya. Jelas terlihat sebagian tetek Budek yang gede. Yang seakan mo meloncat keluar. Tapi kulihat juga tali Bhnya. Bhnya sepertinya tidak dia lepas. Selain memperhatikan tetek yang gede itu, aku sepintas mencuri lihat ke bokong nya yang juga sangat montok pikirku. Hmmmm… pelahan adikku mulai berontak dan bikin celana sempit.

Bude mondar mandir seakan ada yang dia cari. Dan dia berhenti di pojokan deket aku tiduran tadi. Ternyata dia mo mengambil BH ama celana dalam yang kering habis dicuci di kerangjang cucian. Karena tempat cucian keringnya berupa keranjang dan ditaruh di lantai, dia mengambil dengan cari membungkuk membelakangiku. Entah gak sadar atao gimana, saat dia menungging, bokongnya yang super semok itu jelas terpampang. Dan aku melihatnya dengan jelas. Tentu juga celana dalamnya yang seolah gak muat membungkus bokong itu. Uhhhhhhh… bikin kontolku mulai bangun nih.

Terus kuperhatian saat dia nungging, terlihat di tengah-tengahnya seperti daging yang menyembul. Agak tembem. Dan terlihat samar2 warna hitam dibalik sempak Bude. Sssssssshhhh.. ini pasti memek Budeku yang ditumbuhi jembut. Aq jadi penasaran pengen melihat betapa tembemnya memek bude ama lebatnya jembut Bude. Makin lama kontolku makin keras ajah ni. Tak seberapa lama Bude selesai memiulih celana dalam dan BH untuk ganti. Waaaaaahhh… rejeki yang kecepetan pikirku. Dan Dia akhirnya masuk ke kamar mandi.
Baru masuk kamar mandi, ada suara “serrrrrrrrr…serrrrrr” keras sekali. Wah ini pasti Bude lagi kencing. Aku semakin penasaran nih ama memek Bude. Nyemprotnya sampek segitu keras. Aku berfantasi yang lebih liar, mungkin karena aku seringnonton film bokep di laptop.

Beberapa menit kemudian, Bude keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai daster. Dan dia menyuruhku untuk mandi. Aku pun bergegas mandi.

Setelah masuk ke kamar mandi, aku mendapat rejeki lagi. Di kaitan baju dalam kamar mandi terpampang dua benda yang bikin kontolku berdiri secara perlahan. Kulihat BH ama celana dalam Bude. BHnya gede. Celana dalam berenda itu kulihat ada bekas kuning dibagian depannya. Wah ini bekas kencing Bude pikirku. Akhirnya aku gak kuat, karena dari tadi kontolku udah mengeras saat aku melihat dan memegang megang Celana dalam dan BH Bude. Akhirnya aku selesaikan dengan mengocok sendiri. KU kocok kocok makin lama makin cepat. Dan.. crrrooooott…crooootttt…. menyemburlah sprema ku. Uhhhhh legaaa… tapi aku masih penasaran ama isi sebenarnya dari BH dan celana dalam Bude.

Hari makin hari makin malam. Setelah makan malam, aku, Bude dan Ipung lagi lesehan di depan TV. Malam ini Bude memakai daster dengan belahan paha yang agak tinggi. Duduknya bersimpuh. Khas seperti sinden. Dia disibukkan dengan menjahit baju. Sedangkan aku dan ipung tiduran di depannya menghadap TV. Iseng iseng aku mencuri pandang ke arah Bude. Sepintas aku liat dia duduk pahanya agak membuka. Wah walaupun agak gelap dan samar aku bisa lihat mulusnya paha Budeku. Ini yang membuat aq berpikiran jorok dan membuat tegang kontolku.

Hari makin malam, ipung yang ngantuk pindah ke kamarnya. Sambil menonton TV Bude sama aku ngobrol.-ngobrol.
Bude : “Gimana kuliahnya kamu Jon ?”
Aku : “Baik Bude. Seru temen-temenku”
Bude : “Dah punya cewek belum kamu le ?”
Aku : “Belum Bude masih pilih-pilih… hehehe”
Bude : “lo yang kemarin.. sapa tu namanya ? Wulan ? Itu bukan pacarmu to”
Aku : “Oh itu. Belom Bude. Aku masih kurang Sreg. Dianya itu yang ngebet ma aku”
Bude : “oooo.. tapi kapanhari Bude intip kamu lagi ciuman tu pas dia dateng kesini”
Mendengar itu aku kaget dan malu. Wah ternyata diam-diam Bude mengawasiku kalo lagi indehoy. Aku hanya senyum-senyum.

Bude : “Gpp le, namanya juga anak muda. Bude dulu juga gitu. Selain ciuman kalo lagi berduaan sepi kamu ngapain lagi hayooo?”
Bude menggodaku sambil senyum-senyum
Aku pun dibuat salah tingkah olehnya. “Ngapain ? Gak ngapa-ngapain kok Bude” jawabku sedikit gugup.
Bude : “Hmmm ngakunya gak ngapa-ngapaiiiin. Padahal bude pernah ngintip km lo. Kalian saling remas barang masing-masing. Hhihih ”
Aku kaget lagi. Ternyata bude tau kalo aku sering grepe-grepe.
Bude : “Gak usah malu gitu le. Kalopun kamu keterusan, yang penting kamu bisa mnegerti betul tentang sex”
aku terperangah. Jarang-jarang bude ngomong seperti ini.
Aku : “eee.eee.. maksutnya Bude?”
Bude : “Yaaa.. seandainya kamu gak kuat dan terpaksa itu otong kamu kepingin muntah. Yaa seenggaknya kamu pake kondom gitu le”

bude ngomong begitu sambil menunjuk kearah celanaku. Dia gak tau kalo isinya dah tegang hasil mengintip paha yang keliatan karena duduknya agak membuka.
Aku : “ee. I.. I.. iya Bude.”
Bude : “gimana rasanya teteknya si wulan itu le ? Enak ?”
Aku : “eee… lumayan kenyal Bude.”
jawabku dengan agak meringis. Dan akupun semakin berani karena arah pembicaraan udah memanas.
Aku : “Kalo Bude gimana. Pakde kan jarang pulang. Kalo pengen begituan gimana donk Bude ? ”
Aku sedikit takut akan pertanyaanku. Tapi ternyata dia merespon pertanyaanku tanpa marah.
Bude : “hmmm.. mau tau ajah kamu jon”
Bude : “Iya kalo kamu jon, gak kuat nahan paling-paling dikocok sendiri. Anak muda kan gitu biasanya”
Bude : “Oh iya le.. ntar kalo jahitnya selesai, kamu pijit Bude ya. Pegel semua abis ada tanggapan 2 tempat tadi.”
Aku : “iya bude”

Wah rejeki apalagi nih pikirku. Bisa mijitin badan Bude yang montok. Tak berselang Bude selesai menjahit. Dan dia mengambil minyak urut di kamarnya.

Bude : “Mijitnya di sini aja yah le. Sambil liat TV”
Bude dengan entengnya membuka dasternya dengan hanya menyisakan BH dan celana dalam berenda warna putih. Aku shock, terdiam. Tetek bude serasa mau loncat dari Bhnya.

Bude : “lo le.. kok diem saja. Kayak yang gak pernah lihat ginian. Bukannya wes biasa ama wulan. Hehe”
Bude pun langsung tengkurap di tikar dan menyerahkan minyak urut ke aku
Aku : “Beda bude”
Bude : “Beda apanya to le. Palingan tetek wulan lebih kenceng dari punya Bude.”
Sambil melumuri minyak dan mulai mengurut punggung Bude aku melanjutkan ngobrol.
Aku : “Hmm… punya Bude lebih montok. Lebih seger kayaknya. Hehehe. Lagian mana tau aku kalo punya wulan lebih kenceng. La wong aku gak pernah megang punya Bude. Hehehe”
Bude : “Husss ngawur”

Karena Bude masih memakai BH, aku kesulitan untuk mengurut punggungnya.
Aku : “Bude behanya dicopot ajah ya, aku gak leluasa ngurut punggungnya. Ada tali behanya”
Bude : “ya wes le, buka aja”
aku buka tali pengait behanya. Dan Bude agak mengangkat badannya dan melemparkan beha yang gede itu ke samping. Sekilas aku dapat melihat gedenya tetek Bude dari samping. Aku kembali fokus mengurut punggung Bude. Sekali-sekali aku elus punggungnya.
“hmm..mmmm”, Bude sepertinya keenakan dengan pijatanku.
Sesekali aku memijat bagian samping punggungnya. Dan tak sengaja aku menyenggol teteknya. Bude keenakan sepertinya. Tangannya yang sedari tadi nempel di tubuhnya sekarang direnggangkan. Hmm.. kulihat di ketiaknya terdapapat bulu yang lumayan lebat. Mirip seperti artis Eva Arnas jaman dulu. Wah ini membuat aku semakin horny aja.

Bude : “kok kamu ngurutnya di punggung aja to le. Turun donk biar rata pegelnya ilang”
Aku : “Turun kemana bude ?”
pura-pura aku tanya.
Bude : “ya ke bokong trus ke paha bude”
Aku : “oh.. I.. iya bude’
aku pun ganti mngurut bokong bude. Sesekali bokong semok ini aku remas-remas.
“sssstttt… hmmm.. enak le pijatanmu”
Bude keenakan spertinya. Matanya mulai merem merasakan nikmat. Abis aku pijat sama meremas-remas aku mulai turun ke pahanya. Aku mencoba untuk hanya mengelus-elus pahanya. Dari bawah jalan ke atas sampai bokongnya. Aku coba tanganku aku selipkan di selangkangannya. Hmmm.. terasa itu memek bude dibalik cd nya. Terasa tembem kayak kue apem.

Praktis pijatanku ini membuat bude keenakan. Erangan halusnya makin sering terdengar.
“shhhh.. hhhhh.. hmmmmm”
Sakit enaknya, dia sampai sedikit membuka kakinya. Wah memek tembemnya makin keliatan nih. Samar2 kulihat jembutnya di balik celana dalamnya. Bahkan beberapa jembut keluar dari celana dalamnya. Pemandangan jelas membuat aku semakin horny. Kontolku sepertinya mo berontak keluar. Aku semakin meningkatkan intesitas mengurutku di daerah ini.
Bude : “hmm… enak le. Makanya si wulan seneng banget kalo km remas2 le”
Aku : “Hehehe… bude tak liat-liat badanya masih sekel. Masih bagus Bude. Montok lagi. Padahal bude gak pernah olahraga”
Bude : “Bude minum jamu donk. Jamu sehat wanita”
Aku : “wah enak donk jadi pakde. Bude minum jamu mulu siii”
Bude : “Ntar kalo kamu udah kawin kamu bisa merasakan enaknya”
Pikirku mulai ngalor-ngidul. “Ah sekarang ajah aku ngentot ama Bude. Merasakan enaknya kayak pakde” batinku
Mungkin karena sudah birahi, terlihat celana dalam Bude agak basah.
“Ini mijetnya udah Bude ? Mana lagi ni yang mo dipijit ?” Aku terpaksa ngomong begitu karena tanganku pun dah berasa capek.
“Lo yang depan belom le”
Whaaaat… wah ini mah rejeki nomplok. Kapan lagi aku bisa menikmati tetek Bude. Tanpa babibu Bude langsung membalikkan badan. Woooooo…. tetek Bude yang selama in icuman bisa aku bayangkan sekarang ada di depan mata. Mimpi apaan nih aku semalem.
“Lo ayo le jangan diem ajah. Tetek Bude pegel ini. Ayo cepet dipijet.”
Aku pun menurut ama Bude. Kuurut itu tetek Bude. Terlihat tetek bude pentilnya dah mulai item. Tapi gede. Awalnya sih tidak ada reaksi saat aku memijat sambil meremas tetek Bude. Tapi lama kelamaan Bude menikmatinya.
“wenaaaak joooo.n….”
Mata Bude sambil tertutup menikmati pijatanku ini. Kusenggol pentilnya yang item. Sesekali aku pilin itu pentilnya. Shhh.. begitu erangnya.Dan entah ada dorongan dari mana, aku mencoba mendekat. Aku coba menjilat itu pentil. “slllrrrrppp…” sesekali aku kecup… aku sedot sedot… Tanganku satunya meremas tetek satunya lagi…
“ssssh… aahhhhhhhhh” erang Bude
Slrrrrrpp… cupppp…ceppppp… slrrpppp.. “Hmmm tetek Bude kenyal banget. Punya wulan kalah ni Bude”
“Terussss jooon… enaaaak… duh badan Bude geli semua ini” Bude meracau.
Bibirku sekarang mencoba menggapai Bibir Bude. Kucium. Lidahku masuk ke bibirnya. Aku sedot sedot. Sampai air liurnya masuk ke mulutku. Ciumanku mulai berjalan dari bibir Bude turun melewati leher dan ke tetek lagi. Ku kenyot kenyot itu tetek. Tanganku satunya berjalan ke arah selangkangan Bude. Sempaknya yang basah aku gosok gosok. Pinggul Bude karena keenakan bergoyang goyang menikmati. Aku masukkan tangganku ke dalam celana dalam. Terasa itu lebatnya memek Bude. Aku cari cari akhirnya ketemu itu lubang memeknya.

“shhh achhhh… ashhh achhhhh….”
Mendengar erangan Bude aku coba masukkan jariku ke memek Bude. Aku coba gosok klentitnya. Dan aku coba kosok itu memek.
“sshhhh.. enak leee. Terus leeee… ya itu disitu le… wenak leeee”
goyangan pantat Bude ke atas ke bawah. Aku coba buka itu celana dalam Bude. Bude membantunya dengan membukanya sendiri.

Kenyotanku pada teteknya aku hentikan. Aku sekarang dapat melihat betapa rimbunya memek Bude. Bude mekangkang. Wajahku mencoba mendekat. Kuciumi itu jembut2nya. Kusibak jembutnya. Setelah memek tembemnya keliatann Aku jilat bagian luarnya. Lidahku memainkan jilatan di klitorisnya. Kumasukkan lidahku ke lubang memek Bude.
“ahhhhh… ahhh.. argghhhh.. wenak… wenak… arhhhhh… awww… enak leeee…”
untuk menghentikan erangan Bude aku copot semua baju dan celanaku. Aku coba mengambil gaya 69. Wajahku di memeknya Bude, dan wajah Bude pas di kontiku.

Tanpa Ku komando, Bude dengan rakusnya mengenyot kontolku. Dia jilat dan disedot dengat enaknya.
“Kontolmu enak jooon, cepp ceppp..slrrrrppppp”…
Aku juga melanjutkan menjilkat memek Bude. Tak Lama setelah lidahku merongrong memek Bude, sepertia dia mendapatkan orgasme pertamanya.
“shhhhh.. jooooooon bude mau keluarrrr… ahhh ahhhhh”
Dengan diikuti gerakan bokongnya keatas… dan kepalaku dia jepit sekuat kuatnya…
“ahhhh… ahhhhh…argghhhhh…”

Setelah itu Bude melanjutkan mengulum kontolku. Karena aku berasa akan keluar aku cabut kontolku dari mulut Bude. Badanku berbalik. Sekarang posisiku diatas Bude. Kontolku skr ada di depan memek Bude. Aku gosok gosokan kontolku ini di luar memek Bude.
“ahhhhhh… jooon… masukin kontolmu joooon… tempik Bude dah pengin di entot jooo… masukiiin”
stelah bude terasa tersiksa begini aku coba pelan pelan masukin ini rudal ke memek Bude. Awalnya agak susah, pelan pelan aku dorong dan sekarang …. blesssss…
“arghhhhhh…. genjot jooon”
Aku genjot pelan pelan memek Bude.
“awwwww… arghhhhh.. shhhhhhh… wenak…kontolmu joooon…. manteeep leee”
Aku mainkan irama kontolku. Cepat… terus melambat.. cepat lagi… melambat lagi…
“ayo.. jon… genjot lebih cepet tempik Budemu ini… ahhhh… ahhhhh”
aku genjot semakin cepat…
“Bude.. aku mo keluar bude… ahhhhh… shhhh”
“sama jooonnnn…. Bude juga dah gak kuat.. mo keluar lagi le. Keluarin di dalem ajah le…”
Tak seberapa lama terasa memek Bude melumuri kontolku dengan cairan orgasmenya… memeknya berkedut… sepertinya kontolku di hisapnya…
“”awhhhhhhh.. awhhhhhhhh… enaaaak joooo…. n”
dan aku pun udah gak uat lagi menahan… crott..croottt.croott..
“Wenak Budee… ahhhh. Ahhhhhh… arhhh”

Akhirnya kami pun lemas. Aku terbaring diatas tubuh Bude…
Bude : “Kamu nakal lee… tapi enak tadi kontolmu.. dah lama aku gak ngentot ama pak demu le…”
Aku : “Iya bude.. Tempik Bude juga enak… punyaku terasa disedot… Minum jamunya yang sering yah Bude”
Bude : “Hussss kamu.. tapi ini rahasia yo leee. Jangan sampek orang lain tau’
Aku : “Beres Bude.. asal aku nanti dikasih tempik Bude yang enak ini”
Budeku tersenyum dan akhirnya kami biasa melakukannya bila kami pengen…

TAMAT

Bu Marmo

Seperti yang kujanjikan, beberapa teman kantorku akhirnya menjadi langganan pijatan Bu Mumun setelah aku mempromosikannya. Rupanya pijatannya benar-benar disukai para pria. Termasuk Pak Marmo, atasanku.

Bahkan ada dua temanku yang menanyakan kemungkinan untuk tidak sekadar mendapat layanan memijat dari Bu Mumun tetapi lebih dari itu. “Kayaknya bisa nggak To kalau Bu Mumun diajak begituan. Aku suka lho wanita tipe seperti dia. Sudah tua tapi tubuhnya masih bagus dan terawat,” kata Rizal, teman sekantorku suatu hari setelah hari sebelumnya dipijat Bu Mumun di rumahnya.

Rizal juga cerita, saat dipijat ia sempat menggerayang ke balik daster yang dipakai Bu Mumun. Tetapi ternyata, kata Rizal, Bu Mumun di samping memakai celana panjang ketat sebatas lutut juga memakai celana dalam rangkap. “Entah rangkap berapa celana dalam yang dipakainya. Aku sampai nggak bisa merasakan empuknya memek dia,” ungkap Rizal menambahkan.

Mendengar ceritanya aku jadi ingin ketawa sekaligus bangga. Sebab ide memakai pakaian seperti itu saat memijat memang atas saranku. Karena kuyakin para pria pasti tertarik untuk iseng dan coba-coba. Tetapi agar Rizal menjadi penasaran dan tetap menjadi langganan pijat, kukatakan padanya kalau aku tidak tahu bisa tidaknya Bu Mumun memberi layanan seks selain memijat.

“Selama ini sih aku hanya tahu ia tukang pijat yang baik dan pijatannya enak. Kalau sampai ke masalah itu saya tidak tahu. Mungkin kalau pendekatannya pas bisa saja ia mau melayani. Apalagi kan udah cukup lama ia ditinggal suaminya,” ujarku.

Pria lain yang juga terang-terangan menyatakan ketertarikannya pada Bu Mumun adalah atasanku. Bahkan setelah aku sering mengantar Bu Mumun untuk memijat, karena Pak Marmo lebih senang pijat di rumahnya, ia menjadi semakin dekat denganku. Aku juga dipercaya memegang sebuah proyek dengan nilai cukup besar, sesuatu yang belum pernah dipercayakan padaku.

Menurut Pak Marmo, pijatan Bu Mumun bukan hanya enak tetapi juga mampu menggairahkan kejantanannya. “Jangan cerita ke siapa-siapa ya. Saya dengan ibu sudah lama tidak jalan lho. Nggak tahu kenapa. Tetapi melihat pemijat tetanggamu itu dan mendapat pijatannya, sepertinya mulai agak bangkit. Suaminya sampai sekarang belum pulang?” kata Pak Marmo ketika aku menghadapnya di ruang kerja.

Pak Marmo mengundangku karena nanti malam jadwalnya dia dipijat Bu Mumun. Tetapi menurut dia, istrinya juga ada rencana belanja ke supermarket dan menemui salah satu koleganya pedagang permata. Selain mengantar Bu Mumun ke rumahnya, aku diminta bantuan menyopir mobil untuk mengantar istrinya.

Sebagai seorang bawahan terlebih karena kebaikannya mempercayakan sebuah proyek berdana besar kepadaku, kusampaikan kesediaanku. Namun sebelum aku keluar dari ruangannya ia kembali mencegah dan berbisik. “Eh Ton, kira-kira bisa nggak tukang pijat itu memberi layanan lebih? Kamu bisa bantu atur?”

Aku paham kemana arah pembicaraan atasanku itu. Maka seperti yang kusampaikan kepada dua temanku yang menjadi langganan pijat Bu Mumun, kukatakan bahwa selama ini yang kutahu ia hanya berprofesi sebagai pemijat dan soal yang lain-lain belum tahu. Hanya kepada Pak Marmo kukatakan akan mencoba melakukan pendekatan ke Bu Mumun.

Setelah keluar dari ruang kerja atasanku, aku menemui Bu Mumun. Sambil berpura-pura cemburu kuceritakan soal ketertarikan atasanku kepadanya. Tetapi juga kuceritakan tentang kebaikan Pak Marmo termasuk kepercayaannya memberikan proyek besar di bawah penangananku.

Bu Mumun cerita, setiap dipijat Pak Marmo memang berusaha merayunya. Juga berusaha menggerayang ke balik pakaian seperti temanku yang lain. “Tetapi kelihatannya punya Pak Marmo sudah sulit bangkit kok,” ujar Bu Mumun.

“Oh jadi cerita Pak Marmo soal kemampuan seksnya yang sudah berkurang itu bener?” Kataku pura-pura kaget.

“Jadi enaknya sikapnya gimana Pak Anto. Dia kan atasan bapak dan juga baik sama bapak,” ujarnya lagi.

Akhirnya dengan seolah-olah sebagai sesuatu yang sangat sulit untuk kuputuskan, kukatakan padanya bahwa karena kondisi kemampuan seks atasanku tidak normal maka sebaiknya Bu Mumun membantunya. Saat memijat, sebaiknya tidak memakai celana dalam rangkap tiga dan juga tidak memakai celana panjang di balik daster yang dipakai.

“Maksud saya agar Pak Marmo terangsang karena dia suka sama ibu. Memang resikonya Pak Marmo jadi leluasa menjahili ibu sih. Tetapi niatnya kan untuk membantu menyembuhkan dia. Gimana menurut ibu?”

“Kalau itu yang terbaik menurut Pak Anto saya sih nurut saja. Tetapi Pak Anto jangan cemburu ya,”

Bu Mumun langsung kupeluk. Kukatakan padanya bahwa sebenarnya aku sangat cemburu dan tidak suka tubuh Bu Mumun diraba dan dipegang-pegang orang lain. Tetapi demi menolong atasanku itu dan demi membalas kebaikannya aku akan berusaha untuk tidak cemburu. “Asal yang ini jangan diberikan semua ke Pak Marmo ya bu. Saya suka banget dengan yang ini,” ujarku sambil meraba memek Bu Mumun setelah menyingkap dasternya.

Tadinya aku berniat melepaskan hasratku untuk menyetubuhi tubuh montok tetanggaku itu. Tetapi setelah saling memagut dan hendak saling melepaskan baju, kudengar anak-anak Bu Mumun pulang dari sekolah. Hingga kuurungkan niatku dan langsung kebur menyelinap lewat pintu belakang.

Seperti yang kujanjikan, sekitar pukul 17.00 kujemput Bu Mumun dan kuantar ke rumah Pak Marmo. Bu Mumun memakai seragam baju terusan warna putih seperti yang biasa dipakai suster rumah sakit. Itu memang baju seragamnya saat memijat. Tetapi dari bentuk cetakan celana dalam yang membayang di pantatnya yang besar, kuyakin ia tidak pakai celana panjang dan celana dalam rangkap seperti biasanya. Rupanya ia benar-benar memenuhi janjinya untuk melayani Pak Marmo dengan lebih baik seperti yang kusarankan.

Kulihat Pak Marmo sedang menyiram bunga di halaman rumahnya saat aku datang. “Eh To, silahkan masuk. Tuh istriku udah uring-uringan karena sudah dandan dan siap berangkat,” ujarnya mempersilahkan.

Benar Bu Marmo sudah berdandan rapi dan siap pergi. Bahkan ia langsung menyerahkan kunci kontak mobil kepadaku. “Wah ibu takut Nak Anto telat datang. Soalnya selain belanja ibu kan harus ke rumah Bu Ramli, jadi takut kemalaman,” kata Bu Marmo.

Bu Marmo menyapa Bu Mumun ramah dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu rumahnya. Ia meminta Bu Mumun menunggu karena suaminya belum mandi. Bahkan kepada Bu Mumun juga berpesan untuk istirahat di kamar tamu rumahnya kalau selesai memijat nanti ia belum pulang. “Santai saja Mbak Mumun nggak usah sungkan-sungkan. Kalau mungkin nanti saya juga ikut dipijat,” ujar Bu Marmo yang langsung mengahmpiriku yang sudah siap dengan mobil Kijang keluaran terbaru milik keluarga itu.

Usia Bu Marmo mungkin sebaya dengan Bu Mumun. Atau boleh jadi lebih tua satu atau dua tahun. Namun dengan pakaian stelan jas tanpa kancing yang dipadu dengan kaos warna krem di bagian dalam serta celana panjang ketat warna hitam senada, wanita itu tampak berwibawa.

Bau harum yang lembut dari wangi farfumnya membaui hidungku saat ia masuk ke dalam mobil. Ia menyebut nama sebuah suoermarket ternama hingga aku langsung menjalankan mobil perlahan. Untung aku yang biasanya hanya memakai T shirt, tadi memutuskan memakai baju lengan panjang meski untuk celana tetap memilih jins. Hingga tidak terlalu canggung mengantar istri atasanku.

Ukuran dan bentuk tubuh Bu Marmo nyaris sama dengan Bu Mumun, tinggi besar. Kakinya panjang dan kekar. Hanya perutnya relatif lebih rata, mungkin karena rajin senam dan olahraga hingga tubuhnya tampak lebih liat.

Awalnya pembicaraan lebih bersifat formal. Tentang bagaimana sikap kepemimpinan suaminya di kantor dan bagaimana penilaianku sebagai bawahan. Namun lama kelamaan perbincangan menjadi lebih cair setelah topiknya menyangkut keluarga. “Sebentar lagi cucu saya dua lho Nak Anto. Sebab Menik kemarin telepon katanya sudah hamil,” kata ibu beranak tiga itu.

“Kalau ngomongnya sama orang yang tidak tahu keluarga ibu nggak akan percaya kalau ibu sudah punya cucu,”

“Lho kok?”

“Soalnya dari penampilan ibu, orang pasti mengira usianya belum 40 tahun. Soalnya ibu terlihat masih muda dan energik,” kataku memuji.

“Ah bisa saja Nak Anto. Pujiannya disimpan saja deh untuk istri Nak Anto. Pasti istrinya cantik ya karena Nak Anto kan pandai merayu,”

Lewat kaca spion, wanita yang sehari-hari menjadi kepala sekolah di sebuah SD itu kulihat tak mampu menyembunyikan perasaan bangganya atas pujian yang kuberikan. Seulas senyum manis terlihat menghias wajahnya, wajah yang masih menyimpan sisa-sisa kecantikan di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.

Melihat Bu Marmo aku jadi ingat Bu Mumun. Wanita itu pasti lagi sibuk memijat tubuh atasanku. Atau boleh jadi sambil memijat ia jadi terangsang karena tangan Pak Marmo yang menggerayang ke paha dan selangkangan atau di memeknya yang kini hanya dibalut satu buah celana dalam.

Membayangkan semua itu aku kembali melirik Bu Marmo yang ada di sebelahku. Perbedaan Bu Mumun dengan Bu Marmo mungkin hanya pada warna kulitnya. Kulit Bu Mumun lebih terang dan Bu Marmo agak gelap. Kalau teteknya, aku berani bertaruh payudara istri atasanku ini juga cukup besar ukurannya. Meski tertutup jas hitam dan kaos krem yang dipakainya, tonjolan yang dibentuknya tak bisa disembunyikan.

Di luar itu, yang pasti Bu Marmo lebih wangi dan boleh jadi tubuhnya lebih terawat. Sebab ia memiliki kemampuan keuangan yang memadai untuk merawat tubuh dan membeli parfum mahal. Tetapi begitulah hidup, rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri.

“Sudah berapa lama ya Pak Marmo tidak menyentuh wanita berwajah manis ini? Ah aku juga mau kalau diberi kesempatan,” ujarku membathin sambil melirik bentuk kakinya yang panjang dan tampak indah dibalut celana hitam ketat.

Gara-gara terus-menerus melirik Bu Marmo, mobil yang kubawa nyaris menabrak becak. Untung Bu Marmo mengingatkan hingga aku bisa sigap menghindar. “Makanya jangan meleng! Kenapa sih, sepertinya Nak Anto ngelihatin ibu terus deh,”

“Ee.. ee.. anu.. eee ibu cantik banget sih,” jawabku sekenanya.

“Hush… orang sudah nenek-nenek dibilang cantik,”

Tanpa terasa mobil akhirnya memasuki pelataran parkir supermarket yang dituju. Tadinya aku berniat menunggu di tempat parkir sementara istri atasanku itu berbelanja. Tetapi Bu Marmo memintaku menemani masuk ke supermarket. Bahkan ia menggamit lenganku sambil berjalan di sisiku layaknya seorang istri pada suami.

Sebagai anak buah dari suaminya, sebenarnya aku agak canggung. Tetapi karena Bu Marmo terkesan sangat santai, aku pun akhirnya bisa bersikap wajar. Bahkan setelah berkali-kali tanpa disengaja lenganku menekan buah dada Bu Marmo yang kelewat merapat saat berjalan, aku mulai nekad mengisenginya. Sambil berjalan, siku lengan kiriku sengaja kutekan ke teteknya hingga kurasakan kelembutan buah dadanya.

Entah tidak tahu ulah isengku atau tahu tetapi pura-pura tidak tahu, Bu Marmo bukannya menghindar dari siku lenganku yang ‘nakal’. Sambil terus melangkah di sisiku untuk melihat-lihat barang-barang di supermarket posisi tubuhnya malah kian merapat. Akibatnya tonjolan buah dadanya kurasakan ikut menekan lenganku. Aku juga mulai bisa memperkirakan seberapa besar tetek istri atasanku itu.

Sebenarnya aku kurang begitu suka mengaantar istri berbelanja. Sebab biasanya, istriku suka berlama-lama khususnya ketika berada counter pakaian. Begitu pun Bu Marmo, hampir setiap baju dan gaun wanita yang menarik hatinya selalu didekati dan beberapa diantaranya dicobanya di kamar pas.

Namun aku yang biasanya jenuh dan menjadi bersungut-sungut, kali ini malah menikmatinya. Sebab sambil menunggu wanita itu memilih baju-baju yang hendak dibelinya, aku jadi punya banyak kesempatan untuk melihat bentuk tubuh istri atasanku itu. Saat kuamati dari belakang, wanita yang usianya sudah kepala lima itu ternyata masih lumayan seksi.

Dalam balutan celana ketat yang dipakainya, pinggul dan pantat Bu Marmo benar-benar aduhai. Apalagi celana dalam yang dipakainya jadi tercetak sempurna karena ketatnya celana warna hitam yang dikenakan. Aku terus melirik dan mencari kesempatan untuk menatapnya saat Bu Marmo membungkuk atau memilih-milih pakaian yang menjadikan posisi pantatnya menonjol.

Saat hendak mencoba baju yang diminatinya di kamar pas, Bu Marmo menitipkan tasnya padaku sambil meminta berada tak jauh dari lokasi kamar pas. Lagi-lagi goyangan pinggul dan pantat besarnya menggoda mataku saat ia melangkah. Pikiranku jadi menerawang membayangkan Bu Mumun. Ada perasaan cemburu karena kuyakin Pak Marmo lagi berusaha merayu atau malah sudah berhasil menaklukkan Bu Mumun dan tengah menikmati kemontokkan tubuh wanita itu. Ah andai Bu Marmo bisa kurayu atau membutuhkan layanan seksku, ujarku membathin.

Aku merasakan adanya peluang untuk itu ketika kudengar Bu Marmo memanggilku dari kamar pas. Dengan tergesa aku menuju ke kamar pas yang letaknya agak terpencil dan tertutup oleh display aneka pakaian di supermarket tersebut. Namun di lokasi itu, istri atasanku tak kunjung keluar dan menyampaikan maksudnya memanggilku hingga aku nekad melongokkan kepala dengan menyibak tirai kamar pas.

Ternyata, di kamar pas Bu Marmo dalam keadaan setengah telanjang. Karena setelah mencoba baju dan celana yang hendak dibelinya ia belum memakai pakaiannya lagi. Hanya BH dan celana dalam krem yang menutup tubuhnya. Maka yang semula hanya bisa kubayangkan kini benar-benar terpampang di hadapanku.

Wanita yang usianya tidak muda lagi itu, benar-benar masih menggoda hasratku. Teteknya nampak agak kendur, tetapi besar dan bentuknya masih bagus. Pahanya mulus tanpa cela. Hanya meskipun perutnya tidak membuncit seperti perut Bu Mumun, namun terlihat bergelombang dan ada beberapa kerutan. Maklum karena faktor usia. Sedangkan gundukkan di selangkangannya benar-benar membuatku terpana, besar dan membukit. Bisa kubayangkan montoknya memek Bu Marmo dari apa yang tampak oleh cetakan pada celana dalam yang membungkusnya.

Dan anehnya kendati tahu akan kehadiranku, ia tak merasa jengah atau mencoba menutupi ketelanjangannya. Bahkan meskipun mataku terbelalak dan terang-terangan menjilati ketelanjangannya. “Ih kayak yang nggak pernah lihat perempuan telanjang saja. Nak tolong ke sales untuk bajunya ganti nomor yang lebih besar sedikit. Yang ini kekecilan,” ujarnya tetap santai.

Saat kembali seusai menukar baju pada sales, Bu Marmo memang telah memakai kembali celana panjang warna hitamnya. Tetapi di bagian atas tetap terbuka. Bahkan tanpa menyuruhku pergi, ia segera memakai pakaian yang kusodorkan untuk dicobanya dihadapanku. “Menurut Nak Anto, ibu pantes nggak pakai pakaian model seperti ini,” ujarnya meminta komentarku.

“Ee.. ee bagus. Seksi banget,”

“Hus dimintai pendapat kok seksi.. seksi. Seksi apaan sih,”

“Ee maksud saya dengan pakaian itu ibu terlihat makin cantik dan seksi,” kataku yang tidak berkedip menikmati kemewahan buah dadanya.

Entah karena pujianku atau menganggap baju itu memang sesuai seleranya, Bu Marmo akhirnya memutuskan membelinya di samping beberapa stel pakain lainnya. Hanya ketika aku menemani di counter pakaian dalam dan ia memilih-milih BH nomor 36B, sambil berbisik kuingatkan bahwa nomor itu terlalu kekecilan dipakai olehnya.

“Ih sok tahu,” ujarnya lirih.

“Kan tadi sudah dikasih lihat sama ibu,”

Bu Marmo mencubit pinggangku. Tetapi tidak sakit karena cubitan mesra dan gemas. Kalau bukan ditempat keramaian, rasanya aku sudah cukup punya keberanian untuk memeluk atau mencium istri atasanku itu. Karenanya setelah membayar semua yang dibelinya, saat keluar dari supermarket lengannya kugamit untuk meyakinkannya bahwa aku pun tertarik padanya.

Seperti tujuannya semula, setelah dari supermarket Bu Marmo berniat ke rumah temannya untuk urusan pembelian perhiasan. Tetapi menurutnya ia agak lapar dan ingin menu ikan bakar. Maka seperti yang dimintanya, mobil pun meluncur ke kawasan pantai di mana terdapat rumah makan yang berbentuk saung-saung terpisah dan tersebar dan khusus menjual aneka menu seafood.

Setelah memesan beberapa menu dan minuman, kami menuju ke salah satu saung paling terpencil dan tertutup rimbun pepohonan. Tadinya Bu Marmo memprotes karena menurutnya tempatnya terlalu gelap dan terpencil. Tetapi saat tanganku melingkar ke pinggangnya dan kukatankan bahwa lebih gelap lebih asyik, protesnya yang boleh jadi cuma pura-pura segera berhenti dan hanya sebuah cubitan darinya sebagai jawabannya.

Dari pinggangnya tangaku meliar turun merayap di pantatnya. Dari luar celana ketat yang dipakainya, pantat besarnya kuraba. Bokongnya yang lebar masih lumayan padat, hanya agak sedikit turun. Dengan gemas kuusap-usap dan kuremas pantat Bu Marmo. Lagi-lagi ia tidak menolak dan bahkan kian merapatkan tubuhnya. Maka setelah di dalam saung, ia langsung kupeluk dan kulumat bibirnya.

Sejenak ia tidak bereaksi. Hanya diam membiarkan lidahku bermain di rongga mulutnya. Namun setelah tanganku merayap di selangkangannya dan menelusup masuk ke dalamnya melalui risleting celananya yang telah kuturunkan, pagutanku di mulutnya mulai mendapatkan perlawanan. Bibir dan lidah Bu Marmo ikut aktif melumat dan memainkan lidahnya.

Memek istri atasanku itu tak cuma tebal, tapi juga lebar dan membusung. Itu kurasakan saat telapak tanganku mengusap dari luar celana dalam yang dipakainya. Tetapi nampaknya tak berambut. Permukannya terasa agak kasar karena munculnya rambut-rambut yang baru tumbuh. Sepertinya ia baru mencukur bulu-bulu jembutnya itu.

Namun saat aku hendak lebih memelorotkan celana panjangnya agar leluasa meraba dan mengusap memeknya Bu Marmo mencegah. “Jangan Nak Anto, nanti ada orang. Kan pelayan belum ke sini buat nganterin pesanan makanan kita,” sergahya.

“Ii… ii.. iya Bu,”

Benar juga, ujarku membathin. Aku terpaksa menahan diri untuk tidak meneruskan niatku memelorotkan celana panjang yang dipakai Bu Marmo. Hanya usapan dan rabaanku di busungan memeknya tak kuhentikan. Bahkan sesekali aku meremasnya dengan gemas karena keinginan untuk memasukkan jariku ke lubang nikmatnya tak kesampaian.

Diobok-obok di bagian tubuhnya yang paling peka, kendati masih di luar celana dalamnya, Bu Marmo mendesah. Pelukannya semakin ketat dan lumatannya di bibirku makin menjadi. Rupanya wanita yang usianya sudah di atas kepala lima itu mulai terbangkitkan hasratnya.

Aku dan Bu Marmo baru melepaskan pelukan dan segera berbenah setelah dari jauh kulihat dua pelayan wanita membawa nampan berisi makanan dan minuman yang kami pesan. Selembar uang pecahan Rp 20 ribu kusisipkan di nampan salah satu pelayan perempuan setelah mereka selesai menghidangkan yang kami pesan. “Terima kasih dan selamat menikmati,” kata keduanya sambil melemparkan senyum dan beranjak meninggalkan saung yang kami tempati.

Tetapi bukannya makanan yang terhidang yang kuserbu setelah kedua pelayan meninggalkan saung. Dari arah belakang kudekati dan kupeluk Bu Marmo yang di tikar saung yang menyajikan makanan secera lesehan itu. “Tidak makan dulu Nak Anto?” ujar Bu Marmo.

Tetapi aku tak peduli pada apa yang dikatakan istri atasanku itu. Hasrtaku lebih besar untuk segera menikmati kehangatan tubuhnya ketimbang makanan yang tersaji. Hingga setelah membenamkan wajahku ke keharuman rambutnya, tanganku langsung meliar, Meremasi teteknya dari luar t shirt warna krem yang dipakai dibalik jaketnya yang tak terkancing.

Seperti tetek Bu Mumun, susu Bu Marmo juga sudah agak kendur. Tapi dari segi ukuran, nampaknya tak jauh beda. Besar dan empuk, entah bentuk putingnya. Sambil kuciumi tengkuk dan lehernya, tanganku merayap ke balik t shirt yang dipakainya. Kembali aku meremas teteknya dan kali ini langsung dari BH yang membungkusnya. Kelembutan buah dada Bu Marmo baru benar-benar dapat kurasakan setelah aku berhasil merogoh dan mengelurkannya dari BH.

Bu Marmo mulai menggelinjang dan mendesah saat aku meremas-remas teteknya perlahan dan memainkan puting-putingnya. Ia menyandarkan tubuh ke dadaku seakan memasrahkan tubuhnya padaku. “Sshhh….aaahhh….. sshhh….aahhh… ibu sudah lama tidak begini Nak Anto,” ujarnya mendesah.

“Lho kan ada Pak Marmo,” kataku menyelidik.

“Dia jarang mau diajak dan sudah sulit bangun itunya,”

Meski sudah mendengar langsung dari Pak Marmo aku agak kaget karena ternyata cerita atasanku itu benar adanya. Pantesan Bu Marmo merasa tidak ada masalah meninggalkan suaminya dipijat wanita lain berdua di rumahnya.

Ternyata wanita yang ada dalam pelukanku ini sudah lama tidak dijamah suaminya. Membayangkan itu aku makin terangsang. Jas hitam yang dipakai Bu Marmo kulepas dari tubuhnya. Namun saat hendak kulepas kaos krem yang dikenakan dibalik jaket, wanita istri atasanku itu mencegah. “Takut nanti ada yang ke sini Nak Anto,” ujarnya.

Meski aku telah membujuknya bahwa tak mungkin ada pelayan yang datang kecuali tombol bel yang ada ditekan untuk memanggil, Bu Marmo tetap menolak. Menurutnya ia tetap merasa was-was karena berada di ruang terbuka. “Kalau celana dalam ibu saja yang dibuka nggak apa-apa,” katanya akhirnya.

Agak kecewa sebenarnya karena aku ingin melihat tubuh istri atasanku dalam keadaa bugil. Tetapi membuka celana berarti memberiku kesempatan melihat memeknya. Bagian yang paling ingin kulihat pada tubuh Bu Marmo karena saat di kamar pas supermarket, bagian membusung di selangkangannya itu masih tertutup celana dalam.

Tanpa membuang kesempatan, segera kubaringkan Bu Marmo di lantai saung yang beralaskan tikar itu. Kubuka kancing celana hitam yang dipakai dan kutarik risletingnya. Kini kembali kulihat gundukan memeknya yang masih dibungkus celana dalam krem. Aku menyempatkan membelai memek istri atasanku itu dari luar celana dalamnya sebelum menarik dan memelorotkan celana panjangnya. Benar-benar tebal, besar dan masih cukup liat.

Aku makin terpana setelah memelorotkan celana dalamnya dan membuat tubuh bagian bawah Bu Marmo benar-benar bugil. Memeknya benar-benar nyempluk, membusung dan tanpa rambut. Kalau dibiarkan tumbuh mungkin jembut di memek Bu Mumun masih kalah lebat. Namun Bu Marmo rupanya lebih senang mencukurnya, hingga nampak gundul dan polos.

Memek tembemnya itu terasa hangat saat aku menyentuh dan membelainya. Tetapi sekaligus terasa kasar karena bulu-bulu jembutnya mulai tumbuh. Aku yang menjadi makin terangsang dan tak sabar untuk melihat itilnya, segera membuka posisi kaki Bu Marmo yang masih merapat.

Ah lubang memeknya ternyata sudah lebar, menganga diantara bibir kemaluannya yang tebal dan berkerut-kerut. Bibir kemaluannya coklat kehitaman. Tetapi itilnya yang mencuat menonjol di bagian atas celah memeknya nampak kemerahan. Aku tak lagi bisa menahan diri. Langsung kukecup memeknya dengan mulutku. Memek Bu Marmo ternyata sangat terawat dan tidak berbau. Ia mendesah dan makin melebarkan kangkangan pahanya saat lidahku mulai menyapu seputar bibir luar vaginanya.

Lidahku terus menjelajah, melata dan merayap seolah hendak melumasi seluruh permukaan tepian labia mayoranya. Bahkan dengan gemas sesekali bibir vaginanya yang telah menggelambir kucerucupi. Membuat Bu Marmo mendesis mengangkat pantat menahan nikmat. “Aakkhhh… sshhh… shhh… aahhh…. ookkhhh…. ssshhhh,” rintih wanita itu mengikuti setiap sapuan lidah dan cerucupan mulutku di memeknya.

Sambil mendesis dan mendesah, kulihat Bu Marmo meremasi sendiri susunya dari luar kaos warna krem yang dipakainya. Rupanya ia sangat menikmati sentuhan awal oral seks yang kuberikan. Aku yang memang berniat memberi kesan mendalam pada persetubuhan pertama dengan istri atasanku itu, segera meningkatkan serangan. Dengan dua tanganku bibir memeknya kusibak hingga terlihat lubang bagian dalam kemaluannya. Lubang yang sudah cukup lebar dan terlihat basah.

Ke celah lubang nikmat itulah lidahku kujulurkan. Terasa asin saat ujung lidahku mulai memasuki lorong kenikmatannya dan menyentuh cairan yang keluar membasah. Aku tak peduli. Ujung lidahku terus terulur masuk menjelajah ke kedalaman yang bisa dijangkau. Bahkan di kedalaman yang makin pekat oleh cairan memeknya, lidahku meliar. Melata dan menyodok-nyodok. Akibatnya Bu Marmo tak hanya merintih dan mendesah tapi mulai mengerang.

“Aahhkkkhhh…. aaahhh…. oookkkhhhh… enak banget Nak Anto. Oookkh.. terus.. Nak, aaakkkhhhhh,” erangnya kian menjadi.

Bahkan ketika lidahku menjilat itilnya, tubuh istri atasanku itu mengejang. Ia mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya. Seolah menjemput lidahku agar lebih dalam menggesek dan mendesak ke kelentitnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menempatkan kedua tanganku untuk menangkup dan menyangga pantatnya. Dan sambil terus menjilati itilnya kubenamkan wajahku di permukaan memeknya sambil menekan dan meremas-remas pantatnya.

Kenikmatan tak tertahan yang dirasakan Bu Marmo akibat jilatan-jilatan di kelentitnya membuat gairah wanita itu makin memuncak. Kakinya mengelonjot dan menyepak-nyepak sambil erangannya makin menjadi. Bahkan kepalaku dijambaknya. “Ahh.. ahhh.. ooohh ….aaaauuuhhhhh…. enak.. sshhh…. sshhh…. aahhh enak banget. Ibu nggak tahan Nak Anto, aaahhh…. aahhhh,” sesekali tangannya berusaha menjauhkan kepalaku dari memeknya.

Tetapi aku tak peduli. Jilatan lidahku di itilnya bukannya kuhentikan tetapi makin kutingkatkan. Bahkan dengan gemas, bagian paling peka di kemaluannya itu kucerucupi dan kuhisap-hisap. Akibatnya ia tak mampu bertahan lebih lama. Pertahanannya jebol. Kedua pahanya yang kekar menjepit kencang kepalaku dan menekan hebat hingga wajahku benar-benar membenam di memeknya.

Berbarengan dengan itu ia memekik dan mengerang kencang namun tertahan. Cairan kental yang terasa hangat juga kurasakan menyemprot mulutku uang masih menghisap itilnya. Saat itulah aku tahu Bu Marmo baru saja mencapai puncak kenikmatannya. Rupanya, upayaku untuk membuatnya orgasme tanpa mencoblos memeknya dengan kontolku berhasil.

Setelah beberapa lama, nafas Bu Marmo yang sempat memburu berangsur pulih seiring dengan mengendurnya jepitan paha wanita itu di kepalaku. Hanya ia tetap terbaring. Mungkin tenaganya terkuras setelah puncak kenikmatan yang didapatnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menyeka dan membersihkan mulutku memakai serbet makan yang tersedia bersama sejumlah menu makanan yang belum sempat kami sentuh.

Aku baru saja menenggak habis segelas teh manis hangat yang sudah diingin saat Bu Marmo menggeliat dan terbangun. Kulihat ia tersenyum padaku. Senyum yang sangat manis. Mungkin sebagai ungkapan terima kasih atas yang baru kuberikan dan sudah lama tidak diperoleh lagi dari suaminya. “Nak Anto sudah lapar? Kalau lapar makan dulu deh,” ujarnya.

“Saya sudah kenyang kok Bu,” jawabku.

“Kenyang apa, wong baru minum teh saja kok,”

“Bukan kenyang karena makanan. Tetapi karena menjilati memek ibu yang mantep banget,” candaku sambil menatapi busungan memeknya.

“Ih dasar. Ibu bener-bener nggak tahan lho Nak Anto. Soalnya sudah lama banget nggak dapat yang seperti tadi,” ujarnya tersipu.

Rupanya ia juga baru sadar bahwa bagian bawah tubuhnya masih telanjang. Celana dalam warna krem miliknya yang teronggok segera diambil dan Bu Marmo berniat untuk memakainya. Namun aku langsung mencegah. Kurebut dari tangannya dan kulempar agak jauh darinya. “Jangan ditutup dulu dong Bu. Saya masih belum puas lihat punya ibu,” kataku sambil mengusap memeknya.

“Nak Anto tidak pengin makan dulu?”

“Nanti saja ah. Perut saya sih belum lapar. Tapi kalau yang ini sudah lapar sejak tadi,” ujarku sambil menurunkan risleting celanaku dan mengeluarkan isinya dari celana dalam yang kupelorotkan.

Kontolku keras dan tegak mengacung sempurna. Urat-uratnya terlihat menonjol melingkari sekujur batangnya yang hitam dan berukuran lumayan besar. Bu Marmo tampak terpana melihatnya. “Punya saya hitam dan jelek ya Bu,” kataku memancing.

“Bukan.. bukan karena itu. Tapi ukurannya.. kok gede banget,”

“Masa? Tapi ibu suka sama yang gede kan?” Kataku sambil merubah posisi menggeserkan bagian bawah tubuhku mendekat ke istri atasanku. Aku berharap ia tak hanya menatap senjataku tapi mau mengelusnya atau bahkan mengulumnya. Sementara tanganku tetap merabai dan mengusap-usap memeknya yang tebal.

Bu Marmo ternyata cepat tanggap dan mengerti apa yang kuinginkan. Batang zakarku digenggamnya. Tetapi ia hanya mengelus dan seperti mengamati. Mungkin ia tengah membandingkan senjata milikku dengan kepunyaan suaminya. “Beda dengan milik bapak ya bu. Punya saya memang sudah hitam dari sananya kok,” candaku lagi.

“Ih.. bukan begitu. Punya Nak Anto ukurannya nggilani. Kayaknya marem banget,” ujarnya tersenyum. Wajahnya tampak dipenuhi nafsu.

Akhirnya, Bu Marmo benar-benar melakukan seperti yang kuharapkan. Setelah mengecu-ngecup topi baja kontolku, ia mulai memasukkan ke dalam mulutnya. Awalnya cuma sebagian yang dikulumnya. Selanjutnya, seluruh batang zakarku seperti hendak ditelannya. Mulutnya terlihat penuh karena berusaha memasukkan seluruh bagian tonggak daging milikku yang lumayan besar dan panjang.

Wanita istri atasanku itu ternyata cukup pandai dalam urusan kulum-mengulum. Setelah seluruh bagian batang kontolku masuk ke mulut, ia menghisap sambil menarik perlahan kepalanya. Begitu ia melakukannya berulang-ulang. Aku mendesah oleh kenikmatan yang diberikan. “Oookkhhh… sshhh…. oookkkhhhhh…. enak banget… aakkkkhhhh…. terusss…. aaakkkkkhhhhhh,” desisku.

Sambil terus melumati batang kontolku, tangan Bu Marmo juga menggerayang dan memainkan biji-biji pelir milikku. Kalau bukan di rumah makan mungkin aku sudah mengerang dan melolong oleh sensasi dan kenikmatan yang diberikan. Sebisaku aku berusaha menahan agar tidak sampai rintihanku terdengar orang lain.

Untuk melampiaskannya, aku mulai ambil bagian dalam permainan pemanasan yang dilakukannya. Aku harus bisa mengimbangi permainan Bu Marmo. Kedua pahanya kembali kukangkangkan dan wajahku kembali kubenamkan di selangkangannya. Bu Marmo sebenarnya belum sempat mencuci memeknya setelah lendir kenikmatannya keluar saat orgasme sebelumnya. Tetapi aku tak peduli. Memek wanita yang sudah dipanggil nenek itu kucerucupi.

Bahkan jilatan lidahku tidak hanya menyapu bagian dalam lubang memek dan kelentitnya. Tetapi juga melata di sepanjang alur liang nikmatnya yang menganga namun juga ke tepian lubang duburnya. Saat aku menjilat-jilat tepian lubang anusnya Bu Marmo menggerinjal dan memekik tertahan. Mungkin kaget karena tak menyangka lidahku bakal menjangkau bagian yang oleh sementara orang dianggap kotor.

Tetapi itu hanya sesaat. Setelah itu ia kembali melumati dan menghisapi batang kontolku sambil mendesah-desah nikmat. Karenanya aku makin fokus dan makin sering kurahkan jilatan lidahku ke lubang duburnya sambil sesekali meremasi bongkahan pantat besarnya.

Pertahananku nyaris jebol saat mulut Bu Marmo mulai mencerucupi biji pelir kontolku. Untung Bu Marmo mengambil insiatif menyudahi permainan pemanasan itu. Ia memintaku segera memasukkan rudalku ke liang sanggamanya. “Ahhh… sudah dulu ya. Sudah nggak kuat pengin merasakan batang Nak Anto yang gede ini nih,” kata Bu Marmo seraya melepaskan batang kontolu dari genggamannya.

“Ii.. iiya bu, saya juga sudah pengin banget merasakan memek ibu,”

Aku mengambil ancang-ancang di antara paha Bu Marmo yang mengangkang lebar. Lubang bagian dalam kemaluannya yang menganga terlihat kemerahan . Sepertinya lubang nikmat Bu Marmo telah menunggu untuk disogok. Memang sudah lama tidak ditengok karena kemaluan suaminya yang mulai loyo. Kepala penisku yang membonggol sengaja kuusap-usapkan di bibir luar memeknya yang sudah amburadul bentuknya. Bahkan ada sebentuk daging mirip jengger ayam yang menjulur keluar. Entah apa namanya karena aku baru melihatnya.

Bu Marmo mendesah saat ujung penisku menyentuh bibir kemaluannya. Meski nafsuku kian membuncah melihat memek tembemnya yang menggairahkan, aku berusaha menahan diri. Bahkan ujung topi baja rudalku hanya kumainkan untuk menggesek dan mendorong gelambir daging mirip jengger ayam di memek Bu Marmo. Sedikit menekannya masuk dan menariknya kembali.

Akibatnya Bu Marmo merintih dan memintaku untuk segera menuntaskan permainan. “Ayo Nak Anto… jangan siksa ibu. Masukkan kontolmu.. ssshhh… aahh… sshh ahhh ayo nak,”

Blleeessseeekkk… akhirnya batang kontolku kutekan dan benar-benar masuk ke lubang memeknya. Karena sudah lumayan longgar dan banyaknya pelicin yang membasah di lubang memeknya, batang kontolku tidak mengalami hambatan berarti saat memasukinya. Bagian dalam lubang Memek Bu Marmo terasa hangat dan sangat becek.

Setelah batang zakarku benar-benar membenam di kehangatan liang sanggamanya, kurebahkan tubuhku untuk menindih tubuh montoknya. Bibir istri atasanku yang merekah perlahan kukecup dan akhirnya kulumat. Saat itulah sambil terus mengulum dan melumati bibirnya, mulai kuayun pinggulku dan menjadikan batang kontolku keluar masuk di lubang memeknya.

Bu Marmo juga mulai mengimbanginya. Tak kalah hot, lidahku yang menyapu rongga bagian dalam mulutnya sesekali dihisap-hisapnya. Bahkan ia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku baru mulai merasakan kelebihan yang dimiliki Bu Marmo. Bukan cuma tubuhnya yang matang akibat usia senja namun masih menggairahkan. Tetapi kerja otot bagian dalam memeknya juga lebih terasa. Berdenyut dan seperti memerah batang kontolku.

Kini giliran aku yang dibuatnya mengerang. Nampaknya istri atasanku telah benar-benar matang dalam hal urusan ranjang. Untuk melampiaskannya, kuremas gemas teteknya yang besar dari luar kaos yang dipakainya. Bahkan karena kurang puas, kaosnya kusingkap dan sepasang payudaranya kurogoh dan kutarik keluar dari kutangnya. Pentil-pentil teteknya yang berwarna coklat kehitaman kupelintir dan kumain-mainkan dengan jariku.

Blep… blep…. blep… begitu suara yang kudengar setiap kali ayunan pinggulku menyentuh selangkangan Bu Marmo. Di samping bunyi kecipak karena lendir yang kian membanjir di liang sanggamanya. “Sshhh… ssshh …aahh …. aahh terus nak.. aahh enak banget. Kontolmu enak bangat Nak Anto,”

“Memek ibu juga enak. Empotannya mantep banget,”

Bu Marmo tersenyum. Wajahnya kian memerah. Kembali kulumat bibirnya sambil tak lepas tanganku menggerayangi buah dadanya. Saat itu kurasakan tangan Bu Marmo mencengkeram pantatku dan mulai menekan-nekannya. Dan kursakan tempo goyangan pinggulnya makin cepat. Rupanya ia mulai mendekat ke puncak gairahnya.

Aku yang juga mulai kehilangan daya tahan segera mengimbanginya. Berkali kontolku kutikamkan ke lubang memeknya dengan tekanan yang lebih kencang dan lebih bertenaga. Bu Marmo memekik dan mengerang. “Aaauuww… aaakhhh ,,,, aakkkhhh enak banget… aaakhhh…. terus… sayang …. aaaakhhh … ya…. aaakhhh memek ibu enak bangat disogok begini… aaaaakkkkhhhh …. sshhhh… sshhh… aaahhhhh,” rintihan dan suara Bu marmo makin tak terkontrol.

Aku jadi makin terpacu. Bukan cuma mulutnya yang kucium. Tapi ujung hidungnya yang bangir dan dahinya juga kucerucupi dengan mulutku. Bahkan lidahku menjelajah ke lehernya dan terus melata. Lubang telinga Bu Marmo juga tak luput dari jilatan lidahku setelah menyibak rambutnya.

Tubuh Bu Marmo kian mengejang. Kedua kakinya yang kekar dan panjang membelit pinggangku dan menekannya. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku. Rupanya ia hampir sampai di garis batas kenikmatannya. Aku yang juga sudah mendekati puncak gairah makin meningkatkan tikaman- tikaman bertenaga pada lubang sanggamanya.

Akhirnya gairah Bu Marmo benar-benar tertuntaskan. Cairan yang menyembur di lubang memeknya dan cengkereman kuku-kukunya di punggungku menjadi pertanda kalau ia sudah mendapatkan orgasmenya. Tetapi aku terus mengayun. Kocokan batang kontolku di lubang memeknya yang makin banjir tak kuhentikan. Bahkan makin kutingkatkan karena kenikmatan yang kian tak tertahan.

Puncaknya, Bu Marmo kembali mencengkeram pantatku. Kali ini dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan agar pinggulku tidak dapat bergerak dan kontolku tetap membenam di lubang memeknya. Saat itulah, otot-otot bagian dalam vaginanya terasa mencengkeram bagitu hebat dan bergelombang. Serasa memerah dengan kuatnya. Aku merintih dan melolong panjang. Pertahanku menjadi jebol dan maniku menyemprot sangat banyak gua kenikmatan istri atasanku. Bersama peluh membanjir, tubuhku ambruk di atas tubuh montok Bu Marmo dengan nafas memburu.

“Nanti ikan bakar dan kepiting saos tomatnya minta dibungkus saja Nak Anto. Sayang kalau tidak dimakan. Tapi jangan lupa piring-piringnya dibuat kotor dengan masi dan lauk yang lain, hingga sepertinya kita sudah benar-benar makan,” kata Bu Marmo setelah merapikan kembali baju yang dipakainya.

Kami meninggalkan rumah makan saung di pinggir pantai setelah membayar di kasir dan meninggalkan lembaran dua puluh ribu rupiah sebagai tip kepada petugas yang membereskan serta membungkuskan makanan yang memang tidak kami makan. Dari spion, wajah Bu Marmo kulihat sangat cerah. Pasti karena kenikmatan yang baru direguknya serta nafsunya yang lama tertahan telah tersalurkan.

“Apa lihat-lihat. Wanita sudah tua kok masih diajak ngentot,” kata Bu Marmo yang memergoki ulah mencuri-curi pandang ke arahnya lewat spion. Tetapi perkataannya itu bukan karena marah.

“Usia boleh saja sudah kepala lima. Tetapi wajah ibu masih cantik dan tubuh ibu masih sangat merangsang. Mau deh tiap malam dikelonin ibu,” ujarku menggoda.

“Bener tuh,”

“Sungguh Bu. Saya bisa ketagihan deh oleh empotan memek ibu yang dahsyat tadi,’

“Ibu juga suka sama batang Nak Anto. Besar dan panjang. Kalau mau kapan-kapan kita bisa mengulang. Kalau ada kesempatan nanti saya SMS,” ujar Bu Marmo.

Aku sangat senang karena sudah mendapat peluang untuk terus bisa menyetubuhinya. Tangan Bu Marmo kuraih dan kugenggam. Bahkan sempat meremas susunya sambil mengendalikan kemudi. Hanya Bu Marmo mengingatkan bahwa ulahku bisa menyebabkan kecelakaan hingga aku kembali berkosentrasi pada setir mobil yang kukendarai. Ah, memek wanita tua ternyata masih sangat nikmat.

Sampai di rumah Pak Marmo sudah tidur di kamarnya. Sedang Bu Mumun, terlihat berbincang dengan Yu Sarti, pembantu di rumah itu. Setelah berbincang sebentar, aku dan Bu Mumun pamit pulang. Hanya sebelumnya Bu Marmo memberikan bungkusan lauk yang belum sempat kami makan sewaktu di rumah makan. “Buat oleh-olah anak di rumah Bu,” kata Bu Marmo.

Di jalan, saat membonceng sepeda motor dan kutanya tentang ulah Pak Marmo, Bu Mumun cerita bahwa atasanku itu benar-benar genit. Selama dipijat, kata Bu Mumun, ia terus merayu dan berusaha menggerayangi. “Tapi tidak saya ladeni lho Pak Anto,” ujar Bu Mumun meyakinkanku.

“Pasti Pak Marmo maksa untuk bisa megang memek ibu kan? Soalnya dia kemarin bilang pengin banget lihat punya ibu,”

“Iya sih tapi hanya pegang. Dan karena terus maksa akhirnya ibu kocok,” ungkap Bu Mumun jujur.

Aku tertawa dalam hati. Sementara suaminya hanya bisa meraba memek wanita lain dan dipuaskan dengan dikocok, istrinya malah sampai orgasme dua kali disogok penis laki-laki lain. Bahkan istrinya berjanji untuk mengontak agar bisa mengulang kenikmatan yang telah kami lakukan.

Sampai di rumah anak-anak Bu Mumun sudah tidur. Dan mungkin karena terangsang gara-gara memeknya digerayangi Pak Marmo, Bu Mumun memaksaku untuk singgah di rumahnya. Untuk menolak rasanya kurang enak. Karena biasanya aku yang sering memintanya untuk melayaniku.

Rupanya nafsu Bu Mumun sudah benar-benar tinggi. Di kamarnya, saat ia mulai mengulum batang kontolku dan tanganku menggerayang ke selangkangannya, memeknya sudah basah. Bahkan saat tangaku mulai mencolok-colok lubang nikmatnya, Bu Mumun kelabakan. Memintaku untuk segera menuntaskan hasratnya.

Tetapi aku berusaha bertahan. “Punya saya belum terlalu keras Bu. Nanti kurang enak. Kalau ibu menjilatnya di sini, pesti cepat kerasnya,” kataku sambil mengangkat dan memperlihatkan lubang anusku,” kataku.

Sebenarnya, kontolku kurang keras karena sebelumnya telah dipakai melayani Bu Marmo di rumah makan. Namun keinginan untuk dijilati di bagian anus, mendapat tanggapan serius Bu Mumun. Ia langsung berjongkok di tepi ranjang dan berada selangkanganku. Dan tanpa ragu atau merasa jijik, langsung menjulurkan lidahnya untuk menyapu biji pelirku dan diteruskan dengan menjilat-jilat lubang duburku. Rasanya geli-geli nikmat dan membuat tubuhku merinding.

Akibatnya aku dibuat kelojotan. Dibuai kenikmatan yang diberikan Bu Mumun. Terlebih ketika ia mulai mencucuk-cucukkan lidahnya ke lubang duburku. “Aaakkhhhhh… aakkhh.. enak banget …. oookkh enak banget. Saya suka suka banget ngewe sama ibu. Oookkkh … nikmat,”

Dirangsang sebegitu rupa kontolku makin mengeras. Tetapi Bu Mumun terus saja menjilati dan mencerucupi anusku. Ia melakukannya sambil meremasi dan mengocok-ngocok kontolku yang makin terpacak. Takut keburu muncar sebelum dipakai menyogok lubang memeknya, aku meminta Bu Mumun menghentikan aksinya.

Tubuh montoknya langsung kutarik dan kutelentangkan di ranjang. Dalam posisi mengangkang, aku langsung menungganginya. Bleesss… kontolku langsung membelesak di lubang nikmatnya yang basah. Ia agak tersentak. Mungkin karena aku menggenjotnya secara tiba-tiba. Namun ia tidak mengeluh dan malah mendesah nikmat.

“Ah… sshh… aahh.. enak banget. Marem banget kontolnya Pak Anto,”

Dan lenguhannya makin menjadi ketika aku mulai memompanya. Aku mencolok-colok dan memaju-mundurkan pinggangku dengan tempo cepat. Tubuh Bu Mumun terguncang-guncang dan susunya yang besar bergoyang-goyang. Gemes dan merangsang banget melihatnya. Aku jadi tergerak untuk meraba dan meremas-remasnya sambil menikmati kehangatan lubang nikmatnya.

Aku sudah beberapa kali menyetubuhi Bu Mumun. Tetapi sepertinya tidak pernah bosan. Memek Bu Mumun meskipun sudah lumayan longgar tapi tetapi terasa kesat dan liat. Terlebih bila ia sudah memain-mainkan otot-otot bagian dalam lubang vaginanya. Erangan dan desahannya juga selalu mengipasi nafsuku.

Cukup lama kami saling memacu. Sampai akhirnya Bu Mumun mengisyaratkan bahwa ia hampir memperoleh orgasmenya. Maka kocokan dan sogokan kontolku di lubang kemaluannya kian kutingkatkan. Berdenyut-denyut batang kontolku dibuatnya saat Bu Mumun mulai mengimbangi dengan empotannya. Akhirnya Bu Mumun memperoleh apa yang didambanya dan aku pun sama. Spermaku menyemprot dan membasahi liang vaginanya. Tubuhku ambruk di kemontokan tubuh wanita yang basah oleh keringat.

TAMAT

Edannya Mertuaku – Tertangkap Basah Selingkuh, Malah Minta di-Gang Bang

Namaku Roni, usia 30 tahun. Aku menikahi Niken, istriku dua tahun lalu dan kini Niken sedang hamil tua.
Niken adalah anak tertua dari dua bersudara, usianya kini 25 tahun. Karena kehamilan ini adalah yang pertama, maka Niken sengaja pindah ke rumah ibunya untuk mendapatkan bimbingan dan bantuan pada saat persalinannya kelak.
Ibunya Niken alias ibu mertuaku bernama Sulastri, usianya baru 46 tahun. Mama Lastri, begitu aku memanggilnya adalah korban poligami. Bapak mertuaku menikahi sekretarisnya yang berusia jauh lebih muda sekitar lima tahun yang lalu. Padahal menurutku Mama Lastri masih sangat cantik dan menarik. Terutama body montoknya yang masih kencang, tak kalah dengan Niken, istriku.
Sejak aku pacaran dengan Niken, aku sudah sering memperhatikan Mama Lastri yang menurutku lebih montok dibandingkan Niken. Salah satu keunggulan Mama Lastri adalah pantatnya yang bulat dan besar. Sementara buah dadanya mungkin sama dengan Niken istriku yang berukuran 36B.
Satu kebiasaan Mama Lastri di dalam rumah yang membuatku sering berdebar-debar adalah kebiasaannya yang hanya mengenakan handuk seusai mandi. Dia tidak pernah membawa pakaian ke dalam kamar mandi. Pakaian kotornya ditanggalkan di kamar tidur, pergi ke kamar mandi dengan lilitan handuk, kemudian setelah mandi kembali ke kamar dengan badan yang dililit handuk juga.
Aku sudah sering mendapati Mama Lastri dengan lilitan handuk dan selalu saja mencuri pandang ke arah dadanya yang tidak tertutup sempurna dan sebagian pahanya yang mulus dan montok. Selain itu ibu mertuaku juga tidak pelit dalam berbagi pemandangan indah selangkangannya. Kalau sedang duduk nonton TV, beliau cuek saja kalau kedua pahanya terbuka dan memperlihatkan kemulusan paha serta sebagian celana dalamnya.
Pada intinya, aku sangat senang menginap di rumah mertuaku, termasuk pada saat istriku menanti saat kelahirannya.
Tidak sampai menginap seminggu, istriku sudah siap untuk melahirkan. Aku dan Mama Lastri segera membawa Niken ke RS, menunggu beberapa jam sebelum Niken diputuskan untuk operasi Cesar.
Usai operasi, Niken diputuskan harus rawat inap tiga malam, Mama Lastri tentu saja minta diantar pulang. Aku mempunyai kesempatan mengantar ibu mertuaku saat banyak kerabat berkunjung ke kamar rawat inap Niken. Sepanjang perjalanan, Mama Lastri asyik menelpon seseorang dan suaranya terdengar begitu manja, aku menduga dia menelpon suaminya. Salah satu percakapannya dia meminta orang itu datang ke rumah.
Sampai di rumah sudah pukul 7 malam, mertuaku langsung mandi, maklum hampir 12 jam berada di RS. Aku mendapatkan kesempatan lagi memandang tubuh montoknya dibalut handuk. Entah mengapa malam itu wajah Mama Lastri begitu riang, mungkin karena menunggu orang yang ditelponnya itu. Saking riang suasana hatinya, dia tak menutup pintu kamar saat kembali dari kamar mandi. Aku yang berada di dalam kamar seberangnya tentu saja dengan mudah melihat ke dalam kamarnya.
Aku meneguk ludah dan langsung terangsang melihat ibu mertuaku menjatuhkan handuk yang membalut tubuh bugilnya yang montok. Posisinya membalakangiku, sehingga yang tampak adalah bongkahan pantatnya yang besar, namun masih kencang.
Mama Lastri meneruskan ritual mengenakan baju tanpa menyadari bahwa aku memandanginya dari belakang. Mulai dari mengenakan celana dalam, beha sampai dengan berpakaian lengkap. Peristiwa itu membuat kepalaku langsung pening, birahiku yang memuncak seperti berkumpul di kepala. Namun karena aku harus kembali ke RS, maka aku berusaha melupakannya.
Saat aku hendak masuk ke mobil, seorang lelaki seusiaku masuk ke pagar rumah dan berkata padaku ingin bertemu dengan Mama Lastri. Aku baru pertama kali bertemu dengan pria itu dan kemudian masuk ke dalam rumah untuk memberi tahu Mama Lastri. Ibu mertuaku itu tampak sangat senang, dia berhambur keluar dan mempersilahkan tamunya masuk, sementara aku pamit untuk pergi ke RS.
Sampai di RS, masih banyak kerabat yang datang berkunjung dan mengucapkan selamat pada isteriku. Entah mengapa, aku lupa membawa perlengkapan kosmetik istriku, sehingga ia menyuruhku kembali ke rumah untuk mengambilnya. Dengan berat hati terpaksa aku meluncurkan mobil kembali ke rumah.
Karena berniat hanya sebentar, aku memarkir mobil di luar pagar rumah. Sepatu pria yang menjadi tamu ibu mertuaku masih di depan pintu rumah. Suara TV yang menyala membuat suaraku membuka pintu mungkin tidak terdengar oleh Mama Lastri.
Aku mulai curiga ketika tidak mendapatkan Mama Lastri maupun tamunya di ruang tamu maupun di ruang TV. Dengan penuh penasaran dan suara pelan, aku mendekati kamar Mama Lastri.
Pintu kamar Mama Lastri tidak tertutup rapat, dan seperti dugaanku, aku mendengar lenguhan dan jeritan Mama Lastri.
“Engh…. entot terus Tante ya…. Okh… ya… begitu”, terdengar jelas erangan erotis Mama Lastri. Aku sudah 100% yakin bahwa Mama Lastri sedang digarap oleh pria muda tadi.
Tiba-tiba muncul ide gilaku. Kalau aku menangkap basah Mama Lastri mesum dengan pria tak dikenal, maka aku akan memiliki kartu As ibu mertuaku yang bisa kugunakan untuk meminta jatah juga darinya.
Maka tanpa keraguan lagi, aku membuka pintu kamar dengan tiba-tiba.
“Mama… mama sedang apa?” teriakku. Kehadiranku yang tiba-tiba membuat dua insan telanjang yang sedang ML itu terhenyak kaget. Sang pria terlompat dari posisinya yang sedang mengocok vagina Mama Lastri. Sementara Mama Lastri yang sedang mengangkang dengan refleks menutup selangkangannya yang baru saja digarap oleh sang pria muda.
“Oh… Roni… kenapa kamu balik lagi?” tanya Mama Lastri gugup. Sang pria yang juga gugup itu langsung menyambar pakaiannya dan lari keluar kamar, sehingga tinggal aku dan Mama Lastri di dalam kamar.
Menyadari tinggal berdua, dengan nakal aku menatap tubuh telanjang ibu mertuaku yang belum sejam yang lalu aku intip itu.
“Mama… Mama montok sekali..”, pujiku jujur ketika memandang buah dadanya yang besar dan masih kencang. Puting susunya yang besar dan berwarna coklat mengacung di tengahnya.
“Roni… kamu…” Mama Lastri tampak kaget menyadari kalau aku terpesona oleh tubuh telanjangnya.
Menyadari situasi tidak seburuk yang dia duga, Mama Lastri tersenyum manis. Kedua paha yang tadinya dia himpit untuk menutupi selangkangannya, dengan perlahan dia buka.
“wow…”, seruku penuh nafsu melihat bukit selangkangan Mama Lastri yang montok dengan jembut yang hanya disisakan di bagian atas, sementara bagian lainnya dicukur habis. Vaginanya yang basah dan berkilat sudah agak menganga, maklum barusan habis digarap.
“Hmmm…. Kamu nakal juga ya Ron…”, seru ibu mertuaku senang melihat tingkahku.
“He3x… mama lebih nakal pastinya…” balasku.
“Eh… Mama kan masih muda, masih butuh dong…”, Mama Lastri memberi alasan,”Kalau kamu mau, boleh juga kok, hi3x…, tapi jangan sampai Niken tahu”.
“Benar nih Mama? Emang Memek Mama masih legit?”, candaku.
“Kurang ajar kamu, kalau kamu sudah ngerasin pasti ketagihan, he3x…”, seru Mama Lastri manja.
“Kamu tunggu sebentar di sini, buka tuh celana kamu, Mama pingin lihat kontolmu”, serunya jorok sambil bangkit dari tempat tidur dan hendak berjalan keluar kamar. Aku menyempatkan meremas pantat besarnya.
“Ih… nakal!”, jerit Mama Lastri ketika pantatnya kuremas. Dia berjalan ke luar kamar dengan telanjang bulat dan memanggil-manggil pria tadi yang ternyata bernama Farhan. Sementara aku menuruti perintahnya membuka celanaku sehingga penisku yang sudah mengeras mengacung penuh birahi.
Sekitar 5 menit tak ada lagi suara memanggil dari Mama Lastri, tapi wanita itu tidak segera muncul di kamar, justru kemudian terdengar Mama Lastri memanggilku.
“Roni…. Sini kamu…”, panggil Mama Lastri dari ruang tengah.
Sial, aku yang masih canggung memakai kembali celanaku meskipun tidak aku kancingkan. Aku berjalan menuju ruang tengah dan mendapatkan ibu mertuaku dalam posisi duduk mengangkang di sofa tengah digarap oleh si Farhan itu. Aku terpaku sejenak, bingung bercampur kecewa.
“Eh, kenapa bengong?, kan Mama suruh kamu buka celana, okh…” seru Mama Lastri sambil menikmati kocokan Farhan di vaginanya,”Sini… mana kontolmu, biar Mama emut…”
“Tapi Mama…”, kataku canggung dengan kehadiran Farhan yang sedang asyik menikmati vagina Mama Lastri.
“Sudah… sini… biarin Farhan menyelesaikan PR-nya, gara-gara kamu tadi bikin kaget, dia belum selesai,” katanya enteng sambil menarik celanaku. Aku yang sudah terlanjur birahi tak berdaya menolak ajakan Mama Lastri yang memeloroti celanaku dan menggenggam penisku bagai seorang penyanyi yang sedang menggenggam mikrofon. Sejenak kemudian ibu mertuaku dengan sangat bernafsu mengoral penisku sambil terus menikmati kocokan farhan di vaginanya.
Edan, tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku mengenai perilaku seks ibu mertuaku ini. Meskipun aku sadar ada kebinalan dalam dirinya, namun aku tak sampai berpikir bahwa dia akan melakukan gang bang seperti ini. Aku yang tadinya agak sungkan, lama-kelamaan akhirnya larut dalam birahi yang diciptakan oleh perilaku seks Mama Lastri yang agak menyimpang itu.
“Kamu jangan bengong dong Ron, remas nih tetek Mama, pilin-pilin putingnya”, mama Lastri memerintahku. Bagaikan budak seksnya, aku menuruti perintah itu, tentu dengan suka cita.
“Kamu juga Farhan, pake tanganmu untuk pijat-pijat itilku”, kini giliran Farhan yang kena perintah.
Kami menjadi dua orang pria muda menjadi budak seks sorang perempuan setengah baya. Aku asyik meremas-remas buah dada montok Mama Lastri dan memilin-milin putting susunya yang besar, sementara itu Farhan asyik mengocok vagina sambil mengusap dan memijat klitoris Mama Lastri.
Mama Lastri, sang “nyonya besar” begitu menikmati permainan gang bang itu, wajahnya sangat mesum dan melenguh keenakan, sampai akhirnya sang nyonya besar tak mampu menahan desakan orgasmenya.
“Okhh…. Yess…. Yess…. Kocok yang keras Farhan…. Ayooo…” Mama Lastri menjerit sambil melejat-lejat keenakan,”Kamu juga Ron… tarik putingku”
Farhan mengocok vagina Mama Lastri dengan irama cepat, sementara aku menarik putting susunya yang sudah mengeras, semuanya dilakukan demi memberikan sensasi orgasme yang dahsyat buat sang nyonya besar yang begitu senang mendapatkannya.
Aku sangat beruntung, Farhan tak sempat orgasme ketika Mama Lastri sudah selesai dengan orgasme spektakulernya. Vagina ibu mertuaku, meskipun mungkin sudah agak longgar akibat serangan Farhan, namun setidaknya belum dibasahi oleh spermanya. Masih ada peluang untukku menikmati liang kenikmatan Mama Lastri yang pernah melahirkan istriku itu.
Mama Lastri hanya istirahat sebentar sebelum menyuruhku tiduran di atas sofa.
“Ayo, giliran kamu Ron, menikmati memek Mama”, ajaknya,”Pasti kamu sudah ngiler kan sama memek Mama?, ditanggung kamu kecanduan, he3x….”.
“Tapi saya maunya doggy style Ma, biar sambil meremas pantat Mama”, pintaku.
“Heh… kamu suka pantat Mama ya?, he3x….”, Mama Lastri tertawa bangga,”kalau kamu suka, boleh kok doggy style, tapi ada syaratnya”
“Iya Ma… saya suka pantat Mama yang besar, apa syaratnya?”, tanyaku.
“Jilatin dulu memek Mama, nih…”, dengan santainya Mama Lastri menyodorkan selangkangannya padaku yang terlentang di atas sofa. Vagina ibu mertuaku terpampang dihadapanku. Vagina merah itu sudah merekah dan basah, maklum habis dihajar penis Farhan dan barusan sudah meraih orgasmenya. Namun dengan semangat membara, aku menjilati vagina itu, tak peduli kalau vagina itu sudah bekas pakai. Mama Lastri sangat senang dengan kepatuhan dan gairahku itu.
“Nah… gitu…. Enak…. Hmmm… kan sekarang Mama jadi terangsang lagi”, ujarnya sambil melenguh keenakan,”jangan cuma dijilat, hisap tuh itil Mama… okhh…. Yaa… ”.
“Eh… kamu jangan bengong farhan, sini kontolmu, saya hisap, supaya keluar tuh peju kamu yang sudah di ujung…, he3x…”, sambil menikmati oralku, Mama Lastri juga mengoral penis Farhan.
Edan… ibu mertuaku itu begitu lihai mempermainkan kami berdua. Tak lama kemudian aku lihat Farhan berteriak mau keluar dan kemudian spermanya meleleh dari mulut Mama Lastri, mengalir sampai buah dadanya. Mama Lastri menelan sebagian sperma yang masuk ke mulutnya dan mengusap sebagian lain yang masih tersisa di bibir, leher dan buah dadanya. Jorok sekali.
“Nah… sekarang giliran kamu Roni, ayo entot Mama seperti anjing, he3x…”, ajak Mama Lastri sambil mengubah posisinya menjadi nungging sambil berpegangan di sofa. Aku bangun dari sofa dan menghadap pantat besar nan montok yang kuimpikan itu.
“Plok…plok…”, aku menampar bongkahan pantat besar itu dengan gemas dan nafsu, kemudian meremasnya.
“Ehh… nakal kamua ya… ayo masukin kontolmu… ,” pinta Mama Lastri,”Ada dua lubang di situ… silahkan kamu pilih yang mana, he3x….”.
“Saya pilih yang ini dong Ma…, blesss…..”, penisku menghujam vaginanya dari belakang.
“Okhhh… “, Mama Lastri menjerit merasakan penuhnya liang vagina oleh batang penisku.
Sejenak kemudian aku sudah asyik masyuk dengan vagina nikmat ibu mertuaku, mengocoknya sambil meremas panta besarnya. Entah bisikan dari mana, tiba-tiba liang anus yang terpampang diantara pantat besarnya begitu menantangku. Sumpah, dua tahun aku menikah, tidak pernah aku terangsang oleh anus isteriku. Tapi kini, anus ibu mertuaku tampak sangat seksi di mataku. Mungkin akibat kata-kata Mama Lastri sebelumnya yang menawarkan lubang itu, atau karena bentuknya yang jadi menarik karena diapit oleh bongkahan pantatnya yang besar dan montok, entahlah…
Dengan sedikit malu-malu aku menyentuh lubang anus itu dengan jariku sambil terus mengocok vagina.
“Woww…. Ya… itu juga enak Roni… kamu harus coba,” Mama Lastri sangat girang dengan sentuhanku pada anusnya. Edan… pikiranku langsung terbayang kalau ibu mertuaku ini juga suka melakukan anal sex. Benar-benar wanita jalang, pikirku.
“Saya belum pernah Ma, memang Mama pernah?” tanyaku investigatif.
“He3x… kuno sekali kamu…,” ejek Mama Lastri,”Sudah dua kontol yang pernah menjajal lubang itu dan semuanya langsung keenakan… he3x…”.
Edan… ternyata memang benar, ibu mertuaku ternyata hypersex dan penggemar fantasi seks yang aneh-aneh.
“Coba kamu ludahin anus Mama biar basah, terus kamu usap-usap… ayo…”, perintah Mama Lastri. Seperti perintah yang lain, aku menurutinya. Kuludahi anusnya yang berlubang sempit itu sehingga basah dan kemudian aku usap dengan jari.
“Nah… begitu… sekarang masukin jari kamu pelan-pelan…” pintanya lagi. Dengan canggung aku memasukkan jari telunjukku ke dalam liang itu, agak mudah karena sudah basah oleh air liurku. Lubang anus itu terasa sempit, namun elastis. Tiba-tiba Mama Lastri melakukan kontraksi liang anusnya dan… astaga… terasa olehku dinding-dinding liang anusnya menjepit jariku.
“He3x… gimana rasanya? Itu baru jari telunjuk sudah begitu rasanya, gimana kalu kontolmu? Mama berani taruhan kalau kamu langsung nyemprot, he3x…”
Eksperimen anal dan semua ucapan joroknya membuatku semakin bernafsu menghajar vaginanya. Sampai akhirnya aku tak kuasa menahan luapan birahiku. Spermaku tumpah di dalam rahimnya, rahim wanita yang pernah mengandung istriku.
“Okh… saya puas Ma….”, jeritku keenakan.
“He3x…. enak mana memek Mama sama memek Niken?” tanyanya bangga.
“Eh… enakan punya Mama..”, jawabku jujur.
“Kalau gitu, kapan Mama butuh, kamu siap ya…”, Mama Lastri meminta atau memerintahku, tidak ada bedanya. Tapi aku mengangguk setuju. Siapa yang tidak mau mengulanginya fantasi seks binal yang nikmat dengan ibu mertuaku yang seksi nan montok.
Setelah orgasme, aku pamit mau kembali ke RS, takut isteriku marah menungguku. Sementara Mama Lastri tampaknya masih lanjut dengan ronde berikutnya dengan Farhan. Sial… enak benar si Farhan.

TAMAT

Dilema (Mama)

Namaku Rio umur 16 th,anak tunggal dan masih sekolah SMK otomotif kelas 2 di Yogyakarta. Aku pendiam dan tak pandai dalam hal pergaulan, tapi untung aja aku punya teman dekat sekelas bernama Dicky yang aku kenal sejak kelas 1.
aku berasal dari keluarga yang sederhana (tidak kaya, tidak miskin). ayahku bekerja sebagai supir container di sebuah CV yg memang dalam 2-3 tahun terakhir ini mendapat kontrak di sebuah pelabuhan besar di Surabaya…. jarang pulang Cuma sehari atau 2 hari sebulan.
Sedangkan ibuku sendiri Sinta (39 th)hanya ibu rumah tangga orangnya jga gak terlalu banyak bicara tetapi kalau diajak ngobrol sih asik juga soalnya mungkin karena udah dewasa dan bersifat ke-Ibuannya dalam segala hal. Terkadang juga sering cuek mungkin sifatnya ini yang menurun kepadaku. Aku memanggilnya “mama” sejak kecil
di rumahku mama memiliki usaha toko sembako yg tidak terlalu besar tapi juga memiliki usaha lain sebagai penjual baju wanita yg memang hanya dijual kesekitar lingkunganku aja.. mungkun karena itulah dia selalu berdandan rapi dan menarik seperti ABG yg berumur 20’an, celana jeans ketat dan kaos tanpa lengan, wajah manis, putih, rambut bergelombang sepundak, perawakan langsing, payudaranya juga biasa2 aja.
kembali pada cerita,
hamper setiap hari aku dijemput dan diantar pulang oleh temanku (dicky) saat berangkat sekolah.. kadang juga aku naik bis kalau tak dijemput dicky ..hal itu terjadi sejak akhir semester saat kelas 1 dikarenakan aku tak diperbolehkan mama membawa motor sendiri karna aku pernah tabrakan saat kelas 1 dan juga karena motorku yang serig kuprotol- protoli .. hehehe maklumlah anak SMK Otomotif emng semua seperti itu… awalnya mama marah dengan tindakanku itu tapi lama – lama juga dia pun memaklumi sifat ku…
nasihat dan nasihat selalu saja seperti itu kepada aku dan dicky kalau udah pulang sekolah…….
tapi aku dan dicky kadang hanya menanggapinya dengan canda tawa…. mungkin itu juga yang membuat mama kadang membiarkan aja kenakalan kami..
tak jarangpun aku dan dicky sering gak berangkat sekolah, membolos dan hanya nonoton TV dirumahku
“namanya juga anak muda haha” dalihku setiap dinasehati ….dicky pun membelaku saat dinasehati
Bulan desember 2010 …… dicky sering bolos waktu jam2 akhir pelajaran, tak tau kenapa.. aku pun hanya naik bis saat pulang sekolah.. dan waktu sampai rumah selalu saja motornya udah ada didepan rumah
“sialan kamu Dick” kataku pada saat msuk rumah dan duduk di sofa sebelahnya
“lah gimana toh?” katanya Dicky sambil ketawa2
“tadi aku dimarahin Pak Andre (guru matematika) karna dikira ngajarin kamu bolos” kataku
“masa?” katanya.. terdiam sejenak lalu melanjutkan pembicaraan “ aku emg gak suka tu sama [elajaran pak Andre… orangnya cerewet kya cewe yg lagi mens”katanya
mama pun dating dari arah dapur menuju ruang tamu tempat kami ngobrol dan ikut nimbung juga
“Dicky klo bolos terus nanti gak naik kelas lo nanti” kata mama
“abis bosen tant… udah gurunya cerewet, dikelas gk ada cewenya….. huuufff boring sangat, tant” ktanya
“tar kmu nyesel sendiri lo, dick” kata mama sambil berjalan ke arah took dan membuka gorden yg membatasi toko dengan ruang tamu, lalu lalu duduk di kursi belakang etalase
Keesokan harinya dicky pun bolos lagi pada jam terakhir padahal hari itu hari jumat… aku gk terlalu peduli juga sih sebenarnya… males juga mikirin di Dicky….
jam 12.30 aku turun dari bis lalu berjalan kearah rumah… “kok sepi banget ya sepanjang jalan”kataku dalam hati
“akh… mungkin belum pada pulang jumant-an”
aku berjalan perlahan sambil memikirkan hal itu samapai depan rumah.. aku melihat motornya Dicky ada di depan rumah saat itu… aku gak begitu peduli juga saati itu. saat mau masuk kerumah aku berhenti sejenak sambil melihat kea rah toko
“ kok, gk ada yang jaga sih… klo kemalingan gimana”kataku dalam hati sambil berjalan kearah toko
aku duduk sejenak didepan lalu mengambil sebuah Koran di atas etalase lalu membuka halaman per halaman mencari berita olahraga….
kira2 5 menit aku mebaca Koran aku mendengar seperti suara cekikikan (ketawa) dari arah ruang tamu.. aku masih belum peduli saat itu, mungkin karna konsentrasiku masih pada Koran itu…
tak lama kemudian akupun berdiri sambil melepaskan tas punggungku lalu menaruhnya ke atas etalase…. saat itu aku mendengar lagi suara wanita ketawa kecil, aku yakin itu suara mama karena aku hafal betul suaranya…..
perhatianku pun beralih dari Koran ke suara itu sebentar.. aku pun hanya berdiri diam sambil menunggu suara itu lagi
tiba2…. “akhh” “eemmmmmhhhh” itu yang kudengar
jantungku berdebar – debar kencang saat itu juga. Mulai muncul rasa curiga, was – was dan lain2nya becampur aduk
aku pun berjalan ke arah tmbok toko yang bersampingan degan ruang tamu tempat suara itu berasal….
jantungku berdebr semakin kencang, hingga aku bisa merasakn darahku mengalir ke kepala begitu cepat dan derasss sekali
“ooohhhhhh” suara mama ….. aku agak kaget saai itu tapi tetap mencoba tenang lalu perlahan berjalan kea rah tembok….
tanganku meraih kain gorden pembatas ruang tamu dan toko sambil kubuka perlahan lalu ku intip kearan ruang tamu
aku hanya bisa terdiam dan melongo melihat apa yg baru kusaksikan
mama saat itu duduk di sofa tunggal hanya mengenakan kaos berwarna ungu sedangkan bagian bawahnya telanjang tanpa penutup apapun..kakinya sedang mekangkang dan kulihat si Dicky sedang jongkok didepan selangkangannya dengan masih menggunakan seragam sekolah lengkap…. Tangan Dicky saat itu tepat berada di tengan selangakangan milik mama,
tangan itu pun digerakan maju mundur perlahan sesekali terlihat menggosok – gosok selangkangan mama
aku hanya bis melihat dari samping terlihat agak samar2 vagina mama penuh, lebat dengan bulu
wajah mama terlihat pucat lemas matanya pun hanya terbuka setengah sesekali menutup sambil dari mulutnya mengeluarkan suara “emmmhhh” lalu tersenyum manis menatap dicky
aku bingung harus ngapain saat itu.. rasa kecewa, emosi juga menabah kebingunganku… ingin rasanya aku masuk kesana lalu memberi pukulan ke wajah mesum dicky
kebingungan seolah mumbuatku menjadi tak punya pilihan antara masuk dan menghajar Dicky atau hanya diam dan menyetujui apa yang mereka lakukan… aku berada tepat ditengah Dilema antara ikhlas dan benci pada mereka
ditengah2 pikiranku yang mulai kacau balau penuh kebimbangan aku melihat wajah mama yang manis dan seolah tak berdosa, membuatku diam kaku sesekali lenganku gemetaran, hingga tanpa sadar waktu berjalan begitu saja

“SIAL, SIAL, SIALLLLLLLLLLLLLLLLl” “BRENGSEKKKKKKKKKKKKKKKKKK” “ANJINKKKKKKKKKK”kataku dalam hati
tapi waktu tetap saja tidak bisa berhenti
Pada akhirnya……..
“akhhhh…. ahhh ahhh ahhhh” …….. “emmmmmmmamhh” mama memejamkan matanya lalu kedua pahanya merapat, menjepit tangan Dicky dan badanya bergerak kaku maju mundur lalu lemas sambil tangan kanannya menutupi mulutnya yang terbuka..
“itukah yang dinamakan wanita sedang orgasme” kataku dalam hati, sambil melihat mama penuh kagum dan tanda tanya besar……..
Dicky hanya ketawa kecil sambil melihat wajah mama, mama hanya mebalas dengan senyum manis seperti seoanga anak kecil yg masih malu – malu. Dengan sedikit tenaga yg tersisa mama berdiri, sedang Dicky masih jongkok aja di hadapan mama…. wajah dicky tepap berada di depan vagina mama, dicky tanpa malu memeluk dan mencium vagina mama sebentar
“wah, kalo ini berlanjut bisa bahaya nih”kataku dalam hati
akupun berjalan perlahan keluar dari toko lalu menuju pintu luar depan ruang tamu….. dengan santai (mungkin tepatnya pura2 santai tapi masih emosi) aku mengetuk….
terdengar suara bisik2 gak jelas, lalu terbukalah pintu depan….. kulihat mama udah gak ada diruang tamu, sepertinya mama udah kabur lari ke belakang
kulihat wajah dicky agak memerah saat itu, aku tidak berkata apa2 haya masuk tanpa peduli pada Dicky lalu berjalan begitu aja kearah kamarku di tingkat 1tepat diatas kamar mama.. setelah menggati pakaian aku turun kembali ke ruang tamu, ehh.. ternyata si Dicky udah pulang.. SIALLL padahal aku baru aja mau menanyai dia.
mama datang dari arah kamarnya dengan wajah tanpa rasa berdosa dan seolah tak terjadi apa2 lalu bertanya
“udah makan?”
“PERTANYAAN BODOH!!!!!” kataku dalam hati
Semalaman itu aku tak bisa tidur karna mengingat kejadian diruang tamu tadi siang…. aku mencoba menenangkan diri dulu malam itu.
mungkin saja mereka melakukan itu tanpa sengaja
mungkin juga mama yang memulai duluan, karena papa udah lama gak “ngasih” dia, hanya itu yang berputar dalam otaku malam itu
setelah tenang akupun tidur
keesokan harinya aku berangkat lebih awal sebelum dicky dtang kerumah…. Saat istirahat dicky menghampiri aku lalu mengajak aku ngobrol. aku pun menggapi seolah tak terjadi apa2 meskipun dalam hati masih ada ras benci
siang itupun aku diantar pulang oleh dicky.. aku mulai merasa lunak kepadannya mingkin karena merasa hutang budi karena hampir setiap hari dia antar – jemput aku kesekolah dan juga karena merasa dia satu2nya seorang sahabat karibku
sesampai rumah aku, dicky dan mama pun ngobrol2 seperti biasa meskipun kadang kadang aku melihat mereka sering saling senyum….. tak apalah mungkin aja mereka “melakukan” kemarin karena khilaf aja
Hari seninnya kemudian aku dijemput Dicky berangkat sekolah, tapi anehnya saat istirahat kok aku udah tak melihat tampangnya si Dicky saat itu. . aku mulai curiga kalau dia bolos pelajaran agar biasa duluan kerumah untuk “ngerjain” mama lagi. Sepanjang pelajaran aku udah mulai gak konsen lagi, pikiran2 yg tidak2 mulai penuh dikepalaku semakin kupikirkan semakin aku mulai mersa resah…
Karna udah gelisah akhirnya aku meminta ijin untuk pulang duluan pada guru… meskipun awalnya gak diijinkan tpi karena gelisah terus menerus akhirnya kau pun pura2 sakit….
setelah turun dari bis dengan berjalan cepat kerumah dalam pikiranku sudah gelisah terus…
dan, Yah ternyata benar saat sudah memasuki tikungn dekat rumah aku meliahat ada sepeda motor milik dicky udah terparkir disana… aku pun melihat pintu toko setengah tertutup.. itu sih tandanya mama sedang sibuk dibelakang…. dari situ Aku sudah bisa menerka apa yang mungkin terjadi didalam rumah
Karena sepertinya kalau aku mengintip mereka dari toko seperti kemarin mungkin aku agak kesulitan karena pintu kios harus kubuka penuh dulu agar bisa masuk….
akhirnya kuputuskan masuk lewat belakang rumah, lagian kalo lewat pintu belakang mungkin aku bisa melihat kegiatan mereka dengan lebih jelas…. Cepat – cepat aku berjalan ke belakang rumah, aku beruntung saat itu karena pagar belakan rumah tidak dikunci… perlahan2 aku masuk melewati tempat jemuran sambil mataku lirik kiri dan kanan memastikan tak ada yang mengetahui, karena jika kethuan mungkin aku gak bisa menonton adegan mama dan Dicky
Sampai di pintu dapur yg terbuka aku mulai mengintip, tapi anehnya saat itu ruang tamu yang kelihatan jelas dari situ sepi tak ada orang
“wah, kemana nih mereka berdua”kataku dalam hati….. Aku mencoba untuk menenangkan diri dan mengambil nafas dahulu sambil memastikan tak ada yang melihat aku disini….. Menunggu, menunggu lama aku mulai putus asa juga saat itu….. Tapi samar2 aku mendengar suara seperti orang ngobrol dari arah kamar milik mama
“Oh iya….. Dikamar mama!!!!!… aduh bodohnya aku!!!”k ataku dalam hati
kulepas sepatu agar tak terdengar suara… lalu berjalan ke arah kamar mama. Sial pintunya tertutup …..
lalu aku coba mengintip dari lobang kunci pintu.. ternyata tak terlihat sama sekali…. aku pun cepat2 mengambil kursi plastik didapur lalu mencoba ngintip dari lobang ventilasi atas pinti kamar….. dengan dada yang berdebar debar aku naik perlahan
oh gila…. pemandangan pertama yang kulihat.. mama sedang telanjang bulat tidur terlentang dan si Dicky disampingnya hanya mengenakan kemeja putihnya tanpa celana sedang memeluk pinggang mama
aku baru sadar payudaranya mama lumayan besar,sungguh berbeda saat dia menggunakan kaos, sedangkan vaginanya tak kelihatan sama sekali Cuma bulu2 tebalnya aja
ini pertama kalinya aku melihat mami telanjang bulat dalam hidupku ,bersama seorang lelaki lagi.. jantungku berdebar kencang sekali takut ketahuan….. tapi untung tempat tidur berlawanan arah dengan pintu pakam jadi kemungkinan ketahuan lebih sedikit
yang terlihat mereka bukan sedang bercinta tapi hanya peluk2an dan cium2an aja… aku nunggu agak lama tapi hanya itu aja yang mereka lakukan…. “wah aku telat nih”dalam hati. aku gak sempat melihat mereka berhubungan bdan
tapi saat itu penisku sempat menegang keras, aku juga gak tau kenapa… setelah kira2 10 menitan kulihat Dicky bangun lalu mengenakan celananya… Sial ternyata mereka sepertinya sudah mau udahan
Aku pun cepat2 turun lalu mangangkat kursi plastik menuju dapur sambil mencari tempat bersembunyi lagi. tak lama kemudian mereka keluar dari kamar dengan pakaian lengkap lalu berjalan menuju ruang tamu…
Diruang tamu terlihat mereka bercanda lepas seperti sepasang kekasih.. mama saat itu duduk di pangkuannya Dicky
berkali kali aku melihat tangan Dicky meraba2 tubuh mama. mama Cuma ketawa2 aja
ehh tapi tunggu… tak lama kemudian aku melihat mama berdiri lalu melorotkan celana ketat pendek dari kolor miliknya tanpa membuka kaos…
tangan dicky pun langsung hinggap divaginanya langsung digosok gosok
“akhh…….” kulihat mata mama terpejam agak lama..
mungkin karena udah nafsu tangan mamapun menarik resliting celana abu2 milik Dicky menarik penisnya keluar lalu tiba2 langsung menduduki Dicky
“Achhhhh….. Masukk!!!!!” samar2 kudengar
“Enak,tant?”
“He’em enakkkk uhhhh!!!”uhhhh”uhhhhh”
dari belakang mereka kulihat jelas penis Dicky masuk secara mutlak kedalam vagina mama… Dicky menggerakan pantat mama naik turun berkali kali meskipun terlihat agak berat… Sedangakan mama hanya diam pasif meskipun berada diatas Dicky
“ahhhh…. emmhhhhh” ahhhhh!!!!! lagi, lagi, lagi“ kata mama
penisku pun ikut berdiri saat mendengar mama yang sedang menikmati persetubuhan itu
kira2 20menit kemudian mama pun mencapai orgasmenya saat diatas Dicky. ku ketahui setelah kulihat tubuhnya mengejang
dam mulutnya terbuka tapi tak bersuara sambil memeluk dicky dengan begitu kencangnya…

“belum keluar ya punyamu ?” kata mama
“isapin yah, biar cepet keluar?”sambung dicky
mama menggeleng gelengkan kepalanya tanda menolak lalu berkata “jijik!!! tante belum pernah”
“makanya dicoba donk,tant” kata dicky sambil sdikit mndorong mama agar jongkok di depannya…. tiba2 aja kepala mama pun ditarik Dicky dengan cepat kearah penisnya dan langsung masuk.. awalnya seperti dipaksa tapi lama lama mama nurut aja dan ngisep penisnya dicky.. aku baru tau ternyata Dicky benar2 hebat dlm urusan wanita, mama aja dibuatnya nurut seperti itu
10 menit kemudian dicky pun melepas spermanya ke mulut mama,,, mama pun langsung muntah saat itu ….
dicky hanya ketawa saat itu….. mama pun berjalan kearah dapur sepertinya mau mencari kain lap untuk muntahannya .
karena tak ingin ketahuan aku pun segera pergi dari dapur lalu bersembunyi di luar pagar belakang rumah……
sejak saat itu Dicky sering Bolos sekolah dan kerumahku dengan alassan yang aneh2… sedangkan aku masih aja stuck dengan DILEMA antara Iya dan tidak untuk membiarkan mereka

sejak saat itu Dicky sering Bolos sekolah dan kerumahku dengan alassan yang aneh2… sedangkan aku masih aja stuck dengan dilema antara Iya dan tidak untuk membiarkan mereka
andai saja aku bisa tegas mungkin mereka bisa kucegah…..mamaku dan sahabatku!!!! sungguh tragis
aku sakit hati jika mengingat mereka melakukan itu. Keluargaku sudah hancur
apa jadinya jika papaku tau apa yang mereka lakukan dibelakang papa
waktu berjalan seminggu….. hampir setiap hari Dicky membolos dan setiap aku pulang aku selalu menyempatkan diri mengintip mereka.. ternyata aku baru tahu alasan bahwa mama memang sengaja mengenakan celana kolor prndek dirumah 1 bulan terakhir ini karena diminta oleh Dicky.
setiap ku intip diruang tamu pasti mama hanya mengenakan kaos tapi tanpa bawahan. tak tau mengapa itulah yang sering kulihat selama seminggu terakhir saat ngintip mereka
Pernah suatu kali aku pulang sekolah aku melihat motor Dicky udah terparkir di depan rumah
“si Setan ini pasti lagi gituin mama nih”dlam hati.. iseng2 aku coba ngintip ruang tamu lewat toko.. tapi ternyata Cuma ada dicky seorang disitu sedang menonton TV. Mungkin mereka sedang tak “maen” hari ini pikirku

…. “Clackkk” aku membuka pintu lalu duduk disamping Dicky. kami tak banyak cerita saat itu…. tapi tiba2 dari arah dapur mama datang hanya mengenakan kaos tanpa lengan tapi bawahnya tak tertutup sama sekali… kami begitu kaget apalagi mama, “wow bulunya”kataku dalam hati sambil memandang terus ke arah vaginanya.. mama pun hanya diam lalu seolah bingung mau kemana …..mama lalu berjaln ke arah kamarya
Tapi Enth kenapa mungkin karena shock ato kaget apalah mama berjalan biasa tanpa menutupi vaginanya yang sedang terekspos saat itu(mungkin karena udah sering kali ya hehehe)
waktu berjalan hampir sebulan aku sampai bosan ngintip terus….sementara hubungan persahabatnaku dengan Dicky makin renggang meskipun dia masih sering menjemput aku saat berangkat sekolah tapi tetap aja kerenggangan itu tetap ada
begitu juga dengan mama, kadang aku pulang sekolah mama gk pernah menyiapkan makan siang, jadi biasanya pulang sekolah aku jajan dahulu setelah sampai rumah langsung masuk kamar dan tidur hingga sore sehingga komunikasi seolah hilang dalam sebulan terakhir itu
kadang saat pulang sekolah aku ingin ngobrol dengan mereka berdua tapi tetap aja ada rasa malas… yahh meskipun mereka tak tertangkap basah lagi “berbuat” tetap aja aroma2 sehabis mereka mesum di rumahku masih tercium… itu membuatku malas ngumpul2 lagi meski tiap hari ketemu
hingga pada awal januari 2011…..
saat itu aku berangkat sekolah dengan bus setelah sampai sekolah aku bertemu Dicky di kelas, entah kenapa hari itu tiba2 dia menghampiri aku yang sedang berjalan keluar kelas.. kami pin berjalan bersama untuk nongkrong sebentar di depan sekolah karena itulah kegiatan yang sehari-hari kami lakukan saat bel tanda masuk kelas dibunyikan…..
terlihat dia agak canggung saat mengajaku ngobrol
“eh sob….. aku pengen ngomong sesuatu nih”
“apaan?”kataku sambil melihat tingkah anehnya saat itu
“kamu pengen ngetot gak?”
“hah? serius!!!?” kataku agak curiga saat itu
“serius ni, mau ga?”
“mau banget!!!! sama siapa?” tanyaku agak curiga bercampur serius
“sama tante Sinta,mamamu”katannya sambil cengengesan
“woo, dasar setan….!!!! kamu mau aku hajar?”kataku pura2 marah . Meskipun sebenarnya aku gak terlalu menaggapi ocehan dia.. Yang kupikirkan saat itu adalah apa yang sebenarnya dia ingin katakan & apa yang sebenarnya ingin direncanakan oleh dia…..
iseng2 aku bertanya
“emang kamu pernah gituan sama mamaku?”
“hahaha ya jelas belum lah”
“aku Cuma bercanda kok,sob .. Jadi jangan masukun dalam hati ya?” katanya lagi
“tapi kalo kamu emang pengen ngrasain enaknya gituan sama tnte Sinta mungkin aku bisa rayuin, supaya dia mau”
katanya dengan suara agak ragu2 tapi hati2
“ahh aku gak percaya”sambungku
“heh, beneran tante Sinta pasti mau”kata dia
“ohh gitu ya!!!! aku tahu sekarang, ternyata kamu selama ini sering godain mamaku!!!”
“eh eh, bukan gitu sob, aku tuh Cuma nebak2 aja apa pikiran tante Sinta.. Soalnya aku hafal tipe wanita yang butuh kasih sayang itu seperti apa” dalihnya sambil sedikit ketawa agr suasana tak bertambah panas
aku terdiam sebentar
“Gimana masih mau gak? yang tanggung resikonya aku” katanya dengan ngotot
“gak deh.. masa aku gituin mamaku sendiri, dosa tau ga? kataku agak malu setengah mati
“dosa pikirin belakangan!!!… kamu belum jg pernah gituan kan?blom pernah ngerasain enaknya jg kan?” katanya agak sedikit memaksa
“tar aja, aku pikir2 dulu” kataku saat itu sambil meninggalkan dia di depan sekolah
setelah pelajaran dimulai aku sudah mulai tidak konsen lagi.. pikiranku selalu mengingat apa yang dikatakan Dicky tadi
ahhh sialll!!!!! kenapa aku jadi mikirin hal kaya gini sih. aku gak mau merusak keluargaku ,jadi tawaran itu harus kutolak
tapi… saat istiraht dicky kembali menemuiku dan kembali membahas hal itu dan terus menerus meyakinkan aku bawa tak akan terjadi apa2. aku memang sempat tergoda tawarannya itu tapi kemudian langsung kutolak lagi….
“ini pasti strategi dia agar aku bisa mengijinkan agar dia dengan bebas bisa meniduri mama semau dia”
kataku dalam hati

pelajaran pun mulai lagi… dan kembali aku mulai bimbang dan dilanda Dilema antara Iya dan tidak dengan tawaran Dicky. Saat itu juga pun aku langsung teringat pada tubuh telanjang mama saat kuintip dia bersama Dicky… aku membayangkan bagaimana bentuk vagina mama yang memang selama ini hanya bisa kulihat samar2, lalu bagaimana dengan payudaranya yang bulat dan puting berwarna coklat itu sedang terlentang diatas ranjang… penisku berdiri keras sekali saat itu tak bisa dipungkiri aku juga memang ingi merasakannyaa juga…… tapi apakah sepadan dengan jika akhirnya Dicky juga akan meniduri dia bahkan mungkin didepanku….
bayangan akan tubuh bugil mama seakan membutaku tak bisa konsentrasi lagi… setiap saat selalu muncul saja seperti itu membuat aku semakin bimbang hingga tanpa terasa bel akhir pelajaran pun dibunyikan
saat diparkiran Dicky pu langsung menghaampiriku dan bertanya lagi
“gimana, jadi ga?”
aku hanya diam sambil berpikir
dicky pun langsung menyambar
“udah gak usah dipikir… nanti aku yang rayu tante Sinta, tapi kamu yang gituin dia, gimana?” katanya sambil menyerahkan helm dan bergegas naik motor
entah kenapa aku hanya nurut aja saat itu.. kami pun bergegas pulang kerumahku dengan hati yang was was terutama aku
waktu bersa begitu lambat meski Diky memacu kendaraanya hingga 80KM/jam….. aku terus menerus gelisah dan juga sedikit ngaceng karena membayangkan tubuh bugil mama
Akhirnya kami tiba dirumah
kamipun langsung turun dan berjalan menuju ruang tamu…. saat berjalan aku melihat mama sedang duduk di toko kelihatan sedikit sibuk dengan pembeli…… kamipun langsung duduk disofa ruang tamu
jantungku udah berdetak kencang sekali saat itu karena aku tak menduga sama sekali akan menjadi seperti ini
dicky pun berdiri saat itu lalu mengajaku becara “gimana?siap belom? hehehe” katanya sambil ketawa mencairkan suasana yang tegang itu sambil berjalan ke arah pintu toko yang hanya tertutup oleh gorden itu lalu membukanya
dengan nada biscara penuh canda Dicky memanggil mama
“Tant, sini donk’
“bentar, baru ngtung duit nih”jawab mama
“ayok donk sini” kata Dicky sambil menghampiri mama yang kulihat sedang menghitung uang di meja etalase…. Dicky menarik tangan mama dengan lembut lalu menariknya ke ruang tmu. mama pun anehnya nurut gitu aja saat digandeng ke dalam.. setelah sampai diruang tamu dicky berkata kepadaku
“aku yang pemanasan, kamu yang gituin yah?” katanya sambil memainkan mata kepadaku. Dicky memberi kode Jempol saat itu sambil tersenyum penuh maksud
sedangkan mama hanya diam dan trluhat gugup dan bingung tapi hanya nurut aja saat mengetahui Dicky berkata demikian….
Dicky menggandeng mama menuju kamarnya… sebelum menutup pintu Dicky tersenyum dan berkata “tunggu bentar ya”
aku menunggu diruang tamu dengan jantung berdebar2 dan bimbang harus bagaimana setelah menunggu 5 menit belum juga Dicky keluar dari kamar. akupun memilih untuk mengganti pakaian dahulu
“kok Dicky lama … apa mungkin dia ngicipin vagina mama dulu lal baru aku yang diberi sisa2nya?”tanyaku dalam hati dengan bimbang
aku kembali ke ruang tamu tapi saat itu kulihat pintu kamar mama udah terbuka…
dicky pun lekas memanggilku….. Dengan langkah yang perlahan aku masuk ke kamar.. begitu masuk aku disuguhkan pemandangan indah
mama sedang telanjang bulat terlentang diatas tempat tidurnya…. kedua kakinya sedang terkangkang seolah sudah siap untuk di setubuhi… Dicky memanggilku lagi agar aku bergegas masuk kedalam kamar……
saat aku berdiri disamping mama . aku dan mama saling berpandangan sejenak lalu mama memalingkan mukanya kearah lain, mungkin karena malu… pahanya yang tadi terbuka lebar pun mnutup sendiri
aku sendiri hanya salah tingkah karena bingung harus ngapain
saat itu terlihat jelas baik aku dan mama sedang malu-malu tapi mau……
“duduk disini”kata Dicky sambil berdiri dan menyuruh aku duduk di semping tubuh telanjang mama
sambil memperhatikan tubuh mama dengan dekat, aroma tubuhnya benar benar membuatku tak berdaya
tangan kanan mama menutupi wajahnya sendiri, tangan kirinya mengelus elus rambutnya sendiri yg mulai acak2an
oh, sungguh pemandangan yang sangat indah sekali

“ayok cepat disikat aja, tante Sinta udah nafsu juga kok…. jangan malu2!!!!” kata Dicky kepadaku tanpa ada rasa ragu atau bersalah karena kata2nya saat itu didengar oleh mama
aku tak terbiasa dengan ini apalagi jika diperhatikan oleh Dicky… tapi karena Dicky yang dari tadi hanya ngomel2 terus karena aku yang tak kunjung mulai2 akhirnya kau berinisiatif meraba paha mama dan mengelusnya.. kuelus2 dari arah luar sampai dalam hingga mama yang awalnya tegang bisa sedikit lemas,,, pahanya yang tadi merapat pun mulai membuka sedikit…..
Dicky berkata kepadaku
“aku mo nutup toko dulu, kmu garap aja… sampe puas”katanya tersenyum sambil berjalan keluar kamar dan menuju toko
disaat itu aku masih aja bimbang harus bagaimana dulu dikarenakan aku memang sangat buta dalam hal ini disamping itu mama pun hanya diam menutup wajah dan mengelus rambutnya… aku bahkan gak tau mama udah terangsang atau belum
yah jadi dilema lagi…….
tak lama kemudian Dicky masuk ke kamar lagi dia pun berkata
“loh!!!! kok belum”katanya saat itu penuh kecewa
“ayo donk rio….. sikat aja, jangan malu2 lagi” sambungnya
mungkin melihat aku dan mama yang masih sama2 kaku dan terdiam Dicky pun lal mendekati kami
“liat nih” katanya saat itu sambil meremas2 kedua payudara mama dng jari kirinya… tak mau kalah jri kanannya menarik wajah mama dan merka pun langsung berciuman mesra
“clkkkk..clkkkk” suara lidah bercampur air liur mereka saat berciuman
“emmhhhh’suara mama ketika bibir mereka saling bertemu
wow… sungguh Dicky benar2 mahir dalam bercumbu dengan wanita
kira2 2 menit mereka salin bercumbu sedang aku hanya mengelus2 paha mama….. Dicky pun berdiri lalu berpindah ke blekangku tanpa kompromi kedua tangannya memegan paha mama lalu membukanya dengan lebarsehingga kami berdua bisa melihat dengan jelas bentuk vagina mama
basah disana apalagi ketika Dicky menusukan jarinya kedalam vagina mama dengan kasar dan langsung dikocok –kocok hingga keluar suara “clak-Clak”
“akhhh!!!! akhhh!!! “ hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil matanya terpejam
Dicky menarik keluar jarinya yang basah akibat lendir milik mama lalu memasukan jarinya kemulut mama…..
mama hanya menurut aja seolah pasrah mau diapa2in…….
Dicky hanya tersenyum puas melihat mama, sedangkan aku tersenyum kagum melihat mereka
Sesudah puas Dicky pun berdiri lalu mengambil tas rasnselnya
“ya udah aku tinggalin kalian berdua, toko udah ditutup kalian bisa bebas gituan” katanya

Setelah keluar kamar tak lama kemudian kudengar suara motor nya lalu pergi… aku pun kedepan untuk memastikan nya
sambil mengecek seluruh pintu…..
pada saat aku kembali ke kamar mama aku mulai merasa ragu lagi…. tapi mengingat apa yang udah terjadi tadi danjuga Dicky yang udah pergi aku pun memberanikan diri… saat didepan pintu kamar aku melihat mama yang masih telanjang kedua pahanya pun masih terkangkang membuat aku semakin berani
dengan perasaan yakin aku pun mulai dengan berani meremas dada mama
jari tanganku yang satu lagi pun tak mau kalah langsung menekan ke arah vaginanya
mama masih diam aja….. aku sudah tak peduli lagi vaginanya pun ku kocok menggunakan 2 jari sekalaigus seperti yang dilakukan Dicky

dampaknya pun mulai terasa.. mama yang awalnya hanya menutup wjahnya mulai berani memperlihatkan ekspresinya
akupun mulai lebih berani memainkan jariku… jari kiriku membuka2 libianya sedang jari kanan mengocok kedalam
dan benar tak lama kemudian
“akhhhh….. akhhh!!!!” kata pertama yang keluar
aku pun mengeluarkan penisku lewat resleting celanaku sambil kukocok2 sendiri penisku
mama ternyata menikmati rabaanku, aku sendiri udah tak tahan lagi.. akupun lekas melepaskan celanaku
lalu bertanya kepada mama
“ mah… aku boleh masuk?” dia masih diam
lalu penisku ku gesek2kan ke puting susunya sambil bertanya lagi…..
mama membuka matanya lalu memandangku sebentar kemudian menganggukan kepalaanya menandakan setuju
denagn tak sabar langsung naik ke atas ranjang… tanpa kusuruh mama mbuka pahanya lebar sehingga aku bisa merapatkan tubuhku
“akhhh” suara mama keras ketika penisku kutusuk pertama kali ke vaginanya
oh gilaaaa, apakah ini yang dinamakan bersetubuh itu…. sangattt nikmat kurasakan
penisku terasa hangat dan seperti tersedot kedalam vagina mama. Pokoknya berbeda sekali rasanya dengan onani
aku terus menerus menekan dan menarik dengan cepat pantatku ini menimbulkan perasaan nikmat tiada tara. semakin kutusuk semakin keras penisku dan semakin enak kurasa
“emhhhh…. ahhhhh… ahhhh…. ahhh” mama medesah sesekali sambil menutup rapat kedua matanya seakan menikmati tiap detik ketika penisku keluar masuk
baru 5 menit tiba2 saja tubuhku tegang sekali dan…. spermaku pun lepas masuk dengan sangat deras kedalam vagina mama, oh nikmatnya..
kubiarkan penisku didalam sejenak, aku lemas, kdua lututku teras ngilu sekali.. inilah pertama kalinya aku merasakan sensasi senikmat itu yang mungkin takan pernah kulupakan….
baru semenenit didalam penisku mulai membesar lagi, langsuang saja akupun menggerakan pantatku maju dan mundur meskipun tak sekencang saat yang pertama tapi rasa nikmat yang datang tak kalah hebat dengan yang tadi….
kugerakan perlahan-lahan sambil kedua tanganku mengelus paha mama dan kunikmati setiap detik dengan memejamkan mataku
“ahhh ahhh ahhh”tak kuasa kubendung suaraku
penisku menegang keras lagi..
“emhh… emhhh” suara mama seolah tak mau kalah dengan suaraku
30 menit berlalu aku udah keluar didalm sebanyak 3 kali lalu kucabut penisku..dengan sedikit tenaga yang tersisa aku meninggalkan mama telanjang bugil dikamarnya sedang aku menuju ruang makan.. rasa cape, lapar membuatku tak berdaya.. sehabis makan aku pun kekamarku, aku sempat lewat kamar mama dan kulihat dari luar mama sedang tidur dengan selimut yang menutupi bagian bawahnya sedangkan bagian dadanya dibiarkan terbuka wajahnya masih manis dan tetap terlihat anggun meskipun sehabis begituan…. saat melihat wajah mama aku merasa bersalah dengan apa yang baru kulakukan, ini adalah dosa terberat yang aku lakukan terhadap keluargaku sendiri
rasa kenyang dan cape membuatku tidur terlelap hingga aku bangun pada sore harinya
entah mengpa aku dan mama tak saling bicara hari itu mungkin karena rasa bersalah yang sama2 kami berdua rasakan…
sehabis makan malam akupun langsung menuju kamar.. dikamar aku masih saja teringat akan kejadian siang tadi..
aku merasa sedih dan bersalah hingga tanpa kusadari air mataku menetes
wajah yang kuingat saat itu adalah wajah papa…
apa yang akan papa lakukan jika dia tau aku bukannya menjaga mama tetapi malah mincabuli mama, wanita yang mengandung aku selama 9bulan dan melahirkan aku dengan susah payah
ketika papa membanting tulang dan mencari nafkah agar aku bisa sekolah yang tinggi untuk menggapai masa depanku…….. kalau papa tau mungkin dia akan membunuhku saat itu juga….
“ah.. siallll kenapa aku jadi begini”

keesokan harinya aku berangkat lebih awal kesekolah dengan bus, di sekolah aku bertemu dengan Dicky
“sob, gimana yg kemaren?” kata dia mengagetkan aku yang sedang melamun di kelas
aku tak menjawab apa2 hanya ekspresi malu dan kaget yang terlihat dari wajahku
“kok lemas gitu? wah abis kerja keras seharian ya?” katanya lagi
“gak kok, aku Cuma nancep sekali”kataku dengan malu
“oh ya? masa Cuma sekali? wah gak seru tuh…. kamu mau lagi gak? klo mau, ntar aku yang rayu, kamu yang gituan lagi seperti kemaren?” katanya dengan berbisik sambil tersenyum penuh maksud

aku merasa aneh kala itu. meskipun kutolak tapi Dicky tetap aja mengiming-imingi aku dengan kata2 yang menarik, lama kelamaan aku pun mulai tergoda lagi dan akhirnya akupun menyerah dengan nafsu mudaku….
saat jam pelajaran pun Dicky pindah ke mejaku dan kami bercerita tentang mama.. meskipun saat kutanyai dia ngotot tak mengaku bahwa pernah meniduri mama.. sampai aku menyerah senidi.
Tak apala, mungkin dia malu atau takut jika aku marah
akhirnya setelah berembug lama kami pun memutuskan membolos saat instirahat dan langsung menuju rumahku
sesampai dirumah aku kamipun langsung menuju ruang tamu.. mama sedang ditoko..
Dicky langsung menuju toko dan langsung menggandeng mama keruang tamu saat itu….. mama hanya nurut sesekali ketika dibawa keruang tamu

sesampainya diruang tamu Dicky langsung memeluk mama dan mencium bibirnya seskali tangannya meraba selangkangan mama…. Wajah mama memerah apalagi ketika mengtahui aku yang duduk sedang menyaksikan mama dicium mesra.. dan terlihat mama sangat gugup saat itu
“sob, tokonya ditutup aja biar kita bebas ngapa2in” kata Dicky sambil memberi kode kepadaku . dengan langkah yang agak terseret2 aku bergegas menuju toko dan menutup pintu toko, ketika aku kembali ke ruang tamu kulihat mereka berdua sudah duduk di sofa panjang sambli berciuman dan tangam milik Dicky udah masuk kedalam kaos milik mama dan meremas2 payudaranya….. penisku langsung tegang saat melihat mama diraba2 oleh Dicky… aku begitu tegang melihat mereka jadi aku berinisiatif menuju kamar dan mengganti pakaianku agar aku bisa lebih tenang…. setelah mengganti pakaianku aku langsung menuju ke ruang tamu..
saat itu mama udah tak mengenakan kaos sehingga payudaranya terlihat jelas begitu indah, paduan kedua puting coklatnya seolah membuat payudara mama terlihat begitu sexy….
ketika menyadari aku yang sudah ada di depan mereka Dicky menghentikan cumbuan terhadap mama, mama sendiri Cuma diam sesekali menunduk sambil membenahi ujung rambutnya yang basah oleh keringat…
“sob, aku mau pulang nih, kmu aja ya yang lanjutin” katanya
“kenapa buru2? lanjut aja.. aku gak marah kok, suer!!!!!” kataku sedikit heran dengan tingkah dia
“aku agak kecapeaan hari ini, pengen pulang aja” katanya lagi sambil mengambil tas lalu mengambil helm dan kunci motor diatas meja…
Aku agak heran dengan tingkah dia hari ini, mama pun sama terlihat dari ekspresi wajahnya yang mulai bingung..
akupun langsung mengantar Dicky kedepan rumah, kutawari dia sekali lagi untuk masuk kedalam, tapi dia menolak.. heran juaga aku dengan tingkahnya.. tapi tak apa, mungkin ini juga bagus untuku, agar aku bebas seperti kemarin…hahaha
Setelah Dicky pergi aku pun masuk kembali kerumah, aku duduk disamping mama yang masih telanjang dada saat itu….
“mah, pintu belakang udah dikunci?” tanyaku
“oh iya…!!! tunggu bentar, biar mama cek dulu”katanya sambil berjalan cepat menuju kebelakang….
setelah kembali dari belakang
“mah sini, duduk dipangkuanku” kataku dengan sedikit menarik tangannya, mama sedikit senyum lalu segera duduk menghadap aku dipangkuanku…. segera tangan kiriku menarik pinggangnya sehingga membuat tubuh mama lengket dengan tubuhku..
langsung segera kucium lehernya dan tangan kananku meremas2 bokongnya yang masih tertutup celana kolor ketat berwarna merah itu…
“emmhhh” katanya begitu kucupang lehernya lalu berlanjut menciumi ketiaknya yang berbulu tipis lalu naik ke pipi
sampai akhirnya bibir kami bertemu…. lidahku langsung disedot oleh mama dengan rakus..
kdua tangan mama memeluk kepalaku dan mengelus rambutku selagi bibir kami saling sedot menyedot
“clkkk clkkk’ suara lidah bercampur air liur ketika kami bercumbu
“mah lepasin celanya, aku pengen liat ituhnya” kataku, dengan tersenyum manja mama berdiri dan langsung melorotkan celana kolor beseral celana dalam turun dan lepas dari kakinya….
wowww… pemandangan indah dan harum semerbak langsung tercium dari hidungku… tanpa menunggu lama mama pun langsung kudorong kesofa dengan posisi terlentang, kuhujani wajahnya dengan ciuman tanpa henti mama hanya memeluk aku sambil bibirnya ikut mencari2 dimana bibirku meskipun akhirnya bertemu….
tangan kiriku meremas kedua susunya dari kiri kekanan bergantian terus menerus hingga nafas mama mulai tak beraturan..
tangan kananku turun kebawah pusarnya dan mencari cari dimana vaginanya, setelah dapat langsung lah ku raba dan kuelus, sesekali kutarik bulunya, ini membuat mama menjadi kesetanan dan semakin memeluk aku dengan erat
mama saat itu sungguh berbeda dengan yang kemarin yang hanya diam saat kuraba – raba…. setelah kurang lebih sepuluh menit kami bercumbu kukeluarkan penisku lewat lubang resleting san segera kutempelkan penisku yang sudah tegang ke vagina mama sambil ku gesek2kan ke klitorisnya…. ketika aku mau masuk tiba2 mama memeluku.. ini membuat penisku meleset dan gak jadi masuk…
mama memeluku sambil menciumi pipiku dia bilang
“sayang, maennya dikamar aja yuk, seperti kemaren… lebih enak”
segera kami berdiri, dan sambil bergandengan kami menuju kamar mama…..
setelah sampai aku langsung menutup pintu kamar dan menguncinya sedang mama hanya duduk di tepi ranjang sambil menunggu aku
“sayang lepas aja seragamnya, biar nanti gak kotor” kata mama
dengan cepat aku melepas semua pakaian yang aku kenakan sampai kaos dalam pun hingga aku telanjang bulat.
mama hanya tersenyum nakal melihat penisku yang tegang itu bergerak naik turun sendiri…..
mama langsung tiduran terlentang diatas ranjang, segeralah langsung ku naiki tubuhnya lalu kuciumi bibirnya, sedangkan penisku kutekan2 kearah selangkangannya mencari lubang vaginanya … tapi karena Cuma bergesek2an dan tak masuk2 juga tubuh mama bergerak gerak sendiri seolah olah mencari juga dimana letak penisku, sampai karena putus asa tangan mama menangkap penisku lallu menekan kearah vaginanya… pelan pelan dan lalu…. sleebb…. penisku pun tertancap kutekan sampai pangkal pahaku menempel dengan milik mama lalu kubiarkan penisku didalam sebentar..
ini membuat mama menjadi tambah liar, pantatnya bergerak2 sendiri dan vaginanya seperti menyedot dan menjepit keras penisku
“sayangghh… cepet gerakkinn…. ahhhh… mama gak tahannn…kamu jahattt!!!” sambil menarik2 pantatku
tak tega melihat mama yang tersiksa aku pun langsung menekan naik turun
“ohh.. gitu sayangghhh… enakkk..” katanya sambil memejamkan matanya…
oh begitu nikmat saat itu ditambah lagi melihat ekspresi wajah manis mama yang sedang nafsu ingin disemprot rahimnya membuatku semakin tak tahan ingin keluar
20 menit kemudian
“mahh… aku keluarrr”kataku sambil menekan dalam2 penisku
“AKHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” mama menjerit keras dan kurasa vaginanya berkontraksi dan menjepit penisku dengan keras
“akhhh —akhhh—- ahhh!!!!” suaranya seolah tak mau berhenti… sepertinya dia juga abis orgasm sesaat setelah ku keluarkan maniku didalam… penisku kutari keluar dan kulihat vagina mama membuka dan menutup sendiri sepereti sedang bernafas dan pinggulnya masih bergerak gerak kaku meski penisku udah keluar, wow sungguh pemandangan yang indah tapi aneh…..

Lalu kurebahkan tubuhku disamping mama yang sedang lemas sambil mengambil nafas sejenak dan memandangi wajah mama yang penuh dengan bintik2 keringat….
Saat udah tenang mama memiringkan badan kearahku, kami berpandangan lama saat itu sebelum khirnya mama mencium keningku
“mama gak nyangka bisa tidur dengan kamu 2 kali”katanya dengan wajah masih lemas
“tapi mama bahagia sekarang” sambungnya
“papa gimana,mah?”kataku… wajahnya agak sedi ketika kutanyakan itu
“maaf mah”
“tak apa, kita jalani dulu aja…. jangan bialang papa, nanti dia marah”
“iya mah, aku janji jaga rahasia” kataku sambil tertunduk dan merasa seperti bersalah saat itu, mama yang melihatku agak bersedih langsung merapatkan tubuhnya dan mengelus rambutku
“mau mama isepin itunya ga?”katanya dengan tersenyum nakal.. aku pun langsung semangat lagi saat itu…….
Setelah melakukan 3 kali siang itu aku dan mama tertidur pulas hingga sore hari.. Setelah bangun aku langsung menuju ruang makan dan ternyata mama masak banyak hari itu ada ikan,ayam, dan sayurannya banyak beraneka ragam jenis.. sepertinya dia sanngat senang hari itu……
malam itu aku pun tidur di kamar mama, tapi kami tidak “gituan” malam itu………
Bangun pagi aku merasa segar dan senang, setelah sarapan aku langsung berangkat sekolah
tapi aku tak bertemu Dicky disekolah, aku pikir dia kerumahku.. Tapi setelah pulang sekolah aku juga tidak menemui dia dirumah, setelah kutanya mama katanya kata mama Dicky tak datang hari itu..
Keesokan harinya pun begitu, Dicky tak menjeput aku dan disekolahpun dia gak ada, aku mulai bingung saat itu
“apa dia sakit?” tanyaku pada mama setelah aku baru saja sampai kerumah
“Semalam mama telfon juga gak diangkat” kata mama juga saat itu sambil duduk merapat ketubuhku
“mungkin dia udah bosen sama ini” kataku sambil meraba payudara mama
“sayang, bosen ga sama mama”
“Ga akan bosen mah, walaupun tiap hari” kataku sambil mencium bibir mama
Akhirnya siang itu aku memulai tanpa Dicky…. Kami melakukannya seharian penuh dikamar dan si ruang tamu
Keesokannya pun begitu, bahkan aku sudah gak tidur dikamarku tiap malam melainkan tidur di kamar mama…
Seminggu kemudian…….
“sayang mama pengen ngomong” kata mama saat aku mau mnidurinya malam itu
“ngomong apa mah?
“tapi jangan marah ya, sebenarnya………..emmmm mama udah hamil 3 minggu”
“HAH? kok bisa? mama kok gak bilang dari kemaren2 sih!!! Mama kok gitu, ini kan permasalahan genting” kataku dengan nada keras
“Sebenarnya yang nyuruh Dicky, dan anak ini sebenarnya anaknya Dicky dan mama gak bisa bilang kemaren2 karena mama baru tau Dicky kabur tadi pagi wkatu nelfon ibunya Dicky”
SIALL SIALL oh sialnya aku, teryata selama ini Dicky meminta bahkan mengiming – imingi aku untuk tidur dengan mama itu ternyata adalah…… Sebuah PERANGKAP agar aku yang dikira menghamili mama dan agar dia bisa lari dari tanggung jawab……..

TAMAT

Merawat Mama

Liburan semester, Musa tak bisa kemana-mana, karena harus merawat mama-nya. Mamanya mendapat kecelakaan lalu lintas, hingga betisnya mengalami patah tulang dan tulang dekat bahunya juga patah. Dia harus dibawa ke ahli patah tulang, seorang dukun yang terkenal dari Sumatera. Sementara Papanya, harus dioperasi, karena perutnya sempat terburai saat kecelakaan terjadi. Papanya harus diopname dan masa krisisnya sudah habis, hingga baru dipindah dari ICU. Sedang Mamanya sudah dibawa ke rumah dari Dukun Patah Tulang. Musa sebagai putra tunggal, harus mondar mandir, rumah sakit dan rumah mereka. Dia juga menyediakan makanan untuk kedua orangtuanya.

Mamanya harus dipapah kalau tidak memakai tongkat. Musa yang duduk di semester 3 itu, harus siap mengurus kedua orangtuanya. Musa menyiapkan air panas untuk memandikan ibunya.
“Sudah Mama duduk dan saya akan memandikan Mama,” kata Musa yang sangat kasihan melihat mamanya, tak mampu mengangkat tangan kanannya dan harus bertongkat dengan susah payah.
“Tapi Mama kan tidak pantas kamu mandikan?”
“Kenapa?”
“Bagaimana mana mungkin kamu haerus memandikan Mama?”
“Ya mandikan saja. Buka baju dan aku akan memandikannya,” Musa tegas. Dia tak mau maamanya bertongkat lagi. Mamanya yang bertubuh mungil dengan berat badan 58 Kg itu dibopongnya dengan gampang. Terlebih Musa tuga kali semingu selalu latihan angkat besi sejak dia masih SMA. Musa mendudukkan Mamanya di sebuah bangku kecil, Kemudian kedua kakinya diselonjorkan ke lantai. Musa mulai mengangkat daster mamanya. Mamanya sangat keberatan. Tapi Musa tetap memaksa.
“Mungkin inilah pengabdianku, Ma,” katanya. Mamanya menatap wajah Musa sejenak. Musa tersenyum dan terus mengangkat daster mamanya ke atas dan Mamanya pun mengakat kedua tangannya. Kini mamanya hanya mengenakan celana dalam dan bra saja. Setelah itu, Musa mulai membuka ikat rambut mamanya, kemudian menyiraminya dengan air hangat yang ada pada ember besar. Sebuah gayung menyiduk air dari ember dan meluncur dengan beiungnya mulai dari ubun-ubun Mamanya. Kesjuru tubuh Mamanya sudah basah. Musa meneteskan shampoo ke rambut Mamanya, kemudian mengucek-ngucek rambut mamanya, lalu penyiramnya kembali dengan air, sampai rambut mamanya bersih dari shampoo dan beraroma wangi. Musa pun menyabuni tubuh Mamanya dengan sabun. Mulau dari leher, sampai ke bawah. Musa cepat melepas pengait Bra Mamanya. Dan tersembullah tetek Mamanya yang putih mulus.
“Ah.. kamu nakal…” bentak Mamanya.
“Harus semua bersih,” kata Musa. Saat itu, Tak bisa dipungkiri, kontol Musa langsung menggeliat. Musa pun menyabunui tubuh Mamanya, sampai kedua buah dadanya dia sabuni dari belakang.
“Kamu ini gimana sih?” kata Mamanya. Musa diam saja dan aterus menyabuni buah dada mamanya dan telapak tangannya mengelus pentil kedua buah dada itu.

Musa juga menyabunyi mulai dari ujung kakai Mamanya, sampai ke pahanya. Bahkan sampai ke pangkal pahanya. Musa memasukkan tengannya ke dalam celana dalam Mamanya. Saat Musa mulia menyentuh bulu-bulu halus di atas memek Mamanya, Mamanya mulai protes. Tapi sabun yang licin sudah membuat tanganMusa menyelusup menyabuni bulu-bulu memek Mamanya.

Setelah yakin semua tersabuni, Musa megambil gayung dan menyirami tubuh mamanya dengan air hangat itu. Yakin semua sabun sudah habis dari tubuh Mamanya. Musa mengambil handuk dan mulai melap rambut mamanya sampai kering, kemudian melap tubuh Mamanya. Musa juga melilitkan handuk pada pinggang Mamanya, Kemudian menurunkan celana dalam Mamanya.
“Kamu harus melakukannya juga?”
“Ya Ma. Tak baik memakai celana dalam yang basah. Harus kering,” kata Musa. Mamanya yang risih diam saja.
“Mama mau cebok bentar,” katanya. Musa mengambil sabun dan melepas handuk yang melilit di pinggang Mamanya, membuat Mamanya jadi telanjang bulat. Cepat Musa menyabuni memek Mamanya dan mamanya tak protes lagi, karena semua sudah terjadi.

Kembali Musa melap bagian tubuh Mamanya yang basah dan melilitkan kembali handuk pada tubuh Mamanya mulai dari pinggang. Musa punmembopong tubuh mamanya yang setengah telanjang itu ke kamarnya. Didudukkannya Mamanya di ranjang. Musa mengambil daster mamanya yang berih dan memakaikannya, tanpa Bra dan celana dalam. Setelah itu, Musa membaringkan Mamanya di tempat tidur, setelah menyisir rambut Mamanya. Dia mengambil makanan untuk Mamanya dan menyuapinya.
“Kamu baik sekali sayang,” kata Mamanya dengan suara haru.
“Bertahun-tahun Mama merawatku, kenapa aku tidak merawat boleh merawatmu, Ma”
“Kamu aku rawat ketika kamu masih kecil.”
“Andaikan aku kecelakaan sekarang, aku tidak boleh Mama rawat lagi?”
“Tentu aku akan merawatmu.”
“Sekarang aku sudah dewasa, apakah aku tidak boleh merawat Mama yang sangat aku sayangi?” tanya Musa. Mamanya terdiam sejenak.
“Boleh sayang. CUma saja Mama malu,”
“Malu. Lalu Mama harus menahankan rasa sakit tanpa perawatanku?”

Mamanya diam dan tertunduk, Kemudian emngkat wajahnya dan tersenyum. Musa menyuapi Mamanya dan dengan nyaman dan menjadi manja Mamanya pun menyantap makanan yang disuapkan ke mulutnya. Usai itu, Musa minta izin untuk mengantar nasi ke rumah sakit untuk Papanya. Mamanya ingin ikut, tapi dijanjikan hari minggu Musa akan membawa Mamanya untuk besuk Papanya yang udah keluar dari ruang ICU. Muswa juga berjanji pada Papanya untuk membawa Mamanya pada hari MInggu.

Dalam perjalanan, Muda terbayang terus akan tubuh Mamanya yang mulus, putih dan mulai timbul niat dalam dirinya untuk menyetubuhi Mamanya. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, Musa terus membuka toko mereka dan ingin rasanya dia menutupnya akan bisa bertemu dengan Mamanya dan memandikannya lai pada sore nanti.

Pukul 16.30 Wib, Musa kembali ke rumah sakit membawa makanan dari restoran Padang, kemudian kembali ke rumah dengan membawa pakaian kotor Papanya. Dengan laju dia melarikan sepeda motornya ke rumah. Setiba di rumah dia langhsung menyiapkanm air panas untyuk mandi mamanya, setelah mamanya diberikan makanan mi goreng yang dibawanya. Mamanya tersenyum melihat pengabdian putra tunggalnya yang sudah berusia 20 tahun itu,.

Setelah semua siap di kamar mandi, Musa menubntut Mamanya utuk berdiri dari sofa. TV yang ditonton Mamanya dimatikan. Mie Goreng yang sudah dimakan di sisihkan. Tongkat dikeseampingkan. Atas permintaan Mamanya untuk latihan berjalan dia mau memegang pundak Musa dan dibimbing untuk melangkah. Musa memeluk tubuh Mamanya dan Mamanya memeluk pundak Musa. Saat itu kontol musa mulai bergerak-gerak lagi, saat tetek Mamanya menempel di tubuhnya.

Sesampai di kamar mandi, Musa mengangkat daster Mamanya dari bawah ke atas. Setelahterlepas, tubuh Mamanya benar-benar telanjang bulat. Musa membimbingnya untuk duduk di kursi dan rambut Mamanya dibungkus agar tridak tersitram air. Musa melepas pakaiannya, hingga hanya tinggal celana dalam. Dia mulai mengguyur tubuh mamanya.
“Sebenarnya Mama malu diperlakukan seperti ini,” kata Mamanya di sela-sela tangan Musa menyabuni tubuh Mamanya.
“Tak ada yang perlu dimalukan,”
“Karena Mama wanita dewasa dan kamu laki-laki dewasa.”
“Lalu kenapaq Ma?”
“Mama milhat kamu menelan semua tubuh Mama dengan tatapanmu dean membangjkitkan libidomu.”
Musa diam Dia terus menyabuni tubuh Mamanya dengan telaten dan mengelus-elus buah dada Mamanya saat giliran kedua buah dada itu disabuni.
“Sudah lama aku menginginkan seperti ini, Ma,”
“Menginginkan apa sayang,”
“Menginginkan melihat semua tubuhg Mama yang cantiok ini,”
“Apakah tubuh Mama masih cantik?”
“Masih Ma. Bahkan aku mengaguminya.”
Keduanya terdiam.
“Udah kamu mandi sekalian aja,” kata Mamanya. Maksud Mamanya mandi diguyur air, tidak harus telanjang. Tapi Musa justru dengan cepat melepaskan celana dalamnya, hingga dai juga bugil. Mamanya terkejut, saat melihat kontol Musa yang mulai mengeras dan besar serta Panjang. Dibuangnya wajahnya entah kemana agar tak terlihat, dia sedang memperhatikan kontiol anaknya itu. Saat musa bersabun, dia juga menyabuni kontolnya dna mengelus-elusnya, hingga kontolnya semakin besar dan keras. Sat itu Manahy amenyaksikan sendiri bagaimana keras dan besar serta panjangnya Kontol Muisa, lebih Panjang dan besar dibanding kontol Papanya sendiri.
“Kamu tidak malu?” kata Mamanya.
“Tapi mama yang menyuruh aku mandi sekalian.”
“Tapi juga kan tidka harus telanjang seperti ini?”
“Kalau telanjang juga kan gak apa-apa?”
“Tapi burungmu mengeras dan panjang?”
“Mama suka?” Musa to the point. Mamanya diam. Adea rasa suka, ada rasamalu dan ada rasa marah.
Musa memeluk Mamanya dan berbisik di telinganya.
“Ma, aku mencintaimu.” Kemudian dia menecup bibir mamanya dan mempermainkan lidahnya di sana. Lalu bibirnya turun ke pentil tetek mamanya dan memainkan kedua pentil tetek Mamanya
dan…

Tidak hanya memainka pentil Mamanya, Musa juga mulai mengelus tubuh Mamanya dan kemudian berakhir di selangkangan Mamanya. Musa merasakan ada sesuatu yang hangat di sela bibir memek Mamanya. Berlendir.

Musa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan kemudian dia langsung mengulum kembali bibir Mamanya dan Musa yangsudah membaringkan Mamanya di atas rabnjang. dengan hati-hati memindahkan kaki Mamanya yang patah. Mamanya mendsis-desis. Kemudian Musa menjilati perut Mamanya, sampai akhirnya bermuara pada sela bibir memek Mamanya. Lidah itu menari-nari di sana dengan lincahnya.
“Musaaaa…..” suara Mama yang lirih. Musa tak menghiraukannya dan dia terus menjilati perut mamanya, kemudian kembali lagi terus ke memek mamanya. Sang mama juga meremas rambut Musa dan mendesis-desis.
“Jangan sayang. Ini tak boleh. Tak boleh…” kata sang mama mendesis-desis, namun remasan pada rambut Musa tak dilepasnya, malah mama menjepit kepala anaknya itu dengan kedua kakinya. Saat itu Musa merasa senang sekali. karena sebelah kaki mamanya yang kiri, sudah bisa ikut menjepit kepalanya.

Lendir membanjir keluar dari memek Mama. Perlahan Musa mengengkangkan kedua paha mamanya kemudian menindih tubuh mama yang terbaring. Dengan cepat Musa mengarahkan kontolnya ke memek mama dan menusuknya di sela bibir memek yang sudah berlendir itu.

“Akhhh….” mama mendesah. Musa secara perlahan terus menekan dan menekan kontolnya memasuki lubang mama. Mama memeluknya dengan kuat dari bawah sembari menggigit leher Musa.
“Aduuuuuhhhhh….” Mama menjerit kecil. Mulanya Musa kasihan, mana tau kaki mamanya yang patah itu tertindih olehnya. Namun kata aduh yang dikeluarkan oleh mama, sebuah kata aduuh karena nikmat. Musa menekan sejauh mungkin kontolnya memasuki lubang nikmat mama. Tak lama Musa merasakan buncahan lendir hangat memenuhi rongga memek mama dan mama pun melamaskan pelukannya. Musa mengerti Mamanya orgasme.

“Mama… mama sudah sampai….?” kata Musa sembari mulai memompa kontolnya perlahan-lahan dengan ritme yang tetap. Mamanya diam saja, Nafasnya masih belum bisa dia atur. Mama pun kemudian Mencubit pipi Musa dengan gemas. Musa semakin bersemangat, pertanda tidak ada yang harus diragukan lagi. Bibirnya menempel kembali ke bibir mama dan sebelah tangannya meremas-remas buah dada mama sedangkan kontolnya terus memompa lubang nikmat yang memancarkan aroma mesum.

“Mama aku sudah mau sampai…?” kata Musa, mempercepat kosokannya. Kembali Mama menjepit kedua kakinya ke tubuh Musa, walau kedua kaki itu hanya sebelah yang diangkat. Tangan mama memeluk erat tubuh Musa dan musa menekan sejauh-jauhnya kontolnya ke dalam lubang goa mama dan beberapa kali muncartlah sperma kental dari kontol Musa.

Nafas keduanya memburu, bagaikan kuda yang usai berpacu, kemudian tak berapa kembali norman. Kontol Musa mengecil dan terlepas sendiri dari dalam memek sang Mama.

Musa tidur di sisi mama dan membelai rembut mama. Musa mendengar ada suara isak tangis yang tertahan.
“Maafkan Musa Ma,” katanya.
“Tak ada yang perlu dipersalahkan. Kita berdua sama-sama salah, kenapa kita melakukan hal yang tak sepantasnya ini,” kata mama. Musa memeluknya dan mencium pipinya, sembari membelai lembut rambut mama.

Mama mengenang kembali segalanya. Belum pernah dia diperlakukan seperti itu. Memeknya dijilati dan dia bisa orgasme sampai dua kali. Bersama suaminya, dia jarang sekali bisa orgasme dan terakhir, setelah Musa berusia 3 tahun, boleh dikatakan, Mama jarang sekali mendapat sesntuhan dari suaminya.

Setelah semua reda, Musa memakaikan daster mama dan dia harus kembali mengantar nasi ke rumah sakit. Rumah sakit mengatakan, dalam minggu depan papanya sudah boleh pulang ke rumah dan harus dua hari sekali dibawa ke rumah sakit untuk berobat jalan. Musa senang sekali. Saat kepulangan papanya, dia membawa oibunya naik mobil ke rumah sakit dan betapa senangnya hati sang papa.

Seminggu sebelum penjemputan itu, antara Musa dan mamanya hampir setiap malam melakukan persetubuhan. Sang mama tidak malu-malu lagi, pada saat dia sangat membutuhkannya, dia tak malu merengek kepada Musa untuk disetubuhi.

Saat sang Papa sudah kembali dan harus mendekam terus di kamar karena belum bisa bergerak banyak dan dia tak boleh banyak bicara, saat ityu [ula Musa dan mamanyta bersetubuh di ruang tamu atau di ruang makan atau di dapur. Saat mamanya sudah bisa berjalan sendiri walau dengan tongkat, saat itu dia sadar, kalau dirinya sudah tidak haid lebih dari sebulan. Dibisikinya hal itu kepada Musa. Musa tersenyum, emendengar ada dugaan mamanya hamil,.
“Kamu ini bagaimana, aku hamil, malah kamu tersenyum senang,” kata Mama.
“Ya senang dong, mama. Sebentar lagi aku punya anak. Anak kita Ma.?
“Sssstttt…. jangan keras-keras, nanti kedengaran ama Papamu,” Mama menekan telunjuknya ke bibir Musa.

Selembar kertas dari laboratorium menyatakan hasil planotes yang diperiksa adalah positif, bayi dalam kandungan Mama berusia 35 hari.
“Apa yang kita lakukan sayang.” tanya Mama.
“Kita jaga kandungan Mama dengan baik,” kata Musa. Mamanya sangat terkejut kembali. Musa mulai menyampaikan rencananya dan mereka harus berterus terang kepada suaminya jika suaminya curiga. Sejak saat itu, keduanya tidak ragu-ragu lagi dan terus menerus melakukan persetubuhan. Papa pun sudah mulai bisa berjalan, walau dipapah. Tamu-tamu yang datang senyum-senyum melihat si Papa, walau sakit masih sangup melakukan persetubuhan. Tamu tidak menyangka kalau persetyubuhan itu adalah antara Mama dan Musa.

Hamil semakin besar. Saat itu si Papa langsung memangil mama dan Musa untuk berbicara di ruang tamu. Dengan hati-hati Musa yang mengerti perubahan wajah si Papa mengakui terus terang dan menyatakan itu adalah kekhilafan, dimana Mama sudah puluhan tahun tidak mendapatkan kepuasan bathin dari papanya.
“Maafkan kami Pa.” kata Musa menghiba minta diampuni. Papa tak menjawab dia hanya tertunduk. Mama merasa sedih sekali, karena dia sudah menghianati suaminya. Penghianatan bersama anak kandungnya pula.

Akhirnya si Papa mengangkat wajahnya dan dengan terbata berucap: ” hati-hatilah agar tiadak ada yang curiga atas hubungan gelap kelian ini,” katanya kemudian menundukkan wajahnya. Mama sedih, namun Musa tersenyyum dan menyalami Papanya dan mengucapkan terima kasih.

Sejak saat itu, Musa dan Mamanya sekamar. Mama pindah ke kamar Musam, karena si Papa tak mau lagi sekamar dengan isterinya.

Perut semakin besar dan hari yang ditungu tiba. Mama melahirkan.

TAMAT

Sejenak Bersama Mama

Sepulang dari kuliah, saya diajak ibu ke pesta perkawinan keluarga di luar kota, yang jaraknya kurang lebih 200 km atau 4 jam perjalanan mobil kalau tidak lagi macet melewati Puncak. Pesta keluarga rencananya dilangsungkan sebentar Malam jam 19.00. sampai selesai. dan diperkirakan jam 22.00 akan selesai dan langsung pulang lagi ke rumah di Jakarta. Sesampai di tempat Pesta.. para sahabat dan keluarga banyak yang mengagumi kecantikan Ibu. Malah ada yang bercanda bahwa pasangan Kami (saya dan Ibu Kandungku) adalah ibarat pasangan suami isteri yang sangat serasi. Pokoknya diantara Keluarga dan sahabat , kami lah yang menjadi fokus pandang . Lebih wow… dibandingkan mereka yang sementara duduk dipelaminan malam itu.

Memang Kecantikan ibu tidak ada duannya, melebihi kecantikan tamu2 sebayanya yang hadir malah masih lebih cantik dan seksi dibandingkan Ibu-Ibu 10 tahun lebih mudah dari Ibu, walau pun sebenarnya Ibuku sudah terbilang umur 40 tahun. Ibu selalu menjaga kesehatan dan tidak pernah melupakan senam, Kalau dirumah selalu merawat tubuhnya, agar tetap fit , cantik dan seksi.

Tepat jam 22.00 , kami pamitan untuk pulang, maklum rumah sangatlah jauh dan bila tidak ada halangan mungkin sampainya dirumah sudah tengah malam atau jam 02 Pagi….. tepatnya setengah jam kemudian pk 22.30, kami telah meninggalkan tempat pesta dan saya langsung menancap mobil untuk pulang. dalam perjalanan tiba ibu mengingatkanku.. hati2 .. jangan terlalu kencang .. sayang !!!, jalannya sangat licin”, betul kata Mama, karena hujan yang turun mulai deras, mana lagi mendekati puncak semakin berkabut. Beberapa saat kemudian, Tiba2 stir mobil kurasakan sangat berat, ” Aduh Mamai…, Ban Mobilnya Kempes…”, secara refleks Ibuku menjawwabnya ” Cepat pinggirkan mobil kehalaman hotel terdekat … ntar nggak keburu … bisa —bisa kita ngadat di jalan .. mana hujan deras lagi”… iya Mam “jawabku singkat … sambil berbelok memasuki salah satu hotel berbintang yang ada di Kaki Lereng …Puncak.

Sebelum kami keluar dari mobil, Ibuku berkata, .. ” Sayang, kalau Ban Mobilnya Kempes dan gak bisa ditolong lagi…, kita harus menginap di Hotel ini, Besok pagi aja perjalanan kita lanjutkan”, dan memang keadaan yang mengharuskan kami untuk singgah bermalam…di hotel berdua dengan mama

Kami berdua dijemput dan diantar ke Resepsionis… , dan untuk mengurangi kecurigaan ,Ibuku langsung mencatat identitas kami berdua sebagai suami isteri , Ibu mengerling kepadaku.. sambil mengeluarkan Credite Cardnya untuk digesek sebagai jaminan nginap hotel 1 Malam.

Setiba di Kamar, .. mama langsung tersenyum manis dan berkata..” Sayang… jangan macam2 yah!!!, walaupun ditempat pesta tadi malam , mereka bercanda katakan kita seperti pasangan suami isteri dan di resepsionis , mama juga mengatakan kita suami isteri , tetapi kamu tetap anak mama.. nggak boleh macam2 sama mama. yah !! .. spontan saya menjawab ” OK!! Mam.., sayang yang cantik ” . Entah dari mana datangnya keberanianku untuk merayu Ibuku, walaupun itu saya sampaikan secara bercanda … tetapi kalau dipikir, wah bisa berabe juga .. sekamar di Hotel dengan Ibu Kandung yang cantik dan seksi.. pasti dugaan orang kalau bukan Suami Isteri yang kemalaman pastilah peselingku yang kaya , dan yang jelas pastilah mereka memanfaatkan waktu yang sangat panjang untuk bersetubuh.., atau bersanggamah atau ngentot.. sepuas-puasnya, tidak ada dugaan ketiganya…

Pikir2 praduga orang, tak terasa Yuniorku menegang..makin kencang .. kayaknya setan setan berahi mulai menguasai fikiranku…membuatku hampir salah tingkah…, tiba2 Ibuku berkata ” Mama Mau Mandi dulu yah.., tolong bukakan korset mama”, wowww.. setan penggoda makin kuat, ” iya.. iya.. Mam” sahutku agak bergetar, sambil membuka korset Mama dan entah kenapa, saya mencoba melirik ke buah dadanya dari samping belakang, dalam hatiku berkata, walaupun mama tidak menggunakan korset tetapi cetakan tubuhnya sangat sempurna, Pinggang yang ramping bak pinggang anak perawan yang diikuti dengan pinggul lebar yang sangat serasi dengan tonjolan buah dada yang masih tegak menantang kedepan, ditambah lagi kulit Mama putih tak bernoda sangat halus dan harum…, Pastilah semua laki-laki ingin menikmati keindahan dan kesempurnaan alam yang ada pada Mama…tanpa kecuali termasuk saya, anak kandungnya….

Sewaktu mama di kamar mandi..terdengar sayup sayup riak air di Bak Mandi yang bersentuhan dengan tubuh montok mama yang telanjang bulat, tak terasa tanganku mulai memegan siyunior yang mulai tidak dapat dikendalikan dan tiba2 terdengar teriakan perlahan Mama ” sayang… kamu juga mandi ya !! airnya Nyaman dan hangat “ jawabku ” ntar Mam ” , ” Iya donk , masa sih mandi bareng ?” lalu senyap…, pikirku.. apa ini signyal plus dari mama???, atau hanya karena canda Mama ???, tak terasa.. genggaman pada Yuniorku makin kencang, “Sabar yah yunior.. kamu ntar saya masukan di memeknya mama ” gumanku dengan fikiran mulai kurang ajar dan kotor…

Selang beberapa saat , Mama keluar dari kamar mandi, dan tubuh mama hanya dililit ketat oleh selembar handuk sebatas setengah buah dada mama ke bawah sampai sejengkal diatas lutut, Karena suhu kamar sangat sejuk , sambil berlari kecil.. Mama menuju spring bed langsung masuk dalam selimut yang tebal, lalu mama berkata ” Gantian mandinya… mama mau tidur duluan “, dan saya langsung menjawabnya ” gak jadi mandi Mam.., pagi aja sekalian…” jawabku singkat, karena jawaban ini sudah saya persiapkan agar cepat2 bisa tidur alias lebih cepat tidur di samping Mamaku, ” Terserah kamu aja… tapi kalau bau jangan baring disamping Mama ya??”

Saya lewatkan kira-kira 10 menit setelah nafas mama seperti mulai teratur alias tidur… perlahan lahan saya naik ke pembaringan disamping kiri mama, maksud saya untuk ikut juga masuk dibalik selimut, saya tarik dan simak sedikit selimut yang satu-satunya akan kami pakai berdua, tetapi tiba2 mama mengeliat mungkin terasa hembusan dingin akibat selimut yang menutupi tubuhnya tersinkap sedikit.., tampak mama tidur dibawah selimut tanpa mengenakan sehelai kain alias telanjang bulat ,karena kami memang tidak mempersiapkan pakaian tidur , mama tidur miring membelakan disebelah kanan, perlahan saya masuk dibalik selimut disamping kiri mama yang telanjang , dan selang beberapa saat kemudian, mama membalikan tubuhnya dan wajahnya hampir menyentuh wajahku, kutatap matanya yang tertutup indah, bibir yang tipis merekah menantang, hidung kecil yang mancung.., kuberanikan dan kucoleng perlahan hidung mama, tetapi tak ada reaksi, kulanjutkan untuk menarik kebawah bibir mama yang tipis, agar tampak gigi yang putih rapi berjajar, juga tak ada reaksi dari mama, dan akhirnya dengan berdebar-debar kurapatkan mulutku dan kukecup bibir mama, mulai desak nafas mama sedikit terganggu, mungkin terhalang dengan hidungku akhirnya mama membuka sedikit mulutnya, tanpa kuberi kesempatan menutupnya , kusedot lidahnya, dan rupanya mamaku dalam tidurnya juga membalas ciumanku…, dan selanjutnya kualitas keberanianku kutambah dengan mulai memeluk dan melingkari badan mama dengan lenganku, reaksipun datang dengan makin merapatnya tubuh mama yang mungil dan telanjang ini kedadaku, paha mama mulai menyerang dan menyentuh yuniorku yang berubah menjadi Yunior yang kenyal dan berdiameter sebesar pergelangan tangan mama, pelukan mama mulai mengencang, mungkin bermaksud menarik obyek yang lebih hangat yang ada pada badanku, keadaan ini membuatku makin kesurupan, tangan kiriku mulai mengerayangi pingul mama, turun kebawah bagian bokongnya, terus turun dan berputar kedepan lebih kebawah lagi, dan akhirnya sampai kebulu pubis mama yang sangat halus, kutelusuri bibir vagina mama dan akhirnya jari telunjukku mengelitik klitorisnya…,

Mama mulai berekasi , kedua paha mama menjepit , tangan kanannya mencakar punggungku dengan kuku mama yang tajam, mungkin ini dalah refleks akibat sesutu yang memasuki vaginanya, hanya mama yang tahu, tubuh mama saya dorong agar sedikit terlentang dan mulailah saya menindis setengah tubuh mama terutama buah dada kiri mama dengan tubuhku, paha kiri mama dengan paha kiriku, dan tangan kananku mulai saya aktifkan dari belakan leher mama untuk mengerayangi buah dada kanan mama, bibir mama dan bibirku membentuk satu ruang dan kedua lidah kami saling menggelitik, nafas mama makin memburu , saya makin kesurupan dan menyerang , akibat makin kerasnya remasan tangan kananku ditetek kanan mama dan jari telunjuk kiriku yang mengelitik klitoris mama yang mulai memanas dan mengeluarkan lendir membasahi vagina mama, akhirnya mama tersentak ” Hey… kamu ngapain Mama…ini gak boleh Ar… !!, “kata Mama kaget dan marah, jawabku sambil gemetar dan bernafsu campur aduk, ” saya tidak bisa tidur mam…, apalagi seranjang dengan mama yang lagi telanjang bulat” ” ohw.. begitu yach … mama terdiam agak lama lalu membalik membelakangiku , sambungnya “tetapi Jangan kasar gitu donk !!” lalu Mama terdiam lagi…namun napasnya masih memburu dan bergetar , inilah kata-kata mama yang kurang saya mengerti , apakah perbuatan saya tadi dibenarkan tetapi nggak boleh kasar atau ??? apa yach…. Saya tidak berani lagi ngomong macam2.. dan jawabku singkat “Maaf Mama” sambil menatap punggung mama yang masih agak bergetar, entah beberapa lama kami terdiam berdua tiba2 Mama Membalik sambil berkata ..”kalau kamu pingin bercinta dengan mama harus lembut dan perlahan-lahan aja.. kan masih banyak waktu”, sambungnya lagi “Kamu Anak Nakal boleh peluk dan mencium Mama , pokoknya tubuh mama malam ini kuserahkan semuanya kepadamu kecuali yang satu ini, yaitu Yuniormu yang gede ini dilarang keras memasuki vaginanya mama”, sambil mama memegang Yuniorku dan menarik dan menyapu kepermukaan vaginannya. ” tapi justru cuma yang satu ini milik mama yang paling nikmat ” selaku protes, dan mulai berani , “siapa yang bilang anak goblok ” , Mama mulai menindih tubuhku dan menciumku, Kubalas ciuman Mama , wow… sangat nikmat dibandingkan waktu saya mencium mama dalam keadaan tertidur, tetapi kali ini dengan sadar sesadarnya, justru mama memulai meransang, sambil melemparkan selimut kelantai, jadinya kami betul – betul telanjang bulat di udara kamar yang sejuk diatas ranjang .
Kami berciuman dan berpelukan telanjang bulat dengan Mama , sangat lembut dan perlahan-lahan, rupanya mama juga sangat menikmatinya, Napas Kami mulai memburu , terkadang Mama mengeram dan menggeliat apabila kusentuh dan kupelintir halus putting teteknya .. Auhh!!, jangan disitu Ar..!!, Mama nggak tahan… sayannngggg, keluh Mama panjang…, “tetapi enak kan Mam!!” Aiii!!!…Mama makin kesurupan..dan berupaya meraup Yuniorku..yang makin kaku dan membesar Maksimal…
Sewaktu Mama menggenggam Yuniorku ,Tubuh Mama kudorong menjadi terlentang dan dan kutindih dengan badanku ..Mulut Kami makin bersatu , kupeluk erat tubuh Mama yang mungil , dan Yuniorku kuarahkan ke Vagina Mama, tetapi Mama tetap menggenggam yuniorku, hanya menggosok-gosokan kepala yuniorku ke Mulut Vaginanya yang juga mulai berlendir. Terkadang Kepalanya sudah masuk setengah tetapi Mama , mengeluarkan nya lagi… Karena saya tidak tahan lagi perlakuan Mama seperti ini…Kutarik Tangan Mama yang menggenggam yuniorku agar terlepas..rupanya usahaku ini cukup berhasil dan dengan cepat kuselipkan kedalam Vagina Mama, Terasa Vaginanya sangat licin, menggesek dan berlendir serta berdenyut menjepit…Aowww…!!! Teriak Mama, Kugocok Vagina Mama dan mama mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya yang tak karuan… tetapi baru 2-3 kali gocokan, tiba2 Mama dengan kekuatan penuh… menaikan bokongnya tinggi-tinggi dan menggessernya jauh kesamping akhirnya yuniorku terlepas dari vaginannya ..clukppp …”Aiii!!!…kenapa dikeluarin Mam…”, “Nggak… boleh sayang..”.

Tiba tiba Mama mulai bangun kemudian membawa selangkangnya ke wajahku persis mulut vaginanya berhadapan dengan mulutku , mama mulai menunduk dan meraih Yuniorku dan memasukan ke mulutnya dan melumutnya , terkadang Yuniorku digigitnya perlahan2 sambil bergantian dengan bibir yang lembut dan hangat, yang paling mengasikan kalau kepala Yuniorku digelitik dengan lidah mama, begitu juga klitoris mama , saya gelitik dengan ujung lidahku, terkadang mama hilang kontrol , mendengus menambah gocokan dan lilitan lidahnya di kepala Yuniorku, terkadang sangkin bernafsunya juga mama , tangannya ikut pula meramas biji pelirku… dan semuanya berlangsung saling kerja sama membantu masing masing mencapai puncak birahi yang membuat lupa segala-galanya bahwa berbuatan bersanggamah dengan ibu kandung yang orang katakan sangat tabu, tetapi justru sangat mengasikkankan dan jauh lebih nikmat dengan memek manapun….di dunia ini.

Mama makin gila mengocok Yuniorku, dan akhirnya , saya tak tahan lagi…cepat donk mama… masukkin kedalam memek mama.., aowww…cret…. cret.. sabar sayang…kata mama kesurupan mempermainkan air maniku sambil menggosokkannya di-kedua buah dadanya…

Mama juga tidak tahan sayang….,Tidak berapa lama kemudian mama berganti posisi, duduk persis diatas selangkangku persis posisi Yuniorku berhadapan langsung dengan vagina mama, mama menuntunnya dengan sangat gampang memasuki liang sanggamanya dan menjepitnya…wow…wow…. suatu kenikmatan yang sangat sulit dilukiskan dengan kata2, tidak ada lagi kenikmatan yang melebihi kenikmatan sewaktu Yuniorku dijepit dan dikocok oleh vagina mama, pinggul mama naik turun menyebabkan Yuniorku masuk makin kedalam dasar vagina mama,…, saya tidak ingin kenikmatan ini berlangsung cepat, saya turun dari pembaringan, menggendong mama sampil masih melekatkan Yuniorku kedalam vagina mama, kugoyang2 tubuh mama yang mungil, mama makin kesurupan…dan juga merasakan kenikmatan yang tiada tarnya…mata mama mulai terpejam… sambil berdengus ach–ach… mama tidak tahan lagi, minta diturunkan untuk mengakhiri permainan ini…” sayang… turunkan mama..tancapkan Yuniormu sayang lebih dalam..”, kubaringkan tubuh mama, kuperberat tekanan Yuniorku masuk ke vagina mama, mama menjepit makin kencang..vagina mama makin berdenyut2… dan akhirnya pelukan kami berdua makin kencang, mama seakan akan menggantung ditubuhku lekat dan sangat erat …cret–cret… dan rintihan kenikmatan mama bercampur aduk dangan geramanku… semuanya berakhir membawa kami berdua ke langit ketujuh…

Setelah ledakan kenikmatan birahi bersanggamah dengan mama yang menghamburkan air mani kami berdua tercecer kemana-mana membuat kami berpelukan lemas dan penuh kebahagian… dan akhirnya jam didinding hotel telah menunjukan pukul 03 pagi. yang akhirnya kami berdua tertidur kelelahan dalam keadaan telanjang bulat berpelukan bagai bayi yang baru lahir…
Keesokan harinya Mama dan Yuniorku keduluan terjaga… , Mama sambil memelukku ,menjepit hidungku sehingga saya sulit bernafas dan akhirnya saya juga terbangun…, Selamat Pagi Anak Nakal…sambut Mama sambil tersenyum manis…, tidak kusiasiakan Kesempatan ini , kutarik tubuh Mama persis menindih tubuhku, Kuraih wajah Mama dan kulemut bibirnya yang tipis…, Mama pun bereaksi menyambut ..malah dalam posisi tubuhnya menindih tubuhku… berusaha memasukan Yuniorku ke Vaginanya…
Nampaknya Napsu Birahi Mama makin menjadi jadi setelah bersanggama , tidur istirahat semalam .. kusambut kebinalan Mama dan tiba –tiba Mama menghentikan gerakannya sambil berkata.. Ar, Kamu belajar dari mana kurang ajar setubuhi Mama . sebelum saya menjawab , Mama mengencangkan otot Vaginanya..membuat yuniorku makin kelelap..“Kan Mama yang ajarin…” jawabku singkat sambil membalikan tubuh Mama menjadi tertelungkup.., kuangkat pinggul Mama sedikit meninggi dan kuarahkan yuniorku ke Vagina Mama dari belakang.. Kembali terdengar geraman Mama.. “Jangan gini Ar..oww!!, tetapi goyangan Maya justru mendukung dan menyambut .. Kugocok Vagina Mama dari belakang…agar tidak terepas kedua tanganku menggenggam pinggulnya..Mama makin menggelapar.., dan kocokanku makin kencang …, tubuh Mama terangkat menyebabkan buah dadanya bergelantungan bergoyang seirama tumbukan Yuniorku ke Vaginanya, tiba-tiba mama meraih kedua tanganku dan membawa ke gundukan buah dadanya…dan Mama mengeram histeris tetapi suaranya teredam karena Wajah mama dibenamkan dikasur..Dalam beberapa saat kemudian , kami berdua mengambil posisi duduk berhadapan..tepanya Mama duduk diatas selanggkangku..dengan Vaginanya masih tetap menjepit yuniorku…, Mama menaik-turunkan bokongnya sambil mendengus dan saya menjilat leher Mama sambil meremas kedua buah dadanya…. Dan akhirnya kami mengalami orgasme dalam posisi duduk ..
Kami duduk terdiam , berpelukan , saling menatap , mama tersenyum manis… , sambil kukecup bibir mama , kubaringkan tubuh Mama perlahan-lahan… dengan tidak melepas yuniorku didalam vagina Mama dan pelukanku… “ Mama..!!, ada satu permintaan Anakmu yang Nakal ini”, “apa sayang !!” sela mama, “ Saya sayang Mama dan saya sangat mencintai Mama, …Maukah Mama menjadi isteriku selama-lamanya??” Gila Kamu Ar.. Mana Ada Anak memperisteri Ibu Kandungnya” jawab Mama sambil tersenyum “, “tetapi kamu boleh setubuhi Mama kapan kamu mau, asalkan Ayahmu tidak tau” sambungnya..
Selama hamper sejam, kami berdua masih berbaring dan bercinta dengan keadaan telanjang bulat, saya berbaring terlentang sambil membelai rambut Mama yang acak2akan, Mama berbaring tertelungkup dengan kepala bersandar didadaku, wajahnya menengadah keatas sangat dekat dengan wajahku, sehingga nafas kami berdua saling menyatu, tangan kiriku membelai tubuh Mama yang mungil, sampai kepinggang , terkadang kuelus buluh pubis Mama yang halus dan pahanya yang sangat Mulus, Mamapun tidak henti2nya mengelus yuniorku, seakan akan tidak rela apabila benda yang bulat panjang ini yang telah membuatnya menjadi setan histeris akan mengkerut. Cerita kami kami berdua dipenuhi dengan kata-kata cinta birahi dan model atau gaya bersetubuh, dan akhirnya Mama meminta ”Gendong Mama ke Kamar Mandi Sayang”
Dikamar Mandi , tubuh kami berdua saling melekat terus …, Mama tidak pernah melepaskan ciumannya, sewaktu Mandipun kami bersetubuh berdiri, suatu kenikmatan tersendir yang mama belum pernah merasakannya yaitu Badan kami lumuri sabun cair sehingga sangat licin, Mama mencapai orgasme sewaktu saya menggendong dan menyetubuhinya sambil berdiri..tawa cekikan dan teriakan kenikmatan serta kebahagian birahi mama mengaun dikamar mandi. Dibak Mandi yang sempitpun Kami Mandi berdua melanjutkan babak berikut..dan akhirnya Mama pun orgasme kedua kalinya di Bak Mandi. Didalam air yang dipenuhi busa sabun dan birahi.
Sangking Gilanya Kami berdua, Kami keluar dari kamar mandi masih dalam keadaan telanjang bulat dan berpelukan, berciuman, kemudian saya duduk disopa, mama saya dudukan diatas selangkangku…, Yuniorku yang tak kunjung mengalah tetap berkubang di Vagina Mama.. sampai akhirnya Jam 11 lewat 30 menit..kami bersiap-siap check out dari hotel.
Sewaktu kami hendak mengambil kunci Mobil diresepsionis, Kami disapa “Selamat Siang , terima kasih atas kunjungannya dan semoga Bapak dan Ibu menikmati Kebahagian di Hotel Kami”, Mama hanya tersenyum dan berjalan menggantung di Bahuku menuju ke Mobil Kami yang telah disiapkan.

TAMAT

Kisah Anto dan Ibu Kandungnya

Aku terus yakin bahwa akan banyak sekali skandal seks para wanita di desa ini dengan memanfaatkan keberadaan Anto yang selain tidak bisa berbicara juga berotak mesum. Jika sedang ingin dan sedikit bernafsu aku suka membuntuti Anto pergi dan berharap akan terjadi adegan seks dirinya dengan para wanita kesepian di desaku. Tidak setiap hari aku membuntutinya dan terkadang sia-sia juga hasil pengintaianku yang tidak membuahkan hasil itu.
Pada suatu sore aku bermain di rumah Anto dan mendapati mbak Aminah, ibu Anto yang sedang memungut jemuran. Mbak Aminah lagi-lagi memakai daster pendek dan kali ini berwarna kuning yang membuat tubuhnya tidak menjemukan untuk dipandang. Aku semakin berpikiran jorok dan berniat sekali menyetubuhinya, namun apa kata orang nantinya melihat Gunawan anak lurah desa ini menyetubuhi isteri orang. Aku menyapa dirinya:
“Kok rumah sepi mbak…Suami mbak ke mana?”
“Eh mas Gun..wah bapaknya Anto balik ke jogja ada kerja ke sana..mungkin sebulan lagi balik ke sini”
“Terus Anto ke mana..sudah berhari-hari nggak main sama dia”.
“Itu mas di dalam lagi nonton tv, masuk aja mas”
“O ya mbak..”
Aku dapati Anto yang sedang menonton tivi di ruang tamu. Melihat kehadiranku dia langsung berlagak menyapaku dan mengajak mengobrol dengan gumamannya yang selalu membuatku ingin tertawa karena tidak ngerti apa yang diomonginnya. Karena ada acara bagus aku menonton televisi di rumah mbak Aminah tak terasa sudah sampai jam tujuh malam. Aku minta ijin untuk pamit ke mbak Aminah karena sudah malam dan semakin aku berlama-lama dengan mbak Amninah semakin aku tidak tahan berpikiran jorok tentangnya.
Ketika berjalan pulang aku bertemu dengan syaiful yang sedang menuju ke rumah budenya, bulik Marsih. Aku menanyainya mau pergi ke mana dan ia menjawab mau ke rumah budenya karena ingin tidur bermalam di rumahnya. Aku langsung berpikiran bahwa berarti di rumah mbak Aminah hanya ada Anto dan dirinya, jadi aku berharap sekali ada hubungan incest antara mereka. Pikiranku langsung sumringah dan setelah aku berpamitan ibuku dan minta ijin untuk bermalam di rumah temanku, aku langsung menuju kembali ke rumah Anto. Pada saat itu jam setengah sembilan malam dan pintu rumahnya masih terbuka. Anto tampak sedang bermalas-malasan di kursi depan rumahnya yang agak jauh darit teras. Dari dalam mbak Aminah terdengar sedang sibuk mencuci piring di dapur. Ini kesempatanku untuk mengendap masuk ke dalam dan berharap akan terjadi sesuatu skandal malam harinya nanti. Aku mengendap dari teras samping dan karena pandangan Anto mengarah ke jalan, maka dengan leluasa aku bisa masuk dan tidak terdengar olehnya karena biasanya orang bisu ada gangguan juga dengan pendengarannya. Aku langsung menyelinap masuk ke kamar mbak Anto dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya. Sambil menunggu mereka tertidur pulas aku bermain HP di kolong ranjang. Aku yakin sekali malam ini Anto pasti sedang bernafsu karena sudah beberapa hari ini aku tidak mendapatinya berbuat mesum, lagian suasana rumah juga sedang sepi. Setelah menunggu agak lama akhirnya rumah tampak remang-remang dan mbak Aminah sudah tidur.
Dari tadi menunggu aku tidak melihat Anto masuk kamar. Aku sedikit kecewa dan khawatir bahwa mungkin sudah dari tadi Anto tidur bersama di kamar ibunya. Aku mengendap ke ruang tamu dan ternyata mendapati Anto sedang menonton TV. Ia memakai kaos dan sarung sedang salah satu tangannya dimasukkan ke dalam sarungnya memain-mainkan kontolnya, dan aku yakin bahwa dia sangat bernafsu. Tak lama kemudian ia mematikan Tvnya dan bergegas menuju ke kamar mbak Aminah. Kamar mbak Aminah hanya tidak berpintu melainkan hanya ditutup dengan tirai. Ketika Anto sudah berada di dalam kamar aku segera mengendap menuju ke kamar itu. Sebelumnya terdengar suara yang sepertinya tidur mbak Aminah terusik dengan kehadiran Anto menyusulnya tidur. Ia bertanya kenapa dia tidak tidur sendiri di dalam kamarnya dan Anto hanya bergumam tidak jelas dan langsung saja tertidur di sebelah ibunya. Aku tak sabar dan langsung menyibak sedikit tirai pintu itu untuk bisa melihat aktivitas di dalam kamar.
Tangan Anto dari tadi terus berada di dalam sarung memainkan burungnya, sedang mbak Aminah tidur miring membelakangi Anto. Tak berapa lama kemudian anto memeluk tubuh ibunya itu dari belakang dan menggesekkan kontolnya ke pantat ibunya. Aku semakin berdebar saja melihat kelakuan anak itu. Mbak Aminah terlihat sudah tertidur dan ketika anaknya itu menyibak dasternya sampai terlihat celana dalam bunga-bunganya ia sentak kaget dan terbangun. Namun Antu malahan terus menekan pantat ibunya itu. Mbak Aminah memukul anaknya itu namun dan Anto kemudian menjauh takut. Anto terus merengek dan dari ekspresinya ia ingin memberitahu ibunya kalau dia sudah ingin bercinta dengan dirinya. Setelah terus mendesak dan memeluk akhirnya mbak Aminah hanya pasrah dan diam. Ia meneruskan tidurnya sedangkan anaknya itu terus menggerayangi tubuhnya dengan semakin leluasa. Saat Anto melepas sarungnya, batang penisnya sudah tegak menantang dan ia terus menggesekkan ke pantat ibunya yang masih terbalun dengan cawat bunga-bunga itu.
Anto semakin kurang ajar dan menyelipkan tangannya ke dalam cawat ibunya. Ia mencari-cari lubang puki mbak Aminah dan kemudian mengelus-elusnya sampai akhirnya ibu kandungnya itu menaruh respon atas permainan anaknya itu. Kemudian mbak Aminah memelorotkan celana dalamnya dan mengocok kontol Anto dengan matanya yang masih etrpejam namun ekspresi mukanya tampak menikmati. Anto langsung menghajar lubang puki ibunya dengan menindihnya dari atas. Mbak Aminah mengerang keenakan dan Anto semakin liar memompa ke dalam pukinya. Permainan berhenti sejenak karena mbak Aminah sudah terlanjur basah keenakan, maka ia melepas seluruh pakaiannya dan begitu juga dengan Anto. Mbak Aminah langsung nungging dan menyuruh Anto menghajarnya dengan gaya doggystyle. Tubuh kecil anto semakin liar dan tak terkendalikan menghajar tubuh seksi ibunya. Tak lama kemudian ia memuncratkan spermanya ke lubang puki ibunya. Ia mengerang keenakan disertai erangan mbak Aminah yang semakin banyak mengeluarkan cairan dari dalam vaginanya.
Aku mengintip dari luar sambil mengocok kontolku. Tak berapa lama kemudian Anto kembali menindih tubuh ibunya yang sedang terlentang berbarik. Ia menjilati seluruh panyudara ibunya dan setelah puas langsung mendorog ibunya supaya tengkurup. Setelah tengkurup ia menyelipkan penisnya ke sela-sela pantat kenyal dan putih itu sampai akhirnya menembus lagi lubang pukinya. Ia bergerak naik turun dan etrus memompa dibarengi suara tepukan pantat yang membuatku tak tahan lagi memuncratkan spermaku ke lantai. Mbak Aminah hanya mengerang menikmati dengan posisinya yang telungkup dan akhirnya lubang pukinya kembali dipenuhi cairan sperma anaknya. Mereka terbaring lemas di ranjang dan masih tetap telanjang bulat sampai akhirnya tertidur. Perunjukan usai dan aku tetap tidak bisa pulang karena semua pintu sudah tertutup, aku hanya menunggu dan terus mengintip wtubuh indah mbak Aminah yang selalu kubayangkan telanjang dan sekarang benar-benar bugil di depan mataku. Aku semakin ingin sekali menyetubuhi mbak Aminah. Pikiranku sudah tidak bisa kutahan lagi sampai akhirnya terjadilah skandalku dengan mbak Aminah di malam itu juga, di depan mata anaknya sendiri.

TAMAT


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.